STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 04 Juni 2011

RASIONALISME DAN EMPERISME BERJABAT TANGAN DALAM EPISTEMOLOGI

Cara efisien untuk mendapatkan sebuah pengetahuan yaitu harus melalui proses tertentu agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menangani sebuah permasalahan. Semua permasalahan bisa menjadi rasioanl (masuk akal) tentu harus melewati proses yagn disebut empiris. Kalau ada orang berkata kepada kita “Aku tahu lo cara bermain gitar…!”. Tapi apakah yang dia katakan merupakan ilmu?
Tadi pada hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar. Bukan jawaban yang bersifat sembarangan. Kalau dilihat dari sejumlah pola pikir manusia, terdapat dua pola dalam memperoleh sebuah pengetahuan. Yang pertama harus kita ketahui adalah berpikir secara rasional yang berdasarkan faham rasiolisme, yaitu ide tentang sesuatu sebenarnya sudah ada tanpa melalui indra. Kemudian yang kedua dikembangkan dengan pola pikir yang empiris.

Emmanuel Kant seorang filosof Eropa yang terkenal dalam “Master Piece” nya “chitique of pure reason” (murni) teori tersebut terangkum dalam kepercayaan adanya dua sumber bagi konsepsi. (Pertama) pengindraan (esensi). Kita mengkonsepsi panas, cahaya, rasa dan suara. Karena pendengaran kita terhadap semuanya. (Kedua) fitrah, akal manusia tidak muncul dari pengindraan melainkan memang sudah ada dalam lubuk “fitrah”. Yang menurut Descrates, konsepsi “FHN” ide Tuhan. Menurut Emmanuel Kunt, semua pengetahuan manusia itu FHN, termasuk dua bentuk ruang dan waktu serta dua belas (12) kategori Kunt, yaitu (1) kuantitas = unitas, pluralitas, totalitas (2) kualitas = realitas, penafiaan, liminitas (4) modalitas = kemungkinan kemustahilan, ada dan tiada, keniscayaan ketidakniscayaan.[1]
“EPISTEMOLOGI VERSI RASIONALISME”
Dalam pandangan rasionalis manusia terbagi dalam dua bagian. (Pertama) pengetahuan yang mesti atau intuitif. Akal mesti mengakui suatu proposi tertentu tanpa mencari bukti kebenarannya. (Kedua) informasi dan pengetahuan teoritis. Akal tidak akan mempercayai kebenaran beberapa proposisi, kecuali pengalaman “pendahuluan” umpamanya “Bumi itu bulat” contoh ini bila dicodorkan apda akal, maka tidak akan menghasilkan suatu apapun. Jadi doktrin rasional adalah landasan pengetahuan menginformasikan primer. Karena pengalaman primer itu dianggap “sebab à “pertama pengetahuan”. Dan sebab pengatahuan ada dua. Pertama kondisi pokok pengetahuan manusia pada umumnya. Kedua, sebab bagi sebagian informasi.
Intinya, dasar pengetahuan itu diperoleh melalui secara rasional, terlepas dari pengalaman manusia (pasti). Namun dari manakah kita mendapatkan kebenaran bila kebenaran itu terlapas dari pangalaman manusia. Kalau kita mengambil gagasan Bung Hatta “Pengetahuan yang di dapat dari pengalaman disebut pengetahuan pengalaman atau pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu.[2] Dari sinilah kita dapat menggambarkan bahwa pengetahuan yang didapat tanpa ada bukti yang empiris maka pengetahuan pantas dipertanyakan. Dan cara berpikir seperti itu akan menyebabkan kita terjatuh kedalam pengetahuan yang benar menurut anggapan masing-masing. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui pula pola berfikir yang empiris.
EPISTEMOLOGI VERSI EMPIRISME
John Lock filosof Inggris mengemukakan sumber segala ide adalah pengalaman yang terdiri dari sensasi dan refleksi. Karyanya adalah Essay Concerning Human Understanding.[3]. Teori emperikal mengatakan bahwa akal manusia dapat dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan adalah bekal bagi penginderaan.
Mao Tse Tung (1893-1976) menyatakan bahwa “Sumber segala pengetahuan tersembunyi dalam pengindraan oleh organ-organ jasmani manusia terhadap alam objektiv yang mengelilinginya. Teori emperikal berdasarkan atas eksperimentasi. seseorang yang tidak memiliki satu macam indra, maka dia tidak dapat mengkonsepsikan pengertian yang mempunyai hubungan dengan indra tersebut.
Tapi apakah pendekatan empiris ini membawa lebih dekat kepada kebenaran ? Jawaban tidak. Sebab gejala yang terdapat dalam pengalaman. Baru bila mempunyai arti kalau kita bisa memberikan penafsiran kepada mereka. Jujun S. Suria-Sumantri dalam bukunya “Ilmu dalam Perspektif” mengatakan, “Seperti biasanya, waktu mengendapkan sifat ekstrim dari tiap-tiap bentuk pemikiran yang radikal. Lambat laun akan berubah menjadi lebih moderat, sehingga kompromi lebih mudah dicapai, demikian juga dengan pendekatan rasional dan empiris yang membentuk dua kutub yang saling bertentangan yang akhirnya kedua belah pihak saling menyadari bahwa rasionalisme dan empirisme mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.[4]
Dari sinilah timbul gagasan untuk menggabungkan keduanya utnuk mendekatkan kepada metode yang lebih diandalakan dalam menemukan pengetahuan yang benar. Bukankah bila kekurangan dan kelebihan disatukan akan lebih bagus? Ibarat kopi itu pahit dan gula manis, apabila keduanya disatukan maka akan terasa nikmat.
Misalnya seperti Carles Darwin yang menggabungkan metode deduksi Aristoteles dengan metode induksi Bacon. Dalam gabungan antara kedua metode adalah merupakan kegiaran beranling antara deduksi dan induksi yang mana awalnya seorang penyelidik mempergunakan induksi dalam menggabungkan antara pengamatan dengan hipotesis. Kemudian secara deduktif hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokannya dan implikasinya yang kemudian hipotesis ini di uji benar apa tidak secara empiris.
KOMBINASI ANTARA RASIONALISME DENGAN EMPIRISME
Rasionalisme memberikan kerangka berfikir yang koheren dan logis, sedangkan empirisme adalah kerangka pengujian dalam menghasilkan suatu kebenaran. Kedua metode ini apabila dipergunakan secara dinamis maka akan menghasilkan pengetahuan yang konsisten dan sisematis serta dapat diandalkan. Karena pengetahuan itu melewati pengujian yang empiris. Oleh sebab itulah muncul “Metode eksperimen” yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yan dilakukan secara empiris.
Metode ini dikembangkan oleh sarjana-sarjaan muslim pada masa keemasan islam ketika ilmu-ilmu yang sudah mencapai kulminasi antara abad IX dan XII Masehi. Pengembangan metode ini mempunyai pengaruh penting tehadap cara berpikir manusia. Sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai penjelasan teoritis. Apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak?
Dalam bagan logika ilmiah yang merupakan pertemuan antara rasionalisme dan empirisme, misalnya Galiko (1564-1642) dan Norton (1642-1727) yang merupakan pioner yang mempergunakan gabungan berpikir deduktif dan induktif.
Berpikir deduktif memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Penjelasan rasional ini[5] bukan berarti bersifat final. Oleh sebab itu, maka dipergunakan pula cara berfikir yang induktif sebagai contoh, “Mobil itu bermerek Inova”. Tapi bagi yang tidak tahu, maka pengkajian secara empiris mempunyai sebuah makna lain. Dari sinilah pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah yang disebut metode ilmiah.
Sekali lagi saya sebutkan bahwa penjelasan rasional hanyalah bersifat sementara yang disebut hipotesis. Hipotesis adalah merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang dihadapi. Jujun S., mengatakan sering ditemui kesalahpahaman dimana analisis ilmiah berhenti pada hipotesis ini tanpa ada upaya selanjutnya untuk melakukan verifikasi, apakah hipotesis itu benar atau tidak. Ini semua dipengaruhi oleh paham rasionalisme da merupakan metode ilmiah yang merupakan gabungan dari rasionalisme dan empirisan.[6]
Menurut Hadiwijono (1992) yang dikutip oleh Profesor Ida Bagoes Muntaru, mengadakan empirisme sma sekali tidak menolak rasiolisme. sepanjang dipergunakan dalam rangka empirisme dan rasionalisme dilihat dalam rangka empirisme. Dan Haryono Sumangun (1992) mengumumkan ahli-ahli yang bersifat rasionalis mengatakan bahwa pengamatan indrawi itu penting. Namun faktor-faktor hanya akan berarti bila diberi arti oleh manusia dengan memekai rasionya. Tejoyowana (1991) mengemukakan, kerangka pemikiran Einstein menunjukkan bahwa fakta membentuk pengelunan (empirisme induktif) dan pada gilirannya pengertian menghasilkan fakta (rasionalisme deduktif).[7]
Jujun S. Suraya Sumantri memberikan langkah-langkah yang harus dipakai dalam kegiatan ilmiah : Pertama, perumusan masalah yang mengenai objek empiris dan dapat diidentifikasikan faktor yang terkait. Kedua, penyusunan kerangka berfikir dalam pengejaan hipotesis. Kerangka berfikir ini kursi disusun secara rasional. Dan Memperhatikan faktor yang empiris. Ketiga, perumusan hipotesis sebagai jawaban sementara. Keempat, pengujian hipotesis bisa dikatakn fakta atau tidak? Kelima, penarikan kesimpulan atau penilaian.[8] Apabila langkah-langkah ini tidak ditempuh maka suatu penelaah tak bisa dikatakan ilmiah. Dengan langkah ini, proses pengetahuan yang bersifat konsisten bisa teruji kebenarannya secara empiris. Dalam langkah-langkah yag lima ini bisa membuktikan bahwa dengan teori rasionalisme dan empirisme bisa dikatakan suatu kebenaran.
Marxisme pun mengambil dua langkah dalam menemukan sebuah pengetahuan, yaitu langkah empirikan dan langkah mental. (Aplikasi dan teori). Intinya, titik tolak dari pengetahuan adalah indra dan pengalaman. Walaupun beliau memberi catatan bahwa semua itu berbentuk jelas yang akan membawa ke doktrin rasional. Sebab pengetahuan itu mengasumsikan adanya wilayah pengetahuan manusia diluar batas pengalaman yang sederhana. Pada akhirnya, beliau mempertaruhkan tempat pengalaman, doktrin empirikal sebagai kriteria umum bagi pengetahuan manusia.[9]
PENUTUP
Kalau kita amati dari awal sampai akhir, maka sudah jelaslah bahwa kaum rasionalis dan kaum empiris berabat tangan yang apda awalnya saling bertentangan satu sama lain. Kemudian saling menyadarinya, maka seiring dengan berlalunya waktu. Metode kedua itu dijadikan teori dalam mendapatkan sebuah pengetahuan, karena dengan jalan itulah ilmu bisa berkembang sampai saat ini, maka dari itu, kita jangan sekali-kali kita beranggapan bahwa teori dari kedua kubu itu salah. Karena dengan kedua teori itu kita lebih gampang dalam menemukan sebuah kebenaran yang disebut metode ilmiah.


[1] M. Nor Mufid bin Ali. Terjemah Filsafat. cet 10. MIKAN. Bandung. 2001. hlm 29
[2] H. M. Yustan. Dirasah Islamiah. cet 2. PT. Raya Grafindo. Jakarta. 2003. hlm 36
[3] Ibid. hlm 30
[4] Ibid. hlm 30
[5] Suria Sumantri, Juju S. Ilmu dalam Perspektif. cet 13. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta 1997. hlm. 11
[6] Suria Sumantri, Juju S. Ilmu dalam Perspektif. cet 17. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta 2003. hlm. 120
[7] Ibid. hlm 124-125
[8] Ida Bagoes Mantra. Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial. cet I Pusta Pelajar. Yogyakarta. 2004. hlm 20-21
[9] Ibid. hlm 105

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar