STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 06 Februari 2013

Hadits Tarbawi: KONSTRIBUSI KEPEMIMPINAN RASULULLAH DALAM MENGELOLA PENDIDIKAN TERHADAP PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DIMASA KINI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Pada bab ini, penulis menguraikan Konstribusi Kepemimpinan Rasulullah Dalam Mengelola Pendidikan Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam Dimasa Kini. Untuk lebih sistematis dan jelasnya pembahasan ini, terlebih dahulu penulis mengemukakan tnetang pendidikan islam masa kini, baik dalam konteks indonesia maupun konteks global, secara umum. karena itu secara garis besar, pada bagian ini akan dikembangkan dua bagian pembahasan yaitu: 1. Tantangan pendidikan islam masa kini, dan 2. Konstribusi Kepemimpinan Rasulullah Dalam Mengelola Pendidikan Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam Dimasa Kini.

1.2.    Rumusan Masalah
Dalam latar belakang diatas, maka dapat di rumuskan sebagai berikut:
1.    Apa saja tantangan perkembangan islam dimasa kini?
2.    Apa saja Konstribusi kajian pola kependidikan Rasulullah SAW dalam bidang pendidikan terhadap pengembangan islam masa kini?

1.3.    Batasan Pembahasan
Dalam rulusan masalah diatas, maka dapat di batasi pembahasan makalah ini sebagai berikut:
1.    Menjelaskan tantangan perkembangan islam dimasa kini.
2.    Menjelaskan Konstribusi kajian pola kependidikan Rasulullah SAW dalam bidang pendidikan terhadap pengembangan islam masa kini.


BAB II
PEMBAHASAN
KONSTRIBUSI KEPEMIMPINAN RASULULLAH DALAM MENGELOLA PENDIDIKAN TERHADAP PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DIMASA KINI

2.1.    Tantangan Pendidikan Islam Masa Kini
Pembahasan ini akan menguraikan bentuk-bentuk tantangan pendidikan islam masa kini, yang terdiri dari :
1.    Tantangan globalisasi
Globalisasi yaitu proses dimana manusia, bnaik individu maupun masyarakat, menjadi semakin terkait dan terhubungkan satu sama lain dalam semua aspek kehidupannya, sosio-kultural, bisnis-ekologikal, ideologi politikal, sains teknologikal dan bio teknologikal.
Hasan langgulung mengemukakan tujuh tantangan yang dihadapi pendidikan islam pada masa era globalisasi, yaitu
a)    Tantangan filsafat dan epistemologi.
b)    Tantangan sosial dan kultural
c)    Tantangan dalam politik
d)    Tantangan dalam prasarana
e)    Tantangan dalam ekonomi
f)    Tnatangan dalam teknologi
g)    Tantangan dalam agama dan kerohanian
2.    Tantangan pasar bebas
Pasar bebas adalah suatu istilah yang mengacu pada keadaan dimana bangsa-bangsa didunia dapat memasarkan berbagai produknya baik dalam bidang teknologi, makanan, minuman, pakaian maupun dalam bidang pendidikan di negara lain maupun di luar negrinya sendiri.
3.    Penyakit berbohong (ketidakjujuran)
Tahun 2004 bahwa indeks korupsi di indonesia sudah mencapai 9,25 atau rangking pertama se ASIA, bahkan pada tahun 2005 indeks meningkat sampai 9,4. Setelah diteliti, ternyata benar telah terjadi tindak korupsi bermilyar-milyar atau bahkan triliunan rupiah di berbagai instansi dan institusi.
Dalam konteks pendidikan, munculnya pemalsuan ijazah, tradisi nyontek, plagiasi dan lain-lain, juga merupakan indikator dan rendahnya sikap amanah. Penyakit tidak amanah, akan dapat merongrong dan menggerogoti potensi generasi muda bangsa indonesia.
4.    Tantangan pendidikan abad 21
Tujuh macam tantangan yang akan terjadi serta menjadi ciri dan tantangan pendidikan abad 21, sebagai berikut:
a)    Ketegangan antara global dengan lokal
b)    Ketegangan antara universal dengan individual.
c)    Ketegangan antara pertumbuhan-pertunbuhan jangka panjang dengan jangka pendek
d)    Ketegangan antara perlunya kompetisi dengan kesamaan kesempatan.
e)    Ketegangan antara perluasan pengetahuan yang berlimpah ruah dengan kemampuan manusia untuk mencernakannya.
f)    Ketegangan antara spirituan dengan material.
5.    Tantangan internal bangsa indonesia
Ramayulis mencatatkan paling tidak terdapat dua tantangan internal bangsa, yaitu:
a)    Masyarakat indonesia sekarang sedang mengalami proses refirmasi multi dimensi, dimana sedang terjadi proses transformasi total menuju masyarakat baru yang demokratis dan terbuka.
b)    Tuntutan reformasi dalam bangsa dan bernegara, maka lahirlah undang-undang no. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah dan selanjutnya sebagai implementasi dari undang-undang tersebut, maka sejak tahu 2001 disentralisasi mulai diberlakukan di indonesia dalam berbagai bidang termasuk bidang pendidikan.
6.    Tantangan ilmuan pendidikan islam
Tujuh tantangan dan masalah-masalah pokok masyarakat ahli dan pelajar yang belum terpecahkan, yaitu :
a)    Lemahnya masyarakat ilmiyah.
b)    Kurang integralnya kebijakan sains nasional.
c)    Tidak memadainya anggaran penelitian ilmiyah.
d)    Kurangnya kesadaran dikalangan sektor ekonomi tentang pentingnya penelitian ilmiyah.
e)    Kurang memadai fasilitas perpustakaan.
f)    Isolasi ilmuwan
g)    Dan birokrasi, restriksi dan kurnagnya insentif.
7.    Tantangan krisis kepemimpinan
Dewasa ini indonesia, secara khusus, dan umumnya dunia, sedang mengalami krisis besar yang belum pernah ada padananya sejak 1945. Krisis ini bergelombang bagaikan serbuan ombak pasang yang mengintude dan turbulensinya sangat besar.
Dalam bahasa mahatmaghandi, ada tujuh macam dosa yang dilakukan secara terus menerus akan membawa maut bagi suatu tatanan masyarakat bangsa, termasuk sistem pendidikan. Ketujuh dosa maut tersebut adalah :
a)    Kaya tanpa kerja
b)    Nikmat tanpa nurani
c)    Ilmu tanpa karakter
d)    Bisnis tanpa moralitas
e)    Sains tanpa kemanusiaan
f)    Agama tanpa pengorbanan
g)    Politik tanpa prinsip.

2.2.    Konstribusi kajian pola kependidikan Rasulullah SAW dalam bidang pendidikan terhadap pengembangan islam masa kini.
a)    Menghadapi era globalisasi dan pasar bebas, penguasaan bahasa internasional.
Bahasa inggris semakin penting, terutama di era globalisasi yang membutuhkan hubungan antara berbagai negara semakin intens, tidak kalah pentingnya dengan dunia pendidikan, keberadaan bahasa inggris menjadi alat penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan, karena banyak teori yang di tulis menggunakan bahasa inggris. Disamping bahaasa inggris, bahasa lain yang penting di kuasai, misalnya : bahasa mandarin, bahasa prancis, jepang, belanda, bahasa arab dsb.
b)    Implementasi konsep kullukum ra’in
Kunci kesuksesan yang paling jitu adalah perwujudan kesadaran individual sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab dalam upaya pengembangan intelektual. Kesadaran individual ini telah ditekankan dan dimotori oleh rasulullah dengan haditsnya yang populer yang dalam arti literalnya adalah “setiap kamu adalah pengembala dan setiap kamu akan dipertanyakan akan pengembalanya. Konsep ini sesungguhnya mempunyai arti yang dalam, sedalam pentingnya eksistensi manusia dilahirkan dari ibunya.
Bila dikaji dan di dalami makna yang terkandung didalam konsep kullukum ra’in akan memberikan dampak yang sangat luar biasa dalam berbagai aspek kehidupan manusia, khususnya di bidang pengembangan peningkatan mutu pendidikan masa kini.
c)    Konsep wussyida al-amr ila-ahliha
Rasulullah SAW sejak awal, telah mengembangkan konsep pemberian tugas kepada orang yang berhak menerimanya. Konsep ini bisa dilihat dari hadits rasulullah SAW, (bila satu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran).
d)    Optimalisasi penerapan penerapan propetic leadership
 propetic leadership dimaknai sebagai sifat-sifat kompetensi kepemimpinan rasulullah. Dalam pembahasan sebelumnya, telah dikemukakan bagaimana tipe kepemimpinan rasulullah SAW, yakni tipe kepemimpinan  Theo situasional.
e)    Peningkatan kinerja kepala sekolah
Kepala sekolah adalah orang yang diberikan wewenang untuk memimpin sebuah institusi atau satuan lembaga pendidikan dari TK sampai SMA. Tugas kepala sekolah sangat luas dan berat, menyangkut tugas-tugas yang berkaitan dengan pengembangan mutu pendidikan, tanggung jawab rethadap pengawas dan atasan, hubungan lingkungan sekolah dengan masyarakat sekitar, pengembangan profesionalisme guru/pendidik, dan sebagainya.
f)    Sistem manajerial dan pendelegasian rasulullah, upaya menghadapi otonomi daerah.
Dengantumbuhnya orde baru pada tahun 1998,  arus demokrasi semakin terasa di indonesia. Dampak dari demokrasi tersebut terimbas kepada sistem kebijakan pemerintah. Pada era orde baru sistem pemerintah lebih sentralistik, kini telah mengarah kepada kebijakan yang sifatnya desentralistik, dan mengkerucut dalam bentuk otonomi daerah, yang dimaknai dengan pelimpahan sebagai wewenang perintah pusat kepada pemerintah daerah.
g)    Integrasi dan kurikulum berbasis sosio kultural.
Bercermin dari luasnya menteri pendidikan yang ada pada masa itu, yang perlu di pahami adalah :
1.    Pemahaman bahwa pada saat itu telah tumbuh universalisme menteri pendidikan.
2.    Ilmu-ilmu umum saat itu, tidak lepas dari nilai-nilai keislaman.
3.    Pendidikan berbasis sosio kultural. Rasulullah SAW membedakan penekanan materi yang diberikan kepada penduduk makkah dan madinah.
h)    Prinsip yasiru wala ta’siru, absyiru wala tunaffiru, upaya mewujudkan pembelajaran dan sistem managerial birokrasi yang menyenangkan.
Prinsip pembelajaran yasiru wala ta’siru, absyiru wala tunaffiru,adalah pendekatan dan prinsip pembelajaran yang lebih mengutamakan kemudahan dari kesulitan, selama tidak melanggar syari’at islam dan mendatangkan kemudharatan bagi peserta didik.
i)    Konsep pembelajaran any please and any time, upaya memacu dan mengasah keasyikan dalam belajar.
Rasulullah SAW tidak hanya mengfokuskan pendidikan di masjid, bahkan beliau memberikan materi pelajaran kapan dan dimanapun. Rasulullah SAW memberikan pelajaran pada saat perang, dalam perjalanan, didalam rumah, di luar rumah, didalam masjid, di luar masjid, diatas unta, di padang pasir.
j)    Konsep pembelajaran sistem halaqat, upaya peningkatan hubungan emosional guru dan murid, serta komunikasi interaktif dalam pembelajaran.
Sistem belajar halaqat termasuk salah satu sistem belajar klasik yang dikembangkan semenjak rasulullah SAW. Sistem halaqat adalah sistem belajar dengan cara melingkar, para siswa melingkari guru, dan guru berada pada posisi sentral.
k)    Konsep ‘uzlat, upaya pencarian kebenaran.
Mode ‘uzlat, adalah mode yang diajarkan allah SWT kepada umat manusia, dalam rangka mencari kebenaran. Rasulullah SAW sebelum menerima wahyu yang pertama, sering pergi ke gua hira dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada allah, sambil merenungkan upaya yang harus dilakukan untuk melakukan gerakan pembaharuan terhadap umat yang dilanda keburukan akhlaq, dikenal dengan masyarakat jahiliyyah.
l)    Konsep hijrat, tradisi pengembangan keilmuan.
Hijrat artinya pindah, meninggalkan, memutuskan. Pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, atau meninggalkan suatu tempat pindah ke tempat yang lain.
m)    Konsep jihad, reaktualisasi refolusi belajar.
Arti jihad ialah menggerakkan segala upaya untuk meningkatkan kalimah allah dan menegakkan masyarakat islam.
n)    Konsep pendidik sebagai murabbi, mu’alim, mu’addib, mursyid, mudarris, mutli dan muzakki, upaya pengayaan dan pengembangan konsep pendidik dalam pendidikan islam masa kini.
Sosok rasulullah SAW sebagai pendidik ideal dapat dilihat dari, profil rasulullah SAW sebagai murabbi, mu’alim, mu’addib, mudarris, dan mutli secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.    Rasul sebagai murabbi
Istilah murabbi merupakan bentuk (shighat) al-ism al-fail yang berakar dari tiga kata. Pertama dari kata raba yarbu, yang artinya dzat dan nama (bertambah daan tumbuh). Kedua berasal dari kata rabiya, yarba, yang emmpunyai makna tumbuh (nasya’) dan menjadi besar (tara’a). Ketiga berasal dari kata Rabba yarubbu yang artinya memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga dan memelihara. Istilah murabbi berasal dari al-fi’l al-madhi tsulasi mazid bi harfin wahid, yaitu rabba setimbangan dengan fa’ala, yufa’ilu, taf’ilan, mufa’ilun.berdasarkan kajian ‘ilm al-sharaf, term murabbi merupakan bentuk al-ism al-fa’il artinya orang yang melakukan sesuatu, dalam hal ini kata murabbi artinya orang yang mendidik. Jadi istilah rabba, sebagai asal kata pendidikan secara bahasa difahami sebagai menumbuhkan dan mengembangkan.
2.    Rasul sebagai mu’alim
Mu’alim adalah orang yang memiliki kemampuan unggul dibandingkan dengan peserta didik, yang dengannya ia dipercaya menghantarkan peserta didik kearah kesempurnaan dan kemandirian.
3.    Rasul sebagai Mu’addib
Menurut al-ghazali adab adalah melatih diri lahir dan batin untuk mencapai kesucian menjadi sufi. Adab itu menurutnya ada dua tingkatan:
a.    Adab al-khidmat, yaitu fana dari memandang ibadahnya memandang ibadah yang diperbiatnya hanya semata dengan izin dan anugrah allah SWT kepadanya.
b.    Adab ahli hadharah al-uluhiyyat bagi ahli al qurb (orang-orang yangd ekat dengan tuhan), yaitu adab mereka lakukan adalah mengikuti adab rasulullah lahir dan batin.
4.    Rasul sebagai mudarris
Secara terminologi mudarris adalah orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
5.    Rasul sebagai mursyid
Secara terminologi mursyid adalah salah satu sebutan pendidik atau guru dalam pendidikan islam yang bertugas untuk membimbing peserta didik agar ia mampu menggunakan akal pikirannya secara tepat, sehingga ia mencapai keinsyafan dan kesadaran tentang hakikat sesuatu atau mencapai kedewasaan berfikir.
6.    Rasul sebagai mutli
Mutli adalah orang yang membaca sesuatu kepada orang lain. Apabila dihubungkan dengan pendidik dalam pendidikan islam adalah seorang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik, terutama yang berhubungan dengan membaca baik secara lisan maupun tertulis serta mampu memahaminya serta menterjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari.
7.    Rasul sebagai muzakki
Muzakki adalah pendidik yang bertanggung jawab untuk memelihara, membimbing, dan mengembangkan fitrah peserta didik, agar ia selalu berada dalam kondisi suci dalam keadaan taat kepada allah terhindar dari perbuatan yang tercela.
Secara terminologi konsep muzakki berimplikasi terhadap pemakaian dan tugas pendidik dalam pendidikan islam sebagai berikut.
1.    Muzakki adalah salah satu istilah untuk sebutan guru yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian diri anak, baik jiwa maupun raga, sehingga ia terhindar dari sifat-sifat buruk dan diganti dalam dirinya sifat-sifat mulia.
2.    Menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji sehingga kesucian jiwanya tetap terjaga.
3.    Lingkungan dapat mempengaruhi kesucian jiwa, baik lingkunga  internal maupun eksternal peserta didik itu sendiri.
4.    Menjaga kesucian jiwa adalah dengan mengekang hawa nafsu dengan kegiatan yang bermanfaat.
o)    Metode belajar al-Tafriq (pengisian) peningkatan kesadaran siswa.
Metide pengasingan adalah suatu metode yang pernah dilakukan rasulullah SAW, untuk memdidik sahabat yang tidak ikut berperang. Tujuannya adalah agar orang yang diasingkan mengetahui kesalahan yang ia lakukan.
p)    Metode belajar al tasbih, peningkatan prestasi dan kompetensi belajar siswa.
Metode penetapan dan pengukuhan seseorang agar selalu berada pada kebenaran. Metode ini dilakukan agar siswa yang telah berprestasi terus meningkatkan prestasinya, dan meningkatkan aktifitas yang dapat mempertahankan dan meningkatkan prestasinya.
q)    Mutly group method, jaringan belajar ‘Ala rasulullah.
Mutly group method, adalah sebuah sistem pembelajaran dengan cara membagi-bagi siswa kepada kelompok –kelompok kecil, dan menempatkan satu orang siswa yang menguasai materi pelajaran tersebut.
r)    Shuffat, urgensi pendidikan terhadap kaum lemah (dhu’afa).
Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus kepada orang-orang fakir miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal, terutama mereka yang datang dari negri jauh, dengan mendirikan sekolah khusus yang disebut dengan shuffat.
s)    Pengembangan dan pengayaan konsep konseling menurut rasulullah.
Banyak ditemukan persoalan yang muncul pada masa rasulullah SAW terutama sebelum diutusnya beliau. Disebut sebagai umat jahiliyyah, umat jahiliyyah dapat dimaknai dengan masyarakat yang sesat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti agama, sosial, ekonomi, budaya dan politik.
t)    Pendidikan wanita dan budak, demokrasi dan emansipasi pendidikan.
Sebelum rasulullah SAW diutus, wanita tidak mendapatkan perlakuan yang wajar sebagai manusia seutuhnya dan merdeka.
Dalammhadits yang diriwayatkan oleh bukhari, rasulullah menagaskan, bahwa diantara siapa diantara laki-laki yang mempunyai budak perempuan, lalu diajarinya dan di bimbingnya dengan baik sehingga budak tersebut menjadi beradab dan berilmu pengetahuan, lalu dimerdekakanya lalu dinikahinya, maka baginya ua pahala. Hal ini menunjukkan rasulullah sangat memperhatikan pendidikan bagi kaum wanita dan hamba sahaya.
u)    Pengembangan dan pengayaan konsep kepemimpinan dalam pendidikan islam.
1.    Pemimpin sebagai khalifah.
Pemimpin merupakan pengganti allah dalam memakmurkan bumi. Khalifah dapat dijadikan sebagai gelar bagi nabi atau nabi lainnya.
2.    Pemimpin sebagai imam.
Istilah imam adalah istilah yang digunakan dengan cakupan yang sangat luas. Imam adalah setiap manusia yang berada di garis terdepan. Imam adalah setiap orang yang memimpin suatu kelompok.



BAB III
PENUTUP


3.1.   Kesimpulan
Seorang pemimpin hakikatnya terus berusaha untuk mengembangkan keahliannya untuk memimpin kejalan yang benar. Disamping mengembangkan potensi dirinya, pemimpin juga diharapkan mampu mengembangkan profesionalisme kerja bawahannya. Ketrampilan pemimpin menyangkut kemampuan komunikasi, mengambil keputusan, manajerial, pengorganisasian dan lain sebagainya.


DAFTAR PUSTAKA


Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milennium Baru, Jakarta; PT Logis, 1999.
............., Esei-Esei Muslim dan Pendidikan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
............., Surau, Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi, terj. Idin Rasidin dari; The Rise and Decline of the Minangkabau; A. Tradisional Islamic Education in West Sumatera During the Duck Colonial Goverenment, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 2003.
Badawi, A. Zaki, Mu’jam Musthalahat al-‘Ulum al-Ijtima’iyat, Beirut: Maktabah Libnan, 1982.
Baihaqi, H., Mendidik Anak Dalam Kandungan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar