STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 02 Maret 2012

KEMULIAAN TAQWA

2.1  Wasiat Allah kepada Ummat Terdahulu dan Kemudian
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah[360] dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. QS An Nisa' : 131
 [360] Maksudnya: kekafiran kamu itu tidak akan mendatangkan kemudharatan sedikitpun kepada Allah, karena Allah tidak berkehendak kepadamu.
Imam Al Ghazali rahimahullah berkata, “Bukankah Allah Ta’ala paling mengetahui tentang kebaikan hamba, bukankah  Dia lebih berlaku sayang, dan lebih belas kasih daripada siapa pun dari makhluk-Nya?. Seandainya di dunia ini terdapat suatu sifat yang lebih baik bagi seorang hamba, lebih banyak mengumpulkan kebaikan, lebih besar mendatangkan pahala, lebih agung dalam hal ‘ubudiyyah, lebih besar  dalam qodar, lebih utama dalam hal ihwal, lebih sukses dalam hal tempat kembali, dibandingkan sifat taqwa, tentu sifat tersebut akan Allah perintahkan dan wasiatkan kepada hamba-hamba-Nya, karena kesempurnaan hikmah-Nya dan luasnya rahmah-Nya. 
Pada kenyataannya, Allah telah mewasiatkan sifat taqwa tersebut, dan memerintahkannya kepada seluruh ummat, baik yang terdahulu (sebelum ummat Muhammad) maupun ummat Muhammad. Jelaslah, bahwa (taqwa) ini merupakan satu-satunya tujuan yang diingikan Allah. Dan bahwasanya, Allah menghimpun seluruh nasihat dan dalil-dalil, petunjuk-petunjuk, peringatan-peringatan, didikan dan pengajaran, dalam satu wasiat (perintah) yaitu taqwa, sesuai dengan hikmah dan rahmat yang dimiliki-Nya. Dan jelas pula, bahwa sifat taqwa ini dapat menghimpun kebaikan dunia dan akhirat, dan sudah cukup mewakili seluruh tugas yang bisa mengantarkan kepada derajat paling tinggi.
Inilah taqwa, tergolong masalah ushul (prinsip) yang tak perlu tambahan lagi, di dalamnya terdapat muatan yang cukup untuk melihat cahaya Allah (dengan mata hatinya) sehingga memperoleh petunjuk-Nya, lalu beramal dengannya, dan dia merasa tak butuh apa-apa lagi (sudah cukup dengan taqwa, ed), dan Allahlah pemberi hidayah dan taufiq kepadanya. (Minhajul ‘Abidin, halaman 72-73, dikutip dengan peringkasan)

2.2. Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
          Diriwayatkan dari ‘Irbadh bin Sariyah, “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat shubuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang baik, yang dapat meneteskan air mata dan menggetarkan hati para pendengarnya. Lalu berkatalah salah seorang shahabat, ‘Ya Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat terakhir, oleh karena itu nasihatilah kami.’ Lalu Nabi bersabda :
“Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan menaati, sekalipun kepada seorang hamba sahaya keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya, barangsiapa di antara kamu hidup pada saat itu), maka ia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu, hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Giigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (peganglah sunnah ini dengan erat-erat), dan waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah). Karena setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR Ahmad IV : 126-127; Abu Dawud, 4583; Tirmidzi, 2676; Ibnu Majah, 43;Ad Darimi I:44-45;Al Baghawi, I:205, Syarah As Sunnah, dan Turmudzi berkata, hadits iini hasan shahih, dan shahih menurut Syaikh Al Albani)
          Tentang sabda Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam, “Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan menaati” tersebut di atas, Ibnu Rajab berkata, bahwa kedua kata itu, yaitu mendengar dan menaati, mempersatukan kebahagiian dunia dan akhirat. Adapun at taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat bagi orang yang berpegang teguh dengannya. Taqwa merupakan wasiat (perintah) Allah kepada ummat terdahulu dan sekarang. Taat kepada pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin mengandung kebahagiaan dunia, yang dengannya ummat (hamba-hamba) dapat hidup teratur dan mendapat kemaslahatan yang banyak, dan dengannya pula mereka mengupayakan (menolong) zhahirnya agama mereka dan menaati Rabb mereka. (Jami’ul ‘Ulum wa Hikam, 247, kutipan singkat)
Dari Abu Dzar  Jundab bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda :
اتق الله حيث ماكنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها ، وخالق الناس بخلق حسن
Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah perbuatan jelek itu dengan kebaikan agar dapat menghapusnya, dan berperilakulah kepada manusia dengan akhlak yang bagus.” (HR Tirmidzi, VIII : 151, Al Birr, hadits ini menurutnya hasan shahih; Ahmad V:158, dan derajatnya hasan menurut Syaikh Al Albani 1618, dalam Shahih Tirmidzi)
          Tentang sabdanya, “di mana saja kamu berada”, maksudnya adalam dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan, baik ketika dilihat orang lain maupun ketika tidak dilihat orang lain.
          Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa pada suatu hari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya :
“Siapakah yang akan mengambil wasiat-wasiat dariku lalu dia mengamalkan wasiat itu, atau memberitahukan kepada orang lain agar beramal denga wasiat itu?” Abu Hurairah berkata, “Aku ya Rasulullah.” Lalu ia memegang tanganku dan menyebutkanlima perkara satu persatu, yaitu : Peliharalah dirimu dari perkara-perkara yang diharamka, niscaya kamu menjadiorang yang paling baik ibadahnya. Berlaku ridha (ikhlashlah) terhadap pembagian karunia Allah untukmu, niscaya kamu akan menjadi orang terkaya. Berlaku baiklahkepada tetanggamu, niscaya kamu menjadi orang mukmin. Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri, niscaya kamu menjadi orang muslim. Dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR Tirmidzi, IX:183-184, Az Zuhd, hadits ini menurutnya gharib, tidak dikenal kecuali dari Ja’far bin Sulaiman; Ahmad, II:310;Ibnu Majah, 4217, Az Zuhd, dan hasan menurut Al Albani, demikian juga tersebut dalam Tahqiq Jami’ul Ushul)
          Abu Umamah berkata, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada Hajji Wada’ :
“Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan peliharalah shalat lima waktu, shaumlah kamu pada bulan Ramadhan sebulan penuh, tunaikanlah zakat hartamu, dan taatilah orang yang mengurusi urusanmu, niscaya kamu akan memasuki surga Rabbmu.” (HR Tirmidzi, 6111, Bab Shalat, menurutnya hadits ini hasan shahih; Ahmad, V:251; Hakim, I:9, menurutnya berderajat shahih, berdasarkan syarat Muslim dan disepakati oleh adz Dzahabi dan shahih menurut Syaikh Nashiruddin Al Albani).
Dari Abu Sa’id, Rasulullah shallallahu ‘alhi wa sallam bersabda :
“Aku berwasiat kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebab taqwa itu inti dari segala sesuatu. Dan aku perintahkan kepadamu untuk berjihad, sebab jihad itu merupakan bentuk Rohbaniyyah dalam islam. Dan hendaklah kamu senantiasa mengingat Allah dan membaca Al Qur’an, sebab ruhmu berada di langit dan dzikirmu berada di bumi.” (H.R. Ahmad, III:82, hasan menurut Syaikh Al Albani, terdapat dalam kumpulan hadits shahihnya nomor : 555)
Abu Dzar rodhiyallahu ‘anhu berkata bahwwa Rasulullah shallallahu ‘alhi wa sallam bersabda :
أوصيك بتقوى الله تعالى في سرأمرك وعلانيته ، وإذا أسأْتَ فأحْسِن ، ولا تسألنَّ أحدا شيئا ، ولا تقبض أمانة ، ولا تقض بين اثنين
“ Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah Ta’ala dalam perkaramu yang rahasia maupun yang terang – terangan. Jika kamu melakukan kejelekan maka berbuat baiklah. Janganlah kamu meminta sesuatupun kepada saseorang. Janganlah kamu menahan amanah (berkhianat). Dan janganlah kamu berlaku tidak adil dalam menyelesaikan persoalan hukum antara dua orang yang bertikai.” (H.R. Ahmad V:181, derajatnya hasan menurut Syaikh Nashiruddin Al Albani, terdapat dalam kempulan hadits shahihnya nomor : 2541)
Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alhi wa sallam bersabda :
“Aku wasiatkan kepadamu agar bertaqwa kepada Allah dan mengucapkan takbir (Allahu Akbar) atas setiap kemuliaan.: (H.R. Ahmad II:325, 331;Ibnu Majah, 2771, Al Washaya; Hakim, I;445-446 dan II;98, ia berkata, bahwa hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan ia tidak mentakhrijnya (mengeluarkannya); disepakati oleh Adz Dzhahabi; hadits ini shahih menurut Syaikh Nashiruddin Al Albani, 1730. Menurut kedua pakar hadits ini sanadnya hasan kecuali dari Usamahbi Zaid Al Laitsi).
Dan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alhi wa sallam mengajarkan do’a :
    اللهم آتي تفسي تقواها ، زكِّها أنت خيرُ من زكاها ، أنت وليها ومولاها.
“Ya Allah datangkanlah kepada diriku ketaqwaan, bersihkan (sucikanlah) jiwaku, sebab Engkalah sebaik-baiknya Yang mensucikan jiwa. Engkaulah Pelindung dan tempat meminta perlindungan.” (H.R.Muslim, XVII/41 dengan tambahan pada awalnya dan akhirnya; Ahmad, IV/371 dan VI/209; dengan lafazh “Rabbi’thi Nafsii Taqwahu” ).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar