STIT AT-TAQWA CIPARAY BANDUNG

Selasa, 06 Maret 2012

KEUNGGULAN MANUSIA KARENA TAQWA , BUKAN KARENA NASAB

QS al-Hujurat: 13: Manusia Dalam Asal Penciptaan dan Khaliqnya
ياأيها الناس,  إنّا خلقناكم, من ذكر وأنثى , وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا , إنّ أكرمكم عند الله أتقاكم , إنّ الله عليم خبير
“Wahai manusia, susungguhnya Kami telah ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah jadikan kamu berbangsa-bangsa, bersuku-suku agar saling mengenal (satu sama lainnya). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling taqwa (kepada-Nya)” (Al Hujurat: 13).

Sekilas Tentang Asbab Nuzul Ayat ini Dan Komentar Para Mufassir:
1.      Abu Dawud meriwayatkan sbb: “Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hindun ketika Banu Bayadloh menolak untuk menikahkan dia, kemudian Rasulullah Saw memerintahkannya untuk menikahkan dia, seraya bersabda, “Nikahkanlah Abu Hindun dan merekaSpun kemudian bersedia menikahkannya” (Hadits no. 2103 jilid 4, dan juga Ibnu Jarir. Ibnu Abdil Barr menyebutkannya dalam biografi Abu Hindun. Juga dalam Tafsir Al Qurthubi, 16: 24)
2.     Dalam riwayat lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang hamba yang hitam kelam menderita sakit, lalu Rasulullah Saw mengunjunginya, lalu ia meninggal. Nabi pun memandikannya, mengafaninya dan memakamkannya. Ternyata sikap Nabi Saw tersebut membawa dampak bagi para sahabat, maka turunlah ayat ini. Dikatakan oleh Yazid bin Syajarah (Kata Ibnu Hajar dalam Takhrij al Ahadits al Khasysyaf 4/375, disebutkan oleh ats Tsa`labah dan al Wahidi tanpa sanad, lihat Zaad al Masir, 7/473).
3.     Berkenaan dengan Bilal bin Rabah, ketika Rasulullah Saw memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan di atas dinding Ka`bah pada waktu Futuh Makkah, lalu ada diantara manusia mendapati sesuatu dari diri mereka sendiri, kemudian mereka menyampaikan protesnya: “Mengapa harus dia, bukankah yang lainnya lebih layak …. Lalu turunlah ayat ini. Seperti dikatakan oleh Muqatil dan Ibn u Abi Mulaikah, Tafsir Ad Durr   - al Mantsur,6/107, As Suyuthi, dengan menisbatkan kepada sumber asalnya Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan al Baihaqi di dalam ad Dala’il. Lihat Dalail an nabuwwah al Baihaqi, 4/328, dan Ibnul Jauzi dalam Zaad al Masir, 7/473
4.     Bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Tsabit bin Qais dan seorang laki-laki yang tak memberikan keluasan tempat duduk buat Tsabit, lalu Tsabit mengucapkan kata-kata, “Engkau adalah anak si Fulanah” (Ibnu Hajar, Takhrijul Ahadits al Kasysyaf, 4/370, disebutkan dari Ibnu Abbas Ra tanpa ada sanad).
Sebenarnya banyak versi tentang peristiwa-peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat ini, sebagaimana para mufassir menyandarkan kepada berita dari kalangan sahabat dan tabi`in. Sebut saja seperti disebutkan oleh Al Khazin, Ats Tsa`labi, Az Zamakhsyari, Ibnul Jauzi, Imam As Suyuthi, dll ketika menafsirkan ayat ini. Semua atsar di atas adalah DLOIF tidak bisa dijadikan ketetapan, begitu menurut DR Muhammad bin Muhammad al Amin al Anshori dan juga DR Nashir bin Sulaiman al `Umar. Namun yang lebih baik dan patut dinyatakan tentang asbab nuzul ini adalah: “ Sesungguhnya ayat ini khithabnya (arah pembicaraannya) bersifat umum, baik itu beerkenaan dengan kasus dan peristiwa tertentu ataupun tidak ada sama sekali kasus yang melatarbelaknginya. Jadi sifatnya umum …” (Dr. Muhammad bin Muhamamd Al Amin Al Anshori, hal. 21-22).
Syaikh Abu Bakar al Jazairi (Aisarut Tafasir, jilid 5: 131) dalam menafsirkan penggalan ayat ini yang berkaitan dengan keragaman ras, suku, dan bangsa, dia berkata: “Mereka itu seharusnya saling tolong (ta`awun) sebab ta`awun antar individu merupakan perkara yang sangat penting untuk tegaknya sebuah masyarakat yang baik dan bahagia, maka mereka harus saling mengenal, saling menolong, dan jangan bercerai berai agar tidak saling menyombongkan diri karena keturunan, sebab bisa jadi orang yang berasal dari keturunan bangsawan (Berdarah biru ?) sekalipun, bisa jadi terjerumus ke dalam prilaku tidak terpuji, buruk, amoral dan zhalim. Dan sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa kepada Nya. Ketika Nabi Saw khotbah di Makkah, beliau mengatakan:
“Wahai manusia, Allah telah menghilangkan dari kalian aib jahiliyah dan dari sikap bangga diri (sombong) terhadap nenek moyangnya, maka ketahuilah bahwa manusia itu ada dua golongan, yaitu “Birrun Taqiyyun Kariimun `alallah, dan Fajirun Syaqiyyun Hayyinun `alallah: (Baik, taqwa lagi mulia di sisi Allah, dan Fajir, sengsara lagi hina di sisi Allah)
فَالنَّاسُ رَجُلانِ : بِرٌّ تَقِيٌّ كَرِيْمٌ على اللهِ , وفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ على الله
Selanjutnya Syaikh Abu Bakar Al Jazairi menyebutkan: “Bahwa sesungguhnya keunggulan dan kemuliaan manusia itu terletak pada kesucian ruhnya, keselamatan akhlaknya, lurus dan benar fikrahnya, dan disamping adanya keunggulan-keunggulan pengetahuannya” (hal. 132).
Syaikh Muhammad Nashib ar Rifa`i (Tafsir Taisirul `Aliyyul Qadir, Ikhtishar Tafsir Ibnu Katsir), dia mengatakan: “Untuk memperoleh ta`aruf sesama manusia, maka hendaknya masing-masing kembali kepada kabilahnya. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Saw bersabda:
تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامُكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّة فِي الأَهْلِ مُثْرَاةٌ
 في الْمَالِ مُنْسَأَةٌ فِي الأَثَرِ
 “Kenalilah dan Pelajarilah tentang nasab kalian, yang dengannya kalian akan dapat menghubungkan rahim-rahim kalian. Sebab silaturrahim dapat membangun rasa cinta dalam keluarga, memperkaya harta  dan selalu dikenang setelah wafatnya”
خِيَارُكُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِيْ الإسلامِ إِذا فَقُهُوْا (رواه البخاري)
“Keunggulan kamu pada masa jahiliyah adalah keunggulanmu pula pada masa Islam,
 jika kamu faqih dalam agama”
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلى صُوَرِكُمْ وَأَمْوالِكُمْ ولكِنْ يَنْظُرُ إلى قُلُوبِكُمْ وَأَعمالِكُمْ (رواه مسلم)
 “Sesungguhnya Allah tidak memandang profilmu dan hartamu, akan tetapi Dia memandang hatimu (niat) dan amal perbuatanmu

Seruan Umum Dari Ayat 13 Surat Al-Hujurat:
     Pada ayat 13, Allah berfirman: “Sungguh Kami telah menciptakanmu dari laki-laki dan perempuan ……  Ayat ini menegaskan adanya : WIHDAH AL-BASYARIYAH dan ITSBAAT ASH-SHOONI` (Kesatuan Umat Manusia) dan (Ketetapan adanya Sang Produsen, yaitu Allah Jalla Jalaluhu).   وحدة البشرية و إثبات الصانع
     Ketika lafazh “an Naas” berdiri sendiri tidak didahului seruan, maka arah pembicaraan nya tertuju kepada orang mukmin. Misal seperti yang terdapat pada QS 2: 13. Juga dalam QS 3: 97.
     وإذا قيل لهم آمنوا كما آمن الناس.. (البقرة :13). ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا (آل عمران : 97)
Adakalanya “an Naas” itu meliputi orang kafir dan orang beriman, pada  QS 3: 87.
أولئك جزاءهم أن لعنة الله والملائكة والناس أجمعين (آل عمران 87)
     Begitu pula, ketika lafzah an Naas didahului dengan “hudan” yang dikaitkan dengan al Qur’an, maka manusia disini adalah orang yang beriman, sebab al Qur’an itu menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa.. Juga terdapat dalam QS 3: 3-4.
     نزل عليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه و أنزل التوراة والإنجيل من قبل هدى للناس , وأنزل الفرقان إن الذين كفروا بآيات الله لهم عذاب شديد والله عزيز ذوا انتقام (آل عمران :3-4)
Huda (petunjuk) disini dimaksudkan sebagai petunjuk khusus, yaitu berupa anugerah taufiq, untuk menerima Dinul Haq, dan bukan sebagai petunjuk umum. (Tafsir Adlwa’ul Bayan, Syaikh Muhammad Amin Asy- Syanqity, juz 1: 45).
     Hidayah jenis inilah, yang Nabi Saw sendiri pun tidak kuasa memberikannya kepada siapapun dari orang yang paling dia cintai sekalipun. Hal ini Allah tegaskan dalam ayatNya berikut:
إنك لا تهدى من أحببت ولكن الله يهدى من يشاء
“Sesungguhnya engkau tidak bisa memberimpetunjuk bagi orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk bagi yang Dia kehendaki”. QS Al-Qoshash: 56
     Hidayah yang ditetapkan bagi Nabi Saw adalah yang bersifat bimbingan kepada manusia ke arah jalan yang lurus (shirathal mustaqim), Lihat dalam QS Asy Syura: 52.  Hidayah dalam hal ini adalah hidayah “Tabligh dan Irsyaad”. Dan ini memang merupakan tugas Nabi Saw dalam dakwah risalah kenabiannya (Taisirul `Azizil Hamiid, Sulaiman Ali Syaikh, hal. 259).
     Sementara Shadiq Hasan Khan, mengatakan bahwa seruan “Ayyuhan Naas” dalam surat al Hujurat ini ditujukan kepada orang-orang kafir maupun mukmin. (Fathul Bayan fi Maqashidul Qur’an, juz 9: 66).
     Ketika kita memperhatikan QS 2: 21, dimana Allah menyeru umat manusia, dengan seruan untuk beribadah kepada Allah semata, dan tidak membuat tandingan-tandingan disisi Nya…” Ibadah menurut ayat ini adalah Tauhidullah, dan ia merupakan awal dari keharusan seorang hamba untuk mengetahuinya dari segala pengetahuan-pengetahuan lainnya. Dalam hal ini Allah kemukakan Lima Dalil agar hamba-hambaNya mau beribadah kepadaNya saja:
1.      Dialah yang menciptakan kalian
2.     Dialah yang menciptakan bapak-bapak / nenek moyang kalian.
3.     Dialah yang menciptakan dan meninggikan langit berikut benda-benda langitnya
4.     Yang menciptakan dan menghamparkan bumi berikut kandungannya
5.     Allah Mengawinkan Langit dan bumi, seperti mengawinkan Adam dan Hawa. Hujan bertemu dengan unsur-unsur bumi, maka tumbuhlah aneka ragam hayati, flora dan fauna, dan segala anugerah dariNya, maka Dia jadikan sebagai sumber rezeki bagi kalian. Oleh karena itu (Allah mengancam dan memperingatkan keras): janganlah kalian menjadikan (makhluk-makhkluk) sebagai tandingan-tandingan di sisi-Nya.

     Jelaslah disini tampak adanya keterkaitan antara WIHDATUL BASYARIYYAH dan WIHDATUL KHALIQ. Keteraturan yang begitu rapih tersusun saling ketergantungan- sesuai dengan sunnatullah dalam ekosistemnya- , dan berjalan sesuai dengan sunnatullah al kauniyah, ini menunjukkan adalah Wihdatul Khaliq. Dan yang kita saksikan itu berupa “Ayat al Masyhuudah” , sementara ayat-ayat al Qur’an yang kita baca disebut dengan “Ayat al Matluwah”. Dan apabila di alam ini terdapat lebih dari satu Khaliq, justru malapetakalah yang akan terjadi, bukan keteraturan dan keseimbangan terpadu. Perhatikan firman Allah, QS Al-Isra’: 42-44:
قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُوْلُوْنَ إِذَا لاَ ابْـتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيْلاً. سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُوْلُوْنَ عُلُوًّا كَبِيْرًا
Benarlah bahwa Allah itu “Mushawwirul Mubdi`u” (Pencipta sesuatu yang benar-benar baru, tanpa contoh sebelumnya), maka apabila  Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata: “Kun (jadilah), maka jadilah ia. QS Al Mukmin: 68)
ألا له الخلق والأمر (الأعراف : 54)
أم خُلِقوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُوْن , أم خَلَقُوا السَّمواتِ والأرضَ بَلْ لاَيوُْقِنُوْنَ (الطور: 35-36)
قالت رُسُلُهُمْ أفي الله شكٌّ فاطر السموات والأرض (إبراهيم : 10)

Innaa Khalaqnaakum (Ikrar Fithrah terhadap Khaliq):
     Perhatikan QS Al A`raf: 172-173.  Ayat inhi dikenal dengan “Pemenuhan Mitsaq Fithrah setiap hamba” janji fithrah yang mereka ucapkan ketika masih di alam ruh.
     Dalam ayat ini, Allah mengambil kesaksian atas mereka, tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan menyaksikan pula atas mereka, nenek moyang mereka, untuk mematahkan permintaan maaf mereka (keudzuran mereka) agar kelak pada hari kiamat mereka tidak berkata: “kami tidak mengetahui hal ini, maka sekan-akan Allah berfirman, “Ketahuilah olehmu, bahwa tak ada ilah selain-Ku dan tak ada Rabb selain-Ku, dan janganlah kalian mensekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, dan Kami telah betul-betul mengutus Rasul-Rasul kepada kalian untuk memberi peringatan kepada kalian tentang janji—Ku dan mitsaq (sumpah) Ku dan Aku telah menurunkan kepada kalian Kitab-Kitab-Ku, mereka pun berkata, “kami bersaksi bahwa Engkau Rabb kami dan ilah kami, tidak ada Rabb selain Engkau, kami berikrar kepada-Mu hari ini untuk melakukan ketaatan” dna dia juga mengambil mitsaq yang khusus, yaitu mitsaq lainnya, kepada paran Nabi” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 2 : 263). Seperti firmanNya dalam QS Al-Ahzab: 7-8.

Seruan Rasulullah SAW dalam Khotbah Wada’: (Pada Hari Tsyriq)
“Wahai manujsia, ketahuilah dan inagtlah Rabb kalian itu Satu, tak ada keunggulan bagi orang Arab terhadap orang bukan arab, dan tidak pula bagi non arab atas orang arab, tidak pula bagi orang negro atau orang bule, si bule atas  si negro, kecuali dengan ketaqwaannya, sesungguhnya yang mulia di antara kalian adalah yang paling taqwa dari kalian. Bukankah aku telah sampaikan persoalan ini ? Mereka menjawa: Benar, wahai Rasulullah, lalu beliau bersabda : “Maka menjadi tugas Anda yang hadir di tempat ini menyampaikan kepada yang tidak hadir” (HR Ahmad, dalam Musnadnya, 5/411).
خير الناس أقرأهم وأتقاهم لله عز وجل وآمرهم بالمعروف وأنهاهم عن المنكر وأوصَلُهُمْ للرَّحِمِ
paling baik “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik bacaan al Qur’annya dan yang paling taqwa kepada Allah, dan yang memerintahkan perkara yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar, dan yang dalam upaya menjalin tali rahim” (HR Ahmad, Musnadnya, 5/432).
Dari Hubaib bin Khorrasy bahwasanyan dia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
المسلمون أخوة لا فضل لأحد على أحد إلا بالتقوى
“Kaum muslimin itu bersaudara, tak ada keunggulan bagi yang satu terhadap yang lainnya kecuali dengan taqwanya kepada Allah” (Ath Thabrani dalam al Mu`jamul Kabir, 4/30)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
Keutamaan haqiqi adalah ittiba` kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw, berupa iman dan ilmu, secara batin maupun lahir. Dan keutamaan itu tidak lain hanyalah merupakan sebutan-sebutan yang terpuji yang ada di dalam al Qur’an dan as Sunnah, seperti halnya sebutan Islam, Iman, al Birr dan at Taqwa, ilmu dan amal shalih, serta Ihsan dan sejenisnya, jadi bukan sekedar dia itu orang arab atau bukan arab, atau kulit hitam atau kulit putih, bukan  karena dia orang kota atau badui…..
(Iqtidlo’ ash shiritil Mustaqim, hal. 145).
Muhamamd al Bahi dalam bukunya “Al Qur’an wal Mujtama`”, dia mengatakan:
“Maka hubungan antara individu dalam suatu masyarakat mukmin itu bukanlah ikatan darah dan kekerabatan, byukan pula ikatan suku dan keluarga. Nmaun ia tak lain hanyalah sebuah ikatan iman kepada Allah dan amal-amal shalih…. Oleh karena itu dalam menentukan pimpinan dari sebuah masyarakat mukmin itu haruslah lebih mementingkan peribadi-pribadi di atas asas iman sesama mereka, bukan di atas asas KKN “ (hal. 78-79).
Hal ini sejalan dengan prinsip al Wala’ wal Baro’ di dalam Islam,
Perhatikan kembali QS at Taubah: 23-24.
Dalam bahasa Nabi Saw, bahwa tali pengikat iman yang palin g kokoh adalah Cinta dna benci karena Allah, loyal dan tidak loyal pun karena Allah.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
بعثت إلى كلّ أحمر وأسود فليس من أحمر ولا أسود يَدْخُلُ في أُمَّتِيْ إلاّ كان منهم وجُعِلَتْ لِيَ الأرضُ مَسْجِدًا (رواه الإمام أحمد في المسند ج 1: 250 , ومسلم في كتلب المسجد ومواضع الصلاة عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه)
وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين (الأنبياء: 107)  وما ارسلناك إلا كافة للناس (سبأ: 28)
 قل ياأيها الناس إنّي رسول الله إليكم جميعا (الأعراف: 158)
من عمل صالحا من ذكر وأنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة .. (النحل: 97)

FAKTOR KEUNGGULAN JENIS MANUSIA
ATAS JENIS YANG LAIN BUKAN PADA ASAL CIPTAANNYA

1.      Suatu kenyataan, bahwa ternyata unggulnya satu spesien makhluk terhadap spesien makhluk lainnya bukanlah terletak pada unsur-unsur ciptaannya atau dari bahan apa ia diciptakan. Seperti yang diklaim oleh Iblis ketika mengatakan “aku lebih unggul dari manusia,karena aku diciptakan dari api sedangkan manusia dari tanah”. Jika manusia itu lebih baik dari makhluk lain, itupun bukan karena “kemanusianya” itu sendiri. Namun terletak pada karunia “akal” nya yang dengan nya ada “taklif” dan kemampuan untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Nya. Juga sekaligus membedakan dirinya dengan benda-benda tak mati (jamadat) dan bintang. (Al Muwafaqat, Syathibi, 1:149, al Ahkam oleh Al Amidi, 1:15). Perhatikan firman Allah QS Al Isra’ (17): 70 dan QS at Tiin: 4.
2.     Oleh karenanya, semata mata unsur kemanusiannya saja, maka sifat kebaikan apapun dan juga fitrahnya, tetap saja manusia dapat menjadi “Lebih Sesat” dari binatang dan dengan kemanusiannya itu tidak mampu membersihkan dzatnya (manusia). Perhatikan QS al A`raf (7): 179. Benar, bahwa jenis manusia ini tak akan pernah kosong dari “mulia”, akan tetapi dalam pengertian “mulia yang nisbi”. Manusia yang satu terkadang lebih unggul dalam satu hal, namun yang lain unggul dalam hal lainnya, bukan unggul secara mutlak. Begitu pula unggulnya laki-laki atas wanita itu pun bukan karena jenis laki-nya, dan sebaliknya jika ada wanita yang lebih unggul dari laki-laki, itupun bukan karena ia sebagai wanita. Pada diri manusia, umumnya faktor keunggulannya terletak pada “Suluk dan Akhlak” nya, begitu pula satu suku terhadap suku lainnya, satu bangsa terhadap bangsa lainnya. Sekali lagi, bukan karena jenisnya atau darahnya (keturunan)” (Muhammad  al Bahi, Al Qur’an wal Mujtama`, hal. 15).
3.     Terdapat riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abbas Ra: “Ya Rasulullah, sesungguhnya suku Quraisy sedang duduk-duduk dalam satu majlis, saling menyebut-nyebut keturunan di antara mereka, lalu mereka menjadikan perumpamaan untukmu bagaikan sampak dan debu di atas tanah. Kemudian Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku yang terbaik dalam firqoh-firqoh mereka, lalu Dia pun telah memilihi suku suku maka Dia menjadikan berada dalam suku yang terbaik, kemudian Dia memilih rumah- rumah (keluarga) maka Dia pun  menjadikanku berada dalam sebaik-sebaik rumah (keluarga) mereka. Maka ku ini adalah sebaik-baiknya dari mereka baik secara individu maupun keluarga” HR Tirmidzi, hadits hasan).  Dalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih dari Quraisy itu Bani Hasyim, dan Dia memilihku (yang terbaik) dari Bani Hasyim” (HR Ahmad, Musnadnya, 4: 107, dan Tirmidzi, 5:3606).  Salman al Farisi pernah dinasihati Rasulullah Saw dengan tegurannya: “Hai Salman, janganlah engkau membenciku sehingga engkau memisah kan agamamu. Akum (Salman) berkata, “Bagaimana bisa aku membencimu, padahal melalui engkaulah sehingga Allah memberiku hidayah. Nabi menjawab, “Anda membenci Arab, maka (sama dengan) membenciku” (HR Tirmidzi).  Nabi Saw tak segan-segan menegur keras Salman, padahal ia orang Parsi yang pertama kali masuk Islam., ia memiliki kemuliaan, dengan tujuan mengingatkan kepada siapapun agar tidak berlaku sombong karena bangsa atau suku atau kerurunan.  Tanpa diiringi kalimat-kalimat thayyibah dan amal shalih, siapapun manusia, baik yang nasabnya sampai Nabi Saw, maka tak layak mengaku unggul atas yang lainnya. Yang dapat mengangkat derajat keunggulan seseorang adalah karena ketaqwaannya kepada Allah (Ibnu Taimiyah, Iqtidlo’us shirtil Mustaqim, hal. 156).
4.     Mesti diingat, bahwa kemuliaan bangsa Arab bukanlah karena nisbat tanah airnya, namun karena di sana pernah datang sebuah risalah kenabian samawi sebagai penutup risalah samawi sebelumnya. Tak ada satupun ayat ataupun sunnah Nabi nya, yang menunjukkan adanya sifat unggul bangsa Arab itu karena “nasab“  dan “tanah leluhurnya”. Akan tetaoi karena iman dan taqwanya.  Kata Nabi Saw: “Andaikan iman itu tergantung di atas bintang Tsuroya, pasti akan digapainya oleh orang dari meereka (Yaman)” (HR Tirmidzi, Kitab Manaqib, 3933).
5.     Tanah air tidak akan bisa mensucikan (memuliakan dan mengistimewakan kedudukan) sesesorang. Akan tetapi bahwa seseorang itu akan suci  karerna amalanya (Tulis Salman kepada Abu Darda’, dikeluarkan oleh Imam Malik dalam al Muwaththa’)
6.     SEKUFU’ nya seorang Muslim dengan Muslim lainnya itu karena dien dan keimanannya. Oleh karenanya mukmin yang satu menjadi bagian mukmin lainnya. QS 9: 71; QS 3: 195. Bukan status sosial, kekayaan atau pendidikannya, tetapi agama dan akhlaknya. Orang Muslim sampai kapanpun  tidak akan dikatakan sekufu’ dengan orang kafir atau musyrik. Mukmin laki tidak boleh kawin dengan wanita musyrik, begitu pula wanita mukminah tidak boleh kawin dengan laki-laki musyrik, sekalipun menakjubkanmu (kecantikan, ketanpanan, status sosialnya, pangkat dan jabatannya, pendidikan dan kekayaannya). QS Al Baqarah: 221.

Ø     يقول الشيخ عبد الرحمن السعدي {تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان} : (آية 13) يخبر تعالى أنه خلق بني آدم من أصل واحد , وجنس واحد , وكلّهم من ذكر وأنثى , ويرجعون جميعهم إلى آدم وحوّاء , ولكنّ الله تعالى بثّ منهما رجالا كثيرا ونساء , وفرقهم , وجعلهم شعوبا وقبائل : أي قبائل صغارا وكبارا , وذلك لأجل أن يتعارفوا , فإنّهم لو استقلّ كلّ واحد منهم بنفسه , لم يحصل بذلك التعارف الذي يترتّب عليه  التناصر والتعاون والتوارث , والقيام بحقوق الأقارب , ولكنّ الله جعلهم شعوبا وقبائل , لأجل أن تحصل هذه الأمور وغيرها مـما يتوقّف على التعارف, ولحوق الأنساب , ولكنّ الكرم بالتقوى , فأكرمهم عند الله أتقاهم , وهو أكثرهم طاعة وانكفافا عن المعاصي , لا أكثرهم قرابة وقوما , ولا أشرفهم نسبا , ولكنّ الله تعالى عليم خبير , يعلم من يقوم منهم بتقوى الله ظاهرا وباطنا , مـمن يقوم بذلك ظاهرا لا باطنا , فيجازي كلا كـما يستحق (الطبعة الأولى 1421هـ , مؤسسة الرسالة ناشرون, بيروت لبنان , ص. 802).

Ø     يقول إبن كثير رحمه الله {مصباح المنير في تهذيب تفسير إبن كثير , الشيخ صفيّ الرحمن المباركفري, ص. 1304-1305}: يقول تعالى مخبرا للناس أنه خلقهم من نفس واحدة وجعل منها زوجها , وهما آدم وحواء , وجعلهم شعوبا وهي أعمّ من القبائل , وبعد القبائل مراتب آخر كالفصائل والعشائر والعمائر والأفخاذ , وغير ذلك. وقيل : المراد بالشعوب بطون العجم , وبالقبائل بطون العرب , كما أن الأسباط بطون بني إسرائيل ... (لتعارفوا) أي ليحصل التعارف بينهم كلّ يرجع إلى قبيلته. (إن أكرمكم عند الله أتقاكم) أي إنّما يتفاضلون عند الله تعالى بالتقوى لا بالأحساب.
Ø    وإذ أخذ ربّك من بني آدم من ظهورهم ذرّيّتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عنة هذا غافلين , أو تقولوا إنّما أشرك آباءنا من قبل وكنا ذرّيّة من بعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون (الأعراف 172-173)
Ø    وإذ أخذنا من النبيين ميثاقهم ومنك ومن نوح وإبراهيم وموسى وعيسى ابن مريم وأخذنا منهم ميثاقا غليظا ليسأل الصادقين من صدقهم وأعدّ للكافرين عذابا أليما (الأحزاب 7-8)
Ø     وأما الميثاق الأول العام إذا مات المولود قبل أن يصله الميثاق الثاني الخاص , بقي المولود على الفطرة , و إن أدركه الثاني وقبله نفعه الأول والثاني معـا.وإن عاند ابن آدم في مهـمة الميثاق الثاني فإنّ الأول لا ينفعه (إبن كثير ج 2 : 262-263)

Ø    كما جاء في الصحيحين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مامن مولود إلاّ يولد على الفطرة – وفي رواية على هذه الملّة – فأبواه يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه كماتنتج البهيمة بهيمةً جمعاء هل تحسّون فيها من جَدْعاءَ (رواه البخاري في كتاب الجنائز ما قيل في أولاد المشركين , ومسلم في كتاب القدر).
Ø    ثم قال أبو هريرة رضي الله عنه : غقرأوا إن شئتم {فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين اليم ولكن أكثر الناس لا يعلمون (الروم: 30)}

Ø    وكما جاء عن الرسول عليه الصلاة والسلام فيما يرويه عن ربّه : يقوا الله تعالى : { إنِّي خلقْتُ عبادي حُنَفَاءَ فـجاءتهم الشياطينُ فاجتالتهم عن دينهم وحرَّمَتْ عليهم ما أحللْتُ لَهُمْ (رواه مسلم النووي على صحيح مسلم في أبواب الجنة والنار, 18: 197)}
Ø     الحقيقة الكبرى الذي يرشدنا في كتاب الله تعالى من ثلاثة وجوه :
1.       أن الله سبحانه وتعالى أخذ الميثاق من ذرية آدم, بأنه خالقهم , وأشدّهم على أنفسهم وخلقهم مفطورين على ذلك ومطبوعين عليه, سواء كان هذا الميثاق أخذ ممن استخرج من صلب آدم أو من صلب كل أب من ذرية آدم. (سورة الأعراف 172-173)
2.      ورد في القرآن والسنة قصة حدوث الشرك الأولى في البشرية مع قصة أول رسول بعد حدوث الشرك وهو نوح عليه السلام. وقد اتخذ قومه وسائط وشركاء ووردت أسمائهم في القرآن كقوله تعالى {وقالوا لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودّا ولا سواعا ولا يغوث ويعوق ونشرا (سورة نوح : 23)}. أنظر :سورة لقمان : 25  و سورة المؤمنون: 84-85).
3.     من وجهة أخرى العناية في القرآن الكريم في بيان حقيقة دعوة الرسل وتحديد جوهرها , وقد شرحها, وحدد معالـمها, ومقاصدها, فإذا هي دعوة واحدة .... وكلها إلى العبودية والمحبة والخضوع والإخلاص لله وحده لله وحده تدعو .. ولم يرسل الله رسولا قط إلى الناس ليقول لهم إن لكم خالقا , فيما حكاه لنا الله في القرآن, ولكنه أرسل الرسل عليهم الصلاة والسلام ليخصصوا الخالق الرازق المحيي المميت المعروف لدى الجميع دون سواه بالعبادة. (محمدبن محمد الأمين الأنصاري , ص. 40-41)

Ø     يقول محمد الأمين الشنقطي رحمه الله {أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن, ج 5: 168}:
     وقد قدمنا أنه خلق نوع الإنسان على أربعة أنواع مختلفة :
1.       خلقه لا من أنثى ولا من ذكر وهو آدم عليه السلام
2.      خلقه من ذكر بدون أنثى وهو حواء
3.     خلقه من أنثى بدون ذكر وهو عيسى عليه السلام
4.     خلقه من ذكر وأنثى وهو سائر الأدميين , وهذا يدل على كمال قدرته جل وعلا

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar