STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 26 November 2011

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT BEDIUZZAMAN SAID NURSI (1876-1960) DAN RELEVANSINYA TERHADAP PARADIGMA INTEGRASI-INTERKONEKSI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI YOGYAKARTA


A. Latar Belakang
Pendidikan Islam pernah menjadi imam dari berbagai negara-negara benua Eropa antara abad ke IX–XII. Salah satu faktor utama yang menyebabkan kemajuan umat Islam pada saat itu dikarenakan para cendikiawan muslim sungguh-sungguh mengimani dan mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam sebagaimana tersurat dalam Al-Qur'an. Sekaligus mereka menganggap agama Islam adalah salah satu ilmu berbasis ajaran (transendental) dalam kehidupan, kemudian adanya motivasi (spirit) Agama. Faktor yang lain, keunggulan ekonomi dan ada dukungan serta perlindungan oleh sang penguasa. Maka muncullah para cendikiawan muslim terkemuka, seperti Al-Farabi dengan ilmu Fisika, Metafisika, dan Ibnu Sina dengan ilmu kedokteranya.

Kemajuan sistem pendidikan tersebut diraih pada zaman khalifah Harun Al-Rasyid (170 -193H/786 -809M) yang terkenal dengan Baitul Hikmah atau pusat ilmu di Bagdad dan diteruskan oleh khalifah Al-Makmun (198-218 H/813-833M). Di Baitul Hikmah diajarkan secara terintegrasi ilmu-ulmu agama Islam dan ilmu-ilmu hikmah (Ilmu Fisika, Kimia, Matematika, Astronomi, Kedokteran, dan lain-lain). Pemisahan hanya pada jurusan/keahlian yaitu ilmu-ilmu naqliah dan ilmu-ilmu aqliah. Pada jurusan ilmu naqliah diajarkan tafsir Al-Qur’an, Hadist, Fiqhi, dan Ushul Fiqhi, Akhlak, Nahu/ Sharaf, Balaghah, Bahasa Arab dan kesusastraannya. Untuk jurusan/keahlian ilmu-ilmu aqliah diajarkan Fisika, Kimia, Matematika, Astronomi, Biologi, Kedoketran, Musil, Mantik.
Majunya umat Islam pada zaman keemasan Islam adalah sebagai hasil dari sistem pendidikan terintegrasi antara etika dan logika dan tersedianya anggaran pemerintah dan pengembangan SDM. Tujuan pendidikan pada masa itu adalah keagamaan dan akhlak, untuk mentaati ajaran agama dan berakhlak mulia/islami, kemasyarakatan, cinta ilmu pengetahuan dan kehidupan dunia untuk mencapai kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal.
Kemudian, pada era selanjutnya (pasca abad XII) berbagai macam respon negatif umat Islam terhadap ilmu pengetahuan sains dan teknologi sehingga menyebabkan runtuhnya masa keemasan (the golden age). Menurut Profesor Sabra (Harvard) dan David King (Frankfurt), kemunduran itu dikarenakan pada masa berikutnya, kegiatan saintifik lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis
agama. Aritmatika dipelajari karena penting untuk menghitung pembagian harta warisan. Astronomi dan geometri diajarkan terutama untuk membantu para muwaqqit menentukan arah kiblat dan menetapkan jadwal shalat. Implikasinya, terhadap sistem pendidikan terdikotomi (pendidikan agama dan umum).
Kita dapat menemukan penyebab mundurnya pendidikan Islam dikarenakan ada dua corak pemikiran yang selalu mempengaruhi cara berpikir umat Islam. Pertama, pemikiran tradisional (orthodox) bercirikan sufistik (yang dipengaruhi oleh faktor internal). Kedua, pemikiran rasionalis yang berciri liberal, inklusif, inovatif dan konstruktif (dipengaruhi dari faktor eksternal). Yang pada dasarnya pada masa keemasan (pereode klasik) corak tersebut tidak ada, karena orang Islam tidak harus memilih mana yang harus dipelajari baik ilmu-ilmu agama yang bersumber pada wahyu maupun ilmu pengetahuan yang bersumber melalui nalar berfikir.
Keadaan seperti itu berlanjut sampai berakhirnya masa Kerajaan Turki Usmani. Tercatat bahwa penguasa Turki Usmani lebih cenderung untuk menegakkan suatu paham keagamaan saja dan menekan (pressure) kepada madzhab lain. Akibatnya dari itu semua adalah terjadinya kelesuan intelektual di bidang ilmu keagamaan dan mulai berkembang dan merajalelanya sikap fanatik yang berlebihan kepada satu madzhab atau syaikh, karena itu ijtihad hampir-hampir tidak dapat berkembang.
Namun salah satu penyebab fundamental dari itu semua adalah oposisi dikuasai kaum konservatif yang mengaku demokratis, sehingga mengakibatkan krisis ekonomi dan politik profetik. Jatuhnya kota Baghdad di tangan Hulagu Khan pada tahun 1250 M. bukan saja pertanda yang awal dari berakhirnya supremasi Khilafah Abbasyiyah dalam dominasi politiknya, tetapi berdampak sangat luas bagi perjalanan sejarah umat Islam yang dikenal sebagai titik awal kemunduran umat Islam di bidang Politik dan Peradaban Islam yang selama berabad-abad lamanya menjadi kebanggaan umat.
Pada masa jayanya kota Baghdad dikenal secara luas adalah pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah Ilmu Pengetahuan dan filsafat yang telah berhasil mengguli kota-kota lain yang dikenal sebagai pusat peradaban manusia. Dengan dibumihanguskannya kota Baghdad berikut kekayaan intelektual yang ada didalamnya, maka berakhirlah kebesaran pemerintahan Islam masa lalu, baik dalam wilayah kekuasaan maupun intelektual.
Hal serupa juga telah terjadi di Turki (pasca runtuhnya Usmaniyah), pada masa revolusi Turki di bawah pemerintahan Kamal Ataturk menjadi negara sekuler. Pada tahun 1924, merupakan sejarah hitam buat Kerajaan Usmaniyah apabila Kamal Ataturk menguasai Turki. Sistem Khalifah yang menjadi tanda kekukuhan negara Islam, mansuh akibat pengaruh Barat pimpinannya. Pada 1 November 1922, telah berlangsungnya Perhimpunan Nasional, yang menjatuhkan kesulatanan di Turki, 3 Maret 1924, jatuhnya khalifah Islam, 1925 tertutupnya arahan-arahan sufi dimansuhkan, 1 Januari 1926, Kod Sivil Swiss dipakai guna di Turki, 3 November 1928, penggunaan bahasa Arab diharamkan dan bahasa latin digunakan, Januari 1932, azan bahasa arab diharamkan. Semua ini berlaku di sekitar pemerintahan Mustafa Kemal.
Oleh karenanya, Said Nursi salah satu intelektual Islam progresif yang hidup pada masa pemerintahan itu, beliau selalu melakukan gerakan-gerakan forntal yang salah satunya melalui pendidikan. karena pengalamannya semasa menuntut ilmu memberikan kesedaran pada beliau betapa perlunya dilakukan perubahan terhadap sistem reformasi pendidikan. Pengalaman dan perjalanan intelektual tersebut telah mengantarkan Said Nursi menelurkan ide dan konsep pendidikan yang mengintegrasikan antara pendidikan agama dengan pendidikan sekular. Beliau hidup di zaman di mana sains dan logika yang mengambil peran sangat penting. Saat itu beliau khawatir akan muncul ketidakseimbangan bila pendidikan agama dan sains modern tidak diintegrasikan. Mengenai usahanya ini beliau mengatakan: "Dengan cara ini, pelajar di sekolah modern dapat dilindungi dari kekufuran, dan pelajar di sekolah modern bisa dilindungi dari sikap fanatisme."
Dalam hal ini, Nursi terus berusaha untuk merealisasikan diri umat Islam sebagai yang harus dicontoh. Pengamatan dan kesedaran Nursi itu telah mendorong beliau mengatur gerakan ke arah mereformasi sistem pendidikan yang wujud pada zamannya. Beliau berpendirian teguh bahawa dalam dunia moden hari ini, ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu sains moden perlu bergerak seiring.

Corak pembaharuan Nursi adalah pendidikan untuk umat. Bagi Nursi, kebodohanlah yang menjadi salah satu penyebab utama kemunduran sehingga dengan sangat mudah umat Islam dijajah dan hidup dalam kekuasaan bangsa asing di negeri sendiri. Oleh sebab itu, usaha Said Nursi pertama kali ialah menyadarkan umat akan pentingnya pendidikan. Usaha ini diiringi dengan penyadaran akan kesatuan dan kepaduan agama dan sains modern. Ini diwujudkan dengan cara mengajar di sekolahnnya, Madrasah Khurkhur, dan berbagai madrasah di kota-kota kecil lainnya.
Hingga kini, umat Islam masih belum banyak yang sadar akan pentingnya pemaduan pendidikan agama dan umum, ditambah lagi dengan adanya sains kontemporer, sehingga menjadikan formulasi pendidikan Islam terkotak-kotak diwakili oleh dua tipologi. Pertama, tipe pendidikan anti sains, pendidikan ini bersifat apriori dan acuh tak acuh. Kedua, pendidikan pro Sains, masing-masing pendidikan ada yang menelan bulat-bulat tanpa curiga sedikit pun memasukkan kurikulum sains, sekaligus ada yang menerima dengan penuh kewaspadaan.
Sebagai suatu kontribusi bagi pemikiran-pemikiran tentang reformasi pendidikan beragama yang ditelorkan oleh pemikir-pemikir Muslim lainnya dari berbagai latar belakang intelektual, aliran, lingkungan tempat mereka hidup, Said Nursi, sebagai seorang “fundamentalis” dari lingkungan kehidupan tarekat Naksabandiyah di Turki, juga melontarkan gagasan-gagasannya tentang konsep menyatukan kembali (integrasi interkoneksi) pendidikan Islam dan sekuler. Karena Said Nursi melihat adanya dikotomi ilmu pengetahuan yang menyebabka umat Islam berada dalam kejumutan.
Sebagaimana dipaparkana oleh Ustadi Hamzah dalam artikel yang berjudul, Pemikiran Pembaharuan Said Nursi Oase di Keringnya Gurun Sekulerisme Turki, di Suara Muhammadiyah:
Satu poin yang patut dicatat bahwa pembaharuan pemikiran Said Nursi dalam bidang pendidikan yaitu meyatukan kembali etos agama dan sains modern. Landasan filosofisnya bahwa alam merupakan salah satu tanda kebesaran Allah. Manusia sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna diberi kemampuan untuk menggali alam. Dalam pandangan Nursi, manusia hanya akan “bermakna” jika terkait dan meyandarkan diri pada Allah, sehingga kemampuan manusia untuk memikirkan alam sehingga melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan merupakan pancaran dari cahaya Allah. Dengan dasar inilah seluruh ilmu pengetahuan yang lahir karena semata-mata untuk mendalami ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah merupakan sains yang berjiwa agama, dan merupakan entitas tunggal-padu. Pemikiran ini sekaligus menghilangkan image bahwa agama dan sains itu dua entitas yang berbeda yang ditanamkan oleh paham sekulerisme.

Oleh karena itu, penyusun merasa terpanggil untuk meneliti lebih jauh tentang konsep pendidikan Bediuzzaman Said Nursi. Karena dengan keyakinan yang mendalam, jika digali melalui peneltian akan memberikan konstribusi terhadap pendidikan Islam. Mengingat, konsep tersebut ada relevansinya dengan konsep integrasi interkoneksi yang jauh lebih dulu sebelum IAIN berubah menjadi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di Indonesia, mungkin kita sering mendengar tokoh termasyhur seperti Muhammad Iqbal, Sir Ahmad Khan, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Abid al-Jabiri dan para intelektual lainnya di dunia pemikiran Pendidikan Islam. Maka, sudah saatnya Bediuzzaman Said Nursi digolongkan ke dalam tokoh-tokoh ini dan sebagai tokoh yang terpenting diantara mereka.
B. Rumusan Maslah
Berdasar pada latar belakang di atas, dapat kita tarik rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep Pendidikan Islam Bediuzzaman Said Nursi?
2. Apa relevasinya terhadap konsep Paradigma Integrasi Interkoneksi?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui lebih dalam tentang konsep Pendidikan Islam menurut Baduzzaman Said Nursi yang mencoba memadukan atau mendialogkan antara Pendidikan Islam dan Sekuler (umum) pada masanya. Sehingga akan memberikan kontribusi yang sangat berguna untuk diterapkan pada pendidikan Islam kekinian.
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai kontribusi yang akan menambah khasanah kekayaan intelektual dan wawasan pendidikan Islam, serta akan menjadi solusi alternatif kaitannya dengan problematika pendidikan, baik secara teoritik dan praktek khususnya. Lebih-lebih, pemaduan (integrasi) pendidikan agama dan umum (sekuler) akhir-akhir ini sering menjadi wacana menarik, bahkan sudah setengah hati dilakukan. Oleh karena itu, semuga penelitian ini menjadikan solusi kontributif, karena peneliti mencoba mencari relevansinya dengan paradigma integrasi interkoneksi.
D. Telaah Pustaka
Fenomena Bediuzzaman Said Nursi, Sebagai seorang yang menjadi pionir dalam pergerakan keagamaan di abad XX telah diakui di panggung pemikiran dunia Islam, baik di turki ataupun di Negara-negara lain. Tidak terkecuali di Indonesia, nama tersebut telah mulai boming.
Dalam penelusuran kepustakaan, sejauh pengamatan penyusun ketahui belum ditemukan hasil kajian penelitian yang relevan sesusai topik ini, baik skripsi, Tesis dan Desirtasi maupun penelitian lainnya yang mengangkat pemikiran Bediuzzaman Said Nursi. Maka, penelitian ini merupakan pertama kalinya. Hanya saja, penyusun menemukan penelitian yang ada keterkaitannya dengan Paradigma Integrasi Interkoneksi yang merupakan sub judul dari penelitian ini diantaranya:
a. Skripsi karya Muhammad Zaini Arifin, Relavitas Menuju Integrasi: Upaya Menggagas Format Pendidikan Non Dikotomis (Yogyakarta: Fak. Tarbiyah, 2007). Penelitian ini mencoba menggambarkan pengembangan konsep pendidikan integratif secara utuh beroreintasi pada aspek ketuhanan, kemanusiaan, perujudan pendidikan Islam Rahmatan Lil Alamin, rekonseptualisasi dalam diskursus pendidikan Islam kontemporer seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an. Problem dikotomi, hanya bisa diakhiri melalui pengintegrasian sistem pendidikan umam dan agama.
b. Skripsi karya Mashudi, Reintegrasi Keilmuan Islam dan Sekuler: Telaah Paradigma Integrasi Interkoneksi dan relevansinya terhadap Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta M. Amin Abdullah, (Yogyakarta: Fak. Usuluddin, 2008). Penelitian ini mencoba menelaah tentang konsep keilmuan yang diusung oleh Amin Abdullah dengan konsep Paradigma Integrasi Interkoneksi mencoba memadukan ilmu umum dan agama dalam rangka untuk menghilangkan Image bahwa selama ini ilmu-ilmu tersebut tidak dapat disatupadukan.
E. Landasan Teori
1. Konsep Pendidikan Islam
Konsep merupakan kata atau “nama simbol” untuk pengertian barang sesuatu baik benda kongrit maupun abstrak. Secara teoritis konsep tersebut menurut MC. Kenney dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, konsep konkrit, konsep abstrak dan illata. Suatau konsep disebut kongrit karena dimaksudkan untuk menunjukkan suatu pengertian barang sesuatu yang dapat diamati, sementara konsep abstrak berkaitan dengan suatu pengertian mengenai sesuatu yang ditunjuk oleh konsep konkrit, oleh sebab itu konsep ini kurang begitu diperhatikan. Maka, konsep abstrak disusun dari konsep yang kongrit dan demikian seterusnya dan konsep illata termasuk konsep abstrak.
Maka konsep disini lebih pada generalisasi (kongrit dan abstrak) dari suatu pengalaman tentang hal-hal serta proses satu demi satu. Diantara proses yang dihasilkan adalah sebuah ide, gambaran, rencana dasar, yang kesemuanya merupkan tindakan manusia. Kemudian, hasil dari generalisasi tersebut pada akhirnya membentuk sebuah teori. Di sini sebuah teori harus melalui beberapa langkah yaitu. Pertama, Pendefinisian istilah. Kedua, klasifikasi berupa pengelompakan informan-informan yang relevan dengan katagori sejenis. Ketiga, mengadakan induksi dan deduksi. Keempat, informasi dan prediksi serta penelitian. Kelima, pembentukan mudel-mudel. Keenam, pembentukan sub-teori.
Mengacu pada penjelasan di atas, maka pendidikan Islam adalah suau proses yang konprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan yang meliputi aspek intelektual, spritual, emosi dan fisik, sehingga seorang muslim disiapkan dengan baik untuk melaksanakan tujuan-tujuan pendidikan. Larena itu, pendidikan Islam harus menyediakan (memidiasi) pertumbuhan manusia dalam segala aspek baik secara individu maupun kolektifdan memutifasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesmpurnaan.
Selain itu, Pendidikan Islam merupakan bangunan aktifitas yang berdiri di atas landasan konsep dasar yang kokoh. Sehingga landasan konsep pendidikan Islam terbagi menjadi dua yaitu, konsep ideal dan konsep oprasional. konsep ideal pendidikan Islam tidak bisa lepas dari subtansi Islam itu sendiri yang dibangun dari sumber dua otentik, yakni Al-Qur’an dan Al-Hadis. Konsep pendidikan harus berdasa pada Al-Qur’an karena merupakan sumber pedoman kehidupan manusia yang kaya akan petunjuk-petunjuk Allah.
Konsep berikutnya, didasarkan pada Al-Hadis, mengingat Rasulullah merupakan sosok pendiik agung yang mampu menciptakan generasi Islam terbaik sepanjang sejarah manusi. Maka, dalam dunia pendidikan Al-hadis (As-Sunah) memiliki dua mamfaat. Pertama, menjelaskan konsep pendidikan Islam sesuai dengan Al-Qur’an dengan lebih rinci. Kedua, dapat menjadi contoh dalam praktek pendidikan Islam sesuai dengan kehidupan Rasullullah.
Karena itu, pendidikan Islam harus menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Yatu, mencapai tujuan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadis merupakan elemin dasar dalam pendidikan Islam yang kemudian dituangkan melalui Lembaga, Kurukulum dan proses belajar mengajar (pada anak didik) sesuai dengan nilai-nilai Qur’ani. Pendidikan Islam bertujuan untuk mengajarkan bagaimana berfikir, melita, dan merenung melaluijalan tersebut akan nyampek keimanan kepada Allah.
2. Paradigma Integrasi Interkoneksi
Paradigma adalah model atau pola yang diterima yang dipakai untuk menujukkan gagasan sistem pemikiran istilah paradigma sering digunakan oleh para pelopor penemu keilmuan dan merupakan hasil temuannya. Sedangkan integrasi interkoneksi merupakan dua kata yang berbeda, tapi mempunyai maksud dan tujuan, yaitu memadukan dan mengaitkan dua persoalan yang dianggap terpisah.
Usaha pembaharuan pendidikan Islam harus dilakukan secara bekisanambungan. Hal ini disesuaikan dengan kontek dan fakta sebagai unsur kebudayaan, pendidikan terkait erat dengan masyarakat. Adolphe E. Mayer mengatakan sebagaimana dikutip oleh Imam Barnandib, hubungan pendidikan dan masyarakat saling merefleksi (take and give), hubungan keduanya tidak bersifat linear melainkan timbal balik (mutual simbiosis), bahkan keduanya bersifat dialektis.
Maka disinilah konsep pendidikan Islam harus berperan sebagai agen perubahan (agent of social change) melalui aktualisasi, peran pendidikan akan diposisikan sebagai institusi yang mendorong dan mengarahkan dinamika perubahan sosial, sehingga perubahan sosial tersebut akan bergerak menuju pada tujuan yang ideal. Akan tetapi pendidikan hanya akan memainkan peran secara baik dan maksimal jika terus mengalami pemaharuan secara kratif, solutif dan antisipatif. Tampa adanya tindakan tersebut, maka sangat mungkin pendidikan hanya akan menjadi kekuatan konservatif dan pendukung status qou. Dalam kontek pendidikan Islam, hal itu berarti untuk menghidupkan kembali peran sebagai kekuatan di era Modernisasi (Sains dan Teknologi) masa ini, maka perlu reformasi pendidikan sebagai mana dilakukan oleh Baduazzaman Said Nursi yang kebetulan pada saat itu berada di bawah pemerintahan Kemal Attaturk.
Konsep Pembaharuan pendidikan Islam telah dilakukan oleh Said Nursi, ia lebih lebih memberdayakan kembali peran pendidikan Islam yang condong memisahkan dengan pendidikan umum (sekuler) pada masanya. Untuk itu ada dua prinsip pokok landasan operasional reformasi pendidikan Islam kearah integrasi interkoneksi. Pertama, pendidikan Islam pada hakekatnya merupakan sebuah usaha untuk mengembangkan dan meletakkan kerangka dasar bangunan dan teori pendidikan Islam di atas landasan san sumber acuan murni, yaitu doktrin tauhid yang menekankan pada prinsip pemaduan Ilmu agama dan umum. Oleh karena itu, setiap rekonstruksi pendidikan islam yang tidak berlandaskan dan tidak mengacu pada paradigma tauhid, tidak bisa dipandang sebagai pembaharuan.
Kedua, dalam realisasinya pendidikan Islam harus mengacu kepada paradigma Tauhid atau mengacu pada istilah “ memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”. Tauhid merupakan pandangan umum tentang realitas, kebenaran-kebenaran, dunia, ruang dan waktu, sejarah manusia dan takdir. Maka prinsip kedua tersebur mengacu pada dua asumsi teoritis yaitu:
a. Selama umat Islam tetap setia pada kerangka kerja “Islam Historis” dan “Islam Normative” maka umat islam tidak akan pernah benar-benar mencapai tingkat keharusan pembaharuan yang mendesak supaya pendidikan Islam bisa beperan secara efektif sebagai pengemban misi profetik yang membawa cita-cita pembebasan dalam kehidupan umat era kontemporer.
b. Salah satu persyaratan penting untuk bisa membangun pemikiran paradigma pendidikan masa kini dan masa depan yang otentik, tentu saja mengenang dan mengkaji para pemikir terdahul, yakni para pembaharu pendidikan. Tentu warisan pemikiran pendidikan Islam itu dihadapi dengan sikap Objektif dan Rasional.
Pada dasarnya pendidikan meliputi tiga aspek diantaranya, aspek kelembagaan, subtansi dan proses, ketiganya saling berhubungan erat. Maka ketiga dasar pendidikan tersebut juga harus direformasi kearah prinsip Tauhidiq melalui formulasi Integrasi dengan langkah sebagai berikut:
Arah dan tujuan pembaharuan dalam arti rekonstruksi dan reformulasi yang dimaksud adalah upaya mengintegrasikan dualisme lembaga yang berbeda (dikotomi) antara pendidika agama dan umum (integrasi dua lembaga sekolah yang berbeda . Atau langkah sejanjutnya dimasukkan ke dalam aspek Subtansi (kurikulum), artinya adanya pengapusan dikotomi ilmu-ilmu agama dan umum dalam kurikulum. Kemudian terahir, implementasi dalam proses pendidikan Islam. Hal ini menyangkut kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang melibatkan interaksi pendidik dan peserta didik yang sesuai dengan paradigma tauhid.
Dengan demikian, keseluruhan tentang pandangan landasan teori tentang konsep pendidikan Islam Said Nursi adalah mencari format pendidikan Islam sebagai paradigma keilmuan yang integrtif dalam upaya untuk menghilangkan image bahwa selama ini pendidika agama dan umum tidak bisa disatu padukan.
F. Metode Penelitian
Kata “metode” memiliki cara yang teratur dan terfikir baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya) cara kerja bersistem untuk memodahkan pelaksanaan suatau kegiatan guna mencapai suatu yang telah ditentukan. Sehingga, pengertiannya dapat digunakan pada berbagai objek, kepentingan baIk yang berhubungna dengan pemikiran atau penalaran akal, atau menyangkut pekerjaan fisik matereil atau non matereiil sekalipun. Untuk lebih mudahnya metode penelitian ini, penyusun menggunakan sistematika sebagai berikut:
1. Jenis dan Pendekatan
Penelitian ini mengacu pada data-data atau bahan-bahan tertulis berkaitan dengan topik pembahasan yang diangkat, penelitian ini masuk pada kategori penelitian kepustakaan (library reseacrh), yang merupakan suatu penelitian menggunakan buku-buku sebagai sumber datanya. murni dengan bahan tertulis berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Filosofis, yakni berpikir secara mendasar, analisis dan sitematis guna menemukan hakekat kebenaran ilmu pengetahuan. Penyusun juga penggunakan pendekatan Historis yang merupakan seperangkat aturan atau perinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-summmber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis dan mengajukan sintesis dari hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis. Selain itu, pendekatan Hermeneutik. Penggunaan pendekatan ini dimaksudkan agar dapat memberi makna dan interpretasi terhadap konsep Pemikiran Saids Nursi kaitannya dengan konsep paradigma Intgrasi interkoneksi. Sedangkan kalau dilihat dari sifatnya, penelitian ini termasuk sifat deskriptif-analitik-komparatif, yakni dengan berusaha memaparkan data-data tentang suatu hal atau masalah dengan analisa dan interpretasi yang tepat melalui rekonstruksi.
2. Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini mengacu pada karangan Asli Bediuzzaman Said Nursi yang ditulis (cetak ulang) oleh murd-muridnya menjadi 5000 halaman dan menjadi pedoman bagi mereka, buku tersebut bernama Risalah Annur. Selain itu, penyusun mengacu buku-buku karya orang lain yang bukan karya Said Nursi untuk mempermudah pemahaman. Sebagai penelitian kepustakaan, penyusun mengacu sumber pengumpulan data primer dan sekunder:
a. Data Primer (primary research)
Data ini mengacu pada karangan asli Said Nursi yang terkumpul dalam Buku Risale-i Nur. yang telah ditemukan dan dianggap qualified untuk membantu melacak pemikiran dalam konsep pendidikan Said Nursi. Buku-buku tersebut penyusun temukan dalam “From the Risale-i Nur Collection” diantaranya
1) The Damascus Sermon, by Bediuzzaman Said Nursi, Translated from the Turkish ‘Hutbe-i Samiye’ by Sukran Vahide, Staff-writer of Nur-The Light Second, revised and expanded, edition 1996, by Sozler Nesriyat ve Sanayi A.S, Copyright 1989, 1996.
2) Letters (1928-1932), by Bediuzzaman Said Nursi, Translated from the Turkish ‘Hutbe-i Samiye’ by Sukran Vahide, Staff-writer of Nur-The Light Second, revised and expanded, edition 1996, by Sozler Nesriyat ve Sanayi A.S, Copyright 1989, 1996.
3) The Words: On the Nature and Purposes of Man, Life and All Things, by Bediuzzaman Said Nursi, Translated from the Turkish ‘Hutbe-i Samiye’ by Sukran Vahide, Staff-writer of Nur-The Light Second, revised and expanded, edition 1996, by Sozler Nesriyat ve Sanayi A.S, Copyright 1989, 1996.
4) The Flashes Collection, Bediuzzaman Said Nursi, Translated from the Turkish ‘Hutbe-i Samiye’ by Sukran Vahide, Staff-writer of Nur-The Light Second, revised and expanded, edition 1996, by Sozler Nesriyat ve Sanayi A.S, Copyright 1989, 1996.
b. Data Sekunder (secondary reseach)
Data sekunder adalah data yang bersumber pada buku-buku Said Nursi terjemahan dan karaya orang lain yang bukan karya asli karya Said Nursi, serta buku yang berkaitan dengan konsep paradigma integrasi interkoneksi, diantara buku-buku tersebut adalah:
1) Risalah Annur: Menikmati takdir Langit, Diterj. Sugeng Haryanto, Mohammad Rudi Atmoko dan Umi Rohimah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003)
2) Risala Annur: Menjawab Yang Tidak Terjawab, Diterj. Sugeng Haryanto, Mohammad Rudi Atmoko dan Umi Rohimah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003)
3) Risalah Annur: Sinar yang mengungkapkan Cahaya, Diterj. Sugeng Haryanto, Mohammad Rudi Atmoko dan Umi Rohimah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003)
4) Rislaha Annur: Dari Balik Lembaran Suci, Diterj. Sugeng Hariyanto (Jakarta: Prenada Media Group, 2003)
5) Risalah Mukjizat Al-Qur’an, Diterj. Anwar Fakhri bin Omar, Moh Syukri Yeoh Abdullah (Terengganu: Percetakan Yayasan Islam, 1999)
6) Alegoria Kebenaran Ilahi, Diterj. Sugeng Hariyanto (Jakarta: Prenada Media Group, 2003)
7) Dari Cermin Keesaan Allah, Diterj. Sugeng Hariyanto (Jakarta, Prenada Media Group, 2003)
8) Biografi Intelektual Bediuzzaman Said Nursi; Transformasi Dinati Usmani menjadi Republik Turki, Buku karya Sukran Vahide, Diterj. Sugeng Haryanto, Sukono (Jakarta: Anatolia, 2007)
9) Pemikir dan Sufi Besar Abad 20, Buku karya Kasim (Jakarta, Raja Grafindo, 2003)
10) Pemikiran Pembaharuan Said Nursi Oase di Keringnya Gurun Sekulerisme Turki, Artikel karya Ustadi Hamzah (http://suara-muhammadiyah.com)
11) Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pewndekatan Integratif Interkonektif, karya Amin Abdullah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006).
12) Pendidikan IslamIntegratif: upaya Mengintegratifkan Kembali Dikotomi Ilmu Pendidikan Islam, karya Ungguh Muliawan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)
13) Menggagas Format Pendidikan Non Dikotomik: Humanisme Relegius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Karya Abdurrahman mas’ud (Yogyakarta, Gema Media, 2002)
14) Adapun buku-buku lain, bersumber pada sublementer lainnya biasanya penyusun merujuk pada beberapa kamus, Ensiklopedia, Jurnal, Majalan dan artikel sebagai sumber terteir (tertiary reseource).
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data penyusun penggunakan metode dokumentasi yang merupakan metode pengumpulan data dilakukan melalui penyelidikan benda-benda tertulis, dokumentasi, peraturan-peratuan, notulen rapat, catatan harian dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, penyusun pengumpulkan data-data dengan cara mencari mengenai hal data yang berkaitan dengan objek penelitian ini. Salah satunya, Risalah Annur karya besar said Nursi serta buku-buku lain yang dianggap mendukung.
Sedangkan teknik mengumpulan data dilakukan dengan sampel bertujuan (purposive sample), berupa teknik sampling dengan memilih sampel-sampel tertentu sesuai dengan pertimbangan tertentu guna memahami tujuan penelitian.
4. Metode Analisis Data
a. Analisis Isi (Content Analisys)
Data yang diperoleh dari kepustakaan berupa literatur adalah ad hoc terkonsentrasi pada persoalan-persoalan pendidikan Islam. Karya Said Nursi, Risalah Annur, merupakan literatur utama yang layak untuk diketengahkan dan sekaligus menjadi sentral sentral analisis dalam penelitiam ini mengingat hanya dalam buku ini pemikirannya tertuang dengan mengalir. Dari data yang ada, penyusun berupaya menganalisisnya dengan menggunakan instrumen content analisys (analisis isi) yang merupakan suatu teknik sistematik untuk menganalisis isi pesan dan mengolah pesan, atau suatu alat untuk mengobsevasi dan menganalisis perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator yang terpilih.
Selanjutnya metode lain yang perlu penyusun gunakan juga adalah konstrastif, berupa analisis dengan membandingkan, dalam hal ini membandingkan teori yang ditawarkan oleh beberapa tokoh dan pakar pendidikan Islam dan baru kemudian menelaah secara konstruktif teori yang diajukan oleh Said Nursi untuk mendapatlan hasil penelitian konprehensif dan konklusif .
b. Pola Analisis Data
Analisis data ini bersifat kualitatif (Non Statistik) dengan menggunakan pola fikir, Deduktif, Induktif dan Abdukif. Deduktif, pola pikir yang bersumber dari fakta-fakta bersifat umum ditarik ke khusus. Induktif sebaliknya pola pikir bersumber pada fakta-fakta yang bersifat khusus kemudian ditarik ke umum , sedangkan abduksi merupakan penggabungan antara keduanya (Induktif dan Deduktif).
G. Sistematika Pembahasan
Bab petama, latar Belakang Masalah. Bab ini mengemukakan persoalan-persoalan yang melatar belakangi penelitian didahuli oleh penegasan judul, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian. Sebagai acuan pijakan, berikutnya diuraikan sekilas telaah pustaka dan kerangka teori dan akan dibangun dalam penelitian yang disusul dengan metode penelitian dan diakhiri oleh sistematika pembahasan.
Adapun Bab kedua merupakan rangkaian Bab tersendiri dalam mendiskripsikan kehidupan Badiuzzaman said Nursi (Biografi). Dalam Bab ini penyusun menjabarkan dalam beberapa sub-sub Bab yang dapat memperjelas materi kajian yang diteliti, meliputi kelahiran dan masa pertumbuhan, latar belakang pendidikan, gagasan dan pemikiran-pemikrannya.
Setelah diperleh data untuk kajian penelitian, penyusun memberikan analisis terhadap data yang ada ke dalam dua Bab terpisah. Bab ketiga dan Bab Keempat yang masing-masing mempunyai urgensi dalam menemukan penilatian kualitatif terhadap data yang akan diteliti. Bab tiga memuat bahasan tentang deskripsi konsep pendidikan Said Nursi.
Selanjutnya, Bab keempat dimaksudkan untuk memberikan analisis tentang konsep pendidikan Said Nursi untuk menemukan relevansinya dengan paradigma integrasi interkoneksi.
Sebagai penutup dan pengambilan kesimpulan adalah Bab lima. Bab ini menuangkan konklusi akhir hasil penelititian yang penyusun (diskripsikan) lakukan dalam dua Bab sebelumnya (yakni, Bab tiga dan Bab empat) yang kemudian dibarengi dengan sara-saran, rekomendasi dari keseluruhan pembahasan dalam penelitian ini. (*)






DAFTAR PUSTAKA
A Partanto, Pius, Kamus Ilmiyah Populer, Surabaya: ARKOLA, 1994
A. Gazali, Sistem Pendidikan Islam di Abad Keemasan, www.indomedia.com
Abdullah, M. Amin DKK, Islamic Studies; dalam Paradigma Integrasi Interkoneksi, Yogyakarta: Suka Press, 2007
Abdullah, M. Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006
Abdurrahman, Dudung, Metode Penelitian Sejarah, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999
_______, M. Amin, “Kajian Ilmu Kalam di IAIN Menyongsong Perguliran Paradigma Keilmuan Keislaman pada Era Milenium Ketiga”, Jurnal Al-Jami’ah No. 65/ VI/ 2000, ISSN: 0126-012 X
Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
Annahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan masyarakat. Penej. Shihabiddin, Jakarta: Gema Insani Press, 1995
Arif, Syamsuddin, Kemunduran Sains Umat Islam, Opini Republika - Jumat, 23 Maret 2007
Arikunto, Suharsini, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2002
Ashdiq, Khairul, Badiuzzaman Said Nursi, ttp://ashdiqai.multiply.com/journal
Ashgar, Ali, Horison Baru dalam pendidikan Islam. Terj. Sori Seregar, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996
Ashrof, Ali Horison Baru Pendiikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996
Atmadilaga, Didi, Panduan Skripsi, Tesis, Desertasi, Bandung: Pionir jaya, 1997
Bernandib, Imam, Ke Arah persepektif baru Pendidikan, Yogyakarta: FIP-IKIP, 1994
ssHadi, Sutrisno, Metodologi reseach, Yogyakarta: Andi Offset, 1990
Hadi, Amirul, Metologi Penelitian Pendidikan, Bandung: CV Pustaka setia, 2005
Hamzah, Ustadi, Pemikiran Pembaharuan Said Nursi: Oase di Keringnya Gurun Sekulerisme Turki (1), http://suara-muhammadiyah.com/?p=101
Ismail Raji Al-faruqi, Islamisasi Pengetahuan, ter. Anas Mahyuddin (Bandung: Pustaka Pelajar, 1995)
Ismail SM. Et al. (eds), Paradigma Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
Kasim, Ihsan, Said Nursi; Pemikir dan Sufi Besar Abad 20, Jakarta, RajaGrafindo, 2003
Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu; Epistemologi, Metodologi, dan Etika, Yogyakarta: Tiara Wacana, Edisi kedua 2006
M. Echols, John, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Garamedia Pustaka Utama, 1996
M. Amin, Miska, Epestemologi Islam-Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: UI Press, 1983
Majid, Murcholis, “Pengaruh kisah Israiliyat dan Oreintalisme terhadap Islam” dalam Abdurrahman Wahid (ed), Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990
Mardalis, Metode Penelitian: Suatu pendekatan Proposal l, Jakarta, Bumi Aksara, 1995
Mas’ud, Abdurrahman, Dikotomi Ilmu Agama dan No Agama; kajian Sosio Historis Pendidikan Islam, Semarang: Pusat Penelitian IAIS Walisongo, 1999
Mashudi, Reintegrasi Epistemologi Keilmuan dan Sekuler; Telaah Paradigma Integrasi Interkoneksi dan Relevasinya terhadap Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta MAmin Abdullah, Yogyakarta: Fak. Usuluddin, 2008
Muhammad Zaini Arifin, Relavitas Menuju Integrasi (Upaya menggagas Format Pendidikan Non Dikotomis), Yogyakarta: Fak. Tarbiyah, 2007
Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual Muslim; Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan dakwah, Yogyakarta: Sipress, 1993
Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulang Bintang, Cet. ke 14 2003
O. Kattsoff, Luis, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996
Ramayulis, Esiklopedi Tokoh Pendidikan Islam; Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia, Jakarta: Quantum Teaching, 2005
Ricour, Paul, Hermeneutika Ilmu Sosoal, Diterj. Muhammad Syukri, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006
S. Khun, Thomas, Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains, Diterj. Tjun Sarjaman, Bandung: Remaja karya Offset, 1989
Said Nursi, Bediuzzaman, Letters (1928-1932), Translated from the Turkish ‘Hutbe-i Samiye’ by Sukran Vahide, Staff-writer of Nur-The Light Second, revised and expanded, edition 1996, (Copyright 1989, 1996 by Sozler Nesriyat ve Sanayi A.S)
________, The Damascus Sermon, Translated from the Turkish ‘Hutbe-i Samiye’ by Sukran Vahide, Staff-writer of Nur-The Light Second, revised and expanded, edition 1996, (Copyright 1989, 1996 by Sozler Nesriyat ve Sanayi A.S)
__________, Bediuzzaman, The Flashes Collection, Translated from the Turkish ‘Hutbe-i Samiye’ by Sukran Vahide, Staff-writer of Nur-The Light Second, revised and expanded, edition 1996, (Copyright 1989, 1996 by Sozler Nesriyat ve Sanayi A.S)
________, Bediuzzaman, The Words: On the Nature and Purposes of Man, Life and All Things, Bediuzzaman, Translated from the Turkish ‘Hutbe-i Samiye’ by Sukran Vahide, Staff-writer of Nur-The Light Second, revised and expanded, edition 1996, (Copyright 1989, 1996 by Sozler Nesriyat ve Sanayi A.S)
________, Beduzzaman, Alegoria Kebenaran Ilahi. Diterj. Sugeng Hariyanto, Jakarta: Prenada Media Group, 2003
________, Beduzzaman, Dari Cermin Keesaan Allah. Diterj. Sugeng Hariyanto, Jakarta: Prenada Media Group, 2003
__________, Beduzzaman, Risala Annur; Menjawab Yang Tidak Terjawab, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005
__________,Beduzzaman, Risalah Annur; Menikmati takdir Langit, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
__________, Beduzzaman, Risalah Annur; Sinar yang mengungkapkan Cahaya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
________, Beduzzaman, Risalah Mukjizat Al-Qur’an, Diterj. Anwar Fakhri bin Omar, Moh Syukri Yeoh Abdullah, Terengganu: Percetakan Yayasan Islam, 1999
________, Beduzzaman, Rislaha Annur:Dari Balik Lembaran Suci, Diterj. Sugeng Hariyanto, Jakarta: Prenada Media Group, 2003
Saleh Abdulloh, Abdurrahman, Teori-Teori Pendidikan Berdasar Al-Qur’an, Jakarta: Renika Cipta, 1990
Saleh, Fauzan, Teologi Pembaharuan; pergeseran wacana Sunni di Indonesia, Jakarta: PT Serambi Ilmu Pustaka, 2001
Suwito (Et al), Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Prenada Media, 2005
Syaodih Sukmadinanta, Nana, pengembangan kurikulum Teori dan Praktek, Jakarta: Rosda Karya, 1997
Tim Penyusun, Kamus besar Bahasa Indonesia, Jakarta: balai Pustaka, 1988
Vahide, Sukran, Biografi Intelektual Bediuzzaman Said Nursi; Transformasi Dinati Usmani menjadi Republik Turki, Ter. Sugeng Haryanto, Sukono, Jakarta: Anatolia, 2007
Wijdan, Aden SZ DKK, Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: PSI-UII & Safira Insani Press, 2007
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1994
Zainal Abidin Bagir DKK, Integrasi Ilmu dan Agama interpretasi dan aksi, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar