STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 04 Juli 2011

PEMBELAJARAN AKHLAQ

B A B I
A. PENDAHULUAN

Kehidupan dan peradaban manusia senantiasa mengalami perubahan. Dalam merespon fenomena itu manusia berpacu mengembangkan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan yang tinggi , diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis dan mampu bersaing.
Sebagimana diamanatkan Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional ( UUSPN ) kita bahwa sebagian tujuan pendidikan Nasional kita adalah out put dari hasil pembelajaran yang berakhlaq terpuji yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap negara kesatuan Republik Indonesia.
Oleh karena itu, peranan dan efektifitas pendidikan agama utamanya di Madrasah adalah merupakn landasan bagi pengembangan spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat, mutlak harus ditingkatkan. Karena asumsinya adalah jika Pendidikan Agama ( yang meliputi Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam ) yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik.
Pendidikan Aqidah Akhlaq pada lembaga Madrasah sebagai bagian integral dari Pendidikan Agama, ( memang bukan satu-satunya factor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik ). Tetapi secara substansial, mata pelajaran Aqidah Akhlaq memiliki kontribusi dalam memotivasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai keyakinan keagamaan ( tauhid ) dan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari )
Upaya pemerintah dalam mengoptimalkan pembelajaran Pendidikan Agama telah banyak dilakukan, dari berbagai pelatihan- pelatihan, worh shop yang dilaksanakan oleh lembaga sekolah, KKG, MGMP, Depag Kabupaten, balai diklat tehnis keagaman bahkan oleh Kanwil Depag, adalah wujud upaya efektifitas dan efisiensi pembelajaran Pendidikan Agama disamping tidak sebagai upaya meningkatkan kinerja, etos kerja dan profesionalitas tenaga pendidikan.
Tampaknya bagian yang dapat dianggap paling mendasar dalam meningkatkan kemampuan guru agama adalah kemampuan guru dalam mengajarkan agama kepada peserta didiknya. Bermula dari sinilah dikembangkan upaya pendekatan-pendekatan pembelajaran yang bermuara pada optimalisasi pencapaian tujuan pendidikan, sebagaimana yang diamanatkan UUSPN.


Sedangkan arah Pendidikan Aqidah Akhlaq yang telah dibakukan adalah peneguhan aqidah dan peningkatan toleransi serta saling menghormati antar sesama pemeluk agama dalm rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa .
Untuk memaksimalkan upaya pencapaian Kompetensi yang diharapkan dari Pendidikan Aqidah Akhlaq, diperlukan berbagai pola pembelajaran, pendekatan, Strategi, teknik pengajaran, dan metode pembelajaran.




B A B II

PEMBAHASAN

METODOLOGI PEMBELAJARAN AKHLAQ

A. PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAQ
Secara etimologi, Metode Pembelajaran Akhlaq dapat diartikan sebagai berikut :
Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai sebuah maksud / tujuan. Konteksnya adalah sangat erat hubungannya dengan upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional yang yang diamantkan pada Undang - undang Sisdiknas.
Pembelajaran , adalah sebuah kaja jadian dari kata dasar ajar ( awalan Ber – ajar ) menjadi kata belaja,r yang kemudian mendapat awaln pe dan akhiran an ( menjadi pembelajaran ) yang mengandung arti proses. Kata Pembelajaran berarti proses, cara menjadikan orang atau mahluk hidup untuk belajar . Dan sudah barang tentu dalam hal ini konteksnya ( pesertanya ) adalah manusia.
Akhlaq, berasal dari bahasa arab, Kholaqo - Yakhluqu – Kholqon - Kholqotan. Dari Kholaqo terbentuklah kata Khooliqun ( Pencipta ) dan kata Makhluuqun ( yang diciptakan ). Akhlaq adalah merupakan suatu bentuk jamak dari kata al khuluqu yang berada antara kata Kholiqun dan Makhluqun Dengan demikian akhlaq mempunyai dua dimensi hubungan, yaitu hubungan vertikal kepada tuhan ( kholiq ) dan hubungan horisontal kepada sesama ciptaan tuhan ( makhluq ).

Walhasil, Akhlaq adalah sikap dan tingkah laku jiwa yang mantap dan mapan yang menimbulkan perbuatan dengan mudah tanpa pertimbangan apapun, melainkan timbul dengan sendirinya , tanpa dibuat-buat, pura-pura, basa-basi dan memang apa adanya ( natural ).

Al Ghozali mendefinisikan Akhlaq sebagai berikut




( Akhlaq adalah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang menimbulkan segala perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan )
Aqidah dan Akhlaq adalah satu kesatuan yang tak dapt dipisahkan, dan saliang ada keterkaitan antara Aqidah dan Akhlaq. Aqidah adalah merupakn dasar munculnya akhlaq ( akhlaq al karimah dan akhlaq madzmumah ) Karena Akhlaq adalah merupakan cerminan keadaan batin yang mempunyai hubungan dengan tuhan ( Hablum Minalloh ) yang konsisten dan istiqomah dengan nilai-nilai keimanan. Kertika nilai – nilai keimanan seseorang mencapai kesempurnaan, maka akan mencul pula akhlaq yang sempurna yang tercermin dari cahaya keimanan seseorang yang merupahan cahaya uluhiyyah. Akan tetapi sebaliknya jika nilai-nilai keimanan seseorang berada pada level yang paling bawah, maka dengan sendirinya yang muncul adalah nilai akhlaq yang tidak terpuji ( akhlaqul madzmumah ) yang kurang diwarnai oleh cahaya uluhiyyah.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa, yang dimaksud Metode Pembelajaran Akhlaq adalah serangkaian cara yang terencana untuk mencapai tujuan yang ditentukan, dalam sebuah interaksi yang saling berhubungan untuk membentuk tingkah laku, budi perkerti mulia dan bernilai uluhiyah yang tinggi .

B. DASAR , TUJUAN DAN SIFAT-SIFAT PEMBELAJARAN AKHLAQ
1. Dasar Pembelajaran Akhlaq
Dasar pembelajaran akhlaq adalah merupakan bagian dari dasar pendidikan agama Islam, dan Dasar Pendidikan Agama Islam pada system pendidikan nasional, adalah merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat terlepas dari dasar pandidikan nasional negara kita. Kemudian dasar pembelajaran akhlaq, adalah merupakan bagian dari dasar pendidikan agama secara substansial yang terkonsentrasi pada kompetensi keimanan , ketaqwaan dan akhlaqul karimah. Sedangkan dasar edial pembelajaran akhlaq adalah :
a.. Alqur’an, dalam Al Qur’an Allah berfirman



“Sesungguh rosululloh itu adalah menjadi contoh teladan yang baik bagi kamu dan bagi orang
yang mengharapkan menemui tuhan dan hari kemudian dan mengingati tuhan sebanyak
banyaknya” ( Al Qur’an : Al Ahzab 21 )

b. Al Hadits , didaalam Hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda


“ Kebajikan adalah sebaik-baik akhlaq, dan dosa adalah apa yang beredar didalam hatimu
yang kamu tidah suka apabila orang lain mengetahuinya” ( HR Muslin, Nawawi, Nasa’i )

2. Tujuan Pembelajaran Akhlaq
Tujuan pembelajaran akhlaq adalah merupakan bagian dari tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam, yang secara garis tujuan tersebut akan bermuara pada kedekatan seorang hamba dengan kholiqnya. Tujuan tersebut menurut :

a. Imam Al Ghozali, tujuan pembelajaran akhlaq adalah Kesempurnaan manusia yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesempurnaan manusia yang dimaksud adalah tercapainya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Tujuan inilah yang dimaksud dengan Insan Kamil, yang dalam mewujudkannya memerlukan proses yang amat panjang, tahapan-tahapan serta syarat-syarat yang amat banyak

b. Muhammad Athiyah Al Abrasi memaparkan tujuan pembelajaran akhlaq adalah :
 Membentuk akhlaq yang mulia
 Persiapan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat
 Persiapan mencari rizki dan memelihara segi kemanfaatannya

Dalam kaitannya kesempurnaan manusia, tujuan pembelajaran Akhlaq dapat dijabarkan sbb.

> Menyempurnakan hubungan manusia dengan kholiqnya
Semakin dekat dan terpeliharanya hubungan manusia dengan kholiqnya akan semakin tumbuh dan berkembang keimanan seseorang dan semakin terbuka pulalah kesadaran akan penerimaan rasa ketaatan dan ketundukan kepada segala perintah dan larangan Allah SWT.

> Menyempurnakan hubungan manusia dengan sesamnya.
Memelihara, memperbaiki dan meningkatkan hubungan antar manusia dan lingkungan
merupakan upaya manusi yang senantiasa harus dikembangkan terus menerus. Disinilah
terjadi interaksi sesama manusia, baik muslim maupun non muslim, sehingga tampak betapa
citra islam dalam masyarakat yang ditunjukkan oleh tingkah laku para pemeluknya.

< Mewujudkan keseimbangan , keserasian dan keselarasan hubungan manusia dengan
kholiqnya dan hubungan dengan sesama makhlqnya.
Adalah merupakan sikap dan usaha manusia yan g berkesinambungan untuk memperbaiki,
mengaktualisasikan kedua aspek tersebut secara serasi, seimbang dan selaras dalam bentuk
tindakan dan kegiatan sehari-hari, dan hal ini merupakan indikator pencapaian sejauhmana
tingkat kehambaan manusia terhadap kholiqnya.

2. Sifat- sifat Pembelajaran Akhlaq
Jika dibandingkan dengan pembelajaran pada materi pelajaran yang lain, maka pembelajaran akhlah mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda, ibarat uang logam yang memiliki dua permukaan yang berbeda. Sifat – sifat tersebut adalah :
a. Pembelajaran akhlaq mempunyai dua sisi kandungan
1. Sisi Keagamaan,yang merupakan wahyu ilahi dan sunah rasul, yang berisikan hal-hal mutlak dan berada pada luarjangkauan akal ( karena keterbatasan akal manusia )

2. Sisi Pengetahuan, tentang hal-hal yang dapat diindera dan diakli, yang berbentuk pengalaman – pengalaman fikir baik yang berasal dari wahyu, sunnah atau dari buah fikir positif dari pemeluknya ( budaya ) yang dapat dijadikan sebagai teladan.

b. Pembelajaran akhlaq bersifat memihak, tidak netral.
Pemihakan pembelajaran akhlaq terletak pada nilai tawar sebuah ajaran. Dalam pembelajaran
akhlaq yang benar adalah benar berdasarkan wahyu dan sunnah, yang harus dipegang sepanjang
hayat
c. Pengajarannya berupa Pembentukan Akhlaqul Karimah
Suatu pembelajaran yang lebih menekankan pada pembentukan hari nurani, menanamkan dan
mengembangkan sifat-sifat ilahiyah yang jelas dan pasti, baik dalam hubungannya dengan
tuhan dan sesama manusia
d. Pembelajaran akhlaq bersifat fungsional dan terpakai sepanjang masa
Semakin bertambah umur, semakin terasa oleh manusia kebutuhan dan keperluan akan agama.
Oleh karena itu fungsi penanaman akhlaqul karimah layak untuk ditanamkan sedini mungkin
agar dalam pengendalian diri manusia dalam menjalankan hidup senantiasa diwarnai oleh nilai-
nilai luhur ilahiyah.
e. Pembelajaran akhlaq tidak dapat dilakukan sepotong-potong
Pembelajaran agama pada umumnya dan akhlaq khususnya adalah bersifat konsentris dan terminal, sehingga walaupun diajarkan dari peserta didik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi sifatnya adalah memperdalam dan memperluas dasar-dasar pengetahuan yang secara utuh telah diterima pada lembaga-lemabaga pendidikan sebelumnya.

C. MATERI PEMBELAJARAN AKHLAQ
Materi pembelajaran akhlaq, tak dapat lepas dari materi pembelajaran aqidah akhlaq, dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Akhlaqul karimah akan muncul dengan sendirinya ketika seseorang telah menjalankan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan yang merupakan sisi uluhiyah dan ubudiyah dan telah mampu merasakan kelezatannya iman.
Secara garis besar materi pembelajaran aqidah akhlaq dari tingkat dasar sampai tingkat atas, meliputi : Materi Ubudiyah dan Keimanan dan Materi Akhlaqul Karimah

Secara singkat materi tersebut dapat digambarkan dalam bentuk pemetaan sebagai berikut :
No
Tingkatan
Pendidikan
Materi
Pembelajaran Substansi
Pembelajaran
1. MI Pengetahuan dan pemahanan rukun iman dengan sederhana, agar dihayati, diyakini, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dasar - dasar Uluhiyah
dan Keimanan
Menjadikan perilaku keimanan sebagai landasan hubungan sehari-hari dalam berhubunga dengan Allah SWT dan dalam hubungan dengan sesama manusia dan mkhlauq Akhlaqul Kaqimah
2 MTs Pendalaman dan pengembangan dari pemahaman rukun iman yang telah diterima pada lembaga pendidikan sebelumnya, untuk diamlkan dalam kehidupan sehari-hari, dan bekal untuk pendidikan berikutnya. 1. Pendalaman materi
uluhiyah dan keimanan dari
Pendidikan sebelumnya
2. Modal mengikuti
pendidikan berikutnya.
Menjadikan perilaku keimanan sebagai landasan hubungan sehari-hari yang lebih matang dalam berhubunga dengan Allah SWT dan dalam hubungan dengan sesama manusia dan mkhlauq Akhlaqul Karimah
3. MA Memberikan pengembangan pengetahuan pemahaman, dan penghayatan keimanan yang diaplikasihan dalam kehidupan sehari-hari Pengembangan
1. Pemahaman keimanan.
2 2. Penghayatan keimanan

Penghayatan dan pembentukan kepribadian muslim , dengan mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, dan berbudi luhur. 1. Pembentukan kepribadian muslim dengan Akhlaqul Karimah.


Dari gambaran pemetaan materi akhlaq pada lembaga pendidikan tingkat MI sampai dengan MA nampak jelaslah konsistensi pada karakteristiknya sebagai lembaga pendidikan dasar s/d menengah yang berciri khas islam. Hal ini tercermin pada indikasi sbb :
1. Pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah umum dijabarkan menjadi 5 mata pelajaran agama di lembaga pendidikan Madrasah
2. Suasana kehidupan madrasah yang agamis
3. Penggunaan metode, pendekatan, tehnis pembelajaran yang agamis.

D. SUMBER PEMBELAJARAN AKHLAQ
1. Al Qur’an
Al Qur’an merupakan wahyu – wahyu ilahi yang diturunkan Allah kepada rosulnya dengan perantara malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat manusia. Al Qur’an dipandang dari segi sunnah terbagi menjadi tiga bagian :
a. Al Qur’an mengandung hukum-hukum, yang menyangkut halal dan haram
b. Al Qur’an mengandung aqidah dan kepercayaan
c. Al Qur’an mengandung kisah-kisah dan cerita-cerita zaman lampau
Pada bagian kedua, Al Qur’an mengandung aqidah dan kepercayaan ini merupakan dasar utama pada pembelajaran Aqidah dan Akhlaq.
2. Al Hadits
Hadits atau Sunnah rosululloh SAW yang merupakan segala perkataan, perbuatan dan ketetapan nabi Muhammad SAW , sebagai pensyarah , penafsir dan penjelasan Al Qur’an . Dari Hadits inilah dapat diambil berbagai sumber pembelajaran akhlaq

E. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN AKHLAQ
1. Wawasan Tehnologi Pembelajaran Akhlaq
Tehnologi pembelajaran adalah “ Suatu proses yang komplek dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide peralatan dan organisasi, untuk menganalisis masalah, mencari pemecahan, melaksanakan evaluasi, dan mengelola pemecahan masalah – masalah dalam situasi dimana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan kontrol ( AECT, 1986 : 3 )
Dari situ dapat dipahami bahwa tehnologi pembelajaran bukan sebagai alat atau media akan tetapi lebih pada sebagai proses.
Jadi, Pembelajaran dapat dikatakan menggunakan pendekatan tehnologik, bilamana ia menggunakan pendekatn system dalam menganlisis masalah belajar, merencanakan, mengelola, melaksanakan dan menilainya.
Kalau kegiatan pembelajaran agama islam umumnya dan pembelajaran akhlaq khususnya hanya sampai penguasaan materi dan ketrampilan menjalankan ajaran agama, mungkin pembelajaran akhlaq dapat menggunakan pendekatan tehnologik, sebab proses dan produknya dapat diukur dan direncanakan ( dalam scenario pembelajaran ) sebelumnya, akan tetapi kalau pembelajaran agama Islam / akhlaq harus sampai pada taraf kesadaran iman dan pengamalan ajaran agam dalam kehidupan sehari-hari, maka pendekatan teknologik akan sulit diterapkan, karena mungkin proses dapat direncanakan akan tetapi produk / hasil pembelajarannya tidak bisa dirancang dan sulit diukur. Oleh karena itu , tidak semua pesan – pesan pembelajaran pendidikan Akhlaq dapat di dekati secara teknologik.
2. Wawasan Non Tehnologi Pembelajaran Akhlaq
Pembelajaran Agama ( akhlaq ) sebenarnya bisa dilakukan dengan menggunakan pendekatan tehnologik bilamana yang dikejar adalah menyangkut aspek kognitif atau psykomotor. Akan tetapi kalau yang dikejar adalah menyangkut masalah penanaman, pembentukan, penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai aqidah dan akhlaq agar mempribadi ke dalam peserta didik, maka pendekatan tehnologik dirasa tidak cukup. Karena itu diperlukan pendekatan-pendekatan lain yang bersifat non tehnologik.
Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka perlu ditentukan, dipilih, dirancang organisasi isi/materi pembelajaran aqidah akhlaq tersebut, bagaimana strategi penyampaiannya serta pengelolaannya. Pembelajaran Aqidah Akhlaq lebih menonjolkan aspek nilai, baik nilai ketuhanan maupun nilai kemanusiaan yang hendak ditanamkan dan dikembang tumbuhkan kedalam diri peserta didik, sehingga melekat pada dirinya dan menjadi kepribadian.
Menurut Noeng Muhadjir ( 1988 ) bahwa ada beberapa strategi yang bisa digunakan dalam pembelajaran nilai ( Aqidah – Akhlaq ) yaitu :
1. Pembelajaran nilai dengan menggunakan Strategi tradisional, yaitu dengan cara memberikan nasihat dan indoktrinasi. Dengan kata lain, strategi ini ditempuh dengan jalan memberitahukan secara langsung nilai-nilai mana yang baik dan yang buruk.
2. Pembelajaran nilai dengan menggunkan Strategi bebas, ( kebalikan strategi tradisional ), dimana guru / pendidik tidak memberitahukan kepada peserta didik mengenai nilai-nilai yang baik dan yang buruk, tetapi peserta didik justru diberi kebebasan sepenuhnya untuk memilih dan menentukan nilai mana yang akan diambilnya, karena nilai baik bagi orang lain belum tentu baik bagi peserta didik tersebut.
3. Pembelajaran nilai dengan menggunkan Strategi reflektif adalah pembelajaran dengan cara guru mondar-mandir antara menggunakan pendekatan teoritik ke dalam pendekatan empirik, atau mondar-mandir antara deduktif dinduktif.
Dalam penggunaan strategi tersebut, dituntut adanya konsistensi dalam penerapan kriteria untuk mengadakan analisis terhadap kasus-kasus empirik yang kemudian dikembalikan pada konsep teoritiknya. Strategi ini lebih relevan dengan tuntutan perkembangan berfikir peserta didik dan tujuan pembelajaran nilai untuk menumbuh kembangkan kesadaran rasional dan keluasan wawasan terhadap nilai tersebut
4. Pembelajaran nilai dengan menggunkan Strategi transinternal, adalah merupakan cara untuk membelajarkan nilai dengan jalan melakukan transformasi nilai, dilanjutkan dengan transaksi dan traninternalisasi. Dalam hal ini guru dan peserta didik sama-sama terlibat dalam proses komunikasi aktif, yang tidak hanya melibatkan kamunikasi verbal dan fisik, tetapi juga melibatkan kamunikasi batin ( kepribadian ) antara keduanya.

3. Karakteristik Pembelajaran Akhlaq

Setiap materi pembelajaran pasti terdapat karakteristik yang melekat dan tak dapat dipisahkan dari materi ajar. Karakter tersebut merupakan bagian-bagian yang saling berkesinambungan dari level pendidikan dasar sampai pada level pendidikan menengah. Dan dapat digambarkan bahwa karakter tersebut dari tingkat sederhara beransur kearah yang lebih mendalam. Pendalaman dari sebuah karakter pembelajaran biasa dituntaskan pada level pendidikan berikutnya. Jadi merupakan sebuah kelaziman jika pada pembelajaran akhlaq tersebut mempunyai karakter, tujuan dan target yang harus diupenuhi secara bertahap. Hal ini merupakan upaya pembentukan moral, budi pekerti dan akhlaq yang tidak dapat dibentuk dalam waktu sekejap, akan tetapi harus melalui proses yang panjang diantaranya dengan cara pembiasaan yang menjadi karakteristik materi akhlaq.
Karakteristik Pembelajaran Akhlaq pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah sekilas dapat digambarkan pada table berikut :




No Materi Akhlaq Karakteristik
Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah
1. Tauhid dan Keimanan - Memberikan pengetahuan
- Memberikan pemahaman
rukun iman secara sederhana
- Memberikan penghayatan
tauhid dan keimanan - Pendalaman Pengetahuan
- Pendalaman pemahaman
keimanan
- Pendalaman penghayatan
tauhid dan keimanan
- Dasar-dasar kajian tauhid dan
keimanan sebagai bekal
menempuh pendidikan yang
lebih tinggi
2. Akhlaq - Pemahaman akhlaqul karimah
- Pengamalan akhlaq Islam
- Pembiasaan akhlaq Islam
- Akhlaq sebagai bekal pada
pendidikan selanjutnya
( Akhlaq islam secara sederhan ) - Pendalaman akhlaqul karimah
- Pendalaman akhlaq Islam
- Menanamkan dasar-dasar utama
kepribsdisn mudlim
- Membentuk kepribadian muslim
- Pencerminan akhlaq dalam
kehidupan sehari-hari sebagai
perwujudan insane yang
beriman dan bertaqwa
- Pembiasaan akhlaq Islam untuk
dilaksanakan dalam kehidupan
sehari – hari
( Akhlaq Islam lebih luas )

4. Pendekatan, Metode dan Tehnik Pendidikan Akhlaq
Keterkaitan antara pendekatan, metode dan teknik dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan akhlaq dapat digambarkan sebagai berikut.











Pendekatan dalam pembelajaran Pendidikan Akhlaq ( Baca GBPP PAI SMU dan GBPP Aqidah Akhlaq MTs, Kurikulum 1994 ) pada intinya terdapat enam pendekatam :
- Pendekatan Pengalaman
- Pendekatan Pembiasaan
- Pendekatan Emosional
- Pendekatan Rasional
- Pendekatan Fungsional
- Pendekatan Keteladanan
Yang kemudian dijabarkan kedalam metode-metode :

a. Metode Dogmatik, adalah metode untuk mengajarkan nilai kepada peserta didik dengan jalan menyajikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang harus di terima apa adanya, tanpa mempersoalkan hakekat kebenaran dan kebaikan itu sendiri.
Sisi lemahnya adalah, siswa kurang mampu mengembangkan kesadaran rasional, dan jika menghayati nilai-nilai kebenaran maka penerimaanya cenderung dangkal dan terpaksa.

b. Metode Deduktif, adalah cara penyajian nilai-nilai kebenaran ( katuhanan dan kemanusiaan ) dengan jalan menguraikan konsep tentang kebenaran itu agar dipahami oleh peserta didik. Kemudian ditarik beberapa contoh kasus terapan dalam kehidupan sehari-hari.
Sisi baiknya, adalah bagi peserta didik pemula dalam mempelajari nilai, karena mereka terlebih dahulu dikenalkan pada nilai atau konsep kebenaran secara umum, kemudian ditarik rincian –rincian lebih khusus dan mendetail serta dikaitkan dengan kasus-kasus yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat.

c. Metode Induktif, atau kebalikan dari metode deduktif, yakni disajikan berbagai bentuk kasus yang terjadi dalam masyarakat, kepada peserta didik untuk kemudian ditarik maknanya secara hakiki tentang nilai-nilai kebenaran yang berada dalam kehidupan tersebut.
Sisi baiknya, sangat cocok untuk diterapkan kepada peserta didik yang sudak memiliki kemampuan berfikir abstrak, sehingga mampu mengambil kesimpulan pemikiranya untuk di abstrakkan.
Sisi lemahnya, kadang-kadang dalam mengembalikan antar berbagai kasus yang sama diberikan penilaian yang berbeda – beda sehingga bisa menimbulkan kebingungan pada siswa.
d. Metode reflektif , adalah gabungan dari metode deduktif dan induktif yakni metode yang mondar-mandir antara ; memberikan konsep secara umum tentang nilai-nilai kebenaran , kemudian melihatnya berbagai kasus sehari-hari atau dari melihat berbagai kasus sehari-hari kemudian dikembalikan kepada konsep teoritiknya yang umum.
M Chatib Thoha, dalam bukunya menegaskan bahwa menggunakan metode ini guru dituntut menguasai materi ajar dan memiliki daya nalar tinggi untuk mengembalikan setiap kasus dalam tataran konsep nilai itu.
Berbagai metode tersebut diatas, selanjutnya perlu untuk dijabarkan secara rinci dalam tehnik pembelajaran, diantaranya ialah ;

1. Tehnik Indoktrinasi, prosedur dari teknik ini meliputi;
- Tahap brainwashing ( merusak terlebih dahulu nilai yang sudah terbentuk pada anak )
- Tahap penanaman fanatisme ( menanamkan nilai-nilai baru pada anak untuk difahami agar
diterima secara emosional )
- Tahap penanaman doktrin ( mengerucutkan sebuah nilai kebenaran dengan tidak memberikan
opsi kebenaran yang lainya ). Untuk menerapkan tehnik ini, pendidik dapat menggunakan
pendekatan emosional dan keteladanan.
2. Tehnik moral reasoning, meliputi tahapan-tahapan sbb
- Menyajikan dilema moral
- Pembagian kelompok diskusi
- Diskusi kelas ( klarifikasi nilai )
- Menentukan alternatif dan konsekwensi nilai.
- Mengorganisir nilai-nilai dalam diri siswa

3. Teknik meramalkan konsekwensi, yang merupakan terapan dari pendekatan rasional, langkah-
langkahnya adalah sbb ;
- Penyajian kasus dalam cerita
- Penyajian pertanyaan yang terkait dengan kasus dalam cerita
- Upaya membandingkan nilai
- Meramalkan konsekwensi
4. Teknik klarifikasi, sebuak tehnik untuk membantu anak dalam menentukan nilai kebenaran.
Tahapan-tahapannya adalah sbb
- Pemberian contoh
- Mengenal kelebihan dan kekurangan dari nilai-nilai
- Mengorganisir tata nilai pada siswa

5. Teknik internalisasi, teknik ini lebih menekankan pada pemilihan nilai dengan disertai wawasan
yang cukup luas dan mendalam, sehingga bisa menyatu pada kepribadian siswa yang akan mem
bentuk karakteristik dari siswa tersebut. Tahapan yang bisa dilakukan adalah
- Transformasi nilai
- Transaksi nilai
- Transinternalisasi (menyimak, menanggapi, memberi nilai, mengorganisir, karakteristik dari
nilai-nilai )

5. Keterpaduan Sistem dalam Pembelajaran Akhlaq
Akhlaqul karimah adalah sebuah dambaan bagi setiap insan, yang dalam pencapaiannya tidak semudah meraih ilmu pengetahuan ( knowledge ). Untuk pencapaian nilai-nilai akhlaq yang maksimal, dirasa sangat perlu mewujudkan beberapa keterpaduan.

1. Keterpaduan 3 ( tiga ) macam lingkungan pendidikan.
- Lingkungan Pendidikan dalam keluarga
- Lingkungan Pendidikan dalam Sekolah
- Lingkungan Pendidikan dalam masyarakat

2. Keterpaduan pembelajaran Pendidikan Agama
- Terpadu antar proses pembelajarannya
- Terpadu materi ajarnya
- Terpadu penyelenggarannya

Keterpaduan penyelenggaraan dapat dilakukan melalui
- Keterpaduan penyelenggaraan antar unit. Dalam hal ini unit-unit dilingkungan departemen agama,
seperti menangani di bidang agama, harus melihat keterpaduannya sebagai pendidikan agama
jalur luar sekolah.
- Keterpaduan antar sektor, yang dalam hal ini perlu keterpaduan antar instansi, Departemen Agama
Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Dalam Negeri .
- Keterpaduan lintas organisasi masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, yang dalam hal ini
perlu adanya keterpaduan untuk organisasi masyarakat ( Persatuan orang tua murid, Komite
Sekolah dll ) dan organisasi kemasyarakatan untuk bersatu padu mendukung berlangsung
nya pendidikan dan mendukung tugas pembelajaran pendidikan agama Islam.

F. EVALUASI
Evaluasi terhadap pembelajaran akhlaq pada dasarnya adalah penilaian terhadap :
1. Kesadaran dan kedalaman keimanan peserta didik kepada Allah SWT yang bermuara pada kesadaran seseorang untuk melaksanakan ibadah sesuai syari’at.
2. Penerapan dari nilai-nilai kebenaran yang bermuara pada terbentuknya tingkah laku, budi pekerti, adab kesopanan, tabiat yang tumbuh dan berkembang dari kesucian hati sebagai bentuk pengakuan terhadap nilai-nilai kebenaran yang telah diterima

Oleh karena itu evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran akhlaq tidak dapat diukur sebagaimana mengukur keberhasilan terhadap materi ajar yang lain. Akan tetapi walaupun sulit diukur tingkat keberhasilannya, bukan berarti guru tidak usah mengukur keberhasilan itu.
Kelangsungan atas keseimbangan lingkungan dan pengaruh budaya pada masyarakat
juga akan sangat mempengaruhi produk dari pendidikan akhlaq, oleh karena itu perlu ditekankan lagi pentingnya ; kontrol dari orang yang lebih tua, pergaulan harus tetap dijaga, keteladanan dari seorang guru juga sangat menentukan. Dalam hal keteladanan, didalam memori peserta didik sangat kuat tersimpan dalam memorinya, nah ketika suatu saat figur yang diteladani melakukan sesuatu hal yang tidak terpuji maka akan menimbulkan pemikiran peserta didik untuk mereview kembali nilai – nilai yang telah diyakini dan akan bermuara pada lunturnya nilai-nilai tersebut pada anak. Oleh karenanya, keteladanan tersebut tidak dapat dibatasi oleh waktu dan harus selalu diberikan sampai akhir hayat.




B A B III
P E N U T U P
A. ANALISIS
Pada akhir pembahasan ini, baikalah kami sampaikan sedikit analisis terhadap metode pembelajaran akhlaq, sebagai bahan renungan kita untuk dapat berbuat yang lebih inovatif agar tingkat ketercapaian pembelajaran akhlaq dapat sesuai yang kita harapkan:
Analisis Tingkat Keberhasilan Pembelajaran Akhlaq MI Negeri Mergayu
Nama Sekolah : MI Negeri Mergayu
Kelas / Semester : VI / I
Jumlah Siswa (smple) : 10 anak
Sasaran penilaian : Akhlaq terhadap sesama teman
Guru Mata Pelajaran : Winarsih, A Ma

No
Pre
sensi Nilai – nilai yang ditanamkan Alasan
melakukan Alasan tidak melakukan Catatan Guru
Berdasarkan
Orang tuanya
Penyayang Kebersamaan bermain Tolong menolong Kebersamaan diskusi Kebersamaan pikt kls Berjabat tangan Mengucapkan salam Mencontoh orng tua Mencontoh televisi Mencontoh guru Mencontoh orang tua Mencontoh televisi Mencontoh guru
1 K TP K S S K S Anak pendiam
2 K S K S S S S Anak guru
3 K K K S K S S Rumah jauh
4 S S S S K S S Rumah jauh
5 S TP K K K K S Ortu Masakot
6 K TP K S S K k Pendiam
7 S TP K K K K S Anak minder/pendian
8 S S S S K S S Anak tokoh masrkt
9 K K K S K S S Anak Kpl Desa
10 K S K S S S S Anak kiai

Penjelasan
S = Selalu
K = Kadang2
TP= Tdk pernah

Sekilas analisa tersebut adalah hanya sebagai sampling secukupnya dari sebagian anak dalam satu kelas untuk dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran akhlaq di MI Negeri Mergayu Kec. Bandung Tulungagung. Sehingga sekilas dapat diambil gambaran sebuah kesimpulan
bahwa :
1. Budaya salam sudah bagus tertanam pada anak
2. Pengaruh lingkungan sekolah / guru cukup
3. Pengaruh lingkungan keluarga cukup
4. Pengaruh media televisi masih terasa dampaknya

REKOMENDASI
Agar pencapaian tujuan pembelajaran akhlaq jauh dapat dirasakan , baik oleh anak, orang tua ataupun masyarakat kami merekomendasikan
1. Pengendalian anak dari budaya menonton televisi yang berlebihan
2. Keteladanan orang tua adalah penting bagi perkembangan kejiwaan anak.
3. Keteladanan Guru sangat diharapkan baik oleh anak maupun wali murid.
4. Mengalihkan budaya menonton televisi yang banyak mengandung muatan-muatan kekerasan dengan menyediakan media elektronik alternatif yang lebih menekankan nilai-nilai pedagogis pada anak, sebagai bentuk penyaluran kemauan anak untuk ingin selalu tahu.

B. K E S I M P U L A N

1. Pengertian Metode Pembelajaran Akhlaq adalah serangkaian cara yang terencana untuk mencapai tujuan yang ditentukan, dalam sebuah interaksi yang saling berhubungan untuk membentuk tingkah laku, budi perkerti mulia dan bernilai uluhiyah yang tinggi
2. Pendekatan tehnologik dirasa tidak cukup untuk membuat pembelajaran akhlaq bisa maksimal dalam pencapaian tujuannya, akan tetapi diperlukan pendekatan-pendekatan lain yang bersifat non tehnologik.
3. Pendekatan, metode dan tehnik yang bermuara pada keteladanan adalah sebuah pola yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran akhlaq.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar