STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 26 Desember 2011

Belajar Dalam Pandangan Alquran Dan Hadist

Pendapat bahwa belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, ternyata bukan hanya sebagai pendapat dari hasil renungan manusia semata. Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu melakukan kegiatan belajar. Walaupun tidak ada ajaran agama yang secara detail membahas tentang belajar, namun setiap ajaran agama baik secara eksplisit maupun implisit telah menyinggung bahwa belajar adalah aktivitas yang dapat memberikan kebaikan kepada manusia.

Aktivitas belajar sangat terkait dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu. Al-qur’an dan Al- sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan (wisdom), serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.

Di dalam al-Qur’an, kata al-‘ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat pertama, yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia:

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmullah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq/96:1-5).

Sejak turunnya wahyu yang pertama kepada nabi Muhammad saw., Islam telah menekankan perintah untuk belajar, ayat pertama juga menjadi bukti bahwa Al-quran memandang penting balajar agar manusia dapat memahami seluruh kejadian yang ada disekitarnya, sehingga meningkatkan rasa syukur dan mengakui akan kebesaran Allah. Pada ayat pertama dalam surat Al-Alaq terdapat kata Iqra’, dimana melalui malaikat jibril Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk “membaca” (iqro’). Menurut Shihab (1997) iqra’ berasal dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun inilah lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Berbagai makna yang muncul dari kata iqra’ tersebut sebenarnya secara tersirat menunjukkan perintah untuk melakukan kegiatan belajar, karena dalam belajar juga mengandung kegiatan-kegiatan seperti mendalami, meneliti, membaca, dn lain sebagainya.

Masih menurut Shihab (1997), wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang dibaca, karena Al-qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah,dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda –tanda sejarah, diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Dengan kata lain obyek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.

Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ngulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu mengisyaratkan mengulang-ulang bacaan bismirobbik akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru.

Selain al-Qur’an (firman Allah) yang menganjurkan umat Islam untuk belajar, di dalam hadis Nabi Muhammad saw. juga memuji pentingnya ilmu dan orang-orang yang terdiidik. Beberapa hadis tentang pentingnya belajar dan menuntut ilmu, di antaranya adalah sebagai berikut:

Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.

Carilah ilmu walaupun di negeri Cina.

Carilah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.

Para ulama itu adalah pewaris para Nabi.

Pada hari kiamat ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar