STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 13 November 2013

ISIM-ISIM YANG BERBARIS DAPAN





1.   FAIL ( فاعل )
a.   Definisi
· Pengertian Fa’il menurut bahasa adalah: yang mengerjakan pekerjaan (subjek), contoh:
كتب الطالبُ

“ siswa menulis”
·     Sedangkan menurut istilah nahwu adalah:
الاسم المرفوع المذكور قبل فعله
 Artinya : “Yaitu isim yang berbaris dapan yang disebutkan fi’il sebelumnya”
Maksudnya adalah isim yang keadaannya berbaris dapan yang berada setelah fi’il , dalam tatanan bahasa indonesia dikenal sebagai subyek atau pelaku dari suatu pekerjaan.
Contoh:
دَخَلَ السَّارِقُ السَّجْنَ            
“ Pencuri itu masuk penjara “   
Kata   السَّارِقُ  adalah fa’il dari kata  دَخَلَ  yang menjadi fi’ilnya.
b.  Pembagian fa’il
1)  Fa’il isim Zohir yaitu susunan kalimat yang fa’il_nya menggunakan nama pelaku langsung.
Contoh Fa’il Isim Zhohir:

قام زيد

Zaid berdiri
2)   Fa’il isim dhomir yaitu susunan kalimat yang fa’ilnya menggunakan dhomir (kata ganti)
Contoh Fa’il Isim Dhomir:

قمـت

Aku berdiri
2.   NAIBUL FA”IL
a.   Definisi
Secara bahasa ialah pengganti fa’il. Sedangkan secara istilah yaitu isim yang berbaris depan yang tidak disebutkan fa’ilnya dan fi’ilnya berubah menjadi mabni majhul. isim yg menggantikannya itu asalnya berupa Maf’ul bih atau serupanya sepeti Zhorof, Masdar dan Jar-majrur.
Contoh bentuk kalimat asal :

أكرم خالد الغريب

AKROMA KHOOLIDUN AL-GHORIIBA = Kholid menghormati orang asing itu
Contoh bentuk kalimat setelah Fa’ilnya dibuang dan Fi’ilnya dibentuk Mabni Majhul:

أُكْرِم الغريب

UKRIMA AL-GHOORIBU = Orang asing itu dihormati
Pada contoh ini lafazh AL-GHOORIBU adalah Naibul Fa’il menggantikan Fa’ilnya yg dibuang. Lafazh UKRIMA adalah kalimah Fi’il Madhi yang dibentuk Mabni Majhul.
b.   Pembagian Naibul Fa’il
·     Zohir :
Contoh:
ضُرِبَ زَيْدٌ
·  Mudhmar :
Contoh :
ضُرِبْتُ
3.   MUBTADA’
a.   Definisi
Menurut Bahasa, mubtada’ ialah permulaan. Sedangkan menurut istilah yaitu isim yang berbaris dapan yang berada di awal kalimat dan sunyi dari amil-amil lafdzi yang berarti bahwa mubtada’ itu tidak berbaris dapan karena adanya amil lafadz seperti fa’il ataupun naibul fa’il melainkan karena anil maknawi, yaitu ibtida’ atau permulaan kalimat saja.
Contoh :
زَيْدٌ قَائِمٌ
b.   Syarat-syarat mubtada’
·       Isim ma’rifat (bentuk khusus)
·       Berada di awal kalimat
·       Sunyi dari ‘amil lafzy
c.   Pembagian
Mubtada’ itu terbagi menjadi 2, yaitu:
·       Zohir (seperti yang telah dijelaskan diatas )
Contoh :
البَحْرُ وَاسِعٌ
·       Mudhmar (mubtada’ yang menggunakan isim domir / kata ganti orang)
Contoh :
هُوَ قَائِمٌ
4.   KHABAR
a)   Definisi
Secara bahasa khobar itu dapat diartikan sebagai berita. Sedangkan menurut istilah khobar itu adalah isim yang berbaris dapan yang di musnadkan (disandarkan) kepada mubtada’ . jadi khobar itu berbaris dapan karena adanya mubtada’ karena padanyalah khobar bersandar. Seandainya mubtada’ tidak ada maka khobarpun tidak akan ada.
b)  Pembagian
·     Khobar mufrad
Yaitu khobar yang bukan terdiri dari jumlah dan bukan pula menyerupai jumlah (sibhul jumlah)
Contoh :
الطلابُ نشيطٌ
·     Khobar ghoiru mufrad
Yaitu khobar yang terdiri dari jumlah, baik jumlah ismiyah maupun fi’liyah. Artinya bahwa dalam susunan mubtada’ khobar itu khobarnya berbentu susunan jumlah yang berada setelah mubtada’ yang bisa berbentuk jumlah ismiyah (mubtada’ khobar) dan fi’liyah (fi’il dan fa’il)
1)     Jumlah ismiyah yaitu susunan kalimat yang terdiri dari mubtada’ dan khobar.
Contoh :
محمد أبوه قائمٌ
2)     Jumlah fi’liyah yaitu susunan kalimat yang terdiri dari fi’il dan fa’ilnya.
Contoh :
محمد قَامَ أبوهُ
3)     Sybhul jumlah yaitu susunan kalimat yang menyerupai jumlah.
§  Susunan jar majrur yaitu susunan yang terdiri dari huruf jar dan isim yang di jar (baris bawah) kan.
Contoh :
محمد فى الدارِ
§  Susunan zarfiyah yaitu susunan kalimat yang terdiri dari zhorof zaman (keterangan waktu) dan makan (keterangan tempat)
Contoh :
محمد عندكَ
5.   ISIM KAANA DAN SAUDARANYA
Isim Kaana dan saudaranya yaitu ‘amil yang bertugas untuk membaris dapankan isim.
Contoh :
زيدٌ قائمٌ ← كانَ زيدٌ قائمًا
Saudara-Saudara Kaana
1.   أَصْبَحَ – أَضْحَى – ضَلَّ – أَمْسَى – بَاتَ (Untuk menunjukkan waktu)
Contoh:
بَاتَ الْوَلَدُ نَائِمًا (Anak itu tidur di malam hari)   
2.   لَيْسَ (Untuk penafian)
Contoh:
لَيْسَ النَّجَاحُ سَهْلاً       (Kesuksesan itu tidaklah mudah) 
3.   صَارَ (Untuk menunjukkan terjadinya perubahan)
Contoh:
صَارَ مُحَمَّدٌ شَابًّا (Muhammad telah menjadi seorang pemuda) 
4.   مَادَامَ (Untuk menunjukkan jeda waktu)
Contoh:
لاَ تَخْرُجْ مَادَامَ الْيَوْمُ مُمْطِرًا (Jangan keluar selama hari masih hujan) 
5.   مَابَرِحَ – مَانْفَكَّ – مَافَتِئَ – مَازَال (Untuk menunjukkan adanya kesinambungan)
Contoh:
مَازَالَ الْسَارِقُ مُكَدِّرا   (Pencuri itu senantiasa membuat resah)
6.   KHABAR INNA DAN SAUDARANYA
Adalah khobar yang berbaris dapan karena adanya ‘amil yang merofa’kannya, yaitu INNA.
Contoh :
زيدٌ قائمٌ ← إنَّ زيدًا قائمٌ
Macam-Macam Khabar Inna:
1.   Mufrod
Contoh:
إِنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ
(Sesungguhnya keberadaan Surga adalah benar)
2.   Jar Majrur
Contoh:
إنَّ اللهَ فِي السَّمَاء
(Sesungguhnya Allah berada di atas langit)
3.   Zharaf
Contoh:
وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْب
(Sesungguhnya jalan keluar bersama dengan kesusahan)
4.   Jumlah Ismiyyah
Contoh:
إِنَّ عُمَرَ وَلَدُهُ صَالِح
(Sesungguhnya anaknya Umar adalah anak shalih)
5.   Jumlah Fi’liyyah
Contoh:
إِنَّ اللهَ يَرَى
(Sesungguhnya Allah Melihat)
Saudari-Saudari Inna:
1.   إِنَّ, أَن = Untuk Taukid (Menguatkan sesuatu)
Contoh:
إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar) 
وَاعْلَمُوْا أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْر (Ketahuilah sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran)
2.   لَيْت = Untuk berandai-andai
Contoh:
لَيْتَ النَّتِيْجَةَ حَسَنَة  (Seandainya nilainya baik)
3.   كَأَنّ = Untuk Tasybih (Menyerupakan)
Contoh:
كَأَنَّ عُمَرَ أَسَد (Seakan-akan Umar adalah singa)
4.   لَكِنّ = Untuk Menyatakan kebalikan dari kalimat sebelumnya
Contoh:
اَلْكِتَابُ صَغِيْرٌ لَكِنَّهُ مُفِيْد (Kitab itu kecil akan tetapi berfaidah)
5.   لَعَلّ = Untuk pengharapan
Contoh:
لَعَلَّ الْجَوَّ مُعْتَدِل (Mudah-mudahan udaranya nyaman)
6.   لاَ النَّافِيْةُ لِلْجِنْسِ = Untuk meniadakan jenis
Contoh:
لاَ رَجُلَ فِي الْبَيْت (Tidak ada seorang lelaki pun di dalam rumah itu)
7.   TABI’ ( YANG MENGIKUTI KALIMAT YANG DIRAFAKKAN )
Yaitu isim yang mengikuti harokat (baris) isim yang mendahuluinya dan yang mendahuluinya / yang diikutinya ini disebut matbu’ .
Adapu tabi’ itu ada empat macam, yaitu :
a)   Na’at (sifat)
Ialah lafaz yang mengikuti man’utnya (yang di sifati ) dalam hal baris dapa, atas, bawah ma’rifat dan nakirah.
Kaedah terjadinya sifat ialah:
·     Isim ma’rifat jatuh setelah isim ma’rifat.
Contoh :
جاءَ زيدُ العاقلٌ
·     Isim nakirah berada setelah isim ma’rifat.
جاءَ رجلٌ عاقلٌ
b)  Taukid (penguat)
Yaitu tabi’ yang disebut setelah matbu’nya yang berfungsi untuk memperkuatnya dan menghilangkan sesuatu yang bisa menimbulkan keraguan pada pendengar.
Lafaz taukid ada 4, yaitu :
·     النّفس  zatnya (orangnya) , contoh :    جاء زيد نفسه
·     العين  zatnya (orangnya), contoh :    جاء زيد عينه
·     كلُّ     semuanya , contoh :     رأيت القوم كلهم
·     أجمع  semuanya , contoh :     مررت القوم اجمعين
c)   ‘Athof
Secara bahasa, athof berarti menggabungkan, mengikutkan kata kepada kata yang lain. Athof adalah tabi’ yang terletak setelah wawu athof dan jumlah / kalimat yang berada setelah wawu athof disebut ma’thuf ‘alayih.
Ada dua maca athof, yaitu :
·     Athof nasaq yaitu kalimat yang ikut pada kalimat sebelumnya dengan menggunakan media huruf athof.
Contoh :
رايت محمدا و بدرا
·     Athof bayan yaitu athof yang bertujuan untuk media huruf tahof.
Contoh :
جاء زيد اخوك
Diantara huruf-huruf athof adalah
و, ف, ثم, أو, أم, لا, لكن, بل, حتى
  1. Huruf wau digunakan untuk menghubungkan atau menggabungkan dua kata, dan diartikan dengan “dan”.
Contoh :
جَاءَ مُحَمَّدٌ وَ حَسَنٌ وَ سَعِيْدٌ
(Muhammad dan hasan dan sa’id datang)
Kata حَسَنٌ dan سَعِيْدٌ marfu dengan dhommah, kedua-duanya isim mufrod. Kedudukannya sebagai athof, karena terletak setelah huruf athof
  1. Huruf ف digunakan untuk urutan yang tanpa jeda, dan biasa diartikan dengan “lalu" atau "kemudian”.
Contoh :
دَخَلَ الْمُتَّهِمُ فَالْمُحَامِي
(orang yang menuduh masuk kemudian pengacara masuk.)
Kata الْمُحَامِي marfu dengan dhommah muqoddaroh, isim mankus, sebagai athof.
Kalimat ini menunjukkan urutan tanpa jeda waktu, sehingga maknanya, orang yang menuduh masuk seiring dengan masuknya pengacara.
  1. Huruf ثم (tsumma) digunakan untuk urutan dengan jeda waktu, dan diartikan dengan “kemudian
Contoh :
مَاتَ الرَّشِيْدُ ثُمَّ الْمَأْمُوْنُ
(rosyid meninggal kemudian ma’mun.)
Kata الْمَأْمُوْنُ marfu dengan dhommah, isim mufrod, sebagai athof.
Kalimat ini menggunakan huruf ثم sehingga menunjukkan urutan dengan jeda waktu, sehingga maknanya, rosyid meninggal kemudian dalam waktu dekat atau lama baru ma’mun meninggal.
  1. Huruf au digunakan untuk menunjukkan hal yang berupa pilihan atau ragu, dan biasa diartikan dengan “atau”.
Contoh :
ضَرَبَ الكَلْبَ مُحَمَّدٌ أَوْ عَلِيٌّ
(muhammad atau ali yang memukul anjing)
Kata عَلِيٌّ marfu dengan dhommah, isim mufrod, sebagai athof.
Penggunakan huruf أو sama saja dengan penggunaan kata “atau” dalam bahasa Indonesia
.
  1. Huruf  أم (am) digunakan untuk meminta penjelasan, bisa diartikan “apa/atau”.
Contoh :
أَكْتَبَ هَذَا المَقَالَ عَمْرٌ أَمْ مَحْمُوْدٌ؟
yang menulis artikel ini amrun atau Mahmud?
Kata مَحْمُوْدٌ marfu dengan dhommah, isim mufrod sebagai athof.
Penggunaan huruf أم biasanya dipakai untuk kalimat tanya yang ditujukan untuk meminta kejelasan suatu hal.
  1. Huruf لا (laa) digunakan untuk meniadakan hukum yang sebelumnya, biasa diartikan dengan “bukan”.
Contoh :
نَضِجَ الْبَطِيْخُ لاَ الْعِنَبُ
yang matang semangka bukan anggur
Kata الْعِنَبُ marfu dengan dhommah, isim marfu sebagai athof, karena terletak setelah لا yang merupakan huruf athof.
  1. Huruf لكن (laakin) digunakan untuk memperbaiki atau membetulkan. Diartikan dengan “akan tetapi” atau “melainkan”.
Contoh :
مَا نَجَحَ عَلِيٌّ لَكِنْ أَخُوْهُ
bukan ali yang lulus melainkan saudaranya
Kata أَخُوْ marfu dengan wau, merupakan asmaul khomsah, sebagai athof.
  1. Huruf بل (bal) digunakan untuk memalingkan atau menyelisihi hukum sebelumnya. Diartikan dengan “tetapi” atau “bahkan”.
Contoh :
ظَهَرَ عَلَي اْلأَمْوَاجِ زَوْرَقٌ بَلْ بَاخِرَةٌ
tampak di atas ombak sampan bahkan kapal besar
Kata بَاخِرَةٌ marfu dengan dhommah, isim mufrod sebagai athof, terletak setelah بل.
d)     Badal (pengganti)
Adalah lafaz yang i’robnya ikut pada lafaz sebelumnya tanpa perantara huruf athof dan lafaz tersrbut menjadi tujuan sandaran hukum. Badal adalah tabi’ yang matbu’nya di buang, maka ia bisa menepati posisinya. Dan isim yang digantikannya disebut mubdal.
Adapun Badal terdiri atas empat bagian :

·  بَدَلُ اَلشَّيْءِ مِنْ اَلشَّيْء  adalah meyebutkan seluruhnya dari seluruhnya.
Contoh :      "قَامَ زَيْدٌ أَخُوكَ, (Zaid telah berdiri yaitu saudaramu) 
·      بَدَلُ اَلْبَعْضِ مِنْ اَلْكُلِّ    adalah menyebutkan sebagian dari seluruhnya.
Contoh :   وَأَكَلْتُ اَلرَّغِيفَ ثُلُثَهُ,(aku telah memakan roti yaitu sepertiga-nya)
·      بَدَلُ اَلِاشْتِمَالِ    adalah menyebutkan katanya.
Contoh :   وَنَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ,(Zaid memberi manfaat kepadaku yaitu ilmunya)
·      بَدَلُ اَلْغَلَطِ .   adalah badal yang disebutkan untuk membenarkan mubdal minhu yang salah disebut.
Contoh :   وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ.(aku telah melihat zaid yaitu kudanya
Kamu ingin berkata "al farasa" (kuda) akan tetapi salah, 

وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ. (aku melihat zaid yaitu kudanya)
‘AMIL NAWASIKH
     Yaitu ‘amil-‘amil yang masuk pada mubtada’ dan khobar dan merusak baris diantara keduanya, dari baris dapan menjadi atas dan dari baris atas menjadi baris dapan.
Adapaun Amil-amil yang masuk kepada Mubtada dan Khabar  ada tiga Perkara, yaitu :
·       Kaana dan saudara-saudaranya,
·       Innna dan saudara-saudaranya
·       Dzhanna (dzhanantu) dan saudara-saudaranya.
1.       Kaana Dan Saudara-Saudara-nya
Adapun kaana dan saudara-saudaranya, sesungguh-nya mereka berfungsi merafa’kan isim (mubtada) dan menashabkan khabar (mubtada).
Diantara kaana dan suadara-saudaranya itu adalah :
. كَانَ, (Ada/Adalah)
. وَأَمْسَى,(Waktu sore)
. وَأَصْبَحَ,(Waktu subuh)
. وَأَضْحَى,(Waktu Dhuha)
. وَظَلَّ,(Waktu siang hari)
. وَبَاتَ,(Waktu malam Hari)
. وَصَارَ,(Jadi)
. وَلَيْسَ,(Tidak/Bukan)
. وَمَا زَالَ, (tidak Terputus/tidak henti-henti/terus menerus)
. وَمَا اِنْفَكَّ,(tidak Terputus/tidak henti-henti/terus menerus)
. وَمَا فَتِئَ,(tidak Terputus/tidak henti-henti/terus menerus)
. وَمَا بَرِحَ,(tidak Terputus/tidak henti-henti/terus menerus)
. وَمَا دَامَ, (Tetap dan terus menerus/selama)
semua lapaz tersebut bisa ditashrif menurut kaidah ilmu Sharaf, seperti Contoh :
. كَانَ, وَيَكُونُ, وَكُنْ,
. وَأَصْبَحَ وَيُصْبِحُ وَأَصْبِحْ,
Contoh Kaana Dan Saudara-Sauidaranya :
."كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا, وَلَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا"
Artinya : adalah zaid itu berdiri dan tidaklah Amar itu menampakan diri
Dan Apa yang menyerupai contoh ini.
2.   Inna Dan Saudara-Saudara-nya
Adapun inna dan saudara-saudaranya,Bahwa mereka berfungsi menashabkan Mubtada dan merafa’kan khabar.
Diantara Inna dan saudara-saudara-nya itu adalah :
. .إِنَّ، ( Bahwa/Sesungguhnya)
. وَأَنَّ،(BAhwa?Sesungguhnya)
. وَلَكِنَّ،(Akan tetapi)
. وَكَأَنَّ،(Seumpama/Seolah-olah)
. وَلَيْتَ،(seandainya)
. وَلَعَلَّ ،(semoga)
Seperti contoh kalimat :
. إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ
Keterangan:
Makna inna dan anna adalah untuk taukid (Menguatkan), laakinna untuk istidraak (menyusul kalimat), kaanna untuk tasybih (penyerupaan), laita untuk tamanniy (pengandaian), la’alla untuk tarajiy (pengharapan kebaikan) dan tawaqqu’ (ketakutan dari nasib buruk).
Adapun dzhanantu (dzhanna) dan saudara-saudaranya sesunggunya mereka berfungsi menashabkan mubtada dan khabar karena keduanya adalah maf’ul bagi dzhanna dan saudara-saudaranya.
3.   Dzhana dan saudara-saudaranya
Zhona Dan Saudara-Saudara-nya adalah :
..ظَنَنْتُ،(Aku menduga)
. وَحَسِبْتُ،(aku mengira)
. وَخِلْتُ،(Aku Menduga)
. وَزَعَمْتُ،(Aku Menduga dengan Yakin)
. وَرَأَيْتُ،(Aku melihat)
. وَعَلِمْتُ،(Aku mengetahui)
. وَوَجَدْتُ،(Aku Mendapatkan)
. وَاتَّخَذْتُ،(Aku Menjadikan)
. وَجَعَلْتُ،(Aku Menjadikan)
. وَسَمِعْتُ.؛.(Aku Mendengar)
Seperti contohnya kalimat :
..ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا، وَرَأَيْتُ عَمْرًا شاخصًا
Artinya : Aku menduga zaid itu berangkat dan aku melihat umar itu menampakan dirinya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar