STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 27 Mei 2011

KONSEP PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF IBNU SINA

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Pendidikan merupakan aktivitas yang dilakukan oleh dan diperuntukkan bagi manusia. Pendidikan hanya dapat membentuk manusia yang humanis apabila hakekat kemanusiaan manusia dipahami secara komprehensif dan menyeluruh.
Kesalahan dalam memberikan tafsiran atas eksistensi manusia berimplikasi pada kekeliruan dalam menghadirkan pendidikan serta membentuk menusia-manusia yang "tidak sehat". Pemahaman yang benar dan tepat tentang manusia dan pendidikan sangat diperlukan terutama oleh pendidik dan calon-calon pendidik dalam dunia pendidikan karena mereka dipersiapkan untuk menciptakan manusia-manusia baru.
Dalam perspektif sistemik untuk menilai keberhasilan suatu pelaksanaan pendidikan dalam membangun sumber daya manusia yang lebih baik, kreatif, dan normatif memerlukan kajian secara simultan dan mendalam atas pelbagai unsur yang secara sistemik mempengaruhi keberhasilan tersebut, yaitu; input, process, output, dan outcome. Perspektif sistemik mempercayai bahwa keberhasilan pendidikan yang baik perlu di-back up oleh input, process, dan output yang baik.

Untuk bisa terselenggaranya suatu proses pendidikan yang baik, tidak hanya dibutuhkan pengalaman-pengalaman empirik yang diperoleh melalui observasi dan kajian-kajian yang bersifat scientifik, akan tetapi juga sangat dibutuhkan pemahaman dan penguasaan yang baik dan tepat terhadap konsep-konsep dasar tentang manusia dan pendidikan itu sendiri.
Rumusan Masalah
Bagaimana Latar belakang kehidupan Ibnu Sina?
Bagaimana konsep pendidikan yang di formulasikan oleh Ibnu Sina?

BAB II
PEMBAHASAN

Riwayat hidup Ibnu Sina
Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Ia dilahirkan di kota Balkh, yaitu sebuah kota yang terletak antara Georgia dan Turkistan. Keluarganya termasuk keluarga kaya dan terpandang. Latar belakang keluarganya yang demikian merupakan faktor yang sangat mendukung dalam pembentukan pribadi ilmiahnya, disamping kecemerlangan otaknya. Dalam usia 18 tahun, ia telah menguasai segala ilmu pengetahuan pada masa itu; meliputi al-Qur’an dan tafsir, Linguistik, sastra, kedokteran, psikologi dan pendidikan. Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Sebagai seorang ilmuan. Ibnu Sina telah berhasil menyumbangkan karya ilmiah buku karangan sebanyak 276 buah. Di antara karya besarnya adalah al-Syifa berupa ensiklopedi tentang fisika, logika, dan matematika, serta Qanun fi Thib sebuah esiklopedi kedokteran.
Pemikiran Pendidikan Ibnu Sina
Bagi Ibn Sina, pendidikan bermula sebelum individu dilahirkan. Ketika seorang lelaki memilih pasanganya, moralitas dan intelektualitasnya mempengaruhi anak yang akan dilahirkannya. Peran istri atau ibu sangat penting. Anak harus diajari kedisiplinan sejak menyusu. Pembentukan moralitas dan karakter (ta’dib) mesti dilakukan sejak awal. Pengajaran sains dimulai ketika tubuh anak mulai kuat, sendi kukuh dan telinga dan lidah berfungsi secara baik. Tiap anak harus diberi perhatian individual dan dibesarkan sesuai dengan kepribadiannya yang khas. Egalitarianisme kuantitatif tidak boleh diterapkan pada setiap individu yang akan mengakibatkan pengabaian perbedaan kualitatif.
Rentang dari masa bayi sampai remaja ditekankan pengedalian emosi agar mampu mengatasi marah, ketakutan, ketidakpercayaan diri, menderita insomnia. Harus mengembirakan dan membangkitkan minat. Pada usia enam tahun, dicarikan guru yang cocok: lemah lembut, berwarak mulia. Tidak boleh dipaksa sekolah. Relaksasi pikiran mendukung pertumbuhan badan. Berenang dan istirahat dikurangi. Senam sebelum makan ditingkatkan. Program ini sampai tiga belas tahun. Senam ringan digalakkan, yang menguras tenaga dan kekerasan dihindarkan pada masa kanak-kanak dan remaja. Empat belas tahun, mulai diajari matematika, lalu filsafat.
Ibn sina membedakan tahap pendidikan: pertama, pendidikan di rumah dan kedua, pendidikan di sekolah (maktab) di bawah seorang guru (mu’allim). Sebetulnya, sekolah dan rumah saling melengkapi.
Tujuan pendidikan awal: memperkukuh keimanan, membangun karakter yang baik dan kesehatan, memberantas buta aksara, mengajarkan cikal-bakal berfikir yang benar dan mempelajari kerajinan. Guru harus dipilih secara teliti karena akan sangat berpengaruh pada karakter siswa. Guru harus saleh, bermoral, lembut, berpengetahuan luas, pemilik kebijakasanaan (hikmah) mampu menghayati karakter siswa, menilai bakat mereka untuk menuntut aneka lapangan pengetahuan supaya mampu memberi saran tentang kajian lanjutan pada tahap akhir kehidupan.
Sekolah penting karena memungkinkan transmisi pengetahuan dan atmosfir sosial dimana siswa mampu belajar satu dengan yang lain. Perlu kompetisi sehat dan dorongan di antara siswa. Dengan adanya siswa lain, dimungkin wacana dan perdebatan yang meningkatkan pemahaman, persahabatan, membantu karakter dan memperkuat keutamaan-keutamaan.
Program delapan tahun maktab: pengajaran al-Quran, agama dan bahasa. Diikuti dengan etika, seni dan kerajinan sesuai kemampuan dan bakat siswa untuk mencari nafkah. Olahraga. Siswa harus punya kesibukan. Untuk yang mental dan intelektualnya memenuhi syarat dilanjutkan pada pendidikan, kedokteran atau sains.
Metode pengajaran: guru jangan terlalu lunak, tidak terlalu keras. Dia mesti memilih metode mengajar: pelatihan mental, imitasi, repetisi, analisis logis, dan sebagainya yang sesuai dengan sifat siswa. Dalam pemilihan seni pun demikian.
Doktrin Ibn sina tentang akal, fakultas jiwa, hirarki yang menentukan aneka tingkat fakultas intelektual manusia, proses mencapai kesempurnaan intelektual. Pendidikan pada tingkat tinggi adalah proses aktualisasi dan penyempurnaan fakultas-fakultas intelek teoritis dan praktis (al-aql al-nadzari dan al-aql al-amali).
Menurut Ibn Sina, manusia mempunyai akal teoritis dan akal praktis yang mesti diperkuat, diwajarkan, disempurnakan sesuai dengan situasi. Pendidikan pikiran adalah pendidikan akal teoritis, sementara pendidikan karakter melibatkan akal teoritis dan praktis. Akal praktis meliputi fakultas-fakultas vegetal dan hewani (al-quwah al-nabatiyah dan al-quwah al-hayawaniyyah) yang cakup pernghayatan (wahm), imajinasi (khayal), dan fantasi (fantasiyyah). Intelek/akal teoritsi meliputi tingkat-tingkat intelek material (intelegensi/al-aql al-hayulani), intelek en habitus (al-aql bi al-malakah), intelek dalam tindakan (al-Aql bi al-fi’l) dan akhirnya akal sakral/perolehan (al-aql al-quds/ al-aql al-mustafad). Proses belajar mengimplikasikan aktulisasi potensi-potensi intelek melalui penuangan cahaya kecerdasan aktif (al-aql al-fa’al). Tidak lain intelek mandiri yang diidentifikasikan dengan substansi malakah—inilah yang merupakan guru sejati pencari pengetahuan dan ilmunisai kecerdasan manusia oleh hirarki terletak di jantung seluruh proses mencapai pengetahuan, yang tingkat-tertingginya adalah pengetahuan intuitif (al-ma’rifa al-hadsiyah) yang dicapai secara langsung dari kecerdasan aktif.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas bisa disimpulkan bahwa Pendidikan bermula sebelum individu dilahirkan. Ketika seorang lelaki memilih pasanganya, moralitas dan intelektualitasnya mempengaruhi anak yang akan dilahirkannya. Peran istri atau ibu sangat penting. Anak harus diajari kedisiplinan sejak menyusu.
Ibn sina membedakan tahap pendidikan: pertama, pendidikan di rumah dan kedua, pendidikan di sekolah (maktab) di bawah seorang guru (mu’allim). Sebetulnya, sekolah dan rumah saling melengkapi.
Metode pengajaran: guru jangan terlalu lunak, tidak terlalu keras. Dia mesti memilih metode mengajar: pelatihan mental, imitasi, repetisi, analisis logis, dan sebagainya yang sesuai dengan sifat siswa. Dalam pemilihan seni pun demikian
Saran
Orang bijak mengatakan bahwa “tak ada gading yang tak retak”. Tidak ada sesuatupun dijagad raya ini yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Begitu pula dengan penyajian makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan masukan-masukan yang berupa kritik maupun saran yang bersifat membangun guna pembuatan makalah selanjutnya. Sehingga kami dapat membenahi sedikit demi sedikit kesalahan maupun kekurangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Rama Yulis, Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, PT. Quantum Teaching, 2005
http://ruhullah.wordpress.com/2008/09/18/pendidikan-di-mata-filosof-muslim/
http://taghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=164&dcid=36831
http://aththibbherbalis.blogspot.com/2008/12/biografi-ibnu-sina.html
http://taghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=164&dcid=36831
Rama Yulis, Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (PT. Quantum Teaching, 2005), hal., 30
http://aththibbherbalis.blogspot.com/2008/12/biografi-ibnu-sina.html
Rama Yulis, Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh, hal., 31
http://ruhullah.wordpress.com/2008/09/18/pendidikan-di-mata-filosof-muslim/
ibid.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar