STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 18 November 2011

AMTSAL AL-QUR'AN

A.      Latar Belakang
Hakikat-hakikat yang tinggi makna dan tujuannya akan lebih menarik jika di tuangkan dalam kerangka ucapan yang baik dan mendekatkan kepada pemahaman, melalui analogi dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin. Tamsil (membuat pemisalan, perumpamaan) merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantap didalam pikiran, dengan cara menyerupakan sesuatu yang gaib dengan yang hadir, yang abstrak dengan yang konkrit, dan dengan menganalogikan sesuatu dengan hal yang serupa. Betapa banyak makna yang baik, di jadikan lebih indah, menarik dan mempesona oleh tamsil. Karena itulah maka tamsil lebih dapat mendorong jiwa untuk menerima makna yang dimaksudkan dan membuat akal merasa puas dengannya. Dan tamsil adalah salah satu uslub Qur'an dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatannya.
Di antara para ulama adasejumlah orang menulis sebuah kitab yang secara khusus membahas perumpamaan-perumpamaan (amtsal) dalam Qur'an, dan ada pula yang hanya membuat satu bab mengenainya dalam salah satu kitab-kitabnya. Kelompok pertama, misalnya Abul Hasan al-Mawardi.Sedang kelompok kedua, antara lain, as-suyuti dalam al-itqan, dan Ibnul Qayyim dalam A'lamul-Muwaqqi'in.

B.       Rumusan Masalah
Sesuai dengan materi yang telah di tetapkan dengan demikian pemakalah memfokuskan mengenai amsal Al-Qur'an dengan permasalahan sebagai berikut:
1.    Pengertian Amtsal Al-Qur'an
2.    Macam-macam amtsal dalam Al-Qur'an
3.    Urgensi amtsal Al-Qur'an
4.    Tujuan Amtsal Al-Qur'an













A. Pengertian Amtsal Al-Qur'an
Secara bahasa amtsal berasal dari kata mitsl yang artinya perumpamaan. Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu:


  1.     Menurut istilah ulama ahli adab, amtsl adalah ucapan yang banyak menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan sesuatu yang dituju.
  2. .     Menurut istilah ulama ahli Bayan amtsal adalah ungkapan majaz yang di samakan dengan asalnya karena adanya persamaan yang dalam ilmu balaghah di sebut tasybih.
  3.     Menurut ulama ahli Tafsir amtsal adalah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik, yang mengena dalam jiwa, baik dengan     bentuk tasybih maupun majaz mursal.[1]

B.       Macam-macam Amsal dalam Al-Qur'an
Amsal didalam Al-Qur'an ada tiga macam:
1.    Amsal musarrahah, ialah yang di dalamnya di jelaskan dengan lafaz masal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Adapun Rukun amtsal ini ada empat, yaitu:


  1. .    Wajah syabbah, yaitu pengertian yang bersama-sama yang ada pada musyabbah dan musyabbah bih.
  2.   Alat Tasybih, Yaitu kaf, mitsil, kaanna, dan semua lafaz yang menunjukkan makna perserupaan.
  3.   Musyabbah, Yaitu sesuatu yang diserupakan (menyerupai) musyabbah bih.
  4.   Musyabbah Bih Yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyabbah.[2]
Amstal seperti ini banyak di temukan di dalam Al-Qur'an, Seperti dalam Surat Al-Baqarah: 17-20
yang Artinya:
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat”(17) “Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (18) Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir” (19). Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu” (20)

Dalam ayat itu, Allah memberikan perumpamaan terhadap orang munafik dengan dua perumpamaan, yaitu diumpamakan dengan api yang menyala dan dengan air yang di dalamnya ada unsur kehidupan. Begitu pula Al-qur’an di turunkan, pertama untuk menyinari hati dan keduanya untuk menghidupkannya. Allah menyebutkan keadaaan orang munafik juga di dalam dua hal, mereka di umpamakan menghidupkan api untuk menyinari dan memanfaatkannya agar dapat berjalan dengan sinar api tadi. Tetapi sayang mereka tidak bisa memanfaatkan api itu, karena Allah telah menghilangkan cahayanya, sehingga masih tinggal panasnya saja yang akan membakar badan mereka, sebagaimana mereka tidak menghiraukan suara Al-qur’an dan hanya berpura-pura membacanya saja. orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, Karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas. Mereka walaupun pancaindera sehat, masih tetap di pandang tuli, bisu dan buta karena tidak dapat menerima kebenaran.
Mengenai matsal mereka yang berkenaan dengan air, Allah menyerupakan mereka dengan keadaan orang ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gulita, guruh dan kilat, sehingga terkoyaklah kekuatan orang itu dan meletakkan jari-jemarinya untuk myumbat telinga serta memejamkan mata karena takut petir menimpanya. keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. mereka menyumbat telinganya Karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Quran itu.[3]

2.         Amstal Kaminah, yaitu yang didalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafaz tamsil (permisalan) tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah , menarik, dalam kepdatan redaksinya, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya. Untuk mastal ini mereka mengajukan sejumlah contoh, diantaranya:
1)        Ayat-ayat yang senada dengan perkataan: (Sebaik-baik urusan adalah pertengahannya), yaitu:
a.    Firman Allah mengenai Shalat (QS Al-isra: 110)
Artinya:
Katakanlah: "Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya  dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"

2)   Ayat yang senada dengan perkataan: (Kabar itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri). Contohnya firman Allah Tentang ibrahim (QS al-Baqarah: 260)
3)     Ayat yang senada dengan perkataan :(sebagaimana kamu telah menghutangkan, maka kamu akan di bayar). Contohnya: ( QS An-Nisa :123)
4)     Ayat yang  senada dengan perkataan ( Orang mukmin tidak akan disengat dua kali dari lubang yang sama). Contohnya firman melalui lisan Ya'kub (QS Yusuf:64)

3.    Amtsal Mursalah, Yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai masal. Seperti Contoh dalam surat Al-Baqarah :216
Artinya:
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. [4]

C.         Urgensi Amtsal Al-Qur'an
Bagaimanapun, kekuatan deskripsi Al-Qur’an adalah salah satu bukti bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat. Kekuatan deskripsi adalah kekuatan teks yang ternyata diturunkan dalam bentuk bahasa arab. Unsur perumpamaan yang telah penulis bahas dalam bagian sebelumnya, terkait dengan pola konsep amtsal dalam Al-Qur’an. Menunjukkan bahwa kekuatan itu di-”ekspresi”-kan melalui ter-”bebas”-nya teks Al-Qur’an dari aturan-aturan gramatika, walaupun dapat dijelaskan dengan tingkat tertentu.Hal ini menunjukkan urgensi yang sebenarnya dari konsep amtsal dalam teks Al-Qur’an, sebagai berikut: [5]
1.  Pengungkapan pengertian abstrak dengan bentuk kongkret yang dapat di tangkap indera, itu mendorong akal manusia dapat memahami ajaran-ajaran al-qur’an. Karena, pengertian abstrak tidak mudah di serap oleh sanubari, kecuali setelah digambarkan dengan hal-hal yang konkret sehingga mudah di cerna. Seperti dalam surat al-waqiah: 17-23
Yang Artinya:
17. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, 18. dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, 19. mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, 20. dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, 21. dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. 22. Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, 23. laksana mutiara yang tersimpan baik.

2.      Menyuruh mengambil pelajaran. Seperti Dalam surat a'basa:17-27
Yang artinya:

3.      Mendorong berbuat baik, menghindar dari yang negatif, seperti dalam surat Ibrahim: 24-26 dan al-Ankabut: 41
4.      Mendorong gemar menabung buat kehidupan yang hakiki, Setelah menabung jangan disia-siakanamalnya dengan membangkit-bangkit jasa atau menyakiti hati yang menerima santunan itu. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 261 dan 264.
5.      Memuji atau mencela suatu perbuatan. Seperti yang mencela dalam surat Al-Jumu'ah: 5
6.      Menggerakkan kemampuan berpikir , seperti dalam surat al-hasyr :21
7.      Anita yang kafir yang jahat dan yang baik (kafir dan mukmin), seperti dalam surat At-Tahrim: 10-12. [6]

D.         Tujuan Amtsal Al-Qur'an
Para ulama’ ahli tafsir tidak secara jelas menyebutkan tujuan dari amtsal al-Qur’an. Namun apabila dicermati dari berbagai faedah dan ayat-ayat amtsal al-Qur’an maka dapat dikatakan bahwa tujuan dari amtsal adalah agar manusia menjadikannya pelajaran dan bahan renungan dalam arti contoh yang baik dijadikan sebagai teladan sedangkan perumpamaan yang jelek sedapat mungkin dihindari. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat az-Zumar ayat 27. Mengenai kedudukan amtsal dalam al-Qur’an, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah:
إنَّ الْقُرْأَنَ نَزَلَ عَلَى خَمْسَةِ أَوْجُهٍ حَلَالٍ وَ حَرَامٍ وَ مُحْكَمٍ وَ مُتَشَابِهٍ وَ أَمْثَالٍ فَاعْلَمُوْا بِالْحَلَالِ وَاجْتَنِبُوْا الْحَرَامَ وَاتَّبِعُوْا الْمُحْكَمَ وَأَمِنُوْا بِالْمُتَشَابِهِ وَاعْتَبِرُوْا بِالْأَمْثَالِ
Artinya:Sesungguhnya al-Qur’an turun dengan menggunakan lima sisi: halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal. Kerjakanlah kehalalannya; tinggalkanlah keharamannya; ikutilah muhkamnya; imanilah mutasyabihnya; dan ambillah pelajaran dari amtsalnya)
Dari dalil al-Qur’an dan hadits di atas maka jelaslah bahwa tujuan amtsal al-Qur’an adalah sebagai teladan dan bahan renungan sehingga manusia terbimbing menuju jalan yang benar demi meraih kebahagiaan hidup dunia maupun akhirat.[7]


A.  Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil makalah di atas dapat kami simpulkan:
1.         Pengertian Amtsalul Qur'an menurut etimologi adalah  berasal dari kata mitsl yang artinya perumpamaan. Sedangkan menurut istilah matsal adalah menampakkan pengertian abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik yang tertancap di dalam jiwa, baik dengan betuk tasybih (penyerupaan) maupun majaz mursal (ungkapan bebas).
2.         Amsal didalam Al-Qur'an ada tiga macam:


  1. .       Amsal musarrahah, yang rukunnya ada 3, wajah syabbah, alat tasybih, Musyabbah, dan musyabbah bih.
  2. .      Amstal Kaminah
  3. .       Amtsal Mursalah,
3.   Pengungkapan pengertrian abstrak dengan bentuk kongkret yang dapat di tangkap indera, itu mendorong akal manusia dapat memahami ajaran-ajaran al-qur’an. Karena, pengertian abstrak tidak mudah di serap oleh sanubari, kecuali setelah digambarkan dengan hal-hal yang konkret sehingga mudah di cerna.
B.       Saran
Bagi para pembaca apabila terdapat kesalahan di dalam makalah ini kami penulis mengharapkan partisipasinya untuk memberikan kritik dan saran yang membangun guna terciptanya makalah yang lebih baik lagi.




     [1] Drs. H. Ahmad Syadali, M.A, Ulumul Qur'an II, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2000), hal. 35
     [2]Drs. H. Ahmad Syadali, M.A, Ulumul Qur'an................. hal. 36
     [3]Manna' Khalil al-Qattan, Studi lmu-ilmu Qur'an , ( Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa:2010 ), hal. 404-405
     [4] Manna' Khalil al-Qattan, Studi lmu-ilmu Qur'an.........hal. 404-409
     [5] abdurrahmanbinsaid.wordpress.com/.../mengkaji-ilmun-al-quran-bab

     [6]Didin Saepuddin Buchori, Pedoman Memahami kandungan Al-Qur'an, (Bogor :Granada Sarana Pustaka, 2005) hal. 167-170
    [7] ruhmannisamufarrahah.blog.com/2010/12/10/ilmu-amtsal-al-qur’an/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar