STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 17 September 2015

KEDUDUKAN WAHYU DAN AKAL DALAM ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN

Kedudukan akal dan wahyu dalam Islam menempati posisi yang sangat terhormat, melebihi agama-agama lain. karena Akal dan wahyu adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, dialah yang memberikan perbedaan manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang kholiq, akal pun harus dibina dengan ilmu-ilmu sehingga mnghasilkan budi pekrti yang sangat mulia yang menjadi dasar sumber kehidupan dan juga tujuan dari baginda rasulullah SAW. Tidak hanaya itu  dengan akal juga manusia bisa menjadi ciptaan pilihan yang allah amanatkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini, begitu juga dengan wahyu yang dimana wahyu adalah pemberian allah yang sangat luar biasa untuk membimbing manusia pada jalan yang lurus.

Namun dalam menggunakan akal terbatas akan hal-hal bersifat tauhid, karena ketauhitan sang pencipta tak akan terukur dalam menemukan titik ahir, begitu pula dengan wahyu sang Esa, karena wahyu diberikan kepada orang-orang terpilih dan semata-mata untuk menunjukkan kebesaran Allah. Maka dalam menangani anatara wahyu dana akal harus slalu mengingat bahwa semua itu karna allah semata. Dan tidak akan terjadi jika allah tak mengijinkannya. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kemusyrikan terhadap allah karena kesombongannya.



PEMBAHASAN
Kedudukan Wahyu Dan Akal Dalam Islam

A.    Wahyu
a.      Pengertian Wahyu

Kata wahyu berasal dari kata arab الوحي, dan al-wahy adalah kata asli Arab dan bukan pinjaman dari bahasa asing, yang berarti suara, api, dan kecepatan.[1] Dan ketika Al-Wahyu berbentuk masdar memiliki dua arti yaitu tersembunyi dan cepat. oleh sebab itu wahyu sering disebut sebuah pemberitahuan tersembunyi dan cepat kepada seseorang yang terpilih tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Sedangkan ketika berbentuk maf’ul wahyu Allah terhada Nabi-NabiNYA ini sering disebut Kalam Allah yang diberikan kepada Nabi.[2]

Menurut Muhammad Abduh dalam Risalatut Tauhid berpendapat bahwa wahyu adalah pengetahuan yang di dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai keyakinan bahwa semua itu datang dari Allah SWT, baik melalui pelantara maupun tanpa pelantara. Baik menjelma seperti suara yang masuk dalam telinga ataupun lainya.

b.    Fungsi wahyu

 Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia. Yang dimaksut memberi informasi disini yaitu wahyu memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada tuhan, menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat.

Sebenarnya wahyu secara tidak langsung adalah senjata yang diberikan allah kepada nabi-nabiNYA untuk melindungi diri dan pengikutnya dari ancaman orang-orang yang tak menyukai keberadaanya. Dan sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta yaitu Allah SWT.



c.      Kekuatan wahyu

Memang sulit saat ini membuktikan jika wahyu memiliki kekuatan, tetapi kita tidak mampu mengelak sejarah wahyu ada, oleh karna itu wahyu diyakini memiliki kekuatan karena beberapa faktor antara lain:

1)      Wahyu ada karena ijin dari Allah, atau wahyu ada karena pemberian Allah.

2)      Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

3)      Membuat suatu keyakinan pada diri manusia.

4)      Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib.

5)      Wahyu turun melalui para ucapan nabi-nabi.



B.   Akal



a.     Pengertian Akal

Kata akal sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘Aql (العـقـل), yang dalam bentuk kata benda.[3] Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluuh (عـقـلوه) dalam 1 ayat, ta’qiluun (تعـقـلون) 24 ayat, na’qil (نعـقـل) 1 ayat, ya’qiluha (يعـقـلها) 1 ayat dan ya’qiluun (يعـقـلون) 22 ayat, kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Maka dapat diambil arti bahwa akal adalah peralatan manusia yang memiliki fungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuanya sangat luas.

Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalah: sutu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahluk lain.



b.    Fungsi Akal

Akal banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara lain:

1.      Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.

2.      Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika permasalahan datang.

3.      Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.

Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan  Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.

c.       Kekuatan Akal

Tak seperti wahyu, kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:

1)      Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya.

2)      Mengetahui adanya hidup akhirat.

3)      Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesngsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat.

4)      Mengetahui wajibnya manusia mengenal tuhan.

5)      Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia mnjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.

6)      Membuat hukum-hukum mengnai kwajiban-kwajiban itu.



C.   Kedudukan Wahyu Dan Akal Dalam Islam

Kedudukan antara wahyu dalam islam sama-sama penting. Karena islam tak akan terlihat sempurna jika tak ada wahyu maupun akal. Dan kedua hal ini sangat berpengaruh dalam segala hal dalam islam. Dapat dilihat dalam hukum islam, antar wahyu dan akal ibarat penyeimbang. Andai ketika hukum islam berbicara yang identik dengan wahyu, maka akal akan segerah menerima dan mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut sesuai akan suatu tindakan yang terkena hukum tersebut.karena sesungguhnya akal dan wahyu itu memiliki kesamaan yang diberikan Allah namun kalau wahyu hanya orang-orang tertentu yang mendapatkanya tanpa seorangpun yang mengetahu, dan akal adalah hadiah terindah bagi setiap manusia yang diberikan Allah.

Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian bukan berartiakal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalucocok dengan syariat islam dalam permasalahan apapun. Dan Wahyu baik berupa Al-qur’an dan Hadits bersumber dari Allah SWT, pribadi NabiMuhammad SAW yang menyampaikan wahyu ini, memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu. Wahyu mmerupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpamengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum ataukhusus.Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip akal. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah.Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori perbuatan manusia. baik perintah maupun larangan. Sesungguhnya wahyu yang berupa al-qur’an dan as-sunnah turun secara berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang.[4]

Namun tidak selalu mendukung antara wahyu dan akal, karena seiring perkembangan zaman akal yang semestinya mempercayai wahyu adalah sebuah anugrah dari Allah terhadap orang yang terpilih, terkadang mempertanyakan keaslian wahyu tersebut. Apakah wahyu itu benar dari Allah ataukah hanya pemikiran seseorang yang beranggapan smua itu wahyu. Seperti pendapat Abu Jabbar bahwa akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain, demikian pula akal tak mengetahui bahwa hkuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman dan upah yang akan diperoleh manusia di akhira

 Karena Masalah akal dan wahyu dalam pemikiran kalam sering dibicarakan dalam konteks, yang manakah diantara kedua akal dan wahyu itu yang menjadi sumbr pengetahuan manusia tentang tuhan, tentang kewajiban manusia berterima kasih kepada tuhan, tentang apa yang baik dan yang buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk. Maka para aliran islam memiliki pendapat sendiri-sendiri antra lain:[5]

                               I.            Aliran Mu’tazilah sebagai penganut pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa akal mmpunyai kemampuan mengetahui empat konsep tersebut.

                            II.            Sementara itu aliran Maturidiyah Samarkand yang juga termasuk pemikiran kalam tradisional, mengatakan juga kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan yang buruk akan mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal tersebut.

                         III.            Sebaliknya aliran Asy’ariyah, sebagai penganut pemikiran kalam tradisional juga berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui tuhan sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajiban berterima kasih kepada tuhan, baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu.

                         IV.            Sementara itu aliran maturidiah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikiran kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari keempat hal tersebut yakni mengetahui tuhan dan mengetahui yang baik dan buruk dapat diketahui dngan akal, sedangkan dua hal lainnya yakni kewajiaban berterima kasih kepada tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk hanya dapat diketahui dengan wahyu.

Adapun ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh paham Maturidiyah Samarkand dan mu’tazilah, dan terlebih lagi untuk menguatkan pendapat mereka adalah surat as-sajdah, surat al-ghosiyah ayat 17 dan surat al-a’rof ayat 185. Di samping itu, buku ushul fiqih berbicara tentang siapa yang menjadi hakim atau pembuat hukum sebelum bi’sah atau nabi diutus, menjelaskan bahwa Mu’tazilah berpendapat pembuat hukum adalah akal manusia sendiri. dan untuk memperkuat pendapat mereka dipergunakan dalil al-Qur’an surat Hud ayat 24.Sementara itu aliran kalam tradisional mngambil beberapa ayat Al-qur’an sebagai dalil dalam rangka memperkuat pendapat yang mereka bawa . ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 surat al-isro, ayat 134 surat Taha, ayat 164 surat An-Nisa dan ayat 18 surat Al-Mulk.

Dalam menangani hal tersebut banyak beberapa tokoh dengan pendapatnya memaparkan hal-hal yang berhubungan antara wahyu dan akal. Seperti  Harun Nasution menggugat masalah dalam berfikir yang dinilainya sebagai kemunduran umat islam dalam sejarah. Menurut beliau yang diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasi pemahaman umat islam yang dinilai dogmatis tersebut, yang menyebabkan kemunduran umat islam karena kurang mengoptimalkan  potensi akal yang dimiliki. bagi Harun Nasution agama dan wahyu pada hakikatnya hanya dasar saja dan tugas akal yang akan menjelaskan dan memahami agama tersebut.






Islam dan Ilmu Pengetahuan




http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/03/sains-300x225.jpg

null

Krisis nuklir Iran hingga kini belum berakhir, Barat dengan didalangi AS menekan agar Iran tidak mengembangkan teknologi nuklirnya karena membahayakan perdamaian dunia. Inilah standar ganda AS, satu sisi membiarkan Israel mengembangkan nuklirnya dan mengancam negara-negara Arab dan Timur Tengah, sisi lain menekan Iran untuk tidak memiliki nuklir. Sebetulnya perdamaian apa yang dimaksudkan AS?, tentu saja perdamaian untuk dirinya dan sekutu-sekutunya.

 

Belum lagi, lemahnya penguasaan kaum muslimin terhadap sains dan teknologi, sehingga kita menjadi konsumen terbesar dari produk kapitalis Barat. Hal ini tentu disengaja oleh mereka agar negeri-negeri Islam selalu tertinggal dalam menguasai sains dan teknologi, sehingga kita selalu tergantung kepada mereka dan tidak pernah bisa mandiri. Kita bisa saksikan lemahnya kekuatan TNI ketika AS memboikot persenjataan militer, karena TNI di anggap melanggar HAM dalam beberapa kasus di tanah air.

 

Kita tidak akan membahas krisis nuklir Iran dan ketergantungan sains dan teknologi ini, tetapi kita akan fokus kepada sumbangsih Islam terhadap kemajuan sains dan teknologi Barat khususnya dan dunia umumnya. Bahkan beberapa pengamat Barat sendiri menyatakan bahwa tanpa Islam maka Barat tidak akan mengalami kemajuan hebat dalam sains dan teknologi seperti saat ini (Making of Humanity, Robert Briffault). Lihat 4, hal 69-72

 

Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan

 

Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, Al-Quran menganjurkan manusia agar menggunakan akalnya sehingga bertambah keimanannya dan maju dalam kehidupannya. Tidak ada pertentangan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan, bahkan penemuan-penemuan baru memperkuat kemu’jizatan Al-Quran.

Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya (An-Nisa’ 82).

 

Bertolak belakang dengan Injil (bible) yang sering bertentangan dengan ilmu pengetahuan, gereja bahkan menghukum mati ilmuwan seperti Galileo yang mendukung teori Helisentris dari Copernicus bahwa matahari pusat tata surya. Sebaliknya, gereja mempertahankan teori geosentris bahwa bumi pusat tata surya. Lihat 4, hal 5 Inilah masa kegelapan Eropa yan terjadi sebelum abad ke 18 M. Al-Quran adalah wahyu Allah dan tidak ada pertentangan didalamnya, sedangkan injil yang di tulis 60-70 tahun setelah kematian Yesus telah dipengaruhi oleh campur tangan para pengikutnya dan bisa di revisi kapan saja dikehendakinya.

 

Salah satu bukti ilmiah Al-Quran adalah adanya batas yang jelas antara air tawar dan air asin (laut), meskipun keduanya bercampur. Hasil penelitian ilmuwan, pertemuan antara air tawar dengan air asin (laut) tidak akan menyebabkan percampuran keduanya karena adanya efek listrik dan magnetik yang saling berlawanan sehingga terciptanya sekat di bagian tengah kedua perairan tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Alah swt:

 

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing (Ar-Rahman 19-20). Lihat 1, hal 41

 

Belum lagi penemuan ilmiah di bidang: matematik, optik, astronomi, geologi, biologi, farmasi, kedokteran dan lain-lain, yang semuanya tidak ada pertentangan dengan Al-Quran, padahal Al-Quran diturunkan 1.400 tahun yang lalu.

 

Islam memberikan kesempatan kepada akal manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya, selama tidak bertentangan dengan syari’at. Landasan yang digunakan adalah ketika para sahabat gagal panen kurma karena mengikuti anjuran Rasulullah saw dengan menggoyang-goyangkan pohon kurma. Rasulullah saw bersabda: “Antum a’lamu biumuridunyaakum” (Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian-HR Muslim). Sedangkan yang berhubungan dengan hadharah (budaya/peradaban) maka harus terikat dengan syari’at, seperti hukum-hukum yang berhubungan dengan aqidah, ibadah, mu’amalah, ‘uqubat dan lain-lain. Sehingga teknologi automotive misalnya tidak terkait dengan agama seseorang, kita bisa saja mengembangkan teknologi yang sudah ada di AS atau Jepang karena ini murni sains dan teknologi. Sedangkan budaya (hadharah) berpakaian adalah sesuatu yang terikat dengan Islam dan harus mengacu kepada syari’at Islam, dilarang (diharamkan) kaum muslimin meniru budaya berpakaian ala Barat yang membuka aurat.

 

Ahli dan Penemu Islam Di Berbagai Bidang

 

Di zaman keemasan kekhilafahan Islam ilmu pengetahuan berkembang demikian pesatnya, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan para Khalifah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian. Salah satunya Khalifah Harun Al-Rasyid (169-194 H) yang mendirikan sekolah farmasi dan kimia.

 

Dengan kondisi seperti itu maka bermunculan para ahli dan penemu di berbagai bidang, antara lain: Ibnu Sina ahli kedokteran dan matematika; Jabir Ibnu Hayyan ahli kimia dan kedokteran (penemu teori sulfur merkuri dari logam);  Al-Kindi seorang ahli fisika, astronomi dan optik; Al-Baitar ahli botani (tumbuh-tumbuhan) dan farmasi; Muhammad, Ahmad dan Hasan tiga serangkai di bidang teknik dan mekanik; Ibnu Hazen ahli optik, fisika dan matematik; Al-Qirafi ahli optik; Khuwarizmi ahli matematika, astronomi dan geografi (penemu logaritma); Abul Wafa ahli triginometri (penemu sinus dalam bangun segi tiga) dan sederetan panjang para ahli muslim di berbagai bidang. Bahkan Thomas Alfa Edison bukanlah penemu listrik, karena listrik telah ditemukan terlebih dahulu oleh Al-Jazzar. Penemuan kertas dengan bubur kayu berasal dari Islam abad 10 M, dimana sebelumnya China hanya membuat kertas dari kepompong ulat sutera. Lihat 2, hal 12; lihat juga 3, hal 63-64

 

Barat Belajar dari Islam

 

Para pelajar barat (terutama Eropa) berburu ilmu ke negeri-negeri Islam seperti Barcelona, Toledo, Cordova, Baghdad, Kairo, Damaskus, Mosul, Teheran dan lain-lain, untuk itu mereka harus menguasai bahasa Arab terlebih dahulu. Mereka juga menerjemahkan buku-buku bahasa Arab ke dalam bahasa mereka agar mampu mengembangkan ilmu pengetahuan sejajar dengan Islam. Diantaranya Sylvester yang belajar ke Spanyol, kemudian hari menjadi Paus Sylvester II (abad 10 M), Frederich II penguasa Italia yang akhirnya menjadi Kaisar di Jerman. Lihat 3, hal 61-63

 

Nama-nama yang diberikan oleh Barat terhadap ahli-ahli muslim di berbagai bidang mungkin aneh di telinga kita dan kita menyangka bahwa mereka para ahli Barat yang beragama Kristen. Nama-nama mereka antara lain Avicena, Geber, Rezhes, Abulcassis, Haly Rodoam, Averroes, Albetinius dan lain-lain, padahal mereka adalah para ahli muslim. Ibnu Sina menjadi Avicena, Jabir Ibnu Hayyan menjadi Geber, Abul Qosim Zahrawi menjadi Abulcassis, Ar-Rozi menjadi Rezhes, Ibnu Rusyd menjadi Averroes atau Al-Battani menjadi Abetinius Lihat 4, hal 21; lihat juga 3, hal 67

 

Pemutarbalikkan fakta kemajuan ilmu pengetahuan Islam tidak cukup dengan mengganti nama-nama Islam di atas, tetapi istilah-istilah Islam juga digantikan dengan istilah Barat sehingga mengaburkan bahwa penemuan itu berasal dari Islam. Istilah-istilah itu antara lain Algebra (Al-Jabr), Algorithm (Al-Khuwarizmi), Average (Awariya), Cipher/Zero (Sifr), Zenith (Janit), Alchemiy/Chemistry (Al-Kimiya), Antimony (Antimun), Zircon (Azraq), Admiral (Amir al-Bahr), Adobe (Al-Tub), Alkali (Al-Qali), Cable (Habl), Calibre (Qalaba), Camel (Jamal), Canon (Qanun), Checkmate (Shah Mat), Coffe (Qahwa), Cotton (Qutun), Earth (Ardh), Hazard (Al-Zahr), Jasmine (Yasmin), Lemon (Limun), Magazine (Makhazin), Orange (Naranj), Rice (Ruzz), Sugar (Sukkar), Cornea (Qarnia), Pancreas (Bankras) dan lain-lain. Lihat 4, hal 80-84

 

Kejayaan Islam Akan Kembali

 

Negara Islam pernah menjadi adi daya (super power) dengan menguasai dunia yang membentang seluruh negara Arab dan Timur Tengah (Saudi Arabia, Suriah Palestina, Yordania, Libanon, Yaman, Mesir, dll.), Persia (Iran), Mesopotamia (Iraq), Kaukasus, Afrika (Al-Jazair, Maroko, Tunisia, Libya, Nigeria, Somalia, Sudan, dll.), Spanyol (Andalusia), Semenanjung Balkan (Bulgaria, Rumania, Albania, Moldovia, Hungaria, Polandia), Perancis (Tuolouse, Narbonne, Perpigna, Lyon), Kepulauan Sisilia (Italia), Yunani, Bizantium (Turki), Asia Tengah (India, Pakistan). Lihat 5, hal 56, 78-84

 

Negara Islam juga menjadi ahli dan penemu di berbagai bidang sains dan teknologi, dengan semua fakta dan data di atas maka bukan mustahil umat Islam akan kembali bangkit menjadi adi daya dan menguasai dunia. Tentu saja, ketika umat Islam kembali kepada Al-Quran dan as-sunnah, bukannya malah mencampakkannya. Karena ketika Al-Quran dan as-sunnah tidak dijadikan sebagai aturan kehidupan ini maka umat Islam terpuruk, terhina dan terkebalakang seperti saat ini.

 

Wallahua’lam

 

Maraji’:

1. Ensiklopedia ilmiah dalam Al-Quran dan sunnah, DR. Abdul Basith Al-Jamal dan DR. Daliya Shiddiq Al-Jamal, Pustaka Al-Kautsar, cet. I, April 2003.

2. Pemuda muslim pembebek ataukah pemimpin?, Abdul Hamid Jassat, Pustaka Thariqul Izzah, cet. I, 2003

3. Refleksi sejarah terhadap dakwah masa kini, DR. Abdurrahman Al-Baghdady, Al-Azhar Press, cet. I, Februari 2002

4. Warisan peradaban Islam, Shahih Al-Kutb, Pustaka Thariqul Izzah, cet. I, 2002
5. Jihad dan ke

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar