STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 25 Juni 2012

TINJAUAN PSIKOLOGIS MENGENAI PENDIDIKAN DAN AJARAN AGAMA

BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai masalah kejiwaan manusia, dan didalam dunia pendidikan ilmu psikologi ini digunakan untuk membantu mengenali jiwa anak didik dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor agar dalam proses belajar mengajar semakin lancar. 
Berbicara mengenai hubungan psikologi dengan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan makalah yang akan penyusun bahas begitu sangat erat sekali, karena dengan mempelajari ilmu kejiwaan seorang guru khususnya dapat memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembangan anak didik artinya psikologi digunakan untuk pedoman dalam memberikan materi pendidikan dan pengajaran sehingga yang menjadi tujuan dalam pendidikan dan pengajaran berupa ranah kognitif, afektif dan psikomotor akan mudah tercapai.
  Banyak berbagai buku yang membahas tentang tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan pengajaran secara umum ,akan tetapi dalam pembahasan makalah ini penyusun akan berusaha mengkhususkan kembali pembahasan yaitu mengenai tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan ajaran agama, oleh karena itu yang dibahas hanya sebatas perkembangan psikologis seseorang dari perkembangan beragamanya, sehingga akhirnya kita ( pendidik / guru ) mudah mencari bahan dan cara pendidikan serta pengajaran yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikologisnya.
Gambaran mengenai pembahasan dalam makalah ini yaitu;
a) Pengertian psikologi, pendidikan dan pengajaran agama.
b) Tinjauan psikologis mengenai perkembangan beragama
c) Cara pendidikan dan pengajaran agama.
Penyusun menyadari dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan akan adanya kritik dan saran,untuk perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya.


BAB II
PEMBAHASAN
TINJAUAN PSIKOLOGI MENGENAI PERKEMBANGAN BERAGAMA
A. Pengertian psikologi, Pendidikan dan Pengajaran Agama.
Sebagaimana halnya Istilah – istilah ilmiah lain, kata psikologi juga merupakan istilah ilmiah yang berasal dari bahasa yunani. Secara etimologis, psikologi berasal dari yunani, yaitu kata psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang berarti “ilmu”. Jadi secara harfiah , psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala – gejala kejiwaan,(Alex, 2003:19), Sedangkan menurut poerbakawatja dan harahap dalam bukunya syah,(2005: 9), “Psikologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala – gejala dan kegiatan jiwa”. Dari pengertian diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa penyelidikan yang dilakukan selain gejala –gejala dalam jiwanya sendiri, termasuk interaksi jiwa dengan lingkungannya.
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia, karena dengan adanya pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia khususnya meningkatkan kedewasaan dan tanggung jawab,.sebagaimana pengertian pendidikan menurut poerbaka watja dan harahap (1981), poerwanto (1985) dan winkel (1991) dalam bukunya syah, ( 2005: 33 ) mereka mengatakan bahwa pendidikan adalah “usaha yang di sengaja dalam bentuk bantuan dan pimpinan dari orang dewasa kepada anak-anak untuk mencapai kedewasaan.” Artinya kedewasaan yang diharapkan itu berupa kedewasaan pemikiran, perilaku dan tingkah laku, biasanya berupa sikap rasa tanggungjawab.
Sedangkan menurut syah ( 2005:10 ) mengartikan pendidikan adalah “sebuah proses dengan metode - metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan pemahaman dan cara tingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan”. Sedangkan apabila dilihat dari arti kata “pendidikan” berasal dari kata “didik” lalu mendapat awalan pe- serta akhiran –an, ini menunjukan kata kerja yang artinya memberi latihan dan memelihara.
Jika kita perhatikan semua pengertian diatas mencakup pengertian pendidikan secara umum, sedangkan bila dilihat dari pengertian pendidikan agama mengandung arti “usaha-usaha sistimatis dan pramatis dalam membantu anak didik agar hidup sesuai dengan ajaran “ (Zuhairini,1983:27 ).
  Dalam dunia pendidikan kita mengenal istilah mendidik artinya “menanamkan tabiat yang baik agar anak – anak ( perasaan ) mempunyai sifat yang baik serta berkepribadian utama.” (zuhairini,1983:30). Oleh karena itu penyusun berkesimpulan bahwa pendidikan agama adalah usaha yang dilakukan secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu sehingga anak didik memperoleh pengetahuaan, pemahaman dan cara tingkah laku sesuai dengan ajaran agamanya serta memiliki kepribadian yang utama.
Dari pengertian di atas kita dapat mengambil beberapa point yaitu:
1. Usaha yang di lakukan secara sistematis artinya memberikan pendidikan dan pengajaran itu harus ada perencanaan /disusun terlebih dahulu.
2. Menggunakan metode tertentu artinya dalam memberikan pendidikan dan pengajaran itu tidak sembarangan tetapi menggunakan metode tertentu sehingga,
3. Memiliki kepribadian utama yang menjadi tujuan akhir yang diharapkan dari adanya pendidikan dan pengajaran itu dapat tercapai.
Disinilah fungsi kita mempelajari ilmu psikologi salah satunya untuk memberikan bantuaan khususnya para pendidik ( guru ) dan para calon pendidik dalam mempersiapkan materi sehingga metode yang digunakan pun tepat sehingga akhirnya tujuan dari pendidikan berupa ranah kognitif, afektif serta psikomotor akan tercapai.
Sedangkan untuk pengertian pengajaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1991 ) berasal dari kata“ajar” yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (di turut) .sementara menurut syah,( 2005: 34 ) pengajaran adalah “sebuah proses pendidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk memudahkan belajar”. Selanjutnya apabila pengajaran dalam kaitannya dengan pengajaran agama adalah “pemberian pengetahuan agama kepada anak supaya memiliki ilmu pengetahuan agama” ( Zuhairini,1983 : 27 ). Didalam pengajaran dikenal pula istilah mengajar artinya “memberikan pengetahuan kepada anak didik agar mereka dapat mengetahui peristiwa – peristiwa, hukum, proses sesuatu ilmu pengetahuan”.(zuhairini,1983 : 30).
Hubungan Pendidikan dan pengajaran merupakan dua hal yang sangat berkaitan dan saling membutuhkan sama halnya sebuah pakaian dengan benangnya. pendidikan itu merupakan pakaiannya dan benang adalah pengajaran, contoh lain seorang guru yang mendidik anaknya dalam bidang agama, maka ia takan terlepas dari upaya pengajaran agama dengan berbagai metode dan cara sesuai dengan kemampuanya. Pengajaran merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan pendidik dalam mendidik anak didik, bila usaha – usaha selain pengajaran amat kurang dilakukan di sekolah kiranya dapat diduga hasil pendidikan tidak akan sempurna, artinya pendidikan tidak akan berhasil dalam mengembangkan anak didik secara utuh dan maksimal. Kita dapat melihat begitu besarnya peran pengajaran dalam dunia pendidikan dalam lingkaran lingkungan pendidikan ( tafsir,1999 : 7 )
  Keterangan : A= lingkungan Pendidikan
A B= usaha pendidikan dalam bentuk pengajaran
  C= usaha dalam bentuk pemberian contoh
  D= usaha dalam bentuk pembiasaan
  E= usaha dalam bentuk lain
Oleh sebab itu apabila ada yang mengatakan bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan dua hal yang berbeda itu adalah suatu persepsi yang sangat keliru. Bahkan di dalam Al – quran yang diturunkan pertama kali Q.s. Al-alaq : 4-5:
...اَ لَّدِى عَلَّمَ بِا اْلقَلَمْ. عَلَّمَ اْلاِنْسنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.
Artinya ;…yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam.dia mengajarkan kepada manusia apa yang di ketahuinya .’’) Depag, 1971:1079 ). Ayat alquran tersebut menjelaskan tentang belajar mengajar yang kedua hal itu tidak akan terlepas dari proses pendidikan serta pengajaran.
B. Tinjauan Psikologi Mengenai Perkembangan Beragama
Setiap manusia itu terlahir dengan fitrah, menurut alquran yang berkaitan dengan fitrah adalah
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلَّدِيْنَ حَنِيْفَََا فَِطَْرَتَ اللِه اَّلتِيْ فَطَرَ الَّناسَ عَلَيْهَا لاَ تََبْدِيْلَ لِخَلْقِ الِله دَلِكَ دِيْنُ اْلقَيِّمُ وَلَكِنْ اَكْثَرَالنَّاسِ لا َيَعْلَمُوْنَ.
‘’ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama allah ; tetaplah atas fitrah allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
fitrah allah maksudnya ciptaan Allah, manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah karena pengaruh lingkungan.
  Kata fitrah tersebut merupakan bentuk masdar dari fathara artinya suci, potensi bertuhanan, keadaan selamat, rasa tulus, watak asli manusia.fitrah memegang posisi urgen dalam pengembangan kualitas manusia, fitrah juga merupakan potensi dasar dalam perkembangan manusia yang berkembang secara menyeluruh dan bersifat dinamis respensif terhadap lingkungannya. Fungsi pendidikan dan pengajaran dibutuhkan untuk memberikan arahan akan potensi dari fitrah tersebut
 Pada umumnya keberagamaan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, pelatihan, yang dilalui pada masa kecil. Seseorang yang pada masa kecilnya tidak mendapatkan pendidikan agama, akan mempengaruhi masa dewasa kelak, boleh jadi ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang yang masa kecilnya berada dalam lingkungan taat beragama, maka dengan sendirinya anak tersebut akan mempunyai kecenderungan hidup dalam aturan agama, dia akan terbiasa melakukan ibadah, takut melanggar aturan –aturan agama, dan dapat merasakan betapa nikmatnya ibadah.
Menurut Dzakariyah Drajat dalam bukunya zuhairini ( 1983: 32 ) bahwa “anak mulai mengenal Tuhan sejak usia 3- 4 tahunan, mereka mulai mengenal Tuhan mereka dengan bahasa dan apa saja yang ada disekitar mereka, sehingga mereka sering bertanya tentang siapa Tuhan dan apapun yang ada disekitar mereka”.
Selain itu juga zuhairini ( 1983: 32 ) menambahkan dengan mengungkapkan berbagai pendapat dari para ahli psikologi bahwa dalam jiwa anak, semenjak kecil mereka telah memiliki perasaan beragama, uraiannya berikut ini :
1. C.G.Yung ; Dalam jiwa manusia itu sudah ada pembawaan beragama atau dalam istilahnya adalah ‘’NATURALITER PELEGEOSA’’.
2. Sigmund freud; Anak-anak semenjak kecil telah memiliki perasaan kepercayaan pada dzat yang maha kuasa, bahkan disaat usia tahun pertama mereka berpendapat bahwa orang tua mereka sebagai Tuhan, karena menurut pandangan mereka orang tua itu sumber keadilan, sumber kasih sayang dan sumber kekuasaan tempat mereka bergantung serta tempat mereka meminta segala keinginan mereka, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya mereka berfikir kalau orang tua mereka itu ternyata memiliki kesalahan-kesalahan. Hal itu membuat timbul keraguan dalam diri mereka dengan apa yang mereka telah gambarkan semula. Disinilah peran orang tua untuk memberikan kesadaran bahwa orang tua mereka itu adalah manusia biasa, yang sering melakukan kesalahan, sedangkan yang maha kuasa dan tidak akan berbuat salah itu adalah Alloh, sehingga dengan demikian kepercayaan anak itu dapat tumbuh dengan benar.
3. Dorothy Wilson; Anak sejak usia 3 tahun telah memiliki kesadaran tentang adanya Tuhan, hal ini dibuktikan berdasarkan penyelidikannya terhadap seorang anak perempuan yang bermain – main boneka, pada waktu boneka itu rusak mereka menganggap kalau boneka itu sedang sakit, disaat sunyi mereka berdoa ’’oh my God’’ dengan harapan baik boneka itu cepat sembuh. Menurut wilson pada saat itu anak berada dalam keadaan absolutnivea artinya anak sadar mengakui akan adanya maha kuasa .Disinilah fungsi lingkungan pendidikan dan pengajaran yang akan memberikan pengaruh besar akan perkembangan akan perasaan ketuhanannya kelak .
4. Rumke mengatakan: Anak sejak kecil telah memilki kesadaran ketuhanan akan tetapi masih sangat lemah, barulah pada saat usia anak tersebut mulai matang atau pubertas kesadaranya akan berkembang dan bertambah kuat. Disi pendidikan dan pengajaran yang harus diberikan terutama disaat belajar PAI guru agama harus memberikan pemahaman lebih, terutama ditekankan agar dalam pelaksanaanya anak tidak hanya sekedar tahu tapi tidak ada pengamalan.
C. Metode / Cara Pendidikan dan Pengajaran Agama
Banyak perbedaan pendapat yang mengatakan bahwa metode denagn cara itu merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada kenyataannya kita lebih sering mengunakan kata metode untuk istilah yang lebih resmi dibandingkan kata cara. Sedangkan penyusun sendiri mengambil kesimpulan bahwa metode dan cara itu merupakan dua hal yang sama.
 Metode adalah menggunakan cara yang paling tepat dan cepat. Dalam memberikan pendidikan dan pengajaran agama pun harus mengunakan metode, sedangkan pengertian dari metode pengajaran agama adalah “cara yang paling tepat dan cepat dalam mengajarkan agama.” Jika kita perhatikan pengertian dari metode, ada dua kata yang dicetak miring yaitu kata cepat dan tepat artinya efisien dan efektif khususnya dalam memberikan pendidikan dan pengajaran agama. Tafsir ( 1999:10 )
 Berikut ini adalah Macam – macam Alat pendidikan dan pengajaran
  Agama yaitu:
1. Alat pengajaran klasikal :Alat yang digunakan bersama – sama antara guru dengan murid. Contohnya papan tulis, kapur dan sebagainya.
2. Alat pengajaran individual : Alat yang digunakan masing – masing baik oleh guru maupun muridnya. Contohnya alat tulis, buku pelajaran, buku pegangan dan lain – lain.
3. Alat peraga : Alat yang digunakan untuk memperjelas dan memberikan gambaran secara nyata mengenai materi yang diajarkan.
Sedangkan untuk metode – metode yang biasa digunakan dalam pendidikan dan pengajaran adalah sebagai berikut:
1. Metode diskusi
2. Metode ceramah
3. Metode tanya jawab
4. Metode tes / uji
5. Metode praktek
6. dan berbagai metode yang lainya.
Bila kita melihat tugas dan fase perkembangan menurut Hurlock dalam bukunya alex ( 2003 : 133 ) yang dimulai dari masa prenetal, itu sudah dilakukan pendidikan. Pendidikan yang biasa dilakukan berupa keteladanan yang di berikan oleh orang tuanya, bahkan disaat hamil pun sebetulnya ia telah belajar menerima pendidikan dari apa yang dilakukan oleh orang tuanya, tahapan yang kedua yaitu masa natal, di usia ini anak mulai diajarkan untuk mengamalkan apa yang ia telah pelajari ( metode praktek ), sehingga pada tahapan.masa remaja anak benar- benar mengamalkan apa yang ia pelajari dengan sungguh- sungguh, dan akhirnya di tahapan dewasa ia bisa menikmati hasil dari apa yang ia pelajari dari masa prenetal berupa pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya sampai usia dewasa, itu bisa dirasakan.


BAB III
KESIMPULAN
Setelah kita bahas mengenai tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan pengajaran agama, penyusun dapat simpulkan sebagai berikut :
1. Setiap manusia itu terlahir dengan fitrah, artinya suci, potensi bertuhanan, keadaan selamat, rasa tulus, watak asli manusia.
2. Pendidikan agama adalah usaha yang dilakukan secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu sehingga anak didik memperoleh pengetahuaan, pemahaman dan cara tingkah laku sesuai dengan ajaran agamanya serta memiliki kepribadian yang utama.
3. pengajaran agama adalah pemberian pengetahuan agama kepada anak supaya memiliki ilmu pengetahuan agama.
4. Hubungan Pendidikan dan pengajaran merupakan dua hal yang sangat berkaitan dan saling membutuhkan, dimana Fungsi pendidikan dan pengajaran dibutuhkan untuk memberikan arahan akan potensi dari fitrah tersebut
5. Keberagamaan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, pelatihan, yang dilalui pada masa kecil.
6. Metode adalah menggunakan cara yang paling tepat dan cepat, artinya efisien dan efektif khususnya dalam memberikan pendidikan dan pengajaran agama.
7. Alat pendidikan dan pengajaran Agama yaitu : Alat pengajaran klasikal, pengajaran individual, Alat peraga.
8. Metode yang biasa digunakan dalam pendidikan dan pengajaran adalah: Diskusi, ceramah, tanya jawab, tes / uji.


DAFTAR PUSTAKA

Mahmud, dkk.1989. Pemikiran pendidikan islam. Bandung : Pustaka Setia.
Syah, muhibbin. 2005. Psikologi pendidikan.Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Sobur, Alex. 2003. Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia.
Zuhairini. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Usaha nasional.
Tafsir. 1999. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung : PT Remaja Rosda karya.
Dewantara. 1962. Pendidikan. Karya Dewantara. Yogyakarta : Majelis ta’lim.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar