STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 29 November 2011

KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab yang berat. Mengingat perannya yang sangat besar, keuletannya serta kewibawaannya dalam membuat langkah-langkah baru sebagai jawaban dari kebutuhan masyarakat. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Bernard Kutner, yang dikutip oleh Evendy M. Siregar tentang kepemimpinan:
Dalam kepemimpinan tidak ada asas yang universal, yang nampak ialah proses kepemimpinan dan pola hubungan antar pemimpinnya. Fungsi utama kepemimpinan terletak dalam jenis khusus dari perwakilan (group representation). Seorang pemimpin harus mewakili kelompoknya sendiri. Mewakili kelompoknya mengandung arti bahwa si pemimpin mewakili fungsi administrasi secara eksekutif. Ini meliputi koordinasi dan integrasi berbagai aktivitas, kristalisasi kebijaksanaan kelompok dan penilaian terhadap macam peristiwa yang baru terjadi dan membawakan fungsi kelompok. Selain itu seorang pemimpin juga merupakan perantara dari orang dalam kelompoknya di luar kelompoknya.[1]

            Berkenaan dengan kepemimpinan ini. Dirawat mengemukakan dalam bukunya “Pengantar Kepemimpinan Pendidikan” bahwa
kepemimpinan adalah merupakan suatu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir, dan mengendalikan orang lain yang ada hubungannya dnegan pengembangan ilmu pengetahuan atau pendidikan serta agar kegiatan yang dilaksanakan lebih efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran.[2]
Dari kutipan tersebut dapat diambil suatu pengertian, bahwa untuk mewujudkan program pelaksanaan pendidikan yang direncanakan, maka dalam pelaksanaannya diperlukan seseorang yang dapat mempengaruhi, mendorong serta menggerakkan komponen-komponen yang ada dalam lembaga pendidikan yang dapat mengarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan pada suatu lembaga pendidikan.
            Menjadi seorang pemimpin pendidikan, tidak saja dituntut untuk menguasai teori kepemimpinan, akan tetapi ia juga harus terampil dalam menerapkan situasi praktis di lapangan kerja dan etos kerja yang tinggi untuk membawa lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Idealnya, jika pemimpin pendidikan disamping memiliki bekal kepemimpinan dari teori dan pengakuan resmi yang bersifat ekstern, tetapi juga pembawaan petensial yang dibawa sejak lahir sebagai anugerah dari Yang Maha Kuasa, namun orang dapat melatihnya agar dapat menjadi seorang pemimpin pendidikan yang tangguh dan terampil berdasarkan pengalamannya.
            Besar kecilnya peranan yang dilakukan seorang pemimpin banyak ditentukan kepada apa dan siapa dia, dan apa yang dipimpinnya, kekuasaan (otoritas) apa yang dimiliki dan perangkat mana yang ia perankan sebagai pemimpin baik itu formal maupun non formal. Akan tetapi kesemuanya berperan dalam membimbing, menuntun, mendorong, dan memberikan motivasi kepada mereka yang dipimpin untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan.
            Pemimpin pendidikan dalam hal ini adalah Kepala Madrasah sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di lembaga pendidikan, harus memiliki kesiapan dan kemampuan untuk membangkitkan semangat kerja personal. Seorang pemimpin juga harus mampu menciptakan iklim dan suasana yang kondusif, aman, nyaman, tentram, menyenangkan, dan penuh semangat dalam bekerja bagi para pekerja dan para pelajar. Sehingga pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dapat berjalan tertib dan lancar dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Hendyat Soetopo dalam bukunya “Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan”, bahwa
Kepemimpinan pendidikan adalah suatu kemampuan dan proses mempengaruhi, membimbing, mengkoordinir, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pengembangan ilmu pendidikan serta pengajaran supaya aktivitas-aktivitas yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran.[3]
            Pendidikan apabila dipahami dari segi agama memiliki nilai yang sangat strategis. Sebagaimana ketika Rasulullah SAW berdakwah mengajarkan wahyu yang pertama kali turun, beliau berkonsentrasi kepada kemampuan baca tulis.
Berdasarkan doktrin inilah yang kemudian mengilhami para pemimpin untuk mampu menjadi pemimpin yang disegani dan diharapkan banyak orang dalam menegakkan syariat Islam.
            Agar tujuan pendidikan dapat terlaksana dengan baik, maka diperlukan pemimpin yang mengerti akan komitmen yang menjadi tujuan tersebut. Karena pendidikan mengandung nilai-nilai yang besar dalam kehidupan manusia baik di dunia maupun di akherat yaitu nilai-nilai ideal Islam. Dalam hal ini ada 3 kategori, yaitu dimensi yang mendorong manusia untuk memanfaatkan dunia agar menjadi bekal bagi kehidupan akherat, dimensi yang mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan akherat yang membahagiakan, dimensi yang mengandung nilai yang dapat memadukan antara kehidupan duniawi dan ukhrowi.[4]
            Disamping itu, pemimpin pendidikan harus berwawasan masa depan yaitu mengantisipasi perubahan yang ada, tidak hanya dalam pendidikan saja tetapi juga perkembangan ilmu pengetahuan teknologi.
            Kepemimpinan pendidikan pada lembaga pendidikan, yaitu Kepala Madrasah, penting sekali bagi peningkatan kualitas pendidikan. Karena lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemimpin yang mengerti komitmen serta berwawasan luas, akan berjalan dengan tertib dan dinamis sesuai dengan kemajuan zaman.
            Selain itu, Kepala Madrasah hendaknya juga mengerti kedudukan Madrasah di masyarakat, mengenal badan-badan dan lembaga-lembaga masyarakat yang menunjang pendidikan, mengenal perubahan sosial, ekonomi, politik masyarakat, mampu membantu guru dalam mengembangkan program pendidikan sesuai dengan perubahan yang terjadi di masyarakat sekaligus membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi.
            Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah suatu hal yang mudah untuk diwujudkan. Karena banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhinya yang tanpa ada usaha utnuk meperhatikan dan mencari solusi, maka usaha peningkatan kualitas pendidikan mustahil akan terwujud.
            Realitanya, banyak lembaga pendidikan yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik dan ada pula yang mengalami kemandekan dan bahkan tinggal menunggu kehancurannya. Adapun salah satu faktor penyebabnya adalah terletak pada kompetensi dan kepemimpinan Kepala Madrasah dalam memenej Madrasah.
            Apabila seorang Kepala Madrasah tidak bisa mengatur, mempengaruhi, mengajak anggotanya untuk meraih tujuan pendidikan, kurang bisa memanfaatkan peluang yang ada, dan cenderung menerapkan gaya kepemimpinan yang sekedar melaksanakan tugas rutin, maka jangan diharapkan kualitas pendidikan akan mengalami peningkatan.
            Sebaliknya jika seorang Kepala Madrasah tersebut memiliki potensi yang cukup baik, maka ia akan cenderung untuk terus meningkatkan organisasi pendidikan di lembaga yang dipimpinnya. Sehingga dengan sendirinya kualitas pendidikan ikut meningkat.
            Bertitik tolak dari uraian di atas, penulis terdorong untuk mengambil judul skripsi “Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan kualitas Pendidikan,” yang dalam hal ini penulis memilih obyek penelitian di MAN Purwoasri Kediri.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana tipe kepemimpinan Kepala Madrasah di MAN Purwoasri Kediri?
2.      Apa saja usaha Kepala Madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di MAN Purwoasri Kediri?
3.      Apa saja peran Kepala Madrasah dalam usahanya meningkatkan kualitas pendidikan di MAN Purwoasri Kediri?
C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Untuk mengetahui tipe kepemimpinan Kepala Madrasah di MAN Purwoasri Kediri.
2.      Untuk mengetahui usaha kepala Madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di MAN Purwoasri Kediri.
3.      Untuk mengetahui peran kepala Madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di MAN Purwoasri Kediri.
D.    Manfaat Penelitian
  1. Sebagai sumbangan yang konstruktif bagi pengambilan dan pelaksanaan kebijakan di MAN Purwoasri Kediri pada khususnya dan MAN lain pada umumnya sebagai pijakan dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikannya.
  2. Bagi penulis kajian kepustakaan maupun data empirik, sebagai informasi yang sangat berguna bagi pengembangan kualitas diri baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
  3. Bagi peneliti sendiri, sehingga dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan dalam kepemimpinan.
E.     Ruang Lingkup Pembahasan
Adapun yang menjadi ruang lingkup pembahasan penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Tipe kepemimpinan Kepala Madrasah di MAN Purwoasri Kediri.
  2. Usaha Kepala Madrasah dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan di MAN Purwoasri Kediri.
  3. Peran Kepala Madarasah dalam usahanya meningkatkan kualitas pendidikan di MAN Purwoasri Kediri, yang meliputi:
a.       Kepala Madrasah sebagai Administrator
b.      Kepala Madrasah sebagai Supervisor
F.      Metode Penelitian Dan Pembahasan
1.      Metode Penelitian
                        1)      Penentuan Responden
Sesuai dengan judul yang penulis buat yaitu “Kepemimpinan Kepala Madarasah Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di MAN Purwoasri Kediri”, maka sumber datanya disebut responden.
Menurut Suharsimi Arikunto, bahwa responden adalah orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan.[5]
Adapun yang menjadi responden dalam penelitian ini, adalah :
1.      Kepala Madarasah
2.      Guru
                        2)      Metode Pengumpulan Data
a.       Metode Observasi
Menurut Winarno Surakhmad, metode observasi adalah terkait pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat), terhadap gejala-gejala yang yang dihadapi (diselidiki) baik pengamatan itu dilaksnakan dalam situasi yang sebenarnya maupun situasi buatan yang diadakan.[6]
Dalam hal ini penulis menggunakan observasi langsung mendatangi lokasi yaitu MAN Purwoasri Kediri dan memperhatikan jalannya proses pendidikan dan kondisi sarana prasarana di madrasah tersebut serta kondisi lingkungan madrasah dalam rangka memperoleh data.
b.      Metode Interview
Sering juga disebut dengan wawancara, yaitu proses tanya jawab secara lisan antara peneliti dengan responden yang keduanya saling berhadapan secara langsung. Menurut Suharsimi Arikunto, metode interview adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.[7]
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data melalui wawancara. Dalam hal ini penulis menginterview 5 orang, yaitu Bapak Kepala Madrasah, Wakamad Bidang Kurikulum, Bidang Kesiswaan, Bidang Sarana dan Prasarana, serta Kepala TU. Sehingga penulis memperoleh data tentang kemajuan MAN Purwoasri Kediri, kurikulum, jumlah guru, siswa serta tersedianya sarana dan prasarana (disamping data yang diperoleh dari dokumen Madrasah).
c.       Metode Angket
Metode angket adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan suatu daftar pertanyaan yang sudah disusun secara sistematis dan terencana. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syafari Imam Asy’ari, bahwa metode angket adalah metode yang mana penyelidikannya dilakukan oleh penyelidik dengan memintakan jawaban dari subyek yang diteliti dengan dasar pengetahuan dan keyakinan pribadi.[8]
Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi tentang kepemimpinan Kepala Madrasah. Dalam hal ini penulis menyebarkan angket kepada guru, metode ini sangat tepat digunakan untuk mencari data tentang sejauh mana kepemimpinan Kepala Madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di MAN Purwoasri Kediri.
d.      Metode Dokumentasi
Menurut Suharsismi Arikunto, metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya.[9]
Metode ini dipakai untuk memperoleh data tentang keberadaan sekolah. Dalam hal ini MAN Purwoasri Kediri yang meliputi : kurikulum, keadaan guru, siswa, organisasi sekolah, sarana dan prasarana.
2.      Metode Analisis Data
Langkah selanjutnya yang penulis tempuh setelah pengumpulan data adalah metode analisis data. Dalam rangka menganalisis data yang telah dikumpulkan, penulis menggunakan metode analisis deskriptif untuk data yang bersifat kualitatif.
            Sedangkan untuk data yang bersifat kuantitatif, maka penulis menggunakan rumus sebagai berikut:
P =
Keterangan
P = Angka Prosentase
F = Frekuensi
N = Banyaknya Individu[10]
G.    Sistematika Pembahasan
Dalam menyusun skripsi digunakan sistematika pembahasan yang terdiri dari empat bab. Yang mana masing-masing disusun secara sistematis dan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu bab dengan bab yang lainnya.
BAB I merupakan pendahuluan yang didalamnya dipaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan pembahasan, serta sistematika pembahasan. Dalam bab ini, secara garis besar merupakan keseluruhan isi pembahasan, yang mana hal ini untuk mempermudah dalam memberikan gambaran yang menjelaskan pembahasan secara keseluruhan.
BAB II berisi tentang landasan teori, dalam hal ini ada empat pembahasan yaitu kepemimpinan pendidikan yang meliputi pengertian kepemimpinan pendidikan, syarat-syarat kepribadian pemimpin, tipe-tipe kepemimpinan, faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan; kualitas pendidikan yang meliputi pengertian pendidikan, dasar pendidikan, tujuan pendidikan, kualitas pendidikan; peran Kepala Madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang meliputi Kepala Madrasah sebagai administrator dan Kepala Madrasah sebagai Supervisor. Dalam bab ini dijadikan sebagai ukuran dalam pembahasan selanjutnya.
BAB III akan membahas tentang hasil penelitian yang berisi tentang gambaran umum MAN Purwoasri Kediri yang meliputi sejarah berdirinya MAN Purwoasri Kediri, visi dan misi MAN Purwoasri Kediri, keadaan guru, siswa dan karyawan MAN Purwoasri Kediri, keadaan sarana dan prasarana MAN Purwoasri Kediri, keadaan struktur organisasi MAN Purwoasri Kediri, penyajian dan analisis data.
BAB IV adalah kesimpulan dan saran. Pada bab ini merupakan bagian terakhir dari skripsi ini. Oleh kerena itu, penulis akan memberikan kesimpulan dari pembahasan yang bersifat empiris. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian saran-saran.



[1] Bernard Kurtner (yang dikutip oleh Evendy M. Siregar). Bagaimana Menjadi Pemimpin Yang Berhasil, PD. Mari Belajar, Jakarta 1989, Hal 152.
[2] Dirawat et.al, Pengantar Kepemimpinan Pendidikan , Usaha Nasional, Surabaya, 1986, Hal 33
[3] Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, hal 271.
[4] Djumransjah Indar, Ilmu Pendidikan Islam, IAIN Sunan ampel, Malang, 1992, hal 23-24
[5] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta,1993, hal 102
[6] Winarno Surakhmad, Dasar Metode Teknik, Tarsito, Bandung, 1985, hal 36
[7] Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hal 126
[8] Syafari Imam Asy’ari, Metodologi Penelitian Sosial, Usaha Nasional, Surabaya, 1981, hal 94
[9] Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hal 131
[10] Anas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan, Rajawali Press, Jakarta, 1987, hal 40

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar