STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 12 November 2011

PTK Sejarah Kebudayaan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesadaran  masyarakat akan pentingnya pendidikan  semakin  kelihatan nyata.
Dengan  kesadaran  ini,  pemerintah  dan  masyarakat,  terutama  pendidik,
mencurahkan  sebagian  besar  tenaga,  dana  dan  pikirannya  untuk  meningkatkan
mutu  pendidikan.  Misalnya  melakukan  perubahan  kurikulum,  perubahan  teknik
pengajaran dan penyelenggaraan kerja  sama antara lembaga  pendidikan dengan
lembaga  lain  (Kadir  dan  Ma’sum,  1982,  1991-1992).  Untuk  meningkatkan  mutu
pendidikan,  pemerintah  telah  melakukan  berbagai  upaya  antara  lain,  (1)
meningkatkan kualitas guru SLTP/MTs dari lulusan D1 dan D2 menjadi lulusan S1
penyetaraan,  (2)  menerbitkan  suplemen  kurikulum  SLTP/MTs  1994  yang  berisi
tentang  materi  pelajaran  mana  yang  masih  tetap  diajarkan  pada  kelas-kelas
tertentu  dan materi mana  yang  tidak  perlu lagi  diajarkan serta  materi  yang wajib
diajarkan  (Depdikbud,  1999:5),  (3)  mendirikan  sekolah-sekolah  baru,  dan  (4)
meningkatkan  perbaikan  proses  belajar  mengajar  dan  hasil  belajar  melalui
pelatihan-pelatihan guru SD, SLTP, dan SMU.

Sejaran  Kebudayaan  Islam  (SKI) merupakan  salah  satu  pelajaran  yang
diberikan  sejak  dari  tingkat Madrasah  Ibtidaiyah  (MI)  sampai  Perguruan  Tinggi
(PT), khususnya Perguruan  Tinggi  Agama Islam  (PTAI). Pada  umumnya Sejarah
Kebudayaan  Islam dirasakan  lebih  sulit  untuk  dipahami  daripada  ilmu-ilmu
lainnya.  Salah  satu  penyebabnya  adalah karena  sejarah  mempelajari  sesuatu
yang  sudah  terjadi  dan  tidak  dialami  oleh  peserta  didik,  dan    tidak  adanya
kesesuaian  antara  kemampuan peserta  didik dengan  cara  penyajian  materi
sehingga SKI dirasakan  sebagai  pelajaran  yang  sulit  untuk  diterima.  Kurikulum
Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP)  Madrasah  Tsanawiyah  Negeri  Pamoyanan
menyebutkan   salah satu Standar  kompetensi Sejarah Kebudayaan  Islam adalah
“memahami  kemajuan  Dinasti  Umayah  dibidang  Ilmu  Agama  Islam  dan
kompetensi  dasarnya  adalah  “menganalisis  kemajuan-kemajuan  Dinasti  Umayah
di Bidang Ilmu Agana Islam merupakan salah satu materi pokok yang diberikan di
MTs.  Kelas  VIII  semester  1. Seorang  guru  harus  dapat  menentukan  strategi
pengajaran  yang  sesuai  dengan  kemampuan peserta  didiknya  sehingga  m udah
dipahami,  mengingat bahwa  pelajaran  sejaran  adalah pelajaran yang  mendalami
dan  mepelajari  sesuatu  yang  sudah  terjadi  di  masa  lampau  dan  yang  pasti  tidak
dialami  oleh  peserta  didik.  Secara  khusus  ada  sebagian  masyarakat  yang  tidak
peduli  dengan  peristiwa  sejarah  terutama  sejarah  Kebudayaan  Islam,  karena
memandang  bahwa  hal  tersebut  hanyalah  peristiwa  yang  tidak  mungkin  akan
terjadi  kembali,  selain  itu  pula  bahwa  sejarah  tidak  implementatif  dalam  dunia
kerja dan tidak implementatif pula dalam disiplin ilmu lain.
Mengajarkan SKI merupakan suatu kegiatan pengajaran sedemikian sehingga
peserta  didik belajar  untuk  mendapatkan  kemampuan  dan pengetahuan tentang
Sejarah  Kebudayaan  Islam .  Kem ampuan  dan pengetahuan tersebut  ditandai
dengan  adanya  interaksi  yang  positif  antara  guru  dengan peserta  didik, peserta


didik dengan peserta  didik,  yang  sesuai  dengan  tujuan  pengajaran  yang  telah
ditetapkan  (Hudya,  1988:122).  Namun  dalam  melaksanakan  kegiatan
pembelajaran  khususnya yang  berhubungan dengan Sejarah  Kebudayaan  Islam,
ternyata masih banyak mengalami hambatan-hambatan baik yang dialami peserta
didik maupun  guru.  Salah  satu  hambatan  yang  terjadi  adalah  kesulitan  dalam
memahami dan  menghafal  hal-ha  yang  berkaitan  dengan Sejarah  Kebudayaan
Islam, khususnya kemajuan Dinasti Umayyah.
Seperti  yang  terjadi  di MI Al - Jihad Ciater,  didapatkan  latar  belakang
peserta didik sangat bervariasi dalam  motivasi belajarnya. Mereka rata-rata dalam
belajar  tanpa  dibekali  keinginan  untuk  memahami dan  mengetahui  m ateri-materi
yang  diajarkan  oleh  guru.  Mereka  kurang  dalam memilah-milah  materi  sejarah
antara  dinasti yang  satu dengan  dinasti yang  lain,  sehingga  tidak  sedikit  peserta
didik yang keliru dalam m enyebutkan dan menjawab soal yang diberikan guru.
Berdasarkan  pengalaman  peneliti,  dari  beberapa  materi/pokok  bahasan
yang disajikan di kelas MI Al - Jihad Ciateradalah pokok bahasan Dinasti Umayyah, bentuk-
bentuk  kesalahan dalam  menjawab pertanyaan  terutama  dalam  hal nama  tokoh,
hasil Karya, dan tahun peristiwa sejarah, seperti :
1. Ibu Kota Dinasti Um ayyah adalah
a. Damaskus b Jeddah. c. Bagdad d. Mesir
Jawaban yang diberikan peserta didik adalah kebanyakan mereka m erasa tidak
mengetahui  nama  ibu  kota  Dinasti  Umayyah,  karena  pada  saat  ini  daerah
kekuasaan  Dinasti  Umayyah  sudah  tidak  ada,  sehingga  mereka  harus
menghafal nama ibu kota tersebut.
2. Nama Ulama dari tabi’in dibidang fiqih adalah
a. Said bin Musayyad  b. Mujahid bin Zubae
c. Ubay bin Kaab  d.  Hammad bin Abi Sulaeman
Siswa  kebingungan  mengenai  periodisasi  tokoh  dan  disiplin  illmu  yang
didalaminya,  sebab  dalam  sejarah  Kebudayaan  Islam  terjadi  periodisasi  dan
kajian  illmu-ilmu  islamyang  bengi  banyak,  sehingga  mereka  (peserta  didik)
harus  meghafal  seluruh  tokoh-tokoh  yang  mungkin  ada    beserta  disiplin  ilmu
yang dikajinya.  Selain itu  pula  satu tokoh tidak  hanya mendalam i  satu  disiplin
ilmu.
3. Shabat yang menjadi guru di bidang tafsir adalah :
a.. Hasa al Basri b. Mujaihid bin Zubaer c. Ubay bin Kaab d.
Hammad bin Sulaeman
Jawaban  yang  diberikan  siswa  rata-rata  merasa  kebingungan  dengan  soal
nomor  2,  sebab  soal  kedua  nom or  tersebut  sangat  mirip  nama  tokoh  yang
ditanyakan.
Dari  contoh  di  atas  banyak peserta didik sulit  untuk menjawab soal
tenpenerapan ang menyebutkan nama tokoh dan disiplin ilmu yang diberikan serta
nama  ibu  kotanya,  peserta  didik  kebingungan  untuk  memilih  salah satu  jawaban
yang  benar,  karena  peserta  didik  tidak  hafal  dengan  jelas  mengenai  nama  dan
persitiwa yang terjadi,  sehingga mereka menjawab dengan salah, karena peserta
didik tidak menganalisis persiatiwa sejarah berdasarkan periodisasi sejarah Islam,
akana  tetapi  lebih  menekankan  kepada  semata,  tanpa  peduli  periodisasi  dan
klasifikai kaeilmuan yang dikajinya.
Setiap pokok  bahasan  yang  disajikan dalam Sejarah  Kebudayaan  Islam itu
selalu berkesinambungan, maka peneliti ingin memperbaiki pembelajaran dengan
mengadakan  penelitian  yang  berjudul:  “Mengajarkan Sejarah  Kebudayaan  Islam
dengan  Pendekatan Kontruksitivisme pada  Pokok  Bahasan Kemajuan  DInasti
Umayyah di Kelas 6 MI Al - Jihad Ciater.”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah  dikemukakan di atas, maka masalah yang
akan diteliti adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana  mengajarkan  Kemajuan  Dinasti  Umayyah  dengan
pendekatan Kntruktivisme di  kelas VI  MI Al - Jihad Ciater?
2. Bagaimana  prestasi  belajar peserta  didik pada  pokok  bahasan
Kemajuan Dinasti Umayyah dengan pendekatan kontrtuktivisme ?

C. Tujuan Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah, m aka tujuan penelitian ini agar dapat:
1. Menerapkan  metode/pendekatan  kontruktivisme  dalam  pem belajaran
Sejarah  Kebudayaan  Islam  pada  pokok  bahasan  Kemajuan  Dinasti
Umayyah secara berkelompok di kelas VIII MTs. Negeri Pamoyanan
2. Meningkatkan  prestasi  peserta  didik  dalam  belajar Kemajuan  Dinasti
Umayyah, khusus peserta didik kelas VIII MTs. Negeri Pamoyanan

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk:
1. Bahan informasi bagi guru Sejarah  Kebudayaan Islam guna  peningkatan
prestasi  peserta  didik  setelah  guru  m engetahui  letak  kesalahan dan
kekeliruan  yang dialami  peserta  didik,  khususnya  pada  pokok  bahasan
Kemajuan Dinasti Umayyah.
2. Sebagai  bahan  pertimbangan  untuk  memilih  metode  pengajaran  yang
sesuai dalam menyelesaikan soal Sejarah Kebudayaan Islam  khususnya
pada pokok bahasan Kemajuan Dinasti Umayyah.
3. Bahan  pertimbangan  penelitian  lebih  lanjut  guna  peningkatan  prestasi
belajar peserta didik.

E. Asumsi Penelitian
Asumsi dalam penelitian ini adalah:
1. Hasil tes sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik.
2. Kesalahan-kesalahan  peserta  didik  dalam  menjawab  setiap  soal
m erupakan  indikator  kesulitan  dalam memahami periodisasi  dan
klasifikasi  keilmuan yang  menjadi  kajian  tokoh  keislaman  pada  masa
Dinasti Umayyah
3. Peserta didik mendapatkan fasilitas yang sama dari sekolah.

BAB II
KERANGKA TEORI

A. Hakekat Sejarah Kebudayaan Islam
Sampai saat  ini  belum  ada  kesepakatan yang  bulat  untuk  mendefinisikan  apa
itu Sejarah  Kebudayaan  Islam.  Walaupun  belum  ada  definisi  tunggal  menganai
Sejarah Kebudayaan  Islam , bukan berarti Sejarah  Kebudayaan Islam tidak dapat
dikenali.  Seperti  apa  yang  telah  diutarakan  oleh Badri  Yatim (1985:5)  sebagai
pengetahuan Sejarah Kebudayaan Islam mempunyai beberapa karakteristik, yaitu
bahwa obyek Sejarah  Kebudayaan  Islam mengenai peristiwa-perittiwa  keislaman
di massa lalu. Sementara menurut Koentjaraningrat, (1985 : 5) kebudayaan paling
tidak  m empunyai  tiga  wujud,  (1)  wujud  ideal,  yaitu  wujud  kebudayaan  sebagai
suatu komplek ide-ide,  gagasan-gagasan, nilai-nilai,  norma-norma, perauran, dan
sebagainya, (2) wujud kelakuan, yaitu  wujud kebudayaan sebagai suatu komplek
aktifitas kelakuan  berpola dari  manusia  dalam  masyarakat,  dan (3) wujud benda,
yaitu  wujud  kebudayaan  seagai  benda-benda  hasil  karya. Dengan  mengetahui
obyek  penelaahan Sejarah  Kebudayaan  Islam,  kita  dapat  mengetahui  hakekat
Sejarah  Kebudayaan  Islam yang  sekaligus  dapat  diketahui  juga kemajuan  dan
kemunduran  serta  kejatuhan  dalam Sejarah  Kebudayaan  Islam. Sejarah
Kebudayaan  Islam itu  timbul  karena  pikiran-pikiran dan  perbuatan-perbuatan
(daya  cipta  dan  karsa  =  budaya  ) manusia  yang  berhubungan  dengan kejadian
yang  dialaminya.  Sejarah  Kebudayaan  Islam mempunyai  kawasan  kajian  yang
sangat luas diantaranya :  tem pat peristiwa, nama  tokoh peristiwa, jenis peristiwa,
tahun peristiwa,. sebab-sebab terjadi (latar belakang) dan sebab kemunduran dan
kejatuhannya  dan lain-lain.
Mengenai  obyek Sejarah  Kebudayaan  Islam, Jaih  Mubarok  (2004  :  12)
kebudayaan memiliki empat unsur (rukun) : (1) kayakinan (belief), (2) nilai (value),
(3)  norma  (norm), (4)  symbol  ( symbol).  Sementara  menurut  Koentjaraningrat,
(1985  :  5)  kebudayaan  paling  tidak  mempunyai tiga wujud,  (1)  wujud  ideal, yaitu
wujud  kebudayaan  sebagai  suatu  komplek  ide-ide,  gagasan-gagasan,  nilai-nilai,
norma-norma,  perauran,  dan  sebagainya,  (2)  wujud  kelakuan,  yaitu  wujud
kebudayaan sebagai suatu komplek aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam
masyarakat, dan  (3)  wujud  benda,  yaitu  wujud  kebudayaan  seagai  benda-benda
hasil karya.
Dari  segi  kepercayaan,  Harusn  Nasution  menjelaskan,  bahwa  agama  pada
hakekatnya memiliki dua kelompok ajaran, yaitu kelompok pertama adalah ajaran
yang diwahyukan Allah  swt. dan kelompok kedua adalah penafsiranya. Kelompok
pertama  bersifat absolute,  mutlak  tidak  berubah  dan  tidak  bisa  diubah,
sementaqra kelompok  kedua  bersifat  nisbi, berubah, ddan  dapat berubah  sesuai
dengan  perkem bangan  zaman, yang  selanjutnya  disebut  dengan  peradaban atau
kebudayaan.
Dengan  mengetahui  objek sejarah Kebudayaan Islam  tersebut,  maka  dalam
mempelejari Sejarah Kebudayaan Islam dengan meperhatikan  berbagai  peristiwa
dan  hasil budaya  masyarakat dimasa  kejayaan  umat  Islam  di  masa  lalu,  melalui


periodisasi  dan  kalsifikasi  hasil  budaya  tersebut  berupa  karya  seni,  karya  idea
(ilm u), dan lain-lain.

B. Belajar Sejarah Kebudayaan Islam
Belajar  merupakan  kegiatan  setiap  orang.  Seseorang  dikatakan  belajar,  bila
dapat  diasumsikan  dalam  diri  orang  itu  terjadi  suatu  proses  kegiatan  yang
mengakibatkan  perubahan  tingkah  laku.  Kegiatan  atau  usaha  untuk  mencapai
perubahan  tingkah  laku  sendiri  merupakan  hasil  belajar.  Karena  itu  seseorang
dikatakan belajar, bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu terjadi suatu proses
kegiatan  yang  mengakibatkan  suatu  perubahan  tingkah laku.  Perubahan  tingkah
laku  itu  mem ang  tidak  dapat  diamati  dan berlaku  dalam  waktu  relatif  lama.
Kegiatan  dan usaha  untuk  mencapai  perubahan  tingkah  laku  merupakan  proses
belajar sedang perubahan tingkah laku sendiri merupakan hasil belajar.
Ausebel  mengemukakan  bahwa  belajar  dikatakan  bermakna  bila  inform asi
yang akan dipelajari peserta didik sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya,
sehingga peserta  didik dapat  mengaitkan  informasi  baru  dengan  struktur  kognitif
yang  dimiliki  (Hudoyo,  1990:138).  Dalam  teori  belajar Robert  M.  Gagne yang
diungkapkan    (1980:138)  dikatakan  bahwa  dalam  belajar  ada  dua  obyek  yang
dapat diperoleh peserta didik , obyek langsung dan obyek tak langsung. Obyek tak
langsung antara lain: kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, m andiri
(belajar,  bekerja  dan  lain-lain),  bersikap positif dan  mengerti  bagaimana
seharusnya belajar.
Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada
apa  yang  telah  diketahui  orang.  Karena Sejarah  Kebudayaan  Islam merupakan
sejarah hasil ide-ide yang abstrak (idea) yang tidak lepas dari perilaku kehidupan
manusia masa lalu,  khhususnya umta  Islam  mulai masa Rasululullah  saw. Maka
dalam meplejari Sejarah Kebudayaan Islam tidak lepas dari pola kehidupan yang
dilakukan  masyarakat  Islam  pada  masa  tersebut,  seperti  pada  masa  Dinasti
Umayyah,  maka  dalam  mempelajari  sejarah  pada  masa  Dinasti  Umayyah  harus
mengetahui  pola  kehidupan  masanya,  lehih  khusus  lagai  bila  ingin  mengetahui
kemjaun  yang  dicapai  oleh  Dinasti  Umayyah,  maka  harus  mengetahui  pola
kehidupan  pada  masanya,  yakni  masa  penggalian  ilmu-ilm u  keislaman  secara
mendalam  oleh  setiap  orang  melalui  penerjemahan  berbagai  khazanah  ilmu
pemngetahuan yang ada dan berkembang pada masa itu.
Dalam   proses  belajar Sejarah  Kebudayaan  Islam terjadi  proses  berfikir.
Seseorang  dikatakan  berfikir  bila  melakukan  kegiatan  mental  dan  orang  yang
belajar Sejarah  Kebudayaan  Islam selalu  melakukan  kegiatan  mental.  Sehingga
dalam  berfikir,  seseorang  dapat  menyusun  hubungan-hubungan  antar  bagian-
bagian informasi sebagai pengertian, kemudian dapat disusun kesimpulan. Dalam
proses itu juga melibatkan bagaimana bentuk kegiatan m engajarnya.
Mengajar  adalah  suatu  kegiatan  dimana guru menyampaikan  pengetahuan
atau pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik. Tujuan mengajar adalah agar
pengetahuan  yang  disampaikan  itu  dapat  dipahami  peserta  didik,  sehingga
mengajar bisa dikatakan baik, apabila hasil belajar peserta didik juga baik. Apabila


terjadi  proses  belajar  mengajar  itu  baik,  maka  dapat  diharapkan  bahwa  hasil
belajar  peserta  didik  akan  baik  pula.  Dengan  demikian peserta  didik sebagai
subyek  akan  dapat  memahami Sejarah  Kebudayaan  Islam,  selanjutnya  mampu
mengaplikasikan pada situasi  yang baru, seperti menerapkan  pada masa  dima a
perserta didik itu hidup.
C. Faktor-faktor  yang  Mempengaruhi Terjadinya  Proses  Mengajar  dan  Belajar
Sejarah Kebudayaan Islam
Menurut  Herman Hudoyo (1988:6)  kegiatan  belajar yang  kita kehendaki  akan
bisa tercapai bila faktor -faktor berikut ini dapat dikelola sebaik -baiknya:
1. Peserta didik
Kegagalan  atau  keberhasilan  belajar  sangat  tergantung  kepada  peserta
didik. Misalnya saja, bagaim ana kemampuan  dan kesiapannya  untuk  belajar
Sejarah  Kebudayaan  Islam ,  bagaimana  kondisi peserta  didik,  dan  kondisi
fisiologisnya.  Orang  yang  dalam  keadaan  sehat  jasmani  akan  lebih  baik
belajar  daripada  orang  yang  dalam  keadaan  lelah,  seperti  perhatian,
pengamatan, ingatan juga berpengaruh terhadap kegiatan belajar seseorang.
2. Pengajar
Kemampuan  pengajar  dalam  menyampaikan  materi  dan  sekaligus
menguasai  materi  yang  diajarkan  sangat  mempengaruhi  terjadinya  proses
belajar. Seorang pengajar yang tidak menguasai materi Sejarah Kebudayaan
Islam dengan baik dan kurang menguasai cara  menyampaikan dengan tepat
dapat  mengakibatkan  rendahnya  mutu  pengajaran  dan  yang  kedua  dapat
menimbulkan  kesulitan peserta  didik dalam memahami Sejarah  Kebudayaan
Islam. Akibatnya proses belajar Sejarah Kebudayaan Islam tidak berlangsung
efektif.
3. Sarana dan prasarana
Sarana  yang  lengkap  seperti  adanya  buku  teks  dan  alat  bantu  belajar
merupakan fasilitas  yang  penting.  Demikian  pula  prasarana  yang  cocok
seperti ruangan dan tempat duduk yang bersih dan sejuk bisa memperlancar
terjadinya  proses  belajar.  Tidak  menutup  kemungkinan  penyediaan  sum ber
lain,  seperti  majalah  tentang  pengajaran Sejarah  Kebudayaan  Islam,
laboratorium Sejarah  Kebudayaan  Islam dan  lain-lain  akan  dapat
meningkatkan kualitas belajar.
4. Penilaian
Penilaian  dipergunakan  untuk  melihat  bagaimana  berlangsungnya
interaksi  antara  pengajar  dan  peserta  didik.  Disamping  itu  penilaian juga
berfungsi  untuk  meningkatkan  kegiatan  belajar  sehingga  dapat  diharapkan
dapat  memperbaiki  hasil  belajar  apabila  kurang  berhasil.  Penilaian  juga
mengacu  pada  proses  belajar,  yang  dinilai  adalah  bagaim ana  langkah-
langkah  berfikir peserta  didik dalam menganalisis masalah Sejarah
Kebudayaan  Islam.  Dengan  demikian,  apabila  langkah-langkah analisis
masalah benar, telah menunjukkan proses belajar peserta didik baik.
D. Kesulitan Belajar Sejarah Kebudayaan Islam


Pada  kenyataanya,  dalam  proses  belajar  m engajar  masih  dijumpai  bahwa
peserta  didik mengalami  kesulitan  belajar.  Kenyataan  inilah  yang  harus  segera
ditangani  dan  dipecahkan.  Seperti  yang  telah  diuraikan  pada  Bab  I,  bahwa
kesulitan  belajar  merupakan  suatu  kondisi  dalam  proses  belajar  mengajar  yang
ditandai  dengan hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai  hasil  belajar yang
diharapkan.
Menurut  Soejono  (1984:4)  kesulitan  belajar peserta  didik dapat  disebabkan
oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal seperti: fisiologi,
faktor  sosial,  faktor  pedagogik.  Selain  itu,  terdapat  pula  kesulitan  khusus  dalam
belajar Sejarah Kebudayaan Islam seperti:
1. Kesulitan dalam menggunakan istilah
Dalam  hal  ini  dipandang  bahwa  peserta  didik  telah  memperoleh  pengajaran
sautu pengertian  (istilah),  tetapi  belum  m enguasainya  mungkin  karena  lupa
sebagian  atau seluruhnya. Mungkin  pula istilah yang dikuasai kurang cermat.
Hal ini disebabkan antara lain:
a. Peserta didik lupa nama singkatan suatu obyek
Misalnya peserta didik lupa terminology kebudayaan dan peradaban
b. Peserta didik kurang mampu menyatakan arti istilah dalam sejarah.
Misalkan  peserta  didik  yang  mam pu  menyatakan kebudayaan  dan
peradaban dalam kehidupan masa kini.
2. Kesulitan dalam belajar dan menggunakan prinsip
Jika  kesulitan  peserta  didik  dalam  menggunakan  prinsip  kita  analisa,
tampaklah bahwa pada umumnya sebab kesulitan tersebut antara lain:
a. Peserta  didik  tidak  mempunyai  konsep  yang  dapat  digunakan  untuk
m engembangkan prinsip sebagai butir pengetahuan yang perlu.
b. Miskin  dari  konsep dasar  secara  potensial  merupakan  sebab  kesulitan
belajar prinsip yang diajarkan dengan metode kontekstual (contoh nyata).
c. Peserta  didik  kurang  jelas  dengan  prinsip kebudayaan yang  telah
diajarkan.
3. Kesulitan memiliah-milah periodisaasi Sejarah Kebuddayaan Islam.
Sejarah  Kebudayaan  Islam  oleh  para  ahli  telah  di  buat  periodisasi  sejarah,
agar mem udahkan dalam mempelajarinya dan  m engklasifikasinya agar tidak
bercampur  baur  dalam  menentukan  periode  mana  dan  klasifikasi  apa  yang
harus  dipelajari,  akan  tetapi  peserta  didik  sering  dibingungkan  dengan
berbagai  terminology  yang  digunakan  dan  memilah-milahnya,  sehingga
berakibat  dalam  menjawab  pertanyaan  sering  terjadi kekeliruan  termasuk  ke
periode mana dan klasfikasi apa. HaL ini disebabkan oleh :
a. Peserta didik  tidak mampu  mengklasifikasi kebudayaan  yang  dihasilkan
masyarakat  Islam  dan  periodisasi  sejarah  Kebudayaan  Islam  itu sendiri.
Untuk  mengecek  kebenaran  dugaan  ini,  guru  memerintahkan  untuk
menyatakan  kem bali  apa  yang  telah  dikerjakan    dengan  menggunakan
bahasanya  sendiri.  Guru  dapat  melihat  hasil  jawaban  peserta  didik
apakah sudah benar jawbannua atau belum.


b. Peserta  didik  tidak  dapat  membayangkan  dan  menganalisis  sejarah
dengan kehidupam masa saat peserta didik hidup.
Kesulitan belajar dapat ditunjukkan dengan beberapa gejala yaitu:
- menunjukkan prestasi yang rendah
- hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
- keterlambatan dalam  melaksanakan tugas yang diberikan
Obyek  yang  dapat  kita  periksa  untuk  mengetahui  penyebab  kesukaran
peserta  didik  belajar  contohnya  seperti:  (a)  materi  yang  diajarkan
dianggap  terlalu  sulit,  (b)  pengajarannya  yang  kurang  baik  dan  dapat
disebabkan  oleh  kesalahan  pengajaran  dalam  menyajikan  metode
ataupun  tidak  adanya  alat  peraga,  dan  (c)  dari  peserta  didik sendiri
disebabkan karena kelemahan jasmani,  kurang  cerdas,  tidak  ada minat,
tidak ada bakat, emosi tidak stabil, suasana yang tidak mendukung

E. Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Belajar  tuntas  adalah  suatu  sistem  yang  mengharapkan  sebagian  besar
peserta  didik  dapat menguasai  standar  kompetensi  dan  kompetensi  dasar  yang
telah  ditetapkan secara  tuntas.  Mengenai  ketuntasan,  peserta  didik  yang
memperoleh  nilai ulangan harian kurang dari 7,5 perlu
diberikan remidi dengan  menitikberatkan  pada standar  kompetensi  dan
kompetensi dasar yang belum dikuasai (Ahmad, 1995:20).
Ngadiono  (1980:1)  menjelaskan bahwa  maksud  utama  belajar tuntas adalah
pencapaian penguasaan seluruh standar kompetensi dasar dan kompetensi dasar.
Pada  belajar  tuntas,  peserta  didik  diharapkan  mencapai  tingkat  penguasaan
tertentu  terhadap  tujuan pembelaajaran  sesuai  dengan  indicator-indikator  yang
telah  ditentukan  dalam  rencana  pelaksaaan  pembelajaran  (RPP)  sebelum
melajutkan kepada standar komptensi dan kompetensi dasar berikutnya.
F. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL)
1. Pengertian
Kontekstual berasal dari kata dasar konteks yang berarti berbagai bidang
kehidupan  atau hal-hal  yang  diperlukan  agar  orang  dapat  melaksanakan
sesuatu.  Definisi  pendekatan  kontekstual  (Contextual  Teaching  and
Learning/CTL)  adalah  konsep  belajar  yang  mem bantu  guru  mengkaitkan
antara  m ateri  yang  diajarkan  dengan  situasi  dunia  nyata  peserta  didik  dan
m endorong  peserta  didik  mem buat  hubungan  antara  pengetahuan  yang
dimiliki  dengan  penerapannya  dalam  kehidupan  mereka  sebagai  anggota
keluarga dan masyarakat.
Dengan  konsep  ini,  hasil  materi  yang  diajarkan  dengan  situasi  dunia
nyata dan mendorong peserta didik  membuat  hubungan  antara  pengetahuan
yang  dim ilikinya dengan  penerapannya  dalam  kehidupan  mereka  sehari-hari,
dengan  melibatkan  tujuh  komponen  utama  pembelajaran  efektif,  yakni:
kontruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning) , menemukan (Inquiry),
m asyarakat  belajar  (Learning  Community ),  pemodelan  ( Modeling),  dan
penilaian  sebenarnya  ( Authentic  Assesment).  Pendekatan  kontekstual
(Contextual  Teaching  and  Learning/CTL)  adalah  konsep  belajar  yang
m embantu  guru  mengkaitkan  pembelajaran  diharapkan  lebih  bermakna  bagi
peserta  didik.  Proses  pembelajaran  berlangsung  alamiah,  bukan  tranfer
pengetahuan  dari  guru  ke  peserta  didik.  Strategi  pembelajaran  lebih
dipentingkan daripada hasil.
Dalam  konteks  itu,  peserta  didik perlu m engerti  apa makna  belajar,  apa
m anfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka
sadar  bahwa  yang  mereka  pelajari  berguna  bagi  hidupnya  nanti.  Dengan
begitu  mereka  memposisikan  sebagai  diri  sendiri  yang  memerlukan  suatu
bekal untuk  hidupnya  nanti.  Mereka  m empelajari  apa  yang  bermanfaat  bagi
dirinya dan berupaya menganggapinya. Dalam  upaya itu, mereka mem erlukan
guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dalam  kelas  kontekstual,  tugas  guru  adalah  membantu  peserta  didikm encapai  tujuannya. Maksudnya, guru lebih bayak berurusan  dengan  strategi
daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim
yang  bekerja  bersama  untuk  menemukan  sesuatu  yang  baru  bagi  anggota
kelas  (peserta  didik).  Sesuatu  yang  baru  datang  dari ‘menemukan  sendiri’,
bukan dari ‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan
pendekatan kontekstual.
Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya  strategi
pembelajaran  yang  lain,  kontekstual  dikembangkan  dengan  tujuan  agar
pembelajaran berjalan konduktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat
dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum, dalam bidang studi apa saja, dan
tidak diperlukan biaya yang mahal. Secara garis besar penerapan pendekatan
kontekstual, langkahnya adalah sebagai berikut ini:
(1) Kembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna
dengan  cara  bekerja  sendiri,  menemukan  sendiri,  dan  mengkontruksi
sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
(2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk sem ua topik.
(3) Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya.
(4) Ciptakan ‘masyaraat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok).
(5) Hadirkan ‘m odel’ sebagai contoh pembelajaran.
(6) Lakukan refleksi diakhir pertemuan.
(7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
2. Tujuh kom ponen pendekatan kontekstual (CTL):
Tujuh  komponen  pendekatan  yaitu:  (a)  Kontruksi  (Constructivism),
K ontruksivisme  merupakan  landasan  berfikir  pendekatan  kontekstual,  y aitu
bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya
diperluas  melalui  konteks  yang  terbatas  dan  tidak  sekonyong-konyong.
Peserta  didik  perlu  dibiasakan  untuk  memecahkan  m asalah,  menemukan
sesuatu  yang  berguna  bagi  dirinya,  dan  bergelut  dengan  ide-ide,  (b)
Menem ukan  (Inquiri),  penemuan  merupakan  bagian  inti  dari  kegiatan
pembelajaran  kontekstual,  yaitu pengetahuan  dan ketrampilan yang diperoleh
peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi
hasil  dari  m enem ukan  sendiri.  Guru  harus  selalu  merancang  kegiatan  yang
m erujuk pada kegiatan menemukan, (c) Bertanya (Questioning), pengetahuan
yang  dimiliki  seseorang,  selalu  bermula  dari  ‘bertanya’.  Bertanya  merupakan
strategi  utam a  pembelajaran  ini.  Bertanya  dalam  pembelajaran  dipandang
sebagai  kegiatan  guru  untuk  mendorong,  membimbing,  dan  menilai
kemampuan  berfikir  peserta  didik,  (d)  Masyarakat  belajar  ( Learning
Community),  konsep  masyarakat  belajar  menyarankan  agar  hasil
pembelajaran  diperoleh  dari  kerjsama dengan  orang  lain.  Hasil  belajar
diperoleh  dari  ‘sharing’ antara  teman, antar kelompok, dan  antara yang  tahu
ke yang belum tahu. Di  kelas ini, di sekitar sini, juga  orang  yang  di luar sana,
semua  adalah  anggota  masyarakat  belajar,  (e)  Pemodelan  (Modeling),
m aksudnya  dalam  sebuah  pembelajaran  ketrampilan  atau  pengetahuan
tertentu,  ada  m odel  yang  bisa  ditiru.  Pemodelan  pada  dasarnya  membahas
akan  gagasan  yang  dipikirkan,  mendemontrasikan  bagaimana  guru
m enginginkan  pada peserta  didiknya untuk belajar,  dan  melakukan  apa yang
diinginkan  guru  bagi  peserta  didik-peserta  didiknya.  Pemodelan  dapat
berbentuk demontrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktifitas belajar,
(f) Refleksi (Reflection), adalam cara berfikir tentang  apa yang  baru dipelajari
atau  berfikir ke  belakang  tentang  apa-apa  yang  sudah  dilaksanakan  di  masa
yang  lalu.  Refleksi  merupakan  respon  terhadap  kejadian,  aktifitas,  atau
pengetahuan  yang  baru  diterima.  Misalnya  ketika  pelajaran  berakhir  peserta
didik merenungkan apa yang baru diterimanya, (g) Penilaian yang sebenarnya
(Authentic  Assessment),  adalah prosedur  penilaian  pada  pembelajaran
kontekstual dengan  prinsip dan  ciri-ciri  penilaian autentik. A ssessment adalah
proses  pengumpulan  berbagai  data  yang  bisa  m emberikan  gambaran
perkem bangan belajar peserta didik. Hal ini untuk memastikan apakah peserta
didik telah mengalami proses pembelajaran yang benar atau tidak.
3. Strategi Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan  atau  strategi  yang  berasosiasi  dengan  pembelajaran
kontekstual m emiliki kesamaan ciri dalam hal:
Pengajaran  Berbasis  Masalah  (Problem  Based  Learning).
Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu  pendekatan pem belajaran yang
m enggunakan masalah  dunia nyata sebagai suatu konteks  bagi  peserta didik
untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan  ketrampilan pemecahan masalah,
serta  untuk  memperoleh  pengetahuan  dan  konsep  yang  esensial  dari m ateri
pelajaran. Hal  ini dimaksudkan  untuk merangsang  berfikir tingkat tinggi dalam
situasi  berorientasi  masalah,  termasuk  di  dalam  belajar  dan  bagaimana
belajar. Tugas guru adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan
m emfasilitasi penyelidikan dan dialog.
4. Pengajaran Kooperatif
Pembelajaran  kooperatif  adalah  pembelajaran  yang  secara  sadar  dan
sengaja  mengembangkan  interaksi  yang  silih  asuh  (saling tenggang  rasa).
Menurut  Abdurrahman  dan  Bintoro  (2000:78)  mengatakan  bahwa
“pembelajaran  kooperatif  adalah  pembelajaran  yang  secara  sadar  dan
sistematis mengembangkan interaksi yang s ilih asah, silih asuh, dan silih asuh
antar sesama peserta didik sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.
Hasil  penelitian  yang  dilakukan  Johnson  (1984)  keunggulan  pembelajaran
kooperatif  yaitu:  (a)  Memudahkan  peserta  didik  melakukan  penyesuaian
sosial,  (b)  Mengembangkan  kegembiraan  belajar  yang  sejati,  (c)
Menghilangkan  sifat  mementingkan  diri  sendiri/egois,  (d)  Meningkatkan
kepekaan  dan  kesetiakawanan  sosial,  (e)  Meningkatkan  kemampuan
m emandang masalah dan situasi dari berbagai perpektif, dan (f) Meningkatkan
hubungan positif antara peserta didik terhadap guru dan personil sekolah.
5. Pengajaran Berbasis Inkuiri
Pembelajaran  dengan  penemuan  (inquiri)  merupakan  suatu  komponen
penting.  Bruner  (1966),  m enganjurkan  pembelajaran  dengan  basis  inkuiri
sebagai  berikut:  “Kita  mengajarkan  suatu  bahan  kajian  tidak  untuk
m enghasilkan  perpustakaan  hidup,  tetapi  lebih  ditujukan  untuk  membuat
peserta  didik  berfikir”.  Belajar  dengan  penemuan  mempunyai  keuntungan:
m emacu  peserta  didik  untuk  mengetahui,  memotivasi  peserta  didik  untuk
m enem ukan jawaban, dan peserta didik belajar memecahkan masalah secara
m andiri  serta  memiliki  ketrampilan  berfikir  kritis.  Inkuiri  adalah  seni  dan  ilmu
bertanya  dan  menjawab,  juga  menuntut  eksperimentasi,  refleksi,  dan
pengenalan akan keunggulan metode sendiri.
6. Pengajaran Autentik
Pengajaran  autentik  yaitu  pendekatan  pengajaran  yang  memperkenalkan
peserta  didik  untuk  mempelajari  konteks  bermakna,  peserta  didik  dituntut
m engembangkan  ketram pilan  befikir  dan  pemecahan  maslaah  yang  penting
dalam  konteks  kehidupan  nyata.  Untuk  memecahkan  masalah,  peserta  didik
harus  mengidentifikasi  masalah,  mengidentifikasi  kemungkinan
pemecahannya,  memilih  dan  m elaksanakan  pemecahan  atas  m asalah
tersebut.
7. Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas
Hal  ini  membutuhkan suatu pendekatan pengajaran  komprehensif dimana
lingkungan  belajar peserta  didik  didesain agar peserta  didik  dapat melakukan
penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi
dan melaksanakan tugas bermakna.
Peserta  didik  diberi  tugas/proyek  yang  kompleks,  sulit,  lengkap,  tetapi
autentik  dan  kemudian  diberikan  bantuan  secukupnya.  Tidak  memandang
apakah  tugas  harus  dikerjakan  sebagai  pekerjaan  kelas  atau  sebagai
pekerjaan rumah.
8. Pengajaran Berbasis Kerja
Pengajaran berbasis kerja memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang
m emungkinkan  peserta  didik  menggunakan  konteks  tempat  kerja  untuk
m empelajari  materi  pelajaran  berbasis  sekolah  dan  sebagaimana  materi
tersebut  dipergunakan  di  tempat  kerja.  Pengajaran  berbasis  kerja
m enganjurkan pentransferan model pengajaran dan pembelajaran yang efektif
kepada aktifitas sehari-hari di kelas, baik dengan cara melibatkan peserta didik
dalam tugas dan melibatkan peserta didik dalam kelompok pembelajaran.
9. Pengajaran Berbasis Jasa Layanan
Pengajaran  berbasis  jasa  layanan  memerlukan  penggunaan  metodologi
pengajaran  yang  m engkombinasikan  jasa  layanan  masyarakat  dengan  suatu
struktur  berbasis  sekolah  untuk  merefleksikan  jasa  layanan.  Strategi
pembelajaran  ini  berpijak  pada  pemikiran  bahwa  semua  kegiatan  kehidupan
dijiwai oleh kemampuan melayani. Untuk itu peserta didik sejak dini dibiasakan
untuk melayani orang lain.
Pada  dasarnya  peserta  didik  lebih  mudah  belajar  pada  sesuatu  yang
kongkrit  karena  memahami  konsep  abstrak  sulit  untuk  diterima.  Oleh  karena
itu diperlukan benda-benda konkrit (riil) sebagai perantara atau visualisasinya.
Konsep abstrak itu dicapai melalui tingkat belajar yang berbeda-beda. Konsep
abstrak  yang  dipaham i  peserta  didik  akan  mengendap,  melekat,  dan  tahan
lama bila peserta didik belajar melalui perbuatan dan pengertian, bukan hanya
m elalui   teori   belaka.
Dalam  belajar  Sejarah  Kebudayaan  Islam  diperlukan  alat  peraga  yang
berfungsi sebagai:
a. Proses  belajar mengajar term otivasi. Baik peserta didik  maupun guru,
terutama  peserta  didik  minatnya  akan  timbul.  Mereka  akan  senang,
terangsang,  tertarik  dan  akan  bersikap  positif  terhadap  pengajaran
Sejarah Kebudayaan Islam.
b. Konsep  abstrak  Sejarah  Kebudayaan  Islam  tersajikan  dalam  bentuk
konkrit  m aka  lebih  dapat  dipahami  dan  dimengerti,  serta  dapat
dikembangkan.
c. Hubungan  antara  konsep  abstrak  Sejarah  Kebudayaan  Islam  dengan
benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dimengerti.
d. Konsep-konsep  abstrak  yang  disajikan  dalam  bentuk  konkrit  yaitu
dalam  bentuk  model  Sejarah  Kebudayaan  Islam  yang  dapat  dipakai
sebagai  obyek  penelitian  maupun  sebagai  alat  untuk  meneliti  ide-ide
baru dan relasi baru menjadi bertambah banyak.
Selain itu penggunaan alat peraga dapat dikaitkan dengan salah satu:
1. Pembentukan konsep.
2. Pemahaman berbagi terminologi
3. Latihan dan penguatan.
4. Pelayanan terhadap perbedaan  individual, termasuk pelayanan terhadap
peserta didik yang lemah dan peserta didik berbakat.
5. Pengukuran, alat peraga dipakai sebagai alat ukur.
6. Pengam atan  dan  penemuan  sendiri  ide-ide  dan  relasi  baru  serta
penyimpulan  secara  umum,  alat  peraga  sebagai  obyek  peneliti  maupun
sebagai alat untuk meneliti.
Alat peraga dapat  berupa  benda  riil, gambar, diagram, atau audio  visual.
Keuntungan  alat  peraga  benda  riil  adalah  benda-benda  itu  dapat  dipindah-
pindahkan  (dimanipulasi),  sedangkan  kelemahannya  tidak  dapat  disajikan
dalam buku (tulisan). Oleh karena itu untuk bentuk tulisan dibuat gambar atau
diagram,  tetapi  kelemahannya ialah  tidak  dapat  dimanipulasi,  sementara
dengan menggunakan audio visual peserta didik dapat mengasimilasi kejadian
m asal  lalu  dengan  kehidupan  masa  sekarang,  selain  dapat  membayangkan
bagaimana  kehidupan  masa  lalu  (sejarah  terjadinya  persitiwa  tersebut),
kelemahannya  tidak  dapat  digunakan  setiap  saat  tergantung  kepada  kondisi
dan situasi yang terjadi saat pembelajaran akan dilaksanakan.
G. Materi Kemajuan Dinasti Umayyah
1. Kemajuan-kemajuan  dibidang  Ilmu  Agam a  Islam,  khusunya tokoh-tokoh
ulama pada masa tabi’in dengan cara  :
a. Mengidentifkasi  tokoh-tokoh  yang  berperan  dalam  bidang  ilmu  hadits,
dan karya besarnya
b. Mengidentifkasi  tokoh-tokoh  yang  berperan  dalam  bidang  ilmu tafsir,
dan karya besarnya
c. Mengidentifkasi tokoh-tokoh yang berperan dalam bidang ilmu fiqih, dan
karya besarnya
d. Mengidentifkasi tokoh-tokoh yang berperan dalam bidang ilmu tasawuf,
dan karya besarnya

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pada  penelitian  ini,  peneliti  ingin  mengungkapkan  permasalahan  tentang
pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada  pokok bahasan Kemajuan  Dinasti
Umayyah dengan  pendekatan  kontekstual  pada peserta didik kelas VIII  di MTs.
Negeri Pamoyanan.

Kemudian  peneliti  melakukan  tindakan  dengan  pembelajaran  kontekstual
agar peserta  didik belajar  dengan  penuh  makna.  Dengan memperhatikan  prinsip
kontekstual,  yaitu  proses  pembelajaran  yang  diharapkan  dapat  mendorong
peserta  didik untuk  m enyadari  dan  menggunakan  pemahamannya,
mengembangkan diri dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari. Kriteria penelitian ini adalah  penelitian kualitatif karena: (1)
menggunakan latar belakang alami sebagai sumber data  langsung dan penelitian
merupakan  alat  pengumpul  data  utama,  (2)  analisis  data  secara  induktif,  (3)
bersifat  diskriptif,  karena  data  yang  dikumpulkan  berupa  kata-kata  tertulis  atau
lisan  dari  orang-orang  dan  perilaku  yang  diamati  sehingga  yang  dikumpulkan
berkemungkinan  menjadi  kunci  terhadap  apa  yang  sudah  diteliti,  (4)  adanya
kriteria untuk keabsahan data (Moeleong, 1995:4-7).

Sedangkan  jenis  penelitian  yang  digunakan  adalah  penelitian  tindakan
kelas  (PTK).  Pemilihan  jenis  PTK  karena  peneliti terlibat langsung dan sudah
merupakan  tugas  peneliti  sebagai  pendidik  yang  harus  selalu  berusaha
meningkatkan  mutu  pendidikan.  Penelitian  Tindakan  Kelas  (PTK)  merupakan
kajian  tentang  situasi  sosial  dan  pandangan  untuk  meningkatkan  mutu  tindakan
yang ada di dalamnya.Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mem berikan
pertimbangan praktis dalam situasi nyata (Elliot dalam Wahyudi, 1997:46).

Dalam  penelitian  ini  prosedur  penelitian  dimulai  dengan  siklus  I  setelah
dilaksanakan tes awal. Hasil tes awal diteliti dan diketahui kesulitasn peserta didik
dalam m emahami  konsep  Teorema Pythagoras.  Penelitian ini  akan  mengungkap
persoalan  yang  terjadi  dalam  pembelajaran Sejarah  Kebudayaan  Islam dengan
pendekatan  kontekstual pada  pokok  bahasan  Teorema  Pythagoras.  Peneliti
berada  di  sekolah  dari  awal  sampai  akhir  penelitian  guna  mengetahui  keadaan
peserta didik , merumuskan tindakan selanjutnya, memantau dan melaporkan hasil
penelitian.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini  dilakukan  di MI Al – Jihad Kecamatan Ciater Subang,
berdasarkan  tem pat  tugas  peneliti.  Selain  itu  ternyata  pada  pembelajaran
Kemajuan  Dinasti  Umayyah menunjukkan  hasil  belajar peserta  didik kurang
optimal, yaitu 85% dari peserta didik kelas VIII masih memperoleh nilai kurang dari
50 pada saat diberikan tes awal Teorema Pythagoras. Berdasarkan pertimbangan
tersebut  peneliti  berusaha  untuk  menelusuri  kesulitan peserta  didik dalam
pembelajaran Kemajuan  Dinasti  Umayyah sehingga  dapat  diupayakan
pembelajaran yang sesuai keadaan peserta didik.

C. Prosedur Penelitian

Untuk  kelancaran  penelitian,  diperlukan  prosedur  dalam  penelitian  yang
berhubungan  dengan  masalah  yang  akan  diteliti  yaitu  dalam  bentuk  persiapan
penelitian.

Prosedur  penelitian  adalah langkah-langkah  yang  digunakan  untuk
memperoleh  data  dari  sumber  yang  diteliti  mulai  dari  awal  sampai  akhir  untuk
disajikan  dalam  bentuk  penelitian.  Jalannya  penelitian  yang  dilakukan  sampai
dengan penyusunan penelitian ini adalah melalui dua tahap yaitu:

1. Tahap Persiapan
Tahap  ini  merupakan  usaha  untuk  mempersiapkan  penelitian,  dalam  hal
ini yang dipersiapkan antara lain
a. Mengikuti bimbingan  dan  pelatihan  dari nara  sumber  dan
Widyaiswara.
b. Mengadakan  koordinasi  dengan  guru  Sejarah  Kebudayaan  Islam
MI Al - Jihad Ciater kususnya  guru mata  pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam kelas VIII yang lain untuk memperoleh penjelasan
materi yang diberikan kepada peserta didik.
c. Menetapkan  obyek  penelitian  yaitu  seluruh  peserta  didik  kelas VI
MI Al - Jihad Ciater tahun pelajaran 2006/2007 khusunya kelas
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Setelah  persiapan  dianggap  cukup  baru  penelitian  dimulai,  peneliti
m embagi penelitian ini menjadi  3  siklus. Sedangkan  waktunya mulai tanggal
10  Septem ber sampai  dengan  12  Oktober 2007.  Langkah-langkah  yang
ditempuh dalam penelitian ini adalah:
a. Siklus I
1. Melakukan  observasi  tentang  permasalahan-permasalahan  yang
sedang terjadi dan mengkaji penyelesaiannya.
2. Merancang  Rencana Pelaksanaan  Pembelajaran (RPP)  pada
pokok  bahasan menganalisis  kemajuan  Dinasti  Umayyah dengan
pendekatan kontekstual.
3. Melaksanakan  kegiatan  pembelajaran  selama  dua  kali  pertemuan
dengan pendekatan kontekstual.
4. Mengadakan evaluasi pertam a sebagai pengumpulan data.
5. Mengadakan  refleksi  terhadap  kegiatan  pembelajaran  yang  telah
diberikan.

b. Siklus II
1. Merancang Rencana  Pelaksanaan  Pembelajaran (RPP)  pada  sub
bahasan tokoh-tokoh  ulama  tabi’in  dalam  bidang  ilmu  hadits,  ilmu
tafsir.
2. Melaksanakan  kegiatan  pem belajaran  selama  dua  kali  pertemuan
dengan menggunakan konteks bangun kubus dan balok.
3. Mengadakan evaluasi kedua sebagai penjaring data.
4. Melakukan  evaluasi  menyeluruh  terhadap  kegiatan  pembelajaran
yang telah diberikan.

c. Siklus III
1. Merancang  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  (RP)  pada  sub
bahasan tokoh-tokoh ulama tabi’in  dalam bidang  ilmu fiqih,   dan ilmu
tasawuf.
2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran selama dua kali pertemuan.
3. Melakukan  evaluasi  menyeluruh  terhadap  kegiatan  yang  telah
dilaksanakan.

D. Jenis dan Sumber Data
Data  adalah  hasil  pencatatan penelitian,  baik  berupa  fakta  atau  angka
(Arikunto, 1996:81). Data ada dua macam yaitu:
a. Data yang berupa bilangan atau angka-angka disebut data kuantitatif.
b. Data yang berbentuk bukan bilangan atau angka-angka disebut kualitatif.
(Pasaribu, 1984:91)
Dalam  penelitian  ini  digunakan  pengambilan  data  kuantitatif,  sedangkan
sumber data penelitian adalah nilai ulangan harian atau hasil evaluasi dari masing-
masing  siklus  pada  pokok  bahasan Kem ajuan  Dinasti  Umayyahyang  diperoleh
peserta didik selama penelitian berlangsung.
E. Setting Penelitian
1. Gambaran Populasi
Populasi  adalah  obyek  penelitian,  yaitu  kumpulan  subyek  sumber
informasi  atau  kelompok  yang  menjadi  sasaran  penelitian.  Untuk
pengambilan  sampel  dalam  suatu  penelitian,  terlebih  dahulu  harus
mengetahui  populasi  yang  dijadikan  penelitian. “Totalitas  semua  nilai  yang
mungkin, hasil menghitung maupun pengukuran, kuantitatif maupun kwalitatif
dari  karakteristik  tertentu  mengenai  sekumpulan  obyek  yang  lengkap  dan
jelas  yang  ingin  dipelajari  sifat-sifatnya,  dinamakan  populasi.”  (Sudjana,
1986:157)
Dari  sejum lah  obyek  yang  dijadikan  populasi  maka  keseluruhan  harus
mempunyai  ciri-ciri  yang  sama.  Ciri-ciri  suatu  populasi  akan  lebih  tepat
diketahui  dengan  menilai  tiap-tiap  unsur  yang  dilakukan  tanpa  kecuali.
Penentuan populasi dan sampel dalam suatu penelitian sangat penting, guna
menentukan  obyek  yang  akan  diteliti  serta  batas -batasnya,  sehingga  akan
mudah  diukur  variabel-variabelnya.  Sesuai  dengan  tujuan  yang  telah

ditetapkan  maka  yang  diambil  sebagai  populasi  dalam  penelitian  ini  adalah
peserta didik kelas VI MI Al - Jihad CiaterTahun pelajaran 2006/2007
2. Subyek Penelitian
Satu  masalah  penting  yang  harus  dilakukan  oleh  seorang  peneliti,  jika
hendak  mengadakan  Penelitian  Tindakan  Kelas  yaitu  penentuan  subyek
penelitian. Dari 8 kelas yang ada peserta didik kelas II di SMP Negeri 6 Kota
Blitar  diambil  satu  kelas  sebagai  subyek  penelitian  yaitu  kelas  IIB  yang
berjumlah  34  ssiwa.  Pengambilan  subyek  penelitian  dimaksudkan  untuk
menafsirkan  sejumlah  peserta  didik  yang  ada  dalam  populasi  tanpa
menganalisa secara keseluruhan permasalahan yang ada pada populasi.

3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan  data  pada  penelitian  ini  diupayakan  semaksimal  m ungkin
agar  bisa  m endapatkan  data  yang  benar-benar  valid,  maka  peneliti
melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Membuat  alat  penelitian  untuk  mengevaluasi  hasil  belajar  peserta  didik
kelas V.
b. Membuat alat peraga dengan konteks kamajuan Dinasti Umayyah.
c. Melaksanakan  evaluasi  atau  ulangan  harian  sebanyak  tiga  kali  pada
pokok bahasan kemajuan Dinasti Umayyah.
d. Mengumpulkan  data,  mengoreksi  hasil  evaluasi  peserta  didik  dan
menyimpulkan  untuk  mengadakan  data  kuantitatif  daya  serap  peserta
didik.
Pada penelitian  ini data yang didapatkan itu belum berarti apa-apa sebab
data  tersebut  masih merupakan  data  mentah. Untuk itu  diperlukan  teknik
menganalisa  data  agar  bisa  ditafsirkan  hasilnya sesuai  dengan  rumusan
masalah.  Dalam  penelitian  ini  digunakan  penafsiran  skor  acuan  kriteria
(Criterion Referensi Test).
e. Penafsiran  skor  acuan  kriteria  adalah  pemberian  skor  berdasarkan
kemampuan  peserta  didik  menyelesaikan  evaluasi  atau  ulangan  harian.
Jawaban  yang  benar  dari  peserta  didik  yang  bersangkutan  dapat
dinyatakan dalam bentuk prosentase sebagai berikut:
= =  100
Dari  skor  bisa  ditafsirkan  tentang ketuntasan  belajar peserta  didik sesuai
dengan standar kompetensi kurkulum sebagai berikut:
a. Ketuntasan Perorangan
Seorang peserta  didik  dikatakan  berhasil (mencapai  ketuntasan), jika
telah mencapai telah menguasai standar kompetensi dan komptensi dasar
dan bagfi peserta didik yang belum menguasai standar kompetensi dasar
dilakuikan remidi sebelum melanjutkan poko bahasan berikutnya.
b. Ketuntasan Klasikal


Klasikal  atau  suatu  kelas  dikatakan  telah  berhasil  (mencapai
ketuntasan  belajar),  jika  paling  sedikit  85%  dari  jumlah  dalam  kelompok
atau kelas tersebut telah mencapai ketuntsan perorangan.

Apabila  sudah  terdapat  85%  dari  banyaknya  peserta  didik  yang
mencapai tingkat ketuntasan belajar maka kelas yang bersangkutan dapat
melanjutkan  pada  satuan  pembelajaran  berikutnya.  Apabila  banyaknya
peserta  didik  dalam  kelas  yang  mencapai  tingkat  ketuntasan  belajar
kurang dari 85% m aka:

1. Peserta  didik  yang belum  menguasai  standar  kompetensi  dan
komptensi  dasar harus  diberikan  program  perbaikan  mengenai
bagian-bagian bahan pelajaran yang belum dikuasai.
2. Peserta  didik  yang  telah  mencapai  taraf  penguasaan  65%  atau
lebih dapat diberikan program pengayaan.
3. Bila  ketuntasan  peserta  didik  lebih  dari  85%  maka  pembelajaran
yang  dilaksanakan  peneliti  dapat  dikatakan  berhasil.  Tetapi  bila
ketuntasan belajar peserta didik kurang dari 85% m aka pengajaran
yang dilaksanakan peneliti belum berhasil.
F. Perencanaan Tindakan
1. Perencanaan Tindakan I
Tindakan  pertama  digunakan  untuk  mengetahui  kemampuan  peserta
didik  dalam  hal  mengingat kemajaun-kemajuan  yang  dicapai  Dinasti
Umayyah melalui  pendekatan  kontekstual.  Hal  ini  mengacu  pada  pendapat
Dr.  Nurhadi  dan  Drs.  Agus  Gerrad  bahwa  “dalam  pendekatan  kontekstual
dimana  guru  menghadirkan  situasi  dunia  nyata  ke  dalam  kelas  dan
mendorong  peserta  didik  membuat  hubungan  antara  pengetahuan  yang
dimilikinya dengan  penerapannya  dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat.”
Dalam  perencanaan  atau  tindakan  tetap  mengacu  pada  hasil  temuan
kesulitan  setiap  peserta  didik.  Sebagai  contoh  langkah-langkah  tindakan
sebagai berikut:
1. Nama Ulama dari tabi’in dibidang fiqih adalah
a. Said bin Musayyad  b. Mujahid bin Zubaer
c. Ubay bin Kaab  d.  Hammad bin Abi Sulaeman
Siswa  kebingungan  mengenai  tokoh  dan  disiplin  illmu yang  didalaminya,
sebab  dalam  sejarah  Kebudayaan  Islam  terjadi  periodisasi  dan  kajian
illmu-ilmu  Islam  yang  bengi  banyak,  sehingga  mereka  (peserta  didik)
harus  meghafal  seluruh  tokoh-tokoh  yang  mungkin  ada    beserta  disiplin
ilmu yang dikajinya. Selain itu pula satu tokoh tidak hanya mendalami satu
disiplin ilmu.
2. Shabat yang menjadi guru di bidang tafsir adalah :
a.. Hasa al Basri  b. Mujaihid bin Zubaer
c. Ubay bin Kaab  d. Ham mad bin Sulaeman
Sama  halnya  dengan  jawaban  yang  diberikan  peserta  didik  pada  soal
nomor 1 di atas,  rata-rata merasa kebingungan mengenai ilmu-ilmu Islam
yang didalaminya.
Penelitian  bersama-sama  peserta  didik merumuskan  bahwa  dari  hasil
perhitungan  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  luas  lingkaran  dengan  cara
menghitung  pendekatan  kontekstual  bangun  kubus  dan  balok.
Perencanaan  Tindakan  II. Tindakan  kedua  ini  bertujuan  untuk  membahas
tokoh-tokoh ulama tabi’in dalam bidang ilmu hadits, ilmu tafsir.
Langkah-langkah  untuk  melakukan  percobaan  di  kelas  adalah  sebagai
berikut:
Pertama, peserta  didik  dalam  kelas  dibagi  menjadi  6  kelompok  masing-
masing kelompok terdiri dari 6 peserta didik.
Kedua guru memberi pengarahan dalam menyelesaikan soal  kepada seluruh
kelompok  dalam kelas  guna persiapan  untuk  melakukan penelitian  terhadap
buku sumber
Ketiga, guru membimbing  dalam  masing-masing  kelompok  untuk  melakukan
kegiatan pencarian  dalam  buku sumber untuk  menemukan tokoh-tokoh yang
mndalami ilmu hadits, ilmu tafsir
Langkah  selanjutnya  secara  terperinci  telah  diterangkan  dengan  jelas,  pada
bab  I  halaman 1 sampai  dengan 10 sehingga  diperoleh nama-nam a  tokoh
yang mendalami ilmu hadits, ilmu tafsir pada periode Dinasti Umayyah.
Tindakan  ketiga  ini  bertujuan  untuk menemukan  nama-nama  tokoh  dan
karyanya  dalam  bidang  ilmu  fiqih  dan  tasawuf. Langkah-langkah  yang
dilakukan di kelas adalah sebagai berikut:
Pertama, peserta  didik  dianjurkan  bergabung ke dalam  kelompok yang  telah
dibentuk dalam pertemuan sebelumnya.
Kedua, peneliti  memberi  pengarahan  kegiatan  yang  akan  dilaksanakan  dan
apa  yang  harus  dikerjakan  oleh  masing-masing  kelompok  dengan  konteks
mencari
Ketiga, peneliti  membimbing  kelompok-kelompok  yang  masih  mengalami
nama-nama  tokoh  dalam  bidang  ilmu  fiqih  dan  tasawuf  pada  masa  Dinasti
Umayyah.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
Supaya dalam penelitian  ini, peneliti mendapatkan hasil yang  sesuai  dengan
harapan  maka  peneliti  menggunakan  model  siklus.  Adapun  pelaksanaan  dari
siklus-siklus tersebut adalah sebagai berikut:

A . SIKLUS I
1. Perencanaan
Pada  siklus  ini peneliti  merencanakan  bahwa  dalam  pembahasan  pokok
bahasan  Kemajuan  Dinasti  Umayyah dengan  m enggunakan  pendekatan
kontekstual.  Menurut  peneliti  bahwa  peserta  didik  kelas VIII  di MTs.  Negeri
Pamoyanan sebagian besar belum mengetahui dan menguasai pembelajaran
Kemajuan  Dinasti  Um ayyah dari  pembelajaran  sebelumnya.  Disamping  itu
peneliti  ingin  mengetahui dan  meningkatkan  hasil pembelajaran  peserta didik
khususnya  pada  Kemajuan  Dinasti  Umayyah peserta  didik  kelas VIII di MTs.
Negeri Pamoyanan Tahun Pelajaran 2006/2007.
2. Pelaksanaan
Kegiatan  pembelajaran pada  siklus  ini dilaksanakan  pada  tanggal  10  s/d
15 September 2004 dengan uraian sebagai berikut:
a. Setelah  tanda  pelajaran  dimulai  peneliti  masuk  dan  memberikan
salam.  Peneliti  membuka  pelajaran  dengan  pembukaan bahwa  pada
kesempatan  ini  akan  dibahas  tentang  Dinasti  Umayyah,  peneliti
m emberikan  pernyataan-pertanyaan  tentang  Dinasti  Bani  Umayyah
dengan  tujuan  mengetahui  sejauh  mana  pengetahuan  peserta  didik
tentang  Dinasti  Bani  Umayyah.  Selain  itu  diharapkan  dapat
m embangkitkan  kreatifitas  peserta  didik  dalam  mengungkapkan
pendapat  dan  apa  yang  peserta  didik  ketahui  tentang  Dinasti  Bani
Umayyah.  Kemudian  peserta didik  disuruh  menyebutkan tokoh-tokoh
yang ada dalam Dinasti Bani Umayyah.
b. Dari contoh nama tokoh-tokoh tersebut, diharapkan peserta didik dapat
dengan mudah  memahami  konsep  pembelajaran  dengan  suatu
konteks sejarah  perjuangan  umat  Islam.  Sehingga  pendekatan  ini
lebih  mudah  dipahami  oleh  peserta  didik  dan  konsep  pembelajaran
yang sebenarnya dapat tercapai dengan semaksimal mungkin.
c. Kemudian  peneliti  memberikan  kesemepatan  kepada  peserta  didik
untuk  bertanya.  Jika  ada  pertanyaan  peneliti  mengulang  kembali
bagian yang ditanyakan peserta didik sehingga peserta didik jelas dan
m emahaminya.  Dan  apabila  peserta  didik telah  paham  maka  peneliti
m emberikan  soal-soal  untuk  dikerjakan.  Peneliti  mengamati  dan
berkeliling untuk memberi bimbingan kepada peserta didik yang masih
m engalam i  kesulitan.  Selanjutnya  peneliti  menunjuk  peserta  didik
untuk menyebutkan  jawaban  yang telah  ditemukan  dalam  buku
sumber.


d. Sebelum  kegiatan  pembelajaran  pertama  berakhir,  peneliti
m emberikan  soal-soal  latihan  (evaluasi  1)  yang  harus  dikerjakan
peserta  didik  dan  selanjutnya  dikumpulkan.  Dari  hasil  latihan  ini
dijadikan sebagai  sumber data pertama. Pada  kegiatan  ini soal  yang
peneliti berikan berjumlah 5 butir soal dengan alokasi waktu 15 menit.
Apabila  waktu  masih  memungkinkan  peserta  didik  diberikan  tugas
rumah yang diambilkan dari buku paket.
3. Pengamatan
Dari pemberian soal pada evaluasi pertama didapatkan data nilai sebagai
berikut:

Mata Pelajaran                         : Sejarah Kebudayaan Islam
Pokok Bahasan                        : Kemajuan Dinasti Umayyah
Sub Pokok Bahasan     : Kamajuan Dinasti Umayyah
Kelas/Sekolah              : VI MI Al – Jihad
HASIL NILAI EVALUASI SIKLUS I
No Nam a  Nilai Ketuntasan Belajar

No
Nama Siswa
Nilai
Ketuntasa

























Hasil Analisa
Banyaknya peserta didik seluruhnya  = 24 peserta didik
Banyaknya peserta didik yang tuntas belajar = 22 peserta didik
Prosentase banyaknya peserta didik yang tuntas = 65%
a. Klasikal: Ya/Tidak
Kesimpulan:
Perlu perbaikan secara individual peserta didik -peserta didik yang bernama:

No
Nama
Nilai











Dari  analisa  di  atas  dapat  diambil  kesimpulan  bahwa  kegiatan
pembelajaran  yang  dilakukan  belum  berhasil  sebab  prosentase peserta  didik
yang  tuntas  belajar  baru  mencapai  65%  dari  peserta  didik  kelas  IIB.  Suatu
kelas dikatakan berhasil  jika  mencapai  ketuntasan belajar  paling  sedikit  85%
dari  jumlah  peserta  didik  dalam  kelas  tersebut.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa
kegiatan pembelajaran  belum  berhasil  dan perlu ditinjau  kembali  untuk  tahap
pembelajaran berikutnya.

4. Refleksi
Kegiatan  pembelajaran  yang  telah  dilakukan  belum  berhasil.  Apakah
penyebabnya? Sedangkan Rencana  Pelaksanaan Pembelajarantelah disusun
sesuai  dengan  kerangka  pembelajaran  yang  sesungguhnya  yaitu
m enggunakan  pendekatan  pembelajaran  kontekstual.  Peneliti  berusaha
m encari  penyebabnya  dengan  memperhatikan  kejadian-kejadian  di  kelas,
antara lain:
a. Suasana kelas agak terganggu, dimana sebagian peserta didik kurang
memperhatikan materi pembelajaran yang diberikan oleh peneliti. Hal
ini  disebabkan  karena  peserta  didik  sibuk  sendiri menggali  dan
mencari-cari  dalam  buku sumber, ada  sebagian  peserta  didik  tidak


memiliki  buku buku  sumber.  Masalah  inilah  yang  mengganggu  dan
menghambat jalannya pembelajaran untuk berhasil.
b. Pada  pertemuan  ini  peserta  didik  kurang  memperhatikan  hal-hal
penting  yang  harus  dipahami  dan  dimengerti,  sehingga
mengakibatkan  penurunan  prestasi  belajar  peserta  didik baik  dalam
pengerjaan soal latihan maupun pengerjaan soal evaluasi.

B . SIKLUS II
1. Perencanaan
Pada  siklus  ke  dua  peneliti  lebih  meningkatkan  kegiatan  pembelajaran
dari  apa  yang  telah  dilakukan pada  siklus  I  yaitu  peneliti  ingin  membawa
peserta  didik  kelas VI   di MI Al - Jihad Ciater pada  suasana
pembelajaran  yang  lebih  menyenangkan.  Dari  pembelajaran  ini  peneliti
mengharapkan  suasana  kerjasama  yang  baik  dalam  memecahkan  sautu
maslaah  peserta didik dan tanggung  jawab setiap  peserta didik terhadap  diri
sendiri  serta  kelompoknya.  Setiap  peserta  didik  diharapkan
mengklasifikasikan nama tokoh dan bidang ilmu yang didalaminya pada masa
Dinasti  Umayyah dengan  cara  menyusun dan  mengelompokannya serta
menyelesaikan  setiap  soal  dengan  kelompoknya.  Dengan  demikian  rasa
tanggung jawab dan ketuntasan belajar peserta didik dapat tercapai.
2. Pelaksanaan
Kegiatan  pembelajaran  pada  siklus II dilaksanakan pada tanggal 17  s/d
22 September 2004 yang membahas tentang mengklasifikasikan nama tokoh
ddalam  bidang ilmu hadits dan  ilmu tafsir melalui  pendekatan  konteks dalam
buku  sumber.  Kem udian  selanjutnya  dengan  menyusun dan
mengelompokannya dalam bentuk tabel setiap tokoh dan karya dalam bidang
ilmu  hadis  dan ilmu  tafsir. Peserta  didik  diharapkan  juga dapat  mengerjakan
latihan  soal  dan  mengerjakan  soal  evaluasi  2  sebagai  penjaring  data.
Pelaksanaan  kegiatan penelitian  dan    pencarian  dalam  buku  sumber  yang
dilakukan di dalam kelas adalah sebagai berikut:
a. Peserta  didik  dibagi  dalam  6  kelompok  dimana  tiap  kelompok
beranggotakan  5 orang  dan  ada  1  kelompok  beranggotakan  4
orang sebab jumlah peserta didik hanya 34 orang.
b. Pada  m asing-masing  kelom pok,  peneliti  membagi  dalam  tiga
kelompok  yaitu:  kelompok  atas,  kelompok  sedang  dan  kelompok
bawah.  Hal  ini  dilakukan  dengan  m aksud  agar  dalam  kelom pok
tersebut sem ua peserta didik mempunyai potensi yang sama dalam
pembelajaran.
c. Masing-m asing  kelompok  mempersiapkan  bahan berupa  buku
sumber  yang  telah  disediakan  oleh  guru  selain  yang  dibawa  oleh
peserta didik.
d. Peneliti  kemudian  menyuruh  kepada  masing-masing  kelompok
untuk  menyiapkan  seluruh  peralatan  dan  peneliti  memberi  arahan
cara  mencari  dan  meneliti  tokoh  dan  karya  seseorang  dalam
sebuah buku sum ber dan selanjutnya peserta didik mengikutinya.

e. Peneliti  keliling  melihat  hasil  kerja  masing-masing  kelompok  dan
memberikan bantuan seperlunya.
f. Peneliti  memberikan  penjelasan  pada  seluruh  kelompok  dengan
menyebutkan tokoh-tokoh  dalam  bidang ilmu  hadits dan  ilmu tafsir
pada masa Dinasti Umayyah.
g. Dari  penjelasan  yang  diberikan  oleh  peneliti,  masing-masing
kelompok dapat membuat tabel tokoh dalam bidang ilmi hadits dan
ilmu tafsir pada m asa Dinasti Umayyah
h. Kemudian  peneliti  memberikan  beberapa  soal  yang  berkaitan
sejumlah tokoh ilmu hadits dan tafsir pada masa Dinasti Um ayyah
i. Selanjutnya peneliti menunjuk beberapa peserta didik untuk menjawab
dengan  menyebutkan  jawaban soal  latihan yang  dibacakan  oleh
guru.  Dan  sebelum  pembelajaran  berakhir  peneliti  memberikan
tugas di rumah (PR) dari buku paket.
j. Kemudian  pem belajaran  berikutnya  adakah  pelaksanaan  evaluasi  2
yang  terdiri  dari  5  butir  soal  yang  harus  dikerjakan  oleh  setiap
peserta didik dan bila selesai segera dikumpulkan.


BAB V
PENUTUP
A . Simpulan

Setelah peneliti cermati selama dalam kegiatan penelitian dari hal proses
sampai pada hasil maka peneliti menyimpulkan sebagai berikut:

1. Dalam  menggunakan  metode  pembelajaran  dengan  pendekatan
kontekstual hendaknya guru juga memperhatikan pentingnya pengelolaan
kelas.  Hal  ini  demi  kelancaran  proses  pembelajaran.  Sebab  walaupun
dalam  pembelajaran  sudah  menggunakan  metode  pembelajaran  yang
baik  namun  jika  dalam  mengelola  kelas  kurang  baik,  maka  proses
pembelajaran akan terganggu dan hasilnya kurang memuaskan.
2. Pem belajaran  kontekstual  pada  pokok  bahasan  Kemajuan  Dinasti
Umayyah telah  memberikan  nuansa  baru  dalam  pembelajaran  Sejarah
Kebudayaan  Islam   sehingga  pem belajaran  lebih  efektif.  Hal  ini  terbukti
dengan  adanya  perubahan  yang signifikan  terhadap  ketuntasan  belajar
peserta  didik.  Terlihat  pada  nilai  ulangan  peserta  didik  yang  dilakukan
setelah  siklus  III  mencapai  nilai  rata-rata  8,5  dengan  ketuntasan  belajar
94%.
B . Saran-saran
Setelah mengetahui hasil dan kesimpulan selama penelitian berlangsung
di MTs. Negeri Pamoyanan, peneliti mem berikan saran antara lain:
1. Seorang  guru  hendaknya  terampil  dan  dapat  menguasai  berbagai
metode pembelajaran agar peserta didik lebih mudah m emahami materi
pembelajaran.
2. Seorang  guru  harus  selalu  aktif  melibatkan  peserta  didik  selama
kegiatan pembelajaran berlangsung.
3. Seorang guru  harus  dapat m emilih m etode  dan  kreatif dalam  mencoba
ide  baru  agar  proses pembelajaran  berhasil  dengan  baik  dan  tidak
membosankan.
4. Hendaknya guru  selalu  memotivasi  peserta  didik  untuk  selalu belajar  di
rumah  materi  yang akan dibahas pada  pertemuan  berikutnya  supaya
dalam pembelajaran peserta didik mempunyai gambaran materi.
5. Perlunya  kolaborasi  dengan  guru  yang  lain  di  dalam  meningkatkan
kualitas pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas.
6. Kepala  Sekolah  hendaknya  memfasilitasi  kegiatan  Penelitian  Tindakan
Kelas yang dituangkan dalam Program Kerja Sekolah.






DAFTAR RUJUK AN
Abimanyu, S oli, 1998, Penyusunan  Proposal  PTK, Makalah  dalam  PCP
PTK Proyek PGSM tanggal 1-22 Oktober
Abimanyu,  Soli  dkk, 1995, Penelitian  Praktis  untuk  Perbaikan Pembelajaran,
PGSM Ditjen Dikti Depdiknas, Jakarta

Arends,  Ricard  I,  1997, Classroom  Intruction  and  Management, Toronto,
McGraw-Hill

A . Syalabi,  1983, Sejarah Kebudayaan  Islam  1 dan  2,  Jakarta : Pustaka  al-
Husna
Badri  Yatim, 1996,  Sejarah  Peradaban  Islam, Jakarta  :  Raja  Grafindo
Persada
Chatibul  Umam, Sejarah  Kebudayaan  Islam  kelas  VIII  untuk  MTs .,  Kudus  :
Menara Kudus

Hokins,  David,  1992, A  Guide  to  Classroom  Research, 2nd ed.  Open
University Press

Jaih  Mubarok,    2004, Sejarah  Peradaban  Islam, Bandung  :  Pustaka  Bani
Quraisy
Kartono,  Kartini,  1996, Pengantar  Metodologi  Riset  Sosial, Bandung  :
Mandar Maju

Oemar Amin Hoesin, 1981, Kultur Islam, Sejarah Perkembangan Kebudayaan
Islam dan Pengaruhnya dalam Dunia Internasional, Jakarta
: Bulan Bintang

Moeleong,  L.J., 1991, Metodologi  Penelitian  Kualitatif, Bandung :  Remaja
Rosdakarya.

Nurhadi  dan  Sentuk,  Agus,  Gerrad.  2003. Pembelajaran  Kontekstual  dan
Penerapannya Dalam KBK. Malang: UM Press.

Universitas  Negeri  Malang.  2000. Pedoman Penulisan Karya  Ilmiah.  Malang:
UM
Press.

Marcell A. Boisard, 1979, Humanisme dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar