STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan Islam II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan Islam II. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Ijtihad dalam Pendidikan

Menurut Hasan Langgulung, ada lima sumber nilai yang diakui dalam Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Nabi, itulah yang asal. Sumber ketiga yaitu qiyas, artinya membandingkan masalah yang disebutkan al-Qur’an dan Sunah dengan masalah yang dihadapi oleh umat Islam pada masa tertentu, tetapi nash yang tegas tidak ada dalam al-Qur’an, di sini digunakan qiyas. Kemudian sumber keempat adalah kemaslahatan umum pada suatu ketika yang dipikirkan patut menurut pandangan Islam. Sedang sumber yang kelima adalah kesepakatan atau ijma’ ulama dan ahli fikir Islam pada suatu ketika yang dianggap sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah.
Pendidikan Islam merujuk pada tiga sumber, yakni al-Qur'an, hadits, dan ijtihad. Ijtihad adalah usaha yang dilakukan oleh para ulama (mujtahid) untuk menetapkan/menentukan sesuatu hukum syari’at Islam terhadap hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya dalam al-Qur’an dan sunnah. Hal ini sejalan dengan pendapat Zakiah Daradjat bahwa “landasan pendidikan Islam itu terdiri dari al-Qur’an dan sunnah Nabi yang dapat dikembangkan dengan ijtihad.
Ijtihad dalam hal ini dapat meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan. Namun demikian, ijtihad harus mengikuti kaidah-kaidah yang diatur oleh para mujtahid, tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah. Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari al-Qur’an dan sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori baru dari hasil pendidikan harus dikaitkan dengan ajaran Islam yang sesuai dengan kebutuhan hidup.
Ijtihad di bidang pendidikan semakin dibutuhkan, sebab ajaran yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah hanya sebatas pokok-pokok dan prinsip-prinsip. Bila diperinci, maka perincian itu sekedar contoh dalam menerapkan yang prinsip itu karena sejak diturunkan sampai Nabi Muhammad saw. wafat, ajaran Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang seirama dengan tuntutan perkembangan jaman.

Minggu, 25 November 2012

Peran Pendidikan Islam Di Tengah Sinkretisme Agama

Keberhasilan Islam menembus dan mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, serta menjadikan dirinya sebagai suatu agama mayoritas bangsa ini merupakan prestasi yang menakjubkan. Hal ini mengingat, bahwa secara geografis jarak antara Indonesia dan Jazirah Arab sebagai tempat kelahiran Islam cukup jauh. Apalagi jika diperhatikan bahwa sejak proses penyebaran Islam di kepulauan nusantara yang waktu itu dikuasai kerajaan Hindu-Budha,  belum dapat ditemukan suatu organisani dakwah yang boleh dikatakan mapan dalam merencanakan proyek besar ini, yakni memperkenalkan Islam kepada masyarakan luas.
            Proses tersebarnya Islam kala itu semata-mata mengandalkan kemampuan dan ketekunan tenaga da’i pedagang atau guru sufi. Karena itu dapat dipahami jika proses penyebaran Islam di Indonesia membutuhkan proses cukup panjang, rumit dan waktu berabad-abad.
            Dalam kasus masyarakat Jawa, penyebaran Islam tidak bisa dilepaskan dari peran Walisongo, yaitu suatu gerakan dakwah Islam yang beranggotakan sembilan orang saleh. Jika ada seorang anggota Walisongo meninggal dunia, atau kembali ke negeri seberang, maka akan diganti dengan anggota baru. Songo atau sembilan adalah angka paling tinggi, gerakan  dakwah ini sengaja dinamakan Walisongo untuk menarik simpati masyarakat yang waktu itu masih belum terdidik dengan baik, dan juga belum mengerti hakikat agama Islam (Rahimsyah, 1998: 5).

Jumat, 04 Mei 2012

Konsep al-Qur’an Tentang Fitrah dan Kaitannya dengan Teori Belajar-Mengajar

Setiap manusia dapat memperoleh pendidikan dan hasil belajar yang baik sesuai dengan petunjuk agama. Dalam hal ini, agama Islam dengan al-Qur’an sebagai sumber utamanya menuntut penganutnya untuk memperdalam ilmu pengetahuannya, sesuai dengan tabiat agama. Ini berarti bahwa teori-teori aliran kependidikan yakni nativisme, empirisme, dan kovergensi bukan menjadi acuan konsep pendidikan al-Qur’an. Namun al-Qur’an lah yang memberikan konsep terhadap aliran-aliran pendidikan tersebut.
Menurut al-Qur’an, manusia pada tabiatnya adalah homo religious (makhluk beragama) yang sejak lahirnya telah membawa suatu kecenderungan beragama. Dalam hal ini, pada QS. al-Rum (30): 30 Allah berfirman :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Term فطرت الله (fitrah Allah) dalam ayat di atas, mengandung interpretasi bahwa manusia diciptakan oleh Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid. Potensi fitrah Allah pada diri manusia ini menyebabkannya selalu mencari realitas mutlak, dengan cara mengekspresikannya dalam bentuk sikap, cara berpikir dan bertingkah laku. Karena sikap ini manusia disebut juga sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik) dan homo education (makhluk pendidik), karena pendidikan baginya adalah suatu keharusan guna mewujudkan kualitas dan integritas kepribadian yang utuh.

Selasa, 06 Maret 2012

5 Penghalang keberkahan dalam kelas

العلم قبل القول و العمل
“ Berilmu sebelum berkata dan beramal” inilah kata yang pas untuk membuka artikel ini, ucapan Al Imam Bukhari رحمه الله yang sangat terkenal dan tertulis menjadi sebuah bab di kitab shohihnya, tidak syak lagi bahwa, mengajar dan mendidik merupakan perkejaan yang mulia dengan niat yang ihklas dalam rangka berdakwah tentu akan mendapatkan ganjaran yang begitu besar dari Allah azza wa jalla :
“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushilat : 33)
من دعا إلى هدىً كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا
“Siapa yang mengajak kepada hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun(HR. Muslim)
Tentunya didalam sebuah lembaga Islam visi dan misi mereka berintikan pada ayat dan hadits tersebut dengan beraneka ragam metodelogi untuk pencapainnya, namun yang disayangkannya beberapa sekolah Islam terjatuh dalam beberapa kesalahan yang mungkin disebabkan kurang pemahaman terhadap hal-hal yang dilarang, sehingga hidayah dan keridhoan yang begitu diharapkan malah bala dan musibah yang dirasakan wal iyyadzu billah, maka berkatalah pepatah arab
تريد النجاح ولكن لا تسلك مسالكه إن السفينة لا تجري على اليابس
“ Engkau mengharapkan kesuksesan akan tetapi tidak mengikuti jalan keberhasilan, sesungguhnya perahu tidak berjalan diatas dataran kering”

Jumat, 06 Januari 2012

New Trend of Islamic Education in Indonesia

Change in ideas of knowledge in complex societies and the means by which such ideas are transmitted result from continual struggle among competing groups within society, each of which seeks domination or influence … Thus the forms of knowledge shaped and conveyed in education systems … must be considered in relation to the social distribution of power. Dale Eickelman (1978), “The Arts of Memory: Islamic Education and Its Social Reproduction”. Comparative Studies in Societies and History, pp. 485-516.

Introduction

Indonesia has a unique education system. In addition to secular education system, where most of the students enjoy their education, there also exists Islamic education system for some of Muslim children. Both mainstreams of education system are under the supervision of two different ministries. On the one hand, the secular schools from elementary to university levels are supervised by the Ministry of National Education (MONE). On the other hand, Islamic educational institutions for all levels are under the administration of the Ministry of Religious Affairs (MORA).[1] Given the two mainstreams of education, Indonesia is regarded by some as adopting dualistic education system.

The Islamic education system constitutes pivotal and inseparable part of national education system. Islamic educational institutions, throughout their history, have contributed significantly to the development of Indonesian education. Besides producing Muslim scholars, they have developed also Islamic tradition in Indonesia. In spite of these contributions, however, the Islamic education does not become the center in the development of national education system. The marginalization of Islamic education by the colonial administration, followed by the subsequent government of independent Indonesia, resulted in Islamic education being regarded as the second class of education system. Amid such a situation, however, the Islamic education system has gone through significant developments.

Kamis, 22 Desember 2011

Membongkar Tradisionalisme Pendidikan Pesantren; “Sebuah Pilihan Sejarah”

Pendidikan di tengah medan kebudayaan (culture area), berproses merajut dua substansi aras kultural, yaitu di samping terartikulasi pada upaya pemanusiaan dirinya, juga secara berkesinambungan mewujud ke dalam pemanusiaan dunia di sekitarnya (man humanizes himself in humanizing the world around him) (J.W.M. Bakker, SJ; 2000: 22). Kenyataan ini nampaknya amat begitu diinsafi oleh para designer awal dan founding fathers bangsa ini, hingga kemudian cita-cita yang megkristal dalam tujuan pendidikan nasional (Mukaddimah UUD ‘45) kita, betul-betul terarah ke pengertian seperti itu.
Dalam prakteknya, pengejawantahan cita-cita pendidikan nasional, nampaknya tidak harus melulu ditempuh melalui jalur formal secara berjenjang (hierarchies), yang dilaksanakan mulai dari Pendidikan Pra-Sekolah (PP. No. 27 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Dasar (PP. No. 28 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Menengah (PP. No. 29 Tahun 1990) dan Pendidikan Perguruan Tinggi (PP. No. 30 Tahun 1990), akan tetapi juga mengabsahkan pelaksanaan pendidikan secara non-formal dan in-formal (pendidikan luar sekolah) (UU Sisdiknas, 2003). Artikulasi pendidikan terakhir ini, basisnya diperkuat mulai dari pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan swasta.

PARADIGMA PENDIDIKAN UNIVERSAL DI ERA MODERN DAN POST-MODERN Mencari “Visi Baru” atas “Realitas Baru” Pendidikan Kita

BAB I
GELOMBANG MODERNISME PENDIDIKAN
KEMUNCULAN ILMU PENGETAHUAN MODERN
Kemunculan ilmu pengetahuan modern pada abad XIX,mempunyai karakteristik lebih kompleks dari perkembangan intelektual abad sebelumnya,dipengaruhi oleh beberapa hal.Pertama,daerah perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin luas,dimana Amerika dan Rusia telah memberikan kontribusiyang penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan,serta adanya kesadaran bangsa Eropa tentang filsafat India.Kedua,ilmu pengetahuan yang telah menjadi kekuatan utama sejak abad XVII mengalami perluasan,khususnya di bidang geologi,biologi dan kimia.Ketiga,mesin produksiyang secara pasti merubah struktur social,sekaligus memberikan konsep-konsep baru dalam hubungannya dengan lingkungan fisik.Keempat,adanya perubahan yang cepat (revolusi),baik di bidang filsafat,politik yang telah merubah system pemikiran tradisional.
Di dunia modern,ilmu pengetahuan dan segala atributnya telah menjadi lambang supremasi modernisme.Primordialisme ilmu pengetahuan dalam alam modern tersebut mengandung beberapa makna.Pertama,ilmu pengetahuan mengimplikasikan adanya suatu prestise dan mendapatkan tempat di masyarakat.Kedua,saksi ahli,yaitu orang yang telah mempunyai reputasi dalam hal ilmu pengetahuan,sehingga mereka yang belum mempunyai reputasi maka tidak dianggap ilmiah.Ketiga,kita boleh berbicara tentang penelitian ilmiah bagi mereka yang telah mendapatkan otoritas legitimate untuk melakukan observasi.
Ilmu pengetahuan merupakan aktifitas trans nasional yang tidak terbatas oleh suku,ras ataupun wilayah tertentu.Ia merupakan proses kontinyu yang tidak terbatas pada perbedaan bahasa dan kebangsaan.Perkembangan ilmu pengetahuan modern di Eropa abad XVI dan XVII yang lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa Latin sebagai alat komunikasi utamanya-tampaknya hal itu sangat paradoks dengan semangat ilmiah yang telah menjadi kesepakatan dunia.

Selasa, 20 Desember 2011

Menuju Paradigma Pendidikan Islam Transformatif


Abstract :
Salah satu kritik yang seringkali muncul dalam dunia pendidikan selama ini adalah upaya indoktrinasi dan pencekokan ilmu yang dilakukan oleh pendidik. Padahal secara tegas tugas pendidik pada hakikatnya adalah memberikan stimulan, fasilitas, dan motivasi demi aktualisasi potensi setiap peserta didik. Pendidikan Islam juga mempertengahkan pola pembelajaran yang eksklusif, formalis, dan anti terhadap konsep-konsep pendidikan yang berasal dari luar Islam. Tulisan berikut ini adalah sebuah upaya untuk memperkenalkan “warna” dalam proses pembelajaran Islam, yaitu pendidikan Transformatif.
Model pendidikan ini, mengandaikan sebuah proses pembelajaran dengan pendekatan akademis, bukan birokratis, pembelajaran yang berorientasi untuk mencetak peserta didik bermental mencari ilmu, bukan menunggu ilmu, peserta didik harus didorong menjadi orang aktif, bukan pasif, pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik (student-oriented), bukan pendidik atau negara (teacher and state-oriented), manusia harus dilihat secara antroposentris yang teosentrik, bukan hanya antroposentris, sebuah pengelolaan pendidikan yang tidak sentralistis, melainkan terdesentralisasi yang menegaskan akan keberadaan kearifan lokal, dan sebuah pola pembelajaran agama Islam yang tidak disampaikan secara dogmatis, tetapi bersifat inklusif, integralistik dan holistik


A.     Pengantar
Inti dari cita-cita pendidikan, terutama pendidikan agama Islam adalah terbentuknya manusia yang beriman, cerdas, kreatif, dan memiliki keluhuran budhi. Tugas utama pendidikan adalah upaya secara sadar untuk mengantarkan manusia pada cita-cita tersebut, dan pendidikan Islam juga memiliki fungsi mengarahkan kehidupan dan keberagamaan manusia kearah kehidupan Islami yang ideal.[1] Jika upaya pendidikan mengalami kegagalan dalam mengantarkan manusia kearah cita-cita manusiawi yang bersandar pada nilai-nilai ke-Tuhanan, maka yang akan terjadi adalah tumbuhnya prilaku-prilaku negatif dan destruktif, seperti kekerasan, radikalisme, fundamentalisme, dan terorisme, juga ketidakpedulian sosial, yang semuanya itu mengakibatkan penderitaan semesta.

Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi pemikiran Tasawuf Al-Ghazali)

Berikut ini adalah akhlak atau etika seorang murid,santri atau pelajar, baik sebagai pribadi maupun sebagai penuntut ilmu. Ada 10 macam etika murid dalam pandangan Imam al-Ghazali :
Pertama, Seorang penuntut ilmu harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat tercela. Hal ini didasarkan pada pandangannya bahwa ilmu adalah ibadah hati dan merupakan shalat rahasia dan dapat mendekatkan batin pada Allah.
Kedua, Seorang penuntut ilmu hendaknya tidak banyak melibatkan diri dalam urusan duniawi. Ia harus sungguh-sungguh dan bekerja keras menuntut imu,bahkan ia harus jauh dari keluarga dan kampung halamannya. Hal ini dikarenakan banyak berhubungan dengan yang lainnya, dapat menyibukkan hati dan pikiran, dan jika hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ilmu itu dilakukan, maka akan hilanglah semangat menuntut ilmunya dan tujuannya tidak tercapai.
Ketiga, Seorang penuntut ilmu jangan menyombongkan diri dengan ilmu yang dimilikinya dan jangan pula banyak memerintah guru. Ia yang memerlukan petunjuknya menuju keberhasilan dan menjaganya dari celaka, dan semua itu dapat dicapai dengan ilmu, dan jangan mendahului suatu pertanyaan, terhadap masalah yang belum dijelaskan oleh gurunya.

Minggu, 27 November 2011

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MASYARAKAT PLURALISTIK

Masyarakat majemuk memang rawan konflik. Konflik dalam masyarakat majemuk dapat berlangsung terus menerus disetiap tempat dan waktu. Konflik bersumber pada perbedaan-perbedaan, dan setiap perbedaan pasti mempertahankan eksistensinya. Apabila setiap pihak ingin memepertahankan eksistensi, berarti ikut memperjuangkan kepentingan agar tetap eksis dan diakui keberadaannya, hal inilah yang sangat menimbulkan problem-problem.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk, masyarakat Indonesia juga rawan konflik. Tentu saja kondisi seperti itu tidak dibiarkan berjalan terus. Sesungguhnya konflik tidak dapat dihilangkan sama sekali karena usur perbedaan diantara manusia juga tidak bisa dihilangkan. Oleh karena itu salah satu diantara cara untuk mengatasi atau sekurang-kurangnya mengurangkan bahaya yang ditimbulkan dari padanya adalah pendidikan agama Islam.
Pendidikan agama Islam dianggap memiliki berbagai macam peranan yang handal yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi pengaruh negatif dari kemajemukan bangsa ini. Karena itulah tulisan ini mengungkapkan peranan-peranan pendidikan agama Islam untuk menetralisir dampak negatif dari kemajemukan di Indonesia.

KONSEP BELAJAR DALAM ISLAM DAN UMUM

BAB I

A. Latar Belakang
Pada umumnya para ahli psikologi bahwa hubungan antara belajar, memori dan pengetahuan itu sangat erat dan sangat sulit untuk dipisahkan. Memori yang biasanya kita artikan sebagai ingatan itu sesungguhnya adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulasi dan penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat dalam otak manusia.
Belajar erat kaitannya dengan psikologi. Dalam hal ini Made Pidarta mengemukakan psikologi atau jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam mengendalikan jasmani. Karena itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia yang berada dan melekat dalam diri manusia itu sendiri.
Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani, sejak dari masa bayi, kanak kanak dan seterusnya sampai dewasa dan masa tua. Makin besar anak itu makin berkembang pula jiwanya. Dengan melalui tahap-tahap tertentu dan akhimya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi kejiwaan maupun dari segi jasmani, agar hal ini tercapai maka kita perlu menerapkan konsep belajar yang tepat dalam prosespembelajaran.
Islam memandang umat manusia sebagai mahluk yang dilahirkan dalamkeasdaan fitrah atau suci, akan tetapi tuhan memberi potensi yang bersifat jasmaniah dan rohaniah yang didalamnya terdapat bakat untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan mansia itu sendiri.

KONSEP BELAJAR MENURUT ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada dasarnya, sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Banyak nash al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menyebutkan juga keutamaan mencari ilmu dan orang-orang yang berilmu.  Sesungguhnya motivasi seorang Muslim untuk mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim yang giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah Swt sangat cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di dunia dan di akhirat.
Betapa pentingnya pendidikan, karena hanya dengan proses pendidikanlah manusia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia, melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah. Apabila semua itu dilupakan dengan mengabaikan pendidikan, manusia akan kehilangan jatidirinya.
Dalam Islam, pentingnya pendidikan tidak semata-mata mementingkan individu, melainkan erat kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Konsep belajar/pendidikan dalam Islam berkaitan erat dengan lingkungan dan kepentingan umat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan senantiasa dikorelasikan dengan kebutuhan lingkungan, dan lingkungan dijadikan sebagai sumber belajar. Seorang peserta didik yang diberi kesempatan untuk belajar yang berwawasan lingkungan akan menumbuhkembangkan potensi manusia sebagai pemimpin.

Jumat, 18 November 2011

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM ERA GLOBALISASI

Abstrak
 Awal abad ke-21 ini ditandai oleh perubahan yang mencengangkan. Kenyataan tersebut telah menghadapkan masalah agama kepada suatu kesadaran kolektif, bahwa penyesuaian struktural dan kultural pemahaman agama adalah suatu keharusan. Hal ini hendaknya tidak dilihat sebagai suatu upaya untuk menyeret agama, untuk kemudian diletakkan dalam posisi sub-ordinate dalam hubungannya dengan perkembangan sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang sedemikian cepat itu.  Alih-alih, hal itu hendaknya dipahami sebagai usaha untuk menengok kembali keberagaman masyarakat beragama. Dengan demikian revitalisasi kehidupan keberagamaan tidak kehilangan konteks dan makna empiriknya. Keharusan tersebut dapat juga diartikan sebagai jawaban masyarakat beragama terhadap perubahan yang terjadi secara cepat.
Sebagai agen perubahan sosial, pendidikan Islam yang berada dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi yang berarti bagi perbaikan umat Islam, baik pada tataran intelektual teoritis maupun praktis. Pendidikan Islam bukan sekadar proses penanaman nilai moral untuk membentengi diri dari ekses negatif globalisasi. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan Islam tersebut mampu berperan sebagai kekuatan pembebas (liberating force) dari himpitan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan sosial budaya dan ekonomi.
Globalisasi berpandangan bahwa dunia didominasi oleh perekonomian dan munculnya hegemoni pasar dunia kapitalis dan ideologi neoliberal yang menopangnya. Untuk mengimbangi derasnya arus globalisasi perlu dikembangkan dan ditanamkan karakter nasionalisme guna menghadapi dampak negatif dari arus globalisasi.

Selasa, 08 November 2011

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM

BAB   I      
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
            Saat ini Indonesia sebagai salah satu negeri kaum muslimin terbesar telah didera oleh berbagai keterpurukan, yang diantara penyebab keterpurukan tersebut terjadi karena kekeliruan dalam menyelenggarakan sistem pendidikan nasionalnya. Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1] Berdasarkan definisi ini maka terdapat beberapa kecakapan hidup yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik setelah menempuh suatu proses pendidikan.
Berangkat dari definisi di atas maka dapat difahami bahwa secara formal sistem pendidikan indonesia diarahkan pada tercapainya cita-cita pendidikan yang ideal dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang bermartabat. Namun demikian, sesungguhnya sistem pendidikan indonesia saat ini tengah berjalan di atas rel kehidupan ‘sekulerisme’ yaitu suatu pandangan hidup yang memisahkan peranan agama dalam pengaturan urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh, termasuk dalam penyelenggaran sistem pendidikan.

Selasa, 11 Oktober 2011

ANTARA PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK

“Upaya Memahami Komponen Pendidikan Perspektif Kitab Ta’alimul Muta’alim”
Pendidik merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan bertugas menyelenggarakan kegiatan belajar, melatih, mengembangkan dan memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan sebagai tenaga mengajar. Guru atau pengajar harus memiliki kemampuan yang profesional dalam bidang proses belajar mengajar, disamping memiliki kemampun yang profesional guru selaku tenaga pendidik harus memiliki kepribadian, dan kemampuan kemasyarakatan.
Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam pendidikan diperlukan kerja sama antara pendidik dan peserta didik walau bagaimanapun pendidik berusaha menanamkan pengaruhnya kepada peserta didik, apabila tidak ada kesediaan kesiapan dari peserta didik sendiri untuk mencapai tujuan, maka pendidikan sulit untuk berhasil. Kepentingan kerja sama ini mendapat perhatian besar dari Az-Zarnuzi. Perhatian itu terlihat dari banyaknya syarat dan petunjuk untuk dilaksakan oleh peserta didik.

Minggu, 07 Agustus 2011

PERBEDAAAN DAN KETERHUBUNGAN LATIHAN, PENGAJARAN DAN PENDIDIKAN

Apa maksud dari latihan
Menurut Prof. Dadang suhardan dalam kesemaptan perkuliahan di pasca sarajana pelatihan adalah Proses pengulangan perbuatan yg sama untuk memperoleh kemahiran/keterampilan (Habbit formation), kebiasaan atau keterampilan motorik, menunjuk pada aspek psikomotorik.
(Dasarnya mengulan perbuatan yang sama untuk memperoleh kemahiran). Belajar merupakan sebuah sistem dari latihan. Latihan lebih focus kepada motorik.
Apa makna dari pengajaran
Menurut Prof. Dadang suhardan “Proses memberikan pengalaman belajar untuk memperoleh IPTEK. Pengajaran menunjukan pada aspek kognitif. Pengajaran menyangkut perolehan pengetahuan melalui pengalaman indrawai/sensori, melalui alat indra dan aktivitas intelektual terutama proses berfikir”.  (Pengajaran disebut juga pendidikan intelektual)

Kamis, 28 Juli 2011

Orientasi dan Penempatan Tenaga Pendidikan dan Kependidikan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Dalam perkembangan organisasi dari waktu ke waktu bahwa sumber daya manusia merupakan aspek yang sangat penting, karena konstribusi sumber daya manusia dinilai sangat signifikan dalam pencapaian tujuan organisasi. Dalam rangka pencapaian tujuan organisasi melalui pengelolaan sumber daya manusia yang dimiliki secara tepat dan relevan maka aktifitas yang berkenaan dengan manajemen sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika suatu organisasi. Mengacu pada era globalisasi yang menuntut keunggulan
bersaing dari setiap organisasi, persaingan global telah meningkatkan standar kinerja. Penting pula disadari bahwa standar tersebut senantiasa dinamis, sehingga membutuhkan pengembangan lebih lanjut dari organisasi dan para pegawainya. Dengan menerima tantangan yang ditimbulkan dari standar yang makin meningkat ini, organisasi yang efektif bersedia melakukan hal-hal penting untuk dapat bertahan dan meningkatkan kemampuan strateginya. Hanya dengan mengantisipasi tantangan ini, organisasi dapat meningkatkan kemampuannya dan para tenaga kependidikan dapat mempertajam keahlian mereka.

KONSEP PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

Konsep-Konsep Pembiayaan Pendidikan
Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Konsep biaya dalam bidang pendidikan memberikan pandangan bahwa lembaga pendidikan merupakan produsen jasa pendidikan keahlian, keterampilan, ilmu pengetahuan, karakter dan nilai-nilai yang dimiliki seorang lulusan. Lembaga pendidikan memperoleh input berupa sumber daya manusia yang kemudian diproses melalui kegiatan pendidikan dan keterampilan untuk menghasilkan output yang mampu bersaing serta dapat memenuhi kebutuhan dunia kerja.
Ada 4 unsur pokok dalam definisi biaya:
1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.
2. Diukur dalam satuan uang.
3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi.
4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Jumat, 22 Juli 2011

SOLUSI MASALAH KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN
Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen yaitu merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi manajer yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim kerja, namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi. Kepemimpinan berkaitan dengan proses yang mempengaruhi orang sehingga mereka mencapai sasaran dalam keadaan tertentu. Kepemimpinan telah digambarkan sebagai penyelesaian pekerjaan melalui orang atau kelompok dan kinerja manajer akan tergantung pada kemampuannya sebagai manajer. Hal ini berarti mampu mempengaruhi terhadap orang atau kelompok untuk mencapai hasil yang diinginkan dan ditetapkan bersama

Selasa, 05 Juli 2011

Model Pengembangan Kurikulum PAI

Di dalam teori kurikulum setidak-tidaknya terdapat 4 pendekatan dalam pengembangan kurikulum di antaranya, yaitu: pendekatan subyek akademik; pendekatan humanistik; pendekatan teknologi; dan pendekatan rekonstruksi sosial.
a. Model Pengembangan Kurikulum melalui Pendekatan Subjek Akademis
Pendekatan ini adalah pendekatan yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri kurikulumnya mirip dengan tipe ini. Pendekatan subyek akademik dalam menyususn kurikulum atau program pendidikan didasarkan pada sistematisasi disiplin ilmu masing-masing. Setiap ilmu pengetahuan memiliki sistematisasi tertentu yang berbeda dengan sistematisasi ilmu lainnya. Pengembangan kurikulum subyek akademik dilakukan dengan cara menetapkan lebih dulu mata pelajaran/mata kuliah apa yang harus dipelajari peserta didik, yang diperlukan untuk (persiapan) pengembangan disiplin ilmu. Tujuan kurikulum subyek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses penelititan.