STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 23 Desember 2012

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM “PEMIKIRAN KE ARAH FILSAFAT”

PENDAHULUAN
Berbeda dengan mahluk lain, manusia mempunyai ciri istimewa, yaitu kemampuan berfikir yang ada dalam satu struktur dengan perasaan dan kehendaknya (yang sering disebut sebagai mahluk yang berkesadaran) mengenai apa yang dipikirkan adalah terpusat pada diri sendiri dalam hal asal mulanya, keberadaan dan tujuan akhir hidupnya.
Pada saat manusia masih kecil, ia baru bisa melihat dan mengenal apa yang ada di sekelilingnya secara reseptif, seperti makanan, minuman, pakaian, barang-barang lain dan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Selanjutnya yang dikenal adalah ayah ibunya, saudara-saudaranya dan orang lain dalam hubungan yang semakin jauh. Selanjutnya berkat perkembangan alam pikiran dan kesadaranya, maka ia mulai mengenal makna masing-masing hal itu secara kritis. Lalu kemudian kedudukan, fungsi dan ketertarikan antara satu dengan yang lain.
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak terlepas dari peran filsafat. Sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kedudukan filsafat sebagai induk dari ilmu pengetahuan, memiliki proses perumusan yang sangat sulit dan membutuhkan pemahaman yang mendalam, sebab nilai filsafat itu hanyalah dapat dimanifestasikan oleh seseorang filsuf yang otentik.
Perumusan tersebut merupakan suatu stimulus atau rangsangan untuk memberikan suatu bimbingan tentang bagaimana cara kita harus mempertahankan hidup. Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran, dalam eksistensinya terdapat tiga bentuk kebenaran, yaitu ilmu pengetahuan, filsafat dan agama.
Filsafat disebut pula sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat eksistensial, artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan filsafat menjadi dasar bagi motor penggerak kehidupan, baik sebagai makhluk individu atau pribadi maupun makhluk kolektif dalam masyarakat.
Oleh karena itu kita perlu mempelajari filsafat hingga keakar-akarnya. Khususnya pada dasar ilmu pengetahuan, sebab manusia hidup pastilah memiliki pengalaman yang berbeda-beda, yang kemudian dari pengalaman itu akan muncul ilmu sebagai kumpulan dari pengalaman atau pengetahuan yang ada agar terbuka wawasan pemikiran yang filosofis.
Dengan demikian esensi (diri) dan eksistensi (keberadaan manusia itu sendiri) setiap hal itu menjadi semakin jelas. Kemudian pengenalanya itu berkembang menjadi semakin kreatif.
Demikianlah pendahuluan dari penulis untuk lebih jelasnya tentang isi makalah ini sendiri, bias dibaca di bagian isi makalah ini.
Apabila penulis salah dalam tutur kata maupun tulisan ini penulis mohon ma’af dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun.

A.    Karakteristik Berfikir Filosofis
Berfilsafat termasuk dalam berfikir namun berfilsafat tidak identik dengan berfikir. Sehingga, tidak semua orang yang berfikir itu mesti berfilsafat, dan bisa dipastikan bahwa semua orang yang berfilsafat itu pasti berfikir.
Seorang siswa yang berfikir bagaimana agar bisa lulus dalam Ujian Akhir Nasional, maka siswa ini tidaklah sedang berfilsafat atau berfikir secara kefilsafatan melainkan berfikir biasa yang jawabannya tidak memerlukan pemikiran yang mendalam dan menyeluruh. Oleh karena itu ada beberapa ciri berfikir secara kefilsafatan.
Tidak semua kegiatan atau berbagai problem kehidupan tersebut dikatakan sampai pada derajat filsafat, tetapi dalam kegiatan atau problem yang terdapat beberapa cirri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat[1].
Berfikir kefilsafatan atau filosofis memiliki karakteristik tersendiri yang dapat dibedakan dengan ilmu yang lain. Berikut ini beberapa ciri berfikir filosofis menurut ali mudhofir dalam bukunya “pengenalan filsafat”[2], yaitu :
1.      Radikal, artinya berfikir sampai pada substansinya atau akar-akarnya yang terpenting.
2.      Universal, artinya bersifat menyeluruh menyangkut pengalaman umum manusia.
3.      Konseptual, artinya merupakan hasil dari pengalaman (konsep) manusia.
4.      Koheren (sesuai kaidah berfikir logis) dan konsisten (bernilai benar, tidak kontradiksi).
5.      Sistematik, artinya berkaitan atau saling berhubungan secara teratur dalam sistematika dan mengandung tujuan tertentu.
6.      Komprehensif, artinya bersifat menjelaskan secara menyeluruh.
7.      Bebas, artinya berupa hasil pemikiran yang bebas tanpa adanya keterikatan.
8.      Bertanggung jawab, artinya seorang filsuf harus bertanggung jawab terhadap hasil pemikirannya.
Selain mempunyai ciri diatas, bagi seorang filsuf harus memiliki 5 prinsip penting dalam berfilsafat, yaitu :
1.      Tidak boleh merasa paling tahu dan paling benar sendiri (congkak).
2.      Memiliki sikap mental, kesetiaan dan jujur terhadap kebenaran.
3.      Bersungguh-sungguh dalam berfilsafat serta berusaha dalam mencari jawabannya.
4.      Latihan memecahkan persoalan filsafati dan bersikap intelektual secara tertulis maupun lisan.
5.      Bersikap terbuka[3].
Pemikiran kefilsafatan memiliki ciri-ciri khas (karakteristik) yaitu:
a.       Menyeluruh, artinya pemikiran yang luas, pemikiran yang meliputi beberapa sudut pandang. Pemikiran kefilsafatan meliputi beberapa cabang ilmu, dan pemikiran semacam ini ingin mengetahui hubungan antara cabang ilmu yang satu dengan lainnya. Integralitas pemikiran kefilsafatan juga memikirkan hubungan ilmu dengan moral, seni dan pandangan hidup.
b.      Mendasar, artinya pemikiran mendalam sampai kepada hasil yang fundamental (keluar dari gejala). Hasil pemikiran tersebut dapat dijadikan dasar berpijak segenap nilai dan masalah-masalah keilmuan (science).
c.       Spikulatif, artinya hasil pemikiran yang diperoleh dijadikan dasar bagi pemikiran-pemikiran selanjutnya dan hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai medan garapan (obyek) yang baru pula. Keadaan ini sanantiasa bertambah dan berkembang meskipun demikian bukan berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak selesai seperti ilmu-ilmu diluar filsafat.[4]
Dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut shahih? Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini mempunyai tujuan atau tidak?
Dan kita sadar bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi dan serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah fikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjajahan pengetahuan[5]
B.     Perbedaan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
            Untuk mengetahui perbedaan keduanya maka kita harus mengetahui definisinya terlebih dahulu
1.      Filsafat
Secara etimologis, filsafat berasal dari beberapa bahasa yaitu dalam bahasa inggris yaitu “philosophy”, sedangkan dalam bahasa yunani “philos” dan “sophi”. Ada pula yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu “falsafah” yang artinya Al-hikmah. Akan tetapi, kata tersebut pada awalnya berasl dari bahasa yunani. Philos artinya cinta, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan. Oleh karena itu, filsafat dapat diartikan dengan cinta kebijaksanaan. Para ahli filsafat disebut dengan filosof, yakni orang yang mencari kebijaksanaan atau kebenaran. Filosof bukan orang yang bijaksana atau berpengetahuan benar, melainkan orang yng sedang belajar mencari kebenaran atau kebijaksanaan.
2.      Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah dua buah kata yang merupakan kata majemuk, sehingga dalam penggunaannya sehari-hari selalu dirangkai dan membentuk satu arti, yakni ilmu pengetahuan. Namun, apabila dilihat lebih teliti, ternyata kata ilmu dan pengetahuan mempunyai arti tersendiri.
Ilmu pengetahuan merupakan kelanjutan konsepsional dari ciri ingin tahu sebagai kodrat manusiawi. Tetapi ilmu pengetahuan itu menuntut persyaratan-persyaratan khusus dalam pengaturannya. Dalam hal ini yang terpenting adalah sistem dan metode ilmu pengetahuan itu[6].
a.       Definisi Ilmu
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gelumuni sejak bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Ilmu adalah cabang pengetahuan dengan ciri-ciri tertentu. Ciri-cirinya adalah memiliki obyek, memiliki metode, memiliki sistematika, dapat diuji kebenarannya
Menurut Mohammad Hatta Ilmu dapat dimaknai sebagai akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan.
Suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris.Ilmu dapat diamati panca indera manusia. Suatu cara menganalisis yang mengizinkan kepada para ahlinya untuk menyatakan -suatu proposisi dalam bentuk: "jika,...maka..."
Ilmu dapat memungkinkan adanya kemajuan dalam pengetahuan sebab beberapa sifat atau ciri khas yang dimiliki oleh ilmu. Dalam hal ini randall mengemukakan beberapa ciri umum dari pada ilmu, diantaranya:
1.      Bersifat akumulatif, artinya ilmu adalah milik bersama. Hasil dari pada ilmu yang telah lalu dapat digunakan untuk penyelidikan atau dasar teori bagi penemuan ilmu yang baru.
2.      Kebenarannya bersifat tidak mutlak, artinya masih ada kemungkinan terjadinya kekeliruan dan memungkinkan adanya perbaikan. Namun perlu diketahui, seandainya terjadi kekeliruan atau kesalahan, maka itu bukanlah kesalahan pada metodenya, melainkan dari segi manusianya dalam menggunakan metode itu.
3.      Bersifat obyektif, artinya hasil dari ilmu tidak boleh tercampur pemahaman secara pribadi, tidak dipengaruhi oleh penemunya, melainkan harus sesuai dengan fakta keadaan asli benda tersebut.[7]
b.      Definisi Pengetahuan
Secara bahasa (etimologi), pengetahuan berasal dari bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah “kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief)[8].
Menurut istilah (terminologi), pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Menurut Sidi Gazalba dalam bukunya sistematika filsafat, pekerjaan tahu adalah hasil dari kenal, sadar, insyaf, mengerti dan pandai. Sehingga pengetahuan merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk menjadi tahu[9].
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita ketahui dan yang belum kita ketahui. Berfilsafat berarti merendakan diri bahwa tidk semuannya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang tak terbatas ini[10].
Menurut Al-Ghazali pengetahuan adalah hasil aktivitas mengetahui, yakni tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan di dalamnya. Pengetahuan merujuk kepada apa yang kita kenal, ketahui atau fahami atau dapatkan melalui pengalaman, penginderaan, penyuluhan, pelatihan, percobaan, belajar, refleksi, intuisi, dan lainnya. Dengan kata lain, pengatahuan adalah apa yang kita ketahui[11].
Setelah mengetahui pengertian masing-masing definisi maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang kita ketahui, kita pelajari dan dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan perbedaan Antara filsafat dan pengetahuan memiliki perbedaan seperti suatu kebenaran filosofis tidak memerlukan pembuktian-pembuktian atau tidak perlu didasari bukti kebenaran, baik melalui eksperimen maupun pencarian data lapangan sedangkan ilmu pengetahuan harus mempunyai pembuktian yang nyata serta melalui penelitian.
Dan perbedaan keduanya juga dapat dijelaskan dari obyek material dan obyek formal keduanya yaitu:
a.       Obyek material [lapangan]
Filsafat itu bersifat universal [umum], yaitu segala sesuatu yang ada [realita] sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu
b.      Obyek formal [sudut pandangan]
Filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifat teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita[12].
Dilihat dari aspek ilmunya filsafat dengan ilmu dapat dibedakan yaitu:
1.      Ilmu Filsafat
a.       Lahan pembahasan Bersifat luas dan menyeluruh, tidak membatasi pembahasan.
b.      Tujuan Mencari tahu asal-asul, hubungan dan proses interaksi antara manusia dengan alam.
c.       Cara pembahasan Menggunakan akal pikiran.
d.      kesimpulan Tidak memberikan kesimpulan atau keyakinan yang mutlak.
2.      Ilmu Pengetahuan
a.       Bersifat sempit dan membatasi pembahasan/ penyelidikan.
b.      Hanya meneliti sifat-sifat alam dan kejadian didalamnya saja.
c.       Menggunakan panca indera dan percobaan-percobaan.
d.      Memberikan kepastian dengan didasari penglihatan dan percobaan yang dikemas melalui rumusan penelitian[13].
KESIMPULAN
Pengetahuan merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk menjadi tahu, sedangkan ilmu dapat diartikan sebagai suatu metode berfikir secara obyektif dalam menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia fuktual dan berprinsip untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, sehingga ilmu pengetahuan merupakan kumpulan pengetahuan yang benar-benar disusun dengan sistematis dan metodologis untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat diuji atau diverifikasi kebenarannya.
Kedudukan filsafat sebagai induk dari ilmu pengetahuan, memiliki proses perumusan yang sangat sulit dan membutuhkan pemahaman yang mendalam serta memiliki bidang kajian yang sangat luas dibanding ilmu yang lain yang semuanya itu untuk mendalami dan memahami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat mengetahui dan memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu tersebut.
Filsafat dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang cara berfikir terhadap segala sesuatu yang bersifat menyeluruh dan mendasar. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bercirikan sistematik, rasional, empiris dan bersifat kumulatif.
Jadi dari penjelasan di atas perbedaan antara keduanya bisa kita ketahui yaitu:
-          Filsafat bersifat universal sedangkan ilmu pengetahuan bersifat khusus.
-          Filsafat tidak memerlukan adanya pembuktian sedangkan ilmu pengetahuan harus menggunakan pembuktian
-          Filsafat bersifat menyeluruh dan mendasar sedangkan ilmu pengetahuan bersifat spesifik dan intensif.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro. 2010. Filsafat Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Bakker, Anton. 2009. Metodologi Penelitian Filsafat. Yokyakarta: Kanisius.
Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Gazalba, Sidi. 1992. Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang.
Http//filsafat-ilmu.blogspot.com/persamaan-dan-perbedaan-filsafat-dan-ilmu.html. Diakses pada Tanggal 28 Juli 2012.
Mustansir, Rizal dkk. 2007.  Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Salam, Burhanuddin. 2005. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara.
Suhar. 2009. Filsafat Umum Konsepsi, Sejarah dan Aliran. Jakarta: GP Press.
Suriasumantri, Jujun. 2001. Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Wiramihardja, Sutardjo. 2007. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.


[1] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010). Hlm. 10.
[2] Rizal Mustansir dkk, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: pustaka Pelajar, 2007). Hlm 4-5.
[3] Ibid, Rizal Mustansir, hlm 36-38.
[4] Sutardjo Wiramihardja, Pengantar Filsafat, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), Hlm. 6-7.
[5] Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001), hlm. 22.
[6] Anton Bakker, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yokyakarta: Kanisius, 2009), Hal. 14.
[7] Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), Hlm 23-24.
[8] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), Hlm 85.
[9] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). Hal 21.
[10] Loc . Cit, Jujun Suriasumantri, hal. 19.
[11] Muhammad Amiruddin, Makalah Perbedaan Ilmu dan Filsafat, 2011, (Online),
[12] Djoko Adi Walujo, Persamaan dan Perbedaan Filsafat dan Ilmu, 2008, (Online),  http//filsafat-ilmu.blogspot.com, hal. 2.
[13] Suhar, Filsafat Umum Konsepsi, Sejarah dan Aliran, (Jakarta: GP Press, 2009), Hlm 13-16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar