STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Minggu, 27 November 2011

Pengembangan Tujuan, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam keseluruhan proses belajar mengajar, tujuan, pendekatan dan metode belajar mengajar memilki peran yang sangat strategis dan fungsional. Dikatakan strategis karena merupakan “siasat” yang penuh makna untuk mencapai tujuan. Fungsional berarti memberikan dampak langsung terhadap pencapaian tujuan.
Oleh karena itu, kegiatan belajar mengajar bukanlah sekedar aktivitas yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berada dalam suatu ruangan atau lingkungan, melainkan merupakan suatu interaksi orientasi, target dan bertujuan yang jelas. Interaksi yang bertujuan itu diciptakan dan dimaknai guru dalam membentuk lingkungan yang bernilai religious, edukatif, dan produktif dengan sepenuhnya diabadikan demi kepentingan anak didik dalam belajar. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban yang inheren bagi guru agar menjadi pembimbing yang baik, arif dan bijaksana, untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, menyenangkan dan mencerdaskan, sehingga tercipta lingkungan benar-benar edukatif.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pengembangan tujuan, pendekatan dan metode pembelajaran?
2. Pendekatan apa saja yang digunakan dalam proses pembelajaran? khususnya dalam proses pembelajaran PAI !
3. Metode apa saja yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran?








BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tujuan, Pendekatan, Dan Metode Pembelajaran
1. Pengertian Pengembangan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan tugas belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa. tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar.
Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran atau yang di sebut juga dengan tujuan intruksional, merupakan tujuan yang paling khusus.
Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat di definisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang study tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melalukan pembelajaran di suatu sekolah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran itu adalah tugas guru. Sebelum guru melakukan proses belajar mengajar, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai oleh anak didik setelah mereka selesai mengikuti pelajaran.
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa : (1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogya nya dibuat secara tertulis (written plan).
Menurut Oemar Hamalik (2005) bahwa komponen-komponen yang harus terkandung dalam tujuan pembelajaran, yaitu (1) perilaku terminal, (2) kondisi-kondisi dan (3) standar ukuran. Hal senada dikemukakan Mager (Hamzah B. Uno, 2008) bahwa tujuan pembelajaran sebaiknya mencakup tiga komponen utama, yaitu: (1) menyatakan apa yang seharusnya dapat dikerjakan siswa selama belajar dan kemampuan apa yang harus dikuasainya pada akhir pelajaran; (2) perlu dinyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat mendemonstrasikan perilaku tersebut; dan (3) perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat diterima.
Tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara jelas. Dalam hal ini Hamzah B. Uno (2008) menekankan pentingnya penguasaan guru tentang tata bahasa, karena dari rumusan tujuan pembelajaran itulah dapat tergambarkan konsep dan proses berfikir guru yang bersangkutan dalam menuangkan idenya tentang pembelajaran.
2. Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum dan Pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan.
Roy Killen (1998) mencatat ada dua pendekatan dalam belajar dan pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan belajar dan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif.
Penentuan pendekatan pembelajaran bagi guru jelas harus di landaskan pada nilai-nilai yang dapat di pertanggungjawabkan, baik secara akademis maupun secara tehnik.

3. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode secara harfiah berarti ‘cara’. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Kata ‘pembelajaran’ berarti segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada pada diri siswa. Jadi metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan.
Metode juga dapat di artikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Ini berarti, metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangkaian system pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran.
Dengan demikan, salah satu keterampilan guru yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran adalah keterampilan memilih metode. Pemilihan metode berkaitan langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran diperoleh secara optimal. Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimna memahami kedudukan metoe sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan komponen pendidikan.
B. Pendekatan Belajar Mengajar
Berdasarkan kurikulum atau garis-garis besar Program Pengajaran (GBPP) pendidikan agama islam SLTP tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk Pendidikan Agama Islam yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional dan pendekatan fungsional. Kelima pendekatan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Pendekatan Pengalaman
Sebuah peribahasa mengatakan bahwa experience is the best teacher. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Belajar dari pengalaman adalah belajar tentang realitas dan merupakan belajar langsung dari setiap peristiwa yang dijalani dan dirasakan langsung, bukan yang kita hayalkan. Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan oleh segenap potensi seseorang baik fisik maupun psikis. Karena itu, the prosess of learning is doing reaching undergoing experiencing The product of learning are all achieved by the learner througt his own activity.
Pendekatan belajar pengalaman bagi pendidikan agama islam dapat berupa ibadah Qurban disekolah, melakukan shalat idul fitrri, shalat berjamaah di sekolah, ibadah puasa, pembagian zakat fitrah dan lain-lain, dengan kewajiban siswa untuk melaporkan secara tertulis dan kalau perlu menceritakan pengalaman mereka masing-masing dikelas agar terjadi saling mewariskan, saling belajar dan masing-masing mencoba untuk menemukan pengalaman masing-masing.
Untuk pendekatan ini maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode pemberian tugas (resitasi), bermain peran, diskusi dan dialog mengenai pengalaman keagaman masing-masing siswa.
2. Pendekatan Pembiasaan
Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang memakan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya. Maka menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik pada awalkehidupan anak merupakan kunci dan prinsip yang harus di pegang dalam pendidikan, jangan sekali-kali mendidik anak berbohong, berdusta, tidak disiplin, suka berkelahi, tindakan asusila dan tidak bermoral, sebab kebiasaan ini akan berlanjut hingga dewasa.
J.B Waston (1991.29 1) berpendapat bahwa reaksi-reaksi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk dalam perkembangan, karena latihan dan belajar. Jadi, dalam masalah kebiasaan ini, aliran behaviorisme dari J.B Waston dan aliran Empirisme dari john locke lebih dominan di bandingkan dengan aliran nativisme dari schophenhour.
Bertolak dari pendekatan diatas, maka Pendidikan Agama Islam sangat berkepentingan dengan pendekatan pembiasaan, karena berkaitan dengan ketaatan pada ajaran islam, dengan salah satunya melalui pembiasaan. Dalam pendekatan ini terkadang mengesampingkan pengertian atau pemahaman akan apa yang dilakukannya, tetapi yang di utamakan adalah kebiasan melakukan sesuatu secara istiqomah, sedangkan pengertian dan pemahaman akan muncul pada tahapan-tahapan berikutnya.
3. Pendekatan Emosional
Akhir-akhir ini dunia pendidikan kita mendapatkan angin segar dari Lawrence E Shapiro, penulis buku mengajarkan Emotional Intelligence pada anak, yang dengan tegas mengakui pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada anak dengan kedudukan yang setara dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan Emosional meliputi, empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat.
Prinsip pemakaian metode dalam pendekatan ini adalah bagaimana agar setiap proses pendidikan mampu melahirkan keseimbangan perkembangan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional sehingga dapat menghasilkan anak didik yang cerdas tetapi memiliki moralitas yang tinggi. Kata B.J. Habibie, “Bangsa kita perlu memiliki otak jerman tetapi berhati Mekah”. Ungkapan ini untuk menunjukan urgensi kecerdasan intelektual dan emosional dikembangkan secara bersamaan.
4. Pendekatan Rasional
Manusia merupakan makhluk yang berfikir. Berfikir merupakan ciri dan karakter manusia yang paling asasi. Dengan berfikir manusia mampu mengembangkan ilmu (science), pengetahuan (knowledge), dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Menurut Dedi Supriadi (1994,47), kapasitas otak manusia atau kemampuan berfikir manusia yang di tunjukkan dalam memory otaknya mampu menampung satu milyar megabyte informasi. Apabila diperhatikan secara seksama, kekeliruan dalam pengajaran selama ini adalah kurangnya perhatian terhadap pengembangan fungsi-fungsi otak belahan kanan, sedangkan belahan otak kiri terus dijejali kemampuan berfikir ligis, rasional dan linier, sehingga terjadilah ketidak seimbangan. Isi pendidikan yang baik bukanlah yang mengutamakan salah satu fungsi otak, tetapi yang dapat melatih keseimbangan kedua fungsi otak, sebab seperti halnya kreativitas hanya dapat muncul dari adanya perpaduan kedua fungsi tersebut.
5. Pendekatan Fungsional
Pendekatan fungsioanal dalam pembelajaran menghendaki adanya proses belajar yang lebih bersifat pragmatis, praktis dan fungsional. Pragmatis memiliki arti bahwa kemampuan-kemampuan teoritik yang diperoleh dalam pembelajaran memberikan ruang bertindak secara realistis, bertindak berdasarkan asis teori yang jelas. Sedangkan praktis memiliki arti bahwa belajar memiliki arti teknis untuk melakukan pekerjaan secara fungsional, memiliki makna, bermanfaat, dan memiliki nilai guna yang dirasakan langsung oleh si pembelajar dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai jenis pendekatan dalam pembelajaran merupakan salah satu refleksi guru atas pemahaman hakekat anak didik dalam memberikan informasi.
C. Macam-Macam Metode Yang Dapat Dipakai Dalam Proses Pembelajaran
Berikut ini beberapa metode pembelajaran yang biasa digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran.
1. Metode Ceramah
Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa.
Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain di sebabakan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga kartena adanya factor kebiasaan baik dari guru ataupun siswa. Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaan melalui ceramah, sehingga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Metode ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori.
Kelebihan dan kelemahan metode ceramah:
a. Ceramah merupakan metode yang murah dan mudah untuk dilakukan. Murah dalam hal ini dimaksudkan proses ceramah tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap, berbeda dengan metode yang lain seperti demonstrasi atau peragaan. Sedangkan mudah, memang ceramah hanya mengandalkan suara guru, dengan demikian tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit.
b. Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dalam waktu yang singkat.
c. Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang mana yang perlu ditekankan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.
d. Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas, oleh karena sepenuhnya kelas merupakan tanggungjawab guruyang memberikan ceramah.
e. Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah agar menjadi lebih sederhana. Ceramah tidak memerlukan setting kelas yang beragam, atau tidak memerlukan persiapan-persiapan yang rumit. Asal siswa dapat menempati tempat duduk untuk mendengarkan guru, maka ceramah sudah dapat dilakukan.
Disamping beberapa kelebihan diatas, ceramah juga memilki beberapa kelemahan, di antaranya:
a. Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Kelemahan ini memang kelemahan yang paling dominan, sebab apa yang diberikan guru adalah apa yang dikuasainya, sehingga apa yang dikuasai siswa pun akan tergantung pada apa yang dikuasai guru.
b. Ceramah tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme. Verbalisme adalah “penyakit” yang sangat mungkin di sebabkan oleh proses ceramah. Oleh karena itu, dalam proses penyajiannya guru hanya mengandalkan bahasa verbal dan siswa hanya mengandalkan kemampuan auditifnya. Sedangkan, disadari bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang tidak sama.
c. Guru yang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan. Sering terjadi, walaupun secara fisik siswa ada di dalam kelas, namun secara mental siswa sama sekali tidak mengikuti jalannya proses pembelajaran.
d. Melalui ceramah sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum.
2. Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi di gunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan sesuatu, membandingkan sesuatu cara dengan cara lain dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
Tujuan pokok penggunaan ini dalam proses pembelajaran adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu.
Sebagai suatu metode pembelajaran demonstrasi memiliki benerapa kelebihan diantaranya:
a. Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memerhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
b. Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
c. Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan.
Kelemahannya:
a. Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang sangat matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga bisa menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.
b. Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-baahn dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
c. Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru di tuntut untuk professional.
3. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen,1998). Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
Dilihat dari pengorganisasian materi pembelajaran, ada perbedaan yang sangat prinsip dibandingkan dengan metode sebelumnya, yaitu ceramah dan demonstrasi. Kalau metode ceramah atau demonstrasi materi pelajaran sudah diorganisir sedemikian rupa sehingga guru tinggal menyampaikannya, maka tidak demikian halnya dengan metode diskusi. Pada metode ini bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya serta tidak disajikan secara langsung kepada siswa, materi pembelajaran ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri, oleh karena tujuan utama metode ini bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar.
Secara umum ada dua jenis diskusi yang biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Pertama diskusi kelompok, diskusi ini dinamakan diskusi kelas. Pada diskusi ini permasalahan yang disajikan oleh guru di pecahkan oleh kelas secara keseluruhan. Dan yang mengatur jalannya disjusi itu adalag guru sendiri. Kedua, diskusi kelompok kecil. Siswa di bagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok di bagi 3-7 orang. Proses pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru menyajikan masalah dengan beberapa submasalah. Setiap kelompok memecahkan submasalah yang disampaikan guru, dan proses diskusi diakhiri dengan laporan kelompok.
Kelebihan dari metode diskusi adalah:
a. Metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide.
b. Dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
c. Dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Selain itu diskusi juga bisa melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
Kelemahannya:
a. Sering terjadi pembicartaan dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara.
b. Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur.
c. Memerlukan waktu yang cukup panjang
d. Dalam diskisi sring terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol. Akibatnya kadang2 ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat mengganggu iklim pembelajaran.
4. Metode Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman beljar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar engan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Belajar bagaimana cara mengoperasikan sebuah mesin yang mempunyai karakteristik khusus misalnya, siswa sebelum menggunakan mesin yang sebenarnya akan lebih bagus melalui simulasi terlebih dahulu. Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa, penggunan simulasi akan sangat bermanfaat.
Adapun bentuk-bentuk simulasi adalah:
a. Peer teaching
Latihan atau praktek mengajar, yang menjadi siswanya adalah temannya sendiri, tujuannya untuk memperoleh keterampilan dalam mengajar.
b. Sosiodrama
Sandiwara atau dramatisasi tanpa bahan tertulis tanpa latihan terlebih dahulu, dan tanpa menyuruh anak menghafal sesuatu.
c. Psikodrama
Permainan peranan yang dilakukan, dimaksudkan agar individu yang bersangkutan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan self concept. Dan psikodarma di gunakan untuk kebutuhan terapi.
d. Simulasi game
Permainan bersaing untuk mencapai tujuan tertentu dengan menaati peraturan-peraturan yang di tetapkan. Misalnya permainan ular tangga, catur,dan lain-lain.
e. Role Playing
Situasi suatu masalah yang diperagakan secara singkat, dengan tekanan utama pada karakter atau sifat orang-orang, kemudian di ikuti oleh diskusi tentang masalah yang baru di peragakan tersebut. Tujuannya adalah untuk memecahkan masalah dan agar memperoleh kesempatan untuk merasakan perasan orang lain.



5. Metode tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyan yang harus di jawab, terutama dari guru pada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang berfikir dan membimbing siswa dalam mencapai kebenaran.
Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok-pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi membaca materi yang akan dibahas.
6. Metode belajar kooperatif
Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. Model belajar kooperatif yang sering diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model jigsaw yakni tiap anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan atau diajarkan pada teman sekelompoknya.
7. Metode ekspositori atau pemeran
Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.


8. Metode karyawisata/widyamisata
Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan yang tidak sebentar.
Alasan penggunaan metode ini antara lain adalah karena objek yang akan dipelajari hanya ada ditempat objek itu berada. Selain itu pengalaman langsung pada umumnya lebih baik dari pada tidak langsung. Beragam manfat atau faedah yang dapat dipetik dari kegiatan karyawisata, diantaranya: menyegarkan tubuh, menambah kesehatan, melatih anak-anak agar kuat, mampu menahan dahaga dan lapar, dan lain-lain.
9. Metode penugasan
Metode penugasan adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan cara guru memberi tugas tertentu kepada siswa dalam waktu yang telah ditentukan dan siswa mempertanggungjawabkan tugas yang dibebankan kepadanya.
Metode ini berarti juga guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi dalam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.
10. Metode eksperimen
Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal dari pada hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan penemuan.
11. Metode bermain peran
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama.
12. Brain storming
Dalam Metode ini disajikan sebuah soal. Lalu para peserta / siswa diajak untuk mengajukan ide apapun mengenai soal itu, tidak peduli seaneh apapun ide itu. Ide-ide yang aneh tidak ditolak secara apriori, tetapi dianalisis, disintesis, dan dievaluasi juga.
13. Metode tutorial
Metode ini diberikan bantuan tutor. Setelah siswa diberikan bahan ajar, kemudian siswa di mintai untuk mempelajari bahan ajar tersebut pada bagian yang dirsakan sulit, siswa dapat bertanya kepada tutor.



DAFTAR PUSTAKA
Muhibbin Syah
Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosda Karya.1995
M. sobry Sutikno,
belajar dan pembelajaran, prospect. 2008 : Bandung.
Pupuh Faturrahman,
strategi belajar mengajar suatu pendekatan baru dan praktis, Tunas nusantara,Bandung 2001
H.S.Witherington dan W.H. Burton, 1986,57
Roestiyah.
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta. 1991
Wina Sanjaya,
Strategi Pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, Jakarta: kencana.2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar