STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 07 April 2013

Bahtsul Kutub: 77 Cabang Iman

Image
Ibarat sebuah pohon, iman itu memiliki cabang-cabang. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda: “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan 'La ilaha illallah' (tauhid), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman." [HR. Bukhari, Muslim]
Diantara yang bisa kita pahami dari hadits tersebut adalah, bahwasanya cabang-cabang iman itu amat banyak. Angka-angka dalam hadits tersebut bisa kita pahami - tentu saja - secara literal, namun bisa juga kita pahami dengan makna "banyak". Wallahu a'lam. Hal lain yang bisa kita pahami dari hadits diatas adalah, bahwa cabang-cabang iman itu bertingkat-tingkat. Ada yang tinggi dan ada yang rendah.
Imam Al-Baihaqi, salah seorang terkemuka, mendaftar 77 cabang iman. Anda tinggal mencocokkan apakah semuanya ada dalam diri Anda. Ataukah masih banyak yang belum melekat pada diri Anda. Mari kita lihat apa sajakah ketujuh puluh tujuh cabang tersebut.
  1. Iman kepada Allah Azza wa Jalla
  2. Iman kepada para rasul Allah seluruhnya
  3. Iman kepada para malaikat
  4. Iman kepada Al-Qur’an dan segenap kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya
  5. Iman bahwa qadar – yang baik ataupun yang buruk – adalah berasal dari Allah
  6. Iman kepada Hari Akhir
  7. Iman kepada Hari Berbangkit sesudah mati
  8. Iman kepada Hari Dikumpulkannya Manusia sesudah mereka dibangkitkan dari kubur
  9. Iman bahwa tempat kembalinya mukmin adalah Surga, dan bahwa tempat kembali orang kafir adalah Neraka
  10. Iman kepada wajibnya mencintai Allah
  11. Iman kepada wajibnya takut kepada Allah
  12. Iman kepada wajibnya berharap kepada Allah
  13. Iman kepada wajibnya tawakkal kepada Allah
  14. Iman kepada wajibnya mencintai Nabi saw
  15. Iman kepada wajibnya mengagungkan dan memuliakan Nabi saw
  16. Cinta kepada din, sehingga ia lebih suka terbebas dari Neraka daripada kafir
  17. Menuntut ilmu, yakni ilmu syar’i
  18. Menyebarkan ilmu, berdasarkan firman Allah : “Agar engkau menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya”
  19. Mengagungkan Al-Qur’an, dengan cara mempelajari dan mengajarkannya, menjaga hukum-hukumnya, mengetahui halal haramnya, memuliakan para ahli dan huffazh-nya, serta takut pada ancaman-ancamannya
  20. Thaharah
  21. Sholat lima waktu
  22. Zakat
  23. Puasa
  24. I’tikaf
  25. Haji
  26. Jihad
  27. Menyusun kekuatan fii sabilillah
  28. Tegar di hadapan musuh, tidak lari dari medan peperangan
  29. Menunaikan khumus
  30. Membebaskan budak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
  31. Menunaikan kaffarat wajib : kaffarat pembunuhan, kaffarat zhihar, kaffarat sumpah, kaffarat bersetubuh di bulan Ramadhan ; demikian pula fidyah
  32. Menepati akad
  33. Mensyukuri nikmat Allah
  34. Menjaga lisan
  35. Menunaikan amanah
  36. Tidak melakukan pembunuhan dan kejahatan terhadap jiwa manusia
  37. Menjaga kemaluan dan kehormatan diri
  38. Menjaga diri dari mengambil harta orang lain secara bathil
  39. Menjauhi makanan dan minuman yang haram, serta bersikap wara’ dalam masalah tersebut
  40. Menjauhi pakaian, perhiasan, dan perabotan yang diharamkan oleh Allah
  41. Menjauhi permainan dan hal-hal sia-sia yang bertentangan dengan syariat Islam
  42. Sederhana dalam penghidupan (nafkah) dan menjauhi harta yang tidak halal
  43. Tidak benci, iri, dan dengki
  44. Tidak menyakiti atau mengganggu manusia
  45. Ikhlas dalam beramal karena Allah semata, dan tidak riya’
  46. Senang dan bahagia dengan kebaikan, sedih dan menyesal dengan keburukan
  47. Segera bertaubat ketika berbuat dosa
  48. Berkurban : hadyu, idul adh-ha, aqiqah
  49. Menaati ulul amri
  50. Berpegang teguh pada jamaah
  51. Menghukumi diantara manusia dengan adil
  52. Amar ma’ruf nahi munkar
  53. Tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa
  54. Malu
  55. Berbakti kepada kedua orang tua
  56. Menyambung kekerabatan (silaturrahim)
  57. Berakhlaq mulia
  58. Berlaku ihsan kepada para budak
  59. Budak yang menunaikan kewajibannya terhadap majikannya
  60. Menunaikan kewajiban terhadap anak dan isteri
  61. Mendekatkan diri kepada ahli din, mencintai mereka, dan menyebarkan salam diantara mereka
  62. Menjawab salam
  63. Mengunjungi orang yang sakit
  64. Mensholati mayit yang beragama Islam
  65. Mendoakan orang yang bersin
  66. Menjauhkan diri dari orang-orang kafir dan para pembuat kerusakan, serta bersikap tegas terhadap mereka
  67. Memuliakan tetangga
  68. Memuliakan tamu
  69. Menutupi kesalahan (dosa) orang lain
  70. Sabar terhadap musibah ataupun kelezatan dan kesenangan
  71. Zuhud dan tidak panjang angan-angan
  72. Ghirah dan Kelemahlembutan
  73. Berpaling dari perkara yang sia-sia
  74. Berbuat yang terbaik
  75. Menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua
  76. Mendamaikan yang bersengketa
  77. Mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga mencintainya untuk dirinya sendiri, dan membenci sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga membencinya untuk dirinya sendiri
Source: Abdur Rosyid 


Penjelasan Hadits Cabang-Cabang Iman

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : الإيمان بضع و ستون شعبة ، أعلاها لا إله إلا الله و أدناها إماطة الأذى عن الطريق
“Iman itu lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan “Laa Iaaha illallahu” dan cabang yang paling rendah yaitu menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah hadits yang shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1/48,49) dan Imam Muslim (35)
Penjelasan :
Al-Hafidz Ibnu Hajar telah meringkas pembahasan ini dalam kitabnya Fathul Bari, sesuai keterangan Ibnu Hibban, beliau berkata : “Cabang-cabang ini terbagi dalam amalan hati, lisan dan badan”
1. Amalan Hati
Adapun amalan hati adalah berupa i’tikad dan niat. Dan ia terdiri dari dua puluh empat sifat (cabang); iman kepada Allah, termasuk ke dalamnya iman kepada Dzat dan Sifat-sifatNya serta pengesaan bahwasanya Allah adalah : لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syuura : 11)
Serta ber’itikad bahwa selainNya adalah baru, makhluk. Beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat-malaikat, kitab-kitab dan para rasulNya. Be
riman kepada qadar (ketentuan) Allah, yang baik maupun yang buruk.
Beriman kepada Hari Akhirat, termasuk di dalamnya pertanyaan di dalam kubur, kenikmatan dan adzabNya, kebangkitan dan pengumpulan di Padang Mahsyar, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan amal), shirat (titian di atas Neraka), Surga dan Neraka.
Kecintaan kepada Allah, cinta dan marah karena Allah. Kecintaan kepada Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan yakin atas keagungan beliau, termasuk di dalamnya bershalawat atas Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengikuti sunnahnya.
Ikhlas, termasuk di dalamnya meninggalkan riya dan nifaq. Taubat dan takut, berharap, bersyukur, menepati janji, sabar, ridha dengan qadha dan qadar, tawakkal, kasih sayang dan tawadhu (rendah hati). Termasuk tawadhu adalah menghormati yang tua, mengasihi yang kecil, meninggalkan sifat sombong dan bangga diri, meninggalkan dengki, iri hati dan emosi.
2. Perbuatan Lisan
Ia terdiri dari tujuh cabang; mengucapkan kalimat tauhid, yaitu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah, membaca Al-qur’an, belajar ilmu dan mengajarkannya, berdoa, berdzikir yang termasuk di dalamnya istighfar, bertasbih dan menjauhi perkataan yang sia-sia.
3. Amalan Badan
Ia terdiri dari tiga puluh delapan cabang ;
a. Yang berhubungan dengan materi
Bersuci, baik secara lahiriyah maupun hukumiyah, termasuk di dalamnya menjauhi barang-barang najis, menutup aurat, shalat fardhu dan sunnah, zakat, memerdekakan budak.
Dermawan, termasuk di dalamnya memberikan makan orang lain, memuliakan tamu. Puasa, baik fardhu ataupun sunnah, i’tikaf, mencari lailatul qadar, haji, umrah dan thawaf.
Lari dari musuh untuk mempertahankan agama, termasuk di dalamnya hijrah dari negeri musyrik ke negeri iman. Memenuhi nadzar, berhati-hati dalam soal sumpah (yakni bersumpah dengan nama Allah secara jujur, hanya ketika sangat membutuhkan hal itu), memenuhi kaffarat (denda), misalnya kaffarat sumpah, kaffarat hubungan suami istri di bulan Ramadhan.
b. Yang berkaitan dengan hawa nafsu
Ia terdiri dari enam cabang; menjaga diri dari perbuatan maksiat (zina) dengan menikah, memenuhi hak-hak keluarga, berbakti kepada kedua orangtua : termasuk di dalamnya tidak mendurhakainya, mendidik anak.
Silaturrahim, taat kepada penguasa (dalam hal-hal yang tidak merupakan maksiat kepada Allah) dan kasih saying kepada hamba sahaya.
c. Yang berkaitan dengan hal-hal umum
Ia terdiri dari tujuh belas cabang; menegakkan kepemimpinan secara adil, mengikuti jama’ah, taat kepada ulil amri, melakukan ishlah (perbaikan dan perdamaian) di antara manusia, termasuk di dalamnya memerangi orang-orang khawarij dan para pemberontak. Tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, termasuk di dalamnya amar ma’ruf nahi munkar, melaksanakan hudud (hukuman-hukuman yang telah ditetapkan Allah).
Jihad, termasuk di dalamnya menjaga wilayah Islam dari serangan musuh, melaksanakan amanat, diantaranya merealisasikan pembagian seperlima dari rampasan perang.Hutang dan pembayaran, memuliakan tetangga, bergaul secara baik, termasuk di dalamnya mencari harta secara halal. Menginfakkan harta kepada yang berhak, termasuk di dalamnya meninggalkan sikap boros dan foya-foya. Menjawab salam, mendoakan orang bersin yang mengucapkan alhamdulilah, mencegah diri dari menimpakan bahaya kepada manusia, menjauhi perkara yang tidak bermanfaat, serta menyingkirkan sesuatu yang mengganggu manusia dari jalan.
Hadits di muka menunjukkan bahwa tauhid (kalimat Laa Ilaaha Illallah) adalah cabang iman yang paling tinggi dan paling utama.
Oleh karena itu, para da’i hendaknya memulai dakwahnya dari cabang iman yang paling utama, kemudian baru cabang-cabang yang lain yang ada di bawahnya. Dengan kata lain, membangun fondasi terlebih dahulu (tauhid), sebelum mendirikan bangunan (cabang-cabang iman yang lain). Mendahulukan hal yang terpenting, kemudian baru disusul hal-hal yang penting.
Tauhid adalah yang mempersatukan bangsa Arab dan bangsa asing lainnya atas dasar Islam. Dari persatuan itu, tegaklah Daulah Islamiyah sebagai Daulah Tauhid.
Wallahu A’lam
(Diambil dari kitab Minhajul Firqah An-Najiyah wat thaifah Al-Manshurah (edisi terjemah) karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, diposting oleh Abu Maryam Abdusshomad)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar