STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 13 Juli 2011

Design Kurikulum PAI di Era Global Berbasis Analisa Kebutuhan

PENDAHULUAN
Memasuki era melinium baru yang disebut juga era globalisasi, problematika ‎menjadi sangat kompleks yang dihadapi milyaran anak manusia ‎. Globalisasi yang ditandai ‎dengan hilangnya batas antar negara di atas bumi, disebabkan karena perkembangan ‎teknologi, kemajuan ekonomi dan kecanggihan sarana informasi. Globalisasi juga ditandai ‎dengan era perdagangan bebas sebagai tindak lanjut dari persetujuan system perdagangan ‎bebas seperti Asean Free Trade Area (AFTA), Global Aggrement Trade and Tarif (GATT) ‎dan pembentukan WTO (Word Trade Organisation). ‎
Kemajuan zaman dan system perdagangan bebas yang memunculkan persaingan itu ‎membawa dampak positif sekaligus dampak negativnya. Kebudayaan negara-negara barat ‎yang cenderung mengedapankan rasionalitas, mempengaruhi negara-negara timur termasuk ‎Indonesia yang masih memegang adat dan kebudayaan leluhur yang menjunjung nilai-nilai ‎kesopanan dan spiritualitas keagamaan. Muhaimin mengutip Jacques Ellul yang merujuk ‎pengalaman sejarah, bahwa memasuki era industri maka masyarakt sebuah negara telah ‎mendambakan rasionalitas, efesiensi teknikalitas, individualitas, mekanistis, materialistis. Hal-‎hal yang berbau suci/ agama tidak mendapat tempat pada masyarakat ini ‎.‎

Naisbit & Aburdene sebagaiman dikutip Rahmat dalam Megatrend 2000 ‎mengilustrasikan dampak negative dari globalisasi adalah adanya fenomena gaya hidup dalam ‎‎3-F, yaitu ; Food (makanan), Fashion (mode) dan Fun (hiburan). Manusia yang hanyut dalam ‎arus globalisasi itu akan cenderung bersifat matrealistik, hedonistic, ektravaganza, foya-foya, ‎dan melupakan masa depan ‎.‎
Globalisasi disamping menimbulkan dampak negatif juga menuntut adanya ‎persiapan dalam persaingan dalam kehidupan global. Persaingan itu mempunyai konsekwensi ‎yang harus dipenuhi oleh generasi muda Indonesia, di antaranya kecerdasan, keuletan, ‎ketangguhan, inovasi, fit dan lain sebagainya ‎.‎
Agar tidak terperosok ke jurang yang lebih dalam dan siap menghadapi persaingan ‎global, maka perlu adanya upaya yang signifikan demi menyelamatkan anak-anak bangsa ‎sebagai penerus perjuangan dan pembangunan negara. Untuk ini, pendidikan agama Islam ‎ ‎diyakini dapat dijadikan sebagai benteng kepribadian dan pembekalan hidup untuk andil ‎dalam persaingan di kancah dunia.‎
Namun sudah maklum bahwa adanya kegagalan pendidikan agama Islam di negara ‎kita bahkan pendidikan formal ‎ secara umumnya. Yang menjadi analisa klasik tentang ‎gagalnya pendidikan Islam di Indonesia hingga saat ini adalah masalah minimnya jumlah jam ‎pelajaran, khususnya di sekolah umum. ‎
Disebutkan bahwa pendidikan agama Islam yang sedang dilaksanakan dalam ‎banyak lembaga pendidikan formal belum sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana yang ‎tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No. 20 tahun ‎‎2003. Azizy menambahkan bahwa kegagalan ini berimbas pada masalah degradasi moral‎ ‎. ‎
Husni Rahim melihat factor kegagalan pendidikan agama Islam di negara kita dari ‎segi kurikulum. Dari segi ini materi pendidikan agama Islam di sekolah terlalu akademis , ‎terlalu banyak topik, banyak pengulangan yang tidak perlu, tidak memperhatikan aspek ‎afektif karena hanya mementingkan aspek kognitif dan metode pengajaran kurang tepat.‎ ‎ ‎
Faktor lain yang mempengaruhi kegagalan pendidikan agama Islam dan pendidikan ‎secara umunya adalah dari factor menejemen, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, ‎dualisme penyelenggaraan pendidikan di negara kita dan lain sebaginya yang menuntut segera ‎dicarikan solusi dan mengubah dari segala tantangan di atas menjadi peluang, agar pendidikan ‎di negara kita menjadi berkualitas yang akan berimbas pada kemajuan bangsa dan negara, ‎sebagiamana dinyatakan Fazlurrahman bahwa, setiap reformasi dan pembaharuan dalam Islam ‎harus dimulai dengan pendidikan ‎. ‎
Memperhatikan tuntutan di atas pendidikan agama Islam di madrasah dan sekolah-‎sekolah umum hendaknya diadakan pemikiran ulang (rethingking) dan rekayasa ulang ( ‎reengineering). Salah satunya adalah dengan analisa kebutuhan dalam menejemen pendidikan ‎agama Islam. Analisa kebutuhan disini adalah cara yang efektif untuk mengidentifikasi ‎masalah-masalah yang muncul dalam sebuah organisasi, termasuk juga organisasi ‎pembelajaran. ‎
Makalah ini disusun untuk menjawab permasalahan sekitar analisa kebutuhan materi ‎dan menejemen pendidikan agama Islam di sekolah formal untuk menghadapi era globalisasi ‎dengan rumusan sebagai berikut : Apa konsep analisa kebutuhan menejemen pendidikan ‎agama Islam di era globalisasi? dan bagaimana aplikasinya ?, kemudian dari sini muncul pula ‎sub pertanyaan : apa saja langkah-langkah strategis untuk peningkatan mutu pendidikan ‎agama Islam dalam menejemen di era globalsasi.‎
PEMBAHASAN
‎1.‎ Tantangan Era Globalisasi Terhadap Pendidikan Agama Islam
Dunia yang memasuki era global, ditandai dengan hilangnya batas-batas antar ‎negara-negara yang memungkinkan segala informasi dari semua negara baik yang sesuai ‎dengan ideology negara Indonesia maupun tidak, semua dapat masuk tanpa filter, maka ‎banyak tantangan yang menghadang di depannya. ‎
Penulis dapat merumuskan tantangan pendidikan agama Islam di era ‎globalisasi ini berdasarkan data-data yang ada diantaranya adalah: (1), manusia ‎dihadapkan pada persaingan di segala bidang yang amat tinggi. (2), kemajuan ilmu ‎pengetahuan dan teknologi dapat menggeser nilai –nilai lama, maka timbul berbagai ‎faham dan ideologi baru ‎ . (3), terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya ‎alam, akibatnya banyak bencana alam yang sangat mengancam kelangsungan kehidupan ‎manusia dan anak cucunya kelak. (4), karena manusia yang cenderung hedonis, maka ‎marak terjadi pelanggaran serta kenakalan remaja apalagi orang tua, dari pergaulan bebas, ‎minuman keras, mengkosumsi narkoba, pelecehan seksual dan lain-lain. (5) banyak orang ‎yang lari dari kenyataan akibat kalah dari persaingan, banyak yang mempercayai hal-hal ‎kurafat dan terjerumus dalam perangkap jin kafir dan iblis ‎. ‎
Selanjutnya tantangan-tantangan di atas dapat dikelompokkan menjadi dua ‎kelompok tantangan pendidikan agama Islam di era global yaitu tantangan dampak ‎negative dari era globalisasi dan tantangan kesiapan persaingan dalam dunia global. ‎
Dampak negatif era globalisasi bagi bangsa Indonesia sebetulnya menambah ‎beban yang cukup berat karena bangsa ini telah lama mengidap permasalahan besar yang ‎sampai kini belum kunjung pulih, bahkan semakin parah. Negara kita yang masih belum ‎kokoh berdiri, baru hampir 63 tahun merdeka yang sedang merangkak dalam ‎pembangunan, mau tidak mau harus siap memasuki dunia global. ‎
Permasalahan besar yang telah lama menjangkit di negara kita antara lain ‎disintegrasi bangsa, tawuran antar suku dan kelompok, pembrontakan, kemiskinan, ‎kebodohan, pengangguran yang pontensi pada kejahatan ditambah adanya krisis moneter ‎tahun 1997 yang sampai kini berkepanjangan. Kondisi demikian memiliki implikasi ‎menurunnya mutu kehidupan masyarakat Indonesia secara umum. ‎
Tantangan era globalisasi terhadap pendidikan agama Islam di antaranya, ‎krisis moral. Melalui tayangan acara-acara di media elektronik dan media massa lainnya, ‎yang menyuguhkan pergaulan bebas, sex bebas, konsumsi alkohol dan narkotika, ‎perselingkuhan, pornografi, kekerasan, liar dan lain-lain. Hal ini akan berimbas pada ‎perbuatan negatif generasi muda seperti tawuran, pemerkosaan, hamil di luar nikah, ‎penjambretan, pencopetan, penodongan, pembunuhan oleh pelajar, malas belajar dan ‎tidak punya integritas dan krisis akhlaq lainnya.‎
Yang ke-dua dampak negatif dari era globalisasi adalah krisis kepribadian. ‎Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di suatu negara yang menyuguhkan ‎kemudahan, kenikmatan dan kemewahan akan menggoda kepribadian seseorang. Nilai ‎kejujuran, kesederhanaan, kesopanan, kepedulian sosial akan terkikis ‎. Untuk ini sangat ‎mutlak diperlukan bekal pendidikan agama, agar kelak dewasa akan tidak menjadi ‎manusia yang berkepribadian rendah, melakuan korupsi, kolusi dan nepotisme ‎, ‎melakukan kejahatan intelektual, merusak alam untuk kepentingan pribadi, menyerang ‎kelompok yang tidak sepaham, percaya perdukunan, menjadi budak setan dan lain-lain.‎
Faktor pendorong adanya tantangan di atas dikarenakan longgarnya pegangan ‎terhadap agama dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, kurang efektifnya pembinaan ‎moral yang dilakukan oleh kepala rumah tangga yaitu dengan keteladanan dan ‎pembiasaan, derasnya arus informasi budaya negatif global diantaranya, hedonisme, ‎sekulerisme, purnografi dan lain-lain, tidak ada tindakan efektif dari pemerintah karena ‎sibuk memikirkan perebutan jabatan ‎.‎
Selain adanya hambatan akibat dampak negatif era global juga terdapat ‎tantangan pendidikan agama Islam untuk membekali generasi muda mempunyai kesiapan ‎dalam persaingan. Kesiapan itu Deliar Noer memberikan ilustrasi ciri-ciri manusia yang ‎hidup di jaman global adalah masyarakat informasi yang merupakan kelanjutan dari ‎manusia modern dengan sifatnya yang rasional, berorientasi ke depan, terbuka, ‎menghargai waktu, kreatif, mandiri dan inovatif ‎ juga mampu bersaing serta menguasai ‎berbagai metode dalam memecahkan masalah ‎. ‎
Dengan demikian pendidikan agama Islam dituntut untuk mampu membekali ‎peserta didik moral, kepribadian, kualitas dan kedewasaan hidup guna menjalani ‎kehidupan bangsa yang multi cultural, yang sedang dilanda krisis ekonomi agar dapat ‎hidup damai dalam komunitas dunia di era globalisasi.‎
‎2.‎ Analisa Kebutuhan Menejemen Pendidikan Agama Islam di Era Globalisasi dan ‎Aplikasinya
Pendidikan agama Islam diyakini menjadi pil mujarab untuk menghadapi ‎tantangan kehidupan era global generasi bangsa agar berenergi untuk kencang bersaing ‎sehat dalam keidupan global dan menjaga immunitas dari serangan dampak negative era ‎globaliasi. Sebagaimana Azra mengutip Murata dan Chittik dalam The Vision of Islam, ‎‎1994, bahwa obat utnuk mengatasi berbagai problem masyarakat, seperti kelaparan, ‎penyakit, penindasan, polusi dan berbagai penyakit social lainnya adalah to return to God ‎through religion ‎. ‎
Namun seperti yang diungkapkan dimuka bahwa pendidikan agama Islam di ‎negara kita mengalami kegagalan, yang disebabkan karena beberapa factor di atas, untuk ‎itu perlu diadakan analisa kebutuhan guna mengetahui kesenjangan yang perlu dibenahi ‎dan merumuskan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam. ‎
Sebetulnya ada tiga pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi ‎masalah-masalah pendidikan kaitannya dengan tuntutan zaman di antaranya adalah; ‎analisa kebutuhan, analisa tujuan dan analisa proses/ hasil/ pelaksanaan ‎. Namun disini ‎hanya akan menekankan pada analisa kebutuhan segi kurikulum.‎
a.‎ Teori Analisa Kebutuhan dalam Menejemen
Untuk menuju teori analisa kebutuhan khususnya dan teori analisa ‎kebutuhan pendidikan agama Islam pada umumnya perlu kiranya diawali dengan teori ‎kebutuhan manusia secara dasar. Maslow (1954) membagi kebutuhan manusia menjadi ‎dua kelompok utama, yaitu kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh. ‎
Kebutuhan dasar sebagaimana namanya berada di bawah posisi ‎kebutuhan tumbuh. Kebutuhan dasar ini berturut-turut dari bawah ke atas adalah: (1) ‎kebutuhan fisiologis, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dll; (2) kebutuhan akan ‎rasa aman; (3) kebutuhan untuk dicintai; (4) kebutuhan untuk dihargai. Sedangkan ‎kebutuhan tumbuh, hirarkinya berada di sebelah atas posisi kebutuhan dasar, berturut-‎turut dari bawah ke atas: (5) kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar); (6) ‎kebutuhan keindahan; (7) kebutuhan aktualisasi diri ‎. ‎
Kebutuhan yang berada di hierarki lebih tinggi baru akan dirasakan bila ‎kebutuhan yang ada di hierarki lebih bawah telah terpenuhi. Bila tidak terjadi ‎pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sesuai hirarki yang tergambar maka akan muncul ‎kesenjangan ‎.‎
Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan. Demikian ‎juga kesenjangan dalam pembelajaran, kesenjangan itu dijadikan suatu kebutuhan ‎dalam dunia pendidikan, sehingga pendidikan yang dilaksanakan merupakan solusi ‎terbaik. Bila kesenjangan tersebut ditemukan dan menimbulkan efek yang besar, maka ‎perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah.‎
Menurut M. Atwi Suparman kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan ‎sekarang dengan yang seharusnya ‎. Dalam redaksi yang berbeda tetapi sama intinya, ‎Morrison mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara ‎apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya. Keinginan adalah harapan ke ‎depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. ‎Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna ‎menentukan tindakan yang tepat ‎. ‎
Menurut Dr. Suharsimi Arikunto langkah-langkah analisa kebutuhan antara ‎lain : pertama, pengumpulan data, walau sederhana tapi sangat komplek. Kedua, ‎menciptakan iklim positif, Ketiga, rencana penilaian kebutuhan. Keempat, ‎melaksanakan penilaian kebutuhan. Kelima, peng-administrasian. Keenam, ‎menganalisis data yang terkumpul. Lalu memberikan tindak lanjut pada ‎pengembangan ‎.‎
Suharsimi menambahkan dengan mengutip langkah-langkah Finch dan Mc ‎Gough, (1982) yaitu apabila sumber data telah terkumpul maka digunakan altrenatif ‎alat atau instrument, yaitu: subjective self-report, objective self-report, interview, ‎observasi langsung, tes dan skala terstandar dengan rumus :‎
Obyek pengembangan (O) = kebutuhan (Kb) – kendala dana, waktu, rendahnya ‎moral dan lain-lain (Kd)‎
Hamalik menambahkan, analisa kebutuhan adalah bagian dari langkah ‎pendekatan system dalam sebuah menejemen. Pada mulanya pendekaan system ‎dipergunakan dalam bidang engineering untuk mendesain system-sistem elektronik, ‎mekanik dan militer ‎. ‎
Analisis kebutuhan dalam pendekatan system dapat dilihat dalam bagan arus ‎‎(flow chart) berikut ini :‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
Bagan pendekatan sistem
Oemar Hamalik merumuskan langkah-langkah konsep analisa kebutuhan ‎yang juga dapat diaplikasikan dalam peningkatan mutu pendidikan dalam sekolah ‎dengan rumus : ‎
Kebutuhan total (K.tot) – kebutuhan yang terpenuhi ( K.tp) = kebutuhan yang ‎tidak terpenuhi (K.ttp)‎ ‎.‎
b.‎ Analisa Kebutuhan dalam Menejemen Pendidikan Agama Islam di Sekolah ‎Formal
Masih ada kesenjangan pendidikan agama Islam di sekolah formal selama ‎ini dengan kondisi yang seharusnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa ‎indikator. Sebagaimana Husni Rahim menyebutkan indikasi itu di antaranya, (1), ‎masih banyak anak yang telah belajar agama selama 12 tahun, tetapi umumnya tidak ‎mampu membaca al Qur’an dengan baik, (2), tidak menjalankan ibadah dengan baik ‎dan tidak berakhlaq mulia ( tawuran, penyalah gunaan obat, minuman keras, ‎pergaulan bebas dan tindak asusila), (2) , meluasnya KKN (Korupsi, Kolusi dan ‎Nepotisme) yang disebabkan karena manusia bersifat konsumtif, karena gagal dalam ‎belajar agama sehingga mudah tergoda untuk berbuat tidak baik.‎ ‎ ‎
Mengapa hal ini bisa terjadi, Rahim memberikan gambaran factor-faktor ‎penyebabnya diantaranya adalah; materi pendidikan agama Islam terlalu akademis, ‎terlalu banyak topic, banyak pengulangan yang tidak perlu, tidak memperhatikan ‎aspek afektif karena hanya mementingkan aspek kognitif dan metode pengajaran Al ‎Qur’an tidak tepat.‎
Hal ini diperjelas dengan pernyataan Muhaimin bahwa kegagalan ‎pendidikan agama setidaknya disebabkan karena mengalami kekurangan dalam dua ‎aspek mendasar, yaitu; (a) pendidikan agama masih berpusat pada hal-hal yang bersifat ‎simbolik, ritualistic serta bersifat legal formalistic (halal-haram) dan kehilangan ruh ‎moralnya, (b) kegiatan pendidikan agama cenderung bertumpu pada penggarapan ‎ranah kognitif dengan menyampingkan ranah psikomotorik dan afektif ‎.‎
Muhaimin menambahkan bahwa; misalnya materi pendidikan agama Islam ‎di tingkat dasar bersifat serakah, yakni segala macam topic atau sub-sub pokok ‎bahasan yang sebenarnya menjadi bagian dari pokok-pokok pembahasan non PAI serta ‎menjadi tugas dan tanggung jawab guru non-PAI harus termuat dalam pelajaran PAI. ‎Materi PAI yang sebetulnya belum waktunya diberikan pada tingkat dasar misalnya ‎haji, zakat mal, sewa, waqaf dan lain-lain diberikan yang akhirnya menjebak guru PAI ‎pada transfer ilmu pengetahuan atau ranah kognitif belaka ‎.‎
Hal ini disebabkan juga karena masih terdapat problematika pengajaran ‎agama Islam baik secara makro maupun mikro. Problematika makro di sini adalah ‎kendala-kendala yang ada hubunganya dengan masalah di luar sekolah menyangkut ‎kebijakan pemerintah mengenai pendidikan nasional. Sedangkan problematika ‎mikronya adalah menyangkut strategi pembelajaran dan kebijakan dari pimpinan ‎sekolah. ‎
Sekolah melalui pendidikan agama mestinya dapat menghantarkan para ‎peserta didik untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul dalam persaingan ‎hidup di jaman global. Keunggulan sumber daya manusia itu mencakup aspek moral ‎dan ketaqwaan di samping memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ‎keterampilan. Karakter lainnya yang dibutuhkan adalah keuletan, keberanian, dan ‎semangat kebangsaan. ‎
Untuk memenuhi hal di atas maka perlu diadakan kegiatan berupa ‎pengembangan materi pelajaran yang bermuatan keimanan dan ketaqwaan (imtaq) dan ‎ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Upaya penyusunan bahan ajar yang ‎bermuatan imtaq dan iptek untuk TK & RA, SD & MI, SLTP & MTs, dan SMU & ‎MA (TK & RA – 12) diharapkan dapat dijadikan model bagi guru dan pelaksana ‎pendidikan di lapangan untuk menghasilkan manusia Indonesia yang unggul dan utuh ‎belum sepenuhnya berjalan dengan baik ‎. ‎
Belajar dari pengalaman negara-negara lain dalam menangani tantangan dan ‎krisis serupa, di sana membutuhkan sumber daya manusia yang unggul. Juga belajar ‎dari sejarah masa lalu, bahwa kemajuan yang pernah dicapai oleh para pendahulu kita ‎karena adanya sikap yang mau berubah. Meneladani sikap progresivitas yang ‎ditunjukkan nabi Muhammad dalam mendidik kaumnya dari jahiliyyah menuju ‎masyarakat yang beradab dan maju. Allah juga telah memerintahkan dalam Al qur’an : ‎‎“Dia tidak akan merubah nasib suatu bangsa, sebelum bangsa tersebut mau merubah ‎dirinya sendiri”‎
Selanjutnya Husni Rahim merumuskan factor-faktor kegagalan pendidikan ‎Islam di Indonesia yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal : ‎rendahnya SDM ( pemimpin sekolah, pengelola administrasi dan keuangan, ‎pustakawan,guru, tenaga bimbingan dan penyuluhan, pengawas, komite sekolah), ‎dikarenakan masih lemahnya program pendidikan dan pembinaan tenaga kependidikan ‎dan rekrutmen tenaga yang kurang selektif. Faktor Eksternal : Globalisasi, ‎demokratisasi dan liberalisasi Islam ‎.‎
Melihat permasalahan di atas maka penulis mengelompokan analisa ‎kebutuhan dapat dilihat secara mikro dan makro dengan penjelasan sebagai berikut ;‎
‎1.‎ Analisa kebutuhan mikro
Menurut Nur Fathoni mengutip I.N Sudana Degeng bahwa analisa kebutuhan ‎dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut :‎
 Kebutuhan kondisi pembelajaran yang meliputi tujuan, kendala-kendala ( ‎keterbatasan materi, keterbatasan waktu, keterbatasan media, keterbatasan ‎personalia, dan keterbatasan dana), juga karakteristik peserta didik.‎
 Kebutuhan strategi pembelajaran yang meliputi : strategi pengorganisasian , ‎penyampaian pelajaran dan pengelolaan.‎
 Kebutuhan hasil pembelajaran yang meliputi : efektifitas, efisiensi dan daya ‎tarik ‎. ‎
‎2.‎ Analisa kebutuhan makro ‎
Kesenjangan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam pendidikan Agama Islam ‎dalam kontek pendidikan secara makro di Indonesia yaitu : ‎
 Budgeting dalam system pendidikan nasional, Permasalahan mengenai ‎budgeting adalah masalah yang cukup pelik dan dilematis. Inilah masalah ‎utama yang menjadi rintangan dalam pelaksanaan pendidikan yang maju, adil ‎dan merata ‎.‎
 Dikotomi lembaga pendidikan nasional. Banyak pakar pendidikan menilai ‎bahwa dikotomi lembaga pengelola pendidikan yang terbagi dalam ‎Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama menjadi awal ‎permasalahan pendidikan yang ada dalam penyampaian materi pendidikan ‎keagamaan. Hal inilah yang menghambat proses internalisasi pemahaman nilai-‎nilai keagamaan yang termaktub dalam pendidikan agama.‎
 Sarana dan prasarana pendidikan yang belum mendukung mengakibatkan ‎banyaknya hambatan yang terjadi pada proses penyampaian, pemahaman dan ‎penyerapan nilai-nilai moral keagamaan.‎
 Evaluasi menejemen sekolah masih belum optimal.‎
c.‎ Upaya Pendidikan Agama Islam Mengatasi Tantangan di Era Global
Secara garis besar aplikasi konsep analisa kebutuhan peningkatan mutu ‎pendidikan agama Islam di sekolah formal dalam menghadapi era globalisasi dalam ‎kaitannya dengan persaingan di segala bidang yang amat tinggi dan pengaruh dampak ‎negative era globalisasi diperlukan aplikasi analisa kebutuhan secara mikro dan makro.‎
Namun di sini penulis hanya merumuskan aplikasi analisa kebutuhan secara ‎mikro karena aplikasi analisa kebutuhan secara makro cakupannya sangat luas seiring ‎dengan kebijakan yang diambil pemerintah. Analisa secara mikro di sini adalah; ‎
a.‎ Strategi Pembelajaran
Tujuan pembelajaran agama Islam yang harus dirumuskan dengan bentuk ‎behavioral atau berbentuk tingkah laku dan juga measurable atau bisa diukur. Hal ‎ini membutuhkan strategi pembalajaran yang khusus. ‎
Strategi disini adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh guru dengan ‎sengaja yang meliputi metode, materi, sarana prasarana, materi, media dan lain ‎sebagainya agar siswa dipermudah dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ‎ditetapkan. ‎
b.‎ Metode Pembelajaran Agama Islam.‎
Pendidikan agama Islam sebenarnya tidak hanya cukup dilakukan ‎dengan pendekatan teknologik karena aspek yang dicapai tidak cukup kognitif ‎tetapi justru lebih dominan yang afektif dan psikomotorik, maka perlu pendekatan ‎yang bersifat nonteknologik. Pembelajaran tentang akidah dan akhlak lebih ‎menonjolkan aspek nilai, baik ketuhanan maupun kemanusiaan yang hendak ‎ditanamkan dan dikembangkan pada diri siswa sehingga dapat melekat menjadi ‎sebuah kepribadian yang mulia. ‎
Sehingga menurut Noeng Muhajir ada beberapa strategi yang bisa ‎digunakan dalam pembelajaran nilai yaitu : tradisional maksudnya dengan ‎memberikan nasehat dan indoktrinasi, bebas maksudnya siswa diberi kebebasan ‎nilai yang disampaikan, reflektif maksudnya mondar-mandir dari pendekatan ‎teoritik ke empiric, transiternal maksudnya guru dan siswa sama-sama terlibat ‎dalam proses komunikasi aktif tidak hanya verbal dan fisik tetapi juga melibatkan ‎komunikasi batin ‎.‎
c.‎ Materi Pembelajaran Agama Islam.‎
Disamping perlu adanya reformulasi materi-materi PAI yang selama ini ‎menjebak pada ranah kognitif dengan mengabaikan ranak psikomotorik dan ‎afektif, materi PAI dipandang masih jauh dari pendekatan pendidikan multi ‎cultural, akibatnya masih banyak kerusuhan yang dipicu dari masalah SARA. ‎
Untuk itu materi pendidikan agama hendaknya merupakan sarana yang ‎efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai atau aqidah inklusif pada peserta didik. ‎Selain itu, pada masalah-masalah syari’ah pendidikan agama Islam selama ini ‎mencetak umat Islam yang selalu bertengkar antar pengikut madzhab. ‎
Maka dalam hal ini pendidikan Islam perlu memberikan pelajaran “fiqih ‎muqarran” untuk memberikan penjelasan adanya perbedaan pendapat dalam Islam ‎dan semua pendapat itu sama-sama memiliki argumen, dan wajib bagi kita untuk ‎menghormati. Sekolah tidak menentukan salah satu mazhab yang harus diikuti ‎oleh peseta didik, pilihan mazhab terserah kepada mereka masing-masing ‎.‎
d.‎ Sumber Daya Guru Agama
Pada saat ini ada kecenderungan untuk menunjuk guru sebagai salah satu ‎factor penyebab minimnya kualitas lulusan siswa. Kritikan mulai dari ketidak ‎efektifnya guru dalam menjalankan tugas, kurangnya motivasi dan etos kerja, ‎sampai kepada ketidak mampuan guru dalam mendidik dan mengajar kepada ‎anak didiknya.‎
Untuk meningkatkan motivasi dan etos kerja guru maka factor ‎pemenuhan kebutuhan sangat berpengaruh. Untuk itu bagaimana mengarahkan ‎kekuatan yang ada dalam diri guru untuk mau melakukan tingkat upaya yang ‎tinggi ke arah tujuan yang telah ditetapkan.‎
Berbicara tentang motivasi tidak lepas kaitannya dengan beberapa ‎pandangan tentang terbentuknya kepribadian manusia melalui proses pola awal ‎terbentuknya motivasi dan beberapa teori kebutuhan manusia. Suparmin mengutip ‎Mc.Cleland yang mengelompokkan kebutuhan manusia kaitannya dengan ‎peningkatan motivasi dalam tugasnya sebagai guru adalah; need for achievement/ ‎kebutuhan untuk berprestasi, need for power/ kebutuhan untuk berkuasa, need for ‎affiliation/ kebutuhan untuk berafiliasi ‎. Bila ketiga kebutuhan terpenuhi maka ‎motivasi dan etos kerja seorang guru akan tumbuh dan berkembang sebagimana ‎yang diharapkan.‎
Dengan motivasi dan etos kerja yang tinggi guru agama akhirnya menjadi ‎penggerak penjiwaan dan pengalaman agama yang mencerminkan pribadi yang ‎taqwa, berakhlaq mulia, luhur dan menempati perananan suci dalam mengelola ‎kegiatan pembelajaran, maka dibutuhkan guru yang dirumuskan Zakiyah Darajat ‎ ‎dan Husni Rahim ‎ sebagai berikut : mencintai jabatannya, bersikap adil, sabar ‎tenang, menguasai metode dan kepemimpinan, berwibawa, gembira, manusiawi ‎dan dapat bekerja sama dengan masyarakat. ‎
Dan tentunya juga dibantu guru bidang studi lain dengan menunjukkan ‎keteladanan bagi siswa sebagai seorang yang beragama yang baik. Apalagi iman ‎dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan prasyarat utama bagi ‎setiap guru, yang secara praktis akan berimplikasi pada keharusan setiap guru ‎untuk mengimplementsikan nilai-nilai akhlak yang mulia dalam setiap pelajaran.‎
Menurut Muhaimin bila ada peserta didik yang terlibat narkoba misalnya, ‎maka hal itu bukan merupakan kegagalan guru PAI saja, tetapi juga merupakan ‎kegagalan dari guru IPA, IPS dan PPKn. Bila ada siswa yang suka hidup boros, ‎itu juga kegagalan guru matematika dan ekonomi dan bila siswa suka merusak ‎lingkungan itu termasuk kegagalan guru IPA dan seterusnya ‎. ‎
e.‎ Fasilitas dan Media Pengajaran
Salah satu factor yang dibutuhkan dalam peningkatan mutu pendidikan ‎agama Islam di sekolah formal saat ini adalah : tempat ibadah (masjid atau ‎musholla), ruang bimbingan dan penyuluhan agama, laboratorium keagamaan dan ‎computer berbasis internet ‎. ‎
Laboratorium tidak hanya dibutuhkan untuk pembelajaran ilmu bahasa ‎dan ilmu eksakta saja, tetapi semua materi pelajaran juga membutuhkan ‎laboratorium termsuk pelajaran agama Islam. Di dalam laboratorium akan ‎dilengkapi media-media pembelajaran. ‎
Media pembelajaran yang bersifat audio visual sangat penting untuk ‎tercapainya tujuan pembelajaran, karena media pembelajaran ini berfungsi untuk ‎memberikan pengalaman konkret kepada siswa. Bila guru menyampaikan materi ‎agama dengan bermain kata-kata saja maka materi itu bersifat abstrak sama ketika ‎guru-guru di Eropa mengajar bahasa Latin pada abad 17‎ ‎. ‎
Muhaimin mengusulkan lima cara yang dijadikan dasar pertimbangan ‎dalam pemilihan sarana/ media pembelajaran PAI yaitu; (1) tingkat kecermatan ‎representasi, (2) tingkat interaktif yang ditimbulkan, (3) tingkat kemampuan ‎khusus, (4) tingkat motivasi yang ditimbulkan, (5) tingkat biaya yang ‎diperlukan ‎. ‎
f.‎ Instrumen Penunjang
Mengingat pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang universal ‎maka, dibutuhkan instrument penunjang antara lain : school culture, extra ‎kurikuler keagamaan, tim penggerak proses pendidikan keagamaan ( kepala ‎sekolah, dewan, guru, karyawan, komite, masyarakat sekitar, LSM dan alumni)‎ ‎.‎
‎3.‎ Langkah-Langkah Strategis Menejemen Pendidikan Agama Islam di Era ‎Globalisasi
Memperhatikan tuntutan era globalisasi di atas pendidikan agama Islam di ‎madrasah dan sekolah-sekolah umum dilaksanakan dengan beberapa strategi di ‎antaranya : pertama penyempurnaan kurikulum pendidikan agama agar materi ‎pelajarannya mencapai komposisi yang proporsional dan fungsional tetapi tidak ‎membebani siswa. Kedua, memadukan materi agama dengan materi pendidikan budi ‎pekerti misalnya PPKn atau pelajaran lainya yang terkait hal ini juga dapat mengikis ‎dikotomi ilmu. Ketiga, menciptakan kondisi agamis di lingkungan sekolah.‎
Dalam kaitan ini diperlukan adanya serangkaian kegiatan strategis lainnya ‎antara lain: (1) mengidentifikasi isu-isu sentral yang bermuatan moral dalam masyarakat ‎untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan ‎metode klarifikasi nilai (2) mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan siswa dalam ‎pembelajaran pendidikan moral agar tercapai moral yang komprehensif yaitu kematangan ‎dalam pengetahuan moral perasaan moral,dan tindakan moral,(3) mengidentifikasi dan ‎menganalisis masalah-masalah dan kendala-kendala instruksional yang dihadapi oleh para ‎guru di sekolah dan para orang tua murid di rumah dalam usaha membina perkembangan ‎moral siswa, serta berupaya memformulasikan alternatif pemecahannya,(4) ‎mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai-nilai moral yang inti dan universal yang dapat ‎digunakan sebagai bahan kajain dalam proses pendidikan moral,(5) mengidentifikasi ‎sumber-sumber lain yang relevan dengan kebutuhan belajar pendidikan moral. Terkait ‎dengan pelajaran budi pekerti ini,sebenarnya telah banyak pelajaran yang diajarkan di ‎sekolah yang menitik beratkan pada etika moral dan adab yang santun seperti pendidikan ‎Agama, PPKn dan BK (Bimbingan Konseling)‎ ‎. ‎
Selanjutnya pengajaran agama Islam diajarkan sebagai perangkat system yang ‎satu sama lain saling terkait dan mendukung yang mencakup : guru agama yang layak dan ‎cocok tidak under qualified, tidak mismatch ‎, adanya kerja sama dengan guru mata ‎pelajaran lain, profesionalitas pimpinan sekolah, kurikulum yang baik , metode yang tepat ‎di antaranya metode praktek/ role playing , materi pembiasaan, sholat dzuhur berjamaah, ‎kelengkapan sarana dan masjid dan kerjasama orang tua tokoh formal, aparat ‎pemerintah.‎
Selanjutnya Husni Rahim mengajak pelaku pendidikan agama Islam di sekolah ‎formal untuk mempertegas visi pendidikan Islam dengan cakupan bahwa visi itu sebagai ‎berikut : Karakter Islami yaitu (1) orientasi holistic artinya kesadaran sebagai pribadi ‎muslim di segala situasi dan kondisi terutama di sekolah, dengan menempatkan nilai-nilai ‎spiritual dan transedental dalam pencapaian tujuan pendidikan strategi pembelajaran yang ‎tidak verbalistik sehingga mudah dikembangkan ketrampilan dan wawasannya secara ‎terpadu, (2) populis yaitu Sekolah/ madrasah dilaksanakan dengan semangat yang ‎merakyat, karena manusia membutuhkan persaudaraan, saling kasih dan semangat ‎memberdayakan kaum tertindas berorientasi mutu yaitu dalam dua tataran : proses dan ‎hasil pendidikan ‎. ‎
Selanjutnya Rahim menjelaskan proses tersebut dalam suasana pembelajaran ‎yang aktif dan dinamis serta konsisiten dengan program dan target pembelajaran. Adapun ‎hasilnya adalah output yang berkualitas dalam kognitif, afektif dan psikomotorik dan ‎pluralis pada lembaga pendidikan Islam yang harus tercermin dalam kurikulum dan proses ‎pendidikan ‎ guna mewujudkan cita-cita umat Islam Indonesia menjadi ulama yang ‎cendikia atau cendikia yang ulama.‎
KESIMPULAN
Analisa kebutuhan adalah bagian dari langkah pendekatan system dalam sebuah ‎menejemen. Kebutuhan total – kebutuhan yang terpenuhi = kebutuhan yang tidak terpenuhi.‎
Secara konseptual pendidikan Islam di Indonesia akan mampu eksis sekaligus ‎mampu menyesuaikan perkembangan zaman karena melihat Islam adalah agama yang ‎universal. Untuk mengembangkan strategi dan model pembelajaran pendidikan dengan ‎menggunakan pendekatan terpadu, diperlukan adanya analisis kebutuhan (needs assessment) ‎siswa dalam belajar pendidikan moral. ‎
Analisa kebutuhan tersebut berdasarkan pada kesenjangan yang dialami di dunia ‎pendidikan kaitannya dengan materi pendidikan agama Islam, kesenjangan itu dapat ‎dikelompokkan secara makro dan mikro.‎
Kajian ini masih hanya terbatas pada sisi kurikulum dan yang melingkupinya. ‎Kesenjangan yang bersifat pengembangan kebijakan madrasah belum dibahas secara tuntas. ‎
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zaenal, Analsis Kebutuhan Pemebelajaran dan Analsis Pembelajaran dalam Desain ‎Sistem Pembelajaran, ( Surakarta : Jurnal Fakultas Agama Islam UMS, Vol.19)‎
Arikunto, Suharsimi, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi Kejuruan,(Jakarta; ‎Raja Grafindo Persada, cet ke 2 1993)‎
Azizy, Qodri , Pendidikan (Agama) Untuk Membangun Etika Sosial, (Semarang : CV Aneka ‎Ilmu, 2003)‎
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam ; Tradisi dan Modernisasi Menuju Melenium Baru, ‎‎(Jakarta: Logos, 1999)‎
Azwarsyach, Realisasi Anggaran Pendidikan 20 persen, http://azwarsyach.wordpress.com ‎‎/2008/01/17/realisasi-anggaran-pendidikan-20-persen/‎
Darajat, Zakiyah , Kesehatan Mental, (Jakarta: PT H. Masagung, 1990) ‎
Departeman AgamaRI, Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta : Tim Pengadaan ‎buku, 2001‎
Fatoni, Achmad Nur, Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah, ( STAIN ‎Tulungagung : Jurnal Ilmiah Tarbiyah, Vol. 17, 1997)‎
Fathoni, M. Kholid, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Paradigma Baru), (Jakarta: ‎Depag RI, 2005)‎
Fazlurrahman, Islam, (Chicago: The University of Chicago Press, 1979)‎
Gary. R, Morrison, Steven M, Ross, Jerrold E Kemp : Designing Effective Instruction, Third ‎Edition John Wiley and Sons, inc printed in the USA 2001‎
Hamalik, Oemar, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: UPI kerjasama dengan ‎Rosda Karya, 2006)‎
Maslow, Abraham Motivation and Personality (USA: Herper & Row Publication) ‎diterjemahkan oleh Nurul Iman dengan judul Motivasi dan Kepribadian ‎‎(Bandung: Rosda karya, 1993)‎
Muhajir, Noeng, Wawasan Teknologik dan Operasionalnya, ( Yogyakarta : Makalah ‎Teknologi Pendidikan IAIN Sunan Kalijaga).‎
Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Isalm, (Bandung: Nuansa, 2003)‎
Nata, Abudin, Pendidikan Islam di Era Global, ( Jakarta : UIN Jakarta Press, 2005)‎
Nata, Abudin, Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, ‎‎(Jakarta: Prenada Media, 2003) ‎
Noer, Deliar, Pembangunan di Indonesia, ( Jakarta: Mutiara, 1987), ‎
Rahmat, Jalaludin, Islam Menyongsong Peradaban Dunia Ketiga, dalam Ulumul Qur’an, Vol. ‎‎2, 1989, h.46‎
Rahim, Husni, Arah Baru Penidikan Islam di Indonesia, (Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001)‎
Sudirjo, Sudarsono dkk, Media Pembelajaran Sebagai Pilihan Dalam Strategi Pembelajaran, ‎Dalam Mozaik Teknologi Pendidikan ( Jakarta: Prenada Media, 2004)‎
Suhadi, Teori Kebutuhan Pendidikan di Indonesia http://suhadinet. wordpress.com ‎‎/2008/05/15/teori-kebutuhan-maslow-pendidikan- di-indonesia –dan -unjuk-rasa-‎yang-santun/‎
Suparman, Atwi, Desain Instructional, Proyek pengembangan Universitas Terbuka Ditjen ‎Dikti Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta :D iknas, 2001)‎
Suparmin, Motivasi dan Etos Kerja, (Jakarta: Depag RI, 2004) ‎
Syamsul Huda, Pendekatan Penanaman Nilai Pendidikan , http://syamsulberau. ‎wordpress.com /2007/11/16/pendekatan-penanaman-nila-pen-didikan / diakses pada ‎tanggal 22 Mei 2008‎

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar