STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 27 Mei 2011

HAKIKAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan menentukan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogram. Dalam konteks ini, dasar yang menjadi acuan pendidikan islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yand dapat menghantar peserta didik kearah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan islam adalah Al-Qur’an Hadits.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Pendidikan Islam
Pendapat beberapa tokoh pendidikan tentang definisi pendidikan islam antara lain :
1. Drs. Ahmad D. Marimba
Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam (insan kamil).
2. Drs. Burhan Somad
Suatu pendidikan dinamakan pendidikan islam jika pendidikan itu bertujuan untuk membentuk individu menjadi bercorak dan berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan itu adalah ajaran Allah.
3. Drs. Usman Said
Pendidikan agama islam ialah segala usaha untuk terbentuknya atau membimbing/menuntun rohani jasmani seseorang menurut ajaran islam.
4. Drs. Abd. Rahman Shaleh
Pendidikan agama islam ialah segala usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang merupakan dan sesuai dengan ajaran islam.
5. Dr. H. Zubairin
Pendidikan agama berarti usaha-usaha secara sistematis dan programatis dalam membantu anak didik agar supaya mereka hidup sesuai ajaran islam.[1]
Jadi hakikat pendidikan disini adalah upaya melestarikan dan mempertahankan khazanah pemikiran ulama sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab mereka.
B. Unsur-unsur Pendidikan Islam
Menurut Ahmad D. Marimba menyebutkan ada 5 unsur utama dalam pendidikan, yaitu :
1. Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan.
2. Pendidikan
3. Anak didik
4. Tujuan pendidikan
5. Metode pendidikan.[2]
Baiklah kami akan menguraikan unsur-unsur pendidikan islam lebih detail lagi.
1. Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau penolong.
2. Pendidik
Dari segi bahasa, pendidik sebagaimana dijelaskan oleh WJS Poewadarminta adalah orang yang mendidik.
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk allah, khalifah dipermukaan bumi ini, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.[3]
Dalam Bahasa Inggris dijumpai beberapa kata seperti teacher (guru), tutor (guru pribadi) atau dalam B. Arab dijumpai kata Mudarris yang berarti teacher (guru), instructor (Pelatih), lecture (deosen) selanjutnya kata muallim yang juga berarti teacher (guru), instructor (pelatih), trainer (pemandu) selanjutnya kata muaddib berarti educator pendidika atau teacher in koranic school (guru dalam lembaga pendidikan Al-Qur’an).
Beberapa istilah tentang pendidik tersebut mengacu kepada seseorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain. Kata-kata bervariasi tersebut menunjukkan adanya perbedaan ruang gerak dan lingkungan dimana pengetahuan dan keterampilan tersebut diberikan.
Adapun pengertian pendidik menurut istilah yang lazim digunakan di masyarakat telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan Ahmad Tafsir, misalnya mengatakan bahwa pendidik dalam islam sama dengan teori di Barat yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Selanjutnya ia mengatakan dalam islam orang yang paling bertanggun jawab dalam mendidik anaknya adalah orang tua (ayah ibu). Tanggung jawab itu disebabkan sekurang-kurangnya oleh 2 hal :
Pertama : Karena kodrat, yaitu orang tua ditakdirkan mendidik anaknya.
Kedua : Karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tua Juga.[4]
Tugas guru menurut S. Nasution menjadi 3 bagian :
1. Sebagai orang yang mengkomunikasikan pengetahuan.
2. Guru sebagai uswah
3. Guru menjadi model sebagai pribadi, apakah ia berdisiplin, cermat berpikir, mencintai pelajarannya atau yang mematikan idealisme dan picik dalam pandangan.[5]
3. Anak Didik
Diantara komponen terpenting dalam pendidikan islam adalah anak didik. Dalam paradigma pendidikan islam peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan belum memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Disini anak didik merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf kematangan bentuk, ukuran, maupun pertimbangan pada bagian-bagian lainnya. Dari segi rohaniah ia memiliki bakat, kehendak, perasaan yagn dinamis dan perlu dikembangkan.[6]
4. Tujuan Pendidikan
Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Karena itu tujuan pendidikan islam yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan islam.
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, fungsi tujuan itu ada empat macam yaitu :
1. Mengakhiri usaha
2. Mengarahkan usaha
3. Tujuan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama.
4. Memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.
Sehubungan dengan itu maka tujuan mempunyai arti yang sangat penting bagi keberhasilan sasaran yang diinginkan, arah atau pedoman yang harus ditempuh, tahapan sasaran seta sifat dan mutu kegiatan yang dilakukan karena itu kegiatan tanpa disertai tujuan sasaran akan kabur, akibatnya program dan kegiatannya menjadi berantakan.
Dr. Ahmad D. Marimba mengemukakan dua macam tujuan :
1. Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat islam yang melaksanakan pendidikan islam. Tujuan sementara disini yaitu tercapainya berbagai kemampuan jasmaniah seperti pengetahuan membaca, menulis, kesusilaan, keagamaan dan sebagainya.
Kedewasaan rohaniah tercapai apabila seseorang telah mencapai kedewasaan jasmaniah.
2. Tujuan akhir
Adapun tujuan akhir pendidikan islam yaitu terwujudnya kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran islam.
Menurut Drs. Ahmad D. Mirinda aspek-aspek kepribadian itu dapat dikelompokkan ke dalam 3 hal, yaitu :
a. Aspek kejasmanian, meliputi tingkah laku yang mudah nampak dari luar. Misalnya : cara berbuat, cara berbicara dsb.
b. Aspek kejiawaan : aspek yang tidak segera dapat di lihat dari luar. Misalnya cara berpikir, minat dsb.
c. Aspek kerohanian yang luhur meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak.
5. Metode Pendidikan
Secara literal metode berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari kosa kata yaitu meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode berarti jalan yang dilalui rumus sebagaimana dikutip oleh Muhammad Noor Syam secara teknis menerangkan bahwa metode adalah :
1. Suatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan.
2. Suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu meteri tertentu.
3. Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.[7]
An-Nahlawi mengemukakan beberapa metode yang paling penting dalam pendidikan islam , yaitu :
1. Metode hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi
2. Mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi.
3. Mendidik dengan amtsal (perumpamaan) Qur’ani dan Nabawi.
4. Mendidik dengan memberi teladan.
5. Mendidik pembiasaan diri dan pengamalan.
6. Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan mauidhah (peringatan)
7. Mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut).[8]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pendidikan islam menurut Drs. Ahmad D. Marimba adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam.
2. Hakikat pendidikan islam adalah upaya melesatarikan dan mempertahankan khazanah pemikiran ulama’ sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab mereka.
3. Unsur-unsur pendidikan islam menurut Drs. Ahmad D. Marinda ada 5 :
a. Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan, penolong.
b. Pendidik
c. Anak didik
d. Tujuan pendidikan
e. Metode pendidikan


[1] Drs. H. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipata : Jakarta, hal 16.
[2] Prof. Dr. H. Abudin Nata MA. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Baya Media Pratam, 2005. hlm 9.
[3] Drs. H. Hamdani Ihsan dan Drs. H. A. Fuad Ihsan, Filsafah Pendidikan Islam, Bandung : CV Pustaka Setia, 1998. hlm 93.
[4] Ibidh, hal. 114
[5] Ibidh, hal. 116
[6] Dr. H. Samsul Nizar MA. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis. Jakarta ; PT Intermasa, 2002. hlm. 47.
[7] Ibid Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam. Hal. 66
[8] Ibid hlm 73.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar