STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 20 Desember 2011

Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi pemikiran Tasawuf Al-Ghazali)

Berikut ini adalah akhlak atau etika seorang murid,santri atau pelajar, baik sebagai pribadi maupun sebagai penuntut ilmu. Ada 10 macam etika murid dalam pandangan Imam al-Ghazali :
Pertama, Seorang penuntut ilmu harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat tercela. Hal ini didasarkan pada pandangannya bahwa ilmu adalah ibadah hati dan merupakan shalat rahasia dan dapat mendekatkan batin pada Allah.
Kedua, Seorang penuntut ilmu hendaknya tidak banyak melibatkan diri dalam urusan duniawi. Ia harus sungguh-sungguh dan bekerja keras menuntut imu,bahkan ia harus jauh dari keluarga dan kampung halamannya. Hal ini dikarenakan banyak berhubungan dengan yang lainnya, dapat menyibukkan hati dan pikiran, dan jika hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ilmu itu dilakukan, maka akan hilanglah semangat menuntut ilmunya dan tujuannya tidak tercapai.
Ketiga, Seorang penuntut ilmu jangan menyombongkan diri dengan ilmu yang dimilikinya dan jangan pula banyak memerintah guru. Ia yang memerlukan petunjuknya menuju keberhasilan dan menjaganya dari celaka, dan semua itu dapat dicapai dengan ilmu, dan jangan mendahului suatu pertanyaan, terhadap masalah yang belum dijelaskan oleh gurunya.

Keempat, Bagi penuntut ilmu pemula janganlah melibatkan atau mendalami perbedaan pendapat ulama, karena yang demikian itu dapat menimbulkan prasangka buruk,keragu-raguan dan kurang percaya pada kemampuan guru.
Kelima, Seorang penuntut ilmu jangan berpindah dari suatu ilmu yang terpuji kepada cabang-cabangnya kecuali setelah ia memahami pelajaran sebelumnya, mengingat bahwa berbagai macam ilmu itu saling berkaitan satu sama lainnya.
Keenam, Seorang penuntut ilmu jangan menenggelamkan diri pada satu bidang ilmu saja, melainkan harus menguasai ilmu pendukung lainnya. Dan memulai dengan ilmu yang paling penting, baru mendalami bidang ilmu tertentu, karena umur yang tersedia tidak cukup untuk menguasai semua bidang imu.
Ketujuh, Seorang penuntut ilmu jangan melibatkan diri terhadap pokok bahasan tertentu, sebelum melengkapi pokok bahasan lainnya yang menjadi pendukung ilmu tersebut.
Kedelapan, Seorang penuntut ilmu agar mengetahui sebab-sebab yang dapat menimbulkan kemuliaan ilmu. Dalam hal ini al-Ghazali membantu pelajar dalam memilih ukuran yang sesuai, dan jika melaksanakannya akan mendapatkan kemuliaan ilmu. Hal itu dapat dicapai dengan dua cara ; pertama, buahnya ilmu dan kedua kekuatan dalil dan pendukung lainnya. Jika kita mengambil perumpamaan seperti ilmu agama dan ilmu kedokteran. Tidak diragukan lagi bahwa imu agama menurut al-Ghazali termasuk ilmu yang mulia,karena dapat mengantarkan kemuliaan diakhirat. Sedangkan ilmu kedokteran dapat mengantarkan pada dunia yang fana. Sedangkan kehidupan akhirat lebih utama dan lebih baik daripada kehidupan dunia.
Kesembilan, Seorang penuntut ilmu agar dalam mencari ilmunya didasarkan pada upaya untuk menghias batin dan mempercantiknya dengan berbagai keutamaan. Hal ini didasarkan pada tujuan belajar untuk memperoleh kehidupan yang baik dikahirat. Hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan membersihkan jiwa, menghias diri dengan keutamaan dan akhlak yang terpuji. Oleh sebab itu tujuan belajarnya adalah untuk mencapai kebaikan hidup di akhirat, bukan tujuan duniawi, seperti menghasilkan harta dan kekuasaan.
Selanjutnya al-Ghazali mengingatkan para pelajar agar tidak pernah berhenti memuji ilmu akhirat, karena sebagian ilmu ada yang tidak perlu dicari. Oleh karena itu tidak boleh lupa mengingat ilmu fatawa, an-nahwu, bahasa dan lainnya yang kami kehendaki, dan jangan memahaminya kecuali dalam konteks memuji ilmu akhirat yang memerlukan ilmu-ilmu tersebut.
Kesepuluh, Seorang penuntut ilmu harus mengetahui hubungan macam-macam ilmu dan tujuannya. Oleh sebab itu setiap pelajar harus menemukan maksud dan tujuan ilmu, dan yang penting adalah memilih ilmu yang dapat menyampaikan pada maksud tersebut. Jika maksudnya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, maka ilmu yang harus dipelajari adalah ilmu-ilmu akhirat yang telah disebutkan diatas.

Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa pandangan al-Ghazali terhadap akhlak pelajar bersifat sufistik, seperti terlihat pada keharusan berniat mencari imu semata-mata untuk beribadah kepada Allah, bersikap zuhud dan memuliakan ilmu akhirat. Selain itu ilmu tersebut harus dipelajari secara sistematik, integrated, dimulai dari yang umum kepada yang khusus.

Sumber ;
Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid,Studi pemikiran Tasawuf Al-Ghazali (Dr.H.Abuddin Nata,M.A.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar