STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 07 Maret 2012

JALAN PENGAJARAN

BAB I
 JALAN PENGAJARAN

Jalan pengajaran adalah cara yang di tempuh atau dilalui dalam mengatur dan menyusun urutan-urutan dari beberapa bagian bahan pelajaran yang akan disampaikan menjadi satu kesatuan yang utuh dan terpadu.
Jalan pengajaran mana dan apa yang akan dilalui oleh seseorang guru dalam menyampaikan bahan pelajaran kelas, adalah sangat menentukan sekali terhadap metode apa yang akan dipakai. Oleh sebab itu seorang guru harus direncanakan secara matang dan menetapkan terlebih dahulu jalan pengajaran yang akan dilalui/ditempuh.
Adapun jalan pengajaran itu adalah sebagai berikut:
1.      Jalan Pengajaran Progresif
Jalan pengajaran progresif atau disebut juga jalan pengajaran suksesif, yaitu jalan pengajaran dimana bahan dari suatu vak mata pelajaran tertentu yang disampaikan secara maju berkelanjutan (continous progress) dengan tanpa mengadakan pengulangan secara sengaja, akan tetapi dapat terjadi secara sambil lalu atau secara okasional.
Misalnya penyajian dalam suatu maa pelajaran fiqh maka penyajian materi dapat dimulai dengan cara mengajarkan sholat, kemudian dilanjutkan dengan materi pelajaran zakat. Setelah itu berpindah kepada pelajaran mengenai puasa, dan akhirnya sampai kepada pelajaran Haji.
Namun dalam arti yang lebih luas pengajaran progresif dapat berlaku dalam satu vak tertentu dari pelajaran agama, pengajaran agama, pengajaran dapat dimulai dengan mengajarkan masalah : Keimanan, syari’ah dan kemudian berpindah kepada pelajarn akhlaq.
Kebaikan  Jalan Pengajaran Progresif :
1.      Siswa selalu menerima bahan pelajaran yang baru.
2.      Bahan pelajaran dapat disajikan secara sistematis dan berkesinambungan.
3.      Target pengajaran dapat mudah tercapai.
4.      Memberi kemungkinan bagi siswa yang cerdas dan rajin dapat menyelesaikan pelajaran secara tepat.




Kekurangan – kekurangannya :
1.      Penyajian bahan pelajaran biasanya kurang mendalam.
2.      Bagi siswa yang kurang cerdas dan malas, pengajaran menjadi terhambat dan ketinggalan.
3.      Materi pelajarn mudah terlupakan dan kurang membekas dalam ingatan anak didik. Sebab keterangan diberikan hanya selintas/sambil lalu, dan tidak diberi pengulangan secara continue/routine.
4.      Jika anak didik mengalami putus sekolah, sebelum menyelesaikan pada tingkat akhir yang lebih tinggi, maka pengetahuan anak menjadi terputus dan tidak utuh.
5.      Bagi siswa ingkat rendah jalan pengajaran progresif ini masih sulit untuk diterapkan.

2.      Jalan Pengajaran Regresif :
Jalan pengajaran regresif merupakan kebalikan dari pengajaran regresif, yaitu jalan pengajaran ”mundur”. Dengan kata lain jalan pengajaran regresif, menyajikan bahan pelajaran dengan dimulai hal-hal yang telah diketahui oleh anak didik, sebagai dasar untuk pelajaran berikutnya.
Misalnya dalam mata pelajaran Sejarah Islam. Maka mempelajari sejarah perkembangan Islam modern (kontemporer), dapat dipelajari dengan menelusuri sejaran perkembangan Islam dari masa ke masa. Yaitu dari sejarah Islam masa Turki, sejarah Islam masa Abbasiyah kemudian sejarah Islam masaKhalifah Rasyiddin hingga sejarah Islam semasa Nabi Muhammad SAW, yang telah utama dipelajari oleh anak didik.
Kebaikan jalan pengajaran regresif :
1.      Materi pelajaran menjadi kontekstual, yaitu antara pelajaran baru dengan pelajaran yang telah lalu memiliki hubungan yang saling berkaitan.
2.      Mempermudah persepsi anak untuk mengingat dan menghafal pelajaran yang telah lalu.
3.      Pengajaran dapat dengan mudah dikuasai oleh anak didik karena selalu diadakan pengulangan-pengulangan terhadap pelajaran yang telah lalu.
4.      Murid tidak terlalu merasa asing terhadap materi pelajaran yang baru tersebut

Kekurangan – kekurangannya :
  1. Bahan pelajaran tidak sistematis dan kurang berurutan.
  2. Bahan pelajaran selalu diadakan pengulangan, dan ini dapat menjadi tidak disenangi anak didik, karena terlalu jenuh dan membosankan (sebab dari itu ke itu saja).

3.      Jalan Pengajaran Konsentris
Konsentris/konsentrasi yaitu pengumpulan atau pemusatan pada suatu titik. Jalan pengajaran konsentris berarti : menyampaikan bahan pelajaran dengan berpusat kepada satu tema pelajaran tertentu untuk dibicarakan atau disampaikan seluruhnya dalam tiap-tiap tahun atau jenjang pengajaran di sekolah.
Misalnya : jalan pengajaran untuk mengajarkan materi pelajaran tauhid/keimanan, dapat diberikan atau disampaikan mulai dari kelas 1 (kelas satu) tahun pertama, sampai dengan kelas-kelas akhir tingkat tinggi/perguruan tinggi. Hanya pembahasan materi pelajaran untuk tingkat/kelas pertama atau pada tahun-tahun berikutnya yang lebih maju, maka materi pelajaran dapat diperluas dan diperdalam pembahasan. Jadi semakin tinggi kelas dan semakin tinggi tingkat sekolah, maka uraian semakin diperluas dan rinci meskipun dalam pokok pembahasan yang sama.
Sehingga kalau kita gambarkan jalan pengajaran konsentris ini dalam bentuk gambar/bagan, dalam mata pelajaran keimanan/tauhid tersebut adalah sebagai berikut :
                                                                  SLTP




      SD                                                                   SLTA
                                                                             




                                                                   PT[1]
Kebaikan jalan pengajaran konsentris :
  1. Pengetahuan anak menjadi integral dan utuh.
  2. Pelajaran dapat disampaikan sekaligus, secara utuh meski bersifat global/garis besarnya saja.
  3. Jika anak didik mengalami putus sekolah sebelum selesai menamatkan pada tingkat-tingkat berikutnya, maka anak didik telah mendapatkan gambaran pengetahuannya secara utuh, meski mungkin bersifat global/kurang dalam.

Kekurangan – kekurangannya :
1.      Pengetahuan siswa kurang mendalam , bahkan mungkin bersifat mengambang, hal ini apabila terjadi di antara siswa yang bodoh, malas dan terutama yang putus sekolah. Karena materi tidak dikuasai secara sistematis dan tuntas.
2.      Pengajaran lebih mengutamakan segi kuantitas (banyaknya bahan yang disampaikan) daripada segi kualitas penguasaan bahan pelajaran.
3.      Tidak semua guru dapat menguasai semua cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan. Misalnya dalam pelajaran Keimanan/ketauhidan, dituntut seorang guru untuk menguasai cabang Ilmu Tauhid, Filsafat Ketuhanan (Ilmu Kalam), Ilmu Mantiq dan lain-lainnya. Demikian juga dalam Ilmu Fiqh maka akan ada Fiqh Munakahah, Mu’amalah, dan Fiqh Mawaris. Yang semuanya itu memerlukan disiplin yang  propesional.

Saran-saran :
  1. Guru hendaknya menguasai materi pelajaran yang akan diberikan secara mendalam
  2. Banyak diadakan soal tanya jawab, diskusi dan ulangan terhadap pelajaran yang telah lalu.
        


[1] Zuhairin, dkk, Metodik Khusus Pendidkan Agama, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar