STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 25 November 2011

KONSEP ILMU DAN DALALAH

BAB I
PENDAHULUAN
Sesungguhnya Ilmu Mantiq membahas tentang fikiran-fikiran dan persesuaiannya dengan undang-undang berfikir, dari itulah maka hubungan ilmu mantiq ialah dengan fikiran-fikiran. Tidak ada sangkut pautnya dengan lafadh; tetapi dikarenakan lafadh itu sebagai tanda yang menunjukkan kepada maksud dan pengertian, maka untuk mengambil faidah makna-makna itu, tidak terlepas dari hubungannya dengan lafadh-lafadh itu menunjukkan atas nama dan petunjuk lafadh itu, dengan arti memahami makna dari lafah. Dari sinilah akan dibahas tentang petunjuk-petunjuk atas makna-makna secara umum. Jadi pengertian dilalah (petunjuk), memahami sesuatu dari sesuatu yang lain (fahmu amrin min amrin), amrin pertama dinamakan mad-lul sedangkan amrin yang kedua merupakan dalal. Untuk memahami lebih jauh tentang Ilmu dan Dilalah, sedikit banya penulis menguraikan yang menyangkut Konsep Ilmu dan Dilalah.

BAB II
PEMBAHASAN
Konsep Ilmu dan Dilalah
  1. A. Ilmu
Ilmu merupakan pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.[1]
Menurut Prof. KH. M Taib Thahir Abd. Mu’in, ilmu adalah mengenal sesuatu yang belum dikenal.[2] Menurut Muhammad Nur Al-Ibrahim mengemukakan pengertian ilmu menurut ahli mantik sb : Pencapaian objek yang belum diketahui dengan cara meyakini atau menduga keadaannya bisa sesuai dengan realita atau sebaliknya.[3]

Ilmu pengetahuan merupakan cara untuk menghasilkan dan menguji kebenaran pernyataan mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di dunia pengalaman manusia.
Paling tidak ada empat cara untuk menghasilkan dan menguji kebenaran pernyataan empiris, yaitu:
1)      Otoriter, pencapai pengetahuan yang berbobot (ketua adat, uskup, raja, dll).
2)      Mistik, sebagian dihubungkan dengan cara otoriter seperti para wali, pelantara, dewa-dewa, dll. Otoriter lebih berorientasi bagaimana sosial sedangkan mistik bersumber dari bribadi pemakai.
3)      Logika Rasional, sejalan dengan pemikiran sosial.
4)      Cara Ilmiah, menggabungkan suatu kepercayaan terhadap akibat yang diamati.[4]
Ilmu menurut para pakar Mantiq, adalah mengerti dengan yakin atau mendekati yakin (zhan) mengenai sesuatu yang belum diketahui, baik paham itu sesuai dengan realita maupun tidak
Contoh:
Anda, ketika berada dalam sinar cahaya bulan yang samara-samar, kebetulan melihat baying-bayang hitam setinggi manusia. Anda lantas memahami bahwa bayang-bayang itu adalah bayangan manusia dan anda yakin akan paham anda itu. Kebetulan, ternyata bahwa bayang-bayang itu adalah benar bayangan manusia. Pemahaman anda itu merupakan lmu yang yakin dan sesuai dengan realitas (ilmu yaqini muthabiq lil-waqi’) akan tetapi, jika anda mempunyai pengertian yang mendekati yakin (zhan) bahwa bayang-bayang itu adalah bayangan manusia.Kebetulan, ternyata bahwa bayang-bayang itu adalah benar bayangan manusia. Maka pengertian anda itu merupakan ilmu yang mendekati yakin (zhan) dan sesuai dengan realitas (ilmun zhanni muthabiq lil-waqi’).
Sebaliknya dari contoh diata, ada Ilmun yaqimi ghairu muthabiq lil-waqi’ dan Ilmun zhanni ghairu mhuntabiq lil-waqi’.
Pembagian Ilmu Menurut Para Pakar Mantiq
Para pakar mantiq membagi ilmu sebagai berikut:
Ilmu
  1. Tashawwur
  1. Badihi
  2. Nazhari
  3. Badihi
  4. Nazhari
  1. Tashdiq
1. Tashawwur
Tashawwur, yaitu memahami memahami sesuatu tanpa mengenaka (meletakkan) sesuatu (sifat) yang lain kepadanya, seperti memahami kata Husein, manusia, kerbau, rumah, gunung dan sebagainya. Tashawwur juga bisa diartikan dengan mengetahui hakikat-hakikat objek tunggal dengan tidak menyertakan penetapan kepadanya atau meniadakan penetapan drinya.[5]
2. Tasdhiq
Tasdhiq, yaitu memahami hubungan antara dua kata, atau menempatkan sesuatu (kata) atas sesuatu (kata) yang lain. Ketika anda memahami Husein tanpa menetapkan sesuatu yang lain kepadanya maka ilmu anda mengenai Husein itu Tashawwur. Tetapi, ketika anda mengatakan Husein sakit, berarti anda memahaminya dengan menetapkan (meletakkan) sakit kepada Husein. Pemahaman anda pada waktu itu sudah berpindah dari Tashawwur kepada Tashdiq.
Ilmu Tashawwur dan Tashdiq masing-masing dibagi menjadi dua, yaitu Badihi dan Nazhari.
a. Badihi
Pemahaman  tentang sesuatu yang tidak memerlukan pikiran atau penalaran, seperti mengetahui diri merasa lapar karena terlambat makan; mangetahui diri merasa dingin karena tidak memakai jaket, mengetahui satu adalah setengah dari dua, dan semacamnya.
b. Nazhari
Pemahaman (Ilmu) yang memerlukan pemikiran, penalaran atau pembahasan, seperti ilmu tentang matematika, gas bumi, kimia, teknologi radio, televisi, komputer dal semacamnya. Demikian juga halnya dengan ilmu pengetahuan tentang alam sebagai sesuatu yang baharu yang harus ada penciptanya, termasuk ilmu pngetahuan tentang alam kubur dan kebangkitan di hari akhirat.
  1. B. Dilalah
Dilalah adalah memahami sesuatu dari sesuatu yang lain, sesuatu yang pertama disebut al-madhul. dan segala sesuatu yang kedua disebut. Al-Dall (Petunjuk, penerang atau yang memberi dalil).
Contoh:
Terdengan raungan harimau di suatu semak adalah dilalah bagi adanya harimau di dalam semak tersebut.
Pembagian Dilalah
Dilalah:
  1. Lafzhiyah
  1. Thabi’iyah
  2. ‘Aqliyah
  3. Wadh’yah
1)      Muthabaqiyah
2)      Tadhammuniyah
3)      Iltizamiyah
  1. Ghairu Lafzhiyah
  1. Thabi’iyah
  2. Aqliyah
  3. Wadh’yah.
يمكننا اللإستعانة بالرسم البياني التالي لتوضيح أقسم الدلالة[6]:
Skema di atas menunjukkan bahwa Dilalah terbagi menjadi dua, yaitu Dilalah Lafzhiyah  dan dilalah ghairu Lafzhiyah.
1. Dilalah Lafzhiyah
Dilalah lafzhiyah adalah Petunjuk yang berupa kata atau suara. Dilalah ini terbagi menjadi tiga:
  1. Dilalah Lafzhiyah Thab’iyah, yaitu dilalah (petunjuk) yang berbentuk alami (‘aradh thabi’i).
Contoh:
  • Tertawa terbahak-bahak menjadi dilalah untuk gembira.
  • Menangis terisak-isak menjadi dilalah bagi sedih.
  1. Dilalah Lafzhiyah ‘Aqliyah, yaitu dilalah (petunjuk) yang dibentuk akal pikiran.
Contoh:
  • Suara teriakan di tengah hutan menjadi dilalah bagi adanya manusia di sana.
  • Suara teriakan maling di sebuah rumah menjadi dilalah bagi adanya maling yang sedang melakukan pencurian.
  1. Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah, yaitu dilalah (petunjuk) yang dengan sengaja dibuat oleh manusia untuk suatu isyarah atau tanda (apa saja) berdasar kesepakatan.
Contoh:
Petunjuk lafadz (kata) kepada makna (benda) yang disepakati:
  • Orang Sunda, misalnya sepakat menetapkan kata cau menjadi dilalah bagi pisang.
    • Orang Jawa, misalnya sepakat menetapkan kata gedang menjadi dilalah bagi pisang.
    • Orang Inggris, misalnya sepakat menetapkan kata banana menjadi dilalah bagi pisang.
Adapun Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah menjadi ajang pembahasan para pakar mantiq.
Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah dibagi menjadi tiga:
  1. Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah Muthabaqiyah, yaitu dilalah lafadz (petunjuk kata) pada makna selengkapnya.
Contoh:
Kata rumah memberi petunjuk (dilalah) kepada bangunan lengkap yang terdiri dari dinding, jendela, pintu, atap dan lainnya, sehingga bisa dijadikan tempat tinggal yang nyaman. Jika anda menyuruh seorang tukang membuat rumah, maka yang dimaksudkan adalah rumah selengkapnya, bukan hanya dindingnya atau atapnya saja.
  1. Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah Tadhammuniyah, yaitu dilalah lafadz (petunjuk kata) kepada bagian-bagian maknanya.
Contoh:
Ketika anda mengucapkan kata rumah, kadang-kadang yang anda maksudkan adalah bagian-bagiannya saja.
Jika anda, misalnya menyuruh tukang memperbaiki rumah maka yang anda maksudkan bukanlah seluruh rumah, tetapi bagian-bagiannya yang rusak saja.
Jika anda meminta dokter mengobati badan anda, maka yang dimaksudkan adalah bagian yang sakit saja.
  1. Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah Iltizamiyah, yaitu dilalah lafadz (petunjuk kata) kepada sesuatu yang di luar makna lafadz yang disebutkan, tetapi terikat amat erat terhadap makna yang dikandungnya.
Contoh:
Jika anda menyuruh tukang memperbaiki asbes rumah anda yang runtuh, maka yang anda maksudkan bukan asbes-asbesnya saja, tetapi juga kayu-kayu tempat asbes itu melekat yang kebetulan sudah patah-patah. asbes dan kayu yang menjadi tulangnya terkait amat erat (iltizam). Jika kerusakan asbes itu disebabkan kebocoran di atap maka perbaikan atap iltizam (menjadi keharusan yang terkandung dan terikat) kepada perintah memperbaiki asbes loteng itu.
2. Dilalah Ghairu Lafzhiyah
Dilalah ghairu lafzhiyah adalah petunjuk yang tidak berbentuk kata atau suara. Dilalah ini terbagi tiga:
a. Dilalah Ghairu Lafzhiyah Thabi’iyah, yaitu dilalah (petunjuk) yang bukan kata atau suara yang berupa sifat alami.
Contoh:
  • Wajah cerah menjadi dilalah bagi hati yang senang.
  • Menutup hidung menjadi dilalah bagi menghindarkan bau kentut dan sebagainya.
b. Dilalah Ghairu Lafzhiyah ‘Aqliyah, yaitu dilalah (petunjuk) yang bukan kata atau suara dibentuk akal pikiran.
Contoh:
  • Hilangnya barang-barang di rumah menjadi dilalah adanya pencuri yang mengambil.
  • Terjadinya kebakaran di gunung menjadi dilalah bagi adanya orang yang membawa api ke sana.
c. Dilalah Ghairu Lafzhiyah Wadh’iyah, yaitu dilalah (petunjuk) bukan berupa kata atau suara yang dengan sengaja dibuat oleh manusia untuk suatu isyarah atau tanda (apa saja) berdasar kesepakatan.
Contoh:
Petunjuk lafadz (kata) kepada makna (benda) yang disepakati:
  • Secarik kain hitamyang diletakkan di lengan kiri oarang Cina adalah dilalah bagi kesedihan/ duka cita, karena ada anggota keluarganya yang meninggal.
  • Bendera kuning dipasang di depan rumah orang Indonesia pada umumnya, menggambarkan adanya keluarga yang meninggal.

BAB III
Kesimpulan
Ilmu
Ilmu menurut para pakar Mantiq, adalah mengerti dengan yakin atau mendekati yakin (zhan) mengenai sesuatu yang belum diketahui, baik paham itu sesuai dengan realita maupun tidak.
Pembagian Ilmu Menurut Para Pakar Mantiq
Tashawwur, yaitu memahami memahami sesuatu tanpa mengenaka (meletakkan) sesuatu (sifat) yang lain kepadanya.
Tasdhiq, yaitu memahami hubungan antara dua kata, atau menempatkan sesuatu (kata) atas sesuatu (kata) yang lain.
Ilmu Tashawwur dan Tashdiq masing-masing dibagi menjadi dua, yaitu:
Badihi, mahaman  tentang sesuatu yang tidak memerlukan pikiran atau penalaran.
Nazhari, Pemahaman (Ilmu) yang memerlukan pemikiran, penalaran atau pembahasan.
Dilalah
Dilalah adalah memahami sesuatu dari sesuatu yang lain.
Pembagian Dilalah
Dilalah Lafzhiyah
Dilalah lafzhiyah adalah Petunjuk yang berupa kata atau suara. Dilalah ini terbagi menjadi tiga:
1. Dilalah Lafzhiyah Thab’iyah, yaitu dilalah yang berbentuk alami.
2. Dilalah Lafzhiyah ‘Aqliyah, yaitu dilalah  yang dibentuk akal pikiran.
3. Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah, yaitu dilalah yang dengan sengaja dibuat oleh manusia untuk suatu isyarah atau tanda berdasar kesepakatan.
Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah dibagi menjadi tiga:
a. Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah Muthabaqiyah.
b. Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah Tadhammuniyah.
c. Dilalah Lafzhiyah Wadh’iyah Iltizamiyah.
Dilalah Ghairu Lafzhiyah
Dilalah ghairu lafzhiyah adalah petunjuk yang tidak berbentuk kata atau suara. Dilalah ini terbagi tiga:
1.   Dilalah Ghairu Lafzhiyah Thab’iyah, yaitu dilalah yang berupa sifat alami.
2.   Dilalah Ghairu Lafzhiyah ‘Aqliyah, yaitu dilalah yang dibentuk akal pikiran.
3.   Dilalah Ghairu Lafzhiyah Wadh’iyah, yaitu dilalah yang dengan sengaja dibuat oleh manusia untuk suatu isyarah atau tanda berdasar kesepakatan.

DAFTAR PUSTAKA
A, Baihaqi, Ilmu Mantiq Teknik Dasar Berpikir Logika, Darul Ulum Press.
Sambas, Syukriadi Mantik Kaidah Berpikir Islami. 1996, Bandung : Remaja Rosda Karya.
Thahir, M Taib, Abd. Mu’in. 1987. Ilmu Mantiq (Logika). Jakarta: PT Bumi Restu.
Wallace, L. 1990. Metode Logika Ilmu Sosial. Terjemah: Yayasan Solidaritas Agama. Koordinator: Lailil Kadar. Jakarta: Bumi Aksara.
احمد شمس الدين. ه 1410\ م 1990. معيار العلم في المنطق. دارالكتب علمية: يرت لبنون.

[1] H. Baihaqi A. K , Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logika, Darul Ulum Press. Hal 9
[2] KH. M Taib Thahir Abd Mu’in, Ilmu Mantik ( logika). 1987, Jakarta : PT Bumi Restu. Hal, 21
[3] H. Syukriadi Sambas, Mantik Kaidah Berpikir Islami. 1996, Bandung : Remaja Rosda Karya. Hal, 40
[4] Wallace, L. 1990. Metode Logika Ilmu Sosial. Terjemah: Yayasan Solidaritas Agama. Koordinator: Lailil Kadar. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 1-3
[5] H. Baihaqi A. K , Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logika, Darul Ulum Press. Hal 10
[6]احمد شمس الدين. ه 1410\ م 1990. معيار العلم في المنطق. دارالكتب علمية: يرت لبنون.  44ص

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar