STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 07 November 2011

Al-Kindi Seorang Filosof Muslim

BAB I
PENDAHULUAN

AL-Kindi adalah seorang filosof muslim keturunan arab. Ketekunannya dalam pembahasan-pembahasan filsafanya membuatnya menjadi seorang filosof pertama dalam dunia Islam, dialah yang memperkenalkan filsafat Yunani kepada dunia Islam. karangan-karangan Al-Kindi mengenai filsafat menunjukkan ketelitian dan kecermatannya dalam memberikan batasan-batasan makna dalam ilmu filsafat.
Sebagai seorang pelopor dia berusaha mempertemukan agama dengan filsafat Yunani. Dari hasil karangan-karangannya dapat diketahui bahwa dia penganut aliran eklektisisme suatu aliran yang tidak mempergunakan atau mengikuti metode apapun yang ada, melainkan mengambil apa yang paling baik dari metode-metode filsafat. Menurutnya filsafat termasuk humaniora yang dicapai filsuf dengan berfikir, belajar sedangkan agama adalah ilmu ketuhanan yang menempati tempat tertinggi karena diperoleh tanpa melalui proses belajar. Jawaban filsafat menunjukkan ketidakpastian sedangkan agama lewat dalil-dalilnya yang dibawa Al-Qur’an memberi jawaban secara pasti.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Riwayat Kehidupan Al-Kindi
Al-Kindi adalah seorang filosof muslim keturunan Arab yang mempunyai nama lengkap Abu Yusuf Ya’kub Ibn Al-Shabbah Ibn Imron Ibn Muhammad Ibn As-Asy’ar Ibn Qais Al-Kindi. Ia populer dengan nama Al-Kindi, dia lahir di Kufah 185 H (801M) dari keluarga kaya dan terhormat. Ayahnya wafat pada waktu dia masih kanak-kanak, namun keskipun begitu dia mempunyai kesempatan untuk menuntut ilmu dengan baik di Basrah dan Baghdad dimana dapat bergaul dengan ahli pikir terkenal. Al-Kindi tidak hanya dikenal sebagai filosof, tapi juga ilmuwan yang menguasai berbagai cabang pengetahuan seperti: matematika, geometri, astronomi, ilmu hitung, farmakologi, ilmu jiwa, optika, politik, musik dan sebagainya.
Keharuman Al-Kindi selanjutnya sampai ke masa pemerintahan khalifah Al-Mutawakkil, ketekuanan Al-Kindi dalam pembahasan-pembahasan filsafatnya membuat ia menjadi seorang filosof pertama dalam dunia Islam. dialah yang pertama kali memperkenalkan filsafat Yunani kepada dunia Islam. dengan kecerdasan otaknya yang luar biasa ia juga menjadi ilmuwan yang “all around” melebihi ilmuwan-ilmuwan lain yang semasa dengannya, tidak heran jika Al-Muktasim mengambilnya sebagai guru dari anaknya Ahmad.

B. Definisi Filsafat Menurut Al-Kindi
Al-Kindi mengajukan banyak definisi filsafa tanpa menyatakan bahwa definisi mana yang menjadi miliknya, yang disajikannya adalah definisi-definisi dari filsafat terdahulu. Memperoleh pengertian lengkap tentang apa filsafat itu harus memperhatikan semua unsur yang terdapat dalam semua tentang filsafat. Definisi-definisi tersebut yaitu:
 Filsafat terdiri dari gabungan dua kata, Philo, sahabat dan Sophia kebijaksanaan. Filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan. Definisi ini berdasar atas etimologi Yunani.
 Filsafat adalah upaya manusia meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Definisi ini merupakan definisi fungsional, yaitu meninjau filsafat dari segi tingkah laku manusia.
 Filsafat adalah latihan untuk mati. Yang dimaksud dengan mati adalah bercerainya jiwa dari badan, atau mematikan hawa nafsu adalah mencapai keutamaan, oleh karenanya banyak orang bijak terdahulu yang mengatakan bahwa kenikmatan adalah suatu kejahatan.
 Filsafat adalah pengetahuan dari segala pengetahuan dan kebijaksanaan dari segala kebijaksanaan
 Filsafat adalah pengetahuan manusia tentang dirinya.
 Filsafat adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang abadi dan bersifat menyeluruh, baik esensinya maupun kausa-kausanya.
Dari beberapa definisi diatas Al-Kindi menjatuhkan pilihannya pada definisi terakhir dengan menambah suatu cita filsafat, yaitu sebagai upaya memperoleh kebenaran dan hidup mengamalkan kebenaran yang diperolehnya yaitu orang yang hidup menjunjung tinggi suatu keadilan/hidup adil.

C. Pandangan Al-Kindi tentang filsafat dan agama
Al-Kindi berusaha memadukan antara agama dan filsafat, menurutnya filsafat adalah pengetahuan yang benar. Oleh karena itu mempelajari filsafat dan berfilsafat tak dilarang. Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi tujuan keduanya. Namun kebenaran agama tak dapat dirasakan kecuali oleh orang yang berakal. Oleh sebab itu kebenaran agama harus digali agar lebih jelas dan penggaliannya tersebut melalui filsafat. Tapi bagi Al-Kindi kebenaran yang dibawa oleh agama lebih meyakinkan daripada kebenaran yang dibawa oleh filsafat. Kebenaran yang dicari filsafat akallah yang menjadi pencariannya dan kebenaran yang dibawa oleh agama akal pulalah yang berfungsi untuk membuka tabirnya. Pembahasan dalam filsafat adalah pembahasan masalah yang ada atau masalah kebenaran yang awal yakni masalah ketuhanan. Sebab yang menjadi inti dari penggalian filsafat tidak lain ialah kebenaran. Untuk itu filsafat berusaha keras untuk sampai tuntas pembahasannya sebelum sampai kepada pokok dari segala kebenaran dan kebenaran itu adalah Tuhan. Demikian pula agama dimana teologinya dengan dalil-dalil aklinya menetapkan tentang eksistensi Tuhan yang maha mutlak itu. Filsafat termasuk humaniora yang dicapai filsafat dengan berfikir, belajar sedangkan agama adalah ilmu ketuhanan yang menempati tempat tertinggi karena diperoleh tanpa melalui proses belajar dan hanya diterima secara langsung oleh para Rasul dalam bentuk wahyu. Jawaban dari filsafat sendiri menunjukkan ketidak pastian sedangkan agama lewat dalil-dalilnya yang dibawa Al-Qur’an memberikan jawaban secara pasti dan meyakinkan dengan mutlak. Filsafat sendiri menggunakan metode logika sedangkan agama mendekatinya dengan agama.


BAB III
KESIMPULAN

Al-Kindi adalah filosof Islam yang mula-mula secara sadar berupaya mempertemukan ajaran-ajaran Islam dengan filsafat Yunani. Dia mengajukan banyak definisi filsafat tetapi dari beberapa definisi diatas Al-Kindi menjatuhkan pilihannya pada definisi terakhir dengan menambah suatu cita filsafat, yaitu sebagai upaya memperoleh kebenaran dan hidup mengamalkan kebenaran. Dia juga berusaha memadukan antara filsafat dan agama karena menurutnya filsafat dan agama mempunyai tujuan yang sama yaitu mencari suatu kebenaran. Tetapi kebenaran yang dibawa oleh agama lebih meyakinkan daripada kebenaran yang dibawa oleh filsafat.

DAFTAR PUSTAKA

Mustofa, A. H., Drs., Filsafat Islam, Bandung: Pustaka setia, 1997.
Nasution, Hasyimsyah, M.A., Dr., Filsafat Islam, Jakarta, Gaya Media Pratama, 1999.
Yunasril Ari, Pemikiran Filsafi dalam Islam, Jakarta, 1991.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar