STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 23 Juni 2011

TAFSIR “Ayat-ayat Tentang Risalah”


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Masalah
Seorang mu’min yang mukhlis harus mengagungkan Rasul, yang ditulis oleh Allah Swt. Membawa agama yang hak Allah Swt telah memuliakannya, meninggikan namanya serta menuliskan namanya dalam lembaran-lembaran mulia.
Sesungguhnya Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw kepada kaum yang sombong lagi buruk akhlak. Setelah beliau diutus merendahkan orang-orang yang sombong dan durhaka, terjungkirlah berhala-berhala, belahlah istana kisra dan jatuhlah empat belas blok yang menandakan empat belas orang yang akan merajai, padamlah api Persia dan surutlah danau sawat tanpa terukur.
Nabi merupakan rahmat bagi seluruh alam, beliau mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi kalangan khawasdan awam. Allah Swt telah menggambarkan sifat-sifat nabi dengan gambaran yang agung da tidak ternilai.

1.2 Rumusan masalah
Maka dengan latar belakang diatas, maka pemakalah akan menjelaskan tentang:
1. Bagaimana penafsiran-penafsiran ayat Al-Qur’an tentang risalah menurut para mufassir?
1.3 Tujuan penulisan
Untuk mengetahui secara terperinci tentang tafsiran-tafsiran ayat Al-Qur’an tentang risalah menurut para mufassir supaya orang yang awam menjadi tahu dan mengerti ayat-ayat tentang risalah tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
Risalah berasal dari bahasa arab yaitu arsala, yursilu, risalah yang artinya Utus. Dalam konteks ini, yang mengutus adalah Allah SWT dan utusannya adalah Nabi Muhammad. Beliau ditugaskan untuk menyebarkan ajaran yang hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah. Bentuk ajarannya adalah Islam yang selalu diartikan dengan selamat, karena berasal dari kata salamah.
2.1 Surat At-Taubah [9] Ayat 33:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ {33}
Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”.
Menurut Tafsir al-Misbah:
Dalam rangka mewujudkan kehendak-Nya menyempurnakan cahaya-Nya itulah maka Dia yang telah mengutus Rasul-Nya yakni Nabi Muhammad Saw. dengan membawa petunjuk berupa penjelasan yang gambling dan bukti-bukti yang sangat jelas, membungkan siapa yang ragu dan dengan membawa agama yang benar untuk dimenangkan-Nya agama itu melalui rasulnya atas segala agama semuanya. Walaupun orang-orang musyrik yang keras kepala tidak menyukai kehadiran agama Allah itu apalagi kemenangannya, Allah tetap akan menyempurnakan cahaya-Nya tanpa menghiraukan keengganan mereka.
Firman-Nya (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّه ِ ) untuk dimenangkannya segala agama tidak harus dipahami dalam arti menjadikan agama-Nya adalah agama yang paling banyak penganutnya, karena secara jelas terlihat bahwa penganut agama yang bertentangan dengan Islam jauh lebih banyak Allah telah menyatakan bahwa :
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ {116}
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.
Yang dimaksud dengan kemenangan tersebut adalah kemenangan hujjah dan argumentasinya. Dapat juga kalimat ini difahami dalam arti akan dimenangkannya agama Islam atas semua isme dan agama yang berbeda dengannya kelak sebelum datangnya kiamat, atau kemenangan atas agama-agama yang lain dalam arti ketetapan Allah Swt. menasahkan atau membatalkan berlakunya agama-agama yang lalu dengan kehadiran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw walaupun agama-agama itu disampaikan oleh rasul-rasul Allah. Dalam konteks ini Nabi Muhammad Saw bersabda “seandainya Musa as. hidup dia tidak dapat keuali mengikutiku” (HR. Ahmad).
Ayat ini ditutup dengan walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai sedang ayat sebelumnya ditutup dengan walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Gabungan keduanya mengisyaratkan bahwa yang berkeyakinan bahwa Uzair dan Al-Masih adalah putra Allah telah menggabung pada dirinya kekufuran dan kemusyrikan.
Menurut Tafsir Al-Maragi:
Allah menerangkan dalam ayat ini bagaimana Dia menyempurnakan cahayaNya:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ
Allah Ta’ala menjamin penyempurnaan cahaya ini dengan mengutus Rasul-Nya yang dilengkapi dengan petunjuk dan agama yang tidak akan bisa digantikan oleh agama lain, tidak pula akan bisa dibatalkan oleh sesuatu pun.
Allah menerangkan tujuan mengutus Muhammad sebagai penutup para Nabi yang membawa Ad-Dinul Haq:
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
Agar agama ini mengungguli seluruh agama dengan hujjah, keterangan, hidayah, pengetahuan, kepemimpinan, dan kekuasaan. Agama lain tidak memiliki seperti apa yang dimiliki oleh islam, berupa pengaruh spiritual, intelektual, material, social, dan politik.
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Meskipun orang-orang musyrik tidak menyukai jika Islam mengungguli agama-agama lain. Allah telah menyifati mereka dengan syirik setelah menyifati mereka dengan kufur. Hal ini menunjukan, bahwa mereka meadukan kedua sifat itu : kafir dan mendustakan Rasul, serta syirik kepada Allah.
Kedua kalimat ini memberitahukan, bahwa penyempurnaan agama dan mengunggulkannya atas seluruh agama itu pasti terjadi, meski seluruh orang kafir yang musyrik dan non musyrik tidak menyukainya.
Ibnu Syeh mengemukakan : “Kemenangan agama yang hak atas agama-agama yang lainnya terjadi setahap demi setahap untuk selamanya. Kemenangan itu menjadi sempurna tatkala diturunkannya kembali Nabi Isa as. perihal ini terdapat dalam riwayat bahwasannya Nabi Muhammad Saw. bersabda “Pada masa Nabi Isa diturunkan (kembali), seluruh agama akan dibinasakannya kecuali agama Islam. “Pendapat lain mengemukakan bahwa kemenangan total agama yang hak itu terjadi tatkala datangnya Imam Almahdi. Pada saat itu tak ada seorang pun meliankan memeluk agama Islam serta patuh menjalankannya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan yang artinya :
“Persoalan akan semakin bertambah sulit, dunia semakin bertambah renta, manusia semakin kikir, dan kiamat tidak akan terjadi kecuali dalam keadaan manusia sudah amat jahat, dan tiada yang membantu Al-Mahdi kecuali ‘Isa bin Maryam. (H.R. Ibnu Majjah).
Maksudnya, tidak seorang pun yang menemani al-Mahdi kecuali ‘Isa bin Maryam, karena ‘Isa turun untuk membantu al-Mahdi dan menemaninya. Al-Mahdi yang merupakan ‘itrah (keturunan) Nabi Saw. adalah seorang imam yang adil. Dia bukan Nabi, bulan pula Rasul. Perbedaan antara al-mahdi dan ‘Isa bin Maryam adalah seorang Nabi yang diutus dan mendapat wahyu, sedangkan al-Mahdi bukanlah seorang Nabi dan tidak pula mendapatkan wahyu. ‘Isa merupakan penutup kekhilafahan secara mutlak. Keduanya berkhidmat kepada agama Islam yang merupakan sebaik-baiknya agama dan paling dicintai disisi Allah.
Seorang mu’min yang mukhlis harus mengagungkan Rasul, yang diutus Allah Swt. membawa agama yang hak. Allah Swt. telah memuliakannya, meninggikan namanya serta menuliskan namanya dalam lembaran-lembaran mulia.
2.2 Surat Al-Ahzab [33] Ayat 45-47:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا {45} وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا {46} وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُم مِّنَ اللهِ فَضْلاً كَبِيرًا {47}
“Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan [45] dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi [46] Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah [47]”.
Menurut Tafsir Al-Maragi:
Setelah Allah SWT. Menyebutkan tentang didikanNya terhadap nabiNya pada awal surat dan menyebutkan pula apa yang patut beliau lakukan terhadap keluarganya, maka disebutkan pula disini apa yang harus beliau lakukan terhadap makhluk seluruhnya.
Pada ayat ke-45 mengandung artian: Hai rasul, sesungguuhnya kami telah mengutus kamu sebagai saksi atas umat yang kepada mereka kami diutus. Kamu mengawasi perbuatan mereka dan kamu mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, bahkan menanggung kesaksian atas apa yang mereka lakukan, berupa membenarkan atau mendustakan, dan segala perbuatan lainnya yang mereka lakukan pada hari kiamat. Dan kami mengutusmu sebagai pemberi kabar gembira kepada mereka, beripa surga jika membenarkan kamu dan melakukan ajaran yang kamu bawa pada mereka, dari sisi Tuhanmu, dan pemberi peringatan kepada mereka tentang nmeraka yang bakal mereka masuki, lalu mereka disana disiksa karena mendustakan kamu dan menyalahi apa yang kamu printahkan dan kamu cegah terhadap mereka.
Pada ayat ke-46: Dan juga sebagai penyeru seluruh makhluk untuk mengakui tentang keesaan Allah ta’ala dan segala yang wajib bagi Allah Swt, berupa sifat-sifat kesempurnaan,dan supaya mereka menyembah Allah yang mrlakukan pendekatan kepada-Nya dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan, juga sebagai obor yang terang. Dari kamulah orang-orang yang sesat itu mendapat peneraangan-penerangan dalam kegelapan-kegelapan, kebodohan dan kesesatan, dan cahayamu pula orang-orang yang mendapat petunjuk mengambil cahaya, sehingga mereka dapat menempuh jalan kebenaran dan kebahagiaan.
Ayat ke-47: Dan perhatikanlah keadaan umatmu, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang mu’min, bahwa mereka akan mendapat karunia besar atas umat-umat lainnya. Karena mereka dapat merubah sistem masyarakat yang zalim dan tidak adil menjadi masyarakat yang adi dan teratur dan dapat memasukkan umat yang terlanjur berpakaian kejelekan kedalam golongan umat yang memimpin keteraturran umat manusia pada zaman yang baru.
2.3 Surat Ali-Imran [3] ayat: 164:
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ {164}
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Menurut Tafsir Al-Maragi:
Sungguh Rasul dilahirkan di negri mereka dan tumbuh dikalangan mereka [arab]. Kemudian selama hidupnya, mereka tidak pernah melihat beliau melakukan hal-hal yang buruk. Ia jujur dan dapat dipercaya, selalu mengajak ke jalan Allah dan berpaling dari keduniawian. Lalu bagaimana mungkin seseorang yang sifatnya demikian masih juga ada yang menuduh melakukan penggelapandan berkhianat.
Mengapa Rasul di utus dikalangan bangsa arab? Karena pada waktu itu dunia dikuasai oleh dua Negara adidaya: Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani. Negara-negara tersebut sangat tidak berkeprimanusiaan, segala sesuatu yang haram mereka halalkan, Khurafat berkembang pesat, pemikiran filsafat yang bebas, menyebabkan Negara-negara itu sangat terbelakang karena kemusyrikan mereka.
Sementara itu, di jazirah Arabia, bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan, dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Merka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke Negara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofis dan dialektia Yunani yang menjerat mereka menjadi mangsa mitos dan khurafat.
Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain. Hanya saja mereka tidak memiliki ma’rifat [pengetahuan] yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu karena mereka hidup dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrah pertama. Akibatnya mereka sesat, tidak menemukan nilai kemanusiaan tersebut.
Selajutnya mereka membunuh anak dengan dalih kemanusiaan tersebut. Dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan alasan kedermawanan, dan membangkitkan peperangan diantara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan.
Di samping itu, Jazirah Arab secara geografis terletak di antara umat-umat yang sedang dilanda pergolakan.
Ustadz Muhammad Mubarak mengatakan bahwa Jazirah Arabia terletak di antara dua peradaban. Pertama, peradaban Barat yang materialistis telah menyajikan suatu bentuk kemanusiaan yang tidak utuh. Kedua, peradaban spiritual penuh dengan khayalan di ujung timur.
Oleh karena itulah Rasulullah di utus kepada umat di Jazirah Arab yang posisi geografinya terletak dibagian tengah umat-umat yang ada di sekitarnya, sehingga memudahkan untuk berdakwah, dengan demikian mereka lebih mudah disembuhkan dan diarahakan.
Hikmah pilihan ini sama dengan hikmah dijadikannya Rasulullah seorang Ummi, tidak bisa menulis dan membaca agar manusia tidak ragu dengan kenabiannya, agar mereka tidak memilki banyak sebab keraguan terhadap kebenaran dakwahnya.
2.4 Surat al-Baqarah [2] ayat 129:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ {129}
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Sudah menjadi kebijaksanan Allah untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa dakwah islam dan media langsung untuk menerjemahkan kalam Allah dan penyampaiannya kepada kita. Jika kita kaji karakteristik bahasa, lalu kita bandingkan antara yang satu dengan yang lainnya, niscaya akan kita temukan bahwa bahasa Arab banyak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Karena itu, sudah sepatutnya jika bahasa Arab dijadikan bahasa pertama bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.
Menurut Tafsir Ruhul Bayan:
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ , Yakni pada umat Islam dari anak cucu kami.
seorang Rasul dari kalangan mereka رَسُولاً مِّنْهُمْ yakni, dari diri mereka sendiri, karena kata “Utuslah kepada mereka” tidak mesti utusan itu berasal dari golongan mereka sendiri. Dan tidaklah diutus dari keturunan keduanya kecuali Nabi SAW. Beliaulah yang merupakan wujud diijabahnya do’a keduanya.
Diriwayatkan bahwasanya dikatakan kepada Ibrahim: “Telah dipenuhi do’amu dengan lahirnya Nabi akhir zaman”. Dalam hadits dikatakan:
“Sesungguhnnya aku telah ditulis pada sisi Allah sebagai Nabi akhir zaman. Sesungguhnya Adam mengandung kumpulan orang semenjak dalam adonannya. Aku akan memberitahukan kepadamu asal-usulku. Sesungguhnya aku merupakan [wujud pengabulan] do’a nenek moyangku Ibrahim a.s., sebagai kabar gembira yang dibawa oleh Isa, dan sebagai impian ibuku yang ketika akan melahirkanku bermimpi bahwa dari dirinya keluar cahaya menerangi gedung-gedung di Syam”. [al-Hadits]
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِكَ , yakni yang harus membacakan dan menyampaikan dalil-dalil tauhid dan kenabian yang diwahyukan kepadanya.
Dan mengajarkan kepada mereka وَيُعَلِّمُهُمDan setaraf dengan potensi penalaran mereka.
Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ, Yakni al-Qur’an yang menyempurnakan dirinya dengan ilmu pengetahuan yang hak dan hukum-hukum syara’ yang dapat menyempurnakan jiwa mereka.
Ibnu Darid berkata: “Setiap kata yang kamu nasihatkan atau kamu serukan kepada kemuliaan, atau kamu mencegah perbuatan buruk dengan kata itu, maka kata itu disebut hikmah”
Serta menyucikan mereka وَيُزَكِّيهِمْ,Sambil mempertimbangkan kekuatanmereka dalam beramal, yakni mensucikan mereka dari kotoran syirik dan berbagai jenis kemaksiatan,baik kotor itu dikarenakan meninggalkan perbuatan wajib atau karena mengerjakan perbuatan munkar. Kemudian setelah Ibrahim menyampaikan ketiga do’a ini, ia mengakhirinya dengan pujian kepada Allah Ta’ala.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ, yang Memaksa dan Mengalahkan apa-apa yang dikehendaki-Nya.
lagi Maha Bijaksana الْحَكِيمُ, yang tidak mengerjakan apapun yang tidak berhikmah dan tidak mengandung kemaslahatan. Dia-lah Allah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana dengan Dzat-Nya, dan segala perkara yang selain-Nya adalah hina dina dan bodoh.
BAB III
PENUTUP
Allah SWT. Menjamin penyempurnaan cahaya islam ini dengan mengutus Rasul-Nya yang melengkapi dengan petunjuk dan agama yang tidak akan bisa digantikan oleh agama lain, tidak pula akan bisa dibatalkan oleh sesuatu pun. Bahwa dalam pengutusan Rasul ada hikmah atau kemaslahatan dan akibat yang terpuji. Pewaris para rasul, yaitu wali, mempunyai andil besar dalam pensucian manusia, dan dalam meramaikan lahiriyah, menerangi batiniyag,dan mengatur alam.
Nabi merupakan rahmat bagi seluruh alam. Mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi kalangan khawas dan awam.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qr’anul kariim
Al-Buruswi, Ismail Haqqi. Terjemah tafsir ruhul bayan Juz 1. CV. Dipenogoro, Bandung 1994.
Al-Buruswi, Ismail Haqqi. Terjemah tafsir ruhul bayan Juz IV. CV. Dipenogoro, Bandung 1994.
Al-Buruswi, Ismail Haqqi. Terjemah tafsir ruhul bayan Juz X. CV. Dipenogoro, Bandung 1994.
Shihab, Quraish, M. Tafsir al-Misbah, pesan, kesan dan kesenian al-Qur’an. Lentera hati, Jakarta 2002.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Terjemah Tafsir al-Maragi 4, CV. Toha putra semarang, semarang.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Terjemah Tafsir al-Maragi 10, CV. Toha putra semarang, semarang.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Terjemah Tafsir al-Maragi 22, CV. Toha putra semarang, semarang.
Dr. Al-Buty, Muhammad Sa’id Ramadhan. Sirah Nabawiyah. Robbani Press, 1999

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar