STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Jumat, 02 Maret 2012

PRAGMATISME

Pengertian Pragmatisme
            Kata Pragmatisme diambil dari kata Pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan (Encyclopedia Americana,15:683) dan guna. Pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914), filosof Amerika yang pertama kali menggunakan Pragmatisme sebagai metode filsafat (Stroh,1968), tetapi pengertian pragmatisme telah terdapat juga pada Socrates, Aristoteles, Berkeley, dan Hume. Bila pragmatisme disangkutkan dengan Empirisme  maka sejarah pragmatisme berarti tersebar pada banyak filosof besar lainnya, satu di antaranya adalah John Locke.
            Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar tahun 1900.  Pragmatisme mengajarkan bahwa ide-ide tidak “benar” atau “salah” melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman pribadi diterimanya, asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang sebagai berlaku juga, asal kebenaran mistis itu membawa akibat praktis yang bermanfaat.(Harun Hardiwijono, 1990.hlm 130)[1]
            William James mengatakan bahwa secara ringkas pragmatisme adalah realitas sebagaimana yang kita ketahui. Pairce-lah yang membiasakan istilah ini dengan ungkapannya, “tentukan apa akibatnya, apakah dapat dipahami secara praktis atau tidak. Kita akan mendapat pengertian tentang objek itu, kemudian konsep kita tentang akibat itu, itulah keseluruhan konsep objek tersebut.”[2]
            William James yang memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan filsafat. Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam sepanjang hidupnya ia mengalami konflik antara pandangan agama. Ia beranggapan bahwa masalah kebenaran, tentang asal atau tujuan dan hakikat bagi orang amerika terlalu teoritis. Yang ia inginkan adalah hasil-hasil yang konkrit. Dengan demikian, untuk mengetahui kebenaran dari idea tau konsep haruslah diselidiki konsekuensi-konsekuensi praktisnya.[3]
            Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Misalnya, berbagai pengalaman pribadi tentang kebenaran mistik, asalkan dapat membawa kepraktisan dan bermanfaat. Artinya, segala sesuatu dapat diterima asalkan bermanfaat bagi kehidupan.[4]

Pragmatisme Berpegang Teguh pada Praktek
            Penganut Pragmatisme menaruh perhatian pada praktek. Mereka memandang hidup manusia sebagai suatu perjuangan untuk hidup yang berlangsung terus-menerus yang di dalamnya terpenting ialah konsekuensi-konsekuensi yang bersifat praktis. Konsekuensi yang bersifat praktis tersebut erat hubungannya dengan makna kebenaran, demikian eratnya sehingga oleh penganut pragmatism dikatakan bahwa kedua hal tersebut sesungguhnya merupakan ketunggalan. Salah seorang diantara peletak dasar pragmatisme C.S. Peirce, mengatakan secara demikian :”untuk memastikan makna apakah yang dikandung oleh sebuah konsepsi akali, maka kita harus memperhatikan konsekuensi-konsekuensi praktis apakah yang niscaya akan timbul dari kebenaran konsepri tersebut”.[5]
            Jika tidak menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang praktis, maka sudah tentu tidak ada makna yang dikandungnya. Kesimpulan yang terakhir ini dinyatakan dalam semboyan yang menarik :”Apa yang tidak mengakibatkan perbedaan tidak mengandung makna”. Makna yang dikandung sebuah pernyataan tersebut dalam konsekuensi yang niscaya timbul dari pernyataan yang dianggap benar.[6]

Makna dan Kebenaran Berhubungan dengan Konsekuensi-konsekuensi.
            Sesungguhnya makna menyangkut ide, dan kebenaran menyatakan hubungan antara ide-ide yang dipandang berhubungan, dan hubungannya dengan sesuatu yang ditunjuk oleh ide-ide tersebut. Karena makna yang dikandung oleh ide-ide tersebut ditentukan oleh konsekuensi-konsekuensi yang praktis, maka kebenaran suatu tanggapan mengenai hubungan antara ide haruslah dengan cara tertentu berhubungan dengan corak-corak konsekuensi yang khusus.
            Seorang penganut pragmatisme melakukan pendekatan terhadap penyelesaian masalah ini dengan mempertimbangkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh oaring yang berfikir. Berbicara secara biologi, pikiran merupakan perabot untuk menyelesaikan masalah-masalah kita. Jika demikian halnya, maka berfikir secara lurus ialah menghubungkan ide-ide sedemikian rupa, sehingga ide-ide tersebut memimpin kita untuk memperoleh hasil yang memuaskan dalam kegiatan menyelesaikan masalah. Karena kebenaran harus bersangkutan dengan penyelesaian masalah yang kita hadapi dan menurut penganut pragmatisme kita dapat mengatakan bahwa suatu ide atau tanggapan benar, jika ide atau tanggapan tersebut menghasilkan sesuatu, artinya, jika membawa kita kearah penyelesaian masalah yang kita hadapi secara berhasil. Pragmatisme membuat kebenaran menjadi pengertian yang dinamis dan nisbi, karena masalah-masalah yang kita hadapi bersifat nisbi bagi kita.[7]
            Contoh yang diberikan oleh A.C.Lovejoy di dalam tulisannya yang termasyhur yang berjudul “The Thirteen Pragmatisme[8] dikatakan bahwa orang Yahudi selama berabad-abad percaya akan adanya seorang Juru Selamat yang pada waktu telah tertentu akan datang. Peristiwa yang diramalkan itu tidak terjadi tetapi berbicara secara biologi, ide tersebut berpengaruh, karena menyebabkan kelangsungan hidup orang Yahudi. Yang demikian ini memberikan gambaran mengenai jenis pertimbangan-pertimbangan yang hendak diikuti oleh seorang penganut Pragmatisme, maupun mengenai kesulitan-kesulitan dalam memilih pertimbangan yang bersifat menentukan dalam masalah-masalah tersebut.[9]

Meliorisme dan Teori Kebenaran
            Meliorisme adalah fungsi penengah antara filsafat tender minded dan tough minded.Temperamen tender minded kelihatan dalam pendekatan rasional, selalu mencari konsep dan prinsip. Ia selalu merupakan pemikiran dan usaha intelektual, lebih sistematis, lebih konsisten daripada kepercayaan imderawi tough minded. Tough minded menyatakan diri dalam pendekatan empiris, dalam mencari kebenaran. Ini ia hanya berkepentingan dengan fakta-fakta yang dapat diindera. Ini tentu saja menuju pada materialisme, dan skeptis terhadap apa saja yang berbau imaterial.[10]
            Dalam beberapa hal metode meliorisme diakui benar dan berguna dalam kehidupan, terutama dalam pengambilan keputusan diantara ide-ide yang berlawanan, tetapi itu tidak harus dan tidak selalu. Tidak selalu karena dapat ditemukan banyak ide yang bertentangan, yang betul-betul tidak dapat digabungkan, tidak mungkin di damaikan.[11]
Kebenaran itu ada bermacam-macam. Ada kebenaran yang dapat di uji secara empiris, ada kebenaran yang hanya dapat di uji secara logis (aqliah), bahkan ada kebenaran yang hanya dapat di uji dengan kekuatan rasa (hati, dlamir, intuisi, moral, iman).[12]

Kenyataan, Suatu Proses di dalam Waktu
            Di tinjau dari sudut ontology, seorang penganut pragmatisme memandang kenyataan sebagai suatu proses di dalam waktu, yang di dalamnya mengetahui nyata-nyata memainkan peranan yang kreatif. Dalam arti yang konkret yang mengetahui membuat hari depan ketika ia membuat kebenaran. Hari depan bukanlah sesuatu yang telah ditentukan yang sepenuhnya tergantung pada masa lampau, melainkan setiap tindakan yang mengetahui memasukan unsure baru yang bersifat menentukan.
            Pilihan merupakan kemungkinan yang nyata dan tergantung pada tindakan orang yang memperoleh pengetahuan ketika ia menghadapi masalah-masalah dan berusaha menyelesaikannya. Ini tidak berarti memandang pragmatisme bersumber pada suatu bentuk idealisme. Seorang penganut pragmatisme berpegangan pada adanya hal-hal yang nyata yang tidak bergantung pada pengetahuan kita. Tetapi apa yang terjadi dipandang tergantung pada kegiatan orang yang mengetahui. Orang dapat membuat hari depannya melakukan apa yang ia kerjakan dewasa ini.

Instrumentalisme
            John Dewey lebih suka menamakan cara penggabarannya mengenai pragmatism dengan istilah “instumentalisme”, untuk memberikan tekanan pada hubungan antara ajarannya dengan teori biologi tentang evolusi. Ia memandang tiap-tiap organism dalam keadaan perjuangan yang berlangsung terus menerus terhadap alam sekitarnya dan mengembangkan berbagai perabot yang memberikan bantuan dalam perjuangan tersebut. Pikiran berkembang sebagai alat untuk mengadakan eksperimen terhadap alam sekitar ketika organisme yang berupa manusia berusaha untuk menguasai dan memberi bentuk pada alam sekitar tersebut agar terpenuhi kebutuhannya. Karena itu kecerdasan merupakan sesuatu yang bersifat kreatif, dan pengalaman merupakan unsur terpokok dalam segala pengetahuan. Misalnya, jika kita dihadapkan pada masalah akan belajar ataukah menonton film, maka kita mungkin memikirkan konsekuensi-konsekuensi yang akan timbul dari masing-masing tindakan tersebut.[13]

Daya Tarik Pragmatisme
            Pragmatism merupakan sebuah ajaran yang menarik bagi sementara orang, karena menitikberatkan pada pengalaman dan bersifat naturalistik, tetapi sekaligus menyerahkan tugas yang nyata-nyata bersifat kreatif kepada orang yang memperoleh pengetahuan. Pragmatisme bersangkutan dengan masalah-masalah mengenai organisme di dalam perjuangan untuk kelangsungan hidupnya dan menjadikan penyelesaian masalah sebagai pendorong bagi tingkah laku dan karenanya sebagai kunci semua penafsirannya kefilsafatan.
            Bahkan perenungan kefilsafatan dipandang sebagai alat untuk menyelesaikan masalah mengenai penyesuaian. Selanjutnya pragmatism memberi dorongan untuk bertindak. Di sinilah letak kekuatan kreatif suatu organisme, ia tidak puas hanya dengan memandang suatu secara pasif. Di atas segala-galanya, pragmatisme merupakan suatu ajaran yang memberikan ukuran bagi makna dan kebenaran berdasarkan atas proses yang hidup dari penyelesaian masalah.[14]



Tokoh-tokoh Pragmatisme
Dibawah ini beberapa tokoh yang memperkenalkan pragmatisme, adalah sebagai berikut:
1.      C.S Peirce (1839-1914)
Selagi Wild Bill Hickok menjelajahi daratan, peirce membentuk gagasannya, dan dalam tahun 1878 menghasilkan pandangan mengenai pertimbangan akibat apa yang dapat secara masuk akal mempuyai pengaruh praktis ketika kita memahami objek konsepsi kita yang harus dimiliki. Maka, konsepsi mengenai akibat-akibat ini adalah seluruh konsepsi kita mengenai objek itu. Ini tidak lain dimaksudkan untuk memiliki maksim logis untuk mewujudkan arti katadan konsep menurut makna praktis mereka. Atau dengan kata lain, untuk menetapakan hubungan antara pikiran dan tindakan.[15]
2.      William James (1842-1910)
James lahir di New York , memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi, dan filsafat.
Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam sepanjang hidupnya mengalami konflik antara pandangan ilmu pengetahuan dengan pandangan agama. Ia beranggapan, bahwa masalah kebenaran tentang asal/tujuan dan hakikat orang Amerika terlalu teoritis. Ia menginginkan hasil-hasil yang konkret. Dengan demikian, untuk mengetahui kebenaran dari ide atau konsep haruslah diselidiki konsekuensi-konsekuensi praktisnya. Kaitannya dengan agama, apabila ide-ide agama dapat memperkaya kehidupan, ide-ide tersebut benar.
Model pragmatisme ini benar-benar mendarat dalam menyatakan bahwa pikiran hanyalah merupakan alat untuk melakukan sesuatu, dan kebenaran adalah apa yang secara pragmatisme berguna. Pragmatisme hanyalah suatu metode, ia tidak memberitahukan apapun secara khusus.[16]

3.      John Dewey (1859-1952)
John Dewey mengubah pragmatisme ini menjadi etika dan filsafat pendidikan yang sangat mempengaruhi polese sosial Amerika, khususnya bidang-bidang legal dan pendidikan. Dewey mensintesiskan karya James dan Peirce dan menghasilkan ide Instrumentalisme.
            Dewey percaya bahwa intelegensi, tingkah laku dan pengetahuan dapat berubah, dan bahwa akibatnya pendidikan merupakan hal yang sangat menentukan untuk membentuk masyarakat. Pragmatisme mempunyai pengaruh besar dalam bidang inimembela “problem solving” eksperimental dan pengajaran nondogmatik. Permasalahan dengan pragmatisme ialah bahwa dengan mengatakan segalanya relatif, seperti kebenaran, seseorang tidak pernah dapat memutuskan apapun secara filosofis. Orang lain mengatakan bahwa pragmatisme cocok sekali dengan efisiensi kapitalisme industrial.
Dalam Reconstruction of Philosophy (1920), Dewey mencoba menerapkan pandangan pragmatis dalam segala hal (Pragmatisme jelas baik untuk kita karena Dewey terbukti berumur panjang). Instrumentalisme, yang kira-kira sama dengan pragmatisme, juga berumur panjang.Menurut paham ini pada akhirnya benar atau salahnya suatu gagasan bukanlah masalah serius, melainkan sejauh mana amnfaatnya. Richard Rorty, filsuf lain dari Amerika belakangan pun menyuarakan hal yang sama.[17]


4.      John Rawls
John Rawls tidak setua mereka, maka tidak sedemikian pragmatis, tapi ada kemungkinan menjadi pragmatis. Namanya tersohor terutama karena tulisannya A. Theory of Justice, dimana ia banyak membahas perihal hak-hak individu. Ia berusaha mengembangkan gagasan tentang “Justice as Fairness”, sesuatu yang menjadi topik pembahasan di Amerika belakangan ini.
Rawls memunculkan kembali gagasan “kontrak sosial”dan berpendapat bahwa kontrak sosial didasarkan pada kesepakatan rasional mengenai cara mengupayakan keadilan. Secar pragmatis, Rawls memandang bahwa tidak seorangpun boleh lebih makmur dari pada orang lain, dan bahwa kesenjangan adalah sesuatu yang tidak baik, tidak alamiah. Tak pelak lagi, banyak orang menolak pandangannya. Nozick, seorang liberalis radikal (yang menjadi corong filsafat bagi kalangan sayap kanan), berusaha menurunkan Rawls dengan menulis Anarchy, State dan Utopia.
5.      Hans Valhinger (1852-1933)
      Bagi dia tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Penyesuaian dengan objeknya tak mungkin dibuktikan, satu-satunya ukuran bagi berfikir adalah gunanya untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu hanya semata-mata jika pengertian itu berguna untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidaklah lain daripada kekeliruan yangberguna saja.[18]





Penutup
            Salah satu aliran terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad XX  ini adalah Pragmatisme. Yaitu suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang akibat-akibatnya bermanfaat secara praktis.Jadi patokan Pragmatisme adalah manfaat bagi kehidupan praktis. Kebenaran mistis diterima, asal bermanfaat praktis. William James mengatakan bahwa secara ringkas pragmatisme adalah realitas sebagaimana yang kita ketahui.
            Aliran ini juga merupakan aliran yang paling terkenal di Amerika Serikat, dengan 2 tokoh yang paling terkenal yaitu William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Kedua tokoh tersebut mempunyai kontribusi dalam perkembangan aliran pragmatisme di dunia pada masa kontemporer.











Daftar Pustaka
Achmadi, Asmoro, 2005,  Filsafat Umum, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Kattsoff, Lois, O., 1989, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Alih Bahasa
Muzairi, M.Ag, 2009, Filsafat Umum, Yogyakarta: Teras
Osborne, Richard, 2004, Filsafat Untuk Pemula, Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Poedjawijatna, Prof. I. R, 1994, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: PT   Rineka Cipta
Surajiyo, 2005, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,  Jakarta: Bumi Aksara
Tafsir, Ahmad, Prof. Dr, 2009, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales             Sampai Capra, Bandung: PT Remaja Rosdakarya


[1] Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm.162-163
[2] Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),hlm.190
[3] Muzairi, Filsafat Umum, (Yogyakarta : Teras, 2009), hlm 141
[4] Muzairi, Filsafat Umum, (Yogyakarta : Teras, 2009), hlm 140-141
[5] C.S.Peirce,”How to make our ideas clear”, (New York:1951), hlm 78
[6] Louis O.Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta:Alih Bahasa, 1989), hlm 130
[7] Louis O.Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta:Alih Bahasa, 1989), hlm 131
[8] Journal of Philosophy,Psicology, and Scientific Method, Jilid V (1908) hlm 5
[9]   Louis O.Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Alih Bahasa, 1989), hlm 132
[10] Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),hlm.194
[11] Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),hlm.212
[12] Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),hlm.213
[13]Louis O.Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta:Alih Bahasa, 1989), hlm 133
[14] Louis O.Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta:Alih Bahasa, 1989), hlm 134
[15]Richard Osborne, Filsafat untuk pemula, ( Jogjakarta: Penerbit Kanisius, 2001),hlm.138
[16]Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2010),hlm.135
[17] Richard Osborne, Filsafat untuk pemula, ( Jogjakarta: Penerbit Kanisius, 2001),hlm.140
                [18] Prof. I. R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Filsafat, (Jakarta: PT Rineka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar