STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 29 November 2012

KONSEPSI AL-GHOZALI TENTANG ADAP MURID DAN GURU DALAM KITAB IHYA’ ULUMUDDIN JUZ I

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam pandangan islam,orang yang paling bertanggung jawab dalam perkembangan anak adalah orang tua,anak adalah bagian aset orang tua yang terpenting yang harus dirawat dan dijaga selama-lamanya.agama islam juga memandang pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam mengembangkan dan mengubah diri manusia.untuk itu, kewajiban terpenting bagi orang tua terhadap anaknya adalah pendidikan,hal ini melibatkan beragam usaha dalam pengertian bahwa seluruh sikap dan tingkah laku orang tua harus diarahkan untuk memberikan pendidikan kepada anak secara tepat dan benar.jadi, anak adalah merupakan wujud dari sikap dan prilaku orang tua,namun bila orang tua tidak ada waktu dalam memberikan pendidikan kepada anaknya,maka wajiblah orang tua memasrahkan kapada orang lain untuk mendidik anaknya,dalam hal ini adalah guru.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada 3(tiga) komponen yang tidak dapat dipisahkan diantara pendidikan bagi anak,yaitu Murid, Guru, dan orang tua. Dikatakan bahwa guru adalah Abu al-ruh atau abu fi ad-din bagi murid. Sedangkan orang tua adalah Abu al jasad bagi murid itu sendiri. Artinya bila seorang murid hendak mendapatkan ilmu manfaat derajat kemuliaan diakhirat, maka hendaknya berbakti sepenuhnya kepada guru,dan bila hendak mendapatkan kelapangan rizki maka hendaknya berbaktilah sepenuhnya kepada orang tua.[1]
Guru adalah wakil dari orang tua,yang telah memasrahkan kepadanya dan juga merupakan faktor terpenting atas berhasil dan tidaknya murid dalam menekuni pendidikannya,karenanya guru juga ikut bertanggung jawab dalam mengoptimalkan upaya perkembangan seluruh potensi murid,baik potensi kognitif,psikomotorik, maupun afektif. Sesuai dengan nilai-nilai islam. Sehingga selain sebagai pengajar, guru juga sebagai pendidik yang bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi murid dapat teraktualisasikan secara baik dan dinamis.[2]
Islam sangat menghormati dan menghargai orang-oramg yang mengemban amanat dalam nasyri ilmi,dalam hal ini adalah guru, karena guru harus mampu dan berusaha sekuat tenaga dalam mencapai keberhasilan anak didiknya yang beriman menurut ukuran-ukuran moral dan etis. Selain guru, murid juga merupakan faktor penting dalam dunia pendidikan, tanpa murid maka tidak akan terlaksana proses pendidikan. Banyak terjadi pada masa lalu,alur dari pengembaraan pencarian ilmu yang tidak dapat dirasakan apalagi diserap dan diamalkan, hanya karena tidak tahu jalan untuk mendapatkan ilmu tersebut dan salah satu jalan untuk mendapatkan sebuah ilmu adalah membina hubungan, terlebih dalam adap dan tata krama antara murid dan guru.
Etika atau adap maupun tata krama adalah istilah yang sama, untuk dipahami dan diresapi juga diamalkan oleh murid terhadap gurunya dan guru terhadap muridnya, apalagi di era globalisasi ilmu pengetahuan dan tehnologi berkembang sangat cepat dan hal ini juga menimbulkan perubahan-perubahan yang sangat cepat pula, dimana banyak dampak negatif terhadap murid, yang dalam hal ini murid sudah berani meninggalkan etika terhadap gurunya. Satu contoh murid sudah berani menyamakan guru pada posisi temannya dan banyak murid yang meremehkan gurunya. Sebaliknya pada masa sekarang tidak sedikit guru yang memberika hukuman terhadap muridnya, berbuat tidak senonoh dan sebagainya, padahal bila guru kencing sambil berdiri, maka murid akan kencing sambil berlari dan yang perlu kita ingat bahwa guru harus dapat digugu dan ditiru.[3]
Untuk itu seorang guru harus dapat melaksanakan wadzifahnya dengan baik, selain penguasaan bahan dan materi seorang guru harus dapat dibuat contoh dan suri tauladan anak didiknya. Atas dasar tersebut banyak ahli pikir salaf membahas tentang etika murid dan guru dalam mencapai kesuksesan pembelajaran. Salah satunya Hujjah Al-Islam Imam Ghozali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Dalam konteks ini, maka mencernati, memahami, dan mengevaluasi pemikiran al-Ghozali tentang adap murid dan guru adalah menarik untuk dibahas.

B.     PENEGASAN ISTILAH
Agar dapat dipahami dengan baik dan tidak mengaburkan pembahasan, maka kiranya penulis berikan batasan dan penegasan istilah yang akan dipakai dalam skripsi tentang pemikiran Al-Ghozali tentang Adap Murid dan Guru Dalam Kitab Ihya’ Al-Ulumuddin juz I.
1.      Al-Ghozali
Al-Ghozali adalah salah satu ulama’ klasik yang hidup antara tahun 450-505 / 1058 – 1111 M. Beliau mempunyai nama lengkap Al-Imam Zainuddin Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghozali Ath-Thusi An-Naisaburi Al Faqih Ash-Shufi Asy-Syafi’ Al-Asy’ari.[4]
2.      Adap Murid
Dalam kamus bahasa Indonesia terbaru, Adab adalah kesopanan.[5] Sedangkan yang dimaksud adap murid disini adalah etika atau yang harus dimiliki oleh seorang murid atau siswa peserta didik yang menimba ilmu-ilmu agama atau yang belajar di lembaga-lembaga pendidikan islam.
3.      Guru
Dalam bahasa indonesia terbaru, guru adalah orang yang kerjanya mengajar.[6] Sdangkan yang dimaksud guru disini adalah orang yang mengajar ilmu-ilmu agama islam di lembaga-lembaga pendidikan islam.
4.      Kitab Ihya’ Al-Ulumuddin
Adalah salah satu kitab karya imam Al-Ghozali, yang menjelaskan beberapa hal , antara lain hal ibadah, adab mu’amalat,  ilmu, munjiyat, hikmah, pendidiksn dan yang lainya secara lengkap.[7]

Jadi yang penulis maksud dengan judul “konsepsi Al-Ghozali Tentang Adap Murid dan guru dalam kitab ihya’ ulumuddin juz I” adalah etika seorang guru dan murid dalam  proses belajar mengajar.dimana keberhasilan suatu pembelajaran itu tergantung bagaimana membina hubungan antara guru dan murid, terlebih terhadap adap dan tata krama diantara keduanya, maka hal ini akan ditemukan gambaran secara utuh dan komprehensif tentang konsep dan pemikiran Al-Ghozali berkaitan dengan adap murid dan guru dalam proses belajar mengajar tersebut dalam kitab karangannya yaitu kitab ihya’ ulumuddin.

C.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, maka pokok masalah yang mucul adalah sejauh mana hubungan murid dan guru hingga dapat menghasilkan ilmu yang dapat dirasakan dan dinikmati baik di dunia maupun di akhirat, juga oleh guru dalam mentransfer ilmu dapat diterima murid dengan baik ,hingga dapat mengamalkannya. Menurut Imam Ghozali, untuk mencapai jawaban atas pokok masalah tersebut, maka pertanyaan dibawah ini perlu diangkat sebagai sarana untuk menjawab pokok masalah tersebut, yaitu sebagai berikut :
1.      Bagaimana konsep adap murid menurutimam Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1?
2.      Bagaimana konsep adab guru menurut imam Al-Ghozali Ihya’ Ulumuddin Juz 1?
3.      Apa relevansi konsep adap murid dan guru dalam pencapaian belajar mengajar dewasa ini di indonesia, terutama dalam nilai-nilai adab ?

D.    TUJUAN  PENELITIAN
Adapun yang menjadi tujuan penelitan dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk memahami konsep adap murid menrut Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1.
2.      Untuk memahami konsep adap guru menurut Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1.
3.      Untuk menemukan relevansi konsep adap murid dan guru menurut al-Ghozali dengan pendiikan adap di indonesia saat ini.

E.     MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat atau kegunaannya,anatara lain :
1.      Secara teoritik, dapat menyumbangkan khazanah intelektual islam khususnya dalam pendidikan islam
2.      Secara praktis, dapat memberi wawasan dan pedoman bagi para peserta didik, baik murid maupun guru dalam rangka mencari pola hubungan yang ideal berbasis adab islami.

F.     METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah :
1.      Jenis dan pendekatan penelitian
Jenis penelitian ini merupakan library research (penelitian pustaka), yaitu suatu uasaha untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan serta menganalisis suatu permasalahan melalui sumber-sumber kepustakaan, penulis menggunakan study kepustakaan atau library research ini dimaksudkan untuk memperoleh dan menela’ah teori-teori yang berhubungan dengan topik dan sekaligus dijadikan sebagai landasan teori.[8]
Sebagai penelitian yang bercorak analisis kritis terhadap pemikiran seorang tokoh, maka penelitian ini menggunakan pendekatan historis atau pendekatan sejarah, yaitu penyelidikan yang kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan-perkembagan, serta pengalaman dimasa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut,[9] sehingga setting sosial intelektual  dimana ia hidup (dalam hal ini pemikiran Al-Ghozali tentang adap murid dan guru ) menjadi faktor penting dalam penelitian ini.
2.      Sumber data
Jenis penelitian ini adalah library research (penelitian pustaka), maka data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka adalah berupa sumber data primer dan  sumber data sekunder, yaitu sebagai berikut :
a.       Sumber data primer
data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengambilan data langsung pada subjek informasi yang di cari.[10] sumber data primer dalam penelitian ini meliputi satu kitab yakni : kitab ihya’ ulumuddin, juz awal, rubu’ pertama, bafian al-ilm,bab khomis, tentang adap murid dan guru, hal 43-52, karya Hujjah AL –islam Abu Hamid Al-Ghozali.
b.      Sumber data skunder
data skunder adalah data yang di peroleh dari pihak lain, tidak langsung dari subjek penelitiannya, tetapi dapat mendukung atau berkaitan dengan tema yang diangkat.[11] Dalam penelitian ini data skundernya adalah antara lain :Ta’limul mutallim karya Syeh Az-Zarnuji,Syarah Ta’limul Muta’alim karya Syeh Ibrahim Bin Ismail,Adabul ‘Adim Wal Muta’allim karya Syeh Hasyim Asy’ari,Ad-Durroh Al-Mafakhiroh,Ithaf as-Sadah al –Muttaqin,Ayyuhal Walad al-Mhib karya Al-Ghozali,Tokoh-tokoh pendidikan islam di zaman jaya karya H. Nasruddin Thoha dan yang lainnya.
3.      Tehnik pengumpulan data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan, dalam hal ini akan selalu ada hubungan antara tehnik pengumpulan data dengan masalah penelitian yang ingin di pecahkan.pengumpulan data tak lain adalah suatu proses pengadaan data untuk keperluan penelitian.
Adapun cara pengumpulan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan tehnik dokumenter,tehnik dokumenter merupakan cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis,seperti arsip-arsip,dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian,[12] yakni penulis mengumpulkan buku-buku yang yang ada hubungannya dengan pembahasan penulisan skripsi, dalam hal ini adalah  kitab ihya’ ulumuddin juz I sebagai sumber utama,penelitian kepustakaan dengan menganalisa terhadapnya dan sumber lain yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pembahasan, yaitu adab murid dan guru menurut pandangan Al-Ghozali dalam kitab ihya’ uluddin juz I.
4.      Tekhnik  Analisis Data
Dalam analisis data, penulis menggunakan metode diskriptif analisis yaitu, suatu usaha untuk mengumpulkan data dan menyusun data kemudian diusahakan adanya analisis dan interpretasi atau penafsiran terhadap data tersebut.[13] Dalam hal ini dimaksudkan untuk membuka pesan yang terkandung dalam bahasa teks, terutama kitab ihya’ ulumuddin bagian bab adab al-alim wal mutaaliim.
Selanjutnya untuk mengkaji relevansi konsep adap hubungan murid dan guru menurut Al-Ghozali dengan pendidikan moral dan etika di indonesia saat ini, dilakukan analisis komparasi atau perbandingan yaitu, membandingkan terhadap beberapa segi : data lain, situasi lain, dan konsepsi filosofi lain.[14] Untuk membandingkan antara konsep etika tersebut dengan kondisi pendidikan di indonesia saat ini.



Jepara,07 November 2011
peneliti


                                                                                  


[1]  AL-Zarmuji,Ta’limul muta’allim (Semarang, Usaha Keluarga) hlm.18
[2]  Piet A Sehertian,Ida A Sehertian,Supervisi pendidikan, (Jakarta : Rienika Cipta, 1992), hlm 39
[3]  Abi Hamid al –Ghozali (2) , Ihya’ Ulumuddin, (Mesir : Maktabah Isa al-Baby), hlm.50
[4]  Al-Ghozali (3), Al-durroh Al-Fakhiroh, (Bairut : Mu’asasah Al-kutub Al-Tsiqofiyah,1992), hlm 6
[5]  Suharto,Drs, Tata Irianto, Kamus Besar Bahasa Ndonesia Terbaru ,(Surabaya :  Indah, 1989),  hlm.6
[6] Ibid, hlm.71
[7] Sayyid Muhammad bin Muhammad, Ithaf as-Sadah AL-muttaqin (Bairut : Dar L fikr ), hlm.14

[8]  Prof.Sutrisno Hadi,MA, Metodologi  research I,(Yogyakarta : Andi Ofset,1997), cet 25,hlm.82
[9] A. Nevins,Master’s Essay  in History, Colombia Unis. Press, New York,1993
[10] Saifuddin Azwar, Metodologi Penelitian  (Yogyakarta  : Pustaka Pelajar Ofifset, 2004),  hlm. 91
[11] Ibid. Hlm. 92
[12] Drs. Margono, Metodelogi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta : 2004 Hal.181
[13] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Tehnik  ( Bandung : Transito, 1998),  hlm. 139
[14] Anton Bekker, Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1990. Hlm. 111

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar