STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Sabtu, 26 November 2011

PERKEMBANGAN AGAMA PADA MASA DEWASA

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa dewasa, atau ada juga yang menyebutnya masa adolesen. Ketika mereka meginjak dewasa, pada umumnya mempunyai sikap: menemukan pribadinya, menentukan cita-citanya menggariskan jalan hidupnya ,bertanggung jawab, menghimpun norma-norma sendiri.
Sebagaimana kita ketahui bahwa tingkat perkembangan agama pada masing-masing individu selalu berbeda-beda dan mengalami proses sesuai perkembangan jiwanya. Bahkan dapat dikatakan semakin bertambah usia maka semakin tingggi keagamaan yang ia miliki. Begitu juga dengan masa dewasa. Ketika seseorang menginjak dewasa maka banyak hal yang ia rasakan sebagai akibat dari keagamaan. Dalam mengalami proses tersebut banyak hal yang mempengaruhinya. Untuk dapat berkembang secara normal, manusia membutuhkan bantuan dari luar dirinya, dapat berupa bimbingan dan pengarahan dari lingkungannya. Dengan adanya bimbingan dan pengarahan tersebut diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri yang sudah tersimpan sebagai potensi bawaannya.sehingga apabila tidak searah dengan potensi yang dimilikinya akan berdampak negatif pada perkembangan manusia itu sendiri. Hal tersebut akan terlihat dalam berbagai sikap dan tingkah laku yang menyimpang dalam kaitannya dengan kegagalan manusia untuk memenuhi kebutuhan baik yang berupa fisik/non psikis. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam hal mempelajari perkembangan jiwa keagamaan, perlu dilihat dulu kebutuhan-kebutuhan manusia secara menyeluruh. Sebab kebutuhan yang kurang seimbang antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani akan menyebabkan timbulnya ketimpangan dalam perkembangan.



BAB II
PERKEMBANGAN AGAMA PADA MASA DEWASA

Jiwa keagamaaan yang termasuk aspek rohani (psikis) akan sangat tergantung dari perkembangan aspek fisik. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa kesehatan fisik akan berpengaruh pada kesehatan mental. Selain itu juga ditentukan oleh tingkat usia. Setiap masa perkembangan manusia memiliki ciri-ciri tertentu. Begitu juga dengan perkembangan jiwa keagamaan.

A. Macam-macam Kebutuhan
Menurut J.P. Guilford, terdiri dari
1. Kebutuhan individual
Pada kebutuhan individual ini semuanya berhubungan dengan kebutuhan jasmani. Kebutuhan ini bergantung pada diri seseorang. Bagaimana dia merawat dan menjaga keseimbangan tubuhnya dalam kehidupannya. Kebutuhan invidual ini terdiri dari:
a) Homeotatis (kebutuhan yang dituntut tubuh dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan tubuh akan zat; protein, air, garam, mineral, vitamin, oksigen dan lainnya.
b) Regulasi temperature, penyesuaian tubuh dalam usaha mengatasi kebutuhan akan perubahan temperature badan. Pusat pengaturannya berada di bagian otak yang disbut Hypothalsum.
c) Tidur, kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi agar terhindar dari gejala halusinasi.
d) Lapar, kebutuhan biologis yang harus dipenuhi untuk membangkitkan energi tubuh seperti organis.
e) Seks, kebutuhan seks sebagai salah satu kebutuhan yang timbul dari dorongan mempertahankan jenis.
2. Kebutuhan social (rohaniah)
kebutuhan social manusia tidak disebabkan pengaruh yang datang dari luar (stimulas) seperti layaknya pada binatang. Kebutuhan social pada manusia berbentuk nilai. Jadi kebutuhan itu bukan semata-mata kebutuhan biologis melainkan juga kebutuhan rohaniah. Bentuk kebutuhan ini terdirio dari; pujian dan binaan, kekuasaan dan mengalah, pergaulan, imitasi dan simpati, dan perhatian.

3. Kebutuhan akan agama
Manusia disebut sebagai makhluk yang beragama (homo religious). Allah membekali manusia itu dengan nikmat berpikir dan daya penelitian, diberinya pula rasa bingung dan bimbang untuk memahami dan belajar mengenali alam sekitarnya sebagai imbangan atas rasa takut terhadap kegarangan dan kebengisan alam itu. Hal inilah yang mendorong manusia tadi untuk untuk mencari-cari suatu kekuatan yang dapat melindungi dan membimbingnya disaat-saat yang gawat.
Dorongan beragama merupakan salah satu dorongan yang bekerja dalam diri manusia sebagaimana dorongan-dorongan lainnya, seperti makan, minum, intelek dan lain sebagainya. Sejalan dengan itu maka dorongan beragama pun menuntut untuk dipenuhi sehingga pribadi anusia itu mendapat kepuasan dan ketenangan. Dorongan beragama juga merupakan kebutuhan insaniah yang tumbuhnya dari gabungan berbagai factor penyebab dari rasa keberagamaan.

Menurut Dr. Zakiah Daradjat, dalam bukunya "Peranan Agama dalam Kesehatan Mental", terdiri dari:
1. Kebutuhan primer
yaitu kebutuhan jasmaniah: makan, minum, seks dan sebagainya (kebutuhan ini didapat manusia secara fitrah tanpa dipelajari).



2. Kebutuhan sekunder
yaitu kebutuhan rohaniah: Jiwa dan social. Kebutuhan ini hanya terdapat pada manusia dan sudah dirasakan sejak manusia masih kecil.

B. Sikap keberagamaan pada masa remaja
Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa dewasa, atau ada juga yang menyebutnya masa adolesen. Ketika mereka meginjak dewasa, pada umumnya mempunyai sikap: menemukan pribadinya, menentukan cita-citanya menggariskan jalan hidupnya ,bertanggung jawab, menghimpun norma-norma sendiri.
Sikap-sikap di atas merupakan sikap yang mengawali masa dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya pada masa dewasa, seseorang telah menunjukan kematangan jasmani dan rohaninya, sudah memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap, serta perasaan social sudah berkembang. Tanggung jawab individu, social dan susila sudah mulai tampak dan ia sudah mulai mampu berdiri sendiri.
Gambaran psikis pada masa dewasa seperti di atas akan nampak pada kesetabilan seseorang di dalam menentukan pandangan hidup atau agama yang harus di anutnya berdasarkan kesadaran da keyakinan yang di anggap benar dan diperlukan dalam hidupnya.ini mengandung pengertian bahwa apa yang dilakukan seseorang dari paham keagamaan yang di anutnya akan dipegang teguh dan diwujudkan lewat tingkah laku keagamaannya dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh tanggung jawab.
Tingkah laku keagamaan seseorang pada masa dewasa ini berdasarkan tanggung jawab keagamaan yang ia pegangi, ia yakini secara mendalam dan pahami sebagai jalan hidup. Hal itu sebagai akibat dari adanya kestabilan dalam pandangan hidup keagamaan, yang dengan demikian akan didapati pula adanya kestabilan dalam tingkah laku keagamaannya, dimana segala perbuatan dan tyingkah laku keagamaannya senantiasa dipertimbangkan masak-masak yang dibina diatas tanggung jawab, bukan atas dasar meniru dan ikut-ikutan saja.
Kestabialan dalam pandangan hidup beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kestabilan yang statis, melainkan kestabilan yang dinamis, di mana pada suatu ketika ia mengenal juga adanya perubahan-perubahan. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada.
Dengan demikian orang dewasa sebenarnya mempunyai tanggung jawab yang besar mengenal apa yang harus dianut dan dikerjakannya.tanggung jwab itu bias meliputi tanggung jawab secara individu, social, maupun susila serta agama. Bertanggung jawab secara individu berarti berani berbuat harus berani menanggung resiko sebagai tanggung jawab perbuatannya. Bertangung jawab secara sosial berarti semua perbuatan dipikirkan dan diperhitungkan akibat-akibatnya terhadap orang lain dan terhadap masyarakat.
Bertanggung jawab secara susila dengan norma-norma susila, perbuatan yang tidak bertentangan dengan etika, dan lebih dari itu semuaperbuatan dan tingkah laku keagamaaanya maupun aktifitas kehidupan lainnya hanya dituntut bertanggung jawab kepada Tuhan yang diimaninya. Di sinilah yang nantinya akan melahirkan cirri lain bagi seorangn dewasa, yaitu adanya kemandirian, di mana segala tingkah laku keagamaanya sudah dipikirkan masak-masak, dikerjakan sendiri dan dipertranggung jawabkan, walaupun kadang-kadang apa yang dilakukan tersebut sama dengan maksud orang lain atau justru malah mendatangkan kritik bagi dirinya.
Kemantapan jiwa orang dewasa setidaknya memberikan gambaran mengenai bagaimana sikap dan tingkah laku keagamaan pada orang dewasa. Atas dasar ini acap kali sikap dan tingkah laku keagmaan seseorang di usia dewsa sulit untuk di ubah, kalaupun terjadi perubahan, maka sesungguhnya itu berangkat dari pertimbangan yang sangat matang dan sungguh-sungguh.


Apabila nilai-nilai agama yang mereka pilih untuk dijadikan pandangan hidup, maka sikap keberagaman akan terlihat pula dalam pola kehidupan mereka. Sikap keberagaman tersebut akan dilestarikan sebagai identitas dan kepribadian mereka. Sehingga dapat membawa mereka secara mantap untuk dapat menjalankan ajaran agama yang mereka anut. Sehingga tidak jarang ini akan menimbulkan ketaatan yag berlebihan dan menjurus ke sikap fanatisme. Sikap keberagamaan yang seperti ini umumnya dilandasi oleh pendalaman pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Sikap keberagaman bagi orang dewasa adalahbukan hanya sekedar ikut-ikutan tetapi adalah sikap hidup baginya.

C. Ciri-ciri sikap keberagamaan pada masa dewasa
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagaman pada orang dewasa antara lain memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1. menerima kebenaran agama berdasar pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
2. Cenderung bersikap realis sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikapa dan tingkah laku.
3. Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajaridan memperdalam pemahaman keagamaan.
4. tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagaman merupakan realisasi dari sikap hidup.
5. Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
6. Bersikap lebih kritis terhadapa materi ajran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
7. Sikap keberagaman cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajkaran agama yang diyakininya.
8. Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagaman dengan kehidupan social sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi social keagamaan sudah berkembang.

BAB III
PENUTUP


Sikap atau tingkah laku keagamaan seseorang pada masa dewasa ini berdasarkan tanggung jawab keagamaan yang ia pegangi, ia yakini secara mendalam dan pahami sebagai jalan hidup. Hal itu sebagai akibat dari adanya kestabilan dalam pandangan hidup keagamaan, yang dengan demikian akan didapati pula adanya kestabilan dalam tingkah laku keagamaannya, dimana segala perbuatan dan tyingkah laku keagamaannya senantiasa dipertimbangkan masak-masak yang dibina diatas tanggung jawab, bukan atas dasar meniru dan ikut-ikutan saja.
Kestabialan dalam pandangan hidup beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kestabilan yang statis, melainkan kestabilan yang dinamis, di mana pada suatu ketika ia mengenal juga adanya perubahan-perubahan. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada.


DAFTAR PUSTAKA


Anshari Hafi, Dasar-dasar Ilmu Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991,)

Daradjat Zakiah, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, (Jakarta:PT Gunung Agung,1982)

Jalaludin, Psikologi Agama (Jakarta: PT. Raja Grasindo Persada, 1998).

Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002).

Sururin, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2004).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar