STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Senin, 05 Maret 2012

Ahlut Taqwa Adalah Wali Allah

2.7. Ahlut Taqwa Adalah Wali Allah.
            Allah Ta’ala berfirman:
ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون  الذين آمنوا وكانوا يتقون (سورة يونس)
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak adakekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.”(Yunus: 62-63)
والله ولي المتقين (سورة الجاثية)
 “Dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang bertaqwa.” (Al Jatsiyah: 19)
          Predikat ‘wali-wali Allah’ hanya layak bagi orang-orang yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah dan konsisten terhadap sunnah Nabi-Nya. Allah berfirman:
إن أولياءه إلا المتقون ولكن أكثرهم لا يعلمون
“Oran-orang yang berhak menguasainya, hanyalah orang-orang yang bertaqwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al Anfal: 34)
          Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan taqwa sebagai mizzan kebenarn, yang sepatutnya dijadikan sebagai alat menimbang oleh manusia. Jangalah menjadikan kedudukan, keturunan, harta, dan popularitas sebagai mizan.
          Allah berfirman:
إن أكرمكم عند الله أتقاكم
 “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (Al Hujurat: 13)
          Syaikh Asy Syanqithi rahimahullah berkata, sesungguhnya keutamaan dan kemuliaan itu hanyalah dengan taqwa kepada Allah, dan tidak atas dasar selainnya, baik karena keturunana maupun kesukuan. Benarlah yang dikatakan orang;
فقد رفع الإسلام سلمانَ فارسٍ        ..........   وقد وضع الكفرُ الشريف أبا لهبٍ
“Sungguh, Islam telah meninggikan derajat Salman Al Farisi.
Dan sungguh, kekufuran telah menurunkan kemuliaan Abu Lahab.”
          Mereka menyebutkan, bahwa Salman radliyallahu ‘anhu berkata:
إذا افتخروا بقَيْسٍ أو تميم            ..........        أبي الإسلام لا أبَ لي سواه   
“Kalau mereka bebangga dengan suku Qais atau Tamim, maka ketahuilah, bahwa ayahku adalah islam bukan selainnya.”
فأكرم الناس وأفضلهم أتقاهم لله ....   ولا كرم ولا فضل لغير المتقى ، ولو كان رفيع النسب.
Jelaslah bahwa kemuliaan dan keutamaan manusia hanya bisa dilihat dari segi ketaqwaan mereka kepada Allah. Dan tidak ada orang yang utama dan mulia di dunia ini, sekalipun dia dari keturunan bangsawan.

2.8. Saling Menolong Atas Dasar Taqwa
          Karena kemuliaaan taqwa, maka Allah memerintahkan kaum muslimin untuk saling menolong atas dasar taqwa dan tidak tolong menolong atas dasar selainnya.
          Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان
“Hendaklah kamu saling menolong atas dasar kabaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling menolong atas (pebuatan) dosa dan permusuhan.” (Al Ma’idah: 2)
          Imam Al Qurthubi rahimahulah di dalam tafsirnya berkata, Al Mawardi berkata, ‘Allah memerintahkan manusia berta’awun atas dasar kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah. Sebab, dengan taqwa, Allah menjadi ridla kepada hamba-Nya, dan dengan kebaikan, manusia ridla kepadanya. Barangsiapa yang dapat menghimpun keridlaan Allah dan keridlaan manusia, maka sempurnakanlah kebahagiaannya dan lengkapilah kenikmatan-kenikmatannya.
Ibnu Khuwaidz Mindad berkata, ‘Ta’awun atas dasar kebaikan dan ketaqwaan banyak macamnya. Orang yang berilmu wajib mengajari orang lain dengan ilmunya. Orang kaya menolong orang miskin dengan hartanya. Orang pemberani membantu orang lemah pada jalan Allah. Dan kaum muslimin hendaknya saling membantu dan membela, seperti halnya tangan yang satu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kaum Muslimin memiliki darah yang satu. Atas jaminan tersebut, mereka berupaya membantu yang lemah diantara mereka. Keadaan mereka seperti halnya satu tangan dalam menghadapi orang-orang yang selain mereka.” (Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, III:2044; Abu Dawud, 4507, Bab Diyat; Ibnu Majah, 2683, Bab Al Hudud; dan shahih menurut Syaikh Al Albani)
          Al Qosimi rahimahullah berkata:
          “Dan di dalam kitab Al Iklil disebutkan bahwa pengikut madzhab Maliki berdalil dengan ayat tersebut tentang tidak dibenarkannya seseorang menyewakan diri untuk memanggul arak atau yang sejenisnya, menjual anggur kepada orang yang akan memerasnya menjadi arak, dan menjual senjata kepada orang yang akan mempergunakannya untuk maksiat, dan perkara lain yang semisalnya.” (Lihat Mahasinut Ta’wil, VI:25)
          Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata:
          “Ayat tersebut meliputi seluruh permasalahan manusia dalam kehidupan mereka, yaitu antar sesama manusia dan diantara manusia dengan Allah. Setiap manusia tidak bisa terlepas dari kedua hal tersebut, keduanya merupakan kewajiban, yaitu kewajiban hamba kepada Allah, dan kewajiban hamba denga hamba. Menyangkut maslahat antara seorang hamba dengan orang lain, adalah sepert dalam hal pergaulan, tolong menolong, persahabatan, maka kewajiban hamba dalam hal ini adalah, menjadikan persatuan, persahabatan , dan hubungan baik diantara mereka sebagai sarana tolong-menolong dalam rangka memperoleh ridla Allah dan ketaatan kepada-Nya. Hal ini, tidak lain merupakan tujuan hidup hamba dan sebab kebahagiaannya, dan tidak ada kebahagiaan bagi seorang hamba kecuali dengan reidla Allah, yaitu berupa al birr dan at taqwa, yang keduanya merupakan pokok ajaran islam.” (Risalatut Tabukiyyah, 12)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar