STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 18 Maret 2012

GENG REMAJA DAN INVOLUSI PENDIDIKAN

Fenomena geng remaja sudah menjadi hal biasa dan tak asing lagi di masyarakat. Berbagai jenis geng remaja seperti geng motor sebagai bentuk kumpulan remaja yang didominasi para pelajar merupakan fenomena perilaku pelajar. Meskipun sama sekali bukan hal baru, namun geng remaja mencuat ke publik berkenaan dengan isu dan praktik kekerasan yang lekat dengannya. Perkelahian pelajar, penyalahgunaan narkotika, dan pergaulan bebas sudah tidak asing lagi menjadi label pada remaja. Sebenarnya bila remaja berkumpul dan berkelompok, itu merupakan hal yang lumrah. Masalahnya ketika berkumpulnya mereka itu mengarah pada hal yang destruktif. Sebagaimana lazimnya manusia, kalangan remaja juga membutuhkan komunitas untuk berkomunikasi dan bersosialisasi, mereka akan merasa nyaman untuk berkomunikasi dengan sesama.
Lebih parah lagi, bila tujuan yang kurang atau tidak baik memang telah ditetapkan dan disepakati bersama anggota geng untuk dilaksanakan. Patut diduga, remaja memilih geng sebagai saluran organisasinya karena organisasi remaja yang sudah establish barangkali tidak mampu untuk mewadahi mereka. Atau lebih dari itu, organisasi bersegmen remaja tidak dapat menjangkau dan melayani kebutuhan mereka. Remaja adalah masa dimana mereka membutuhkan wadah untuk berapresiasi dan berekspresi. Sepanjang organisasi remaja tidak mampu memenuhi itu, maka ia akan ditinggalkan.
Mereka lebih suka memikirkan hal yang dekat, terjangkau, dan berbau senang-senang. Hal itu masih wajar bila mereka tidak terjerembab pada pilihan yang jelas negatif. Remaja memang memiliki dunianya sendiri yang berbeda dengan dunia dewasa. Yang diperlukan adalah kontrol dan pengarahan mereka untuk selalu berada pada jalan yang benar. Pun kebenaran itu tidak harus diperspektifkan sebagai hal yang kaku dan tidak berwarna. Biarlah remaja tetap berada dalam dunia keremajaan dan keceriannya, sepanjang dalam batasan yang tidak kebablasan (musrif). Remaja pada dasarnya juga memiliki naluri sehatnya sendiri versi mereka, sungguhpun bagi kalangan tua (yang kolot) kadang banyak hal yang dilakukan remaja hari ini tampak asing, aneh, dan dianggap melanggar.

Remaja adalah pribadi yang gelisah. Peranan dan posisi organisasi remaja seharusnya mampu menjadi pelarian (dalam artian positif) bagi kegelisahan mereka. Remaja banyak yang merasa kesepian dan membutuhkan pendamping, di luar orang tua dan guru mereka. Apalagi dalam satu kasus ketika orangtua tidak cukup waktu untuk berkomunikasi dengan anak dan guru hanya dapat mengajarkan mata pelajaran secara teks book semata. Organisasi sekolah (OSIS dan ekstrakurikuler) harus mampu melakukan reorientasi program dan kegiatan yang mempunyai sense (manfaat) kuat terhadap kebutuhan remaja. Kalau ini terpenuhi, maka remaja akan merasa memiliki teman yang mengasyikkan namun sekaligus mampu memberikan guidance.
Maraknya geng remaja yang bersifat destruktif dilihat dari sudut pandang lain juga merupakan wujud kegagalan pendidikan. Betapa para pelajar tidak cukup hanya diajari mata pelajaran tertentu atau hanya didorong hanya untuk lulus ujian. Berdasarkan hal tersebut pendidikan tengah mengalami proses involusi dan bergerak tanpa arah yang jelas. Dari hari ke hari manusia yang terlibat dalam pendidikan bukannya tumbuh kian cerdas, tetapi mutunya semakin menurun meski input dan fasilitas fisiknya terus bertambah. Ketidakjelasan arah pendidikan itu menyebabkan pendidikan tidak kompetitif. Pelajar membutuhkan sesuatu yang lebih dari moral dan etika secara practical. Pendidikan hanya melanjutkan pendidikan yang elite eksklusif dengan kurikulum elitis yang hanya bisa ditangkap oleh sebagian pelajar.
Apabila proses involusi yang tengah terjadi dalam pendidikan dibiarkan terus berlangsung akan berdampak pada terciptanya bangsa paria (bangsa yang rendah) yang mencerminkan betapa miskinnya pemikiran dan kacaunya penyelenggaraan pendidikan.
Karenanya, pendidikan harus benar-benar diarahkan untuk tidak sekedar menggenjot capaian pada aspek kognitif semata, namun harus diseimbangkan dengan aspek afeksi dan psikomotorik. Nilai bagus memang penting, namun tentu tidak hanya itu. Pengajaran dan pemantauan terhadap budi pekerti pelajar juga tidak kalah penting untuk dilakukan secara intensif. Bagaimana dengan Ujian Nasional (UN)? UN dalam satu sisi memang mampu memicu siswa untuk belajar. Namun pertanyaannya, apakah itu terjadi karena terpaksa atau memang kerelaan. Asumsi sementara pelajar cenderung terpaksa, karena itu mereka merasa stres dan tertekan. Kondisi stres inilah yang kemudian mengarahkan para pelajar untuk mencari pelampiasan dan ruang untuk refreshing. Informasi soal kenaikan nilai UN mau tidak mau akan semakin menambah rasa stres itu. Dan semakin mereka stres, tuntutan dari dalam diri untuk mencari tempat pelarian akan semakin besar. Termasuk penambahan mata pelajaran yang diujikan dari hanya tiga pelajaran menjadi enam pelajaran.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang seharusnya mampu mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan zaman. Kesiapan itu tentu bukan semata pada wilayah capaian nilai formal. Maka sekolah harus mampu melihat dan memperlakukan pelajar sebagai pribadi yang utuh. Tidak pas kalau sekolah hanya menuntut siswanya untuk belajar dan belajar untuk memenuhi target angka. Karena para pelajar harus dikenalkan untuk mempelajari kehidupan yang sesungguhnya. Kondisi terpaksa dan tertekan pelajar tetap berlangsung, maka ini jelas tidak akan menyehatkan. Bagaimana mungkin kondisi tertekan akan melahirkan generasi yang cerdas dan tanggap lingkungan? Kalau hal semacam ini akan tetap dipertahankan, maka kita patut khawatir bila geng remaja dengan aura kekerasannya akan semakin marak yang dapat menciptakan bangsa yang paria. Semoga tidak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar