STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 07 Maret 2012

PEMBAHASAN METODE PROYEK

A.    Pengertian Metode Proyek (Project Method)
Kata proyek berasal dari kata latin yaitu: proyektum yang berarti maksud tujuan, rancangan, rencana. Jadi memproyeksikan berarti: merancang, merencanakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Mempunyai perencanaan yang baik di dalam kegiatan-kegiatan tahunan dan sebagainya.
Dengan kata lain, metode proyek yaitu cara mengajar dengan jalan memberikan kegiatan belajar kepada siswa, dengan memberikan kepada siswa untuk memilih, merancang dan memimpin pikiran serta pekerjaannya. Anak-anak dilatih agar berencana di dalam tugas-tugasnya.[1]
Selain itu metode ini disebut juga dengan teknik pengajaran unit. Anak didik disuguhi bermacam-macam masalah dan anak didik bersama-sama menghadapi masalah tersebut dengan mengikuti langkah-langkah tertentu secara ilmiah, logis dan sistematis. Cara demikian adalah teknik yang modern, karena murid tidak dapat begitu saja menghadapi persoalan tanpa pemikiran-pemikiran ilmiah.
Tujuan metode ini adalah untuk melatih anak didik agar berpikir secara ilmiah, logis dan sistematis. Sekolah pada hakikatnya berkewajiban mempersiapkan anak didiknya agar tidak canggung hidup di tengah-tengah masyarakat yang banyak sekali masalah-masalah yang akan ditemuinya. Oleh karenanya guru berkewajiban melatih anak didik untuk memberikan kemampuan teknik menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat.
Pusat kegiatan metode ini terletak pada anak didik, dan guru berfungsi sebagai pembimbing mekanisme kerja anaka didik dengan bekerja bersama-sama. Namun demikian karena tiap-tiap anak didik mempunyai minat masing-masing, maka dapat pula anak didik secara individual dalam hal-hal tertentu menghadapi masalah itu sendiri sesuai dengan minat yang dipilihnya.
Metode proyek ini untuk pertama kalinya, diperkenalkan oleh John Dewey. Yang kemudian dikembangkan oleh W.H.Kilpatrik. Di Eropa abad XX ini giat sekali mengembangkan metode proyek ini. Di Indonesia metode proyek ini telah mendapat perhatian yang besar dari kalangan pembaharuan pendidikan dan pengajaran.
Langkah-langkah yang ditempuh melalui metode proyek ini yaitu:
Pertama           : Merencanakan proyek yang akan dilaksanakan. Misalnya: berapa kali kita melakukan proyek selama satu tahun.
Kedua             : Pengalokasian waktu, dengan mnghitung berapa minggu diadakan proyek dalam satu tahun. Misalnya untuk sementara waktu tiga kali dalam satu tahun sudah mencukupi. Tiap-tiap masa belajar 2 ½ bulan lamanya, diselingi masa proyek kira-kira satu bulan.[2]

  1. Keunggulan Metode Proyek:
1.      Dengan pengajarn proyek, dapat membangkitkan dan mengaktifkan siswa, dimana masing-masing belajar dan bekerja sendiri.
2.      Melalui metode proyek membrikan kesempatan kepada setiap siswa, untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajari.
3.      Melalui metode proyek memperhatikan segi minat, perbedaan serta kemampuan masing-masing individu siswa.
4.      Dapat menumbuhkan sikap social dan kerja sama yang baik.
5.      Dapat membentuk siswa dinamis dan ilmiha dalam berkarya.

  1. Kekurangan Metode Proyek:
1.      Memerlukan perencanaan yang matang.
2.      Tidak semua guru dapat merencanakan dengan metode proyek. Sebab dengan metode ini guru dituntut kerja keras dan mengorganisir pelajaran yang menjadi proyek secara sederhana.
3.      Bila proyek diberikan terlalu banyak, akan berakibat membosankan bagi siswa.
4.      Bagi sekolah tingkat rendah (SD dan SLTP), metode proyek masih sulit dilaksanakan. Sebab metode proyek menuntut siswa untuk mencari, membaca, memikirkan serta dapat memecahkan masalahnya sendiri.
5.      Dilihat dari segi aktivitasnya, organisasi sekolah menjadi tidak sederhana, disamping memerlukan banyak fasilitas, tenaga dan financial.

D.    Metode Proyek (Unit) tepat di pergunakan:
1.      Apabila pelajaran dimaksudkan untuk memberikan kesadaran yang kuat kepada anak tentang perlunya kerja sama antara sekolah dan masyarakat.
2.      Pelajaran dimaksudkan untuk melatih anak bersikap demokratis.
3.      Pelajaran dimaksudkan untuk melatih anak untuk ikut serta memecahkan problema yang ada di masyarakat.

E.     Segi Positif
1.      Dengan metode proyek berarti beberapa metode mengajar tercakup dalam unit (proyek).
2.      Unit sesuai dengan pendapat baru tentang cara belajar.
3.      Mempererat hubungan antara sekolah dengan masyarakat.

F.     Segi Negatif
1.Bahan pelajaran tidak mempunyai urutan yang logis dan sistematis.
2.Banyak memerlukan waktu dan alat pelajaran.
3.      Membutuhkan ketekunan dari guru, karena setiap tahun diperlukan guru menyusun bahan baru.

G.    Saran-saran Pelaksanaannya
Metode ini baik dilakukan apabila:
1.      Masalah yang akan dipecahkan (proyek) sesuai dengan tingkat kemampuan murid.
2.      Tersedia waktu dan alat pelajaran yang cukup.
3.      Terlebih dahulu anak diberi penjelasan tentang pentingnya proyek untuk digarap.
      Dalam pendidikan agama, metode proyek (unit) juga baik dipergunakan terutama dalam bidang kemsyarakatan (muamalah dan akhlak), bahan pelajaran tidak bertitik tolak dari bagian-bagian pelajaran (secara terpisah) tetapi bertitik tolak pada problema masyarakat yang ada di sekitar anak sendiri (misalnya : penanggulangan beredarnya obat bius, morphin, narkotika di kalangan remaja dan lain-lain problem yang dianggap menarik oleh anak).
      Metode ini sebaiknya dipergunakan di Sekolah Lanjutan Atas dan di Perguruan Tinggi, karena lebih sesuai dengan perkembangan usia dan kemampuan mereka.[3]


[1]Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 1995), Cet. Ke-1, h.87
[2]Zakiah Daradjat,dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 1995), Cet.Ke-1, h.310
[3] Slamet, Yusuf, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Nasional, h.112-113

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar