Oleh: Prof. Dr. H. Ghazali Munir, M.A*
I. PENDAHULUAN
Telah
diketahui bersama jika realisasi dari pada iman adalah Islam. Orang
tidak akan mengetahui bahwa seseorang itu beriman jika tidak
direalisasikan dengan amal perbuatan lahiriyah, sehingga terdapat kaitan
erat antara iman dengan Islam.
Umat Islam pada umumnya mengakui bahwa rukun Islam ada lima macam, yang sering disebut “buniya al-Islam ‘ala khamsin”.[1]
Namun, akan terjadi diskusi jika terdapat pemikir muslim yang tidak
menyatakan demikian, seperti menyatakan rukun Islam itu satu.
II. BIOGRAFI
Ahmad
Rifa’i (1786-1876), lahir di Desa Tempuran, selatan Masjid Besar
Kendal. Ayahnya bernama Muhammad Marhum, anak seorang penghulu Landeraad Kendal
bernama R.K.H. Abu Sujak alias Sutjowijojo. Sejak kecil ditinggal
ayahnya, kemudian dipelihara oleh kakeknya bernama K.H. Asy’ari, ulama
terkenal di Kaliwungu, dan dibesarkan dengan pendidikan agama. Tahun
1833, ia berangkat ke Makkah menunaikan ibadah haji, dan menetap untuk
belajar di sana
selama 8 tahun. Setelah kembali dari Makkah, ia kembali ke Kendal,
kemudian menetap di Kalisalak, lantaran isterinya tinggal di desa itu
dan mendirikan pesantren.[2]
Guru-gurunya
di Makkah seperti: Syaikh ‘Abdurrahman, Syaikh Abu ‘Ubaidah, Syaikh
‘Usman (guru yang sama dengan Muhammad Salih), Syaikh ‘Abdul Malik, dan
Syaikh ‘Isa al-Barawi yang merupakan mata rantai ‘ulama’ Syafi’iyyah
menjadi guru as-Sinwani dan sampai pada ar-Rami serta Zakariya al-Ansari
penulis Fath al-Wahab. Dan al-Baijuri penulis Syarh Jauharat at-Tauhid.[3]
Menurut Ahmad Nasihun, tokoh Rifa’iyyah (Tarajjumah),
karya tulis Ahmad Rifa’i berjumlah 53 berkaitan dengan masalah akidah,
syari’ah, dan tasawuf. Menurut Ahmad Syazirin Amin, karya tulisnya
mencapai 69 kitab, terdiri dari 62 berbahasa Jawa, dan 7 berbahasa
Melayu yang ditulis di Ambon.[4]










Kita, manusia, adalah makhluk yang unik. Pernahkah kita merenungi mengapa kita unik? Apa sajakah keunikan manusia yang membuatnya berbeda dari makhluk Allah yang lainnya?
Kita, manusia, adalah makhluq Allah yang unik dan istimewa. Kita tercipta dari dua unsur yang sungguh berbeda satu sama lain: tanah yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari langit. Terciptanya kita dari tanah menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘bumi’ seperti makan, minum, dan kebutuhan biologis. Sedangkan unsur ruh yang ada dalam diri kita menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘langit’ seperti iman, ilmu, dan semacamnya.




