STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Kamis, 17 November 2011

ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER

Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerjasama dengan Institut Pemikiran Yogyakarta (IPI Jogja) menyelenggarakan seminar dan dialog ilmiah bersama dua pakar Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud (UKM Malaysia) dan Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah), pada hari Sabtu 13 Desember 2008.
Acara ini dihadiri oleh sebagian besar dosen UMY, PTM sekitar Yogyakarta dan para mahasiswa. Meskipun terselenggara pada hari wisuda, namun acara ini tetap menyedot perhatian dari segenap warga UMY dibuktikan dengan kehadiran para peserta dan dialog yang sangat aktif dan produktif antara pemateri dan peserta seminar.
Acara tersebut diawali dengan pidato pembukaan oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam pidatonya, Yunahar menyatakan bahwa masa sekarang para sarjana dan ilmuan seolah-olah terpisah dengan ajaran moral agama dalam menjalani kehidupannya. Tingkatan ilmu pengetahuan yang telah dicapainya tidak sebanding lurus dengan kebaikan dan maslahat yang diharapkan. Bahkan atas dasar ilmu pengetahuan seringkali para sarjana terjebak untuk mengabaikan nilai-nilai fundamental keagamaan.
Menurut Yunahar,  diperlukan sebuah pengkajian yang serius terhadap ilmu pengetahuan serta mengintegrasikannya dengan nilai-nilai luhur Islam atau Islamisasi. Sebagai contoh; Wacana “Islamisasi” di UMY telah lama dikumandangkan, namun sampai hari ini, masih terbatas hal-hal yang bersifat simbolik. Seperti tata cara berpakaian, mengawali perkuliahan dengan basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah ataupun dengan menyertakan ayat-ayat Al-Quran pada materi-materi perkuliahan, sehingga terkesan bahwa “Islamisasi” identik dengan ‘ayatisasi’. Meskipun hal ini tidak keliru namun hanya bersifat permukaan dan parsial. Maka diperlukan sebuah pengkajian yang serius dan mendalam yang dapat memberikan dasar-dasar teologis dan filosofis bagi wacana “Islamisasi” ilmu kontemporer.

Prof. Wan Daud mempresentasikan makalah bertajuk “Dewesternization and Islamization : Their Epistemic Framework and Final Purpose”. Menurutnya, salah satu tantangan pemikiran Islam kontemporer yang dihadapi kaum Muslimin saat ini adalah problem ilmu. Sebabnya, peradaban Barat yang kini mendominasi peradaban dunia telah menjadikan ilmu sebagai problematis. Selain telah mengosongkan ilmu dari agama, konsep ilmu dalam peradaban Barat juga telah melenyapkan Wahyu sebagai sumber ilmu, memisahkan wujud dari yang sakral, meredusir intelek kepada rasio dan menjadikan rasio yang manjadi basis keilmuan, menyalah-pahami konsep ilmu, mengaburkan maksud dan tujuan ilmu yang sebenarnya, menjadikan keraguan dan dugaan sebagai metodologi ilmiah ; dan menjadikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, berubah dengan abadi.
Teori ilmu yang telah berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisisme, agnotisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme dan relativisme. Aliran-aliran semacam ini setidaknya berimplikasi sangat serius.
Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisik, mengosongkan manusia dan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai  transenden serta mempertuhankan manusia; Kedua, melahirkan dualisme, manusia terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, dunia-akherat, agama-sains, tekstual-kontekstual, akal-wahyu dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia sebagai makhluq yang terbelah jiwanya (split personality).
Sebagai solusi alternatif atas bencana implikasi peradaban materialis-sekuler yang anti Tuhan ini diperlukan dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu-ilmu kontemporer. Dewesternisasi bukanlah dipahami sebagai gerakan anti Barat dan peradabannya. Fakta menyatakan mereka telah menjadi pemegang kendali peradaban saat ini. Dewesternisasi ialah membersihkan berbagai pernik peradaban masa kini dari unsur-unsur worldview Barat yang bertentangan dengan worldview Islam yang tauhidik dan melahirkan implikasi yang sangat serius dan destruktif atas kemanusiaan sejagad.
Islamisasi ialah meletakkan paradigma ilmu tersebut pada frame Islam dan sesuai dengan ajaran nilai yang teo-sentris. Dengan demikian Islamisasi ini bersifat dinamic-stabilisme. Dinamis tidak statis, aktif dan tidak pasif tetapi pada saat yang berpijak pada pondasi yang kokoh. Tidak mudah diombang-ambingkan oleh beragam varian tantangan dunia dan kemanusiaan kontemporer. Islamisasi berjalan secara adil dan seimbang antara dua aspek; tsawabit dan mutaghayirat.
Sebagian pihak memilih istilah “Islamisization” (Islamisisasi) yang berarti, menundukkan ilmu-ilmu kontemporer tersebut pada frame budaya dan pemikiran umat Islam yang dianggap sebagai Islam itu sendiri. Artinya, bukan meletakkannnya pada frame Islam yang otentik tetapi pada apa yang dianggap oleh sekelompok umat Islam sebagai Islam itu sendiri. Gagasan ini menurut Prof. Wan, tidak dapat diterima. Karena tidak semua produk budaya dan pemikiran umat Islam merefleksikan Islam itu sendiri, dan hal ini berimplikasi pada cakrawala Islam yang terpecah dan warna warni. Ada Islam Arab-non Arab, Islam Eropa, Islam Amerika, Islam Melayu, Jawa dan seterusnya.
Padahal Islam itu sejatinya ialah satu. Bisa saja setiap zaman melahirkan dinamika budaya dan pemikiran, tapi hal tersebut dikatakan sebagai khazanah budaya dan pemikiran Islam ‘tertentu’, dan bukan totalitas Islam. Ini berimplikasi pada diterima atau ditolaknya produk pemikiran dan budaya tersebut sebanding lurus dengan kesesuaian dan pertentangannya dengan frame Islam yang otentik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan penguasaan tentang worldview Islam sebagai basis dan pondasi utama islamisasi Ilmu-ilmu Kontemporer menjadi sesuatu yang sangat urgen ditanamkan kepada para pelajar, khususnya pada jenjang Pendidikan Tinggi. Karena merekalah yang akan menjadi penyebar ilmu dan sebagai rujukan berperilaku bagi generasi di bawah mereka.
Integrasi Ilmu
Prof. Dr. Syamsul Anwar membentangkan makalah bertajuk “Pendekatan Terpadu Dalam Studi KeIslaman : Belajar Dari Ilmu ekonomi Islam”. Beliau lebih condong menggunakan istilah “integrasi ilmu-ilmu sekuler ke Islam”. Integrasi lebih mengesankan adanya gerak dua arah yang saling mendekat secara aktif antara ilmu-ilmu ‘sekuler’ dengan ilmu-ilmu keIslaman.
Integrasi ilmu tidak dimaksudkan untuk ‘merger’ dua ilmu yang berbeda obyek forma dan materinya menjadi satu ilmu baru. Ilmu Tafsir Al-Qur’an umpamanya, tetaplah ilmu Tafsir dengan obyek kajiannya yang khas dan jenis pengetahuan yang hendak dicapainya yang khas pula. Begitu pula halnya dengan Antropologi.
Wacana integrasi ilmu ini mengemuka karena permasalahan konstruksi keilmuan yang ada. Prof. Syamsul, mengutip keterangan beberapa ahli bahwa, ilmu-ilmu keislaman yang ada sekarang masih mempertahankan paradigma klasik dan memiliki kelemahan berupa kurangnya dimensi empiris dan tidak adanya sistematisasi yang komprehensif.
Namun dimensi empiris di sini tidaklah berarti tanpa batas-batas tertentu, apalagi terjebak pada paham Empirisme. Karena jelas, masing-masing ilmu berdiri di atas sebuah paradigma yang hadir dengan postulat-postulat tertentu.
Pada sisi lain, ilmu-ilmu Barat yang sekuler berlandaskan pada paham materialisme yang secara ontologis berimplikasi pada pemahaman bahwa hanya dunia yang terindera sajalah yang menjadi obyek pengetahuan dan hanya melalui indera saja dimungkinkan untuk membuat klaim pengetahuan mengenai dunia kongkret. Akibat lebih lanjut dari ontologi dan epistemologi yang berbasiskan faham materialisme ini adalah penolakan terhadap wahyu sebagai sumber ilmu tertinggi. Inilah sebab mengapa agama dikeluarkan dari wilayah keilmuan. Bagi faham materialisme agama adalah wilayah kepercayaan, yang di dalamnya akal dan agama tidak dapat dipertautkan.
Sebagai langkah kongkret, integrasi ilmu dapat dilakukan dengan dua hal sekaligus; pertama, integrasi dari ilmu-ilmu agama yang sarat nilai ke dimensi empiris; dan kedua, gerak integrasi dengan melakukan pemungsian kembali sumber-sumber kewahyuan dan keagamaan dalam kegiatan ilmiah. Dengan demikian integrasi ilmu sesungguhnya, suatu reorientasi dan restrukturisasi sistemik seluruh lapangan pengetahuan manusia sesuai dengan suatu perangkat kriteria baru yang diturunkan dari Islamic worldview.
Dapat disimpulkan bahwa, penjelasan kedua pakar tersebut di atas sama-sama meletakkan worldview Islam sebagai landasan utama bagi Islamisasi ilmu-ilmu kontemporer yang memayungi integrasi ilmu ‘sekuler’ kepada ilmu keIslaman. [fathurrahman/http://www.hidayatullah.com/]

Laporan Tentang Seminar ‘Agama di Dunia Kontemporer’
 
Beberapa waktu lalu di Tehran diselenggarakan seminar bertema ‘Agama di Dunia Kontemporer’ dengan mantan Presiden Republik Islam Iran Sayid Mohammad Khatami sebagai ketua panitia penyelenggaranya.
Seminar ini dihadiri oleh sejumlah tokoh pemikir dan cendekiawan dari dalam Iran dan dari luar negeri termasuk para tokoh dunia, antara lain Mantan Sekjen PBB Kofi Annan, mantan Perdana Menteri Italia, Norwegia, Prancis, Sudan, Bosnia Herzegovina, dan Sri Lanka serta mantan Presiden Swiss, Portugal, dan Irlandia. Penyelengaraan seminar dimotori oleh Lembaga Dialog Antar Peradaban yang bermarkas di Genewa bekerjasama dengan Pusat Perdamaian dan Hak Asasi Manusia di Oslo dan Club Madrid. Seminar di Tehran ini berlangsung selama dua hari dari tanggal 13 hingga 14 Oktober 2008. Tujuan penyelenggaraan seminar ini adalah untuk menunjukkan perhatian kepada masalah agama tanpa melibatkan unsur ekstrimisme dan fanatisme serta upaya untuk menunjukkan persamaan-persamaan yang ada antara berbagai agama dalam memandang masalah perdamaian dan persahabatan antara berbagai negara.
Tentunya wajar jika seminar ini lantas mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan di dunia. Menurut laporan BBC, kehadiran banyak tokoh internasional di seminar yang berlangsung di Iran ini telah menarik perhatian media massa dunia. Di hari pertama seminar, Mantan Presiden Iran Sayid Mohammad Khatami selaku ketua Lembaga Dialog Antar Peradaban Iran dalam sambutan pembukaan seminar mengatakan, “Agama dan keyakinan yang jelas serta keimanan agama pertama-tama harus dilepaskan dari cengkeraman orang-orang fanatik, para pemuja lahiriyah, dan kelompok keras yang tak mengenal arti kesabaran. Harus dilakukan upaya untuk menyingkirkan rasa kekhawatiran terhadap agama –terutama di tengah kalangan orang-orang yang berwawasan bebas-, sebab dimasa lalu agama dijadikan alat untuk berlaku yang tidak benar. Saat ini hal yang harus diingatkan adalah bahwa ketika ajaran Tuhan dijauhkan dari pikiran dan kehidupan manusia, maka tidak akan ada lagi rasa aman dan ketenangan dalam kehidupan, meski secara materi mereka berkecukupan. Fakta ini diakui oleh umat manusia berkat pengalaman besar yang didapat dengan harga mahal dan setelah melalui banyak kegetiran. Dan inilah manifestasi dari firman Allah Swt;
من اعرض عن ذکري فان له معيشه ضنکا
Barang siapa berpaling dari mengingat Aku maka ia akan mendapat kehidupan yang sempit.”
Khatami menambahkan, saat ini di dunia ada pembagian dunia yang hanya sesuai dengan sejarah dan kehidupan di dunia Barat yang tidak bisa digeneralisasi ke seluruh dunia sehingga meliputi semua orang. Barat membagi masyarakat dunia menjadi dunia lama yang menjadikan alam sebagai poros, dunia abad pertengahan yang menjadikan soal ketuhanan dan agama sebagai segala-galanya, dan dunia abad modern yang berporos pada humanisme.
Sementara itu, Mantan Sekjen PBB Kofi Annan dalam pidatonya di seminar itu menegaskan bahwa agama bukan problem bagi dunia dewasa ini. Dia mengatakan, “Torat, Al-Qur’an dan Injil tidak pernah mengajarkan ekstrimisme kepada pengikutnya, atau mengajarkan kepada para politikus untuk berbicara hal-hal di luar agama demi memperoleh suara dukungan. Agama bukanlah problem. Yang menjadi problem adalah tindakan para pengikut agama yang melahirkan reaksi ekstrimisme dari orang-orang ekstrim atau para politikus.”
Mantan Perdana Menteri Norwegia Kjell Magne Bondevik yang juga Kepala Lembaga Perdamaian dan Hak Asasi Manusia dalam seminar itu mengatakan, “Kita menginginkan dunia dengan agama yang memiliki peran baik di dalamnya, bukan peran buruk, dan ketika terjadi konflik atau perang, dialog menjadi jalan untuk mencari penyelesaian yang damai.”
Kjell Magne Bondevik menambahkan, kondisi Eropa yang menjadi sekuler sebenarnya adalah kasus yang terkecuali, karena itu apa yang terjadi dan menyebar di Eropa ini jangan dijadikan model bagi seluruh dunia. Dia menggarisbawahi hal itu dan mengungkapkan, penghormatan kepada semua agama melahirkan tantangan, yaitu bagaimana kita memperlakukan perbedaan yang ada di antara berbagai budaya, kebangsaan dan agama. Kita harus belajar menyikapi perbedaan-perbedaan ini dengan cara terbaik. Hak asasi manusia dan kebebasan beragama adalah topik yang paling inti dalam pembahasan ini, yaitu bagaimana kelompok mayoritas memperlakukan kelompok yang minoritas.
Mantan Perdana Menteri Italia Romano Prodi dalam seminar internasional ‘Agama di Dunia Kontemporer’ mengatakan, “Kita harus beriman. Kita harus meyakini dan menjalankan nilai-nilai persamaan yang ada pada setiap agama. Sementara perbedaan harus disikapi dengan saling hormat.”
Ketua Komisi Eropa ini lebih lanjut mengungkapkan, “Jika kita tak mampu mengatasi konflik partisan maka tidak akan ada lagi perdamaian. Karena itu menurut kami, generasi muda harus diajari dan dibimbing untuk menghormati seluruh nilai kesucian yang ada di semua agama.”
Mantan Presiden Irlandia Mary Robinson yang juga menjabat sebagai Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia di PBB dalam pembicaraannya menyampaikan penghargaan kepada mantan Presiden Republik Islam Iran Mohammad Khatami yang telah bekerja keras selama dua tahun untuk mempersiapkan penyelenggaraan seminar internasional ‘Agama di Dunia Kontemporer’ ini. Robinson lebih lanjut berharap seminar yang dihadiri oleh sejumlah tokoh dunia ini bisa menghasilkan strategi untuk meningkatkan hubungan internasional.
Mary Robinson menyinggung kondisi kelompok minoritas di sejumlah negara seraya mengimbau untuk menyikapi perbedaan dengan bijak. Robinson menyerukan agar semua pihak memerhatikan masalah etika dalam pergaulan. “Para pemuka agama hendaknya mengetepikan segala hal yang bisa melahirkan permusuhan dan kebencian, seraya menyadari bahwa agama dapat disalahgunakan. Karena itu para pemuka agama harus memiliki wawasan yang luas menyangkut hal ini dan menjalankannya.”
Mantan Presiden Portugal George Sampaio yang juga Wakil Tinggi PBB di lembaga dialog antar peradaban dalam kata sambutannya mengatakan, “Teknologi baru, pembangunan dan kemajuan serta globalisasi adalah isu-isu yang paling dominan di dunia saat ini. Akan tetapi di luar masalah itu, agama telah menemukan kehidupannya kembali di dunia dan fakta ini bahkan telah menjadi topik yang penting di negara-negara Sekuler.”
Mungkin hal yang paling menarik dari pernyataan-pernyataan para tokoh dunia Barat itu adalah pengakuan mereka -baik secara langsung atau tidak- akan keharusan hadirnya agama di tengah masyarakat. Sementara para pemikir dari Asia dan dunia Islam umumnya menitikberatkan pada masalah urgensi untuk menyingkirkan hal-hal yang berbau khurafat dari agama.
Setelah sesi pidato para peserta berakhir, seminar dilanjutkan dengan pembicaraan tertutup yang membahas perkembangan dunia terkini. Para peserta saling tukar pandangan dalam menyikasi transformasi yang ada. Di seminar ini dibentuk tiga komisi yang membahas berbagai masalah dengan poros pembahasan masalah agama. Insan-insan media memanfaatkan moment yang ada untuk berbicara atau menggelar wawancara dengan para peserta seminar. Para peserta konferensi menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Republik Islam Iran yang menggelar pertemuan seperti ini.
Setelah berlangsung selama dua hari, seminar ini ditutup dengan deklarasi bersama para peserta yang terdiri dari para tokoh politik dan agama tingkat dunia ini. Melalui deklarasi bersama, mereka mendesak agar dilakukan upaya serius dan secepatnya untuk mengurangi kekhawatiran yang ada berkaitan dengan berbagai krisis dunia semisal krisis pangan, energi, finansial, dan bentrokan bersenjata di tengah masyarakat dunia. Para peserta seminar mengajukan ide praktis untuk merealisasikan program-program yang telah diprakarsai dalam seminar ini.
Diantara prakarsa yang tertuang dalam deklarasi bersama itu adalah usulan untuk membentuk kelompok kerja yang terdiri dari para tokoh politik dan agama tingkat dunia. Kelompok ini bertugas untuk membahas dan mencarikan solusi terbaik guna mengakhiri pertikaian di dunia dan meningkatkan kesepahaman antar bangsa melalui jalinan kerjasama dengan para pemimpin dan pembuat keputusan di dunia saat ini.
Selain itu, dalam seminar Tehran juga disepakati masalah keadilan sosial yang mesti ditegakkan dengan menjadikan model pengembangan sumber daya manusia sebagai poros, juga dengan melakukan perombakan pada struktur Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa yang telah menjadi simbol ketidakadilan di dunia saat ini. Dibahas pula masalah akar-akar kemunculan terorisme yang diantaranya adalah rasa keterhinaan akibat krisis keadilan, pendudukan, diskriminasi, dan perlakukan melecehkan terhadap berbagai bangsa. Untuk mengatasi masalah terorisme banyak cara bisa dilakukan diantaranya adalah dengan menyebarkan budaya dialog dan perdamaian dengan asas saling menghormati dan sikap menerima keberagaman budaya dan agama. Para peserta seminar internasional ini sepakat bahwa keadilan dan persamaan serta prinsip-prinsip etika yang dihormati oleh seluruh agama dan peradaban adalah kunci bagi hubungan kerjasama yang berlandaskan perdamaian diantara individu, kelompok dan bangsa.
Dalam seminar, panitia dan peserta berupaya memaparkan poin-poin persamaan yang ada antara agama-agama di dunia dan merekatkan persahabatan antara pemeluk berbagai agama. Para peserta seminar selain menyampaikan rasa penghargaan kepada Republik Islam Iran dan kepada Sayid Mohammad Khatami, juga berharap pemikiran yang dihasilkan seminar ini dapat memengaruhi pemikiran negara-negara dunia.
Layak ditambahkan bahwa sejumlah tokoh dunia dan agama yang menghadiri seminar ini berkesempatan bertemu dan berbicara dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Ketua Dewan Ahli Kepemimpinan Ayatollah Hashemi Rafsanjani.
Disusun oleh Sayyid Amin Alamul Huda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar