STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 25 November 2012

Kajian Hadis Maudlu'i (Tematik) : Kedudukan Ilmu dalam Perspektif Hadis Nabawi

A. Pendahuluan
Bismi-llahi Ar-Rahmani Ar-Rahiim.
Allah SWT memilih Muhammad saw. untuk diriNya, mendidiknya dengan sebaik-baik pendidikan, serta menyempurnakan akhlaknya. Allah menegaskan bahwa ia merupakan pribadi yang benar-benar berbudi pekerti agung (QS. Al-Qalam: 4). Kemudian Dia mengutusnya kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan (QS. Al-Ahzaab: 45-46). Dia mewajibkan atas diri Muhammad saw., sebagaimana apa yang Dia wajibkan atas manusia, untuk taat kepada perintahNya dan mengamalkan KitabNya (QS. Al-Ahzaab: 1-2, Al-An’aam: 106, Al-Jaatsiyah: 18). Dia memerintahkan RasulNya agar wahyu yang diturunkan kepadanya disampaikan kepada manusia (QS. Al-Maa’idah: 67).

Maka Allah memberi kesaksian bahwa ia telah menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan kepada manusia (QS. An-Najm: 1-5, Asy-Syuuraa: 52-53). Dan jika Rasulullah saw. tidak menyampaikan risalahNya atau menyampaikan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan kepada manusia, niscaya Allah akan menghukumnya (QS. Al-Haaqqah: 44-47). Allah juga memerintahkan kepadanya agar menjelaskan maksud-maksud Al-Qur’an yang samar kepada manusia dan menerangkan cara-cara melaksanakannya (QS. An-Nahl: 44 dan 64).
Demikianlah Allah menyiapkan RasulNya untuk mengemban misi risalahNya, kemudian Dia memerintahkan manusia untuk taat kepada RasulNya beserta taat kepadaNya (QS. Al-Anfaal: 20, Al-Ahzaab: 36, An-Nisaa’: 69, Al-Hasyr: 7, An-Nisaa’ 65, An-Nuur: 63). Kemudian Allah menetapkan bahwa taat kepada RasulNya berarti taat kepadaNya (QS. Al-Fath: 10, An-Nisaa’: 80).
Amma ba’du, berdasarkan keterangan yang disarikan dari berbagai penegasan ayat Al-Qur’an di atas, jelaslah bahwa Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran agamaNya. Sunnah RasulNya, baik yang berbentuk perkataan maupun perbuatan, merupakan penjelasan bagi hukum-hukum Al-Qur’an, rincian terhadap firman-firman yang masih umum dan petunjuk bagi pelaksanaannya.
Keterangan di atas menegaskan bahwa dalam pribadi Muhammad saw. terdapat jiwa seorang Nabi, Rasul, guru, da'i, dan sekaligus tokoh panutan. Pribadi yang sempurna ini tentu saja mempunyai perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan, sebagaimana Al-Qur’an mempunyai perhatian besar terhadap hal tersebut.
Tulisan ini hendak mencoba menjelaskan perhatian Nabi Muhammad saw. terhadap ilmu pengetahuan dengan menggunakan pendekatan metode kajian hadits maudlu’i (tematik).

B. Metodologi Kajian Hadits Maudlu’i
Metode kajian hadits maudlu’i yang dimaksud di sini adalah suatu bentuk rangkaian kajian hadits yang struktur paparannya untuk dijadikan acuan pada tema tertentu. Tema-tema ini ditentukan oleh pengkaji yang bersangkutan, untuk menggali visi Nabi Muhammad saw. mengenai tema yang dimaksud.
Dalam model penyajian hadits maudlu’i ini, pengkaji hadits biasanya berusaha mengumpulkan beberapa hadits yang dipandang terkait dengan suatu tema kajian yang dipilih. Dari sisi hadits yang dijadikan obyek kajian, cakupannya bersifat spesifik. Itu sebabnya, model kajian hadits maudlu’i yang sebenarnya lebih bersifat teknis ini, mempunyai pengaruh pada proses kajian hadits yang bersifat metodologis. Salah satu kelebihan kajian hadits maudlu’i adalah membentuk arah kajian menjadi fokus dan memungkinkan adanya penjelasan terhadap bagaimana visi Rasulullah saw. terhadap bidang yang dikaji secara komprehensif dan holistik, yang dalam tulisan ini mengangkat tema tentang ilmu. Kajian ini membatasi hadits-hadits yang terdapat pada Al-Kutub At-Tis'ah, yakni: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Muwaththa' Malik, Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa'i, Sunan Ibnu Majah dan Sunan Ad-Darimi.
Meskipun tidak dapat dijadikan representasi dari hadits-hadits yang bertemakan ilmu yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut, karena memang tema ilmu tidak dapat terakomodasi semua, namun visi hadits nabawi tentang ilmu diharapkan dapat dideskripsikan dalam makalah ini.

C. Hadits-hadits Nabawi dan Kedudukan Ilmu dalam Islam
Rasululullah saw. menjadikan kegiatan menuntut ilmu syari'ah, yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin untuk menegakkan urusan-urusan agamanya, sebagai kewajiban yang fardlu 'ain bagi setiap Muslim. Ilmu yang fardlu ain yaitu ilmu yang setiap orang yang sudah berumur aqil baligh wajib mengamalkannya yang mencakup; ilmu aqidah, mengerjakan perintah Allah, dan meninggalkan laranganNya. (Al-Ghazali, tt: juz 1: 15)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: Dari Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw bersabda: Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim ( Ibnu Majah, tt: juz 1: 81).
Kata Al-'Iraaqi: "Menurut Ahmad bin Hanbal, Al-Baihaqi dan ulama lain, hadits ini dla'if". Namun kata As-Suyuthi: "Meskipun banyak ulama me-dla'ifkan hadits ini, tapi Al-Mazzi berpendapat hadits ini hasan. Alasan Al-mazzi: Karena hadits ini mempunyai banyak jalur, sehingga validitasnya naik menjadi hasan" (As-Suyuthi, tt: juz 1: 149, juz 2: 174). Catatan Al-'Ajaluuni berikut ini mendukung As-Suyuthi: " Kata Al-Mazzi: Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalur hingga naik derajatnya menjadi hadits hasan. Ibnu Al-Jauzi mencantumkan hadits ini dalam kitab Minhaaj Al-Qaasidiin dari jalur Abu Bakar bin Dawud, seraya menyatakan, tidak ada riwayat hadits thalab al-ilmi fariidlah, yang lebih shahih dari jalur ini" (Al-'Ajaluuni, 1405: juz 2: 57).

Adapun ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin dalam kehidupan mereka termasuk fardlu kifayah. Artinya seluruh kaum Muslimin akan berdosa jika tidak ada seorang pun di antara mereka yang menekuni suatu jenis ilmu, padahal mereka membutuhkannya. Mereka tidak terbebas dari dosa, sehingga ada salah satu di antara mereka memenuhi kewajiban itu. (Al-Ghazali, tt: juz 1: 14)
Rasulullah saw. memotivasi kepada para sahabatnya tidak hanya terbatas pada menuntut ilmu agama yang terkait dengan syari'ah. Beliau juga menyeru mereka menuntut ilmu dan keahlian lain yang bermanfaat bagi kaum Muslimin, yaitu ilmu yang hukum menuntutnya fardlu kifayah. Oleh karenanya, Nabi juga memotivasi sebagian sahabat untuk selalu belajar memanah yang waktu itu sangat diperlukan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ تَعَلَّمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَقَدْ عَصَانِي
Artinya: Dari 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa belajar memanah kemudian meninggalkannya, maka ia telah durhaka kepadaku. (Ibnu Majah, tt: juz 2: 940). Muslim, An-Nasa'i, Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi meriwayatkan hadits ini dengan redaksi yang berbeda (Lihat, Muslim, tt: juz 3: 1522, An-Nasa'i, 1986: juz 6: 222, Abu Dawud, tt: juz 3: 13, Ahmad, tt: juz 4: 148, Ad-Darimi, 1407: juz 2: 269).

Ketika Rasulullah saw. pertama kali datang ke Madinah, Zaid bin Tsabit ra. diajak kaumnya untuk bertemu beliau. Lalu Zaid diperkenalkan kepada Rasulullah sebagai anak muda belia Bani Najjar yang telah membaca tujuh belas surat Al-Qur'an. Setelah mendengar bacaan Zaid, Nabi sangat mengaguminya dan memerintah Zaid untuk belajar bahasa Yahudi. (Al-Asqalaani, 1992: juz 2: 592)
عَنْ زَيْدِ ابْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتٍ مِنْ كِتَابِ يَهُودَ قَالَ: إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي قَالَ: فَمَا مَرَّ بِي نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ: فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ.
Artinya: Dari Zaid bin Tsabit ra. berkata: Rasulullah saw. memeritahku untuk belajar beberapa bahasa dari tulisan Yahudi. Sabda Nabi saw.: Sesungguhnya aku, demi Allah! Tidak yakin bangsa Yahudi (memahami) atas tulisanku. Kata Zaid: Maka tidak lebih setengah bulan aku telah (berhasil) mempelajarinya. Kata Zaid: Saat aku telah mempelajarinya, jika Nabi menulis untuk orang Yahudi, akulah yang menulisnya untuk mereka, dan jika mereka menulis kepada Nabi, akulah yang membacakan tulisan-tulisan mereka. (At-Tirmidzi, tt: juz 5: 67, Abu Dawud, tt: juz 3: 318, Ahmad, tt: juz 5: 186)
Kata Abu Isa (At-Tirmidzi): "hadits ini hasan, shahih, dalam riwayat lain disebutkan:
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ
Artinya: Dari Zaid bin Tsabit ra. berkata: Rasulullah saw. memerintahku untuk mempelajari bahasa Suryani”. (At-Tirmidzi, tt: juz 5: 67)

Bahasa Suryani adalah bahasa asli Kitab Injil, sedangkan bahasa Ibrani adalah bahasa asli Kitab Taurah (Al-Mubaarakfuuri, tt: juz 10: 412). Hadits di atas menunjukkan pentingnya mempelajari bahasa-bahasa asing, selama bahasa tersebut bermanfaat bagi umat Islam. Hukum mempelajari bahasa asing yang bermanfaat ini termasuk kategori fardlu kifayah, dengan berdasar bahwa tidak semua sahabat Nabi diperintahkan untuk mempelajarinya.
Selain itu Rasulullah saw. menjadikan ilmu termasuk sesuatu yang harus menjadi cita-cita manusia dan harus menjadi ajang perlombaan, karena semakin banyak orang berilmu, kehidupan di dunia ini akan menjadi semakin baik.
عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ, وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Artinya: Dari Abdullah bin Mas'ud ra. berkata: Nabi saw bersabda: Tidak boleh hasud (iri), kecuali pada dua hal: orang yang dikaruniai harta benda oleh Allah kemudian ia menggunakan hartanya sampai habis dalam kebaikan, dan orang yang dikaruniai hikmah (ilmu) oleh Allah kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya. (Al-Bukhari, 1987: juz 1: 39, Muslim, tt: juz 1: 558, Ibnu Majah, tt: juz 2: 1408 dan Ahmad, tt: juz 1, 385, 433 ).

Yang dimaksud hasud dalam hadits ini adalah al-ghibthah, yaitu menginginkan nikmat yang sama dengan orang lain. Jika yang dinginkan persoalan duniawi hukumnya mubah, sedangkan jika persoalan ketaqwaan dan ketaatan hukumnya dianjurkan (mustahabbah). Jika hasud yang dimaksud adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain dengan harapan berpindah menjadi miliknya, ulama sepakat hukumnya haram dengan dasar-dasar yang ditegaskan Al-Qur'an dan Hadits (An-Nawawi, 1392 H: Juz 6: 97).
Pada hakikatnya manusia yang menjadikan ilmu sebagai cita-citanya dan berlomba-lomba untuk meraihnya, ia telah merintis jalan yang memudahkannya menuju ke surga.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah memudahkan baginya jalan ke surga" (Muslim, tt: juz 4: 2074, At-Tirmidzi, tt: juz 5: 28, 195, Ahmad, tt: juz 2, 252, Ibnu Majah, tt: juz 1: 82 dan Ad-Darimi, 1407: juz 1: 111).

Dalam menjelaskan hadits ini, An-Nawawi mengingatkan bahwa keutamaan saat bepergian mencari ilmu didapatkan seseorang, jika kesibukannya pada ilmu-ilmu syari'ah dan bertujuan kepada Allah. Meskipun pada dasarnya hal ini merupakan prasyarat yang mutlak dalam setiap ibadah, para ulama punya kebiasaan mengingatkannya, karena sebagian orang sering bersikap gegabah dalam mencari ilmu. Lebih-lebih anak-anak muda yang sedang mencari ilmu, mereka sering melupakan tujuan dan niat (An-Nawawi, 1392: juz 17: 21).
Bahkan Rasulullah mengkategorikan orang yang meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu mempunyai kedudukan yang sangat terhormat, sebagai pejuang di jalan Allah.
عَنْ أَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ.
Artinya: Dari Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali (At-Tirmidzi, tt: juz 5: 29). Kata At-Tirmidzi: "Hadits ini hasan, gharib".

Di saat kaum Muslimin melakukan kegiatan belajar bersama, Allah menurunkan sakinah (ketenangan) kepada mereka, memberi rahmat yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, dan para malaikat senantiasa mengelilingi mereka dan menyebut mereka sebagai orang yang mendapat ridla di sisi Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Artinya: Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda: tidak berkumpul kaum (Muslimin) dalam suatu rumah Allah (masjid) seraya membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali mereka mendapatkan sakinah (ketenangan), dipenuhi oleh rahmat (kasih-sayang) dan para malaikat mengelilingi dan menyebut mereka di dalam golongan orang-orang yang berada di sisiNya. (Muslim, tt: juz 4: 2074, Abu Dawud, tt: juz 2: 71, Ibnu Majah, tt: juz 1: 82).

Keutamaan ilmu di sisi Allah SWT dapat kita simak pada awal mula penciptaan manusia. Para malaikat diperintahkan Allah untuk bersujud (menghormat) kepada Adam, karena Adam mampu menceritakan nama-nama (ilmu) yang diajarkan Allah dan malaikat tidak mempunyai kemampuan untuk itu (lihat, Al-Baqarah: 30-34). Oleh karena keutamaan ilmu, ada di antara malaikat yang bertugas menaungi orang-orang yang mencari ilmu dengan sayap-sayapnya.
عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ الْمُرَادِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلَائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ
Artinya: Dari Shafwaan bin 'Assaal Al-Muraadii ra. berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak seorang pun keluar dari rumahnya untuk mencari ilmu, kecuali para malaikat menaungi dengan sayap-sayapnya, karena suka dengan yang ia kerjakan. (Ibnu Majah, tt: juz 1: 82, Ahmad, tt: juz 4: 239, Ad-Darimi, tt: juz 1: 1407)

Demikian tingginya kedudukan ilmu, sehingga penuntutnya untuk kepentingan agama disejajarkan kedudukannya dengan nabi-nabi. Kelak di surga mereka berkumpul dengan para nabi-nabi Allah.
عَنِ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَاءَهُ الْمَوْتُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَبَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّينَ دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
Artinya: Dari Al-Hasan berkata: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa meninggal dunia di saat sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia masuk surga dalam satu tempat dengan para nabi-nabi (Ad-Darimi, 1407: juz 1: 112). Kata Al-'Iraaqi: "Ada perbedaan pendapat tentang hadits di atas mengenai siapa sebenarnya Al-Hasan yang meriwayatkan Hadits ini, jika Al-Hasan yang dimaksud adalah Al-Hasan bin Ali, maka hadits ini marfu' kepada Rasulullah dengan sanad yang muttashil. Jika yang dimaksud adalah Al-Hasan bin Yasaar Al-Basri, maka hadits ini mursal". (Al-'Iraaqi, tt: juz 1: 10).

Rasulullah saw. membuat perumpamaan antara orang yang mau menenerima ilmu dan tidak mau menerimanya. Nabi mengibaratkan yang pertama seperti tanah yang berguna bagi manusia, sedangkan yang kedua seperti tanah yang mandul yang tidak berguna.
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ, كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا, فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ, وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا, وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً, فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ, وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
Artinya: Dari Abu Musa Al-Asya'ari ra. dari Nabi saw.: perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diperintahkan Allah kepadaku ialah seumpama hujan lebat yang jatuh ke tanah. Diantara tanah itu ada tanah yang bagus yang menerima air, maka ia menumbuhkan tanaman dan rumput yang banyak, dan ada tanah keras yang menampung air, maka Allah memberinya kegunaan bagi manusia untuk minum dan mengairi dan menanam. Dan ada pula yang jatuh ke tanah lain, yaitu tanah datar yang licin, yang tidak dapat menampung air dan tidak menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan apa yang diperitahkan Allah kepadaku berguna baginya, maka ia tahu dan mau mengajarkannya, dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak peduli dan tidak menerima pentunjuk Allah yang diperintahkan kepadaku. (Al-Bukhari, 1987: juz 1, 42, Muslim, tt: juz 4: 1787, Ahmad tt, Juz 4, 399)

Oleh karenanya orang yang mau bersungguh-sungguh belajar ilmu agama sampai ia memahaminya menjadi pertanda bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada dirinya.
عَنِ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.
Artinya: Dari Ibnu Abbas ra., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang dikehendaki Allah kepada kebaikan, niscaya Dia memahamkannya dalam urusan agama. (Al-Bukhari, 1987: juz 1, 39, Muslim, tt: juz 2: 718, At-Tirmidzi, tt: juz 5: 28, 195, Ahmad, tt: juz 1, 306, Ibnu Majah, tt: juz 1: 80 dan Ad-Darimi, 1407: juz 1: 85, Malik, tt: juz 2: 900). Kata At-Tirmidzi: "Hadits ini diriwayatkan pula oleh Umar bin Al-Khaththaab, Abu Hurairah dan Mu'awiyah, hadits ini hasan, shahih".

Kebaikan akan didapatkan seseorang, manakala dalam mencari ilmu disertai dengan tujuan dan niat yang positif dan bermanfaat bagi manusia dan kehidupan, atau dalam bahasa agamanya, dengan tujuan yang tulus karena Allah. Nabi Muhammad saw. sangat mencela dan melarang penuntut ilmu yang hanya untuk tujuan popularitas, kekuasaan dan kemegahan duniawi.
عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِتَصْرِفُوا وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْكُمْ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَهُوَ فِي النَّارِ
Artinya: Dari Hudzaifah ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian mencari ilmu untuk menyombongkan diri kepada ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan muka manusia kepada kalian. Barangsiapa melakukan itu, ia masuk neraka (Ibnu Majah, tt: juz 1: 96). Kata Al-'Iraaqi: "Hadits ini dari Jabir bin Abdullah sanadnya shahih".(Al-'Iraaqi, tt: juz 1: 59).

Al-Hasan bin Ali mengingatkan: "Siksaan atas seorang yang berilmu, disebabkan oleh hatinya yang mati, dan hati yang mati disebabkan mencari keuntungan duniawi dibungkus dengan amal akhirat".
Oleh karenanya Yahya bin Mu'adz mengatakan: "Wibawa ilmu dan hikmah niscaya hilang, jika keduanya digunakan mencari dunia".
Bahkan Sa'id bin Al-Musayyab menegaskan: "Jika kalian melihat seorang berilmu mengitari penguasa, maka ia adalah pencuri".
Umar Bin Al-Khaththab berkata: "Jika kalian melihat orang berilmu suka kehidupan duniawi, maka waspadalah untuk agama kalian. Karena orang yang mencintai akan tenggelam di dalamnya". (Al-Ghazali, tt: juz 1: 60)
Dengan demikian, mencari ilmu yang bermanfaat harus menjadi tujuan bagi setiap manusia, dan hendaknya kita senantiasa berdo'a agar mendapatkannya. Rasulullah saw. banyak memanjatkan do'a demikian kepada Allah.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
Artinya: Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. berdoa: Ya Allah aku mohon perlindungan kepadamu dari empat perkara; dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari hati yang tidak khusyu', dan dari jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak didengar. (Abu Dawud, tt: juz 2: 92, An-Nasa'i, 1986: juz 8: 284, Ibnu Majah, tt: juz 2: 1261). Menurut Al-Hakim, hadits ini shahih. (Al-Hakim, 1990: juz 1: 185).

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Artinya: Dari Ummu Salamah ra, bahwasanya Rasulullah saw ketika shalat subuh, setelah salam membaca: Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik dan amal yang diterima. (Ahmad: juz 6: 322, Ibnu Majah: juz 1: 298)

Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. memerintahkan agar kita senantiasa memohon kepada Allah agar diberi ilmu yang bermanfaat.
عَنْ جَابِرٍ ابْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَلُوا اللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Artinya: Dari Jabir bin Abdullah ra. berkata: Rasulullah saw bersabda: Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat. (Ibnu Majah: juz 2: 1263) Kata Al-Haytsami: "Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ath-Tabraani dalam kitab Al-Awsath, sanad hadits ini hasan". (Al-Haytsami, 1407: juz 10: 182)

Sedemikian tingginya kedudukan ilmu dalam Islam, sehingga Rasulullah saw. menyebut ilmu termasuk tiga hal yang pahalanya tidak terputus setelah pemiliknya meninggal dunia.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.
Artinya: Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Ketika seseorang meninggal dunia maka akan terputuslah amalnya, kecuali tiga hal; kecuali sedekah jariah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakan kepadanya. (Muslim, tt: juz 3: 1255, At-Tirmidzi, tt: juz 3: 660, Ad-Darimi, 1407: juz 1: 148, Abu Dawud, tt: juz 3: 117, An-Nasa'i, 1986: juz 6: 251, Ahmad, tt: juz 3: 372).
D. Penutup
Demikianlah kedudukan ilmu dalam perpektif hadits nabawi. Rasulullah saw. semenjak terutus menjadi Nabi selalu mengingatkan para sahabat dan umatnya untuk selalu menuntut ilmu dan memberi penghargaan yang besar bagi para penuntut ilmu. Namun Rasulullah saw. juga mengingatkan agar mencari ilmu tetap harus dalam koridor mengharapkan ridla Allah SWT. Hanya ilmu yang bermanfaat di akhirat dan dunia yang menghasilkan RidlaNya. Manfaat ilmu hanya didapatkan jika disertai dengan niat dan tujuan baik dan benar ketika menuntutnya. Dengan niat baik dan benar, ilmu yang diperoleh diharapkan bermanfaat dan pahalanya tetap mengalir, meskipun pemiliknya telah meninggal dunia, sebagamaimana janji Rasulullah saw.
Sekarang persoalannya dikembalikan kepada pribadi masing-masing.
Al-Hamdu li-llahi Rabi al-alamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar