STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 29 Januari 2014

INDIKATOR DAN BATAS MINIMAL PRESTASI BELAJAR



Oleh: Yuri Alamsyah, M.Pd.I
Latar Belakang Masalah
Secara psikologi semua orang selalu ingin mencapai cita-cita yang diinginkannya. Ia akan berusaha dengan sekuat tenaga demi keberhasilan tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk bekerja secara optimal adalah motivasi, baik itu motivasi intrinsik ataupun motivasi ekstrinsik. Karena fungsi dari motivasi itu sendiri adalah sebagai pendorong seseorang untuk berbuat atau bertindak dan menentukan arah perbuatan kearah yang hendak dicapai. Jadi, dengan adanya motivasi, seseorang tergerak untuk melakukan segala tugas demi suatu tujuan atau cita-cita.
Di dalam setiap lembaga pendidikan, hal terpenting yang diinginkan adalah prestasi yang baik dari anak didik. Untuk mencapai prestasi yang baik, anak didik tersebut harus belajar. Sebagaimana pamaparan Muhibbin Syah, “Belajar adalah key ‘term’“ (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak ada pendidikan”.
Suatu kegiatan belajar dapat dikatakan maksimal jika prestasi yang diinginkan tercapai dengan hasil yang memuaskan dan efisien (hemat waktu, biaya dan tenaga). Adapun salah satu cara untuk mengetahui hasil proses belajar tersebut adalah dari nilai yang diberikan oleh pendidik. Dengan nilai tersebut, maka anak didik akan merasa punya pegangan, pedoman dan hidup dalam kepastian bathin. Disamping itu, anak didik butuh mengetahui statusnya diantara teman-temannya. Misalnya, apakah ia tergolong anak pilihan, yang pandai, yang sedang dan sebagainya; juga kadang ia butuh membandingkan dirinya dengan teman-temannya demi kemajuannya di masa yang akan datang .



Pengertian Prestasi Belajar
Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi, untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan evaluasi, tujuanya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Menurut Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni prestasi merupakan hasil belajar yang berasal dari infomasi yang telah diperoleh pada tahap proses belajar sebelumnya.
Menurut Asep Jihat belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan.[1] Sedangkan menurut Sardiman belajar merupakan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya.[2] Prestasi belajar yang sering disebut juga hasil belajar yang artinya apa yang telah dicapai oleh suatu siswa setelah melakukan kegiatan balajar yang mencakup aspek kongnitif, afektif dan psikomotor.[3]
Prestasi siswa dapat diartikan hasil yang diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar karena kegiatan belajar merupakan proses sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar mengajar. Prestasi belajar adalah tingkatan keberhasilan dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes.[4]
Menurut Oemar Hamalik untuk mengetahui sejauh mana prestasi belajar siswa maka perlu diadakan pengukuran secara :
1.         Assessment adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur prestasi belajar (achievement) siswa sebagai  hasil dari suatu program intruksional
2.         Pengukuran (measurement) berkenaan dengan pengumpulan data deskriptif tentang produk siswa dan atau tingkah laku siswa, dan hubungannya dengan standar prestasi atau norma.[5]
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki oleh siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi – informasi sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran, yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar  siswa dapat diketahui setelah diadakan penilaian hasil belajar.
Menurut Slameto mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor interen dan faktor eksteren. Secara rinci faktor tersebut adalah sebagai berikut [6] :
1.     Faktor interen meliputi :
1.  Faktor jasmani yang terdiri atas faktor kesehatan dan cacat tubuh
2.  Faktor psikologi yang terdiri atas intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kelemahan
3.     Faktor eksteren meliputi :
1.  Faktor keluarga terdiri atas cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga
2.  Faktor sekolah terdiri atas metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin, keadaan gedung, metode mengajar, dan tugas belajar
3.  Faktor masyarakat terdiri atas kegiatan siswa dalam masyarakat, media masa, temen bergaul, bentuk kehidupan masyarakat
Prestasi belajar atau hasil belajar siswa perlu diketahui oleh siswa yang bersangkutan guna mengetahui seberapa besar kemajuan yang telah dicapai oleh siswa serta seberapa baik kualitas dari proses pembelajaran itu sendiri. Prestasi belajar siswa dapat ketahui melalui proses evaluasi pembelajaran.
Tujuan evaluasi adalah sebagai berikut :
1.            Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah diketahui siswa dalam kurun waktu proses belajar tertentu. Sehingga guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah  laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran.
2.            untuk mengetahui posisi atau kedudukan siswa dalam kelompok kelasnya. posisi yang dimaksud adalah mutu kemampuan yang dimiliki siswa di kelas jika dibandingkan dengan teman – temen lainnya
3.            Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Maka dengan evaluasi guru dapat mengetahui usaha yang dilakukan siswa apakah efisien atau tidak dalam usaha mencapai prestasi
4.            Untuk mengetahui sejauh mana siswa telah mendayagunakan kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki untuk keperluan belajar dalam usaha mencapai prestasi belajar.
5.            Untuk mengetahui keefektifan metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar mengajar.[7]
Indikator Prestasi Belajar
Menurut Muhibbin Syah “Pengungkapan hasil belajar meliputi segala ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa”. Namun demikian pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah, khususnya ranah afektif sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tidak dapat diraba). Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah garis-garis besar indikator dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. Di bawah ini adalah tabel yang menunjukan jenis, indikator dan cara evaluasi belajar:[8]
Tabel 1 : Jenis, Indikator dan Cara Evaluasi Prestasi

Ranah/Jenis Prestasi
Indikator
Cara Evaluasi
A. Ranah Kognitif


1. Pengamatan

1. dapat menunjukkan
2. dapat membandingkan
3. dapat menghubungkan
1. tes lisan
2. tes tertulis
3. observasi
2. Ingatan

1. dapat menyebutkan
2. dapat menunjukan kembali

1. tes lisan
2. tes tertulis
3. observasi
3. Pemahaman
6.  dapat menjelaskan
7.  dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri
1. tes lisan
2. tes tertulis
Ranah/Jenis Prestasi
Indikator
Cara Evaluasi
3. Pemahaman



4. Penerapan




5. Analisis (pemeriksaan dan
    pemilahan secara teliti)

6. Sintesis (membuat panduan  
    baru dan utuh)
1. dapat menjelaskan
2. dapat mendefinisikan
    dengan lisan sendiri

1. dapat memberikan
    contoh
2. dapat menggunakan
    secara tepat

1. dapat menguraikan
2. dapat mengklasifikasikan


1. dapat menghubungkan
2. dapat menyimpulkan
3. dapat   menggeneralisasi
1. tes lisan
2. tes tertulis


1. tes tertulis
2. pemberian
tugas
3. observasi

1. tes tertulis
2. pemberian tugas


1. tes tertulis
2. pemberian tugas
B. Ranah Rasa/Afektif


1. Penerimaan

1. menunjukan sikap menerima
2. menujukan sikap menolak

1. tes tertulis
2. tes skala     sikap
3. observasi
2. Sambutan


1. kesediaan berpartisipasi/ 
    Terlibat
2. kesediaan    memanfaatkan
1. tes tertulis
2. tes skala sikap
3. observasi
3. Apresiasi (sikap menghargai)




4. Internalisasi (pendalaman)









5.Karakteristik (penghayatan)

1. menganggap penting      dan
    bermanfaat
2. menganggap indah dan
    harmonis
3. mengagumi

1. mengakui dan  meyakini
2. mengingkari







1. melembagakan atau
    meniadakan
2. menjelmakan dalam
    pribadi dan perilaku
    sehari-hari
1. tes skala
    penilaian/sikap
2. pemberian tugas

3. observasi

1. tes skala sikap
2. pemberian tugas
   ekspresif (yang
   menyatakan sikap)   
   dan proyektif  (yang
   menyatakan
   perkiraan ramalan)
3. observasi

1. pemberian tugas
ekspresif dan proyektif
2. observasi
Ranah/Jenis Prestasi
Indikator
Cara Evaluasi
C. Ranah Karsa/Psikomotor


1. Keterampilan
    bergerak dan bertindak

1. mengkoordinasikan
    gerak mata, tangan, kaki
    dan anggota tubuh
    lainnya

1. observasi
2. tes tindakan

2. Kecakapan ekspresi
    verbal dan nonverbal

1. mengucapkan
2. membuat mimik dan
   gerakan jasmani
1. tes lisan
2. observasi
3. tes tindakan

Batas Minimal Prestasi Belajar
Setelah mengetahui indikator prestasi belajar di atas, guru perlu pula mengetahui bagaimana kiat menetapkan batas minimal keberhasilan belajar para siswanya. Keberhasilan dalam arti luas berarti keberhasilan yang meliputi ranah cipta, rasa, dan karsa siswa. Keberhasilan tidak hanya terikat oleh kiat penilaian yang bersifat kognitif, tetapi juga memperhatikan kiat penilaian afektif dan psikomotor siswa.
Menetapkan batas minimum keberhasilan belajar siswa selalu berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar. Ada beberapa alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses mengajar-belajar. Di antara norma-norma pengukuran tersebut ialah :
1.      Norma skala angka dari 0 sampai 10.
2.     Norma skala angka dari 0 samapai 100. [9]
































Kesimpulan
Untuk mengungkap hasil belajar atau prestasi belajar pada ketiga ranah (afektif, kognitif dan psikomotor) diperlukan patokan-patokan atau indikator-indikator sebagai penunjuk bahwa seseorang telah berhasil meraih prestasi pada tingkat tertentu, karena pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai indikatorindikator prestasi belajar sangat diperlukan ketika seseorang perlu untuk menggunakan alat dan kiat evaluasi.
Tujuan dari pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai jenis-jenis prestasi belajar dan indikator-indikatornya adalah agar pemilihan dan pengunaan alat evaluasi akan menjadi lebih tepat, reliabel dan valid. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.
Setelah mengetahui indikator dan memperoleh skor hasil evaluasi prestasi belajar, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan batas minimal keberhasilan belajar peserta didik tersebut. Menetapkan batas mnimum keberhasilan belajar selalu berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar.
Terdapat beberapa alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar, beberapa norma tersebut antara lain yaitu norma skala angka dari 0 sampai 10, norma skala angka dari 10 sampai 100 dan norma prestasi belajar dengan menggunakan simbol huruf A, B, C, D, dan
E.










DAFTAR PUSTAKA

Asep Jihad dan Abdul Haris. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Pressindo

Hadari Nawawi. 1998. Administrasi sekolah. Jakarta : Galio Indonesia

Muhibin Syah.2006.Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT.Remaja Rosda karya.

Oemar Hamalik. 1995. Metode Belajar Dan Kesulitan -  Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito

Sardiman.1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grafindo.

Slameto. 1998. Belajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta

Tohirin 2005. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo 
.



[1] Asep Jihad dan Abdul Haris. (Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Pressindo.2009). hal.1
[2] Sardiman. (Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grafindo.1996). hal 22
Tohirin (Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo.2005).hal.151
[4] Hadari Nawawi (Administrasi sekolah. Jakarta : Galio Indonesia.1998).hal. 100
[5] Oemar Hamalik. ( Metode Belajar Dan Kesulitan -  Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito.1995). hal 146
[6] Slameto (Belajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.1998) hal.56
[7] Muhibin Syah.(Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT.Remaja Rosda karya. 2006) hal.197
[8] Muhibin Syah.Ibid hal.150-151
[9] Muhibin Syah.Ibid hal.152

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar