STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 07 November 2011

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

1. Ilmu dan Filsafat
Filsafat dimulai dari rasa ingin tahu dan rasa ragu-ragu, sehingga filsafat berbeda dengan pengetahuan, karena pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu saja. Semua pengetahuan sekarang dimulai dengan spekulasi. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka pengetahuan tidak mungkin berkembang atas dasar kebenaran.
Sedangkan cabang-cabang filsafat antara lain mencakup:
(1) Epistemologi, (2) Etika, (3) Estetika, (4) Metafisika, (5) Politik, (6) Filsafat Agama, (7) Filsafat Ilmu, (8) Filsafat Pendidikan (9) Filsafat Hukum (10) Filsafat Sejarah (11) Filsafat Matematika. Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan (Epistemologi) yang berspesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah).

BAB II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2. Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir bukan perasaan. Jadi penalaran merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
3. Logika
Logika merupakan pengkajian untuk berfikir secara sahih. Penarikan kesimpulan baru dianggap valid bila proses penarikan kesimpulan dilakukan menurut cara tertentu yang disebut logika.
4. Sumber Pengetahuan
Terdapat beberapa jenis cara untuk mendapatkan pengetahuan antara lain adalah, Rasionalisme yang mendasarkan pada rasio atau ide seseorang yang jelas dan dapat dipercaya. Empirisme yang mendasarkan pada pengalaman atau melalui penalaran yang kongkret. Intusi merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses penalaran tertentu dan yang terakhir adalah wahuyu yang merupakan pengetahuan yang disampaikan Tuhan kepada manusia melalui Nabi-nabi yang diutus sepanjang zaman.
5. Kriteria Kebenaran
Terdapat 3 kriteria untuk mendapatkan teori kebenaran, yaitu (1) Teori Koherensi, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. (2) Teori Korespondensi, suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung berkorespondensi dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. (3) Teori Pragmatis, suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.

BAB III
ONTOLOGI, HAKEKAT APA YANG DIKAJI

6. Metafisika
Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supranaturalisme dimana manusia percaya bahwa terdapat roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat dalam benda-benda seperti batu, pohon dan air terjun. Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam sebagaimana adanya, dan bila itu tujuannya maka kita tidak bisa melepaskan diri dari masalah-masalah yang ada di dalamnya.
7. Asumsi
Para filusuf ilmu menduga-duga apakah gejala alam tunduk kepada determinisme., yakni hukum alam yang bersifat universal, ataukah hukum semacam itu tidak terdapat sebab, setiap gejala merupakan akibat pilihan bebas, ataukah keumuman namun berupa peluang, sekedar probabilistic. Tanpa mengenal ketiga aspek ini (determinisme, pilihan bebas, probabilistic) serta bagaimana ilmu sampai pada pemecahan masalah yang merupakan kompromi akan sukar bagi kita untuk mengenal hakekat keilmuan dengan baik.
8. Peluang
Berdasarkan teori-teori keilmuan kita akan mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian dengan menggunakan kesimpulan yang probabilistic. Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar untuk mengambil keputusan, dimana keputusan harus didasarkan pada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif.
9. Beberapa Asumsi dari Ilmu
Seorang ilmuwan harus benar-benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam analisis keilmuannya.
Dalam mengembangkan asumsi ini maka ada dua hal yang harus diperhatikan, Pertama, asumsi harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian, asumsi ini mendasari telaah ilmiah. Kedua, asumsi harus disimpulkan “keadaan sebagaimana adanya “bukan” bagaimana keadaan yang seharusnya” asumsi ini mendasari telaah moral.
10. Batas-batas penjelajahan Ilmu
Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia ini disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun telah teruji kebenarannya secara empiris.

BAB IV
EPISTEMOLOGI
CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
11. Sejarah Pengetahuan
Salah satu cabang pengetahuan yang berkembang menurut jalannya sendiri adalah ilmu yang berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan lain terutama dalam segi metodenya. Demikian juga ilmu dapat dibedakan dari apa yang di telaahnya serta untuk apa ilmu itu dipergunakan.
12. Pengetahuan
Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemology ), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Dengan berkembangnya metode ilmiah dan diterimanya metode ini sebagai paradigma oleh masyarakat keilmuan, maka sejarah menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.
13. Metode Ilmiah
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang dinamakan dengan metode ilmiah. Dalam hal ini, metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berfikir deduktif dan cara berfikir induktif dalam membangun pengetahuan pengetahuannya.
Alur berifikir dalam metode ilmiah terdiri dari beberapa langkah, sebagai berikut:
1) Perumusan Masalah yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris
2) Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis, berupa argumentasi yang disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah.
3) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan
4) Pengujuan hipotesis yang merupakan kumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan
5) Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak.
14. Struktur Pengetahuan Ilmiah
Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari disiplin keilmuan. Penelitian bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui dan juga untuk memecahkan masalah kehidupan yang bersifat praktis.

BAB V
SARANA BERFIKIR ILMIAH
15. Sarana Berfikir Ilmiah
Sarana berfikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam bebagai langkah. Sarana ilmiah bukan merupakan ilmu yang dalam pengertian bahwa sarana ilmiah merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Untuk dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
16. Bahasa
Bahasa mengkomunikasikan tiga hal, buah pikiran, perasaan dan sikap bahasa sebenarnya merupakan serangkaian bunyi dan juga lambang. Dengan ini manusia memberi arti dalam dunia simbolik yang diwujudkan dengan kata-kata. Tetapi bahasa juga mempunyai beberapa kekurangan, yang pada hakikatnya terletak pada bahasa yang bersifat multifungsi. Yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif dan simbolik.
17. Matematika
Matematika adalah sarana berfikir deduktif yang mana proses pengambilan kesimpulan didasarkan pada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan. Sebagai sarana ilmiah maka matematika adalah konsistensi dari berbagai definisi dan aturan permainan lainnya.
18. Statistika
Statistika adalah sarana berfikir induktif yang mana proses pengambilan kesimpulan belum tentu benar, meskipun premis-premisnya adalah benar. Dapat kita katakan bahwa kesimpulan itu mempunyai peluang untuk benar. Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan untuk menghitung tingkat peluang dengan eksak.

BAB VI
AKSIOLOGI : NILAI KEGUNAAN ILMU

19. Ilmu dan Moral
Ilmu bukan lagi sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. Namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Dihadapkan dengan masalah moral para ilmuwan terbagi dalam 2 golongan. Golongan Pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun aksiologis. Golongan kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. Maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral.
20. Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan
Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Jelaslah kiranya bahwa seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab. Bukan saja karena warga masyarakat namun karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Fungsinya tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuwan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
21. Nuklir dan Pilihan Moral
Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan adalah bangsanya sendiri. Pengetahuan pada dasarnya ditujukan untuk kemaslahatan kemanusiaan. Masalahnya adalah sekiranya seorang ilmuwan menemukan sesuatu yang menurut dia berbahaya bagi kemanusiaan maka apakah yang harus dia lakukan?
22. Revolusi Genetika
Revolusi genetika adalah babakan baru dalam sejarah keilmuan manusia, sebab sebelum ini tidak pernah menyentuh manusia sebagai objek penelaahan itu sendiri. Kesimpulannya adalah menyatakan sikap yang menolak terhadap dijadikannya manusia sebagai obyek penelitian genetika. Secara moral kita lakukan evaluasi etis terhadap suatu objek yang tercakup dalam objek formal (ontologis) ilmu.

BAB VII
ILMU DAN KEBUDAYAAN
23. Manusia dan Kebudayaan
Kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Allport, Vevnon dan Lindzey (1951) mengidentifikasikan 6 nilai dasar dalam kebudayaan yakni nilai teori, ekonomi, estitika, sosial, politik dan agama. Untuk menentukan nilai-nilai kita harus memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional dan pengembangan kebudayaan.
Pengembangan kebudayaan nasional diarahkan terwujudnya suatu peradaban yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia. nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan. Sebab kalau tidak maka hal ini bukanlah proses pembudayaan melainkan dekadensi peruntuhan peradaban.
24. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional
Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunyai peranan ganda. Pertama, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional. Kedua, ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.
Kita menyadari bahwa keadaan masyarakat kita sekarang masih jauh dari tahap masyarakat yang berorientasi pada ilmu. Memperhatikan keadaan seperti ini maka diperlukan langkah-langkah yang sistematik untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuwan yang mengandung beberapa pemikiran pokok, yaitu:
- Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran dan juga merupakan bagian dari kebudayaan.
- Pendidikan keilmuan harus dikaitkan dengan pendidikan moral.


25. Dua Pola Kebudayaan
Terdapat perbedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, namun perbedaan ini hanyalah bersifat teknis yang tidak menjurus pada perbedaan yang fundamental. Perbedaan tersebut tidaklah mengubah apa yang menjadi tujuan penelaahan ilmiah. Dalam soal pengukuran yang menjadi dasar bagi suatu analisis kuantitatif maka ilmu-ilmu sosial menghadapi dua masalah, yaitu, sukarnya melakukan pengukuran dan banyaknya variabel yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Sekiranya kita menginginkan kemajuan dalam bidang keilmuan, pembangkitan jurusan berdasarkan pasti – alam dan sosial – budaya harus dihilangkan.

BAB VIII
ILMU DAN BAHASA

26. Terminologi: Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan Sains
Terdapat beberapa alternative, pertama adalah menggunakan ilmu pengetahuan untuk science dan pengetahuan untuk knowledge. Kedua, adalah didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah dua kata benda yakni ilmu dan pengetahuan.
Sains adalah terminologi dari bahasa Inggris science. Adopsi ini tidak perlu pembentukan kata sifat dengan kata dasar sains adalah agak janggal dalam struktur bahasa Indonesia.
27. Qou Vadis
Penggunaan terminologi ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge. Ada pendapat lain yang sangat berbeda, yakni: (1) Ilmu merupakan genus dimana terdapat bermacam-macam spesies, seperti ilmu pengetahuan, kebatinan, agama, dan filsafat. (2) Ilmu Pengetahuan Sinonim dengan Science Knowledge. (3) Ilmu adalah sinonim dengan knowledge dan pengetahuan dengan science. Berdasarkan hukum DM (diterangkan – menerangkan) ilmu pengetahuan adalah ilmu (knowledge) yang bersifat pengetahuan (scientific).
28. Politik Bahasa Nasional
Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama, yakni, sebagai sarana komunikasi antar manusia dan sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Perkembangan bahasa tentu tidak dapat dilepasksn dari sektor-sektor lain yang tumbuh dan berkembang.


BAB IX
PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH

29. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah



30. Teknik Penulisan Ilmiah
Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni, gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Penulisan ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar.
31. Teknik Notasi Ilmiah
Dalam bagian ini menguraikan hal-hal yang bersifat pokok dari salah satu teknik notasi ilmiah yang menggunakan catatan kaki. Tanda catatan kaki diletakkan diujung kalimat yang dikutip menggunakan angka arab yang diketik naik setengah spasi. Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor urut mulai angka 1 sampai dengan nomor 10 kembali pada bab yang baru.

BAB X
PENUTUP
32. Hakikat dan Kegunaan Ilmu
Pada masa Plato, pengetahuan-pengetahuan termasuk ilmu, memang tidak mempunyai kegunaan praktis melainkan estetis. Seperti mempelajari piano atau membaca sajak cinta, maka pengetahuan ini lebih ditujukan pada kepuasan jiwa dan bukan sebagai konsep untuk memecahkan masalah

Sumber Buku : Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer
Penyusun : Jujur S. Suriasumantri
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar