STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 21 Agustus 2011

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

PENGERTIAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
  • Pendidikan anak usia dini adalah upaya yang terencana dan sistematis yang dilakukan oleh pendidik atau pengasuh anak usia 0-8 tahun (Hibana, 2002).
  • Menurut Undang-Undang Republik Indonesia no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasonal pada pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Aisyah, 2007).
  • Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal (Nugraha,Ali, 2008).

TUJUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
  1. Secara umum tujuan program pendidikan anak usia dini adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan menyeluruh sesui dengan norma-norma dan nilai kehidupan yang dianut. Melalui program pendidikan yang dirancang dengan baik, anak akan mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki, dari aspek fisik, sosial, moral, emosi, kepribadian dan lain-lain (Hibana, 2002).
  2. Menanamkan dan mengembangkan keimanan dan ketakwaan (ke Tuhanan) anak. Setiap keluarga sebagai pemeluk suatu agama biasanya mengidamkan anaknya kelak menjadi anak yang baik, patuh pada agama, orang tua dan masyarakat.
  3. Menanamkan sikap disiplin. Kedisiplinan merupakan kesiapan mental dan tindakan untuk selalu melaksanakan segala bentuk kegiatan dengan tepat waktu, tepat guna dan tepat sasaran. Mendidik dengan kedisiplinan dapat membantu anak untuk selalu hidup teratur, misalnya kapan saatnya mandi pagi dan sebagainya.
  4. Anak mampu mengelola ketrampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan kasar serta menerima rangsangan sensorik (panca indra).
  5. Meningkatkan kecakapan anak yang merupakan kesanggupan anak untuk menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan fisik dan mental. Anak yang cakap adalah anak yang mampu berpikir logis, kritis, memberi alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab dan akibat. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berpikir dan belajar (Wijana, 2008).

FUNGSI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
  • Menurut Wijana (2008) fungsi pendidikan anak usia dini yang utama adalah sebagi berikut:
1). Fungsi Adaptasi
  • Berperan dalam membantu anak melakukan penyesuaian diri dengan berbagai kondisi lingkungan serta menyesuaikan diri dengan keadaan dalam dirinya sendiri. Dengan anak berada dilembaga pendidikan anak usia dini, pendidik membantu mereka beradaptasi dari lingkungan rumah ke lingkungan sekolah. Anak juga belajar mengenali dirinya sendiri.
2). Fungsi Sosialisasi
  • Berperan dalam membantu agar anak memiliki ketrampilan-ketrampilan sosial yang berguna dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari dimana ia berada. Di lembaga pandidikan anak usia dini anak akan bertamu dengan teman sebaya lainnya. Mereka dapat bersosialisasi, memiliki banyak teman dan mengenali sifat-sifat temannya.
3). Fungsi Pengembangan
  • Di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini ini diharapkan dapat pengembangan berbagai potensi yang dimiliki anak. Setiap unsur potensi yang dimiliki anak menumbuhkan suatu situasi atau lingkungan yang dapat menumbuh kembangkan potensi tersebut ke arah perkembangan yang optimal sehingga menjadi potensi yang bermanfaat bagi anak itu sendiri maupun lingkungan.
4). Fungsi Bermaian
  • Melalui kegiatan bermain anak akan mengeksplorasi dunianya serta membangun pengetahuanya sendiri. Melalui bermain anak dapat berlatih, meningkatkan cara berfikir dan mengembangkan kreativitas. Dalam bermain maka mainan sangat penting bagi pembelajaran anak, terutama jika anak dapat berkreasi dengan mainan itu, tidak ada keharusan mengikuti instruksi pembuatnya.
  • Dengan memahami arti bermain bagi anak, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain suatu kebutuhan bagi anak. Dengan merancang pembelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain, maka anak belajar sesuai dengan tuntutan taraf perkembangan.

JALUR PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

1). Pendidikan Anak Usia Dini Jalur Pendidikan Informal
  • Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan informal adalah pendidikan yang didelenggarakan di keluarga dan lingkungan. Terdapat dua makna dari pengertian diatas pertama yaitu adanya pengakuan akan pentingnya pendidikan di keluarga dan lingkungan bagi anak. Kedua yaitu menyiratkan adanya tuntutan tertentu atas penyelenggaraan pendidikan di keluaga dan lingkungan yang harus mengikuti standar atau ketentuan yang sepatutnya.
2). Pendidikan Anak Usia Dini Jalur Pendidikan Non-Formal
  • Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan non-formal adalah pendidikan yang melaksanakan program pembelajaran secara fleksibel sebagai upaya pembinaaan dan pengembangan anak sejak lahir sampai berusia enam tahun.
3). Pendidikan Anak Usia Dini Jalur Pendidikan Formal
  • Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan formal adalah pendidikan yang terstruktur sebagai upaya pembinaan dan pengembangan anak berusia empat tahun sampai enam tahun yang dilaksanakan melalui taman kanak-kanak, raudhatul athfa, dan bentuk lainya yang sederajat. Paud formal ini ditujukan untuk membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosional emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar (Nugraha, 2008).

BENTUK-BENTUK PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
  • Program Pendidikan Anak Usia Dini (0-8 tahun) memiliki beberapa bentuk organisasi. Tiap bentuk tersebut memiliki kekhasan masing-masing. Secara rinci bentuk-bentuk progaram Pendidikan Anak Usia Dini dapat diuraikan sebagai berikut:
1). Pendidikan Keluarga (0-3 tahun)
  • Pada tahap ini pendidikan anak masih berada pada lingkup terkecil, yakni keluarga. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama bagi anak, sebab pendidikan keluarga merupakan pondasi bagi anak untuk membangun struktur kepribadian selanjutnya. Dalam hal ini orang tua memegang peran utama. Tidak hanya ibu, tetapi juga ayah yang perlu memberikan nilai-nilai pendidikan kepada anak.
2). Taman Penitipan Anak
  • Taman Penitipan Anak (TPA) adalah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan pelayanan pengganti berupa asuhan, perawatan dan pendidikan bagi anak balita selama anak tersebut ditinggal bekerja oleh orang tuanya. TPA bertujuan membantu orang tua agar dapat bekerja dengan tenang sehingga tercapai prestasi kerja yang optimal. Selain itu juga menghindarkan anak dari kemungkinan terlantar pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial.
3). Kelompok Bermain (Play Graup)
  • Taman Bermain merupakan tempat bermain dan belajar bagi anak sebelum memasuki taman kanak-kanak. Play graup menampung anak usia 3-4 tahun.
4). Taman Kanak-Kanak
  • Taman Kanak-Kanak merupakan jenjang pendidikan setelah play graup sebelum anak masuk sekolah dasar. Walaupun TK bukan jenjang pendidikan wajib diikuti, namun memberikan banyak manfaat bagi penyiapan anak untuk masuk sekolah dasar.
5). TKA (Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an)
  • TKA adalah program pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun yang materinya lebih menekankan pada materi Al-Qur’an (Hibana, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alimul. 2009. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Jakarta. Rineka Cipta.
  2. Abu. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi. http://janetniez.blogspot.com/2009/12/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html. Diakses 12/02/2011.
  3. Aisyiah. 2007. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Indonesia.
  4. Arikunto, (2006) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Salemba Medika.
  5. Depdiknas. 2008. Data PAUD di Indonesia. http://www.paud.depdiknas.go.id. Diakses 13/02/2011.
  6. Dinas Pendidikan Jatim. 2009. http://disdikdki.net/news.php?tgl=2009-11-25&cat=1&id=209. Diakses 13/02/2011.
  7. Effendy. 2004. Dasar-dasar Kepewatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta. EGC.
  8. Fuad Ihsan. 2010. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
  9. Hibana. 2002. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta. PGTWI Press.
  10. Mudyahardjo. 2008. Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
  11. Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  12. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.
  13. Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.
  14. Nugraha. 2008. Program Pelibatan Orang Tua dan Masyarakat. Jakarta: Universitas Terbuka.
  15. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian. Jakarta. Salemba Medika.
  16. Purwanto. 1998. Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta. EGC.
  17. Sayuti. 2007. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi. http://repository.usu.ac.id/. Diakses 20/02/2011.
  18. Sobur. 2009. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.
  19. Uhbiyati. 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
  20. Wijana. 2008. Kurikulum Pendidikan Anak Usia dini. Jakarta. Universitas Terbuka.
  21. Yufiarti. 2008. Profesionalitas Guru PAUD. Jakarta. Universitas Terbuka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar