STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 13 Maret 2015

Filsafat Sebagai Metode dan Paradigma



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang
Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah.
Berfilsafat kerap dianggap kegiatan yang hanya dilakukan para arif bijaksana. Oleh pikir hampir selalu dihubungkan dengan para cerdik cendikiawan, kaum terpelajar.
Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu tentang seluruh kenyataan (realitas).
Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulu memfikirkan dengan bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban filsafat. Kegiatan manusia yang memiliki tingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia . Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran.


1.2.    Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud metode filsafat?
2. Apakah yang dimaksud filsafat sebagai paradigma?

1.3.    Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud filsafat sebagai metode.
2. Untuk mengetahui yang dimaksud filsafat sebagai paradigma.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Metode
Kata Metode berasal dari kata Yunani Methodos , sambungan kata depan metaialah menuju, melalui, mengikuti, sesudah. Dan kata depan hodos ialah jalan, perjalanan, cara, arah. Kata Methodos sendiri lalu berarti penelitian, metode ilmiah, hipotesis ilmiyah, uraian ilmiyah,. Metode adalah cara bertindak menurut system aturan tertentu. (Anton Bakker, 1984, hlm 10)
Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah ratio yang bertanya. Obyek materinya semua yang ada. Maka menjadi tugas filsafat mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan universal. Sonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentang bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang. Meski bagaimanapun banyaknya gambaran yang kita dapatkan tentang filsafat, sebenarnya masih sulit untuk mendefinisikan secara konkret apa itu filsafat dan apa kriteria suatu pemikiran hingga kita bisa memvonisnya, karena filsafat bukanlah sebuah disiplin ilmu. Sebagaimana definisinya, sejarah dan perkembangan filsafat pun takkan pernah habis untuk dikupas. Tapi justru karena itulah mengapa fisafat begitu layak untuk dikaji demi mencari serta memaknai segala esensi kehidupan.
Sebenarnya jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan definisi dari para ahli dan ahli filsuf sendiri. Karena metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri.
Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama, menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agamatempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasadiklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya.Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurutwilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah bisa dibagimenjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Timur Tengah”.Sementara latar belakang agama dibagi menjadi: “Filsafat Islam”, “FilsafatBudha”, “Filsafat Hindu”, dan “Filsafat Kristen”.
Lantaran banyaknya metode ini. Runes dalam Dictionary of Philosophysebagaimana dikutip oleh Anton Bakker menguraikan sepanjang sejarah filsafat telah dikembangkan sejumlah metode-metode filsafat yang berbeda dengan cukup jelas. Yang paling penting dapat disusun menurut garis historis sedikitnya ada 10 metode, yaitu sebagai berikut.
1.                   Metode Kritis: Socrates, Plato
Bersifat analisis istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak dan akhirnya ditemukan hakikat.
2.                  Metode Intuitif: Platinus, Bargson
Dengan jalan instrospeksi intuitif, dan dengan pemakaian simbol-simbol diusahakan pembersihan intelektual (bersama dengan persucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pikiran. Bargson: dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3.                  Metode Skolastik: Aristoteles, Thomas Aquinas, Filsafat Abad Pertengahan
Bersifat sintetis,deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi-definisi atau prinsi-prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik kesimpulan-kesimpulan.
4.                  Metode Geometris: Rene Descartes dan Pengikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat ‘sederhana’ (ide terang dan berbeda dari yang lain); dari hakikat-hakikat itu dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5.                   Metode Empiris: Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide) dalam introspeksi dibandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian disusun bersama secara geometris.
6.                  Metode Transendental: Immanuel Kant, Neo-Skolastik
Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
7.                   Metode Fenomologis: Husserl Eksistensialisme
Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
8.                  Metode Dialektis: Hegel, Marx
Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitetis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.
9.                  Metode Neo-positivistis
Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
10.               Metode Analitika Bahasa: Wittgenstein
Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. (Anton Bakker, 1984, hlm 21-22).
Dari sepuluh metode tersebut hanya beberapa metode yang khas bagi filsafat yang dianggap paling penting dan berpengaruh sepanjang sejarah filsafat. Metode yang khas itulah yang dibahas oleh Anton Bakker
2.2 Pengertian Paradigma
   Paradigma dalam bahasa Inggris disebut paradigm dan dalam bahasa Perancis disebut paradigme, istilah tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni para dan deigma. Secara etimologis, para berarti (di samping, di sebelah) dan deigma berarti (memperlihatkan, yang berarti, model, contoh, arketipe, ideal). Sedangkan deigma dalam bentuk kata kerja deiknynai berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu. Lorens Bagus dalam Kamus Filsafat memaparkan beberapa pengertian tentang paradigma sebagai berikut: 1) Cara memandang sesuatu, 2) Dalam ilmu pengetahuan artinya menjadi model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomenon yang dipandang dijelaskan, 3) Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah konkret. Dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu, 4) Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, bahwa pengertian paradigma adalah 1) Ling daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklanasi kata tersebut, 2) Model dalam teori ilmu pengetahuan, 3) Kerangka berpikir atau kerangka acuan. Menurut Jujun S. Sumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu menyatakan bahwa paradigma adalah sebuah konsep dasar yang dianut oleh suatu masyarakat tertentu termasuk masyarakat ilmuwan. Thomas Kuhn dalam Rizal Mustansyir juga menyatakan bahwa paradigma adalah cara pandang terhadap dunia yang menjadi acuan dari revolusi ilmah dan mempunyai cara kerja terhadap revolusi ilmah itu sendiri. Secara umum pengertian paradigma adalah seperangkat kepercayaan atau kayakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan menurut Guba yang dikutip oleh Muhammad Adib (Filsafat Ilmu, 2010), menyatakan bahwa paradigma dalam ilmu pengetahuan mempunyai definisi bahwa seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan manusia dalam keseharian maupun dalam penyelidikan ilmiah. Jadi menurut pemakalah paradigma adalah suatu rangkaian berpikir yang menjadi acuan dan kepercayaan yang mendasar yang menuntun seseorang dalam bertindak.
Sedangkan Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah :
1.      Cara memandang sesuatu.
2.      Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari model-model ini fenomena dipandang dan dijelaskan.
3.      Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan dan menentukan atau mendefinisikan sutau study ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.
4.      Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.
Paradigma sangat penting perannya dalam mempengaruhi teori, analisis mau pun tindak perilaku seseorang. Karena paradigma sangat menentukan apa yang tidak kita pilih, tidak ingin kita lihat, dan tidak ingin kita ketahui. Paradigma pulalah yang mempengaruhi pandangan seseorang apa yang baik dan buruk, adil dan yang tidak adil. Oleh karena itu, jika ada dua orang yang melihat sesuatu realitas sosial yang sama, akan menghasilkan pandangan, penilaian, sikap dan perilaku yang berbeda pula. Perbedaan ini semuanya dikarenakan perbedaan paradigma yang dimiliki, yang secara otomatis memengaruhi persepsi dan tindak komunikasi seseorang.

2.3 Cara Kerja Paradigma
Menurut Kuhn dalam Rizal Mustansyir (Filsafat Ilmu, 2010: 154), menyatakan bahwa cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah secara singkat dapat digambarkan ke dalam tahap-tahap yang akan dikemukakan berikut:
Tahap Pertama, paradigma ini membimbing dan mengarahkan aktivitas ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science). Disini para ilmuwan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma sebagai model ilmiah yang digelutinya secara rinci dan mendalam.
Tahap kedua, menumpuknya anomali-anomali menimbulkan krisis kepercayaan dari para ilmuwan terhadap paradigma. Paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuan mulai keluar dari jalur ilmu normal.
Tahap ketiga, para ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bisa memecahkan masalah dan mebimbing aktivitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan dari paradigma lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiah.
Secara lebih rinci revolusi ilmiah atau cara kerja paradigma menurut Thomas Kuhn dapat dipaparkan sebagai berikut:
·                     Normal Sains (Science)
   Sains yang normal berarti riset berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah yang lalu, pencapaian yang oleh masyarakat ilmiah tertentu pada suatu ketika dinyatakan sebagai pemberi fondasi bagi praktek selanjutnya. Menurut Kuhn yang mengemukakan bahwa sains normal adalah beberapa contoh praktik ilmiah nyata yang diterima (mencakup dalil, teori, penerapan dan instrumentasi) menyajikan model-model yang melahirkan tradisi-tradisi tertentu dari riset ilmiah.
·                     Anomali dan Munculnya Penemuan Baru
Data anomali berperan besar dalam memunculkan sebuah penemuan baru yang diawali dengan kegiatan ilmiah. Dalam hal ini teradapat 2 macam kegiatan ilmiah yaitu, 1) Puzzle solving, para ilmuwan membuat percobaan dan mengadakan observasi yang bertujuan untuk memecahkan teka-teki, bukan mencari kebenaran. Bila paradigmanya tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan penting atau malah mengakibatkan konflik, maka suatu paradigma baru harus diciptakan. 2) Dengan demikian kegiatan ilmiah selanjutnya diarahkan kepada penemuan paradigma baru, jika penemuan baru ini berhasil, maka akan terjadi perubahan besar dalam ilmu pengetahuan. Penemuan diawali dengan kesadaran akan adanya anomali. Kemudian riset berlanjut dengan eksplorasi yang diperluas pada wilayah anomali. Riset tersebut akan berakhir bila teori atau paradigma itu telah disesuaikan sehingga yang menyimpang menjadi sesuai dengan yang diharapkan. Jadi dalam penemuan baru harus ada penyesuaian antara fakta dengan teori yang baru.



BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan   
Setelah memaparkan penjelasan singkat dari metode filsafat dan paradigma ilmu, pemakalah menyimpulkan bahwa Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah ratio yang bertanya. Obyek materinya semua yang ada. Maka menjadi tugas filsafat mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan universal.Sonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentang bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang. Sedangkanparadigma ilmu adalah seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan manusia dalam kesehariannya maupun dalam penyelidikan ilmiah yang dalam hal ini dibatasi pada paradigma pencarian ilmu pengetahuan, yaitu suatu keyakinan dasar yang digunakan berbagai kalangan untuk mencari kebenaran realitas menjadi suatu ilmu atau disiplin ilmu pengetahuan.


DAFTAR PUSTAKA
Suriasumantri, Junjun S. 2003. “Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer” . Jakarta:Pustaka Sinar Harapan
Iqbal , Muhammad . 2012. “Makalah Pengantar Filsafat Ilmuhttp://akuibe.blogspot.com/2012/06/tugas-makalah-pengantar-filsafat-ilmu.html. Diakses tanggal 1 Desember 2012.
loekisno. 2012. “paradigma-ilmu”. http://loekisno.wordpress.com/tag/paradigma-ilmu/. Diakses tanggal 1 Desember 2012.
Zaenal Ausop, Asep, dkk.. 2012 . “ Makalah-Filsafat-Ilmu ”.http://id.scribd.com/doc/60432683/Makalah-Filsafat-Ilmu. Diakses tanggal 1 Desember 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar