STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tauhid. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2012

RUKUN ISLAM (STUDI ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN AHMAD RIFA’I KALISALAK)

Oleh: Prof. Dr. H. Ghazali Munir, M.A*
I. PENDAHULUAN
Telah diketahui bersama jika realisasi dari pada iman adalah Islam. Orang tidak akan mengetahui bahwa seseorang itu beriman jika tidak direalisasikan dengan amal perbuatan lahiriyah, sehingga terdapat kaitan erat antara iman dengan Islam.
Umat Islam pada umumnya mengakui bahwa rukun Islam ada lima macam, yang sering disebut “buniya al-Islam ‘ala khamsin”.[1] Namun, akan terjadi diskusi jika terdapat pemikir muslim yang tidak menyatakan demikian, seperti menyatakan rukun Islam itu satu.

II. BIOGRAFI
Ahmad Rifa’i (1786-1876), lahir di Desa Tempuran, selatan Masjid Besar Kendal. Ayahnya bernama Muhammad Marhum, anak seorang penghulu Landeraad Kendal bernama R.K.H. Abu Sujak alias Sutjowijojo. Sejak kecil ditinggal ayahnya, kemudian dipelihara oleh kakeknya bernama K.H. Asy’ari, ulama terkenal di Kaliwungu, dan dibesarkan dengan pendidikan agama. Tahun 1833, ia berangkat ke Makkah menunaikan ibadah haji, dan menetap untuk belajar di sana selama 8 tahun. Setelah kembali dari Makkah, ia kembali ke Kendal, kemudian menetap di Kalisalak, lantaran isterinya tinggal di desa itu dan mendirikan pesantren.[2]
Guru-gurunya di Makkah seperti: Syaikh ‘Abdurrahman, Syaikh Abu ‘Ubaidah, Syaikh ‘Usman (guru yang sama dengan Muhammad Salih), Syaikh ‘Abdul Malik, dan Syaikh ‘Isa al-Barawi yang merupakan mata rantai ‘ulama’ Syafi’iyyah menjadi guru as-Sinwani dan sampai pada ar-Rami serta Zakariya al-Ansari penulis Fath al-Wahab. Dan al-Baijuri penulis Syarh Jauharat at-Tauhid.[3]
Menurut Ahmad Nasihun, tokoh Rifa’iyyah (Tarajjumah), karya tulis Ahmad Rifa’i berjumlah 53 berkaitan dengan masalah akidah, syari’ah, dan tasawuf. Menurut Ahmad Syazirin Amin, karya tulisnya mencapai 69 kitab, terdiri dari 62 berbahasa Jawa, dan 7 berbahasa Melayu yang ditulis di Ambon.[4]

Selasa, 02 Oktober 2012

IMAN DAN KUFUR

A.PENDAHULUAN
Pertempuran Siffin antara Ali bin Abi Tholib dan Mu’awiyyah, yang akhirnya tentara Ali dapat mendesak tentara Mu’awiyah sehingga yang tersebut terakhir bersedia untuk lari. ‘Amr ibn al-‘As yang terkenal sebagai orang licik, minta berdamai dengan mengangkat al-Qur’an ke atas. Pihak Ali diwakili oleh Abu Musa al-Asy’ari. Pihak Ali kalah setelah mengadakan arbitrase. Sebagian tentara Ali, mereka berpendapat bahwa hal serupa itu tidak dapat diputuskan oleh arbitrase manusia, tetapi harus datang dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Qur’an. Golongan yang memisahkan diri atau meninggalkan Ali bin Abi Thalib disebut golongan Khawarij, karena mereka memandang Ali bersalah dan berdosa besar. Ali sekarang menghadapi dua musuh, yaitu golongan Mu’awiyah dan golongan Khawarij. Persoalan-persoalan yang terjadi dalam dunia politik itu akhirnya membawa kepada persoalan teologi. Dengan menekankan kepentingan sejarah terhadap masalah “kepercayaan” iman, Ibnu Taymiyyah, teolog dari Mazhab Hanbali, menyatakan bahwa penelitian atas dua makna kata tersebut merupakan penelitian intern pertama yang terjadi diantara orang-orang Islam, karena masalah inilah maka masyarakat muslim terpecah ke dalam beberapa selok dan golongan, yang berbeda-beda dalam (menafsirkan) kitab suci dan sunnah sehingga satu sama lain saling menyebut kafir. Dan kelompok yang mula-mula masuk ke gelanggang ini adalah kelompok kharijiyyah atau Khawarij. Maka timbullah persoalan siapakah yang mukmin dan siapa yang kafir? Antara golongan yang satu dengan yang lainnya saling kafir mengkafirkan. Dari persoalan di atas menimbulkan beberapa aliran teologi dalam Islam. Mulai dari aliran Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah dan masih ada lagi yang lainnya seperti Jabariyah dan Qodariyah.1 Antara aliran teologi yang satu dengan yang lainnya sangatlah berbeda tentang pandangan mereka terhadap konsep iman dan kufur. Dalam makalah ini penulis akan mencoba mendeskripsikan atau menggambarkan dan memaparkan tentang konsep iman dan kufur adalah dua hal yang saling berkebalikan. Bila iman diartikan sebagai percaya, maka kufur diartikan tidak percaya atau bisa diartikan tertutup. Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :ngan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Qur'dapat diputuskan oleh arbitrase manusia, tetapi harus datang dari All
1.Pengertian Iman
2.Pengertian Kufur
3.Pendapat Beberapa Aliran Teologi Islam tentang Iman dan Kufur
4.Macam-Macam Kufur

Rabu, 28 Desember 2011

Pentingnya Pendidikan Keimanan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kewajiban bagi setiap muslimin dan muslimat untuk mengetahui tiga hal pokok dalam agama, yaitu mengetahui Rabbnya, mengetahui agamanya dan mengetahui Nabinya.[1]
Pengetahuan tehadap ketiga hal pokok tersebut bukan hanya sekedar pengetahuan saja tapi haus dibenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, dan itulah yang dimaksud dengan iman. Dan keimanan yang ada pada seseorang harus senantiasa dan berkembang serta harus benar-benar dijaga kemurniaanya. Tidaklah dibenarkan jika keimanan itu dicampuradukan dengan berbagai kegiatan yang bertabur khurafat dan takhayul. Dan jika hal itu terjadi bukan lagi keimanan namanya melainkan kemusyrikan.
Dan pada saat ini fenomena kemusyrikan sudah banyak yang dibingkai dengan bingkai agama, sehingga ada sebagian orang yang mempunyai anggapan keliru saat selesai melakukan perbuatan syirik yang dibingkai dengan bingkai agama itu bahwa dia telah melaksanakan ajaran agama, padahal apa yang dia lakukan adalah perbuatan yang penuh dengan kesyirikan.
Selain fenomena kemusyrikan, yang harus diwaspadai agar keimanan kita dan anak didik kita tetap ada dan terjaga kemurniannya adalah “RIDDAH” atau keluar dari ajaran Islam. Fenomena yang kedua ini tidak kalah dahsyatnya berkembang dalam kehidupan sehari-hari dan kebanyakan diantara kita sering tidak sadar bahwa apa yang diucapkan, yang diperbuat, termasuk yang digerakan (dikeretegkeun = sunda) dalam hati bisa menyebabkan keluarnya kita dari Agama Islam (Murtad)
Sesuai dengan latar belakang di atas maka perlu dirumuskan tentang pentingnya pendidikan keimanan sebagai upaya sistematis dalam pendidikan agar keimanan kita tetap terjaga kemurniannya dan terhindar dari berbagai hal yang bisa merusak keimanan kita.

Selasa, 01 November 2011

Beriman kepada Para Malaikat

Orang Muslim beriman kepada malaikat-malaikat Allah Ta’ala. Bahwa mereka adalah makhluk-Nya yang paling mulia, hamba-hamba-Nya yang dimuliakan di antara hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala menciptakan mereka dari cahaya, sebagaimana Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan menciptakan jin dari nyala api yang tidak ada asap di dalamnya. Bahwa Allah Ta’ala memberikan tugas-tugas kepada para malaikat, kemudian mereka menjalankannya. Di antara mereka ada yang ditugaskan menjaga hamba-hamba-Nya, ada yang ditugaskan mencatat amal perbuatan manusia, ada yang ditugaskan menjaga surga dan kenikmatannya, ada yang ditugaskan menjaga neraka dan siksanya, ada yang ditugaskan bertasbih pada malam hari, dan ada yang ditugaskan bertasbih pada siang hari tanpa merasa lelah sedikitpun.
Serta bahwa Allah Ta’ala melebihkan sebagian malaikat atas sebagian malaikat yang lain di antara mereka ada malaikat-malaikat yang didekatkan kepada-Nya seperti Malaikat Jibril, Malaikat Mikail, dan Malaikat Israfil, dan ada malaikat-malaikat yang tidak didekatkan pada-Nya.
Orang Muslim mengimani itu semua karena petunjuk Allah Ta’ala kepadanya, kemudian karena dalil-dalil wahyu, dan dalil-dalil akal.
Dalil-Dalil Wahyu
  1. Perintah Allah Ta’ala untuk beriman kepada para malaikat, dan penjelasan-Nya tentang mereka, “Barang siap kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136).
    “Barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 98).

Beriman kepada Nama-Nama Allah Ta'ala dan Sifat-Sifatnya

Orang Muslim beriman kepada asmaul husna (nama-nama baik), dan sifat-sifat agung yang dimiliki Allah Ta’ala. Ia tidak mempersekutukan Allah Ta’ala dengan lain-Nya, tidak menafsirkannya kemudian meniadakannya, dan tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat manusia dengan cara menyerupakan Allah Ta’ala dengan manusia. Itu sesuatu yang mustahil. Orang Muslim tidak bersifat seperti itu. Namun ia menegaskan untuk Allah Ta’ala apa yang telah ditegaskan Allah Ta’ala untuk diri-Nya, dan sifat-sifat dan nama-nama yang ditegaskan Rasulullah saw. untuk Allah Ta’ala. Ia buang dari Allah Ta’ala apa yang dibuang Allah Ta’ala dari dalam diri-Nya, dan aib dan kekurangan yang dibuang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari diri-Nya baik secara umum, atau secara rinci. Itu semua berdasarkan dalil-dalil wahyu, dan dalil-dalil akal seperti berikut.
Dalil-Dalil Wahyu
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), "Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A’raaf: 180).
"Katakanlah, 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru. Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik)'." (Al-Isra: 110).
Allah Ta’ala mensifati diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Lembut, Maha Menerima Syukur, Maha Pemurah, Maha Pengampun, Maha Pengasih, Dia berdialog dengan Nabi Musa, bersemayam di atas Arasy-Nya, Dia menciptakan dengan kedua tangan-Nya, mencintai orang-orang yang baik, ridha kepada kaum mukminin, dan sifat-sifat kepribadian dan sifat-sifat tindakan lainnya seperti Dia datang, turun, dan lain sebagainya yang telah Dia turunkan di Kitab-Nya, dan diucapkan Rasul-Nya saw.

Beriman kepada Ketuhanan Allah

Orang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta’ala bagi seluruh manusia sejak manusia pertama hingga manusia terakhir. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala. Itu semua berdasarkan dalil-dalil wahyu, dalil-dalil akal, dan sebelum itu semua adalah petunjuk Allah Ta’ala. Sebab, barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, ia mendapatkan petunjuk, dan barang siapa disesatkan Allah Ta’ala, ia tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.
Dalil-Dalil Wahyu
Kesaksian Allah Ta’ala, kesaksian para malaikat, dan kesaksian orang-orang berilmu terhadap ketuhanan Allah SWT.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang beriman (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ali Imran: 18).
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur.“ (Al-Baqarah: 255).

Beriman kepada Rububiyah Allah terhadap Segala Hal

Arti rububiyah ialah keberadaan Allah sebagai Pencipta segala sesuatu, dan Dialah yang mengaturnya. Orang Muslim beriman kepadaa rububiyah Allah terhadap segala sesuatu. Allah tidak mempunyai sekutu dalam rububiyah-Nya terhadap seluruh jagad raya. Ini semua karena petunjuk Allah Ta'ala, kemudian karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut.
Dalil-Dalil Wahyu
  1. Firman Allah SWT (yang artinya) sebagai berikut.
    • "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (Al-Fatihah: 2).
    • "Katakanlah: 'Siapakah Tuhan langit dan bumi?' Katakan: 'Allah'." (Ar-Ra'du: 16).
    • "Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kalian orang-orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Tuhan kalian dan Tuhan bapak-bapak kalian yang terdahulu." (Ad-Dukhan: 7-8).
    • "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhan kalian?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi'." (Al-A'raaf: 172)
    • "Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan pemilik Arasy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah. Katakanlah, 'Maka apakah kalian tidak bertakwa'?" (Al-Mukminun: 86-87).

Beriman kepada Allah Ta'ala

Orang Muslim beriman kepada Allah SWT dalam arti membenarkan eksistensi Allah bahwa Allah Pencipta langit dan bumi, bahwa Allah mengetahui alam gaib dan alam nyata, bahwa Allah Tuhan segala sesuatu sekaligus pemiliknya, bahwa Tidak ada Tuhan selain Dia, bahwa Allah Mahaagung dan Mahatinggi yang bersifatkan seluruh kesempurnaan, dan bersih dari semua kekurangan. Iman seperti ini semua adalah petunjuk Allah Ta'ala sebelum segala sesuatu. Karena, Allah Ta'ala berfirman, "Dan kita tidak mendapatkan petunjuk, jika Allah tidak memberi petunjuk kepada kita." Di samping itu, karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal sebagai berikut.
Dalil-Dalil Wahyu
Penjelasan Allah Ta'ala tentang eksistensi diri-Nya, tentang penciptaan-Nya terhadap makhluk, tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, itu semua ada di dalam Al-Qur'an, di antaranya adalah sebagai berikut.
Allah SWT berfirman(yang artinya), "Sesungguhnya Tuhan kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (Al-A'raaf: 54). Firman Allah ketika memanggil Nabi Musa a.s. di pinggir Lembah Kanan di lokasi yang diberkahi I sebelah pohon, "Hai Musa, sesungguhnya Aku Allah, Tuhan semesta alam." (Al-Qashash: 30).

Tauhid Ibadah

Orang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta'ala bagi manusia sejak pertama hingga generasi terakhir, kerububiyahan-Nya terhadap alam semesta, bahwa tidak ada pengaturan dunia selain Dia, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.
Oleh karena itu, ia memperuntukkan bagi Allah ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepadanya, dan tidak memalingkannya sedikit pun kepada selain Allah. Jika ia minta pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah. Jika ia bernadzar, ia tidak bernadzar untuk selain Allah. Untuk Allah-lah semua amal perbuatan batinnya, seperti takut, berharap, taubat, cinta, pengagungan, tawakkal, dan amal perbuatan lahiriyahnya seperti shalat, zakat, haji, dan jihad. Itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut.
Dalil-Dalil Wahyu
  1. Perintah Allah Ta'ala kepada sikap seperti di atas dalam firman-firman-Nya, seperti firman-firman-Nya berikut ini.
    • "Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengikuti Aku." (Thaha: 14)
    • "Dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk)." (Al-Baqarah: 40)

Senin, 17 Oktober 2011

Macam-macam Tauhid

Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya nama-nama dan sifat-sifatNya. Dengan demikian, tauhid ada tiga macam : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah serta tauhid asma’ wasifat.
Pertama: Tauhid Rububiyah
Yaitu mengesakan Allah dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk.
- (QS. Az-Zumar: 62)
- (QS. Hud: 6)
- (QS. Ali Imran: 26-27)
- (QS. Luqman: 11)
- (QS. Al-Mulk: 21)
- (QS. Al-A’raf: 54)
- (QS. Al Mu’minun: 86-89)
- (QS. Ibrahim: 10)
- (QS. Al-Isra’: 102)
- (QS. An-Naml: 14)
- (QS. Ath-Thur: 35-36)

Rabu, 17 Agustus 2011

Jangan Mudah Percaya Dengan Orang Kafir (Tafsir Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 118)

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118)
Tentang sebab turunnya ayat di atas, Ibnu Abbas menjelaskan, “Ada beberapa orang kaum muslimin yang menjalin hubungan dekat dengan beberapa orang Yahudi mengingat mereka adalah tetangga dan orang-orang yang pernah saling bersumpah untuk saling mewarisi di masa jahiliyyah lalu Allah menurunkan ayat yang berisi larangan menjadikan orang-orang Yahudi sebagai teman dekat karena dikhawatirkan menjadi sebab munculnya godaan iman. Ayat yang dimaksudkan adalah ayat di atas.” (Riwayat Ibnu Abi hatim dengan sanad yang hasan).

Rabu, 10 Agustus 2011

Hakikat Manusia (Ma’rifatul Insan)

ImageKita, manusia, adalah makhluk yang unik. Pernahkah kita merenungi mengapa kita unik? Apa sajakah keunikan manusia yang membuatnya berbeda dari makhluk Allah yang lainnya?
Keunikan pertama, manusia adalah makhluk Allah yang dimuliakan (mukarram). Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS Al-Isra’: 70)
Salah satu hal yang mengindikasikan dimuliakannya manusia adalah peniupan ruh pada diri manusia. Allah SWT berfirman, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As-Sajdah: 9)
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw menjelaskan bagaimana ruh ditiupkan pada setiap janin manusia. “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama empat puluh hari berupa nuthfah, lalu menjadi segumpal darah selama itu pula, lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan mencatat empat hal yang telah ditentukan, yaitu: rezeki, ajal, amal, dan bahagia atau sengsaranya.”

Siapakah Diri Kita? (Ma’rifatul Insan)

ImageKita, manusia, adalah makhluq Allah yang unik dan istimewa. Kita tercipta dari dua unsur yang sungguh berbeda satu sama lain: tanah yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari langit. Terciptanya kita dari tanah menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘bumi’ seperti makan, minum, dan kebutuhan biologis. Sedangkan unsur ruh yang ada dalam diri kita menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘langit’ seperti iman, ilmu, dan semacamnya.
Allah telah mengilhamkan dalam diri kita dua potensi: potensi baik (at-taqwa) dan potensi buruk (al-fujur). Kemudian Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih: beriman atau kufur, menjadi baik atau menjadi buruk. Setelah memilih, kita tentu saja harus menanggung segala konsekuensinya. Dan konsekuensi tersebut tidak lain adalah balasan baik berupa surga dan balasan buruk berupa neraka. Apapun yang akan kita dapatkan, baik surga ataupun neraka, merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Karena itu jika ada seorang manusia yang nantinya masuk kedalam neraka, itu tidak lain adalah karena kezhalimannya kepada dirinya sendiri. Allah sedikit pun tidak berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

Makna Syahadat

ImageSebagai muslim, kita tentu tidak asing lagi dengan dua kalimat syahadat atau yang biasa dikenal sebagai syahadatain. Bagaimana tidak? Semenjak kecil kalimat ini sudah diajarkan pada kita. Setiap hari paling tidak kita mengucapkan kalimat ini berkali-kali dalam tasyahud shalat kita. Belum lagi dalam dzikir-dzikir yang kita ucapkan. Namun, meski kita sudah sedemikian akrab dengan kalimat ini, kita harus bertanya pada diri kita apakah kita sudah menghayatinya dengan penghayatan yang sebenar-benarnya untuk kemudian mengejewantahkannya dalam kehidupan?
Kalimat syahadat terdiri dari dua bagian. Yang pertama disebut syahadat tauhid. Yang kedua disebut syahadat kerasulan. Dalam syahadat tauhid, kita mempersaksikan, berikrar dan berjanji bahwa laa ilaha illallah ’tidak ada ilah selain Allah’. Pernyataan ini pertama-tama bermakna bahwa tidak ada yang memiliki sifat-sifat rububiyah kecuali Allah. Maknanya, Allah sajalah pencipta alam semesta ini sekaligus pemelihara urusan-urusannya, pemberi rizki kepada semua makhluq dan pemilik hakiki dari semua yang ada di alam ini. Namun, kesaksian atas rububiyah ini tidak serta merta membuat seseorang menjadi seorang muslim. Untuk menjadi seorang muslim, seseorang harus melangkah pada makna syahadat tauhid yang lebih jauh, yakni tidak ada yang berhak diibadahi dalam hidup ini kecuali Allah. Sebenarnya, makna ini adalah konsekuensi logis dari makna rububiyah tadi. Bukankah jika seseorang telah mengakui bahwa satu-satunya pemilik sifat rububiyah adalah Allah maka tidak ada lagi pilihan lain baginya kecuali tunduk patuh beribadah kepada-Nya?

Selasa, 09 Agustus 2011

Kitab at-Tauhid

Kitab at-Tauhid
Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.


Tak ada penjelasan pasti dari para sejarawan tentang tahun kelahiran al-Maturidi. Tetapi menurut Dr. Ayyub Ali, al-Maturidi lahir sekitar tahun 238 H / 852 M. Alasan yang dikemukakannya adalah bahwa salah satu murid al-Maturidi, yaitu Muhammad bin Muqatil ar-Razi wafat pada tahun pada tahun 248 H / 862 M. [Ayyub Ali, A History of Muslim Philosophy, vol. I, h. 260].

Kitab ‘Inayah al-Muftaqir

Satu lagi sebagai bukti kedigdayaan intelektual Syaikh Mahfuzh adalah kitab ‘Inayah al-Muftaqir yang ditulis tahun 1327 H. Kitab ini merupakan sebuah kitab yang mencoba mengkupas tentang sosok Khadir mulai dari nama, nasab, umur, dan lainnya. Dengan piawinya Syaikh Mahfuzh menghadirkan kepada para pembaca pelbagai riwayat mengenai sosok Khadir.

Dari riwayat-riwayat yang dihadirkan Syaikh Mahfuzh tampak bahwa sosok Khadir ternyata adalah sosok yang diperselisihkan. Namun Syaikh Mahfuzh tidak hanya berhenti pada menghadirkan kepada kita perbedaan-perbedaan riwayat mengenai sosok Khadir. Tetapi ia juga berupaya untuk meneliti lebih lanjut kesahihan riwayat yang ada mengenai Khadir.
Rujukan primer Syaikh Mahfuzh adalah kitab al-Ishabah fi Tamziz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Perbincangan mengenai sosok Khadir dimulai dengan nasab-nya. Setidaknya ada sepuluh riwayat yang dihadirkan di hadapan pembaca. Di antaranya adalah riwayat yang mengatakan bahwa Khadir adalah anak Nabi Adam as. Ini adalah riwayat ad-Daraqutni melalui Rawwad ibn al-Jarah dari Muaqatil bin Sulaiman dari adh-Dhahak dari Ibn Abbas ra.

Rasa`il al-Maqrizi

Mesir memang gudang intektual Muslim. Dari sekian banyak intelektual di antaranya adalah Ahmad bin Ali bin Abd al-Qadir Abu Abbas al-Husaini al-Abidi Taqiyyuddin al-Maqrizi. Ia lahir pada tahun 766 H / 1364 M dan wafat pada tahun 845 H / 1442 di Kairo. Al-Maqrizi dikenal sebagai seorang sejarawan Mesir. Ia adalah orang yang sangat baik ingatannya dalam soal sejarah, tetapi ia juga sebagai manusia biasa yang mempunyai kelemahan. Di antaranya adalah minimnya pengetahuan al-Maqrizi terhadap tokoh-tokoh terdahulu. Ia juga tidak terlalu menguasai sejarah tokoh-tokoh Islam, ilmu jarh dan ta’dil.

Akibatnya, pandangan-pandangan al-Maqrizi acapkali diabaikan para ulama, bahkan tidak sedikit yang mengkritiknya. Karya-karya al-Maqrizi tehitung banyak, dan hal ini jelas menunjukkan produktifitasnya. Di antaranya adalah kitab Daur al-‘Uqud al-Faridah fi Tarajum al-A’yan al-Mufidah, Imtina’ al-Asma’ bima li ar-Rasul min al-Abna` wa Akhwal wa al-Hafdah wa al-Mata’, ‘Aqd Jawahir al-Isfath fi Muluk Mishr wa al-Fusthath, al-Auzan wa al-Akyal asy-Syar’iyyah, dan lain sebagainya.

Kitab Al-`Itiqad fi Al-Iqtishâd

Imam Ghazali nama lengkapnya ialah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Ia dilahirkan pada tahun 450 H, ada pendapat yang mengatakan dilahirkan tahun 451 H di Thâbirân, dan meninggal pada hari Senin 14 Jumadil Akhir 550 H. Selama hidupnya, Al-Ghazali telah mengabdikan dirinya untuk ilmu dan mencari kebenaran. Dan sebagai penghormatan atas sumbangsih pemikiranya dalam ilmu agama umat Islam memberi gelar hujjatul Islam.

Intelektualitas Al-Ghazali dikalangan umat Islam tidak diragukan lagi sehingga bejibun karya telah lahir dari tangannya. Di antaranya ialah, Ihyâ` `Ulûm Ad-Dîn, sebuah buku yang berusaha mempertemukan kekakuan fikih dengan kelembutan tasawuf. Dan dari karya ini Al-Ghazali kemudian menjadi lebih dikenal sebagai seorang tokoh sufi ketimbang seorang ahli hukum fikih.

Al-Ghuniyyah bi Thâlibiy Tharîq al-Haq

Dunia tasawuf tak bisa dilepaskan dengan nama salah seorang tokohnya, yaitu Syeikh Abd al-Qâdir al-Jîlani yang lahir tahun 470 H dan meninggal 561 H, dan dimakankan di kota Baghdad. Konon katanya, ketika siang di bulan Ramadhan si kecil Abd al-Qâdir tak mau menyusu pada ibunya.
Setelah dewasa, ia mampu menguasai fikih Syafi’i dan Hambali, sehingga ia menjadi rujukan atau tempat bertanya tentang persoalan fikih kedua madzhab tersebut. Di samping ahli dalam bidang fikih, ia juga kenal sebagai seorang wali. Dengan demikian ia telah sukses baik dalam karir intelektual maupun kewalian.

Dalam dunia kewalian, Abd al-Qâdir disemati gelar sulthân al-awliyâ` atau pemimpin para wali. Inilah gelar tertinggi wali. Dalam dunia kewalian, para wali telah menciptakan lima struktur atau level yang berbentuk seperti piramid. Yaitu, qutb, nuqabâ`, awtâd, abdâl, dan akhyâr. Qutb diisi satu wali, sedang nuqabâ` tiga wali, awtâd tujuh wali, abdâl empat puluh wali, dan akhyâr tiga ratus wali. Sedang Abd al-Qâdir telah mencapai puncak kewalian, yaitu berada pada level qutb.

Kamis, 28 Juli 2011

DEFINISI ILMU TAUHID

Pengertian Ilmu Tauhid. Tauhid adalah aqidah. Aqidah berarti keyakinan. Keyakinan bahwa Allah itu Maha Esa. Aqidah juga berarti sebuah ikatan yang kuat antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Khaliq. Ikatan yang kuat antara sesama manusia dalam satu keyakinan. Satu tauhid dan tauhid yang satu. Tauhid adalah Ath-thariqah. Ath-thariqah berarti jalan untuk memahami Keesaan Allah.

Jalan yang sesuai dengan kaidah – kaidah yang sudah digariskan Allah melalui ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

Pemahaman tauhid yang benar ini sudah banyak berkembang dan kita hanya perlu mempelajari dan memahaminya saja melalui pemahaman – pemahaman yang sudah diamalkan oleh para sahabat nabi, para tabiin dan para wali Allah serta para ulama yang taat dan mengamalkan ilmunya serta selalu menyandarkan setiap amalannya kepada Al-Quran dan Hadist