STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 25 Maret 2012

PENDIDIKAN ISLAM; MENYIAPKAN SDM UNGGUL DAN SOSIO-RELIGIUS MODERN

A.      Pendahuluan
Hingga saat ini, pendidikan Islam masih menghadapi problem yang mendasar, yaitu belum mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman. Pendidikan Islam baik dalam tataran manajerial operasional maupun kegiatan pembelajarannya, dipandang belum mampu menjadi tumpuan yang kokoh untuk membangun peradaban umat Islam yang utuh. Yakni sebuah peradaban yang unggul dibidang keilmuan, yang dapat melahirkan tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang relevan dengan tuntutan global.
Pendidikan Islam masih dikesankan sebagai sebuah aktivitas yang hanya mengurusi masalah ritual, yang tidak dapat menjangkau kebutuhan zaman secara totalitas. Padahal Islam sebagai agama universal (rahmatan lil alamin) mengajarkan dimensi yang utuh (komprehensif), yang tidak saja mementingkan urusan ukhrawi, tetapi juga urusan duniawi. Sementara pendidikan Islam baru sebatas mengurusi dimensi ukhrawi.
Untuk menata kembali pendidikan Islam yang holistik dibutuhkan mindset yang kuat dari para pelaku dan pengembang pendidikan Islam. Untuk mereformulasi hal itu tentu saja memerlukan kerja keras dari berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi sebagai perumus konsep dan ide, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama yang mengambil kebijakan, peraturan dan keputusan, serta para pelaksana dan pengguna di lapangan, yaitu madrasah atau sekolah, pondok/pesantren hingga perguruan tinggi.

 

B.      Menyiapkan SDM Unggul

Memasuki gelombang ketiga, atau sering kita sebut dengan millenium ketiga (abad ketiga),  dunia berkembang dengan pesat. Perkembangan itu terjadi, karena derasnya kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta informasi. Gejala kemajuan dunia tersebut merupakan sebuah gejala modernitas yang tidak dapat dipungkiri dan dibendung lagi.
Seiring dengan perubahan dan kemajuan masyarakat global tersebut, maka pendidikan Islam baik sebagai aktivitas maupun institusi/lembaga pendidikan, diharapkan sebagai agen of change yang selalu adaptif terhadap perkembangan tersebut, terutama dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
Untuk melahirkan SDM unggul memerlukan sebuah pendidikan yang bermutu dan memiliki daya saing yang baik.  Kalau pendidikan Islam hanya sebatas berbicara masalah agama saja, seperti tauhid, fiqih, tarikh, tasawuf, dan semacamnya, maka harapan untuk  melahirkan SDM unggul rasanya sulit di wujudkan. Sebab, sebagai lembaga pendidikan Islam dituntut mampu menangkap tanda-tanda perubahan dan kemajuan zaman yang disertai dengan etos pembaruan.
Pendidikan Islam dalam kaitannya dapat membentuk SDM unggul, selain menguasai ilmu agama sebagai piranti kekuatan spiritual dan moral juga harus menguasai ilmu alam dan sosial, sebagai tonggak untuk mengeksplorasi kehidupan di alam semesta ini secara berkualitas.
Karena itu, persoalan pokok yang kita hadapi adalah bagaimana menyiapkan SDM unggul yang mampu bersaing dan tidak tersesat dalam menghadapi wacana kehidupan yang diwarnai budaya materialistik dan serba hedonistik itu. Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan Islam yang ada sekarang masih akomodatif terhadap tantangan itu, ataukah kita harus berfikir alternatif tentang sistem pendidikan Islam?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu sebaiknya kita memahami tentang pendidikan Islam itu sendiri. Hakikat pendidikan Islam adalah usaha untuk mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam (al-qur’an dan hadits), pemikiran, observasi dan ekspirimentasi agar potensinya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kalau dilihat dari segi sasarannya, pendidikan Islam adalah sejalan dengan misi Islam yang bertujuan memberikan rahmat bagi sekalian makhluk di alam raya ini. Menurut MT Arifin (1994: 33-34), sasaran pendidikan Islam sejalan dengan pengembangan fungsi manusia yang meliputi sebagai berikut:
Pertama, menyadarkan manusia secara individual pada posisi dan fungsinya di tengah makhluk lain, serta tanggung jawab dalam kehidupannya, sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Keunggulan ini hanya dapat diraih, manakala pendidikan Islam mampu menghadirkan program studi yang menghadirkan ilmu-ilmu alam, sosial dan humaniora berkembang dengan kuat.  SDM yang lahir dari pendidikan Islam harus menguasai ilmu pengetahuan yang luas dan mampu menjadikan dirinya dan masyarakatnya menjadi lebih makmur.
Kedua, menyadarkan fungsi atas hubungannya dengan masyarakat, serta tanggungjawabnya terhadap ketertiban masyarakat itu. Sasaran selaras dengan pesan ayat al-Qur’an bahwa manusia unggul harus dapat menjalin hubungan dengan sesamanya. Artinya manusia yang memiliki kemampuan komunikasi, diplomasi, dan negosiasi untuk menciptakan hubungan-hubungan kerjasama satu sama lain yang saling menguntungkan.
Ketiga, menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepadanya. Kalau pendidikan Islam hanya menjadikan orang saleh secara ritual, maka sesungguhnya bukanlah tujuan utama. Akan tetapi bagaimana pendidikan Islam yang mampu mencetak generasi unggul yang mampu mengeksplorasi alam semesta ini sebagai sumber kehidupan manusia dan pada akhirnya mereka dapat mengatakan bahwa apa yang tercipta di muka bumi ini merupakan Mahakarya Allah yang tidak ada sedikit pun yang sia-sia.
Keempat, menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap mahkluk lain dan membawanya agar memahami hikmah Tuhan menciptakan mahkluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya. Pergerakan hidup manusia selalu dipengaruhi oleh dinamika sosio lingkungan. Bahwa manusia adalah makhluk yang saling bergantung dan berkerjasama. Artinya adalah pendidikan Islam itu harus melahirkan generasi yang suka memberi dari pada meminta-minta. Menurut hadits, bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
 

C.      Menciptakan Sosio Religius Modern

Untuk menciptakan sosio religius modern seperti yang diharapkan umat Islam pada umumnya, memerlukan sebuah model lembaga pendidikan Islam yang adaptif dan inovatif dengan perubahan zaman. Pendidikan Islam yang mampu menerjemahkan misi Islam ke dalam wilayah yang lebih luas. Menurut Arifin (1994: 31), ada tiga dimensi pengembangan pendidikan Islam kaitannya dengan pengembangan eksistesi manusia.
Pertama, dimensi kehidupan duniawi yang mendorong manusia sebagai hamba Allah (abdullah) untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang mendasari kehidupan yaitu nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam yang mampu melahirkan sosok generasi yang memiliki keluasan ilmu dan keterampilan profesional. Ilmu dan keterampilannya mampu mendekatkan diri kepada Allah sebagai kreator (pencipta) yang menuntun dan memberikan kemampuan fisik dan psikisnya.
Kedua, dimensi kehidupan ukhrawi yang mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan Tuhannya. Pendidikan Islam menjadi tempat mengasah anak didik agar tumbuh jiwa spiritual dan moral sebagai wujud ketaatannya kepada sang Khaliq. Selain taat secara ritual-individual (shalat, puasa, zakat dan haji), juga taat secara sosial (suka menolong, tidak dhalim dan tidak mengambil hak orang lain) sebagai sebuah bukti keimanan dirinya kepada Allah.
Ketiga, dimensi kehidupan antara duniawi dan ukhrawi mendorong manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang utuh dan paripurna dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan, sekaligus menjadi pendukung serta pelaksana (pengawal) nilai-nilai agamanya. Maksudnya adalah melahirkan sosok yang memiliki jiwa spiritual yang tinggi, keluhuran akhlak yang mulia, bobot keilmuan yang mantap dan keahlian serta ketrampilan profesional.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, pada kenyataannya cenderung pada yang kedua, yakni bahwa kita melakukan rekonstruksi sistem pemikiran dan pendidikan Islam, dalam kaitannya tujuan pendidikan selama ini. Hal ini sangat tergantung pada dasar paradigma yang digunakan untuk memandang berbagai persoalan yang kita hadapi. Menurut Djahar (1998), Persoalan itu di antaranya; 1) profil kehidupan masyarakat yang religius dalam peradaban modern yang diwarnai budaya ilmu pengetahuan dan teknologi, 2) kualifikasi atau profil SDM yang modern dan religius, dan 3) strategi mewujudkan profil SDM tersebut melalui pendidikan Islam.
Menurut Abdul Hamid A. Sulaiman (Jurnal Salam 1997/1998), bahwa dunia Islam saat ini tengah menghadapi krisis ilmu pengetahuan, yang menyebabkan terjadinya degradasi, dekadensi dan keterbelakangan umat. Krisis tersebut terjadi lebih disebabkan oleh keterbelakangan, kelemahan dan kelesuan umat di semua lini kehidupan. Sumber kemunduran itu karena stagnasi intelektual (malas berpikir, merasa puas dengan kemajuan yang ada) tidak adanya pintu ijtihad (gerakan pembaruan, kreasi dan inovasi), tidak adanya kemajuan di bidang budaya dan sekat yang membatasi umat dengan norma-norma dasar peradaban Islam.
Fenomena kejumudan (stagnasi) itu merupakan gejala umat Islam yang menganggap bahwa persoalan telah ada jawabannya dalam doktrin dan ajaran Islam. Sikap dan tindakan semacam ini akhirnya menyebabkan krisis di dunia Islam, bahwa umat Islam tidak mampu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya pemakmuran kehidupan umat manusia. Tidak disangkal lagi bahwa krisis tersebut merupakan penyebab dan bukti terjadinya dekadensi dan impotensi umat, yang menghambat untuk mewujudkan budaya (etos kerja) dan peradaban (sumber pengetahuan) modernnya secara konstruktif.
Padahal inti dari proses pendidikan adalah kerja budaya. Pengertian ini menyadarkan bahwa pendidikan tidak identik hanya terfokus pada penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah/madrasah. Sebagai kerja budaya, pendidikan mencakup semua ruang lingkup belajar yang lebih luas, yaitu bagaimana seorang anak melakukan reproduksi kebudayaannya dalam proses zaman yang berubah. Dalam kaitan ini, anak adalah aktor dan subjek (agency) yang melakukan akulturasi dan inkulturasi kebudayaannya.
Sebagai subyek kebudayaan, kata Muslim Abdurrahman (Jurnal Ulumuddin 1998) bahwa seorang anak tidak hanya berusaha mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai, norma-norma dan kebiasaan masyarakat (sharing of values), tapi juga dalam proses itu adakalanya mempertanyakan, meragukan, bahkan kalau perlu memberontak terhadap kemapanan. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan kelompok masyarakat selalu berubah. Selalu diciptakan terus menerus (invented and constructed) oleh para pendukungnya, terutama generasinya sendiri.
Gagasan untuk mewujudkan cita-cita peradaban yang sesuai dengan misi Islam, dapat dibentuk melalui sistem pendidikan yang integratif. Yaitu sistem pendidikan yang mengawinkan keilmuan umum dengan keilmuan Islam. Dalam uraian berikut, ada sebuat tawaran menarik mengenai sebuah bentuk dan model yang menjadi alternatif bagi pengembangan pendidikan Islam masa depan.
Pertama, adanya tuntutan masyarakat religius dalam peradaban modern. Masyarakat religius adalah masyarakat yang taat pada nilai-nilai keyakinan agamanya, sumber ajarannya (al-Qur’an dan hadits), serta mau dan mampu mempraktikkan dalam kehidupan kesehariannya. Menurut Djohar (1998), bahwa corak dari pendidikan Islam yang paling sentral adalah structure of religious person. Suatu peradaban manusia ditentukan oleh individu-individunya ataupun dalam masyarakat juga tidak lepas dengan individu sebagai kumpulan personel yang mewarnai masyarakat tersebut. Profile of religious structure menggambarkan manusia yang merupakan internalisasi nilai-nilai religiusitas secara utuh, yang diperoleh dari sosialisasi nilai-nilai religius itu sepanjang kehidupannya. Sehingga kalau seseorang itu religius, mestinya personalitanya menggambarkan bangunan integral atau struktur integral dari manusia yang religius tersebut, yang akan nampak dari wawasannya, motivasinya, cara berfikirnya, sikap perilakunya maupun tingkat kepuasan pada diri seorang yang merupakan produk organisasi sistem psiko-fisik orang tersebut.
Salah satu paradigma untuk mewujudkan peradaban di atas, adalah bahwa manusia itu dikembangkan secara natural dan kultural. Peradaban masyarakat modern yang diharapkan bukan sekedar produk evolusi natural budaya yang “conditioning” yang disosialisasikan dengan kondisi yang diwarnai oleh nilai-nilai budaya tertentu yang menggambarkan aktualisasi nilai-nilai religius.
Profil masyarakat yang belum mencapai tingkat peradaban modern yang religius, biasanya tolak ukurnya kepuasan materil yang akan menjadi pilihan dominan. Sedangkan bagi masyarakat yang telah mencapai tingkat peradaban religius, nilai-nilai yang mampu mempertinggi derajat peradaban kemanusiaanlah yang akan menjadi ukuran kepuasan mereka.
Structured person, dalam pandangan (perspektif pendidikan Islam) tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu, sistem pendidikan Islam harus mampu menghasilkan regenerasi unggul yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai religius yang sekaligus menggambarkan masyarakat dengan peradaban modern, yaitu memiliki pengetahuan dan keahlian yang tinggi.
Kedua, adanya tuntutan kualifikasi profil SDM modern religius. Kualifikasi SDM modern bukan merupakan satu-satunya ukuran kualitas SDM. Banyak faktor yang terkait, di antaranya; bebas dari kebodohan dan kemiskinan. Mencerminkan masyarakat yang modern yang berbudaya, memiliki motivasi untuk maju, memiliki paradigma hidup perspektif, memiliki potensi sebagai subjek pembangunan, memiliki keahlian jelas, mencerminkan individu terpelajar, memiliki etos kerja dan disiplin tinggi, memiliki budaya kerja tuntas, dan memiliki komitmen kebersamaan tinggi.
Aktivitas pendidikan yang dilakukan, dan paradigma pendidikan dalam menghasilkan SDM tidak terlepas dari paradigma-paradigma, di antaranya: pertama, paradigma proses yaitu yang akan mewarnai sosialisasi manusia itu sehingga terjadi profil budaya sesuai dengan yang kita harapkan. Paradigma proses ini dalam pendidikan yang ditekankan bukan pada produk, tapi lebih pada proses. Karenanya, Pendidikan yang mementingkan proses akan menghasilkan manusia yang berbudaya, baik budaya ilmu maupun dimilikinya nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan.
Paradigma kedua yaitu inquery atau discovery. Paradigma ini diharapkan mampu menghasilkan budaya iptek yang lebih lanjut dapat diharapkan menjadikan SDM menjadi penghasil iptek. Paradigma lain (ketiga) adalah berfikir sistemik yang dilandasi oleh kreatifitas menjadi dambaan masyarakat modern. Berfikir linear umumnya merupakan produk pendidikan verbal, cenderung hanya mampu mengembangkan kemampuan berfikir logis yang dipandang tidak lagi akomodatif untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompleks.
Paradigma lainnya adalah fleksibilita atau regidita. Fleksibilita merupakan salah satu karakteristik pilihan paradigma dalam kehidupan yang semakin kompleks dan yang cepat berubah. Regidita akan menghasilkan kesempitan, keterbatasan dan kesesatan. Dalam regidita, segala sesuatu selalu ditangkap secara pasti, bukan sampai guru-guru, yang namanya kurikulum itu resep, harus begitu karena regidita menggambarkan kematian (Djohar 1998).
Ketiga, tuntutan akan pewujudan SDM modern-religius. Strategi untuk mewujudkan pendidikan Islam, dapat dilihat melalui beberapa pendekatan, yaitu segi kelembagaan, substansi dan proses. Paradigma proses pendidikan yang diharapkan memenuhi tuntutan pendidikan Islam telah diajukan beberapa alternatif. Paradigma substansi pendidikan Islam telah disampaikan di atas, yakni mengandung muatan untuk menumbuhkan kemampuan iptek yang sekaligus diwarnai oleh internalisasi nilai-nilai ajaran Islam. Pemikiran substansi diharapkan dapat menghasilkan produk pendidikan Islam yang bisa mengambil peran dalam iptek.
Sedangkan untuk menentukan bentuk kelembagaan pendidikan yang sekarang melalui dimensi pemikiran pendidikan Islam yang telah diuraikan di atas, khususnya dari dimensi pemikiran yang paling akomodatif untuk menghasilkan SDM yang memiliki kriteria di atas, yang mampu berperan sebagai penghasil iptek, menampilkan internalisasi nilai-nilai Islami dan sekaligus mampu mewujudkan masyarakat yang menampilkan tingkat peradaban manusia modern.
 

D.      Penutup

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam memiliki harapan yang besar untuk melahirkan SDM unggul dan menciptakan tatanan sosio relgius modern. Untuk menggapai harapan tersebut perlu sebuah mindset yang utuh dalam memandang pendidikan Islam. Bahwa pendidikan Islam tidak identik hanya menyelenggarakan pendidikan tauhid, fiqih, tasawuf dan tarikh, melainkan mengajarkan semua pengetahuan baik yang bersumber pada ayat qauliyah (al-qur’an dan hadits) maupun dari ayat kauniyah (pemikiran logis, eksperimen dan observasi pada alam semesta).
Pendidikan Islam juga memiliki peluang untuk mengubah sebuah peradaban menjadi lebih modern dan maju. Sebab, sesuai misi Islam bahwa pendidikan Islam harus dapat mengawinkan antara dimensi duniawi dengan ukhrawi. Masalah dunia memerlukan ilmu pengetahuan alam dan sosial yang dapat dikembangkan menjadi beberapa fokus kajian bidang ilmu, sementara masalah ukhrawi memerlukan ilmu agama yang bersumber pada pokok ajaran al-Qur’an, hadits dan ijtihad.
Kalau orientasi pendidikan Islam mampu menjadikan kedua wilayah itu (duniawi dan ukhrawi) sebagai misi dan tujuan utama, maka peradaban unggul dan modern akan mudah diraih. Yaitu pendidikan Islam yang mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang memiliki kekokohan spiritual, keagungan akhlak, keilmuan yang mantap dan keahlian yang profesional.
 Mujtahid, M.Ag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar