STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 12 Februari 2013

Prinsip Belajar dalam Konsep Al-Qur'an

A.     Prinsip Belajar
Secara umum belajar dapat dikatakan sebagai aktivitas pencarian ilmu yang tentu saja berdasarkan konsep belajar di atas mesti berpengaruh terhadap si pelajar. Pengaruh itu meliputi cara pandang, pikiran dan perilakunya. Belajar sebagai suatu aktivitas dalam mencari ilmu mesti didasarkan atas prinsip-prinsip tertentu yang meliputi ketauhidan, keikhlasan, kebenaran dan tujuan yang jelas; prinsip yang terakhir ini berkait pula dengan tiga prinsip sebelumnya. Dan pengaruh yang diharapkan terjadi pada sipelajar tidak dapat dipisahkan dari keempat prinsip tersebut.
Tauhid merupakan dasar pertama dan utama, dimana kegiatan belajar mesti dibangun di atasnya. Banyak ayat Al-Qur’an yang menggambarkan hal tersebut. Perbincangan kitab suci ini tentang ilmu pengetahuan dan fenomena alam, sebagai objek yang dipelajari, mengarahkan manusia kepada tauhid. Atau dengan kata lain, belajar mesti berangkat dari ketauhidan dan juga berorientasi kepadanya. Dalam surah Al-Anbiya’ ayat 30 dan 31 ditegaskan:
 
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ ﴿021:030﴾ وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ ﴿021:031﴾
Artinya: Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?
Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.
Ayat ini mengajak manusia mempelajari bumi, langit dan segala isinya. Hal itu tergambar dalam kata tanya (istifham) yang terdapat di awal ayat 30, yaitu awalam yara. Ada beberapa fenomena alam yang diperbincangkan dalam kedua ayat di atas. Pertama bumi dan langit dulunya merupakan satu kesatuan, kemudian Allah memisahkan keduanya maka terjadilah alam dan segala isinya. Kedua segala makhluk hidup berasal dari air. Ketiga di bumi terdapat gunung yang berfungsi mengokohkannya. Dan keempat di bumi juga terdapat jalan-jalan yang lapang.
Ayat pertama dimulai dengan pertanyaan apakah orang kafir tidak memperhatikan dan ayat kedua dimulai dengan pertanyaan, yaitu Allah menciptakan gunung-gunung. Pertanyaan itu memancing manusia agar belajar dengan cara melakukan penalaran terhadap fenomena alam, yang berorientasi kepada keimanan. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan, bahwa Dia lah menciptakan makhluk hidup dari air kemudian menjadikan bumi dan gunung di atasnya sebagai bahan memperkuat bumi tersebut agar tidak goyah. selain itu terdapat pula ungkapan la’allahum yahtaduun, yang secara harfiah dapat diartikan kepada harapan tetapi karena iini pernyataan Al-Qur’an ia berarti suatu kepastian (tahqiiq). Pertanyaan, pernyataan, dan atau harapan ini menggambarkan bahwa mempelajari fenomena alam mesti berangkat dari keimanan dan berorientasi memperkuat keimanan itu, dimana pada akhirnya pelajar yang mengkaji fenomena alam tersebut memperoleh petunjuk.
Penekanan Al-Qur’an mengenai prinsip keimanan dalam belajar, secara lebih tegas, dapat dilihat dalam ayat yang pertama turun, yaitu:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿096:001﴾
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.
Q.S. Al-‘Alaq:1                                                                                               
Ayat ini mengajarkan, bahwa membaca sebagai salah satu aktivitas belajar mesti berangkat dari nama Tuhan Yang telah menciptakan segala sesuatu. Dengan demikian, belajar mesti berangkat dari keimanan dan berorientasi untuk memperkuatnya. Penguasaan ilmu adalah sebagai model yang dapat menambah dan memperkokoh keimanan tersebut. Dan hasilnya adalah tunduk dan patuh kepada Sang Khalik.
Ketauhidan yang dijadikan prinsip utama dalam belajar lebih jauh menggambarkan keikhlasan dan tujuan pencarian ilmu. Ikhlas dan belajar berarti bersih dari tujuan dan kepentingan duniawi. Maka mendapatkan lapangan pekerjaan seharusnya tidak dijadikan sebagai tujuan utama dalam belajar. Ia mesti dipandang sebagai akibat penguasaan ilmu pengetahuan. Zarnuji menegaskan belajar tidak boleh diniatkan untuk mencari kemegahan duniawi dan popularitas. Tetapi belajar diniatkan atau dimaksudkan untuk mencari ridho Allah, menghilangkan kebodohan dari dirinya, dan atau menghidupkan api Islam. sebab agama tidak akan hidup tanpa ilmu[1]
Berdasarkan prinsip ini, maka dapat ditegaskan bahwa mempelajari segala macam ilmu merupakan usaha menguatkan aqidah tauhid; bertambahnya ilmu sebagai efek dari belajar maka bertambah pula keyakinan kepada Sang Maha Pencipta atau Pemberi ilmu itu. Al-Qur’an menegaskan:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿003:190﴾
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿003:191﴾
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. Q.S. Ali ‘Imran (3):190-191
Produk yang ingin dilahirkan oleh pendidikan Islam adalah sosok intelektual yang berkepribadian, berdzikir, dan berfikir, sehingga dia menyadari dirinya dan alam lingkungannya sebagai suatu sistem yang menggambarkan fenomena kebesaran Tuhan. Untuk melahirkan produk seperti itu, maka belajar mesti dibangun atas prinsip iman dan akidah tauhid. (Wallahu A’lam)


[1] Ibrahim bin Isma’il  Al-Zarnuji. Ta’lim al-Muta’allim Tariiq al-Ta’allum, Semarang, Toha Putra, t.th., hlm. 10.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar