STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 05 Maret 2012

Taqwa Adalah Sebaik-baik Pakaian

2.5. Taqwa Adalah Sebaik-baik Pakaian.
          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
26. Hai anak Adam[530], Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa[531] Itulah yang paling baik. QS Al A’raf: 26
 [530] Maksudnya Ialah: umat manusia
[531] Maksudnya Ialah: selalu bertakwa kepada Allah.
          Allah Subhanahu wa Ta’al menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya pakaian penutup aurat (al libas) dan pakaian indah (ar risy) maka al libas merupakan kebutuhan yang harus, sedangkan ar risy sebagai tambahan dan penyempurna. Artinya, Allah menunjuki kepada manusia bahwa sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang menutupi aurat yang lahir maupun batin, dan sekaligus memperindahnya, yaitu pakaian at taqwa.
          Imam Al Qurthubi megomentari tentang firman Allah (Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik), dengan menjelaskan bahwa taqwa adalah sebaik-baik pakaian, sebagaimana dikatakan oleh Abul Atahiyah dalam bait-bait syair ini:
          Jika seseorang tidak berpakaian dengan pakaian taqwa,
          sama halnya dengan tidak berpakaian,
          sekalipun pada lahirnya ia berpakaian.
          Sebaik-baik pakaian seseorang,
          adalah taat kepada Rabbnya.
          Tidak ada kebaikan sedikitpun,
          bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya.
          Qasim bin Mas’ud meriwayatkan dari ‘Auf dari Ma’bad Al Juhni berkata, maksud pakaian taqwa adalah ‘al hayaa’ (malu). Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat, bahwa pakaian taqwa adalah amal shalih, wajah yang simpatik, dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah ajarkan dan tunjukkan.
          Adapun perkataan orang, bahwa yang dimaksud itu adalah pekaian kasar, karena hal ini lebih dekat kepada tawadlu’, tidaklah benar. Sebab, para ulama yang mulia memakai pakaian yang halus dengan disertai bukti ketaqwaan. (Al jami’ li Ahkamil Qur’an, III/2620-2621, dikutip secara ringkas)

2.6. Taqwa Adalah Sebaik-baik Bekal
          Allah berfirman:
وتزوّدوا  فإن خير الزّاد التقوى، واتقون يا أولى الألباب
Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Al Baqoroh: 197)
          Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut, dengan menyatakan bahwa kalimat “Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa,” menunjukkan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk membekali dunia, maka Allah menunjuki kepadanya tentang bekal menuju akhirat (yaitu taqwa). Dengan demikian, taqwa adalah teman bepergian menuju akhirat. Didalam firman Allah, “Dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah sebaik-baik pakaian,” Allah menyebutkan pakaian hissi (yang bersifat lahiriyah), kemudian Dia mengingatkan tentang pakaian maknawi,yaitu berlaku khusyu’, taat, dan taqwa. Dan inilah yang lebih baik daripada pakaian lahir, serta lebih bermanfaat. Atha’ Al Khurrasani berkata tentang firman Allah, “Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa,” maknanya bekal untuk akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, I/239, Darul Ma’rifah)
          Dalam kaitan yang sama, Zamakhsyari rahimahullah menyatakan, maknanya adalah, Berbekallah ke akhirat dengan taqwa karena dapat membersihkan kotoran-kotoran. Katanya, “Adalah penduduk Yaman, tatkala mereka pergi haji ke Baitullah, mereka tidak membakali diri, dan mereka berkata, ‘Kami bertawakkal kepada-Nya’. Mereka yakin bahwa Alah akan memberi makan kepada mereka (dengan perantara manusia, ed), lalu mereka berharap kepada pemberian manusia. Maka, turunlah ayat tersebut, yang maknanya, ‘Hendaklah kalian berbekal, dan peliharalah dirimu dari meminta makanan, menyusahkan, serta memberatkan orang lain, sebab sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Firman-Nya (Bertaqwalah kepada-Ku), artinya ‘takutlah kamu terhadap siksa-Ku’. Dan firman-Nya (Wahai orang-orang yang berakal), maksudnya ‘bagi orang yang berakal, ia tentu berfikir bahwa perkara terpenting adalah taqwa kepada Allah. Dan bagi siapa yang takut pada perkara terpenting ini (taqwa), maka sama artinya bahwa dia itu tidak mempunyai akal.” (Al Kasysyaf, I/224)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar