STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 08 November 2011

KEPEMIMPINAN MUTU PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang masalah
Kepemimpinan dalam kaitannya dengan mutu pendidikan Islam merupakan elemen yang sangat penting dalam suatu lembaga pendidikan,karena kepemimpinan dalam hal ini pemimpin harus mampu menjadi seorang menejerial yang dapat membimbing dan mengarahkan serta mampu membangkitkan motivasi dilembaga yang dipimpinnya dalam meningkatkan kinerja yang dipimpinnya,sehingga visi,misi dan tujuan sebuah lembaga pendidikan akan tercapai.
Didalam era modern yang lebih maju seperti sekarang ini seorang pemimpin dituntut menguasai berbagai hal yang berhubungan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan terutama mutu pendidikan Islam yang sedang kita bahas sekarang ini.Oleh karena itu ,dengan persaingan yang begitu ketet dalam dunia pendidikan,maka pendidikan Islam harus mempunyai terobosan-terobosan baru yang bersifat inovatif sehingga tidak kalah dengan lembaga pendidikan pada umumnya.
Seorang pemimpin harus dapat mengukur sejauh mana output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan Islam,sehingga konsumen dalam hal ini pelanggan yang menggunakan hasil lulusan lembaga pendidikan Islam menjadi puas.Diantara pengguna hasil lulusan yang perlu diperhatikan oleh kepemimpinan suatu lembaga pendidikan terutama lembaga pendidikan Islam adalah :


1.Siswa
Siswa harus merasa aman,nyaman didalam sebuah lembaga pendidikan tersebut sehingga proses belajar mengajar akan berjalan baik dan menyenangkan.
2.Orang tua siswa.
Ketika orang tua siswa merasa puas dengan pendidikan yang diberikan oleh lembaga pendidikan dimana anaknya belajar,maka akan menjadi sebuah kepercayaan yang sangat baik dari orang tua siswa terhadap lembaga pendidikan tersebut sebagi modal untuk kemajuan dan pengembangan.
3.Pendidikan lanjutan.
Sebuah institusi lembaga pendidikan dimana siswa akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,maka lembaga tersebut akan menilai sejauh mana kualitas pendidikan dari lembaga pendidikan penghasil lulusan tersebut.Apakah hasilnya sesuai yang syaratkan oleh lembaga pendidikan lanjutan didalam penerimaan peserta didik baru.
4.Pemakai tenaga kerja.
Para pemakai jasa tenaga kerja akan melihat sejauh mana kualitas lulusan yang dihasilkan oleh sebuah lembaga pendidikan sehingga ketika mereka bekerja akan mampu menghasilkan kinerja yang baik,maka dalam hal ini biasanya pemakai tenaga kerja akan memilih dari lulusan lembaga pendidikan yang sudah terkenal dan berualitas.
Untuk itulah karena tuntutan konsumen atau pengguna lulusan lembaga pendidikan sangat tinggi dan bersaing ketat maka harus diperhatikan kepemimpinannya dan mutunya sehingga lembaga pendidikan tersebut akan menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dan berkembang dengan baik.


B.Rumasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis dapat merumuskan dan memberi batasan masalah didalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana sifat-sifat ideal pemimpinan dalam meningkatkan mutu dilembaga pendidikan Islam?
2.      Bagaimana syarat-syarat pemimpin lembaga pendidikan dalam peningkatan mutu pendidkan Islam ?
3.      Bagaimana peran pemimpin dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam ?
C.Tujuan Pembahasan.
Pada tujuan pembahasan makalah ini yang akan didiskusikan dan dipresentasikan dalam seminar kelas agar menjadi lebih jelas diantaranya :
1.      Supaya memahami sifat-sifat ideal pemimpinan dalam meningkatkan mutu dilembaga pendidikan Islam.
2.      Agar mengetahui syarat-syarat menjadi pemimpin lembaga pendidikan dalam peningkatan mutu pendidkan Islam .
3.      Agar mengetahui peran pemimpin dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam .







BAB II
KEPEMIMPINAN MUTU PENDIDIKAN ISLAM

A.Pengertian Kepemimpinan
Ada hubungan antara managemen dengan kepemiminan.Sondang P Siagian menegaskan bahwa inti manajemen adalah kepemimpinan.dalam bahasa arab kepemimpinan sering diterjemahkan sebagai al riayah,al imarah,al qiyadah atau al za’amah.Kata-kata tersebut memiliki satu makna sehingga disebut sinonim atau murodif,sehingga kita biasa menggunakan salah satu dari keempat kata tersebut untuk menterjemahkan kata kepemimpinan,sementara itu untuk menyebut istilah kepemimpinan pendidikan para ahli lebih memilih istilah qiyadah tarbawiyah.
Dengan demikian maka kepemimpinan pendidikan merupakan variable penyebab yang diharapkan membawa perubahan yang baik pada aspek-aspek lainnya baik ekonomi, hukum, politik, social, budaya,kesehatan,dan lain sebagainya.
Aspek-aspek ini dapat mengalami perubahan positif-konstruktif manakala pendidikan memiliki kepemimpinan yang berkualitas yaitu suatu kepemimpinan yang benar-benar professional yang didasari pengalaman,pendidikan dan keterampilan.ini berarti kepemimpinan pendidikan diyakini sebagai pilar utama dalam merealisasikan kemajuan peradaban bangsa dan Negara.
Didalam lembaga pendidikan Islam ,pemimpin benar-benar harus dipersiapkan dan dipilih secara selektif,mengingat peran yang dimainkan pemimpin dapat mempengaruhi kondisi keseluruhan organisasi.maju mundurnya lembaga pendidikan lebih ditentukan oleh factor pemimpin dari pada factor-faktor lainnya.memang ada keterlibatan factor-faktor lain dalam memberikan kontribusi kemajuan lembaga atau kemunduran lembaga,tetapi posisi pemimpin masih merupakan factor yang paling kuat dan paling menentukan nasib kedepan dari suatu lembaga pendidikan Islam.
Dengan demikian ,jika kita memperhatikan pendidikan Islam sebaiknya melihat tipologi pemimpinya. Dari tipologi pemimpin ini segera didapatkan gambaran tentang kualitas pendidikan Islam tersebut. Ismail Raji’Al Faruqi menegaskan :” Pemimpin-pemimpin pendidikan didunia Islam adalah orang-orang yang tidak memiliki ide,kultur dan tujuan.” Gambaran tipologi pemimpin seperti ini melambangkan pemimpin yang pasif ,jauh dari kreatifitas, solusi, inovasi, produktifitas dan lain sebagainya. Dengan pengertian lain pemimpin-pemimpin yang hanya secara formalitas menduduki jabatannya sebagai pemimpin dan bekerja secara rutin meneruskan tradisi yang telah berjalan,merupakan kepemimpinan yang kontraproduktif bagi kelangsungan dan kemajuan lembaga pendidikan Islam.
Pernyataan Al faruqi itu dilontarkan pada era tahun 1980-an dan ternyata pernyataan tersebut terbukti benar dalam realita dilapangan.Hal ini tentunnya harus menjadi keprihatinan para pemikir pendidikan Islam,bahwa ternyata pendidikan Islam terbelenggu justru oleh pemimpinya sendiri,yang seharusnya secara idealis menjadi tumpuan harapan umat untuk membawa perubahan-perubahan yang benar-benar menjanjikan perubahan masa depan pendidikan Islam.Hal ini merupakan tragedy bagi dunia Islam.Apakah sekarang ini pemimpin pendidikan Islam masih seperti gambaran Al Faruq itu? Bila kondisi mereka masih seperti itu berarti tragedi tersebut telah dan terus menerus menghancurkan sendi-sendi kekuatan pendidikan Islam .
Oleh karena itu pemimpin seharusnya berkonsentrasi pada pemikiran,lalu bertindak memajukan lembaga pendidikan Islam sehingga mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang maju serta dapat menjaga kualitas.
B.Sifat-sifat ideal kepemimpinan
Selanjutnya untuk mencapai kesuksesan kepemimpinan pada lembaga pendidikan Islam maupun kesuksesan dalam interaksi social dengan orang lain,terutama para bawahan,seorang pemimpin dituntut memiliki sifat-sifat ideal yang bervariasi. Idealnya sifat-sifat yang baik dapat terkumpul pada diri seorang pemimpin,sehingga dapat memberikan jaminan perbaikan suatu lembaga pendidikan Islam yang dikendalikannya.
Ali Muhammad Taufiq[1] menjelaskan macam-macam sifat kondusif yang harus dimiliki oleh pemimpin berikut ini :
1.      Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk mengendalikan lembaganya
2.      Mempungsikan keistimewaan yang lebih dibanding orang lain ( QS Al Baqoroh :247 )
3.      Memahami kebiasaan dan bahasa orang yang menjadi tanggung jawabnya ( QS Ibrahim : 4 )
4.      Mempunyai karisma dan wibawa dihadapan manusia atau orang lain ( QS hud : 91 )
5.      Konsekuen dengan kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu ( QS Shad : 26 )
6.      Bermuamalah dengan lembut dan kasih saying terhadap bawahannya agar orang lain simpatik kepadanya ( QS Ali Imran :159
7.      Menyukai suasana saling memaafkan antara pemimpin dan pengikutnya serta membantu mereka agar segera terlepas dari kesalahan ( QS Ali Imran : 159 )
8.      Bermusyawarah dengan para pengikut serta mintalah pendapat dan pengalaman mereka ( QS Ali Imran : 159 )
9.      Menertibkan semua urusan dan membulatkan tekad untuk bertawakal kepada Allah swt ( QS Ali Imran : 159 )
10.  Membangun kesadaran akan adanya pengawasan dari Allah swt (Muraqabah) sehingga terbina sikap ikhlas dimanapun kendati tidak ada yang mengawasi kecuali Allah swt.
11.  Memberikan santunan social ( Takaful ‘ijtima) kepada para anggota sehingga tidak terjadi kesenjangan social yang menimbulkan rasa dengki dan perbedaan strata social yang merusak ( QS Al Hajj :41 )
12.  Mempunyai power dan pengaruh yang dapat memerintah serta mencegah karena seorang pemimpin harus melakukan control pengawasan atas pekerjaan anggota,meluruskan kekeliruan,serta mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran ( QS Al Hajj : 41 )
13.  Tidak membuat kerusakan dimuka bumi serta tidak merusak lading,keturunan dan lingkungan ( QS Al Baqarah : 205 )
14.  Bersedia mendengar nasihat dan tidak sombong karena nasihat dari orang yang ikhlas jarang sekali kita peroleh ( QS Al Baqarah : 206 )

C.Syarat-syarat menjadi pemimpin lembaga pendidikan islam[2]
1.Menurut Mulyasa
Pemimpin dituntut untuk memiliki kemampuan membangkitkan motivasi para tenaga pendidik yang bekerja dilembaga yang dipimpin,sehingga mereka dapat meningkatkan kinerja dalam berkarya.
2.Menurut Tilaar
Kepemimpinan pendidikan Islam diera repormasi harus diserahkan kepada orang yang mempunyai wawasan luas sehingga dapat mengakomodasikan berbagai pikiran dan pandangan masyarakat yang semakin dewasa.
Dari kedua pendapat ini terdapat perbedaan orientasi tetapi saling melengkapi,Mulyasa menghendaki tuntutan pemimpin untuk memperbaiki internal organisasi sedang menurut Tilaar lebih menekankan tuntutan untuk menekan kondisi eksternal dimasyarakat luas. Sebagai pemimpin kedua tuntutan tersebut harus diperhatikan dan dipenuhi secara berimbang agar organisasi pendidikan Islam berjalan secara kondusif.
Dalam menghadapi kehidupan terbuka abad 21 ini,diperlukan pemimpin yang professional yaitu pemimpin yang bukan hanya menguasai kemampuan dan keterampilan untuk memimpin tetapi juga harus :
1.      Dapat mengejawantahkan nilai-nilai Islam dalam system pendidikan Islam
2.      Menguasai nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan permintaan zaman.
Bagi Manager pendidikan Islam ,tidak bisa sekedar memiliki keinginan yang harus diikuti oleh bawahan, tanpa bisa menunjukan keteladanan bagi mereka.Dalam Islam antara ucapan dan perbuatan harus relevan.Bila seseorang berani menyeru kepada orang lain untuk melakukan kebaikan maka ia harus menjalankan seruan tersebut bahkan praktek dalam kehidupan sehari-hari harus lebih dulu dilakukan sebab orang yang mendengarkan seruan tersebut senantiasa akan memperhatikan prilaku orang yang melakukan seruan kebaikan.
Firman Allah swt dalam surat As-Shaff : 2-3
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak kerjakan? Amat besar kebencian disisi Allah swt bahwa kamu mengatakan apa-apa yang kamu tidak kerjakan…(QS As-Shaff :2-3)[3]
Inspirasi yang ditangkap dari ayat tersebut adalah :
1.      Anjuran bagi orang-orang yang beriman untuk menjaga konsistensi antara keyakinan,lisan dan perbuatan.
2.      Larangan bersikap inkonsisten antara perkataan dan perbuatan.
3.      Peringatan supaya berhati-hati dalam menyerukan sesuatu
4.      Keharusan untuk mengukur atau mengevaluasi diri sendiri
5.      Anjuran utuk menjadi teladan terlebih dahulu sebelum mangatakan sesuatu.
Pada bagian lain ada tipe kemampuan dasar yang harus dimiliki pemimpin atau penyelenggara pendidikan Islam :
A.    Kemampuan managerial dalam kaitannya dengan chief officer
B.     Sense of business,kemampuan ini berhubungan dengan pencarian sumber dana yang akan menjamin tetap terlaksananya oprasional pendidikan
C.     Sense of educated,kemampuan dalam mendidik.
Disini perlu ada catatan bagi kemampuan kedua yaitu sense of business,kemampuan-kemampuan tersebut harus dikerahkan oleh pemimpin hanya untuk kepentingan lembaga pendidikan Islam.Sebab jika digunakan untuk kepentingan pribadi justeru akan menjerumuskan lembaga pendidikan yang dipimpinnya dan akan merusak perjalanan pendidikan.Yang pada akhirnya akan menggerogoti potensi yang dimiliki oleh lembaga pendidikan,baik potensi fisik seperti keuangan maupun potensi non fisik seperti rasa social,kedamaian,kerukunan dan lain sebagainya.
Power atau Pengaruh yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin[4] diantaranya:
1.      Power eksekutif pelaksanaan yaitu pengaruh yang dapat menimbulkan karisma dan wibawa untuk mengatur anggota kelompok atau orang lain.
2.      Power legeslatif pembuat hukum yaitu pengaruh untuk mengatur hubungan antar kelompok satu dengan kelompok lainnya.
3.      Power pembuat keputusan yaitu pengaruh untuk mendamaikan perselisihan yang terjadi dalam penerapan hukum.
Artinya pengaruh ini jika dicermati ternyata mencerminkan kekuasaan untuk mengatur hubungan antara pemimpin dengan bawahannya,maka masih diperlukan pengaruh lainnya bagi pemimpin lembaga pendidikan Islam yang berguna sebagai pengatur interaksi lembaga dengan dunia luar.Misalnya : Pengaruh ketokohan sehingga merefleksikan daya tarik bagi orang lain untuk menjadi santri,siswa maupun mahasiswa dalam lembaga pendidikan Islam dan juga pengaruh dalam menjalin kerjasama yang menguntungkan lembaga dengan orang atau instansi diluar.
 D.Manajemen Mutu Pendidikan Islam
Seluruh manajemen komponen pendidikan Islam harus senantiasa berorientasi pada pencapaian kualitas.semua program dan kegiatan pendidikan serta pembelajaran dilembaga pendidikan Islam harus diarahkan pada pencapaian mutu,walaupun sekarang ini persoalan mutu masih menjadi pembahasan pada tataran idealism belum menjadi realitas dalam lembaga pendidikan ,sehingga mutu pendidikan ini benar-benar misterius. Maka perlu dikerahkan semua pikiran ,tenaga dan strategi untuk dapat mewujudkan mutu tersebut dalam lembaga pendidikan termasuk lembaga pendidikan Islam.
Bank Dunia pada tahun 1999 mensinyalir bahwa salah satu penyebab makin menurunya mutu pendidikan di Indonesia adalah kurang profesionalnya para kepala sekolah sebagai manajer pendidikan dilapangan. Sinyalemen ini meskipun perlu dibuktikan,agaknya memang benar karena kepala sekolah sebagai pengendali adalah figure yang bertanggung jawab untuk menggerakan kesadaran semua pihak, strategi pembelajaran,pengondisian lingkungan belajar dan sebagainya.Ketika unsure-unsur tersebut tidak berkembang maka pemimpinnya yang disalahkan terlebih dahulu.Apakah dia telah berusaha maksimal untuk mempasilitasi terwujudnya mutu pendidikan atau belum?
Apabila pemimpinnya telah berusaha secara maksimal untuk mewujudkan mutu pendidikan yang rasional tetapi hasilnya masih tetap rendah berarti ada factor atau actor lain yang menghambat pencapaian mutu pendidikan tersebut.
Ada factor internal sekolah yang  memberi kontribusi signifikan terhadap mutu pendidikan yaitu :
1.      Kesejahteraan guru
2.      Kemampuan guru
3.      Sarana kelas
4.      Buku-buku pelajaran
Sedangkan factor lain yang lebih rinci adalah sebagai berikut :
1.      Siswa,terutama yang menyangkut masalah keesiapan dan motivasi belajarnya.
2.      Guru,terutama menyangkut kemampuan propesional,moral kerja (kemampuan personal ),dan kerjasamanya ( kemampuan social ).
3.      Kurikulum,terutama menyangkut relevansi isi dan oprasionalisasi proses pembelajarannya.
4.      Dana,sarana dan prasarana terutama menyangkut kecukupan dan efektivitas dalam mendukung proses pembelajaran.
5.      Masyarakat ( orang tua,pengguna lulusan,dan perguruan tinggi ) terutama menyangkut partisipasi mereka dalam pengembangan program-program pendidikan disekolah.
Mutu komponen-komponen tersebut harus menjadi focus perhatian pimpinan sekolah.Dan semua pihak yang terlibat harus proaktif mendukung terwujudnya mutu pendidikan,kendati peran yang paling besar dimainkan oleh pimpinan,tetapi perananitu tidaak bias fungsional jika tidak didukung oleh pihak lain artinya memang harus ada umpan balik atau interaksi antara manajer dengan bawahannya untuk bergerak bersama-sama secara sinergis mewujudkan mutu pendidikan.
Mutu pendidikan yang dimaksud disini adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikn untuk meningkatkan kemampuan seoptimal mungkin dalam arti mencakup input,proses dan output pendidikan.
Pendidikan dikatakan bermutu jika input,proses dan hasilnya dapat memenuhi persyaratan yang dituntut bagi pengguna jasa pendidikan[5].Bila performance-nya dapat melebihi persyaratan yang dituntut oleh stakeholder ( user )maka suatu lembaga pendidikan baru bias dikatakan unggul.Lazimnya memang formula input,proses dan output ini selalu dipakai.ada beeberapa rumusan yang dapat kita amati berikut ini  :

No

Keadaan input
Keadaan proses
Keadaan output
1

Baik
Baik
Pasti baik
2

Baik
Sedang
Menurun menjadi agak baik
3

Baik
Jelek
Sedang
4

Sedang
Baik
Meningkat
5

Sedang
Sedang
Tetap
6

Sedang
Jelek
Makin jelek
7

Rendah
Baik
Sedang
8

Rendah
Sedang
Cenderung sedikit meningkat
9

Rendah
Jelek
Pasti rendah

Tabel tersebut menunjukan bahwa keadaan proses lebih berpengaruh daripada input.Namun pada umumnya lembaga pendidikan yang ada selalu mengandalkan inputnya termasuk lembaga pendidikan yang sudah maju selalu menerima siswanya yang pandai-pandai saja.Mestinya lembaga pendidikan yang maju atau bonafid harus maampu membuktikan kepada public mampu menjadikan anak yang tadinya lambat menjadi anak yang pandai melalui berbagai upaya terobosan strategis.
Oleh karena itu manajer lembaga pendidikan Islam harus berkonsentrasi pada upaya menjadikan input yang baik melalui proses yang sangat baik untuk menghasilkan output yang unggul atau istimewa.
E.Peran Pemimpin dalam mengembangkan Mutu
Apakah peran pemimpin dalam sebuah institusi yang mengusahakan inisiatif mutu terpadu ? Tidak ada satupun yang menyatakan hal itu secara keseluruhan,namun pungsi utama pemimpin[6] adalah sebagai berikut :
1.      Memiliki visi terpadu bagi institusi
2.      Memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu
3.      Mengkomunikasikan pesan mutu
4.      Memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebaikan dan praktek institusi
5.      Mengarahkan perkembangan karyawan
6.      Berhati-hati dan tidak menyalahkan orang lain saat persoalan muncul tanfa bukti-bukti yang nyata.Kebanyakan persoalan yang muncul adalah hasil dari kebijakan institusi dan bukan kesalahan staf
7.      Memimpin unovasi dalam institusi
8.      Mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tenggungjawab dan mampu mempersiapkan deelegasi yang tepat.
9.      Memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan baik yang bersifat organisasional maupun cultural.
10.  Membangun tim yang efektif.
11.  Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan
Spanbauer[7] telah menyampaikan pengarahan bagi para pemimpin dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang baru.Dia berpendapat bahwa pemimpin institusi pendidikan harus memandu dan membantu pihak lain dalam mengembangkan karakteristik yang serupa,sehingga sikap teresebut mendorong terciptanya tanggungjawab bersama-sama serta sebuah gaya kepemimpinan yang melahirkan lingkungan kerja yang interaktif.
Pemimpin memiliki peran yang sangat penting dalam memandu guru dan para administrator untuk bekerjasama dalam satu kelompok tim,oleh karena itu arahan dari spanbauer dapat diartikan bahwa pemimpin harus :
1.      Melibatkan para guru dan seluruh staf dalam aktifitas penyelesaian masalah dengan menggunakan method ilmiah dasar,prinsip-prinsip mutu statistic dan control proses.
2.      Memilih untuk minta pendapat mereka tentang berbagai hal dan tentang bagaimana mereka menjalankan proyek dan tidak sekedar enyampaikan bagaimana seharusnya mereka bersikap.
3.      Menyampaikan sebanyak mungkin informasi manajemen untuk membantu pengembangan dan peningkatan komitmen mereka.
4.      Menanyakan pendapat staf tentang system dan prosedur mana saja yang menghalangi mereka dalam menyampaikan mutu kepada para pelanggan.
5.      Memahami bahwa keinginan untuk meningkatkan mutu tidak sesuai dengan pendekatan manajemen atas kebawah ( Top-down )
6.      Memindahkan tanggung jawab dan control manajemen tenaga professional langsung kepada guru dan pekerja teknis.
7.      Mengimplementasikan komunikasi yang sistematis dan kontinyu diantara setiap orang yang terlibat dalam sekolah.
8.      Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah serta negoisasi dalam rangka menyelesaikan konflik.
9.      Memiliki sikap membantu tanpa harus mengetahui semua jawaban dari setiap masalah dan tanpa rendah diri.
10.  Menyediakan materi pembelajaran konsep mutu seperti membangun tim,manajemen proses,layanan pelanggan,komunikasi serta kepemimpinan.
11.  Memberikan teladan yang baik dengan cara memperlihatkan karakteristik yang diinginkan dan menggunakan waktu untuk melihat-lihat situasi dan kondisi institusi dengan mendengarkan keinginan guru dan pelanggan lainnya.
12.  Belajar untuk berperan sebagai pelatih dan bukan sebagai bos.
13.  Memberikan otonomi dan berani mengambil resiko.
14.  Memberikan perhatian yang berimbang dalam menyediakan mutu bagi para pelanggan eksternal dan kepada para pelanggan internal.










BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1. Pada akhir makalah ini penulis menyimpulan bahwa kepemimpinan pendidikan merupakan variable penyebab yang diharapkan membawa perubahan yang baik pada aspek-aspek lainnya baik ekonomi, hukum, politik, social, budaya,kesehatan,dan lain sebagainya.
2. Kepemimpinan berperan untuk mencapai kesuksesan pada lembaga pendidikan Islam maupun kesuksesan dalam interaksi social dengan orang lain,terutama para bawahan,dan seorang pemimpin dituntut memiliki sifat-sifat ideal yang bervariasi.
3.Dalam menghadapi kehidupan terbuka abad 21 ini,diperlukan pemimpin yang professional yaitu pemimpin yang bukan hanya menguasai kemampuan dan keterampilan untuk memimpin tetapi juga harus :
1.      Dapat mengejawantahkan nilai-nilai Islam dalam system pendidikan Islam
2.      Menguasai nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan permintaan zaman
4.Apabila seorang pemimpin telah berusaha secara maksimal untuk mewujudkan mutu pendidikan yang rasional tetapi hasilnya masih tetap rendah berarti ada factor atau actor lain yang menghambat pencapaian mutu pendidikan tersebut.
B.Rekomendasi dan Saran
Dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam hendaknya seorang pemimpin harus mempunyai visi misi serta tujuan yang ingin dicapai.
Para pemimpin dan calon pemimpin suatu lembaga pendidikan diharapkan mampu mempelajari dan bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya agar mutu pendidikan Islam yang diharapkan dapat tercapai.
Belajarlah dengan sungguh-sungguh agar apa yang diharapkan dapat tercapai dan memuaskan.
                                                            

















DAFTAR PUSTAKA

Qomar,Mujamil,Prof,Dr,Manajemen Pendidikan Islam,Erlangga, Jakarta, cet.1,th 2007
Sallis,Edward,Total Quality Management in Education,Manajemen Mutu Pendidikan,IRCiSoD,Jogjakarta,cet.iv th 2006
-------------Departemen Agama RI,Al Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta, tahun 2008
Hikmat,Manajemen Pendidikan,Bandung:Pustaka Setia,Cet I,Th2009
Marbun,BN,Eko Henriyanto,Pengendalian Mutu Terpadu,Jakarta:Gramedia ,cet III,th 1993


[1] Qomar,Mujami,Manajemen Pendidikan Islam,hal.277
[2] Ibid,hal.208
[3] Departemen agama RI,Al qur’an dan terjemah,tahun 2008
[4] Opcit,hal.285
[5] Qomar,Mujamil,Manajemen Pendidikan Islam,hal.207
[6] Sallis,Edward,Total Quality management in Education,Manajemen Mutu Pendidikan,hal 173
[7] Ibid,hal 175

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar