STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 18 Maret 2012

Badal

 
Arti Badal
Tabi' (lafazh yang mengikuti) yang dimaksud dengan hukum tanpa memakai perantara antara ia dengan matbu'-nya.
Contoh:
= Aku telah memakan roti itu sepertiganya (bukan semuanya).
Maksudnya, roti yang dimakan itu hanya sepertiganya. Lafazh sepertiga itulah yang dimaksud dengan hukum (hukum makan). Lafazh sepertiga itu disebut badal (pengganti), sedangkan lafazh raghif (roti) disebut mubdal minhu (yang digantikan).
Contoh lainnya seperti:
= Zaid telah datang pelayannya.
Maksudnya yang datang itu ialah pelayan Zaid, bukan Zaidnya.
Apabila isim diganti oleh isim atau fi'il diganti oleh fi'il, maka dalam hal seluruh i'rab-nya harus mengikuti mubdal minhu-nya.

Badal itu terbagi empat bagian, yaitu:
  1. Badal syai minasy-syai, disebut juga badal kul minal kul atau badal yang cocok dan sesuai dengan mubdal minhu-nya dalam hal makna, contoh: = Zaid telah datang, yakni saudaramu.
    Lafazh saudaramu menjadi badal dari lafazh Zaid. Antara lafazh saudara dan Zaid itu cocok dan sesuai.
  2. Badal ba'dh minal kul (badal sebagian dari semua), contoh:
= aku telah memakan roti, yakni sepertiganya.
Lafazh sepertiga itu merupakan sebagian dari roti.
  1. Badal isytimal, yaitu lafazh yang mengandung makna bagian dari matbu'-nya, tetapi menyangkut masalah maknawi (bukan materi), contoh: = Zaid telah bermanfaat bagiku yakni ilmunya.
    Lafazh ilmunya tercakup oleh Zaid.
  2. Badal ghalath atau badal keliru/ salah, yaitu badal yang tidak mempunyai maksud yang sama dengan matbu'-nya, tetapi yang dimaksud hanyalah badal. Hal ini dikatakan hanya karena kekeliruan atau kesalahan semata yang dilakukan oleh pembicara, setelah itu lalu ia menyebutkan mubdal minhu-nya. Contoh:
= Aku telah melihat Zaid yakni kuda.
Dalam contoh tadi Anda ingin mengucapkan (bahwa Anda telah melihat) kuda, akan tetapi Anda keliru (dalam ucapan karena menyebutkan Zaid) lalu Anda mengganti lafazh Zaid itu dengan kuda. Maksud yang sebenarnya adalah:
= aku telah melihat kuda,
Kata nazhim:
Bilamana isim atau fi'il mengikuti (menyertai) lafazh yang semisalnya dan hukum (perkataan itu) untuk lafazh yang kedua (badal) serta terbebas dari huruf 'athaf, maka jadikanlah dalam hal i'rab-nya sepefti lafazh yang pertama dengan lafazh badal sebagai julukannya.
Yaitu lafadh kullu (semua), ba'dhu (sebagian), isytimal (mencakup), dan ghalath (salah atau keliru), demikian pula badal idhrab. Dan dengan yang kelima ini berarti tepat.
Badal idhrab ialah:
Bermaksud menyebutkan lafazh (gagasan) yang pertama, lalu setelah memberitakannya timbul baginya untuk memberitakan lafazh (gagasan) yang kedua.
Contoh:
= aku telah mengendarai sepeda, bahkan mobil.
Pada mulanya dimaksudkan untuk memberitakan telah mengendarai sepeda, lalu disusul dengan pemberitahuan mengendarai mobil. Badal idhrab ini hampir sama dengan badal ghalath, hanya saja badal idhrab ini bukan karena kesalahan atau kekeliruan, melainkan karena timbul pikiran (gagasan) baru yang dianggap lebih penting.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar