STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Rabu, 07 Maret 2012

ENSIKLOPEDI PENDIDIKAN

a. Tarbiyah Lughatan (Etimologi)
Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah,
maka sumber pendidikan Islam yang paling utama juga Al-Qur'an dan
Sunnah Rasul. Dan perlu ditambah satu lagi, yaitu “Sirah as Salaf” (begitu menurut Dr. Amin Abu Lawi, dalam buku dengan judul yang sama)

Ketiga sumber pendidikan Islam tersebut dapat ditemukan di
dalamnya kata-kata atau istilah-istilah yang pengertiannya terkait
dengan pendidikan, yaitu rabba ( ربىّ ) kata kerja dari tarbiya (تربية ), ‘allama ( علّم ) kata kerja dari ta’lim ( تعليم ) dan addaba ( أ د ب) kata kerja dari  ta’dib تأديب

Misalnya :

1) Rabba ربى
رب ارحمهما آما ربياني صغيرا
Ya Tuhan, sayangilah keduanya (orang tuaku) sebagaimana mereka telah
mengasuhku (mendidikku) sejak kecil. (QS. Al-Isra’/17: 24)
2) ‘Allama علّم
علّم الإنسان ما لم يعلم
Dia yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS.
Al-Baqarah/2 : 5)

أدّب Addaba
هَذَا أَدَّبَتْهُ أُمُّهُ وَأَنْتَ أَدَّبَتْكَ أُمُّكَ
Ibunya telah mendidiknya dan ibumu telah mendidikmu (HR. Muslim,
Masajid, no: 66)
Dalam bahasa Arab, kata-kata rabba, ‘allama, dan addaba tersebut
di atas mengandung pengertian sebagai berikut :
a. Kata kerja rabba ( ربىّ ) memiliki beberapa arti, antara lain
mengasuh, mendidik dan memelihara. Di samping kata rabba ada
kata-kata yang serumpun dengannya yaitu rabba ( ربّ ) , yang
berarti memiliki, memimpin, memperbaiki, menambah. Raba-yarbuu ربا
juga berarti tumbuh atau berkembang.

Adapun kata at-tarbiyah , yang merupakan bentuk masdar dari
rabba , menurut Imam Baidawi (w. 675 H) dalam kitab Tafsirnya,
Anwarut-Tanzil wa Asrurut-Ta’wil, diartikan sebagai penyampaian
sesuatu pada kesempurnaan secara bertahap atau sedikit demi sedikit.
Menurut Al-Asfahani (w. 502) dalam bukunya, Mufradatur-Ragib,
kata tersebut berarti menjadikan atau mengembangkan sesuatu melalui
proses tahap demi tahap sampai batas kesempurnaannya.
Selanjutnya ‘Abdur-Rahman Al-Bani menerangkan lebih lengkap
bahwa, ditinjau dari asal bahasanya, istilah at-tarbiyah mencakup
empat unsur :
1. Memelihara pertumbuhan fitrah manusia
2. Mengembangkan potensi dan kelengkapan manusia yang beraneka
macam (terutama akal budinya)
3. Mengarahkan fitrah dan potensi manusia menuju
kesempurnaannya.
4. Melaksanakan secara bertahap sesuai dengan irama perkembangan
anak. (Al-Nahlawi, 1979 : 13 – 14)
b. Kata kerja ‘allama berarti mengajar yang lebih bersifat pemberian
atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan ketreampilan.
Al-Qur'an sering menggunakan kata-kata ‘allama, misalnya dalam
firman-firman Allah berikut ini :
وَعَلَّمَ ادَمَ اْلاَسْمَاءَآُلَّهَا
Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya. (QS. Al-Baqarah :
31)
وَقَالَ ياَ يُّهَاالنَّاسُ عُلِّمْنَامَنْطِقَ الطَّيْرِ
Berkatalah Sulaiman : Wahai manusia, telah diajarkan kepada kami pengertian
bunyi burung. (QS. An-Naml : 16)
عَلَّمَ اْلقُرْ انَ عَلَّمَهُ اْلبَيَانَ
Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Mengajarnya pandai berbicara. (QS. Ar-
Rahman : 2 dan 4)
c. Kata kerja addaba dapat diartikan mendidik yang lebih tertuju pada
penyempurnaan akhlaq budi pekerti. Muhammad Naquib Al-Attas
dalam bukunya, Konsep Pendidikan Islam, dengan gigih
mempertahankan penggunaan istilah ta’dib untuk pendidikan Islam,
bukan tarbiyah, dengan alasan bahwa dalam istilah ta’dib, yang
berasal dari kata addaba, mencakup wawasan ilmu yang merupakan
esensi pendidikan Islam.(Al-Attas, 1984 : 60)
Terlepas dari beberapa jauh ketepatan argumen Naquib Al-Attas
mengenai penggunaan istilah ta’dib bagi pendidikan Islam, di sini
tidak ingin diperdebatkan, karena sesungguhnya ketiga istilah atau
kata-kata tersebut (tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib) merupakan satu
kesatuan yang saling terkait. Artinya bila pendidikan dinisbatkan
kepada ta’dib ia harus melalui pengajaran (ta’lim) sehingga
dengannya diperoleh ilmu. Dan dari ilmu yang telah dimiliki
terwujudlah sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan
pendidikan. Hal ini lazim kita kenal sebagai kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Namun mengingat pengertian al-Tarbiyah mencakup empat
unsur sebagaimana dikemukakan Abdur Rahman Al-Bani di atas,
kiranya kata tersebut cukup menggambarkan keluasan dan
ketepatannya. Dengan demikian istilah pendidikan disini dinisbatkan
dengan al-Tarbiyah (Achmadi, 1992:16).
Tarbiyah Ishtilahan (Terminologi)
Berdasarkan tinjauan kebahasaan tersebut di atas, pengertian
pendidikan menurut pandangan Islam dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1) Pendidikan ialah tindakan yang dilakukan secara sadar dengan
tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi
(sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya
(insane kamil).
2) Pendidikan adalah proses kegiatan yang dilakukan secara bertahap
dan berkesinambungan, seirama dengan perkembangan subjek
didik.
لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًاعَنْ طَبَقٍ
Sesungguhnya kamu ….. melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (QS.
Al-Insyiqaq : 19).
3) Pendidikan yang sebenar-benarnya (Al-Haq) adalah Allah sebagai
Rabbul ‘alamin. Dia tidak hanya mengatur, tetapi juga membimbng
dan memelihara alam semesta termasuk manusia.
Paradigma ini merupakan esensi ajaran Islam yakni Tauhid
Rububiyyah. Pendidikan merupakan salah satu tugas manusia sebagai
khalifah Allah di muka bumi (khalifatullah fil-ard) dan sekaligus
sebagai ‘ibadah kepada-Nya (QS. Al-Baqarah : 30 dan Az-Zariyat : 56).
Implikasinya dalam pendidikan :
- Pendidikan benar-benar bersifat normative Ilahi karena
berlandaskan pada nilai-nilai Ilahi
- Pendidikan tidak sekadar berorientasi kekinian tetapi juga ukhrawi.
- Pendidikan bertanggung jawab penuh, tidak sekadar kepada sesama
manusia tetapi juga kepada Allah.
- Pendidikan bersifat optimis karena hasil akhir pendidikan di tangan
Allah sendiri.
Allah berfirman :
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدهُمْ وَلكِنَّ اللهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاءُ
Bukankah kamu yang menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi
Allahlah yang memberi petunjuk (QS. Al-Baqarah : 272).
- Tugas pendidik yang pokok ialah merencanakan dan melaksanakan
kegiatan pendidikan sesuai dengan Sunnah Allah
(Achmadi,1992:16-17).
Hubungan Antara Islam Dan Pendidikan
Islam sebagai agama muncul bersama dengan munculnya manusia,
yaitu ketika Nabi Adam diciptakan dan kemudian oleh Allah diberi
pedoman hidup.
Dengan demikian agama Islam ialah Wahyu Allah yang diturunkan
kepada para Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia agar
mereka selamat dalam hidupnya di dunia maupun di akhirat.
Islam yang sekarang ini adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw., untuk disampaikan kepada umat manusia di
seluruh persada sepanjang masa.
Risalah islamiyyah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., sebagai
Khatamun Nabiyyin (Nabi terakhir), memiliki prinsip-prinsip ajaran yang
sama dengan yang dibawa oleh para nabi terdahulu yakni, Tauhid dan
Ta’abbud Allahah. Secara keseluruhan ajaran yang dibawa Nabi
Muhammad merupakan kesinambungan, kelengkapan, dan
penyempurnaan ajaran nabi terdahulu. Semua itu merupakan satu sistem
keyakinan dan ketentuan ilahi yang mengatur segala aspek kehidupan dan
penghidupan asasi manusia dalam berbagai hubungan : hubungan manusia
dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya
(flora, fauna dan benda-benda alam lainnya).
Tujuan Risalah Islamiyyah tidak lain adalah mengangkat harkat dan
martabat manusia, sehingga tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat serta terwujudnya rahmatan lil-‘alamiin.
Untuk itu Risalah Islamiyyah, yang pada hakekatnya sesuai dengan
fitrah manusia (Q.S. Ar-Ruum:30) mengandung nilai-nilai universal dan
eternal yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
Tetapi perlu diketahui bahwa Risalah Islamiyyah seperti pengertian
tersebut diatas merupakan konsep transedental yang baru akan berdaya
guna dan berhasil guna bila telah diseharikan dalam kehidupan nyata oleh
individu dan masyarakat.
Proses penyeharian dan aktualisasi konsep transedental ini dalam
kehidupan individu dan masyarakat dapat terjadi lewat pendidikan.
Langkah awal dan mendasar telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad
saw. dan telah terlihat hasilnya, karena beliau mampu mengkomunikasikan
Islam agama fitrah kepada fitrah manusia.
Zaman terus berkembang, persepsi manusia pun terus mengalami
perubahan seirama dengan tantangan yang dihadapi. Sesungguhnya Islam
sebagai agama fitrah memiliki daya akomodatif yang tinggi terhadap
segala perubahan dan tantangan zaman itu.
Tetapi masalahnya dalam pendidikan tidak sesederhana itu, belum
tentu yang benar dan baik diterima oleh subyek didik sebagaimana
mestinya. Nabi sendiri mengalami banyak kesulitan dan hambatan dalam
melaksanakan pendidikan dan Allah sendiri telah mengingatkan dalam
firman-Nya:
اُدْعُ اِلىسَبِيْلِ رَبِّكَ بِاْلحِكْمَةِ وَاْلمَوْعِظَةِ اْلحَسَنَةِ
Ajaklah (manusia) kepada Jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijaksana) dan pelajaran yang baik …….. (Q.S. An Nahl : 125).
Di sinilah lahan garapan yang menuntut para pendidik muslim untuk
menyusun konsep pendidikan Islami yang sesuai dengan perubahan zaman
serta tantangannya dan mampu menatap masa depan tanpa mengorbankan
nilai-nilai asasnya (Acmadi,1992:18-19).
Disinilah letak perbedaan antara Murabbi muslim dengan murabbi lainnya, karena ada perbedaan yang fundamental antara Sitem pendidikan Islam dan Sistem pendidikan non Islam (baca berdasarkan pemikiran manusia dan falsafah). Meskipun secara bahasa bahwa setiap manusia yang beraktifitas dalam dunia pendidikan disebut sebagai “murabbi”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar