STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 07 Maret 2012

PEMIKIRAN SOCRATES, PLATO DAN ARISTOTELES

BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan filsafat Yunani dalam paruh kedua dari abad ke-5 SM. Zaman ini meliputi aliran yang disebut Sofistik maupun fisafat Sokrates. Ternyata Sokrates tidak begitu bersahabat dengan kaum Sofis. Filsafat Sokrates sebagian dapat dimengerti sebagai reaksi serta kritik atas pendapat-pendapat kaum Sofis. Filsuf dan sastrawan Roma yang bernama Cicero akan mengatakan bahwa Sokrates telah memindahkan filsafat dari langit ke atas bumi. Maksudnya bahwa filsafat prasokratik, telah memandang alam semesta dengan rupa-rupa cara, sedangkan  Sokrates mencari objek penyelidikannya di bumi ini, yakni manusia. Tetapi hal yang sama dapat dikatakan juga tentang kaum Sofis. Mereka pun memusatkan seluruh perhatiannya kepada manusia. Ketika dalam mempelajari filsafat prasokratik, sudah beberapa kali dijumpai dengan persoalan-persoalan yang menyangkut manusia, tetapi hanya sepintas lalu. Dalam zaman ini manusia menjadi objek pertama dan utama untuk penyelidikan filsafat.[1]

BAB II
PEMBAHASAN PEMIKIRAN
SOCRATES, PLATO DAN ARISTOTELES
A.    SOCRATES
1.      Riwayat Hidup Socrates
            Socrates dijatuhi hukuman mati pada tahun 399 SM. Kita tahu bahwa saat itu usianya 70 tahun. Itu berarti ia lahir pada tahun 470 atau sekitarnya. Konon bapaknya, Sophroniskos adalah pemahat, tetapi berita itu agaknya tidak mempunyai dasar historis. Ibunya, Phainarete adalah bidan. Ada kesaksian pula bahwa Socrates adalah murid Arkhelaos, filsuf yang mengganti Anaxagoras di Athena. Selain itu juga ia membaca buku Anaxagoras, karena tertarik oleh ajarannya mengenai nus. Tetapi ia sangat kecewa tentang isi ajaran itu. Pada usia masih muda ia berbalik dari filsafat alam dan mulai mencari jalannya sendiri.
Karena Socrates masuk tentara Athena sebagai hopilites,[2] dapat disimpulkan bahwa mula-mula ia tidak berkekurangan, sebab di Athena hanya pemilik-pemilik tanah diizinkan dalam pasukan itu. Tetapi lama-kelamaan ia menjadi miskin, karena ia hanya mengutamakan keaktifannya sebagai filsuf. Pada usia lebih lanjut ia menikah dengan Xantippe. Pandangan popular yang melukiskan bahwa wanita ini tidak mempunyai dasar historis. Ia dikaruniai 3 anak laki-laki, dua diantara mereka masih kecil pada waktu kematiannya.
Bertentangan dengan para Sofis, Socrates tidak meninggalkan kota asalnya kecuali tiga kali ketika ia memenuhi kewajiban sebagai warga negara di medan perang. Dalam pertempuran ia menonjol karena keberaniannya. Satu kali ia menyelamatkan hidup sahabatnya, Alkibiades. Sedapat mungkin ia tidak campur tangan dalam politik. Tetapi apabila beberapa kali ia menunaikan tugas negara, ia juga memperlihatkan keberanian yang menonjol.




2.      Pemikiran Socrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relative telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relative, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya kita peroleh dari tulisan murid-muridnya, terutama Plato. Kehidupan Socrates (470-399 SM) berada di tengah-tengah keruntuhan imperium Athena. Tahun terakhir hidupnya sempat menyaksikan keruntuhan Athena oleh kehancuran orang-orang oligarki dan orang-orang demokratis. Di sekitarnya dasar-dasar lama remuk, kekuasaan jahat mengganti keadilan disertai munculnya penguasa-penguasa politik yang menjadi orang-orang yang sombong dibandingkan dengan sebelumnya.
Pemuda-pemuda Athena pada masa ini dipimpin oleh doktrin relativisme dari kaum sofis, sedangkan Socrates adalah seorang penganut moral yang absolute dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan.
Antara tahun 421 dan 416 SM adalah masa-masa buruknya hubungan antara Athena dan Sparta. Periode ini menyaksikan kebangkitan Alcibiades, salah seorang murid Socrates. Akan tetapi, ia pula yang menjadi salah satu factor yang menyebabkan kehancuran Athena. Ia bertanggung jawab atas kekalahan Athena di Syracuse 413 SM. Beberapa negara kecil datang merampok Athena. Revolusi ini menandai mulai hancurnya Athena. Delapan tahun kemudian orang-orang Sparta, dibawah komandannya Lysander, menghancurkan Athena. Tahun 404 SM Perang Peloponesia berakhir, menghasilkan Athena takluk di bawah Sparta. Antara tahun 404-403 partai Oligarki menguasai Athena. Tiga tiran berkuasa dengan tangan besi dan menggunakan metode terror. Tahun 403 SM demokrasi untuk terakhir kalinya dicoba dibangun, tetapi itu bukanlah pemerintahan yang bijaksana. Di bawah sponsor merekalah pada tahun 399 SM Socrates dituduh dengan dua tuduhan, yaitu merusak pemuda dan menolak tuhan-tuhan negara.
Akan tetapi, Kierkegaard, Bapak Eksistensialisme Modern, amat mengagumi Socratess, dan ia menjadikan filsafat Socrates sebagai model filsafatnya. Kierkegaard menulis desertasi tentang filsafat Socrates. Socrates amat berarti bagi Kierkegaard karena Socrates secara konstan menentang orang-orang sofis pada zaman itu. Ia menekankan bahwa banyak filosof abad 19, khususnya Hegel, pada dasarnya menganut faham yang sama dengan orang sofis.
Untuk membuktikan tuduhan itu Socrates diadili oleh pengadilan Athena. Pidato pembelaannya ditulis oleh Plato, berjudul Apologia, termasuk salah satu bahan penting untuk mengetahui ajaran Socrates. Dalam pengadilan itu Socrates dinyatakan bersalah dengan mayoritas 60 suara, 280 melawan 220. Ia dituntut hukuman mati.
Bertens menjelaskan ajaran Socrates sebagai berikut ini. Ajaran itu ditujukan untuk mneentang ajaran relativisme sofis. Ia ingin menegakkan sains dan agama.  Kalau dipandang sepintas lalu, Socrates tidaklah banyak berbeda dengan orang-orang sofis. Sama dengan orang sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari-hari. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat penting antara orang sofis dan Socrates: Socrates tidak menyetujui relatifisme kaum sofis.
Menurut pendapat Socrates ada kebenaran objektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran yang objektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah atau tidak salah, misalnya Ia bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedagang dan sebagainya. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang salah-tidak salah, adil-tidak adil, berani dan pengecut dan lain-lain. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban-jawaban lebih lanjut ia menarik konsekuensi-konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain, dan begitulah seterusnya. Sering terjadi percakapan itu berakhir dengan aporia (kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna.
Metode yang digunakan Socrates biasanya disebut dialektika, dari kata kerja Yunani dialegesthai yang berarti bercakap-cakap atau berdialog. Metode Socrates dinamakan dialektika karena dialog mempunyai peranan penting di dalamnya.
Di dalam traktatnya tentang metafisika, Aristoteles memberikan catatan mengenai metode Socrates ini. Ada dua penemuan, katanya, yang menyangkut Socrates, kedua-duanya berkenaan dengan dasar pengetahuan. Yang pertama ialah ia menemukan induksi dan yang kedua ia menemukan definisi.
Dalam logikanya Aristoteles menggunakan istilah induksi tatkala pemikiran bertolak dari pengetahuan yang khusus, lalu menyimpulkan pengetahuan yang umum. Itu dilakukan oleh Socrates. Ia bertolak dari contoh-contoh kongkret, dan dari situ ia menyimpulkan pengertian yang umum. Misalnya Socrates ingin mengetahui apa yang dimaksud orang dengan arete (keutamaan). Nah, ada banyak orang yang mempunyai keahlian tertentu yang dianggap mereka masing-masing mempunyai arete. Karena itulah Socrates bertanya kepada tukang besi, apa keutamaannya bagi mereka; kepada negarawan, filosof, pedagang dan sebagainya, apa pengertian arete bagi mereka. Ciri-ciri keutamaaan bagi mereka masing-masing tentulah tidak sama, tetapi ada ciri-ciri yang sama; artinya ada ciri keutamaan nya ada ciri keutamaan yang disepakati oleh masing-masing dari mereka.

B.     PLATO
1.      Riwayat Hidup Plato
Plato lahir di Athena tahun 427 SM dan hidup sezaman dengan Socrates. Ia adalah salah seorang murid dan teman Socrates. Dalam beberapa pemikirannya ia memperkuat pendapat gurunya dalam mengahadapi kaum sofisme. Sebagaimana Socrates, ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan filsafatnya. Namun kebenaran umum (definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana cara yang digunakan Socrates. Pengertian umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di sana di alam idea.
      Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan warna-warni. Semua itu adalah bayangan dari dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan dari yang asli yaitu idea. Karenanya maka dunia pengalaman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea sana (dunia idea).
Keadaan idea sendiri bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerkkan dunia. Berikutnya idea keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan dan politik.
Dengan demikian jelaslah bahwa kebenaran umum itu memang sudah ada, bukan dibuat melainkan sudah ada di dalam idea. Manusia dulu berada di dunia idea bersama-sama dengan idea-idea lainnya dan mengenalinya. Manusia di dunia nyata ini jiwanya terkurung oleh tubuh sehingga kurang ingat lagi hal-hal yang dulu pernah dikenalinya di dunia idea. Dengan kepekaan inderanya terkadang hal-hal yang empiric menjadikan ia teringat kembali apa yang pernah dikenalinya dulu di dunia idea. Dengan kata lain pengertian manusia yang membentuk pengetahuan tidak lain adalah dari ingatan apa yang pernah dikenalinya atau mengerti karena ingat.
Sebagai konsep dari pandangannya tentang dunia idea, dalam masalah etika ia berpendapat bahwa orang yang berpengetahuan dengan pengertian yang bermacam-macam sampai pengertian tentang ideanya, dengan sendirinya akan berbuat baik. Budi adalah tahu. Siapa yang tahu akan yang baik, cinta kepada idea, menuju kepada yang baik. Siapa yang hidup di dunia idea tidak akan berbuat jahat.
Hal yang penting juga untuk diketahui dari Filsafat Plato adalah pemikiran dia tentang negara. Menurutnya bahwa dalam tiap-tiap negara segala golongan dan segala orang-orang adalah alat semata-mata untuk kesejahteraan semuanya. Kesejahteraan semuanya itulah yang akan menjadi tujuan yang sebenarnya. Dan itu pulalah yang menentukan nilai pembagian pekerjaan. Dalam negara yang ideal itu golongan pengusaha menghasilkan, tetapi tidak memerintah. Golongan penjaga memperlindungi, tetapi tidak memerintah. Golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi, dan mereka memerintah.
Ketiga macam budi yang dimiliki oleh masing-masing golongan, yaitu bijaksana, berani dan menguasai diri dapat menyelenggarakan dengan kerjasama budi keempat bagi masyarakat, yaitu keadilan.
Oleh karena negara ideal bergantung kepada budipenduduknya, pendidikan menjadi urusan yang terpenting bagi negara. Menurut Plato, pendidikan anak-anak dari umur 10 tahun ke atas menjadi urusan negara, supaya mereka terlepas dari pengaruh orang tuanya. Dasar yang terutama bagi pendidikan anak-anak ialah gymnastic (senam) dan musik. Tetapi gymnastic didahulukan. Gymnastic menyehatkan badan dan pikiran. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang berani, yang diperlukan bagi calon penjaga. Di samping itu diberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung seberapa perlunya. Dari umur 14 tahun sampai 16 tahun kepada anak-anak diajarkan musik dan puisi serta mengarang bersajak. Musik menanam dalam jiwa manusia perasaan yang halus, budi yang halus. Karena musik jiwa kenal akan harmoni dan irama. Kedua-duanya adalah landasan yang baik untuk menghidupkan rasa keadilan. Tetapi dalam pendidikan musik harus dijauhkan dari lagu-lagu yang melemahkan jiwa serta yang mudah menimbulkan nafsu buruk. Begitu juga tentang puisi. Puisi yang merusak moral disingkirkan. Pendidikan musik dan gymnastic harus sama dan seimbang.
Dari umur 16  sampai 18 tahun anak-anak yang menjelang dewasa diberi pelajaran matematik untuk mendidik jalan pikirannya. Di samping itu diajarkan pula kepada mereka dasar-dasar agama dan adab sopan, supaya di kalangan mereka merasa tertanam rasa persatuan. Plato mengatakan bahwa suatu bangsa tidak akan kuat, kalau ia tidak percaya pada Tuhan. Seni yang memurnikan jiwa dan perasaan tertuju kepada Yang Baik dan Yang Indah, diutamakan mengajarkannya. Pendidikana ini tidak saja menyempurnakan pandangan agama, tetapi juga mendidik dalam jiwa pemuda kesediaan berkurban dan keberanian menentang maut. Dari umur 18 sampai 20 tahun, pemuda mendapat didikan militer.
Pada umur 20 tahun diadakan seleksi pertama. Murid-murid yang maju dalam ujian itu mendapat didikan ilmiah yang mendalam dalam bentuk yang lebih teratur. Pendidikan otak, jiwa dan badan sama beratnya. Setelah menerima pendidikan ini 10 tahun lamanya datanglah seleksi yang kedua, yang syaratnya lebih berat dan caranya lebih teliti dari seleksi pertama.
Menurutnya penduduk negara dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu golongan teratas, tengah dan terbawah. Golongan yang teratas adalah golongan yang memerintah, terdiri dari beberapa filosof. Mereka bertujuan membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaannya dan mereka memegang kekuatan tertinggi. Golongan ini harus memiliki budi kebijaksanaan. Sebelum para filosof menjadi pengusaha, negeri-negeri sulit untuk menghindar dari kejahatan-kejahatan. Golongan menengah adalah para pengawal dan abdi negara. Tugas mereka adalah mempertahankan negara dari serangan musuh dan menegakkan berlakunya undang-undang supaya dipatuhi semua rakyat. Dan golongan ketiga adalah golongan terbawah atau rakyat pada umumnya. Mereka adalah kelompok yang produktif dan harus pandai membawa diri.

C.    ARISTOTELES
1.      Riwayat Hidup Aristoteles
Aristoteles lahir di Stageira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia Tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Pada usia 17 tahun, Aristoteles bergabung menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun. Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia. Saat Alexander berkuasa di tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Di kemudian hari Aristoteles menulis suatu karangan bagi Alexander yang disebut Perihal monarki dan suatu karangan lain Tentang pendirian perantauan.  Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM. Kemudian ia meletakan pimpinan Lykeion ke dalam tangan muridnya, Theophrastos. Setelah tahun berikutnyavia jatuh sakit dan meninggal di tempat pembuangan pada usia 62 atau 63 tahun. Dan sampai sekarang kita masih memiliki teks wasiat Aristoteles yang disimpan oleh Diogenes Laertios.[3]
2.      Karya-karya
Menurut catatan sejarah, Plato dan Aristoteles adalah guru dan murid yang merupakan dua tokoh besar dalam sejarah, yang telah berhasil membentuk dan meletakkan dasar yang paling kokoh bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Barat modern. Di sisi lain, meskipun di sana sini terdapat perbedaan—bahkan pertentangan—antara kedua tokoh guru dan murid itu, tetapi keduanya pantas dinobatkan menjadi pahlawan dunia dalam bidang ilmu pengetahuan yang melepaskan dan membebaskan manusia dari belenggu ketaktahuan agara manusia tahu bahwa dia tahu jika mau tahu. Justin D. Kaptain menulis tentang hal itu sebagai berikut: (Bagi banyak orang, Plato menunjukkan seorang yang antusias, dengan imajinasi yang begitu membumbung tinggi, sementara Aristoteles melambangkan penelitian, menjemukan, dan terikat pada bumi. Plato tampak bersembangat dan sanggup membangkitkan semanat, sedangkan Aristoteles tampak terikat pada suatu sistem yang tidak luwes dan logika yang ruwet dan kaku. Yang satu adalah seorang pembaharu, nabi, dan artis, yang lain adalah seorang penyusun, pengamat, danorganisator. Plato tampak melukiskan kemuliaan tertinggi dari pikiran dan aspirasi; sementara Aristoteles kelihatan puas menerima dan bekerja dalam batasan-batasan hari-ke-hari dari perilaku manusia ...). [4]
Salah satu karya Aristoteles yang paling menonjol adalah penelitian ilmiah. Ia melakukan penelitian bidang zoologi, biologi, dan botani ketika ia mernatau ke sekitar pantai Asia Kecil dengan menggunakan segala fasilitas yang disediakan oleh Hermeias bersama dengan Theophrastus. Selain itu, Aristoteles juga melakukan penelitian khusus terhadap konstitusi dan sistem politik dari 158 negara kota (polis) di Yunani.Analisanya terhadap penelitiannya itu merupakan karya besar di bidang politik dan telah meletakkan dasar yang teguh bagi ilmu politik yang disebut Perbanding Pemerintahan dan Politik.
Para cendekiawan di zaman purba mengatakan bahwa karya tulis Aristoteles lebih dari 400 buku. Namun, sebagian besar telah musnah. Dari sekitar 50 buku yang masih ada, hanya sekitar separuhnya yang benar-benar merupakan hasil karya Aristoteles sendiri. Karya Plato begitu indah dan menarik, sementra karya Aristoteles kurang begitu indah dan kurang menarik. Will Ross Durant membagi karya Aristoteles ke dalam tiga bidang utama yaitu:  Karya tulis yang bersifat populer, Karya tulis yang berupa kumpulan data ilmiah, dan Bahan kuliah.[5]
Selain itu, ada yang membagi karya tulis Aristoteles menjadi lima kelompok[6] yaitu :
1).  Kelompok Organon yang terdiri atas : Categoriae (kategori), De Interpretatione ( tentang Penafsira), Analytica Priora (Analitika yang pertama), Analytica Posteriora (Analitika yang terakhir), Topica (Topik) dan De Sophisticis Elenchis (Cara berdebat kaum sufi).
2). Kelompok  kedua terdiri atas : Physica (Fisika) terdiri atas delapan buku, Methapysica (Metafisika) terdiri atas 14 buku, De Caelo (Dunia atas / langit) terdiri atas empat buku, De Generatione er Corruptione (Penjadian dan Pembiasaan) terdiri atas dua buku, Meteorologica (Meteorologi) terdiri atas empat buku.
3).  Kelompok Biologi dan Psikologi, terdiri atas : De Partibus Animalium (Bagian Binatang), De Motu Animalium (Tentang Gerak Binatang), De Generatione Animalium (Tentang Kejadian Binatang), De Anima (Tentang jiwa) dan Parva Naturalia ( Sedikit tentang tata hidup kodrati), yang merupakan kumpulan dari beberapa monografi tentang biopsikologi.
4).  Kelmpok empat terdiri atas : Ethica Nicomachea, terdiri atas sepuluh buku, Ethica Eudemia, terdiri atas tujuh buku dan Politica (Politik) terdiri atas delapan buku.
5).  Kelompok lima terdiri atas : Rhetorica (retorika) dan Poetica (poetika).
3.         Filsafat Logika
Mungkin sekali, yang paling penting dari sekian banyak hasil karyanya
adalah penyelidikannya tentang teori logika, dan Aristoteles
dipandang selaku pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hal ini
sebetulnya berkat sifat logis dari cara berfikir Aristoteles yang
memungkinkannya mampu mempersembahkan begitu banyak bidang ilmu. Dia punya bakat mengatur cara berfikir, merumuskan kaidah dan jenis-
jenisnya yang kemudian jadi dasar berpikir di banyak bidang ilmu
pengetahuan. Aristoteles tak pernah kejeblos ke dalam rawa-rawa
mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh
mengutarakan pendapat-pendapat praktis. Sudah barang tentu, manusia
namanya, dia juga berbuat kesalahan. Tetapi, sungguh menakjubkan
sekali betapa sedikitnya kesalahan yang dia bikin dalam ensiklopedi
yang begitu luas.
Dasar ajaran Aristoteles tentang logika berdasrkan atas ajaran tentang jalan pikiran (ratio-cinium) dan bukti. Jalan pikiran itu baginya berupa syllogismus (silogisme), yaitu putusan dua yang tersusun sedmikian rupa sehingga melahirkan putusan yang ketiga. Untuk dapat menggunakan syllogismus dengan benar, seseorang harus tahu benar sifat putusan itu.[7]
Silogisme Aristoteles, sebuah perjalanan logika deduktif yang amat panjang sejak 2500 tahun yang silam, sejak Aristoteles dilahirkan  di Stagira 384 SM. Namun, logika ini akan tetap aktual dalam perjalanan manusia mencari makna diri di alam semesta ini, bahkan sesungguhnya silogisme Aristoteleslah yang mendasari prinsip-prinsip Antropik Kosmos (Cosmic Anthropic Principles). Konsep silogisme Aristoteles adalah konsep dasar tatkala kesadaran manusia harus menapak awal melihat fenomena alam semesta dan mulai menganalisa keajaiban kehidupan bumi, kemudian manusia menyadari bahwa dirinya sendiri akan menjadi tiada seperti spesies makhluk hidup lainnya, mortal.[8]
Oleh karena itu, logika dapat dimengerti sebagai kerangka atau peralatan teknis yang diperlukan manusia agar penalarannya berjalan dengan tepat. Dasar logika Aristoteles adalah uraian keputusan yang kita temukan dalam bahasa (“the analysis of judgement as found and expressed in human language”).[9] Dalam bahasa moderen, logika Aristoteles dapat dikatakan menggabungkan unsur empiris-induktif dan rasional-deduktif.
4.      Filsafat Pengetahuan

Filsafat tentang logika diatas menjadi dasar filsafat pengetahuan. Selain berjasa dalam membangun logika, Aristoteles juga berjasa dalam usahanya untuk menggambarkan tahbapan-tahapan kemajuan pengetahuan manusia. Menurutnya, pengetahuan dimulai dengan tahapan inderawi yang selalu partikular. Tahapan pengetahuan selanjutnya adalah abstraksi menuju pengetahuan akal budi yang bercirikan universal.
Dalam hal ini, filsafat pengetahuan Aristoteles merupakan kebalikan dari filsafat pengetahuan Plato. Dasar filsafat pegetahuan Aristoteles bukanlah intuisi, tetapi abstraksi. Oleh karena itu, benar bila dikatakan bahwa Aristoteles tidak selalu sepaham dengan gurunya sendiri, Plato, bahkan mungkin bertentangan.
5.      Filsafat Metafisika
Menurut Aristoteles, Nous atau akal budi merupakan bagian yang paling mulia dalam diri manusia. Oleh karena itu, dalam ajaran Aristoteles, unsur-unsur filsafat ke-Tuhanan bertitik pangkal dariuraian kemampuan akal budi manusia itu. Dalam hal ini Aristoteles mencari dasar uraiannya dalam pengamatan inderawi di dunia yang berubah-ubah. Dia mengamati gerak, dan sampai kepada kesimpulan bahwa ada penggerak. Ia kemudian juga menyimpulkan bahwa ada “yang menggerakkan tanpa digerakkan sendiri”.
Jalan pikiran Aristoteles itu diterapkan oleh Thomas Aquinas dalam “panca marga” (quinque viae) guna menyatakan adanya Tuhan berdasarkan pengalaman dan penalaran filosofis.
6.      Pengaruh Pemikirannya
Pengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari
sungguh mendalam. Di zaman dulu dan zaman pertengahan, hasil karyanya
diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis,
Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul
kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium mempelajari karyanya
dan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu juga dicatat, buah
pikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan berabad-
abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat.
Ibnu
Rusyd (Averroes), mungkin filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba
merumuskan suatu perpaduan antara Teologi Islam dengan
rasionalisme Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka
Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Tetapi,
hasil kerja paling gemilang dari perbuatan macam itu adalah Summa
Theologia-nya cendikiawan Nasrani St. Thomas Aquinas. Di luar daftar
ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang
terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.
Kekaguman orang kepada Aristoteles menjadi begitu melonjak di akhir
abad tengah tatkala keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala.
Dalam keadaan itu tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam
bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan problem lebih lanjut
daripada semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang gemar
meneliti dan memikirkan ihwal dirinya tak salah lagi kurang sepakat
dengan sanjungan membabi buta dari generasi berikutnya terhadap
tulisan-tulisannya.
Beberapa ide Aristoteles kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata
sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya
sejalan dengan garis hukum alam. Dia percaya kerendahan martabat
wanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini--tentu saja-–mencerminkan
pandangan yang berlaku pada zaman itu. Tetapi, tak kurang pula
banyaknya buah pikiran Aristoteles yang mencengangkan modernnya,
misalnya kalimatnya, “Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan
kejahatan,” dan kalimat “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam
seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium
tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya.” (Tentu saja, waktu itu
belum ada sekolah seperti yang kita kenal sekarang).
Di abad-abad belakangan, pengaruh dan reputasi Aristoteles telah
merosot bukan alang kepalang. Namun, ada yang berpikir bahwa pengaruhnya sudah begitu menyerap dan berlangsung begitu lama sehingga saya menyesal tidak bisa menempatkannya lebih tinggi dari tingkat urutan seperti sekarang ini. Tingkat urutannya sekarang ini terutama akibat amat pentingnya ketiga belas orang yang mendahuluinya dalam urutan.


BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian pada paragraf-paragraf diatas, dapat disimpulkan bahwa Aristoteles mempunyai dasar-dasar ajaran tentang filsafat yang kemudian banyak berkembang di Barat. Meskipun demikian, ada juga cendekiawan muslim yang terpengaruh oleh pemikiran filsafatnya.
Dalam filsafatnya, Aristoteles bertitik tolak dari apa yang dia amati dalam hidup manusia dan hidup masyarakat. Dari praksis nyata dan data-data, dia kemudian menyimpulkan menjadi suatu theoria yang meliputi segala data pengamatan itu.
Karya Aristoteles yang cukup banyak mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan. Selain mengajarkan tentang filsafat logika, filsafat pengetahuan, dan filsafat metafisika, Aristoteles juga mengajarkan filsafat etika, filsafat negara, filsafat manusia dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa Aristoteles merupakan tokoh yang  luas ilmu pengetahuannya dan merupakan ilmuwan yang pantas mendapatkan acungan jempol.


[1] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Jakarta: Yogyakarta, 1999), Cet.Ke-22, h.81
[2] Hopilites adalah prajurit Yunani yang termasuk pasukan yang dapat dibandingkan dengan infanteri (pasukan jalan). Mereka sendiri harus membiayai senjata-senjata yang mereka pakai. Oleh karenanya, mereka harus mempunyai barang milik yang lumyan. Tetapi mereka tidak terhitung dalam golongan kaya. Orang Yunani yang bangsawan selalu masuk pasukan yang dapat dibandingkan dengan kavaleri (pasukan berkuda), karena mereka mampu membiayai seekor kuda.
[3] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Jakarta: Yogyakarta, 1999), Cet.Ke-22, h. 155-156
[4] Justin D. Kaptain, ed., The Pocket Aristotle, (New York : Pocket Books, 1958), hal. xv. Lihat pula  J.H. Rapar, Filsafat Politik Aristoteles, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993), hal. 7-8
[5] Will Ross Durant, The Story of Philosphy, (New York : Pocket Books, 1953), hal. 35
[6] Renford Bambrough, Ed. The Philosophy of Aristotle, (New York : New American Library, 1963), hal. 22.  
[7] Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005), hal. 36-37
[8] Sumber: http://www.geocities.com/memorigin/Aristoteles.htm
[9] Mudji Sutrisno dan Budi Hardiman, Ed., Para Filsuf Penentu Gerak Zaman,  (Yogyakarta : Kanisius, 1992), hal. 20-21.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar