STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 29 November 2011

PERAN KEGIATAN EKSTRA KURIKULER “SEKSI KEROHANIAN ISLAM” DALAM PEMBINAAN MENTAL SISWA SMUN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Siswa adalah suatu komponen input dalam proses pendidikan. Berhasil dan tidak berhasil dalam proses pendidikan banyak tergantung pada bagaimana keadaan, kemampuan, tingkat perkembangan dari siswa itu sendiri. Bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diresapi atau sama sekali tidak dihayati bergantung pada apakah siswa memberi sambutan atau menolaknya. Selain dari itu, hasil pendidikan atau proses kemajuan siswa sudah tentu tidak sama untuk setiap orang, oleh kerena itu antar siswa yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan secara inividual, baik perbedaan fisik, psikologis, maupun perbedaan kondisi social budaya dimana mereka hidup. Berdasarkan uraian tersebut, maka logis dan wajar apabila dalam rangka penyusunaan kurikulum, faktor siswa harus mendapat  perhatian secara seksama.
Dari uraian diatas, kita akan membahas secara singkat tentang: siswa adalah anggota masyarakat, siswa berada dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangan, kebutuhan, minat, dan masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa, perbedaan-perbedaan indivual diatara siswa. Dalam pokok-pokok tersebut kemudian kita tinjauan implikasinya dalam penyusunan kurikulum. 
Para siswa Sekolah Menengah sedang berada pada tingkat perkembangan yang disebut “masa remaja” atau pubertas. Mereka berada dalam masa di mana terjadi perubahan-perubahan psikologis. Dalam masa perubahan itu, siswa umumnya mengalami berbagai kesulitan dan masalah di dalam melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya.
              Seorang siswa yang telah terbina mentalnya akan terwujud pada satu perilaku yang baik yang sesuai dengan norma Islam. Karena salah satu pengenalan Agama untuk nantinya dapat diaplikasikan dan diinternalisasikan terhadap perilaku yang baik.
Ada suatu fenomena di masyarkat sekarang ini tentang bagaiman pemandangan tentang generasi penerus yang mulai tidak menghargai agama mereka, dimana kenyataan modernisasi telah merabah hampir semua nilai-nilai agama yang seharusnya telah tercermin dalam perilaku yang baik. Misalnya: narkoba, tawuran antar sekolah, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya yang sangat merugikan semua orang. Gambaran umum seperti itu sedikit-demi sedikit akan mempengaruhi para remaja yang sedang berkembang, karena gambaran itu terkait dengan lingkungan remaja yang menjadi tantangan bagi Pendidikan terutama Pendidikan Agama Islam bagi Sekolah Menengah Umum. Berangkat dari fenomena tersebut sudah sewajarnya disetiap sekolah dalam menyampaikan meteri tidak terlepas dari tiga kegiatan kurikulum diantaranya adalah intra kurikuler, kokurikuler dan ektra kurukuler yang bertujuan agar remaja sebagai siswa mampu mendalmi dan menghayati serta mampu mengamalkan tentang apa yang telah dipelajari khususnya Pendidikan Agama Islam, yang diharapkan adanya peningktan keimanan dan ketaqwaan kapada Alloh SWT. Kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam seperti darul arqom, kuliah tuju menit (kultum), sholat berjamaah serta peringatan-peringatan hari-hari besar Islam mampu memberikan wawasan yang lebih luas terhadap siswa sebagai peserta didik guna menjadi wahana yang efektif untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas khususnya dalam dimensi religi.
Di SMAN I Trenggalek sebagi tempat untuk penelitian penulis kaitannya dengan pembinaan mental melalui kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam sangat penting untuk dibimbing untuk membentuk aspek afektif yang mencakup mental spiritual mereka. Karena setelah penulis observasi, ternyata lokasi SMAN I Treggalek berada dipusat kota. Hal ini secara tidak langsung sebenarnya akan dapat mempengaruhi jiwa mereka. Karena pada dasarnya siswa SMAN I Treggalek mengalami problem perkembangan pribadinya dan problem pendidikan. Karena agama sebagi pengontrol dan penengah antar pendidikan dan fenomena, melalui kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam, jiwa siswa dapat terbina dengan baik dan setelah pembinaan itu berhasil akan terbentuk perilaku seperti yang dikatakan Zakiyah Darajat:
Agama memberikan bimbingan hidup dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya mulai dari hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan huungan dengan Allah, bahkan dengan alam semesta dan makhluk hidup lain. Jika bimbingan-bimbingan tersebut diujalankan betul-betul akan terjaminlah kebahagiaan dan ketentraman batin dalam hidup ini tiada saling sengketa, adu domba, tiada kecurugaan dalam pergaulan. Hidup aman, damai dan sayang menyayangi antar satu sama lain.[1]

Dari apa yang dikatakan Zakiyah Darajat, dapt disimpulkan bahwa dengan agama, mental atau jiwa mendapatkan ketenangan. Segala kejahatan nafsu akan terkontrol sehingga akan muncul perilaku yang baik. Karena bagaimanapun agama merupakan bibit terbaik yang terbaik yang diperlikan dalam pembinaan kepribadiaanya. Selain itu pendidikan yang ditekankan pada tujuan untuk mencerdaskan Bangsa serta menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia dan bangsa, yang dalam pandangan Al- Qur’an dikenal dengan khoirun ummah. Karena itu pendidikan mempunyai tantangan yang cukup berat serta harus memiliki nilai tambah agar dapat memberikan kesejahteraan lahir dan batin. Selain itu juga harus dapat memberikan perilaku yang membangun yaitu manusia yang kreatif, produktif dan dinamis, efektif dan efisien. Namun pendidikan juga dapat mengembangkan sikap kearifan, yaitu sikap yang mampu memahami makna kehidupan bersama untuk membangun masyarkat, bangsa dan negara.
Disamping itu pendidikan juga harus mampu mentransfer IPTEK dan informasi sebagi sutu keharusan yang tidak dapat dihindari sebagai negara yang ingin mengejar ketertinggalan. Hal ini merupakan konsekuensi menghadapi persaingan global yang kompetatif. Dan hanyalah bangsa yang kreatif dan produktiflah yang dapat eksis dan bertahan dalam kancah persaingan global. Dan kesemuanya itu dapat ditentukan oleh kemampuan suatu bangsa dalam mengembangkan IPTEK dan informasi serta tidak menghilangkan nilai-nilai luhur budaya dan agama. Bagaimana pendidikan agama dapat menjembatani jarak tersebut. Pemberdayaan kembali Pendidikan Agama Islam disekolah merupakan alternatif yang cukup baik melalui kegiatan kurikulum yaitu ektra kurikuler Seksi Kerohanian Islam agar pengetahuan agama yang mereka peroleh dapat teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari karena bagaimanapun sekolah merupakan salah satu tempat terbaik untuk menuangkan ajaran-ajaran pendidikan agama untuk membentuk mental atau jiwa dan pribadi mereka. Cita-cita itu dapat terwujud dengan baik apabila pendidikan agama dijadikan praktek dasar konsepsi pendidikan nasional yang dikembangkan baik melalui pendidikan formal, informal maupun non formal.
Kemudian disusul dengan Undang-undang Sisdiknas yang mengatakan:
Sesuai dengan UU No. 2 tahun 1989 tentang pendidikan nasional memberikan tempat terhormat kepada pendidikan agama. Hal ini terlihat dengan jelas dalam tujuan yang ingin dicapainya yaitu manusia seutuhnya, yang ciri utamanya adalah bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, disamping atribut-atribut lainnya. Dan dapat diduga bahwa jalan yang paling lurus menuju kearah keimanan dan ketaqwaan itu pastilah lewat agama.[2]
Dengan demikian pendidikan Agama Islam diharapikan dapat menjadi perangkat terhadap proses-proses nilai yang semakin kehilangan arah. Artinya nilai-nilai tersebut semakin tidak sesuai dengan ajaran Islam sehingga dampak yang sangt jelas bagi siswa. Adalah hal yang biasa, perilaku asusila dan tindakan kekerasan lainnya terjadi. Inilah korban modernisasi yang belum siap. Diperlukan kesiapan mental untuk menyongsong modernisasi dan satu-satunya jalan adalah dengan memenuhi mental atau jiwa dengan ajaran-ajaran yang suci yaitu agama.
Berbagai penjelasan dan fenomena telah dituangkan penulis, keterkaitan penulis terpanggil untuk mengembangkan pemikiran tentang kegiatan ekstra kurikuler dengan mengangakat judul “Peran Kegiatan Ekstra Kurikuler “Seksi Kerohanian Islam” Dalam Pembinaan Mental Siswa SMUN I Trenggalek
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan beberapa masalah yang menjadi pokok kajian dalam peneklitian ini, diantaranya adalah:
1            Apa latar belakang kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam dalam pembinaan mental siswa di SMAN I Trenggalek?
2            Apa tujuan kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam dalam pembinaan mental siswa di SMAN I Trenggalek ?
3            Apa peran kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam dalam pembinaan mental siswa di SMAN I Trenggalek?
4            Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat realisasi kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam di SMAN I Trenggalek?
 C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang hendak dikaji tersebut maka penelitian ini bertujuan :
1           Untuk mengetahui apa latar belakang SMAN I Trenggalek mengadakan pembinaan mental siswa melalui kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam.
2           Untuk mengetahui apa tujuan dari kegiatan ekstra kurikuler Seksi kerohanian Islam dalam pembinaan mental siswa di SMAN I Trenggalek.
3           Untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam dalam pembinaan mental siswa di SMAN I Trenggalek.
4           Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam di SMAN I Trenggalek.
Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk:
1           Penelitian ini sebagai sarana untuk memperluas wawasan dan memperkaya pengetahuan serta memberikan kontribusi ilmiah terhadap kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam yang direalisasikan di SMAN I Trenggalek sehingga dengan adanya informasi ini dapat dijadikan kerangka acuan pengembangan tradisi intelektual di masa yang akan datang.
2           Membantu memberikan sumbangan pemikiran terhadap problem yang berkaitan dengan relisasi kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam di SMAN I Trenggalek.
3           Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian tentang masalah peran kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam  dalam pembinaan mental siswa untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
4           Penulis baik melalui kajian-kajian kepustakaan maupun dalam bentuk empirik mendapat informasi yang sangat berharga bagi pengembangan diri.
D.    Ruang Ligkup Penelitian
Untuk menghindari kesimpang siuran dan mempermudah pemahaman maka perlu adanya ruang lingkup penelitian atau batasan masalah. Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada masalah yang ada maka penulis memandang perlu untuk menetapkan batasan agar dapat gambaran yang jelas mengenai maksud dan tujuan dalam penulisan skripsi ini dan menghargai kakaburan arah, serata kesimpangsiuran dalam mencari data yang dibutuhkan. Mengingat keterbatasan penulis, baik waktu, tenaga serta biaya, maka penelitian ini dibatasi pada:
1           Pengertian kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam.
2           Pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam meliputi waktu pelaksanaan, bentuk kegiatan, metode, sarana dan prasarana dan evaluasi.
3           Fabktor pendukung dan penghambat relisasi kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam dalam pembinaan mental siswa di SMAN I Treggalek.
E.     Sistematika Pembahasan
Untuk memahami alur pembahasan Skripsi ini penulis memberikan sistematika pembahasan sebagai berikut:
BAB I : Merupakan bab pendahuluan, yang didalamnya memuat latar belakang masalah, yang mengungkapkan permasalahan diseputar kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam dalam membina mental remaja, dilengkapi dengan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, ruang lingkup penelitian, dan masing-masing telah diuraikan diatas dan usaha penulis untuk mempermudah memahami Skripsi ini dicantumkan sistematika pembahasan.
BAB II :    Pada bab ini lebih banyak memberikan tekanan pada kjian atau landasan teoritis yang menunjang permasalahan yang penulis teliti yang berisikan Konsep kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam dalam pembinaan mental siswa.
BAB III:  Merupakan metode pembahasan dan strategi penelitian yang digunakan terhadap kegiatan ekstra kurikuler Seksi Kerohanian Islam.
BAB IV: Merupakan laporan penelitian yang terdiri dari latar belakang obyek dan penyajian dan analisis data.
BAB V:  Merupakan bab terakhir dari pembahasan yang berisikan kesimpulan dan beberapa saran yang berkaitan dengan realitas hasil penelitian.
 

[1] Zakiyah Darajat, Peran Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta, Gunung Agung, 1995, Hlm.59.
[2] Drs. Abidin Ibnu Rusd, Pemikiran Al-Ghozali Tentang Pendidikan, H. Ahmad Ludjito dalam kata sambutannya, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1998

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar