STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 20 September 2011

FILSAFAT ANTROPLOGI

A. Pengertian Antropologi
Salah satu cabang Ontologi adalah Antropologi. Antropologi merupakan filsafat yang membahas tentang manusia. Antropologi mempersoalkan siapakah manusia itu? Apa hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya denga alam dan sesamanya ?
B. Pendapat Filsuf tentang Manusia
1. Pytagoras
Pytagoras mengajarkan keabadian jiw amansuia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jiwa hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya.
2. Demokritus (460-370 SM)
Demokritus mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwapun adalah materi yang terdiri atas atom-atom.
3. Plato (428-348)
Plato mengajarkan bahwa manusia terdiri atas tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Tubuh penuh dengan berbagai kejahatan. Jiwa berada dalam tubuh yang demikian itu, sehingga tubuh merupakan penjara bagi jiwa.
4. Aritoteles (384-322)
Aritoteles menyatakan bahwa manusia meruakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, mati.

5. Descartes (1596-1650)
Descartes menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagian yang kompleks. Dan jiwa adalah sesuatu yang tidak berbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Jiwa ditandai oleh berfkir.
6. George Berkeley (1685-1753)
Ia berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Ia menolak materi, ia seorang spiritualis.
7. Feuerbach
Kata dia, dibalik alam tidak ada Allah. Di balik tubuh tidak ada jiwa. Ia bukan materialisme tapi organisme.
C. Ulasan
Para Filsuf telah menyajikan pelbagai konsepsi tentang manusia yang tampaknya bertentangan. Namun, ini bermanfaat. Manfaatnya: saling mengoreksi sepanjang abad. Sampai ditemukan kebenaran yang hakiki.
D. Kebenaran Yang Hakiki
Kita mesti menghargai pemikiran manusia, sesuai dengan proporsinya. Memberikan sangkalan dan bantahan dengan logis. Atau dukungan sewajarnya. Yang kita hargai, bukan isi dari pemikirannya. Tapi aktivitas berfikirnya itulah yang kita hargai. Sebab, kalau berbicara isi, maka tidaklah akan ada pemikiran manusia yang menyamai firman Alloh. Firman Allah itulah yang final dan hakiki atas penjelasannya tentang manusia.
Referensi : Manusia dalam wacana filosofis, Juneman, S.Psi.,C.W.P. Mercu Buana, 2000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar