STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 02 Maret 2012

POSTMODERNISME

BAB I
PENDAHULUAN

Kesemarakan dan kegairahan kepada tema postmodernisme ini bukanlah tanpa alasan. Sebagai sebuah pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan proyek Pencerahan dan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas. Pauline M. Rosenau, dalam kajiannya mengenai postmodernisme dan ilmu-ilmu sosial, mencatat setidaknya lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme.
Pertama, modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu.
Dengan latar belakang demikian, modernisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisme yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak.1
            Dalam makalah ini akan membahas mengenai Postmodernisme. Memperjelas mengenai apa-apa yang mengenai Postmoderisme.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Postmoderenisme
Ada banyak ragam terminologi dan makna istilah postmodern, tergantung pada wilayah pendekatan yang berbeda. Di satu sisi, istilah “Postmodern”tidak diciptakan sebagai sesuatu yang baru dalam rangka filsafat. Sebelumnya istilah ini sudah cukup lama dipakai dalam bidang kesenian khususnya arsitektur dan kesusastraan, terutama Amerika Serikat. Bahkan seorang filosof Jerman, Rudofl Panwitz(1917), telah menggunakan istilah postmodern yang secara kritis digunakan untuk menangkap adanya gejala nihilisme kebudayaan Baran modern.[1]
Istilah Postmiodernisme” bisa menunjuk pada berbagai arti yang berbeda, bisa berarti: Aliran pemikiran filsafati, pembabakan sejarah(erat terkait pada pergeseran paradigma), ataupun sikap dasar/ etos tertentu. Masing-masing membawa konskuensi logis yang berbeda, meskipun bisa saling berkaitan juga. Apabila yang dimaksudkan adalah aliran filsafat, maka ia menunjuk terutama  pada gagasan-gagasan J.F.Lyotard, yang paling eksplisit menggunakan istilah itu. Dan apabila yang dimaksud adalah babakan sejarah baru yang meninggalkan kerangka berpikir modern(“post”modern), maka mereka yang paling sibuk memetakannya adalah Charles Jeneks, Andreas Huysen, David Harvey,dll[2].
B.     Kelahiran Postmodernisme
Istilah Postmedernisme muncul untuk pertama kalinya di wiliyah seni. Menurut Hassan dan Jenck istilah ini pertama-tama dipakai oleh Federico de Onis pada tahun 1930-an dalam karyanya, Antologi de la poesia Espanola a Hispanoamerican, untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari dalam modernism. Kemudian dibidang historiografi oleh Toyn bee dalam a Study of History(1947). Disini istilah itu merupakan kategori yang menjelaskan siklus sejarah baru yang dimulai sejak tahun 1875 dengan berakhirnya dominasi barat, surutnya individualisme, kapitalisme dan kristianitas, serta kebangkitan kekuatan budaya non barat.[3]
ahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tersebut. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme. Disinggung pula di sana tentang pluralism dan kebudayaan dunia, hal-hal yang masih essensial dalam pengertian tentang postmodernisme kini.2 Kemudian pada tahun 1970-an, Hassan memproklamirkan diri sebagai pembicara postmodernisme dan ia menerapkan label ini pada eksperimentasi seni dan kecenderungan pada ultra-teknologi dalam arsitektur.
Istilah itu kemudian menjadi lebih popular manakala digunakan oleh para seniman, penulis dan kritikus seperti Sontag dan Borroughs untuk menunjukkan sebuah gerakan yang menolak modernisme yang berhenti pada birokrasi museum dan akademi.
C.     Perkembangan Postmodernisme
Jean Francois Lyotard adalah filsuf kelahiran Versailles Perancis yang mulai meletakkan dasar argumentasi filosofis dalam diskursus postmodernisme. Lyotard mencatat beberapa ciri utama kebudayaan postmodern. Menurutnya, kebudayaan postmodern ditandai oleh beberapa prinsip yakni: lahirnya masyarakat komputerisasi, runtuhnya narasi-narasi besar modernisme, lahirnya prinsip delegitimasi, disensus, serta paralogi. Masyarakat komputerisasi adalah sebutan yang diberikan Lyotard untuk menunjuk gejala post-industrial masyarakat Barat menuju the information technology era. Realitas sosial budaya masyarakat dewasa ini  seperti yang ditelitinya secara seksama di Quebec Kanada  adalah masyarakat yang hidup dengan ditopang oleh sarana teknologi informasi, terutama komputer. Dengan komputerisasi, prinsip-prinsip produksi, konsumsi dan transformasi mengalami revolusi radikal. Penggunaan tenaga manusia yang semakin terbatas dalam sektor ekonomi, pelipatan ruang dalam dunia telekomunikasi, percepatan pengolahan data dan informasi yang mampu mengubah bahkan memanipulasi realitas, penyebaran pengetahuan dan kekuasaan secara massif, adalah beberapa konsekuensi perkembangan teknologi (Sarup, 1989: 118). Dalam masyarakat komputerisasi seperti ini, nilai-nilai serta asumsi dasar modernisme: rasio, hukum sejarah linear, subjek, ego, narasi besar, otonomi, identitas  tidak lagi mampu menggambarkan realitas. Bahkan, realitas telah berubah sesuai dengan perubahan karakter masyarakat postmodernisme. Realitas masyarakat seperti inilah yang menjadi wadah, arena perjuangan, nilai-nilai baru postmodernisme. Lebih jauh Lyotard menyatakan prinsip-prinsip yang menegakkan modernisme: rasio, ego, ide absolut, totalitas, teleologi, oposisi biner, subjek, kemajuan sejarah linear  yang disebutnya Grand Narrative  telah kehilangan legitimasi . Cerita-cerita besar modernisme tersebut tak ayal hanyalah kedok belaka, mistifikasi, yang bersifat ideologis, eksploitatif, dominatif dan semu. 3
Menurut Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam , terdapat delapan ciri karakter sosiologis postmodernisme. Pertama, timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas, memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran. Kedua, meledaknya industri media massa, sehingga ia seolah merupakan perpanjangan dari system indera, organ dan syaraf manusia. Kondisi ini pada gilirannya menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia. Ketiga, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul sebagai reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu, teknologi dan filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk membebaskan manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Keempat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan romantisme dengan masa lampau. Kelima, semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat kebudayaan dan sebaliknya, wilayah pedesaan (rural area) sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju (Negara Dunia Pertama) atas negara berkembang (Negara Dunia Ketiga). Keenam, semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Dengan kata lain, era postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi. Ketujuh, munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan pencampuradukan berbagai diskursus, nilai, keyakinan dan potret serpihan realitas, sehingga sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada kelompok budaya tertentu secara eksklusif. Kedelapan, bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi, sehingga bersifat paradoks.4
Dari arah berbeda, Baudrillard menyatakan  kebudayaan postmodern  memiliki beberapa ciri menonjol. Pertama, kebudayaan postmodern adalah kebudayaan uang, excremental culture. Uang mendapatkan peran yang sangat penting dalam masyarakat postmodern. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, fungsi dan makna uang dalam budaya postmodern tidaklah sekedar sebagai alat-tukar, melainkan lebih dari itu merupakan simbol, tanda dan motif utama berlangsungnya kebudayaan. Kedua, kebudayaan postmodern lebih mengutamakan penanda (signifier) ketimbang petanda (signified), media (medium) ketimbang pesan (message), fiksi (fiction) ketimbang fakta (fact), sistem tanda (system of signs) ketimbang sistem objek (system of objects), serta estetika (aesthetic) ketimbang etika (ethic). Ketiga, kebudayaan postmodern adalah sebuah dunia simulasi, yakni dunia yang terbangun dengan pengaturan tanda, citra dan fakta melalui produksi maupun reproduksi secara tumpang tindih dan berjalin kelindan. Keempat, sebagai konsekuensi logis karakter simulasi, budaya postmodern ditandai dengan sifat hiperrealitas, dimana citra dan fakta bertubrukan dalam satu ruang kesadaran yang sama, dan lebih jauh lagi realitas semu (citra) mengalahkan realitas yang sesungguhnya (fakta). Kelima, kebudayaan postmodern ditandai dengan meledaknya budaya massa, budaya populer serta budaya media massa. Kapitalisme lanjut yang bergandengan tangan dengan pesatnya perkembangan teknologi, telah memberikan peranan penting kepada pasar dan konsumen sebagai institusi kekuasaan baru menggantikan peran negara, militer dan parlemen.5
Pauline M. Rosenau, dalam bukunya Postmodernism and Social Sciences, membedakan postmodernisme menjadi dua bentuk. Pertama, postmodernisme sebagai paradigma pemikiran. Sebagai paradigma pemikiran, postmodernisme meliputi tiga aspek ontologi, epistemologi serta aksiologi. Ketiga aspek dasar ini menjadi kerangka berpikir dan bertindak penganut postmodernisme bentuk pertama  Kedua, postmodernisme sebagai metode analisis kebudayaan. Dalam konteks ini, prinsip dan pemikiran postmodernisme digunakan sebagai lensa membaca realitas social budaya masyarakat kontemporer  6
Dari arah yang agak berbeda, Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tak lain adalah konsekuensi logis perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism, Jameson meyakinkan resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah menyempurnakan dirinya, yakni kapitalisme yang telah berubah watak karena telah banyak belajar dari berbagai rongrongan dan kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi. Kapitalisme yang, demi kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat pekerja, kelangsungan hidup lingkungan, dan daya kreatif/kritis konsumen. Kapitalisme yang mengintegrasikan banyak unsur sosialisme ke dalam dirinya. Kapitalisme yang bekerja dengan prinsip desentralisasi dan deregulasi karena sistem terpusat tak sigap menghadapi perubahan cepat. Kapitalisme yang tidak menawarkan keseragaman gaya/citra kultural karena pasar dan tenaga kerja telah mengalami diversifikasi begitu jauh.7
D.    Postmodernisme Merayakan Keanekaragaman
Ciri utama budaya postmodern adalah pluralisme. Untuk merayakan pluralisme ini, para seniman postmodern mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Teknik seni yang demikian bukan hanya merayakan pluralisme, tetapi merupakan reaksi penolakan terhadap dominasi rasio melalui cara yang ironis. Buah karya postmodernisme selalu ambigu (mengandung dua makna). Kalaupun para seniman ini menggunakan sedikit gaya modern, tujuannya adalah menolak atau mencemooh sisi-sisi tertentu dari modernisme.
Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Post-Modernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda, ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme.
            Seniman-seniman postmodern sangat berpengaruh bagi budaya Barat masa kini. Pencampuran gaya, dengan penekanan kepada keanekaragaman, dan penolakan kepada rasionalitas menjadi ciri khas masyarakat kita. Ini semakin terbukti dalam banyak ekspresi kebudayaan lainnya. 8
E.     Perbedaan modern dengan postmodern
Pergeseran dari modern ke posmodernisme memang bukan lah revolusi yang tiba-tiba, tetapi lebih merupakan sebuah proses yang berlangsung dalam rentang waktu tertentu. Ketidak puasan terhadap hasil era modern tidak terlalu menonjol sampai munculnya ancaman bagi umat manusia yang jelas diketahui bersama, misalnya perang nuklir. Sejak itulah modernitas lebih dianggap menghsdilksn kecemasan daripada kesejahteraan. Dengan demikian, modernism jelas bukanlah sebuah idealisme yang dapat diterima secara utuh. Pemikiranpun bergeser kea rah yang di anggap lebih baik, dan disinilah postmodernisme mengambil peran utama.

Postmodernisme secara umum dapat berarti sensibilitas budaya tanpa nilai absolut. Hal ini kemudian membuat jalan bagi pluralism dan keragaman pemikiran. Pada intinya, postmodern, sebagaimana berulangkali dikemukakan oleh Grenz, merupakan reaksi menentang totalisasi pencerahan. Pada saat moderenisme berada pada titik “krisis identitas” ketika peradapan dengan banyak masalah, postmodern seakan memberikan  sebuah studi pandang yang lebih realistis. Masyarakat yang sudah lelah dan putus asa pun segera berpaling untuk mendapatkan “rekreasi” dari tekanan dan kefrustasian yang ditimbulkan oleh modernitas. Dari sini, kita dapat segera menyimpulkan bahwa memang modernism dan postmodernisme menawarkan perbedaan yang berarti.

F.      Implikasi Pergeseran Modernisme ke Postmodernisme Pada Kekristenan

Tanpa nilai absolut yang menjadi satu standar acuan tertentu dalam segala hal, postmodernisme memberikan kebebasan yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah dunia. Kebebasan yang seperti ini mau tidak mau jelas telah membuka jalan bagi relativisme dan pluralisme. Pluralisme dalam aspek keagamaan telah menciptakan sebuah “warna” baru lagi bagi posisi kekristenan dalam dunia. Jika di era modern kekristenan mendapat tekanan yang hebat dari kaum rasionalis Pencerahan, sebaliknya dalam era postmodern, kita mendapatkan “pengakuan.” Namun pengakuan yang diberikan ini pun memiliki nada tuntutan agar kekristenan pun dapat mengakui “kebenaran” yang lain. Demikianlah kekristenan mendapat tekanan untuk dapat pula menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, dari kelompok Kristen sendiri muncul tiga pendekatan yang berbeda. Ada yang berusaha mengakomodasi filsafat postmodern ke dalam iman Kristen, yang jelas mengarah pada penerimaan pluralisme agama (contoh, David Tracy); ada yang mencari jalan tengah dengan metode sintesis (contoh, George Lindbeck dan Stanley Grenz); dan ada pula yang secara ekstrem menolak postmodernisme (contoh, Carl Henry).[17]
Bagian Teologi Kristen yang paling segera harus mengalami penyesuaian adalah apologetika—usaha untuk mempertahankan dan memberitakan klaim kebenaran bagi dunia.[18] Secara apologetik, kekristenan harus dapat memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa kebenaran kekristenan harus ditanggapi dengan serius di tengah adanya begitu banyak alternatif. Di dunia postmodern, tidak seorang pun dapat mengklaim memiliki kebenaran yang paling benar. Semua kebenaran masing-masing pribadi adalah kebenaran yang sah. Tidak seorang pun memiliki hak untuk memaksakan kebenarannya pada orang lain. Tidak ada standar lagi untuk menentukan benar atau salah; satu-satunya standar adalah diri sendiri. Di sinilah tantangan terberat bagi kekristenan untuk tetap berdiri teguh dan mengerjakan pemberitaan Injil sebagaimana yang Tuhan Yesus perintahkan.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Postmodernisme merupakan sebuah ikhtiar yang tidak pernah berhenti untuk mencari kebenaran, eksperimentasi dan revolusi kehidupan secara terus-menerus. Postmodernisme adalah sebuah gerakan global renaissance atas renaissance, pencerahan atas pencerahan. Dalam perspektif yang demikian, Postmodernisme diartikan sebagai ketidakpercayaan terhadap segala bentuk narasi besar, penolakan filsafat metasentris, filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang mentotalisasi, seperti Hegelianisme, Liberalisme, Marxisme atau apa pun.
            Postmodernisme pertama kali muncul dalam wilayah seni, kemudian berkembang dalam segala bidang seperti halnya di bidang historiografi, bidang arsitektur, di bidang sosial ekonomi dan masih banyak lagi bidang-bidang yang lain. Sampai istilah postmodernisme dilembagakan dalam konstelasi pemikiran kefilsafatan oleh Francois Lyotard dalam bukunya The Postmodern Condition: A Report On Knowledge.  
            Ketidakpuasan terhadap hasil era modern tiidak terlalu menonjol sampai munculnya ancaman bagi umat manusia yang jelas diketuhui bersama. Sejak itulah modernitas  dianggap lebih menghasilkan kecemasan dari pada kesejahteraan. Dengan demikian, modernisme jelas bukanlah sebuah idealism yang dapat diterima secara utuh. Pemikiran pun bergesr ke arah yang dianggap lebih baik, dan di sinilah postmodernisme mengambil peran utamanya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmed,Akbar, Postmodernism and islam, (New York: Routledge,1992)
Sugiarto,Bambang,Foucault dan Postmodernisme, Makalah tidak diterbitkan, 2011
Baudrillard, Symbolic Exchange and Death, makalah tidak diterbitkan, 1993
Frederic Jameson, Postmodenism or The Cultural Logic of Late Capitalism, 1989
Harianto,GP, Postmodernisme dan Konsep Kekristenan, Jurnal Pelita Zaman.vol.1 nomor 15,2001
Jean Baudrillird, Kelahiran Postmodern, makalah tidak diterbitkan, 2011
Muzairi, Filsafat Umum,(Yogyakarta: Teras, 2009)
Paulina M.Rosenau, Postmodernism and social Science,makalah tidak diterbitkan, 1992
Santoso,Listiyanto dkk,Epistimologi kiri(Jogjakarta; Teras, 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar