STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 27 Oktober 2011

Harun Nasution dan Nurcholish Madjid Selewengkan Tauhid Dijajakan Lewat IAIN se-Indonesia

Oleh Hartono Ahmad Jaiz
A. Pendahuluan
Kalau Dr Nurcholish Madjid menyebarkan pendapat orang sesat bahwa Iblis kelak masuk surga, maka Dr Harun Nasution (pengubah kurikulum IAIN se-Indonesia dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah tahun sejak 1975-an) mengajarkan pendapatnya yang sesat pula, bahwa Bunda Theresia yang Nasrani itu pun masuk surga. Ini berarti, yang satu misi iblisi, yang satunya misi kristiani, kedua-duanya menggarap IAIN seluruh Indonesia. Betapa bahayanya.
Seorang dosen IAIN Medan, Ikbal Irham, yang mengaku murid Harun Nasution, memprotes keras, bahkan mengemukakan kekecewaannya atas uraian saya (Hartono Ahmad Jaiz) yang dia anggap mengecam Harun Nasution dan Nurcholish Madjid dalam seminar di Masjid IAIN Medan, Sabtu 11 Maret 2006M (10 Shafar 1427 H).
Pada sessi pertama, Ikbal Irham juga berupaya membela Nurcholish Madjid di hadapan Dr Masri Sitanggang. Karena, Dr Masri Sitanggang menegaskan bahwa Nurcholish Madjid tidak mampu mempertahankan pendapatnya tentang Islam bukan nama agama, ketika dibantah oleh Masri dalam seminar di Medan, 27 Juli 1993.

Saat itu, Masri membantah Nurcholish Madjid dengan makalah berjudul Kajian Kritis terhadap Makalah Nurcholish Madjid Berjudul Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan untuk Generasi Mendatang.
Isi makalah Nurcholish itu menyebarkan faham relativisme, Islam bukan nama agama, tetapi hanya merupakan sikap menyerahkan diri. Namun Nurcholish Madjid walau sudah memakai alat model taqiyah (menyembunyikan faham/keyakinan yang asli untuk cari selamat), tetap tak mampu mempertahankan faham relativismenya, hingga segera minta pulang.
Anehnya, ketika Nurcholish Madjid ditanya Jurnal Ulumul Qur’an –pimpinan Dawam Rahardjo pembela Nurcholish Madjid– seputar kenapa Cak Nur tidak bisa mempertahankan pendapatnya, ketika itu Nurcholish menjawab, karena dirinya tak diberi tahu materi yang akan dibicarakan. Kalau itu benar, menurut Masri, berarti satu kebodohan, kenapa datang jauh-jauh tetapi tidak tahu mau bicara tentang apa. Saat itu yang jadi moderator MS Ka’ban (sekarang Menteri Kehutanan RI), Sofyan Siregar (kini di Islamic Center Belanda), dan Asmara Thaib. Kini, Jurnal Ulumul Qur’an maupun Nurcholish Madjid kedua-duanya sudah mati.
“Terjengkangnya” Nurcholish Madjid dalam seminar 1993 itu diberitakan pula di Majalah Media Dakwah, maka Jurnal Ulumul Qur’an yang (ketika masih hidup) jadi lawan polemik pun menanyakan kepada Nurcholish Madjid. Namun jawaban Nurcholish justru menunjukkan kebodohannya, menurut penilaian Masri.
Dalam seminar di IAIN Medan kali ini (11 maret 2006), Masri tidak berhadapan dengan Nurcholish Madjid (karena sudah meninggal). Masri berdampingan dengan Dr Ramli Abdul Wahid, yang mengemukakan bahwa bukan 30 tahun orientalisme dan liberalisme bercokol di IAIN tetapi sudah 35 tahun bila dihitung sejak Nurcholish Madjid melontarkan sekularisasinya tahun 1970-an.
Seminar ini bertajuk 30 Tahun Orientalisme dan Islam Liberal di IAIN, Benarkah? Tela’ah Kritis Pemikiran Harun Nasution dan Nurcholish Madjid. Seminar ini diselenggarakan oleh LDK (Lembaga Dakwah Kampus) IAIN Medan, Fakultas Dakwah IAIN Medan, DDII Medan, FPI, dan IKADI. Pembicaranya lima orang, yaitu: DR Ramli Abdul Wahid (Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Medan), Dr Masri Sitanggang (DDII Medan), Dr Azhari Akmal Tarigan (Dosen IAIN Medan disebut sebagai mewakili pemikiran liberal), Dr Ilhamudin (Dekan Fakultas Dakwah IAIN Medan), dan Hartono Ahmad Jaiz dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) Jakarta.
B. Upaya mengebiri IAIN dari pendidikan Islami
Saya uraikan tentang upaya-upaya Harun Nasution dan Nurcholish Madjid dalam mengubah kurikulum IAIN se-Indonesia dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah lalu diisi muatan yang arahnya ke liberalisme dan bahkan pluralisme agama alias menyamakan semua agama; semuanya itu pada hakekatnya adalah mengganti kaimanan Tauhid kepada kemusyrikan (menyamakan semua agama). Ini lebih dahsyat ketimbang pembunuhan fisik, karena kalau yang dibunuh itu fisiknya, sedang imannya masih tetap, maka insya Allah masuk surga. Sebaliknya, kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan pluralisme agama, menyamakan semua agama, walau badan masih sehat, tetapi nanti ketika nyawa dicabut dalam keadaan keimanannya sudah berganti dengan kemusyrikan (pluralisme agama) maka masuk neraka. Itulah yang dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 191 dan 217 disebut walfitnatu asyaddu minal Qotl, dan walfitnatu akbaru minal qotl (tekanan terhadap keimanan itu lebih dahsyat daripada pembunuhan).
Dalam melancarkan program-program pemurtadan umum ini, Harun nasution jauh-jauh hari telah membredel hafalan-hafalan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw. Dengan dibredelnya hafalan itu, keuntungan bagi Harun, apabila dosen melontarkan pikiran yang aneh-aneh bahkan bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits, mahasiswa tidak bisa membantahnya, karena tidak hafal ayat dan hadits. Lalu dibredel pula aqidah tauhid, diganti ilmu kalam bahkan filsafat, tasawuf dan sebagainya. Hingga Tauhidnya tak tegak lagi. Sedang pengajaran Al-qur’an dan Al-Hadits tidak diprioritaskan, dipinggirkan, diganti dengan yang tidak penting-penting.
Tiga hal besar dalam pendidikan Islam telah dirombak, yaitu: hafalan ayat dan hadits, pendidikan dan penegakan tauhid, dan pengajaran Al-Qur’an dan hadits secara intensif, telah dibredel. Ketika tiga hal pokok dalam pendidikan Islam ini dirombak, padahal keberhasilan Nabi saw dalam mendidik sahabatnya adalah dengan 3 hal itu (lihat QS Al-Jumu’ah [62] ayat 2) tetapi Harun Nasution dkk telah merombaknya, maka hancurlah pendidikan Islam di IAIN, dari tauhid dialihkan ke pluralisme agama, yakni kemusyrikan.
C. Harun Nasution Selewengkan Tauhid
Terhadap uraian saya itu, Ikbal Irham seorang dosen yang mengaku muridnya Harun Nasution mengemukakan kekecewaannya, lantaran saya dia anggap mengecam-ngecam Harun dan Nurcholish. Lalu dia kemukakan, Harun Nasution mengajarkan dalam perkuliahan bahwa Bunda Theresia (Nasrani) kelak masuk surga. Dan itu ada ayatnya:
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). (QS Ali Imran/ 3: 113).
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (QS Ali Imran/ 3: 114).
Ungkapan dosen itu saya jawab: Nah itulah buktinya. Karena pelajaran hafalan sudah dibredel, maka mahasiswa tidak hafal ayat, tidak hafal hadits, tidak tahu tafsir ayat, dan tak kenal asbabun nuzulnya. Maka ketika dikemukakan hal yang sebenarnya bertentangan dengan isi ayat dan hadits, mahasiswa hanya ikut saja, tidak bisa membantahnya. Padahal kalau tahu asbabun nuzulnya, bahwa ayat itu berkaitan dengan Raja Najasyi, maka pasti tahu bahwa Ahli Kitab di situ adalah orang yang sudah masuk Islam. Sebagaimana orang yang beriman dari kalangan Fir’aun masih disebut min ali Fir’aun, dari kalangan Fir’aun, tetapi sudah beriman, keyakinannya tidak seperti Fir’aun.
Di samping itu, kalau hafal hadits, maka akan menyanggah pernyataan Harun Nasution itu, karena ada hadits sohih riwayat Muslim, siapa saja yang sudah mendengar seruan Nabi Muhammad saw dan kemudian mati dalam keadaan tak beriman kepadanya maka pasti termasuk penghuni-penghuni neraka.
Haditsnya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).
Dalam hal menyamakan semua agama, Nurcholis Madjid (dalam membantah ayat 85 surat Ali Imran yang menegaskan hanya Islamlah agama yang Allah terima, selainnya tidak akan diterima) mengibaratkan, agama-agama itu bagai jari-jari roda pedati, sedang Tuhan ibarat pusat roda, jadi jari-jari itu sama, semuanya menuju kepada pusat roda. (Tuhan diibaratkan as atau pusat roda, padahal as itu tanpa jari-jari akan copot. Memangnya Tuhan copot?).
Nurcholish Madjid menulis: “Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama. Filsafat perenial juga membagi agama pada level esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Satu Agama berbeda dengan agama lain dalam level eksoterik, tetapi relatif sama dalam level esoteriknya. Oleh karena itu ada istilah “Satu Tuhan Banyak Jalan”
Coba kita bandingkan dengan bantahan orang jahiliyah terhadap ayat yang mengharamkan bangkai.
Ibnu Jarir mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata, turun ayat (yang artinya) Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, orang Parsi mengirim utusan ke kaum Kuraisy untuk membantah Muhammad, mereka berkata kepadanya, apa yang kamu sembelih sendiri dengan tanganmu pakai pisau maka dia halal, tetapi apa yang Allah sembelih dengan pisau dari emas yakni bangkai maka dia haram.
Lalu turun ayat ini, (yang artinya) Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An’aam: 121).
Hadirin dalam seminar itu saya tanya, coba kita bandingkan: Orang Jahiliyah membantah ayat dengan dalih, bangkai itu justru sembelihan Allah kok diharamkan. Lalu Nurcholish Madjid membantah ayat dengan cara mengibaratkan agama-agama itu jari-jari sedang Tuhan ibarat pusat roda. “Lebih pintar mana, orang jahiliyah ataukah Nurcholish Madjid?” tanya saya kepada hadirin yang kebanyakan mahasiswa dan masyarakat umum, di samping dosen IAIN Sumut.
“Lebih pintar orang jahiliyah..!” seru hadirin.
Padahal, kalau kita ikut, maka ditegaskan dalam Al-Qur’an, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An’aam: 121).
Itulah, kalau guru bangsanya saja seperti itu, lantas bangsanya seperti apa?
Pembicaraan seperti inilah yang kemudian dianggap sebagai pengecaman. Tetapi saya jawab, bagaimana kita tidak tersinggung, kalau Tuhan kita diibaratkan as roda saja roda kendaraan kuno? Sedang penyamaan agama itu sangat menyesatkan, lalu di mana ghirah Islamiyah kita?
Itulah penyelewengan Tauhid yang sangat nyata.
Seminar di IAIN Sumut ini di antaranya menguak, Harun Nasution dan Nurcholish Madjid telah menyelewengkan Tauhid, lalu disebarkan lewat IAIN seluruh Indonesia, dengan mengubah kurikulum sejak 1975-an, dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah, lalu diisi dengan muatan yang mengarah kepada pluralisme agama, menyamakan semua agama. Itu artinya mengganti aqidah Tauhid dengan kemusyrikan. Sementara itu Dr Azhar Akmal Tarigan mengemukakan, sudah banyak buku yang mengkritisi Islam Liberal, namun belum ada yang mengkritisi Hartono Ahmad Jaiz. Maka dia minta Dr Ramli Abdul Wahid yang rajin menulis, untuk menulis buku mengkritisi Hartono. Jawab Pak Ramli, “Ya akan saya tulis, untuk mendukungnya, bukan mengkritisi.”
Di samping itu, Dr Ilhamuddin dari Fakultas Dakwah menyoroti Islam liberal sebagai faham yang tak berguna dalam dakwah, bahkan menambahi problem, maka selayaknya untuk dikubur saja.
Selain Harun Nasution dan Nurcholish Madjid, menurut seorang dosen –di luar seminar ini– masih ada dosen pascasarjana di UIN Jakarta yang kalau memberikan kuliah sangat bertentangan dengan Islam, dan tanpa rujukan, tetapi beralasan bahwa pembahasan ini sudah tingkat pasca sarjana. Sampai ada dosen tafsir yang dikenal menulis tafsir (hingga memperoleh hadiah dalam acara Islamic Book Fair 2005 di Jakarta) dan ahli tafsir namun dikhabarkan dekat dengan Syi’ah, dia menyebarkan di perkuliahan pasca sarjana IAIN Jakarta bahwa kisah ashabul kahfi dalam Al-Qur’an itu hanya legenda, bukan kejadian nyata. Ini sudah meniru-niru gaya Taha Husein tokoh sekuler Mesir yang menulis As-Syi’rul Jahili, dengan menganggap walau Ibrahim dan Isma’il ada dalam Al-Qur’an namun tidak bisa dibuktikan secara sejarah.
D. Masalah Ahli Kitab Yang Beriman
Untuk menjelaskan sesatnya faham Harun Nasution mengenai ayat laisu sawa’ perlu kita merujuk kepada penjelasan ulama, di antaranya penafsiran Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Daqoiqut Tafsir juz 1 halaman 315-316. Kami susun dalam bentuk pemahaman yang diambil darinya (bukan terjemahan, tapi pemaparan dengan melandaskan padanya) sebagai berikut.
1. Orang yang beriman dari ahli kitab, maksudnya beriman kepada Nabi Muhammad saw tetapi tidak bisa secara terang-terangan karena tidak dapat hijrah ke Darul Islam, masih di Darul Harb, hingga hanya mampu melaksanakan apa yang dapat ia lakukan, dan gugur dari apa yang tidak dapat dilakukannya. Itu sebagaimana Raja Najasyi di Habasyah yang dia beriman kepada Nabi Muhammad saw, namun masih berada di lingkungan Nasrani dan hanya dapat melaksanakan apa yang dia mampu, maka gugur dari apa yang dia tidak mampu. Maka masih disebut min ahlil kitab (dari kalangan ahli kitab) karena dalam kenyataan secara lahiriah masih di golongan dan tempat Nasrani. Berbeda dengan yang sudah jelas melaksanakan Islam secara nyata, baik lahir maupun batin, dan berada di negeri Darul Islam, bukan Darul Harb, maka walaupun tadinya dari ahli kitab, ataupun kafir ataupun musyrik, maka sudah tidak disebut dari golongan ahli kitab, atau kafir atau musyrik.
2. Sebaliknya, orang-orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim di Darul Islam, bahkan secara lahiriyah juga melaksanakan Islam, tetapi hatinya kafir, mengingkari Islam, maka secara lahir mereka disebut Islam. Tetapi orang ini adalah munafik. Jadi sebutannya muslim, namun hakekatnya kafir. Maka Abdullah bin Ubay bin Salul, walaupun dia berada di Madinah bersama Nabi Muhammad saw, menampakkan diri mengerjakan Islam, namun dia munafik, maka Allah melarang untuk menshalati jenazahnya, karena hakekatnya Abdullah bin Ubay itu kafir. Ini berbalikan dengan Raja Najasyi. Dalam riwayat yang jelas, ternyata Raja Najasyi beriman kepada Nabi Muhammad saw, hanya saja adanya di negeri Nasrani, maka ketika meninggal, kemudian Nabi Muhammad saw shalat ghaib untuk Najasyi itu.
Keadaan Najasyi itu sebagaimana pula orang mukmin yang menyembunyikan keimanan di antara warga Fir’aun (Ali Fir’aun), sebagaimana pula istri Fir’aun, Asiyah, masih disebut Ali Fir’aun (Warga Fir’aun), karena belum berhijrah ke Darul Islam, walau batinnya sudah beriman. Dan melakukan keimanannya sebatas apa yang dia mampui, sedang yang tidak dimampui maka gugur kewajibannya.
Itu bisa dirujuk pada firman Allah swt:
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). (QS Ali Imran/ 3: 113).
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (QS Ali Imran/ 3: 114).
Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS Ali Imran/ 3: 199).
Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (QS Ghafir/40: 28).
Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS At-Tahrim/66 :11).
Dalam Al-Qur’an, isteri termasuk keluarga, maka istri Nabi Luth as adalah keluarga Luth, hanya saja karena kafir maka termasuk orang-orang yang diadzab.
Mereka menjawab: “Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya, kecuali isterinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).” (QS Al-Hijr/ 15: 58. 59, 60).
Imam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, di kalangan orang-orang yang menampakkan dirinya sebagai Muslim ada yang munafik, yaitu batinnya kafir, baik (berideologi) Yahudi, musyrik, maupun membatalkan sifat-sifat Allah (mu’thil). Demikian pula (sebaliknya) dari kalangan orang Ahli Kitab dan Musyrikin, ada yang tampaknya seperti mereka tetapi dalam batinnya beriman kepada Nabi Muhammad saw, berbuat dengan ilmunya sebatas kemampuannya, dan gugur dari kewajiban mengenai apa yang dia tidak mampu mengerjakannya, Allah tidak membebani kecuali sekadar kemampuannya, sebagaimana Najasyi yang tidak mampu pindah ke negeri Muslim/ Darul Islam. (Imam Ibnu Taimiyyah, Daqoiqut Tafsir, juz 1, halaman 315-316).
3. Adapun sebelum datangnya Nabi Muhammad saw, makna Ahli Kitab yang mukmin itu adalah orang-orang yang beriman kepada nabinya sebelum agamanya diganti/dirubah dan dinasakh (dihapus oleh nabi yang baru). Umatnya Nabi Musa, maka yang mukmin yaitu yang mengikuti agama Nabi Musa as, memegangi Taurat dengan konsisten/istiqomah. Ketika datang Nabi Isa as maka mengikuti dan beriman pula kepada Nabi Isa as. Demikian pula umatnya Nabi Isa as, mengikuti dan beriman kepada Nabi Isa as, memegangi Injil dengan istiqomah sebelum ada penggantian/perubahan tangan-tangan orang, dan sebelum dinasakh (datangnya Nabi baru lagi, Nabi Muhammad saw). Ketika datang Nabi Muhammad saw maka mengikuti dan mengimani Nabi Muhammad saw. Itulah yang disebut beriman, yang dijanjikan surga oleh Allah swt atas mereka.
E. Umat Sebelum Nabi Muhammad SAW Ada Dua Macam
Allah telah menjadikan mereka dua golongan, Segolongan orang-orang mukmin, dan segolongan lainnya fasiqin, dan itulah kebanyakan mereka. Allah Ta’ala berfirman:
Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (QS Al-Hadid/ 57: 27).
Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. QS As-Shooffaat: 113).
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (t erjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (QS Al-Baqarah/ 2: 61).
Orang-orang Yahudi disifati Oleh Allah sebagai orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas, itu adalah keadaan mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad saw. Lalu Allah menjelaskan, di antara mereka itu ada orang-orang yang beriman, (tidak seperti sifat yang umum itu tadi), maka keimanan mereka pun diterima Allah swt. Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al-Baqarah/ 2: 62).
Ayat ini mengenai para pengikut dari agama yang empat itu, yang berpegang teguh dengannya sebelum dinasakh (dihapus oleh agama baru dengan datangnya nabi baru) dan tanpa penggantian/perubahan. Maka mereka berada pada agama yang haq/benar. Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan. (QS Al-A’raaf: 181). Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).
Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun”. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?
Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan. (QS Al-A’raaf:168, 169, 170). Ayat-ayat itu adalah pensifatan dari Allah swt kepada orang-orang sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. Adapun di antara mereka ada yang hidup di zaman Nabi Muhammad saw lalu beriman kepadanya (masuk Islam) maka dia akan diberi pahala dua kali. Demikian penjelasan Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Daqoiqut Tafsir, jilid 1, halaman 318-319). Dalam penjelasan Imam Ibnu Taimiyyah itu, orang yang beriman dari kalangan Ahli Kitab itu ada dua macam. Pertama, orang yang sebelum Nabi Muhammad saw, mengikuti agama nabinya, sebelum ada penggantian/perubahan dan nasakh (penggantian oleh nabi yang baru). Kedua, orang ahli kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad saw namun masih berada di kalangan Ahli Kitab karena tidak mampu berpindah ke kalangan Muslimin (Darul Islam). Dia mengerjakan kewajiban Islam semampu yang dia kuasai, dan gugur mengenai yang dia tak mampu.
Kalau orang yang tadinya dari ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) lalu masuk Islam dan secara terang-terangan secara total mengamalkan Islam dan berada di kalangan muslimin, maka tidak disebut lagi min ahlil kitab (dari kalngan ahli kitab). Sebagaimana yang tadinya kafir atau musyrik, tak disebut lagi dari kalangan kafir atau musyrik. Jadi sama sekali bukan seperti yang diselewengkan Harun Nasution, yang memaknakan ayat laisu sawa’ itu dengan Ahli Kitab yang sekarang masih dalam agamanya, tidak mengikuti Nabi Muhammad saw. Itu sudah jelas dalam hadits shohih riwayat Imam Muslim –seperti tersebut di atas– pasti termasuk penghuni-penghuni neraka. Kenapa Harun Nasution berani mengajarkan bahwa Bunda Theresia yang Nasrani itu masuk surga?
Nabi Muhammad saw pembawa agama Islam, agama Tauhid, bersabda yang intinya siapa saja apakah yahudi atau Nasrani yang telah mendengar seruan Nabi saw lalu dia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada agama Nabi Muhammad saw, maka tidak ada lain kecuali termasuk penghuni-penghuni neraka. Sebaliknya, pembawa panji-panji pluralisme agama, penyeleweng Tauhid, Harun Nasution, mengajarkan, Bunda Theresia yang tetap dalam Nasrani akan masuk surga. Kalau Harun Nasution yang jelas-jelas bukan mengajarkan ajaran Nabi Muhammad saw tetapi justru dianut di IAIN bahkan dialah pengubah kurikulum, maka IAIN dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia perlu ada dua pilihan.
Pertama, tetap mengikuti kurikulum buatan Harun Nasution dengan konsekuensi mengubah IAIN dari Institut Agama Islam menjadi Institut agama Anti Islam alias pemurtadan.
Kedua, mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw dengan mengubah segala daki-daki dan kotoran yang dibuat Harun Nasution, Nurcholish madjid dan lainnya menjadi mengikuti ajaran Rasulullah saw.
Umat Islam yang konsisten dengan agamanya akan menunggu adanya perubahan itu. Bila tidak, maka berarti pemurtadan umum akan tetap dilangsungkan, dan itu bahaya yang mendatangkan murka Allah swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar