STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 29 Januari 2014

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK HUBUNGANNYA DENGAN PROSES BELAJAR


Perkembangan ialah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ-organ jasmaniahnya itu sendiri. Penekanan arti perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik.
Perkembangan ranah psiko-fisik difokuskan pada proses-proses perkembangan yang di pandang memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan belajar siswa.
Proses – proses perkembangan tersebut meliputi :
1)      Perkembangan motor, yakni proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak
2)      Perkembangan kognitif, yakni perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak anak
3)      Perkembangan sosial dan moral, yakni proses perkembangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak dalam berkomunikasi dengan obyek atau orang lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok

1.      Perkembangan Motor (Fisik) Siswa     
Motor sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik
Motor skills (kecakapan-kecakapan jasmani) perlu dipelajari melalui aktivitas latihan langsung yang disertai dengan pengajaran teori-teori pengetahuan yang bertalian dengan motor skills itu sendiri. Aktivitas latihan perlu dilaksanakan dalam bentuk praktik yang berulang-ulang oleh siswa, akan tetapi dalam praktek itu hendaknya dilibatkan pengetahuan ranah akal siswa.
Ada empat macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya yaitu :
a)      Pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf
b)      Pertumbuhan otot-otot
c)      Perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar endoktrin
d)     Perubahan stuktur jasmani
2.      Perkembangan Kognitif Siswa
Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang berarti mengetahui. Dalam arti luas cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan
Seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognotif dan psikologi anak, Jean Piaget yang mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan yaitu :
Tabel 1
Tahapan Perkembangan Kognitif Anak
No.
Tahap Perkemabangan Kognitif
Usia Perkembangan Kognitif
1.
Sensory-motor (Sensori-motor)
0 sampai 2 tahun
2.
Preoperational (Preoperasional)
2 sampai 7 tahun
3.
Concrete-operational (Konkret operasional)
7 sampai 11 tahun
4.
Formal-operational (Formal Operasional)
11 sampai 15 tahun




1.      Perkembangan Sosial dan Moral siswa
Pendidikan, ditinjau dari sudut psikososial (kejiwaan kemasyarakatan), adalah upaya menumbuhkembangkan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi) yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang terorganisasi, dalam hal ini masyarakat pendidikan dan keluarga.
Pendidikan baik yang berlangsung secara formal di sekolah maupun yang berlangsung secara informal di lingkungan keluarga memiliki peranan penting dalam mengembangkan psikososial siswa. Perkembangan psikososial siswa adalah proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam hubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayatnya.
Proses perkembangan social dan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial siswa sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial) siswa tersebut baik di lingkungan sekolah dan keluarga maupun di lingkungan yang lebih luas. Proses belajar itu sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku social yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dll yang berlaku dalam masyarakat siswa yang bersangkutan.
A.    Arti Penting  Perkembangan Kognitif Bagi Proses Belajar Siswa
Ranah psikologis siswa yang terpenting adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif, dan ranah psikomotor.
1.      Mengembangkan Kecakapan Kognitif
Upaya pengembangan fungsi ranah kognitif akan berdampak positif bukan hanya terhadap ranah kognitif sendiri, melainkan juga terhadap ranah afektif dan psiko-motor. Sekurang-kurangnya ada dua macam kecakapan kognitif siswa yang sangat perlu dikembangkan khususnya oleh guru yakni :
a)      Strategi belajar memahami isi materi pelajaran
b)      Strategi meyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut.
Tanpa pengembangan dua macam kecakapan kognitif ini, siswa sulit diharapkan mampu mngembangkan ranah afektif dan psikomotornya sendiri.
2.      Mengembangkan Kecakapan Afektif
Keberhasilan pengembangan ranah kognitif tidak hanya akan mnghasilkan kecakapan kognitif, tetapi juga mnghasilkan kecakapan ranah afektif.
3.      Mengembangkan Kecakapan Psikomotor
Kecakapan psikomotor ialah segala amal jasmaniah yang konkret dan mudah diamati baik kuantitasnya maupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka. Namun di samping kecakapan psikomotor itu tidak terlepas dari kecakapan kognitif ia juga banyak terikat oleh kecakapan afektif. Jadi, kecakapan psikomotor siswa merupakan manifestasi wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya. 
A.    Pengembangan Aktivitas Kreativitas Dan Motivasi Dalam
Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran yang berlaku di dalam kelas merupakan suatu proses yang saling melengkapi dan melibatkan dua pihak pendidik (guru dan dosen)yang mengendalikan pengajaran dan pihak peserta didik (siswa atau mahasiswa) yang menjalani proses pembelajaran. Dalam proses ini, peserta didik belajar dengan menggunakan berbagai cara. Cara cara peserta didik mendapat dan memperoleh informasi serta ilmu diistilahkn sebagai model pembelajaran. Sementara pihak pendidik pula, merka mempunyai berbagai model pengajaran untuk dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan memenuhi berbagai gaya pembelajaran peserta didik. (Felder & Henriques 1995).
Efektivitas proses pembelajaran benyak bergantung kepada kesiapan dan cara mengajar yang dilakukan pendidik (guru dan dosen), sedangkan kesiapan cara belajar yang dilakukan oleh peserta didik (siswa atau mahasiswa) itu sendiri, baik yang dilakukan secara mandiri maupun kelompok.
Dalam proses pembelajaran pesrta didik perlu diupayakan pengembangan kreativitas, aktivitas dan motivsai siswa didalam proses pembelajaran. Dengan mengutip pemikiran Gibbs E.Mulyasa (2003) mengemukakan hal hal yang perlu dilakukan agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajarnya adalah:
1.      Dikembangkanya rasa percaya diri para siwa dan mengurangi rasa takut.
2.      Memberi kesempatan kepada seluruh siswa untuk berkomunikasi ilmiah secara terarah.
3.      Melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya.
4.      Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter.
5.      Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.
Sudrajat (2009) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaraan, pendidik dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut:
(a)    Self esteem aproach; guru memperhatikan pengembangan self esteem (kesadaran akan harga diri siswa).
(b)   Creative approach; guru mengembangkan problem solving, brain storming, inquiry, dan role playing.
(c)    Value clrification and moral development approach; guru mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan holistik dan humanistik untuk mengembangkan segenap potensi siswa demi tercapainya self actualization, dalam situasi ini pengembangan intelektual siswa akan mengiringi pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa, termasuk dalam hal etika dan moral.
(d)   Multiple talent approach; guru mengupayakan pengembanga seluruh potensi siswa untuk membangun self concept yang menunjang kesehatan mental.
(e)    Inquiry approach; guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan preses mental  dalam menemukan konsep atau prinsip ilmiah serta meningkatkan potensi intelektualnya.
(f)    Pictorial riddle approach; guru mengembangkan metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil guna membantu meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif.
(g)   Synetics approach; guru lebih memusatkan perhatian pada kompetensi siswa untuk mengembangkan berbagia bentuk methapor untuk membuka intelagensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Kegiatn pembelajaran dimulai dengan kegiatan yang tidak rasinal , kemudian berkembang menuju pertemuan dan pemecahan masalah secara rasional.
Untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik dalam proses pembelajaran, seorang pendidik perlu memperhatikan hal hal sebagai berikut:
(1)   Bahwa siswa akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya.
(2)   Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada siswa sehingga mereka mengetahui tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Siswa juga dilibatkan dalam penyusunan tersebut.
(3)   Siswa harus selalu diberitahu tentang hasil belajarnya.
(4)   Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu – waktu hukuman juga diperlukan.
(5)   Manfaatkan sikap-sikap, cita – cita, dan rasa ingin tahu siswa.
(6)   Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual siswa seperti perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subyek tertentu.
(7)   Usahakan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, rasa aman, menunjukan bahwa guru peduli terhadap mereka, mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga siswa memproleh kepuasan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri (E. Mulyasa, 2003).
Kesimpulan

Berdasarkan pada fenomena dan kondisi obyektif dunia pendidikan masa kini pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya, maka penelitian tentang perkembangan pserta didik serta hubungnya dengan proses belajar dirasa sangat penting. Karena pada dasarnya pendidikan di indonesia perlu diamati perkembanganya untuk memamantau sejauh mana kemajuan pendidikan di negara kita. Para pendidik harus tahu cara – cara meningkatkan efektifitas pembelajaran didalam kelas maupun diluar kelas sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang sangat jelas.
 Fenomena yang terjadi sehari-hari tentang  macam sifat anak-anak peserta didik yang beraneka ragam, maka dari itu mengingat petingnya mata kuliah ini diharapkan para pendidik harus bisa mempelajari sifat-sifat anak didik mereka, dan memantau perkembangan sejauh mana anak didiknya belajar di dalam kelas.


DAFTAR PUSTAKA 

-          Iskandar, 2009. Psikologi pendidikan sebuah orientasi baru, jakarta: gaung persada press.
-          Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
-          Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
-          B. Uno Dr. Hamzah, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif da Efektif, Jakarta, Sinar Grafika, 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar